Wisata: Museum Tekstil

Museum Tekstil (Tribunnews.com)

Bangunan peninggalan kolonial itu menyeramkan. Begitu kesan yang pertama kali saya tangkap ketika memasuki gerbangnya. Pohon-pohon yang besar dan halamannya yang luas, seakan mengantarkan pengunjungnya ke dunia lain. Sebuah dunia yang berbeda dengan riuhnya pasar barang loak, yang berada persis di depan Museum Tekstil Indonesia.

Teriakan pedagang dan bunyi klakson angkutan yang serabutan saling menyalip, langsung menghilang begitu kaki melangkah melewati pintu yang tinggi menjulang itu. Di dalam terasa lembab, udara menguarkan bau yang khas.

Barangkali itu aroma zat kimia yang ditambahkan untuk menjaga agar kain-kain yang tersimpan tidak mudah rusak. Kain-kain itu bermacam-macam letaknya. Ada yang berada di dalam kotak kaca, terhampar di lantai dengan penyangga, dan ada pula yang digantung di dinding.

Di ruang utama, beberapa koleksi sudah menyambut. Berasal dari berbagai daerah di nusantara. Di sini, ada pula peralatan membatik ”canting”. Bisa juga ditemukan pewarnbatik alami dari  buah-buahan, daun, kulit kayu, dan bunga.

Di sebuah sudut, dua buah patung berpasangan mengenakan kain tradisional dari Indonesia Timur. Lebih ke dalam, memasuki ruang-ruang yang menampilkan berbagai jenis batik dan kain.

Setiap ruang mewakili suatu daerah tertentu. Kekhasan motif, bahan dasar kain dan ornamen yang terlihat sangat beragam. Semua terlihat begitu menarik apalagi bila diamati lebih detil.

Dari ruang tersebut, saya kemudian melanjutkan kunjungan ke bagian paling menarik, yaitu untuk belajar membatik.

Apa menariknya belajar membatik?

Ternyata, sungguh menantang untuk belajar membatik. Dimulai dari memegang canting, mengambil malam cair dari wajan kecil yang terus menerus dipanaskan dengan sebuah kompor kecil, lalu menorehkan lilin itu pada kain yang sudah berpola. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah dan membutuhkan ketekunan tingkat tinggi.

***

Lima puluh meter dari bangunan utama, terletak sebuah bangunan panggung dari kayu.

Masuk ke dalam, beberapa orang sudah berada di sana, seorang ibu setengah baya dengan cucunya dan bapak-bapak di awal tiga puluhan. Semua tampak sedang sibuk: tangan kanan memegang canting, tangan kiri merentangkan kain dan mereka mengelilingi kompor yang menyala dengan wajan berisi malam cair di atasnya.

Tangan yang memegang canting terus bergerak, dari bagian kain satu ke yang lain. Pada jeda yang sama, ketika dirasa perlu, maka tangan ini akan terjulur di atas wajan, menyiduk malam menggunakan canting. Semua tekun, hening dan larut pada apa yang tengah mereka kerjakan.

Di ruang itu ada pula pegawai yang mendampingi dan tak segan mengajarkan keterampilan membatik. Dia sigap menyiapkan segala sesuatu: menyalakan kompor kecil, meletakkan wajan dan malam padat di atasnya.

Sembari menunggu malam perlahan-lahan mencair, kita bisa mulai menyiapkan segala perlengkapan, seperti celemek dan kursi kecil untuk duduk di dekat kompor.

Saat malam mencair, kita bisa perlahan-lahan mengambilnya dengan canting. Meniup sedikit canting tersebut dan kemudian menorehkan di atas kain sesuai dengan pola-pola yang sudah ada.

Jika mengalihkan pandangan ke seantero ruangan, maka banyak sekali kain-kain berpola yang belum selesai dibatik. Namun, ada juga yang sudah selesai. Kain yang selesai digantungkan pada sebuah penyangga yang berfungsi seperti tempat untuk menjemur.

Ada pula kotak-kotak tempat proses pewarnaan nantinya akan dilakukan. Kompor dengan wajan dan pelindungnya terletak di lantai dengan jarak tertentu yang sepertinya sudah diatur. Bau malam yang menguap memenuhi udara.

Hari menjelang siang ketika satu per satu pengunjung datang, sebuah keluarga dengan dua anak kecil. Saya pun memutuskan untuk mulai belajar membatik.

Saya menuju kotak penyimpanan kain yang sudah berpola. Bertumpuk-tumpuk kain dengan pola-pola ditawarkan. Saya pun meminta kertas pola dan mulai menjiplaknya di kain putih seukuran sapu tangan.

Meja khusus untuk menjiplak sudah ada, lengkap dengan lampu di bawahnya untuk mempermudah proses. Selain itu, pensil juga sudah disiapkan. Waktu yang diperlukan untuk membuat pola di kain ini bergantung pada tingkat kerumitannya.

Setelah selesai membuat pola di kain, saya pun bergabung dengan tamu yang lain dan duduk mengelilingi kompor.

Saya memilih canting yang berujung kecil dan mulai mencoba menggambar ulang pola, tetapi kali ini dengan canting dan malam.

Posisi kain harus diperhatikan, malam yang diambil adalah di bagian atas, pada permukaannya saja dan jangan terlalu ke bawah di dasar wajan karena akan banyak kotoran ikut dan bisa membuat mata canting tersumbat.

Perlahan…begitu perlahan saya mencoba menggoreskan mata canting di pola-pola yang ada pada kain. Ternyata mudah sekali malam cair itu meresap, melebar dan tidak persis terletak pada pola.

Bukan main susahnya menggambar garis lurus, pola-pola yang melekuk; rumit dan bentuk seperti kembang malah jadinya lingkaran bulat tanpa lekukan.

Saat membatik, kita bisa sambil bercerita asalkan jangan terlalu bersemangat karena dapat menyebabkan tumpahnya malam dari canting ke tangan.

Proses membatik harus dua kali, setelah selesai sebuah permukaan kain, maka dilanjutkan dengan permukaan sebaliknya. Siang itu, saya hanya sampai pada tahap pertama, yaitu mewanai satu sisi saja dari permukaan kain itu.

Bagi yang sudah selesai, maka dapat menorehkan namanya di kain. Setelah itu, kemudian kain diwarnai. Caranya: dengan mencuci terlebih dahulu kain dengan air bersih, mencelupkannya ke zat pewarna, dilanjutkan dengna celupan di zat pengikat warna. Proses tersebut dilakukan berulang-ulang sebanyak tiga kali dengan urutan pencelupan yang sama.

Selama ini saya sering memakai batik, namun tak pernah tahu bagaimana proses pembuatannya. Yang saya perhatikan, adalah harganya yang selangit untuk batik-batik tulis yang bagus dan merk terkenal.

Kini, saya tahu, batik adalah hasil karya yang tidak mudah. Ada kreativitas di sana dengan motif-motifnya yang bermacam-macam. Ada ketelitian yang mengagumkan ketika menggambar pola di kain, juga saat menorehkan malam di kain menggunakan canting.

Semua itu, masih perlu ditambah kehati-hatian agar pola tidak rusak karena coretan keliru yang tidak perlu. Membatik menjadi tidak sederhana lagi, mata canting, jenis kain, suhu malam cair yang memengaruhi kekentalannya, semua perlu mendapatkan perhatian.

Membatik adalah proses sekali jalan, begitu memulainya Anda tidak bisa mengulanginya lagi. Kesalahan tidak bisa dihapus dengan penghapus. Kain yang ternoda selamanya akan tetap ternoda. Pilihannya adalah: berhenti membatik atau ganti kain yang baru.

Sedikit seperti kehidupan, bukan? Kita dapat juga memilih menghentikan hidup atau jalan terus. Namun, tak pernah ada kehidupan baru, waktu baru yang dapat menggantikan kehidupan yang sekarang ini.

***

Museum Tekstil

Jln. K. S. Tubun No 2-4 Petamburan Jakarta Barat 11420

Phone/Fax : 021-5606613

9 Responses

  1. Itu sebabnya kenapa batik tulis jauh lebih mahal harganya dibanding batik boongan.
    Kalo kita lihat gimana proses membatik, pasti rasanya jd betul2 menghargai mereka yg bekerja keras cari materi dari membatik.

    iya, logh…btw, sudah pernah membatik?

  2. waaa!! museum tekstil yang ada di Tanah Abang?? itu salah satu tujuan saya berikutnya!

    btw, jalan-jalan ke museum kok dianggap aneh? menurutku keren!

    *sesama pecinta museum*

    lah…soale nek njenengan lihat anaknya, keknya nda’ mungkin jalan-jalan ke museum…setelannya itu, bukan jengjeng, sinuhun :mrgreen:

  3. kalau sedang di Mirota batik pasti selalu amazed dgn ibu di ruang tengah yang sedang memamerkan keahliannya membatik

    emang ada, ya? kekeke… saya kok nda’ lihat 😳

  4. slma ni liat org2 membatik lewat tipi..
    jd kepengen membatik jg, walaupun skill m’gmbr sprti-a krg.. hihi..

    but..
    klo ada ksmptn, psti mo bgt deh membatik..
    ajak2 dunk om klo mo pigi lgi.. 😀

    siap, ke sini atuh, biar bisa ikutan rame-rame 😛

  5. dari sejak tahun 2000 saya pengen banget ke musium batik untuk belajar batik karena sejak kecil suka dengan pakaian batik, tapi sampe sekarang 2009 belum kesampaian…

    wuah sayang sekali…. semoga satu saat bisa kesampaian, mbak 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top
%d bloggers like this: