Tiga Skenario Akibat Perubahan Iklim yang Sebentar Lagi Mungkin Terjadi

The Fragile Earth (https://www.amazon.com/Fragile-Earth-Writing-Yorker-Climate/dp/0063017547?ots=1&tag=thneyo0f-20&linkCode=w50) adalah sebuah buku yang berisi koleksi laporan dari berbagai pakar perubahan iklim yang diterbitkan oleh The New Yorker.

Berikut ini terjemahan bebas sebuah artikel (https://www.newyorker.com/news/annals-of-a-warming-planet/three-scenarios-for-the-future-of-climate-change) dari The New Yorker yang berisi ringkasan dari buku The Fragile Earth yang menjelaskan tiga skenario akibat perubahan iklim yang mungkin akan terjadi sebentar lagi.

Selamat membaca…. 

Emisi global karbon penyebab gas rumah kaca terus meningkat, kendati akibatnya berupa meningkatnya muka air laut, kekeringan yang makin mengerikan, semakin panjang musim kebakaran hutan dan lahan, mencairnya es di kutub, dan badai yang semakin menghebat telah menjadi berita sehari-hari. 

Emisi karbon tersebut mencapai puncaknya pada tahun 2019 dengan angka 10 milyar metric ton. Di India, emisi tersebut meningkat lebih dari dua persen, di Tiongkok pun peningkatan persentasenya sama. 

Alliance of World Scientist atau perkumpulan dari para peneliti dunia menyampaikan pernyataan, bahwa krisis iklim telat terjadi dan peningkatannya lebih cepat dari yang diperkirakan para ilmuwan. Pernyataan itu ditandatangani oleh sekitar 11 ribu orang ilmuwan. 

“Yang lebih mengkhawatirkan,” kata para ilmuwan itu, “adalah titik perubahan (tipping point) yang tidak mungkin diubah lagi”. Sebuah kondisi mengarah pada ‘Bumi sebagai rumah yang panas’ dan dapat menimbulkan berbagai malapetaka di luar kemampuan manusia untuk mengontrolnya.

Seperti apa wajah Bumi tiga puluh tahun dari sekarang? 

Fakta yang kurang menyenangkan dapat disampaikan, bahwa masa depan telah ditulis. Ada kelembaman dalam sistem iklim yang menyebabkan belum terjadinya dampak menyeluruh dari emisi CO2. Namun demikian, apa pun yang terjadi dalam beberapa dekade mendatang, glacier dan es di kutub akan terus mencair, seiring dengan meningkatnya temperatur dan tinggi muka air laut. 

Pemanasan yang terjadi akibat perubahan iklim dan menimbulkan malapetaka pada beberapa tahun ke depan akan menenggelamkan sebuah bangsa, seperti Maladewa dan juga Marshall Islands. Selain itu, fenomena tersebut akan menghancurkan sebuah ekosistem, seperti terumbu karang. 

“Jendela atau peluang untuk melakukan respon terhadap perubahan iklim bukan akan tertutup, kita sebenarnya telah mengalaminya saat ini.” Kata Drew Shindell seorang peneliti atmosfer dari Universitas Duke. 

Para peneliti menyampaikan hasil yang beragam mengenai prediksi peningkatan temperatur. Kisaran peningkatannya antara 1,5 hingga 2 derajat celcius. Namun, mereka menyampaikan bahwa peningkatan 1,5 derajat celcius (yang saat ini terjadi) telah mengakibatkan berbagai krisis. Batasan atau threshold 1,5 derajat celcius tersebut akan tercapai dalam jangka waktu kurang lebih 10 tahun.

Seberapa buruk kondisi yang akan kita hadapi?

Menjawab pertanyaan tersebut, para peneliti masih kesulitan melakukan prediksi, karena berbagai ketidakpastian, dari kondisi geopolitik dan geofisik. Oleh sebab itu, ada tiga skenario yang mungkin terjadi di masa depan, karena perubahan iklim.

Skenario Pertama: : Langit Biru

Seluruh dunia akhirnya memutuskan untuk berhenti berdebat mengenai perubahan iklim. Kita bekerja sama bahu-membahu menurunkan emisi. 

Di Amerika Serikat, telah ada Green New Deal, sebuah upaya yang mendorong terjadinya perubahan melalui sepuluh tahun mobilisasi nasional yang memenuhi 100 persen kebutuhan energi di negara itu melalui sumber energi yang bersih, dapat diperbarui, dan nol emisi. 

Jangka waktu 10 tahun memang terdengar sangat ambisius, tetapi alasannya cukup masuk akal. Namun, berdasarkan laporan dari Badan Internasional Energi (International Energy Agency), menyampaikan bahwa memanfaatkan teknologi yang tersedia saat ini, seperti pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai memungkinkan terpenuhinya energi listrik dua kali daripada kebutuhan saat ini. Menghentikan penggunaan energi fosil juga akan menciptakan jutaan lapangan pekerjaan baru. 

Mengubah kurva emisi di tingkat global lebih menantang. Pemimpin banyak negara berkembang menunjukkan ketidakadilan, saat negara-negara mereka diminta untuk beralih dari bahan bakar fosil, hanya karena negara-negara kaya telah menggelontorkan anggaran untuk kompensasi karbon dunia. 

Di sisi lain, karena pandemi, emisi di seluruh dunia diharapkan akan turun hingga lima persen tahun ini dibandingkan tahun 2019. Ini akan menjadi angka penurunan terbesar setelah perang dunia kedua. Kondisi ini juga akan menjadi satu titik perubahan. Seandainya kondisi tersebut dapat terus terjadi, maka temperatur dunia dapat dijaga agar tidak sampai naik sebesar dua derajat celcius. 

Kendati dunia pada tahun 2050 tetap lebih hangat dibanding sekarang, tetapi akan berkurang polusinya, tidak bergantung dan memperkaya negara kaya minyak, sehingga lebih adil. 

Narasimha Rao, profesor dari Yale’s School of Forestry and Environmental Studies menyampaikan di New York Time, bahwa sangat sulit melihat keseriusan pengurangan emisi tanpa meningkatkan perhatian pada keadilan (equity).

Skenario Kedua: Emisi Terus Meningkat

Emisi global terus meningkat pada pertengahan abad dan ketidakadilan pun mengalami nasib yang sama. 

Menurut skenario ini, pada tahun 2050, suhu akan meningkat dua derajat celcius. 

Negara maju pada saat itu harus membangun infrastruktur untuk menghalangi badai agar air laut tidak naik dan membangun dinding pembatas agar pengungsi tidak masuk ke negara mereka. Mereka pun mulai memasang pengatur suhu (air condition) di luar (outdoor).  

Di sisi lain, negara berkembang dibiarkan mengatur diri mereka sendiri. Pada skala tertentu, kondisi ini sebenarnya telah terjadi. Sebuah penelitian dari Noah Diffenbaugh dan Marshall Burke dari Universitas Stanford menemukan bahwa dalam 50 tahun pemanasan global telah melambatkan pertumbuhan ekonomi di bagian dunia yang paling sedikit mengeluarkan emisi, angkanya sekitar 25 persen. “Negara miskin tidak memperoleh keuntungan penuh dari konsumsi energi, tetapi mereka juga telah dipaksa menjadi lebih miskin.” Kata peneliti itu. 

Skenario Ketiga: Konflik Global

Pada tahun 2050 pemanasan global telah mengakibatkan konflik global yang melanda negara miskin dan negara kaya. Kondisi ini, pada beberapa hal juga telah terjadi. 

Penelitian menyampaikan bahwa perang bersaudara di Syria disebabkan sebagian di antaranya karena kekeringan yang mengakibatkan jutaan orang harus mengungsi. Perang yang mengakibatkan banyak korban tersebut dan berlangsung hampir sepuluh tahun telah melibatkan AS, Rusia, Arab Saudi, Iran, dan Turki. 

Kekeringan yang akan terjadi di Timur Tengah diperkirakan akan semakin parah dan berkepanjangan. Kekeringan juga melanda wilayah lain yang sering bergejolak, seperti di wilayah ‘tanduk’ Afrika. 

Mungkin akan ada beberapa perang lain seperti di Syria yang menyebabkan ketidakstabilan dunia. Setidaknya, perubahan iklim dan pemanasan global akan mengancam stabilitas politik dan jejaring perdagangan dunia. Michael Klare, profesor dari Hampshire College menulis, “Seiring dengan semakin memburuknya kondisi, AS akan menghadapi hasil yang sangat buruk, yaitu konflik di antara negara-negara kuat.”

Penutup

Di antara ketiga skenario tersebut, mana yang Anda pilih akan terjadi? 

Leave a Reply