Review: Avatar

Semua terhubung di Pandora. Tumbuh-tumbuhan, binatang dan Na’vi—penduduk asli. Melalui semacam rambut yang ada di kepala Na’vi, serabut akar, surai kuda, udara, air saling berkomunikasi dan berbagi. Mereka, Na’vi tahu dan bisa mendengar suara-suara nenek moyang, tumbuhan dan binatang. Mereka mengerti bagaimana menjaga alam sekitarnya. Dimuliakan pula alam dengan adanya Eywa, pelindung, perangkum suara nenek moyang dan tempat meminta.

Keterkaitan itu, yang jalin-menjalin, saling berkelindan, tak jauh beda dengan yang diucapkan Victoria Vetra dalam Angels and Demons, “Planet ini adalah sebuah organisme. Kita semua adalah sel-sel dengan tujuan yang berbeda. Tapi kita saling berkaitan. Saling melayani. Melayani keseluruhan.”

Antara alam dan Na’vi tercipta hubungan saling memberi dan menerima. Bahkan, manakala seekor binatang terbunuh karena mata panah, diucapkan terima kasih dan permohonan agar diterima nyawanya bersama-sama dan bersatu dengan Eywa. Sebaliknya, ketika berdatangan serombongan makhluk jumawa dari langit yang tak lain adalah manusia hendak merusak alam, termasuk alam dan tumbuhan di dalamnya, maka bergeraklah Na’vi itu.

Avatar di sini kembali menunjukkan perlunya persatuan di antara suku-suku asli, penduduk pribumi melawan dominasi manusia yang rakus. Sebuah material tambang: Unobtainium yang sangat berharga menjadi alasannya. Permintaan pasar yang tinggi, kebutuhan modal, termasuk pula pengembangan ilmu pengetahuan membutuhkan Unobtainium.

Sebaliknya, material itu dikandung oleh bumi Pandora, menjadi bagian alamnya. Dengan lain perkataan, terhubung pula dengan Na’vi. Seiring dengan ditambangnya Unobtinium, tumbuh kesadaran, semacam permintaan dari alam kepada penduduk asli untuk mempertahankannya. Dan penduduk itu pun bukannya diam, mereka menjawab permintaan alam dengan semangat yang berkobar untuk mengusir makhluk langit.

Biarpun kesadaran itu tumbuh terlambat. Kendati proses menyadarkan penduduk asli justru melalui utusan manusia yang awalnya memiliki tugas untuk mempelajari kehidupan Na’vi. Sully—utusan itu—mesti mengalami dilema, ia harus melalui tahapan kebingungan identitas antara perannya sebagai utusan manusia dan bagian dari Na’vi. Tak lupa pula, Sully yang sendirian saat terbuang dari komunitas manusia karena kenyataan bahwa ia memilih alam dan Na’vi. Pun tidak diterimanya ia di kalangan Na’vi yang tidak bisa menenggang fakta tersembunyi bahwa ia sebenarnya adalah seorang utusan manusia.

Sully menjadi yatim piatu di antara dua bangsa. Manusia yang mengutus sekaligus moyangnya. Na’vi yang memesonanya dengan gadisnya: Neytiri dan hubungan penduduk dengan alamnya. Pada titik ini, saya teringat Kartini. Ia pun seorang yang terasing dari lingkungannya yang feodal dan sekaligus canggung memasuki dunia barat yang baru saja dikenalnya. Keduanya menjadi agen perubahan yang melakukan kerja raksasa seorang diri. Tak kenal menyerah berusaha keras menyadarkan masyarakatnya, sedikit demi sedikit mengenalkan pada terang untuk kemajuan masyarakat itu sendiri.

Teman saya menulis, “Dan pada akhirnya Anda akan lebih sayang bumi.” Tak salah kiranya kesimpulan itu. Walaupun manusia di sana sebagai tokoh jahat, namun kesadaran di dada salah seorang dari mereka menular ke beberapa orang lain, merambat pula ke ribuan warga Na’vi. Mereka lupakan perbedaan antara suku Na’vi dengan suku kuda di tanah datar, dengan penunggang Igran di pantai timur. Bersatu padu mengusir manusia dan tetap menjaga kelestarian alam, rumahnya, tempat tumbuh kembang anak-anak mereka, tempat dikuburkannya nenek moyang.

Bila boleh usil, saya sekadar ingin bertanya. Apa kira-kira yang akan terjadi bila di antara Na’vi ada yang berkhianat dan bekerjasama dengan manusia, mengaduk lambung Pandora dan mengeruk Unobtainium?

5 Responses

  1. “Apa kira-kira yang akan terjadi bila di antara Na’vi ada yang berkhianat dan bekerjasama dengan manusia, mengaduk lambung Pandora dan mengeruk Unobtainium?”

    Perang saudara lalu kiamat? 😛

    terus kemudian the end ya, mbak? duhhhhh

  2. Uncle goop meresensi film Avatar apik sekali. Saya sempat melihat filmnya, belum kelar, cm sebentar dan belum menangkap pesan itu. Eh..sudah berani singgah dan meninggalkan komentar di sini. hehe.
    Sehat selalu uncle goop.

    selalu sehat, syukurlah 🙂 sebaiknya dilanjutkan nontonnya, mas, bukan untuk berani komen, tentu saja. Tapi bagus kok sampai akhirnya 🙂 selamat menonton, yak!

  3. kalau bicara soal film, kendal sdh pasti tiarap, mas goop, karena mesti lari ke semarang dulu utk bisa nonton film2 terbaru, termasuk avatar, hehe …

    walah…. ya tidak apa-apa, kan pak? sekali-sekali hihihi

  4. pas nonton, dapet bangku paling depan, jd kurang menikmati dan ga berminat u/ nonton lg

    hahaha, iya, kalau tiga jam di depan sendiri, waduhh bisa-bisa lehernya patah :mrgreen:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: