Tokoh: Ragnar Lothbrok?

Kita bisa belajar kepemimpinan, petualangan, dan mengelola konflik dari film seri Vikings. Sang tokoh utama, Ragnar Lothbrok menyajikan semua itu dalam satu paket yang komplit. Pemirsa hanya perlu mengupasnya sedikit demi sedikit.

Pemimpin adalah orang yang hadir manakala dibutuhkan. Ragnar sejatinya tidak berambisi untuk memimpin, namun kesempatan datang untuknya dan tanpa sungkan-sungkan diambillah kesempatan itu.

dc83384203935300fd45c551f01cc5fd

Perubahan Kepemimpinan

Sebagai seorang petani, Ragnar, muncul ke permukaan dengan mula-mula menjadi Earl. Earl Haraldson adalah yang pertama ditumbangkannya. Dia memiliki armada untuk melakukan perjalanan di laut, namun hanya ke arah timur Kategat, kampung Ragnar. “Kenapa kita tidak mencoba ke barat?” Tanya Ragnar suatu ketika. Earl Haraldson pun tidak setuju dengan ide dan petualangan baru itu. Namun, Ragnar tidak patah semangat, dibuatnya kapal sendiri dan dengan pengetahuan navigasi laut, dia pun memberanikan diri menuju ke barat. Singkat cerita, dirinya sampai ke biara di Lindisfarne, menguasai biara itu dan membawa barang rampasan serta tawanan. Sadar diri, sepulangnya dari petualangan pertama itu diserahkan semua harta rampasan kepada Earl Haraldson. Kendati sudah menunjukkan itikad baik, tetap saja Earl Haraldson tidak menyukai sepak terjang Ragnar dan menganggapnya sebagai ancaman. Diserbulah kampung Ragnar dan banyak korban yang jatuh, keluarga Ragnar pun harus mengungsi dan Ragnar sendiri mengalami luka terkena anak panah. Tidak terima dengan perlakuan itu, Ragnar menantang Earl Haraldson untuk duel dan dengan gemilang kemenangan pun digenggam. Ragnar menjadi seorang Earl.

Setelah menjadi Earl, kesempatan pun datang bagi Ragnar untuk menjadi Raja. Lagi-lagi ia tak mengharapkan kedudukan itu, namun berbagai kondisi menyebabkan dirinya harus memegang kekuasaan tersebut. Adalah King Horik dari Denmark yang ditumbangkannya. Mula-mula dia adalah seorang raja yang mendukung petualangan Ragnar ke barat. Namun, lambat laun hubungan mereka pun merenggang seiring dengan capaian-capaian dan nama besar yang diperoleh oleh Ragnar. Raja Horik merasa Ragnar menjadi saingannya, dan tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Diam-diam dia merencanakan sebuah aksi untuk menghukum dan membunuh Ragnar. Beruntung Floki, sahabat kepercayaan Ragnar bisa membuka rencana jahat itu dan justru membunuh Raja Horik. Dengan kematian Sang Raja, maka Ragnar pun naik jabatan dari Earl menjadi seorang Raja.

Petualangan Ragnar

tumblr_nk3edoXWaW1u3wveao1_1280

Ragnar memimpin kaumnya untuk melakukan petualangan ke barat, wilayah yang gelap bagi sebagian besar kaum Viking. Dia didukung oleh istrinya, Lagertha, saudaranya, Rollo, dan sahabat serta sang pembuat perahu, Floki, mewujudkan mimpinya untuk perjalanan ke barat. Selain sarana transportasi, yaitu kapal, Ragnar juga memiliki pengetahuan navigasi untuk mengarungi samudera luas. Pengetahuan inilah yang membuatnya berbeda dengan masyarakat Viking lain. Bisa dikatakan, pengetahuan navigasi itu adalah senjata rahasia Ragnar untuk melakukan petualangan ke barat.

Mula-mula Ragnar hanya membawa satu perahu penuh dengan pejuang Viking yang kebanyakan adalah teman-temannya untuk menjarah biara Lindisfarne di wilayah negara Northumbria. DI sini, dia berhasil mengumpulkan harta rampasan dan juga menawan beberapa pendeta. Dari seorang pendeta, Athlestan, berhasil dikorek keterangan mengenai kekayaan ibukota Northumbria yang jauh lebih banyak daripada harta yang dimiliki biara. Ragnar pun bersemangat untuk merebut ibukota Northumbria tersebut. Selang beberapa waktu, benar-benar dilakukan niatan Ragnar ke Northumbria, di sana King Aelle berhasil ditundukkan dan bersedia untuk memberikan harta kepada Ragnar asalkan rakyat dan ibukotanya tidak dirusak.

Berita keberhasilan petualangan Ragnar pun mulai menyebar ke seantero Bangsa Viking. Beberapa Earl dan King Horik pun terpincut hatinya untuk ikut berpetualang. Kini, Ragnar memimpin armada yang jauh lebih besar ke barat. Sasaran pun berpindah bukan lagi ke Kerajaan Northumbria, tetapi ke Wessex. King Ecbert, raja Wessex, rupanya jauh lebih pintar dari King Aelle raja Northumbria. Diajaklah Ragnar untuk berunding dan mencapai kesepakatan untuk mendukung Wessex merebut kerajaan tetangga Mercia. Sebagai gantinya, Ragnar mendapatkan lahan dan juga harta. Perjanjian kerja sama itu rupanya sudah diatur oleh King Ecbert sedemikian rupa agar keuntungan sebesar-besarnya untuk Wessex. Di sini, Ragnar menerima beberapa kerugian.

Ragnar bukan orang yang mudah terpuaskan rasa penasarannya, lagi-lagi dari Athlestan dia mendengar kabar mengenai Paris di Kerajaan West Francia. Dia tahu, bahwa Paris sangat sulit untuk ditaklukkan karena memiliki tembok pelindung di sekeliling kota. Kendati demikian, bukan Ragnar kalau tidak mencoba menaklukkannya. Armada kapal dan pejuang yang sangat besar pun dibawa serta untuk menyerbu Paris. Sangat sulit untuk menaklukkan kota itu dan ada hambatan lain, yaitu penyakit Ragnar yang melemahkannya. Apakah Ragnar berhasil dalam usahanya itu?

Dilema Ragnar

Sebagai seorang pemimpin, Ragnar mengalami berbagai konflik dengan para raja, kaumnya, dan yang paling menyedihkan adalah dengan beberapa orang terdekatnya. Pertama-tama adalah adiknya sendiri, Rollo, yang merasa hidup di bawah bayang-bayang Ragnar dan ingin mengubah peruntungan nasib. Guna mencapai misinya, Rollo pun berkhianat pada Ragnar dengan bergabung ke Jarl Brog, musuh dari Ragnar. Saat keduanya sudah saling berhadapan di satu pertempuran, Ragnar memberikan kesempatan kepada Rollo untuk menusukkan pedangnya. Namun, yang terjadi adalah Rollo justru bertekuk lutut di bawah kaki Ragnar. Dia tidak bisa membunuh kakak dan sekaligus patronnya itu. Rollo mengaku kepada Ragnar, “Aku seperti kehilangan matahari saat jauh darimu.” Dengan pengakuan tersebut, kendati pada awalnya sulit, namun Rollo kembali bergabung dan mendukung semua tindakan Ragnar. Dia adalah adik, sahabat pendukung, dan pelindung Ragnar.

life-of-a-fangirl-ships-364374

Ragnar juga berselisih paham dengan istrinya Lagertha. Semua itu terjadi karena Putri Aslaug yang pesonanya memikat hati Ragnar di satu petualangan. Keduanya terlibat hubungan asmara yang berujung dengan kehamilan Putri Aslaug. Mula-mula Ragnar tidak tahu perihal kehamilan itu, namun kemudian Sang Putri datang ke Kategat dengan perutnya yang sudah besar. Ragnar meminta istrinya Lagertha untuk menerima Putri Aslaug dan keduanya menjadi pendampingnya. Lagertha pun menolak mentah-mentah ide itu dan memilih untuk pergi. Kelak, keduanya akan kembali bertemu dengan kondisi yang jauh berbeda.

Masalah ketuhanan menjadi sumber perselisihan antara Ragnar dengan sahabatnya Floki. Ragnar bukan hanya bertualang ke tempat-tempat baru, namun rasa penasarannya pun menuntun dirinya ke Tuhan baru, Tuhan orang Kristen yang dibawa oleh tawanannya Athlestan. Perubahan ini dianggap sebagai penghinaan kepada Tuhan bangsa Viking, yaitu Loki, sosok yang begitu dipuja oleh Floki. Berbagai kegagalan, kekalahan, dan korban yang terjadi menurut Floki adalah buah dari perubahan kepercayaan yang terjadi pada diri Ragnar. Floki pun menudingkan jarinya kepada Athlestan sebagai sosok yang menyebabkan Ragnar berubah. Namun, Ragnar, bergeming dan tetap tertarik kepada Yesus, Tuhan dari Athlestan. Terlepas dari peran masing-masing, baik itu Floki maupun Athlestan, Ragnar menganggap keduanya sebagai sahabat dan saat salah seorang dari mereka meninggal, Ragnar pun terpuruk.

Tokoh: Pelajaran dari Kematian Kurt Cobain

ss-140404-Kurt-Cobain-tease.blocks_desktop_medium

Sarah Cooper di Medium mengatakan penyebab kematian Kurt disebabkan karena cinta.

Kita sering mendengar, membaca, atau melihat cerita tentang wanita yang dibutakan oleh cinta sehingga mereka melakukan hal-hal gila untuk mendapatkannya. Mereka bahkan melakukan hal yang lebih gila lagi bila cinta tak didapatkan. Rupanya semua hal itu terjadi juga pada pria, dan barangkali itulah yang menimpa Kurt.

Dia hanya punya seorang pacar sebelum menikahi Courtney. Sosok yang dicinta sekaligus suportif, namun mungkin kurang menarik untuk Kurt dan untuk kehidupan yang akan menantinya.

Setelah itu, barulah dia bertemu dengan Courtney, sosok yang disebut oleh Kurt, ‘penuh dengan ambisi’. Kemudian, memang terbukti begitu adanya. Dia menemui Kurt, kemudian Kurt pun jatuh cinta, namun…. sebenarnya itu bukan cinta.

Satu waktu, ketika Kurt meninggalkan pusat rehabilitasi, dia tidak ke tempat Courtney yang hanya berjarak 10 menit. Dia justru pergi ke Seattle sendirian dan empat hari kemudian bunuh diri.

Menurut Sarah Cooper, “Saya kira, Kurt patah hati.”

Kurt menyadari sepenuhnya, dia memiliki segalanya, namun tak ada satu pun yang diinginkannya. Dia tak ingin menjadi bintang yang selama ini dikejar-kejar, dia tak ingin bercerai, dia tak ingin jadi ayah yang buruk, mungkin dia tak ingin kecanduan heroin.

Dan… dia terlalu muda untuk tahu, bahwa kadang-kadang semua itu bisa terjadi. Musik dan sebagai artis akan berjalan baik, anak gadisnya akan baik-baik saja, dan dia akan kembali menemukan cinta. Sayang, dia tak punya satu orang pun yang bisa diajak bicara, karena semua orang di sekitarnya tak peduli.

Namun, memang sangat sulit untuk menyalahkan seseorang atas kematiannya. Kombinasi dari usia muda, obat-obatan dan terkenal membuat dirinya buta dan juga orang-orang di sekitarnya.

“Hidup mengajarkan kepada kita bagaimana menjalaninya, hanya jika usia kita cukup panjang untuk mengetahuinya.” Tony Bennet.

Tokoh: Lisa Kristine tentang Perbudakan Modern

“Kita baru benar-benar merdeka manakala mereka yang berada dalam perbudakan telah bebas.” Archbishop Desmond Tutu

Saya berada 150 kaki di bawah lubang penggalian ilegal di Ghana. Udara terasa berat dengan panas dan debu, hingga sangat sukar untuk bernafas. Saya dapat merasakan tubuh yang kasar dan berkeringat berlalu lalang di kegelapan, namun tak banyak yang dapat saya lihat.

Saya mendengar suara, orang yang berbicara, namun kebanyakan adalah hiruk pikuk di dalam terowongan dan pria-pria yang terbatuk. Bunyi lain dalam terowongan itu adalah batu yang pecah dihantam peralatan tradisional.

Seperti yang lain, saya mengenakan senter murah yang berkelip, terikat di kepala menggunakan karet elastis yang sudah koyak. Saya hampir tak dapat menggerakkan anggota badan karena licin, terhimpit di dinding pada lubang seluas tiga kaki persegi, dan perlahan turun beratus-ratus kaki ke dalam bumi.

Flashlight_band

Ketika tangan saya terpeleset, seketika dalam benak saya terbayang seorang penambang yang bertemu beberapa hari yang lalu. Saat itu pegangannya terlepas dan jatuh entah berapa kaki ke dalam terowongan itu.

Saat saya bicara dengan Anda hari ini, para pria itu masih berada di kedalaman lubang, mempertaruhkan nyawa mereka tanpa gaji dan kompensasi, seringkali mereka sekarat.

Saya harus memanjat naik dari lubang itu dan pulang. Namun mereka, sepertinya tak akan pernah bisa pulang karena telah terjebak dalam perbudakan.

Climb_out_the_shaft

Selama 28 tahun terakhir saya telah mendokumentasikan kebudayaan warga pribumi di lebih dari 70 negara di enam benua. Pada tahun 2009 saya mendapat kehormatan dalam pameran pada Konferensi Perdamaian di Vancouver.

Di antara banyak orang luar biasa yang saya temui di sana, saya bertemu dengan sebuah NGO, Free the Slaves. Sebuah lembaga swadaya masyarakat yang mendedikasikan dirinya untuk penghapusan perbudakan di zaman modern ini.

Kami mulai berbicara mengenai perbudakan dan sungguh saat itu saya mulai belajar tentang perbudakan. Sebab, saya tahu hal ini pernah ada di dunia di masa lampau, namun tak sebesar saat ini.

Setelah kami selesai bicara, saya merasa sangat sedih dan juga malu karena kurangnya pengetahuan pada kekejaman yang terjadi sepanjang hidup saya. Kemudian saya berpikir, jika saya tak tahu, berapa banyak orang lagi yang tak paham bahwa perbudakan ini terjadi.

Apa yang terjadi kemudian adalah semagat yang tumbuh dalam diri saya, sehingga dalam beberapa minggu kemudian, saya terbang ke Los Angeles untuk bertemu dengan direktur Free the Slaves dan mencari tahu apa yang bisa saya bantu. Itulah yang mengawali perjalanan saya dalam perbudakan di zaman modern ini.

Anehnya, saya pernah ke berbagai tempat ini sebelumnya, bahkan beberapa telah menjadi seperti rumah kedua. Namun kali ini, saya ingin melihat apa yang selama ini tersembunyi jauh di belakang.

Sebuah perkiraan kasar menunjukkan ada lebih dari 27 juta orang diperbudak di dunia saat ini. Angka tersebut adalah dua kali lipat jumlah orang Afrika yang dibawa sepanjang masa perdagangan budak trans-Atlantik. Seratus lima puluh tahun yang lalu, perbudakaan di bidang agrikultur menelan biaya tiga kali lipat gaji tahunan seorang pekerja Amerika. Jumlah itu saat ini setara dengan 50 ribu dollar.

Namun hari ini, seluruh keluarga dari berbagai generasi dapat diperbudak hanya karena hutang sebesar 18 dollar. Sementara itu, perbudakan sendiri menghasilkan keuntungan sebesar 13 milyar dollar dari seluruh dunia setiap tahunnya.

Banyak di antara mereka yang dijebak karena janji-janji surga, seperti pendidikan yang baik, kesempatan bekerja yang lebih baik. Sayangnya , mereka ternyata hanya diminta bekerja tanpa menghasilkan gaji, di bawah ancaman kekerasan, dan mereka tak bisa berlari.

Saat ini, perbudakan menjadi pasar, suatu keadaan untuk mendukung proses jual beli. Jadi, berbagai barang yang dihasilkan oleh para budak memiliki nilai yang tinggi. Sementara itu, mereka yang memproduksi justru sangat mungkin untuk ditendang.

Perbudakan ada di manapun, hampir di seluruh dunia, dan memang benar, hal itu adalah ilegal di seluruh dunia.

Di India dan Nepal, saya diajak ke tempat pembakaran batu bata. Pemandangan di sana sungguh aneh sekaligus mencengangkan. Seperti berjalan ke Mesir Kuno atau nerakanya Dante.

brick_carrier_women

Di tengah suhu yang mencapai 130 derajat, pria, wanita, anak-anak, seluruh keluarga terselimuti debu yang tebal. Mereka mengangkat batu bata di kepala, sekitar 18 buah sekali angkat. Kemudian bata tersebut dibawa dari tempat pembakaran ke truk yang menunggu cukup jauh.

Dicekam oleh pekerjaan yang monoton dan kelelahan, mereka bekerja dalam diam. Dikerjakan tugas yang sama itu berulang-ulang, selama 16-17 jam per hari. Mereka tak mendapatkan istirahat untuk makan dan minum, sehingga kebanyakan mengalami dehidrasi.

Di tengah panas dan debu itu, kamera saya menjadi terlalu panas untuk dipegang dan harus sering diistirahatkan. Setiap dua puluh menit saya harus berlari ke kendaraan, membersihkan peralatan dan menempatkannya di bawah pendingin ruangan agar dapat bekerja kembali. Saat itu, kamera saya rasanya mendapatkan perhatian yang lebih baik daripada para pekerja di sana.

brick_carrier

Kembali ke lokasi pembakaran, saya ingin menangis, namun pendamping saya mengatakan, “Lisa, jangan menangis di sini, jangan sekali-kali.” Kemudian dia menjelaskan dengan gamblang bahwa menunjukkan perasaan emosional kita sangatlah berbahaya di tempat semacam ini. Bukan hanya untuk saya, namun terlebih lagi untuk mereka. Saya tak bisa memberikan bantuan langsung atau pun uang, saya tak bisa membantu apa pun. Saya bukan warga negara itu, sehingga saya bisa membawa mereka ke situasi yang lebih buruk.

Di Himalaya, saya menemukan anak yang mengangkut batu menuruni gunung ke truk yang menunggu di bawah. Batu yang dibawa itu lebih berat dari pengangkutnya. Anak-anak itu membawa dengan cara menaruh bebatuan itu menggunakan kayu dan tali yang disangkutkan ke kepalanya.

kids_stone_himalaya

Sangat sulit melihat sesuatu yang begitu menyedihkan, bagaimana kita sangat terpengaruh oleh hal yang disembunyikan, namun juga begitu terlihat. Beberapa di antara mereka tak paham sedang berada dalam sistem perbudakan. Orang-orang yang bekerja 16-17 jam per hari tanpa dibayar, sebab ini adalah hidup mereka. Mereka tak tahu seperti apa kehidupan yang lain itu.

Ketika orang-orang itu mengklaim kemerdekaannya, maka para majikan akan membakar habis rumah mereka. Para budak tersebut sangat ketakutan dan ingin menyerah.

Perdagangan sex seringkali kita asumsikan ketika mendengar perbudakan dan karena kesadaran global tersebut, justru menjadi sangat berbahaya bagi saya jika ingin masuk untuk menginvestigasi lebih dalam industri ini.

Di Kathmandu, saya ditemani seorang wanita yang dulunya adalah budak sex. Mereka membimbing saya untuk turun melalui tangga ke satu tempat yang kotor dan remang-remang di basement.

stairs_sex_kathmandu

Sejatinya ini bukanlah rumah bordil, namun lebih mirip sebuah restauran. Restauran yang terdiri dari kamar-kamar, menjadi tempat untuk prostitusi yang terpaksa dilakukan.
Ruang-ruang kecil itu digunakan secara pribadi. Di sana para budak, para wanita atau lelaki kecil, beberapa masih berusia tujuh tahun dipaksa untuk menghibur para klien, mendorong mereka untuk membeli lebih banyak makanan dan alkohol.

Tiap ruang dalam kondisi gelap dan kotor. Masing-masing dikenali dari nomor yang ada di tembok, kemudian dipisahkan menggunakan plywood dan tirai. Para pekerja di sini sering mengalami kekerasan seksual dari pelanggannya yang berakhir tragis.

Berdiri di sana membuat saya bisa merasakan ketergesaan, ketakutan yang dalam, dan seketika saya membayangkan bagaimana rasanya terperangkap di neraka tersebut. Hanya ada satu jalan masuk dan keluar, yaitu melalui tangga di mana saya tadi melangkah, tak ada pintu belakang, tak ada jendela yang besar dan cukup untuk kabur. Mereka sama sekali tak punya peluang untuk melarikan diri.

Sangat penting untuk dicatat, bahwa saat kita membicarakan perbudakan, termasuk perdangangan sex, sungguh-sungguh terjadi di halaman belakang kita.

Sepuluh per seratus orang diperbudak dalam bidang pertanian, restauran, rumah tangga, dan daftar itu masih terus bertambah. Laporan baru-baru ini dari New York Times mengatakan, bahwa antara 100-300 ribu anak di Amerika dijual menjadi budak sex setiap tahunnya.

Itu terjadi di sekitar kita, hanya saja kita tak melihatnya.

Industri tekstil adalah tempat lain terjadinya perbudakan. Saya mengunjungi sebuah desa di India di mana satu keluarga menjadi budak dalam perdagangan sutera.

silk_slavery

Ini adalah gambar dari keluarga tersebut. Tangan yang menghitam adalah ayah, sementara yang memerah, dan membiru anak-anaknya. Mereka mencampurkan pewarna dalam sebuah drum, kemudian mencelupkan sutera ke dalamnya menggunakan tangan sampai ke siku. Pewarna itu sendiri adalah racun.

Penerjemah saya menceritakan kisah mereka. “Kami tak punya kemerdekaan,” mereka berkata, “Kami berharap bisa meninggalkan rumah ini suatu hari nanti dan pergi ke tempat lain di mana kami mendapatkan bayaran untuk mewarnai.”

Diperkirakan lebih dari empat ribu anak di Danau Volta–danau buatan terbesar–di Ghana. Saat pertama kali datang, saya melihat sekilas, tampak seperti satu keluarga berada di perahu menjala ikan. Mereka adalah dua orang remaja yang lebih tua dan adik-adiknya, tampak seperti sebuah keluarga, bukan?

fish_slavery

Sayang, ternyata mereka tidak memiliki hubungan keluarga. Mereka semua telah diperbudak. Anak-anak diambil dari keluarganya, diperjualbelikan, dan kemudian hilang. Di sana mereka dipaksa untuk bekerja tanpa henti di atas perahu kendati tak tahu cara berenang.

Anak ini berusia delapan tahun. Dia gemetar saat perahu kami mendekat, ketakutan perahunya akan terbalik. Dia ketakutan kalau sampai tercebur ke air.

child_fish_slavery

Batang dan dahan pohon yang terendam di dalam Danau Volta sering menyangkut jala. Kemudian anak yang kelelahan dan ketakutan diceburkan ke air untuk melepaskan jala itu. Banyak di antara mereka tenggelam.

Seorang pekerja mengingat, bahwa dia dipaksa bekerja di danau. Ketakutan kepada tuannya, menyebabkan dia tak akan melarikan diri. Menerima perlakuan buruk nan kejam sepanjang hidupnya menyebabkan dia melakukan hal yang sama kepada orang yang lebih muda. Mereka yang berada di bawah komandonya.

Saya bertemua anak-anak itu pada pukul lima pagi ketika mereka mengangkut jala yang terakhir. Namun, rupanya mereka telah bekerja sejak pukul satu dini hari berteman angin dan dingin malam. Perlu juga dicatat, bahwa saat jala itu penuh ikan beratnya lebih dari seribu pound.

Kofi_fish_slavery

Saya ingin mengenalkan Anda kepada Kofi. Dia diselamatkan dari desa nelayan. Saya bertemu dengannya di tenda di mana Free the Slaves merehabilitasi korban perbudakan. Di sini, dia mandi di dekat sumur, mengguyurkan seember air ke kepalanya. Berita menggembirakan darinya adalah, saat kita duduk sekarang ini, dia sudah berkumpul dengan keluarganya. Selain itu, keluarganya juga mendapatkan berbagai peralatan untuk mencari nafkah dan memastikan anak-anaknya aman.

Menyusuri jalanan di Ghana, sekelompok orang di atas sepedanya mendekat dan mengetuk jendela kami. Mereka bilang agar kami mengikuti dan kemudian masuk ke dalam hutan. Di ujung jalan, mereka memaksa kami turun dari mobil dan menyuruh sopir untuk segera pergi. Dia memimpin kami mengikuti satu jalan setapak, menyingkirkan berbagai halangan di depan.

Kami sampai di bagian jalan yang tersapu oleh banjir. Saat itu hujan, sehingga saya harus membawa berbagai peralatan fotografi di atas kepala. Saat kami turun, air bergerak naik hingga ke dada. Setelah dua jam berjalan di tengah angin dan hujan, kami sampai di lahan terbuka. Di depan kami, menganga lubang-lubang penggalian yang sangat besar seukuran lapangan bola.

Di dalam lubang itu penuh dengan orang yang diperbudak untuk bekerja. Banyak wanita menggendong anaknya di belakang, sembari mereka mencari emas, terendam di air yang beracun karena mercury. Zat yang digunakan dalam proses ekstraksi emas.

gold_slavery

Mereka ini adalah para budak di lahan tambang yang berada di Ghana. Saat keluar dari terowongan, mereka kuyup oleh keringatnya sendiri. Saya teringat bagaimana mata mereka menyiratkan kelelahan karena banyak yang telah berada di bawah tanah selama 72 jam.

Terowongan itu dalamnya 300 kaki dan mereka harus menaikkan batu-batu yang berat sebelum kemudian diangkut ke tempat lain di mana batu tersebut akan ditumbuk dan diekstrak emasnya.

Melihat sekilas, tempat penumbukan batu tampak penuh dengan para pria yang sangat kuat. Namun, begitu kita memerhatikan, banyak yang tidak beruntung bekerja di pinggir juga anak-anak. Mereka ini adalah korban yang terluka, sakit, atau mengalami kekerasan. Pria-pria kuat itu kemungkinan besar akan berakhir sama, yaitu menderita karena TBC dan juga keracunan mercury hanya dalam waktu singkat.

Manuru_gold_slavery

Adalah Manuru, saat ayahnya meninggal, Sang Paman mengajaknya bekerja di tambang. Kemudian saat pamannya meninggal, Manuru mewarisi hutang-hutang ayahnya. Hutang yang kemudian memaksanya lebih jauh untuk menjadi budak di pertambangan.

Saat saya bertemu dengan Manuru, dia telah bekerja di tambang selama 14 tahun. Betisnya yang cedera terjadi karena kecelakaan di tambang, seorang dokter bilang kalau kakinya harus diamputasi, selain itu dia juga memiliki TBC. Namun, dia tetap bekerja tiap hari keluar masuk terowongan ke tambang. Dia juga punya mimpi suatu hari nanti akan bebas dan dididik oleh aktivis lokal seperti Free the Slaves.

Saya ingin menyinari perbudakan. Manakala bekerja di lapangan, saya juga membawa banyak lilin. Kemudian dengan bantuan para penerjemah, saya berkata kepada orang-orang yang saya foto, bahwa saya ingin membuat cerita mereka bersinar. Maka ketika dirasa aman untuk mereka dan juga saya, saya membuat gambar-gambar mereka memegang lilin. Mereka tahu, gambar itu akan dilihat Anda dan tersebar ke dunia.

Candle_slaves

Saya ingin mereka tahu, bahwa kita menjadi saksi kehadiran mereka dan akan melakukan apa pun yang kita bisa untuk menolong. Bersama kita bisa membuat hidup mereka berbeda. Saya percaya, jika kita bisa melihat satu sama lain sebagai sesama manusia, maka akan sangat sulit menerima tindakan semacam perbudakan.

Gambar-gambar ini bukanlah masalahnya, mereka para pemegang lilin itu adalah sosok yang nyata seperti saya dan Anda. Semua memiliki hak, martabat, dan kehormatan yang sama. Saya berharap berbagai gambar ini membangunkan kesadaran dan kekuatan dalam diri mereka yang melihatnya termasuk Anda. Saya berharap kekuatan itu akan menyalakan api yang akan menyinari perbudakan karena tanpa cahaya tindakan brutal perbudakan akan terus berlangsung di balik bayang-bayang.

Sumber tulisan dari sini:

Tokoh: Vandana Shiva

Dr. Vandana Shiva

Semua berawal dari sebuah kelas yang saya ikuti beberapa bulan lalu. Salah satu kegiatan dalam kelas tersebut adalah menonton video di youtube. Sungguh menyenangkan, bukan?

Kebetulan, guru saya adalah seorang anarchyst sekaligus pecinta lingkungan. Beliau memiliki tokoh idola, yaitu Dr. Vandana Shiva. Siapa beliau ini, Anda dapat membaca profilnya di sini.

Dalam salah satu pidatonya, beliau menjelaskan tentang pentingnya benih. Betapa benih sudah dikuasai oleh perusahaan raksasa yang kemudian memonopoli jual belinya. Petani di sisi lain menjadi obyek penderita karena tidak diperbolehkan menyimpan benih. Mereka harus membeli benih dari perusahaan tersebut.

Dunia yang menghadapi persoalan maha besar, yairu lonjakan populasi tentu pada akhirnya membutuhkan banyak bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan makan warga dunia.

Sejatinya, tak ada yang keliru dengan modifikasi genetika untuk menciptakan benih unggul. Sebagai contoh pada varietas padi. Namun, penggunaannya bukan absen dari persoalan.

Penggunaan bibit unggul tanpa didukung produk lain seperti pupuk buatan tak pernah memberikan hasil yang maksimal. Semenfara itu, pupuk biatan seperti pestisida sangat berbahaya dan merusak lingkungan. Limbahnya mencemari sungai, merusak kesuburan tanah, dan memberikan pengaruh buruk lainnya.

Dr. Shiva berjuang untuk melawan dominasi dan monopoli dari para raksasa tersebut. Dengan gerakan yang diberi nama Navdanya (9 biji) ia mulai mengumpulkan benih dari para petani lokal. Disimpannya benih tersebut di dalam bank benih di ashram-nya untuk kemudian ditanam oleh para petani.

Awal Gerakan
Sekitar medio 1980-an terjadi bunuh diri besar-besaran di India. Para petani yang tak mampu membayar hutang memilih untuk mengakhiri hidupnya.

Sebelum itu terjadi, kekeringan besar melanda India. Benih yang biasa ditanam oleh para petani tak mampu tumbuh di lahan yang kurang air. Mereka pun kemudian tertarik untuk menanam benih dari perusahaan yang tahan hidup hanya dengan sedikit air. Tentu saja benih itu harus dilengkapi dengan berbagai pupuk dan bahan lain yang juga disediakan oleh perusahaan itu. Petani memperoleh semua itu dengan jalan hutang, di akhir periode tersebut banyak petani yang terlilit hutang dan kebanyakan tak sanggup membayar.

Dampak lanjutan dari penggunaan benih dan pupuk dari perusahaan besar adalah kerusakan lahan pertanian yang kemudian menjadi bergantung pada berbagai obat-obatan kimia. Sistem monokultur memang memberikan hasil produk yang tinggi, namun hilangnya kesuburan tanah juga menjadi ancaman yang sangat mengerikan.

Ide Gerakan
Bersama dengan para petani dikumpulkan bibit-bibit tanaman yang ada. Disimpannya benih tersebut sembari ditanam secara organik.

Dr. Shiva percaya, sebidang lahan yang ditanam berbagai macam tanaman akan memberikan keuntungan yang jauh lebih banyak daripada hanya satu jenis tanaman.

Sebagai ilustrasi hal tersebut, sekian kwintal padi dari satu hektar tanaman berbanding dengan beberapa kilo padi dan aneka rupa hasil tanaman dari lahan dengan luas yang sama. Tentu saja kondisi ini sangat menguntungkan baik itu bagi petani maupun bagi tanah. Aneka rupa tanaman yang ditanam pada sebidang lahan akan menjaga kesuburan tanah itu sendiri.

Pertumbuhan Ekonomi
Selain isu mengenai benih, Dr. Shiva juga menyoroti pertumbuhan semu ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang biasanya diukur dari hasil produksi tanpa memerhatikan kerusakan yang ditimbulkannya. Sebagai contoh adalah dari komoditi pertanian yang hanya memperhitungkan hasil dan melupakan kerusakan tanah, sumber mata air, atau dampaknya pada ekosistem. Semua hal itu tak pernah dihitung saat mendefinisikan pertumbuhan ekonomi.

Selain dari produk pertanian, pertumbuhan ekonomi juga menghitung hasil tambang, utamanya bahan bakar fosil. Pertumbuhan ekonomi dari sumber daya alam tak dapat diperbarui akan menunjukkan pola parabola terbalik. Satu ketika akan mencapai puncak dan apabila sumber daya alam tersebut habis, maka akan menunjukkan kurva yang menurun, bahkan satu saat nanti akan habis.

Dunia pada masa yang akan datang tidak memerlukan minyak dan gas dan batu bara murah. Dunia lebih membutuhkan kincir angin, panel-panel surya, turbin pembangkit listrik dengan tenaga air atau gelombang yang kendati mahal untuk pengadaannya, namun berlimpah ketersediaannya.

Tanah yang Suci
Dr. Shiva menganggap semua hal berhubungan. Seperti halnya film Avatar, dari warga pribumi, pohon, burung, binatang lain saling berhubungan. Tak bisa satu makhluk hidup sendiri tanpa berhubungan dengan makhluk lain.

Di atas semua itu, tanah menjadi penghubungnya. Sebuah entitas yang suci karena dari sanalah awal rantai makanan tersusun.

Manakala pohon tumbuh, binatang memakannya, kemudian manusia menikmati keduanya, semua berawal dari tanah.

“Tanah adalah sumber kehidupan.” Kata Dr. Shiva.

Oleh sebab itu, maka memperlakukan tanah dengan baik menjadi satu keharusan. Mengubah tanah menjadi lahan permukiman atau pertanian yang dilakukan secara sembrono adalah mengundang hadirnya bencana.

Beberapa akibat dari pengelolaan tanah yang sembrono di antaranya adalah kelangkaan pangan karena tanah rusak. Selain itu juga intensitas banjir dan tanah longsor yang terjadi karena tanah berubah fungsi dari daerah resapan menjadi tempat tinggal atau hunian.

Para Musuh
Dalam melakukan gerakannya, Dr. Shiva tak lepas dari onak dan duri yang menghadang. Sebut saja, dan tentunya mereka itu adalah para industrialis penganjur GMO, perusahaan tambang, pemilik modal, juga ilmuwan yang menolak isu-isu yang diangkat oleh Dr. Shiva.

Semakin banyak yang menantang gerakan yang diusung oleh beliau, semakin banyak pula yang ambil bagian mendukungnya.

Mengingat gerakan Dr. Shiva menyangkut hajat hidup orang banyak dan terutama keberlangsungan kehidupan dari tumbuhan, hewan, hingga manusia, maka sudah sepantasnya apabila blog semenjana ini pun turut serta menyebarluaskan pemikiran beliau.

Tokoh: Dr. Vandana Shiva

Someday….
Who will plant paddy?
When you have grown….
Will it green in this soil?

Those sentences loosely translate from the second song performed by ‘Akar Bambu’ in the lecture by Dr. Vandana Shiva at Universitas Indonesia on Monday (18/08). The Akar Bambu trio on this occasion sang three songs; about sharing, the last farmer, and the last seed. The lead vocalist of the group asked the audience during the break between the songs, ‘What if there was only one last seed left in the world?’

This lecture was titled ‘Our seeds, our future: strengthening Indonesia food sovereignty’. To open her talk, Dr. Shiva mentioned the link between seed freedom and our freedom. Then she followed with a brief history of seeds, and discussed how seeds as a resource have caused conflict and even violence in agriculture.

Violence in agriculture means that its tools and technology came from the war industry. In this case, fertiliser, pesticides, and other chemical materials for plants are the same chemicals have been used in bomb production.

Moreover, Dr. Shiva revealed the hidden agenda behind the seed industry. The industry has designed dependency for farmers through its monopoly on seed distribution. It promotes ‘super seeds’ and endorse a monoculture system that reduces biodiversity. At the same time, this industry also generates alarm for farmers by seed scarcity.

In addition, Dr. Shiva also blamed governments and world organisations that play a significant role through theirs laws concerning seed issues. She listed the various actions of such organisations which, for example, arrest farmers who gather and save their own seeds.

In the last part of her presentation, Dr. Shiva spoke mostly about biodiversity. She said that biodiversity was the answer of food sufficiency and to adapt towards climate change.

She also suggested that human beings should keep seeds on the hand in order to fulfill the food demands of the population. Keeping seeds in your hand, is the most significant key for peace on earth.

Related links:

Dr. Vandana Shiva profile

Navdanya Movement

===
Versi Bahasa Indonesia

Suatu hari nanti….
Siapa yang akan menanam padi?
Manakala kamu telah dewasa….
Akankah tanah ini tetap hijau?

Bait tersebut dipinjam dari lagu kedua yang dinyanyikan oleh ‘Akar Bambu’ dalam kuliah umum oleh Dr. Vandana Shiva di Universitas Indonesia pada Senin (18/08). Trio Akar Bambu pada kesempatan tersebut menyanyikan tiga buah lagu yang bercerita tentang saling berbagi, petani terakhir dan benih terakhir. Vokalis Trio Bambu pada jeda antar lagu menanyakan kepada peserta seminar, “Bagaimana jika hanya tersisa satu benih terakhir di dunia ini?”

Kuliah umum ini berjudul ‘Benih kita, Masa Depan Kita: memperkuat kedaulatan pangan Indonesia.’ Dalam pembukaannya, Dr. Shiva menyampaikan, bahwa ada hubungan antara kemerdekaan benih dan kemerdekaan kita. Kemudian beliau melanjutkan dengan sejarah singkat benih, bagaimana benih sebagai satu sumber daya memicu konlik dan bahkan tindakan kekerasan dalam bidang pertanian.

Kekerasan dalam bidang pertanian berarti, pertanian yang peralatan dan teknologi yang digunakan berasal dari industri untuk peperangan. Dalam hal ini, pupuk, pestisida dan berbagai produk kimia lain untuk tanaman berasal dari material yang sama dengan material yang digunakan pada saat perang, seperti halnya produksi bom.

Lebih lanjut, Dr. Shiva mengungkapkan agenda tersembunyi di belakang industri benih. Sebuah bidang industri yang didesain untuk menciptakan ketergantungan para petani melalui strategi monopoli keanekaragaman benih. Industri ini mempromosikan benih super dan sistem monokultur yang menghapus keanekaragaman. Pada saat yang sama, industri benih juga menciptakan kekhawatiran para petani dengan melontarkan isu mengenai kelangkaan benih.

Sebagai informasi tambahan, Dr. Shiva juga menyalahkan pemerintah dan organisasi dunia yang memainkan peran melalui hukum dan aktivitas mereka terkait dengan isu benih. Beliau membuat satu daftar pelanggaran terhadap aturan yang dibuat oleh pemerintah atau organisasi lain yang menahan seorang petani karena tengah mengumpulkan dan menjaga benih mereka sendiri.

Pada bagian akhir paparannya, Dr. Shiva lebih berfokus pada keanekaragaman. Beliau percaya bahwa keanekaragaman adalah satu-satunya cara untuk mencukupi kebutuhan pangan dunia dan beradaptasi dengan perubahan iklim.

Dr. Shiva juga menyarankan, bahwa seseorang harus menyimpan benih dalam rangka untuk untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk dunia. Benih yang tersimpan ini adalah kunci dalam usaha menciptakan perdamaian dunia.

Tokoh: Ajaran Buddha

sidhharta_gautamaKebenaran Mulia

  • Kebenaran Mulia Pertama: Kehidupan mengandung penderitaan
  • Kebenaran Mulia Kedua: Penderitaan memiliki sebab, dan sebabnya dapat diketahui
  • Kebenaran Mulia Ketiga: Penderitaan dapat diakhiri
  • Kebenaran Mulia Keempat: Jalan untuk mengakhiri penderitaan memiliki delapan ruas

-oOo-

Delapan Ruas Jalan Utama

  • Pandangan Benar
  • Pikiran Benar
  • Perkataan Benar
  • Perbuatan Benar
  • Mata Pencaharian Benar
  • Daya Upaya Benar
  • Kesadaran Benar
  • Meditasi Benar

-oOo-

Tiga Fakta Mendasar Tentang Keberadaan

  1. DUKHA, kehidupan tidak memberikan kepuasan. Kenikmatan dalam duania materi bersifat sementara. Kesengsaraan akan muncul tanpa bisa ditolak. Karena itu, tak satu pun pengalaman kita dapat memberikan kepuasan mendalam. Perubahan takkan pernah berhenti.
  2. ANICCA, segalanya tidak kekal. Semua pengalaman terus berganti dan berubah. Sebab dan akibat bergerak tanpa henti dan membingungkan. Karena itu seseorang takkan pernah mendapatkan kepastian dan kekekalan.
  3. ANATTA, diri yang tanpa aku yang kekal tak dapat diandalkan dan sepenuhnya tidak nyata. Apa yang kita sebut jiwa dan kepribadian hanyalah khayalan dan bayangan. Kita tak pernah berhenti berusaha untuk membuat diri kita nyata, tapi kita juga tak pernah berhasil. Karena itu kita berpegang pada kepercayaan terhadap ilusi.

-oOo-

Ditera ulang dari ‘Buddha’ karya Deepak Chopra

Tokoh: Kartini dan Egoisme

Dari surat-surat Kartini yang banyak itu, tampaklah pelaksanaan egoisme yang dikenalnya itu, baik secara terang-terangan maupun dengan bahasa bermakna-ganda: feodalisme, penjajahan, ketidakmajuan. Egoisme ini mewujudkan diri atau diwujudkan dalam bentuk keserakahan, dan keserakahan pada gilirannya memanggil kezaliman, ketidakadilan, kepalsuan. Ia sendiri banyak menderitakan perbuatan-perbuatan egois itu dengan tubuh dan jiwanya. Ia rasakan penderitaan itu. Ia rasakan. Dan dengan bantuan kecerdasannya, ia mengerti bahwa orang-orang lain pun menderita persis dengan yang dideritanya. Ia menjadi iba hati terhadap semua orang itu yang tidak bisa membela diri, yang dalam keputusaasaannya menamai nasibnya sebagai ketentuan Takdir. Kesadaran akan persatuan di dalam penderitaan ini menyebabkan ia mencitai semua mereka itu: Rakyatnya. Kaum feodal menderita akan penjajah. Rakyat jelata menderita karena kaum feodal. Anak-anak menderita karena orangtua yang tidak berpendidikan. Wanita menderita karena ajaran palsu tentang kebenaran. Dan demikian seterusnya.

Sumber dari segala macam penderitaan ini adalah egoisme.

Ia tahu, tidak ada perubahan bakal terjadi kalau tiada seorang pun yang tampil ke depan dan mempelopori. Dunia pun tampil ke depan. Ia bangkit melawan. Dan semakin banyak penderitaan diterimanya, karena penderitaan yang sudah ada itu ditambah dengan yang baru, yang berasal dari kecurigaan cemburu dan dengki mereka yang justru diperjuangkannya. Di samping itu, kelas feodal sendiri menentangnya, karena usaha dan perjuangannya akan secara langsung berupa tantangan terhadap kelasnya, paling sedikit mengganggu kedamaian posisinya.

Dalam masa waktu zaman membutuhkan perubahan, sejarah justru memilih sorang wanita, seorang gadis muda. Sedang semestinya seorang tingkat sarjana berpengalaman yang harus menggarap pekerjaan raksasa ini. Dan seorang wanita itu tidak lain daripada Kartini—gadis yang hampir tidak pernah meninggalkan rumah—berumur dua puluhan, tidak berpengalaman dalam pekerjaan kemasyarakatan, berpendidikan hanya sekolah rendah saja. Dari dunianya yang kecil—kabupaten—ia melancarkan perjuangannya, dengan panji-panji cinta. Dan dengan perjuangannya ini ia memanggil seluruh dunia jadi musuhnya—suatu hal yang menyebabkan dunianya menjadi semakin kecil, sebaliknya semakin membuat besar jiwanya, dan: intensif.

Ia menerima cinta hanya dari orangtuanya, Ayahnya. Dan dengan ini ia cintai Rakyatnya, tanahairnya, sesamanya. Cinta sedemikian dari Ayahnya, tentulah Cinta yang agung menjiwai. Dan dengan Cinta yang diterimanya itu, Kartini sebenarnya lebih daripada hanya seorang yatim-piatu zaman modern, ia dapat dibandingkan dengan Robinson Crusoe, yang bukan saja harus tolong dan selamatkan dirinya sendiri, tapi juga generasi-generasi mendatang dan hari depannya, sedang sahabat satu-satunya yang tersetia sampau mati hanya seorang cita-citanya. Hidupnya yang terkucil, terpencil, hampir-hampir tanpa persinggungan dengan dunia luar kabupaten, semestinya membuat ia tidak mengenal realita. Maka surat-surat  yang datang dari negeri-negeri dan kota-kota jauh ke kamar kerjanya, dalam situasi hidupnya yang tidak mengenal realita, nilainya lebih daripada hanya realita, merupakan peserta yang selalu mengisi jiwanya dengan bahan bakar, tak peduli sahabat-sahabat itu berhati tulus atau khianat. Baginya yang ada adalah persoalannya: kegemilangan Rakyat di hari depan. Hari depan Rakyatnya adalah hidupnya, adalah tubuhnya sendiri. Cacat hari depan Rakyat adalah juga cacat hidup dan tubuhnya, dirinya sendiri. Tak pernah dalam sejarah Indonesia selama itu ada seorang yang hidup dengan kekhawatiran tak habis-habisnya akan buruknya hari depan Rakyatnya. Hanya hati yang mencintai secara tulus dan kudus bisa terjadi semacam ini. Untuk boleh melaksanakan cita-citanya, setiap detik ia bersedia memberikan segala-galanya tanpa ragu. Dan ia memang telah berikan segala-galanya, tanpa sesuatu pun untuk diri sendiri.

Bagi Kartini, Cinta tidak pernah buta. Cinta baginya adalah memberi—memberikan segala-galanya—dan berhenti memberi apabila nafas berhenti menghembus.

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 286-287

Ini adalah bagian terakhir dari rangkaian tulisan tentang Kartini yang mengutip dari buku Panggil Aku Kartini Saja. Semoga berguna.

Tokoh: Kartini dan Jiwa Besar

Situasi hidup Kartini mengajarkan padanya cara berpikir yang mengenal batas-batasnya. Demikian pula dengan cara berpikir ini ia mengerti, bahwa dalam menempuh jarak pemikiran perjuangan ia pun—kalau terpaksa—membuat halte-halte kecil tempat berhenti mengasoh. Hanya rintangan-rintangan sangat besar mampu mengendalikan jiwa muda yang sedang menggelegak dalam “sturm und drang” ini, yakni kesulitan besar yang bertali-temali dengan segala. Dan kesulitan-kesulitan besar sajalah yang mengajarkan kepadanya untuk menyelamatkan diri sedapat mungkin menyelamatkan semua orang. Dari semua ini orang dapat mengerti, mengapa dalam usia sangat muda itu Kartini tidak pernah membuktikan pernah melakukan sesuatu yang dapat dikatakan gegabah. Masa “sturm und drang” ini dilwatinya dengan mantap.

Jiwa besar selamanya ditumbuhkan oleh rintangan dan kesulitan besar. Kalah dan terasing serta tersingkirkannya ringtangan dan kesulitan itu tidak lain daripada bukti apa yang hidup di dalam jiwa besar itu. Demikianlah dapat dikatakan, bahwa kebesaran jiwa Kartini ditumbuhkan oleh kesulitan dan rintangan besar pula.

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 279.

Tokoh: Kartini dan Tuhan

Paham Kartini tentang Tuhan lebih banyak bersifat realistik daripada metafisik. Karena Tuhan adalah Kebajikan, sudah pastilah bahwa makna yang diberikan Kartini padaNya mengandung faal yang positif, tanpa sesuatu kesamaran, jelas. Malah pada kesempatan lain ia perjelas lagi dengan keterangan yang lebih realistik:

Tuhan kami adalah nurani, neraka dan sorga kami adalah nurani kami. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami; dengan melakukan kebajikan, nurani kami pulalah yang memberi kurnia. (Surat, 15 Agustus 1902, kepada E.C. Abendanon)

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 269

Tokoh: Kartini dan Takdir

Pada masa Kartini merasa berada di dalam jurang penderitaan yang paling dalam, dari keyakinannya akan keterbatasan manusia, timbul anak-kepercayaan, bahwa pasti ada sesuatu penjelasan atau jalan keluar, entah dari mana datangnya—yang pasti datang—dan karena tiada diketahuinya sebelumnya dari mana datangnya, maka dinamainya ‘tenaga gaib’. Dan tenaga ini mengangkatnya ke atas dari dasar jurang, melalui salah satu peristiwa, keadaan, yang mungktin tak pernah disangka-sangka sebelumnya, tetapi yang mana ia menolaknya dinamai sebagai kebetulan. Dengan demikian sampailah kemudian Kartini pada teorinya tentang takdir.

Kebetulan!—tidak, bukan kebetulan, itulah takdir Tuhan. Allah, Bapa kami, yang mengirimkan kemari mereka ke sini, untuk mengisi jiwa-jiwa muda kami yang muda dan berjuang dengan tenaga dan ketabahan segar. Pertemuan itu merupakan titik balik di dalam hidup kami. Mulanya kami masih ragu-ragu, tapi setelah itu mantaplah tekad kami untuk mencapai cita-cita kami, apapun korban yang dipintanya.

Dahulu nampaknya begitu gaib; sekarang telah menjadi jelas, bening, sederhana.

Tuhan sajalah yang mengerti rahasia dunia; tanganNya mengendalikan alam semesta; Dialah, yang mempertemukan jalan-jalan yang berjauhan menjadi satu jalan baru.

Demikianlah ia telah arahkan jalan kawan-kawan itu kepada kami, agar kami menjadi lebih kuat oleh pertemuan-pertemuan itu, disatukan dengan jiwa-jiwa besar dan kuat, menjadi jalan baru yang dapat dilalui oleh mereka yang berada di belakang kami. Kami tidak mengenal sama sekali satu daripada yang lain, dan kami sama sekali tidak mengetahui tentang mereka. Maka tiba-tiba kami pun berhadap-hadapan, dan roh-roh yang tadinya asing itu, kemudian memancarkan simpati satu kepada yang lain. Beberapa jam hanya pertemuan kami itu; waktu kami berpisahan, tahulah kami, bahwa kami akan bersahabat.

Keajaiban itu telah dimulai, dan ia mengembangkan dirinya! Sebulan setelah pertemuan itu terjadisesuatu yang tiada pernah kami duga-duga sebelumnya, mengimpikannya pun tidak. Nyonya tahu bukan, bahwa keluar rumah bagi gadis-gadis Jawa bukanlah adat, bahwa mereka semestinya harus dikurung di balik tembok atau pagar bambu, sedemikian lamanya sampai datang seorang yang sama sekali tak dikenalnya, ‘seorang suami yang ditakdirkan Tuhan” itu dan datang menuntutnya dan menyeretnya ke rumahnya.

Begitu pendek kami baru mengenal kebebasan, atau bagaimana sajalah Nyonya menamainya.

Kejadian yang tak pernah terduga-duga itu ialah: kami berada di Batavia di tempat sahabat-sahabat baru.

“Rasanya aku harus jelajahi seluruh Jawa untuk dapat bertemu dengan kalian, aku harus temukan kalian. Dan kalau sudah aku temukan kalian, puaslah hatiku.”

Kami ditakdirkan untuk bertemu, pertemuan untuk mengemudiankan pengaruh besar atas hidup kita.

Sebelum kedatangan mereka kami telah melayang-layang dalam keraguan, maklumlah, waktu itu masih gelap-gulita di sekeliling kami. Tanpa sadar kami, mau atau tidak, mereka telah obori arah yang pasti ketika kami dalam keadaan melayang-layang. Ke sanalah kami harus pergi, menempuh jalan menuju Cita! (Surat, 21 Juli 1902, kepada Nyonya van Kol).

Panggil Aku Kartini Saja, Halaman 265-267