The Situation

Photo by Alex McCarthy on Unsplash

Dimensi kedua dari seorang pemimpin dengan kualifikasi meta adalah kemampuannya untuk memahami situasi.

Dalam suatu krisis, maka situasi seringkali berubah dengan sangat cepat. Bisa jadi dalam hitungan hari, bahkan jam, bahkan menit.

Oleh karena itu, pemahaman akan situasi menjadi salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin saat krisis terjadi.

Dalam melakukan hal itu, maka pemimpin tersebut perlu memahami beberapa hal:

Menyadari dan Memahami

Kesadaran dan pemahaman terhadap situasi yang dihadapi menjadi kunci pertama yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin dengan kualifikasi meta.

Kesadaran dan pemahaman ini dapat terjadi jika pemimpin tersebut memiliki cukup data dan informasi tentang situasi yang sedang dihadapi.

Sayangnya, krisis yang terjadi tak memungkinkan dimilikinya data dan informasi secara utuh. Bahkan, seringkali kedua hal tersebut tak tersedia atau hanya ada sebagian saja.

Menggunakan Akal

Dalam kondisi tidak tersedianya data dan informasi, maka seorang pemimpin dengan kualifikasi meta perlu mendayagunakan akal yang dimilikinya.

Hal ini berarti memaksimalkan potensi pengetahuan, pengalaman, pelajaran, dan praktik baik yang pernah dilakukannya di masa lalu.

Memprioritaskan

Setelah memiliki sedikit data, informasi, dan kemudian mendayagunakan akal, maka langkah yang ketiga bagi seorang pemimpin saat krisis adalah mampu memprioritaskan keputusan dan tindakan.

Dalam satu waktu tertentu, maka ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian lebih daripada yang lain.

Misalnya saja, ketika ancaman suatu bencana belum terlihat, tetapi sudah ada tanda-tanda, maka prioritas yang perlu dilakukan adalah melakukan berbagai upaya pencegahan.

Sebagai contoh, musim hujan sebentar lagi datang, maka kemungkinan besar terjadi banjir di daerah-daerah yang sudah menjadi langganan. Oleh sebab itu, maka tata ruang perlu ditinjau kembali, warga perlu direlokasi, dan tempat evakuasi perlu disiapkan.

Namun, ketika bencana sudah terjadi, maka prioritas aksi yang perlu dilakukan adalah melakukan penyelamatan nyawa dan mengurangi penderitaan mereka yang terdampak.

Tindakan dan keputusan tersebut dapat dilakukan dengan melakukan pengiriman logistik dan obat-obatan kepada mereka yang membutuhkan.

Fleksibel dan Adaptabel

Selanjutnya, setelah seorang pemimpin memahami situasi, menggunakan akal, dan melakukan prioritas, maka langkah terakhir adalah memiliki kemampuan untuk fleksibel dan adaptabel.

Hal ini terutama perlu dilakukan mengingat sifat dari krisis adalah penuh gejolak, ketidakpastian, kompleks, dan membingungkan. Anda mungkin perlu membaca kembali pengertian dari dunia dalam VUCA untuk memahami pernyataan ini.

Fleksibel dan adaptabel artinya berbagai keputusan yang Anda buat dapat saja berubah seiring dengan perkembangan krisis yang terjadi.

Sebagai contoh, dalam krisis karena Pandemi COVID-19, maka terjadi perubahan keputusan penggunaan masker, tadinya mereka yang mengenakan masker adalah mereka yang sakit. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa sebaiknya setiap orang menggunakan masker untuk mengurangi risiko penyebaran virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

Perubahan keputusan juga terjadi pada saat COVID-19, yaitu penyemprotan cairan desinfektan kepada manusia dan kemudian hanya kepada benda-benda mati saja, karena ternyata cairan tersebut dapat membahayakan manusia.

DI sini dapat kita lihat betapa seorang pemimpin dituntut untuk mampu bertindak cepat dan menyesuaikan dengan berbagai keadaan dan perkembangan terbaru. Umumnya, perkembangan-perkembangan ini diperoleh informasinya dari lembaga atau institusi yang berwenang dan dari para peneliti.

Eksekutif Direktur WHO untuk Program Darurat, Dr. Michael J Ryan mengatakan, bahwa saat terjadi krisis seorang pemimpin harus mampu bertindak cepat.

Para pemimpin tersebut tak boleh menunggu terlalu lama dan mengharap kesempurnaan atau kelengkapan data dan informasi. Sebab, mengejar kesempurnaan tersebut konsekuensinya adalah terlambat bertindak.

Oleh sebab itu, maka pemimpin dalam krisis harus mampu bertindak cepat dan cepat pula melakukan koreksi seandainya keputusan yang diambil salah.

Leave a Reply