Tokoh: Gerson Poyk

Awal mula perjumpaan saya dengan Pak Gerson terjadi dengan tidak sengaja. Waktu itu, saya menghadiri undangan sebuah pertemuan di hotel berbintang lima di bilangan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.

Pak Gerson sudah sepuh. Beliau berjalan perlahan-lahan dan kehadirannya benar-benar memberikan warna lain di ruang pertemuan hotel itu. Gemerlap lampu, kilau keramik dan gelas yang ada di sana memang menyilaukan. Biarpun begitu, Pak Gerson dengan kesederhanaannya pun tak kalah menggetarkan.

Ia yang saya kenal namanya selintas lewat, maksudnya tak akrab seperti saya mengenal Pramoedya, pasalnya memang karena saya kira beliau bukan orang Indonesia. Pada saat saya bertemu dengannya pun, beliau membenarkan namanya seperti nama Ceko padahal ia lahir di Namodele, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur.

Akarnya yang dari NTT itu kelak akan mewarnai karya-karyanya yang kental nuansa alam. Bahkan, pada pertemuan itu kala beliau diminta untuk memberikan pengantar, beliau mengingatkan tentang perlunya menghormati alam. Kata Pak Gerson, “Alam menjadi sesuatu yang demikian rohani, bayangkan berapa juta makhluk hidup yang berada di dalam 1 liter tanah.”

Beliau pun agaknya selalu mencermati kejadian aktual yang terjadi di tanah air. Di antaranya adalah bencana alam yang terjadi silih berganti di negeri ini. Khusus untuk kondisi ini, komentar beliau, “Bencana terjadi sebagai akibat yang kita tanam adalah batu, bukan lagi padi, bukan tetumbuhan.

Tapi sebagai penulis dan ini diucapkannya pertama kali beliau bilang, “Aku adalah kata-kata yang mewujud dalam jalan pikiranku dan menjadi tindakanku.” Sebagai penulis yang begitu cinta pada alam, saya pun menemukan bukti itu pada sebuah karyanya yang berjudul ‘Negeri Lintasan Petir’.

Namun sebelum membahas mengenai buku tersebut, ada baiknya saya sampaikan sekelumit rasa malu saya yang demikian besar saat pertemuan tersebut. Adalah Pak Thomas, namanya, ia adalah dosen di United Nation University, beliau ini rupanya orang di balik kedatangan Pak Gerson di pertemuan tersebut. Pak Thomas adalah anak didik Pak Gerson sewaktu nama yang pertama disebut tadi menyelesaikan thesis doktoralnya.

Ingatan saya mendadak terbang pada seorang warga Australia yang menyelundupkan karya Pram dari Pulau Buru agar bisa diterbitkan lantas dikenal oleh dunia. Kenapa penulis-penulis hebat di negeri ini harus dibantu oleh warga negara asing demi penyebarluasan karya-karya beliau ini? Saya mahfum bila itu terjadi pada Pram yang mengalami tekanan politik dan mesti hidup di bawah tekanan penguasa. Tapi apa yang terjadi pada Pak Gerson, sungguh membuat saya malu. Mula-mula saya kira beliau adalah orang Eropa Timur, selanjutnya pada saat itu saya tak mengenal satu pun karya beliau.

Di tengah kebingungan karena malu juga sedikitnya pengetahuan saya akan kiprah Pak Gerson, saya pun malah menanyakan bagaimana perjalanan karier beliau. Beliau pernah menjadi wartawan di Yogyakarta dan Bali. Tulisan-tulisannya kerap menghiasi koran-koran di dua daerah itu. Namun, ada yang cukup mengharukan manakala ia bercerita bagaimana ia mesti menghutang pada tukang sayur, tanpa jaminan kecuali suara tak-tik mesin ketik dari rumah Pak Gerson. Suara itu menjadi penanda bahwa Pak Gerson masih berkarya dan itu cukup bagi si tukang sayur untuk memberikan hutang.

Menyoal menulis, ia memberikan semacam petunjuk, yaitu bahwa seseorang harus bisa memanfaatkan daya imajinasinya. Menajamkan perasaannya, tak alpa pada apa-apa yang terjadi di sekelilingnya. Pak Gerson mencontohkan, ia melihat seorang pelacur, yang terbelit hutang, yang anaknya merengek-rengek karena sakit. Realita semacam itu dan imanjinasi pengarang dituntut agar bisa menjadi sebuah jalinan cerita dan sekaligus di saat yang sama membuka mata dunia, bahwa hidup tak hanya indah, namun juga getir dan nelangsa.

Sekarang ini, di usianya yang sudah menginjak 80-an tahun, beliau tinggal di sebuah desa di Depok bersama keluarganya. Saat itu saya berencana untuk mengunjunginya bila sempat, tapi sampai sekarang belum sempat juga untuk sowan ke sana. Ada yang hendak turut menimba ilmu pada Pak Gerson?

Sobat, sejauh ini saya baru bisa menemukan satu karyanya yang berjudul ‘Negeri Lintasan Petir’ itu. Begitu berharap bisa memeroleh judul buku yang lain, agar bisa menikmati deskripsi keindahan alam yang begitu detil pada karyanya. Di samping itu, memeroleh gambaran mengenai budaya timur—ini pula salah satu alasan mengapa Pak Thomas mengambil tema dari karya-karya Pak Gerson—yang juga tersaji dari karya beliau. Dan tak lupa, beliau pun selalu menyoroti dan memberikan kritik-kritik sosial kepada penguasa, kepada pejabat, kepada kebijakan-kebijakan yang diambil, namun tak memberikan kelestarian pada alam, tak memanusiakan manusia, tak memihak pada yang sengsara dan kecil. Kritiknya berlatar di medio 70-80an, sedikit jadul mungkin, namun ada beberapa persoalan di negeri ini yang agaknya selalu berulang-ulang, bukan?

Maka, tunggulah sebuah review karya beliau yang berjudul ‘Negeri Lintasan Petir’

3 Replies to “Tokoh: Gerson Poyk”

  1. waktu itu pernah ketemu di pameran buku, kebetulan launching buku dia, tp aku kesana bukan mo liat dia, ga kenal juga gitu, mo liat temenku
    pas aku tanya ama ibu2 sebelah aku pak gerson itu siapa, sepertinya dia sangat shock aku ga tau siapa Gerson Poyk
    “HAAAAH..!! KAMU GA TAU GERSON POYK?? MASA SIH?? KAMU GA PERNAH BACA BUKU YAH??” begitu tanya si ibu histeris, aku mah nyengir nyesel dah nanya :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *