Review: Larasati

Pramoedya Ananta Toer dalam roman revolusi ini tidak hanya merekam kisah-kisah heroik kepahlawanan, namun juga lengkap dengan segala kemunafikan kaum revolusioner, keloyoan, omong banyak tapi kosong dari para pemimpin, pengkhianatan dan dibumbui kisah percintaan.

Pramoedya ingin mengukuhkan suatu komitmen bahwa revolusi atau perjuangan apa saja bisa lahir dan mencapai keagungannya kalau setiap pribadi tampil berani; tidak hanya berani melawan semua bentuk kelaliman, tapi juga bisa melawan keangkuhan dirinya sendiri.

Rasa takut bisa hilang melalui kemenangan yang didapat. Tapi menyoal kemenangan yang sekilas itu, Pram bilang, “Perjuangan selamanya mengalami menang dan kalah silih berganti. Kalau kau menang, bersiaplah untuk kalah dan kalau kau kalah, terimalah kekalahan itu dengan hati besar dan rebutlah kemenangan.

==0==

Larasati, ia adalah seorang penyanyi dan bintang film. Sebagai aktris panggung, ia harus menghibur pembesar-pembesar negeri dan pengusaha-pengusaha sukses. Termasuk juga di dalamnya adalah pembesar-pembesar Belanda dan tak lupa pribumi yang menjadi pembesar Belanda. Akibat penampilannya di panggung dan pergaulannya yang intens tersebut, ia akrab dengan mereka. Ara menjadi begitu dikenal dan kehadirannya dinanti-nanti siapa saja.

Apa yang disebutkan di atas, sayangnya terjadi pada masa damai. Ketika pembesar-pembesar negeri dan Belanda akrab tak saling serang. Padahal seperti juga kau tahu, jalannya revolusi seperti ombak di lautan. Sekali waktu memang tenang, namun di lain saat begitu bergelora. Ombak itu menghempas pantai dan meninggalkan butir-butir pasir dan buih.

Dan Ara adalah pasir, mungkin buih itu. Ia tertinggal di pantai, terhempas kian kemari, ditinggalkan arus besar yang terus bergolak.

Ara tak punya tempat  berlindung lagi, karena bila ia pasir, maka ia tergulir bersama angin. Bila ia buih, tak jarang ia harus meniti buih untuk kemudian sekali tempo terhempas lagi.

Jalan keluar yang tersisa baginya adalah: ia bergaul dengan sesama pasir, sesama buih. Mereka itu, prajurit-prajurit berpangkat rendah. Prajurit yang gelisah, namun bersemangat kendati resah. Bersama dengan kawanan barunya ini, ia pun mulai menapakkan langkah kakinya di medan revolusi. Ke mana perginya para pembesar yang dahulu dikenalnya itu?

Perjalanan Ara dimulai di sebuah kereta dalam perjalanannya dari Yogyakarta ke Jakarta. Alasan kepergiannya ini ialah, karena Yogya telah menjadi tempat yang demikian berbahaya. Sementara itu, ia teringat pula pada ibunya yang telah lama ditinggalkan di Jakarta. Di kereta itu, ia harus berpisah dengan Kapten Oding yang jelas-jelas menaruh hati pada Ara.

Perjalanan Ara kemudian adalah paparan bagaimana manusia republik memandang revolusi. Tentang anak-anak muda yang bersemangat hendak melahirkan sejarah. Sejarah yang banyak meminta tumbal nyawa dan Ara menjadi saksi kematian satu orang di antara pemuda itu. Sosok pemuda yang di mata Ara begitu dihormati dan pada saat yang sama ditangisi kepergiannya.

Ara memupuk optimisme terhadap peristiwa di sekitarnya bersama dengan nenek-nenek tetangganya. Nenek itu kendati sudah lanjut, namun tak kurang-kurang memberikan dukungan pada para remaja pejuang. Dan paling penting, bersama dengan ibu yang dulu ia khianati dan sekaligus begitu dicinta ia merenda semangat dan menyulam rasa takut justru menjadi kekuatan.

Di sisi lain, Ara juga mesti menjadi saksi para pengkhianat negeri. Kaum oportunis yang hanya tau petik untung injak liyan. Nama-nama seperti Kolonel Surjo Sentono, Mardjohan dan masih banyak yang lain telah begitu membuatnya jijik. Seakan-akan penderitaan sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, ia pun mesti bertemu dengan keluarga Alaydrus. Sebuah keluarga keturunan arab yang menjadi majikan ibunya. Pada gilirannya, Ara bahkan harus menjadi kawan hidup Jusman—seorang dari Alaydrus itu—lengkap dengan semua deritanya.

Pada akhirnya, Ara kemudian…. Ah, sebaiknya dibaca sendiri bagaimana menariknya salah sebuah karya Pram ini, selamat membaca.

2 Replies to “Review: Larasati”

  1. itulah kelebihan intuisi seorang pram, mas goop. apa yang almarhum tulis dalam sebagian besar novelnya ternyata kontekstual dengan situasi kekinian. sikap hipokrit ternyata selalu ada pada setiap peradaban.

    nah, hipokrit…. itu dia, pak….
    sayang yaa? 😐

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *