Wisata: Monumen Nasional

Hari Minggu dan bangun pagi, gabungan yang tak lazim. Tapi jika ingin berjalan-jalan di Monas bergabung bersama ribuan manusia Jakarta mandi matahari, menyusuri trotoar dan udara yang meruap dari rumput taman-taman di Monas, maka bangun pagi menjadi keniscayaan.

Sudah beberapa kali saya melakukannya, tak rutin, karena terkadang mata susah betul terbuka selepas begadang malam Minggu. Syukurlah di antara teman-teman kos ada yang berbaik hati membangunkan.

Jadilah di minggu pagi yang beruntung itu saya bisa menikmati jalanan yang sedikit sepi, sehingga tak mesti di atas trotoar melangkahkan kaki. Diizinkan pula menyusuri aspal halus jalanan Jakarta yang masih belum banyak kena polusi. Hmmm, dan satu lagi, bila mau sedikit repot lebih jauh berjalan, bisa juga melihat kupu-kupu malam yang terlambat pulang dan masih berdiri sejak malam tadi.

Sepi itu tak lama, karena begitu keluar dari gang sudah banyak warga lain dengan tujuan yang sama: Monas. Mereka berombongan atau bersendiri. Sebagian besar bersepatu, kendati ada pula yang cukup bersandal. Pria, wanita, anak-anak, tua dan muda tumpah ruah di jalanan. Tak semua berjalan kaki, beberapa berlari kecil, bersepeda atau bergandeng tangan.

Sedikit khawatir saat beberapa remaja tanggung menggiring bola di jalan sambil berlari dan saling mengumpan, sementara di saat yang sama pengguna jalan lain tak hendak mengalah. Jadilah umpan-umpan itu sering terhenti tiba-tiba manakala melintas mobil atau motor.

Biasanya saya masuk dari pintu gerbang di depan Istana Merdeka, sebuah tempat langganan para pendemo. Semenjak dari luar gerbang, sudah kelihatan sebagian besar warga bermain bola di sepanjang jalan masuk. Ada banyak sekali tim yang bertanding, terkadang seru memerhatikan pertandingan-pertandingan itu. Di lain sisi, khawatir pun muncul, takut terkena tendangan, bola yang nyasar. Dipilihlah jalan yang aman, yaitu melalui pinggir di mana tersedia jalan setapak untuk para pejalan kaki.

Sepanjang jalan itu, terkadang ada pula pasangan yang bermain bulu tangkis. Namun yang paling banyak tetap mereka yang bermain bola, bahkan di atas rumput-rumput taman yang menurut petugas Satpol PP tidak boleh diinjak.

Selepas menyusuri jalan setapak itu, sampailah di lingkaran besar yang mengelilingi monumen. Di lingkaran inilah sebagian besar konsentrasi warga. Mereka berjalan, berlari, bersepeda mengelilingi lingkaran dengan gerakan searah jarum jam. Selayakya tawaf, semua bergerak, berputar.

Selain mereka yang bergerak memutar itu, penjual minuman jongkok atau duduk di sepanjang lingkaran sambil berteriak menawarkan dagangannya. Ada pula penjual pecel dan senangnya saya temukan pula penjual makanan tradisional berupa jajan pasar kesukaan.

Di taman yang sebenarnya tak boleh dimasuki, seorang cewek berpose dan diabadikan oleh pasangannya. Anak-anak berlarian di antara tanaman dan di atas rumput, sebagian sambil memegang layang-layang yang bisa juga dibeli di situ.

Selepas berjalan satu putaran, rombongan saya pun duduk di tepian lintasan melingkar itu. Sambil duduk, dibahas aneka rupa persoalan, diperhatikan anek ragam hal. Aneka rupa persoalan itu, bermacam hal itu adalah aneka rupa yang melintas di hadapan, mereka yang berjalan berputar itu.

Dan kami duduk memunggungi monumen yang tinggi menjulang, membiarkannya tegak berdiri di tempatnya. Tugu Monas yang dibangun dengan tujuan untuk mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terbangkit inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang*) itu justru dilupakan.

Saat berjalan pulang dan melintas jalan setapak di taman yang bukan di pinggir jalur masuk, ditemukan muda-mudi yang berangkulan, berasyik-masyuk memadu kasih. Barangkali mereka sedang terbangkit inspirasi dan semangatnya oleh bentuk dasar monumen: lingga yang menancap pada yoni.

*) dan gambar dipinjam dari sini

4 Replies to “Wisata: Monumen Nasional”

  1. Penyakit khas monumen-monumen di dunia. Yang mengerti tentang sejarahnya justru para turis 😆

    Eh, tapi saya sudah pernah naik ke atas Monas lho pakde 8)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *