Tokoh: Ragnar Lothbrok?

Kita bisa belajar kepemimpinan, petualangan, dan mengelola konflik dari film seri Vikings. Sang tokoh utama, Ragnar Lothbrok menyajikan semua itu dalam satu paket yang komplit. Pemirsa hanya perlu mengupasnya sedikit demi sedikit.

Pemimpin adalah orang yang hadir manakala dibutuhkan. Ragnar sejatinya tidak berambisi untuk memimpin, namun kesempatan datang untuknya dan tanpa sungkan-sungkan diambillah kesempatan itu.

dc83384203935300fd45c551f01cc5fd

Perubahan Kepemimpinan

Sebagai seorang petani, Ragnar, muncul ke permukaan dengan mula-mula menjadi Earl. Earl Haraldson adalah yang pertama ditumbangkannya. Dia memiliki armada untuk melakukan perjalanan di laut, namun hanya ke arah timur Kategat, kampung Ragnar. “Kenapa kita tidak mencoba ke barat?” Tanya Ragnar suatu ketika. Earl Haraldson pun tidak setuju dengan ide dan petualangan baru itu. Namun, Ragnar tidak patah semangat, dibuatnya kapal sendiri dan dengan pengetahuan navigasi laut, dia pun memberanikan diri menuju ke barat. Singkat cerita, dirinya sampai ke biara di Lindisfarne, menguasai biara itu dan membawa barang rampasan serta tawanan. Sadar diri, sepulangnya dari petualangan pertama itu diserahkan semua harta rampasan kepada Earl Haraldson. Kendati sudah menunjukkan itikad baik, tetap saja Earl Haraldson tidak menyukai sepak terjang Ragnar dan menganggapnya sebagai ancaman. Diserbulah kampung Ragnar dan banyak korban yang jatuh, keluarga Ragnar pun harus mengungsi dan Ragnar sendiri mengalami luka terkena anak panah. Tidak terima dengan perlakuan itu, Ragnar menantang Earl Haraldson untuk duel dan dengan gemilang kemenangan pun digenggam. Ragnar menjadi seorang Earl.

Setelah menjadi Earl, kesempatan pun datang bagi Ragnar untuk menjadi Raja. Lagi-lagi ia tak mengharapkan kedudukan itu, namun berbagai kondisi menyebabkan dirinya harus memegang kekuasaan tersebut. Adalah King Horik dari Denmark yang ditumbangkannya. Mula-mula dia adalah seorang raja yang mendukung petualangan Ragnar ke barat. Namun, lambat laun hubungan mereka pun merenggang seiring dengan capaian-capaian dan nama besar yang diperoleh oleh Ragnar. Raja Horik merasa Ragnar menjadi saingannya, dan tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Diam-diam dia merencanakan sebuah aksi untuk menghukum dan membunuh Ragnar. Beruntung Floki, sahabat kepercayaan Ragnar bisa membuka rencana jahat itu dan justru membunuh Raja Horik. Dengan kematian Sang Raja, maka Ragnar pun naik jabatan dari Earl menjadi seorang Raja.

Petualangan Ragnar

tumblr_nk3edoXWaW1u3wveao1_1280

Ragnar memimpin kaumnya untuk melakukan petualangan ke barat, wilayah yang gelap bagi sebagian besar kaum Viking. Dia didukung oleh istrinya, Lagertha, saudaranya, Rollo, dan sahabat serta sang pembuat perahu, Floki, mewujudkan mimpinya untuk perjalanan ke barat. Selain sarana transportasi, yaitu kapal, Ragnar juga memiliki pengetahuan navigasi untuk mengarungi samudera luas. Pengetahuan inilah yang membuatnya berbeda dengan masyarakat Viking lain. Bisa dikatakan, pengetahuan navigasi itu adalah senjata rahasia Ragnar untuk melakukan petualangan ke barat.

Mula-mula Ragnar hanya membawa satu perahu penuh dengan pejuang Viking yang kebanyakan adalah teman-temannya untuk menjarah biara Lindisfarne di wilayah negara Northumbria. DI sini, dia berhasil mengumpulkan harta rampasan dan juga menawan beberapa pendeta. Dari seorang pendeta, Athlestan, berhasil dikorek keterangan mengenai kekayaan ibukota Northumbria yang jauh lebih banyak daripada harta yang dimiliki biara. Ragnar pun bersemangat untuk merebut ibukota Northumbria tersebut. Selang beberapa waktu, benar-benar dilakukan niatan Ragnar ke Northumbria, di sana King Aelle berhasil ditundukkan dan bersedia untuk memberikan harta kepada Ragnar asalkan rakyat dan ibukotanya tidak dirusak.

Berita keberhasilan petualangan Ragnar pun mulai menyebar ke seantero Bangsa Viking. Beberapa Earl dan King Horik pun terpincut hatinya untuk ikut berpetualang. Kini, Ragnar memimpin armada yang jauh lebih besar ke barat. Sasaran pun berpindah bukan lagi ke Kerajaan Northumbria, tetapi ke Wessex. King Ecbert, raja Wessex, rupanya jauh lebih pintar dari King Aelle raja Northumbria. Diajaklah Ragnar untuk berunding dan mencapai kesepakatan untuk mendukung Wessex merebut kerajaan tetangga Mercia. Sebagai gantinya, Ragnar mendapatkan lahan dan juga harta. Perjanjian kerja sama itu rupanya sudah diatur oleh King Ecbert sedemikian rupa agar keuntungan sebesar-besarnya untuk Wessex. Di sini, Ragnar menerima beberapa kerugian.

Ragnar bukan orang yang mudah terpuaskan rasa penasarannya, lagi-lagi dari Athlestan dia mendengar kabar mengenai Paris di Kerajaan West Francia. Dia tahu, bahwa Paris sangat sulit untuk ditaklukkan karena memiliki tembok pelindung di sekeliling kota. Kendati demikian, bukan Ragnar kalau tidak mencoba menaklukkannya. Armada kapal dan pejuang yang sangat besar pun dibawa serta untuk menyerbu Paris. Sangat sulit untuk menaklukkan kota itu dan ada hambatan lain, yaitu penyakit Ragnar yang melemahkannya. Apakah Ragnar berhasil dalam usahanya itu?

Dilema Ragnar

Sebagai seorang pemimpin, Ragnar mengalami berbagai konflik dengan para raja, kaumnya, dan yang paling menyedihkan adalah dengan beberapa orang terdekatnya. Pertama-tama adalah adiknya sendiri, Rollo, yang merasa hidup di bawah bayang-bayang Ragnar dan ingin mengubah peruntungan nasib. Guna mencapai misinya, Rollo pun berkhianat pada Ragnar dengan bergabung ke Jarl Brog, musuh dari Ragnar. Saat keduanya sudah saling berhadapan di satu pertempuran, Ragnar memberikan kesempatan kepada Rollo untuk menusukkan pedangnya. Namun, yang terjadi adalah Rollo justru bertekuk lutut di bawah kaki Ragnar. Dia tidak bisa membunuh kakak dan sekaligus patronnya itu. Rollo mengaku kepada Ragnar, “Aku seperti kehilangan matahari saat jauh darimu.” Dengan pengakuan tersebut, kendati pada awalnya sulit, namun Rollo kembali bergabung dan mendukung semua tindakan Ragnar. Dia adalah adik, sahabat pendukung, dan pelindung Ragnar.

life-of-a-fangirl-ships-364374

Ragnar juga berselisih paham dengan istrinya Lagertha. Semua itu terjadi karena Putri Aslaug yang pesonanya memikat hati Ragnar di satu petualangan. Keduanya terlibat hubungan asmara yang berujung dengan kehamilan Putri Aslaug. Mula-mula Ragnar tidak tahu perihal kehamilan itu, namun kemudian Sang Putri datang ke Kategat dengan perutnya yang sudah besar. Ragnar meminta istrinya Lagertha untuk menerima Putri Aslaug dan keduanya menjadi pendampingnya. Lagertha pun menolak mentah-mentah ide itu dan memilih untuk pergi. Kelak, keduanya akan kembali bertemu dengan kondisi yang jauh berbeda.

Masalah ketuhanan menjadi sumber perselisihan antara Ragnar dengan sahabatnya Floki. Ragnar bukan hanya bertualang ke tempat-tempat baru, namun rasa penasarannya pun menuntun dirinya ke Tuhan baru, Tuhan orang Kristen yang dibawa oleh tawanannya Athlestan. Perubahan ini dianggap sebagai penghinaan kepada Tuhan bangsa Viking, yaitu Loki, sosok yang begitu dipuja oleh Floki. Berbagai kegagalan, kekalahan, dan korban yang terjadi menurut Floki adalah buah dari perubahan kepercayaan yang terjadi pada diri Ragnar. Floki pun menudingkan jarinya kepada Athlestan sebagai sosok yang menyebabkan Ragnar berubah. Namun, Ragnar, bergeming dan tetap tertarik kepada Yesus, Tuhan dari Athlestan. Terlepas dari peran masing-masing, baik itu Floki maupun Athlestan, Ragnar menganggap keduanya sebagai sahabat dan saat salah seorang dari mereka meninggal, Ragnar pun terpuruk.

Tokoh: Pelajaran dari Kematian Kurt Cobain

ss-140404-Kurt-Cobain-tease.blocks_desktop_medium

Sarah Cooper di Medium mengatakan penyebab kematian Kurt disebabkan karena cinta.

Kita sering mendengar, membaca, atau melihat cerita tentang wanita yang dibutakan oleh cinta sehingga mereka melakukan hal-hal gila untuk mendapatkannya. Mereka bahkan melakukan hal yang lebih gila lagi bila cinta tak didapatkan. Rupanya semua hal itu terjadi juga pada pria, dan barangkali itulah yang menimpa Kurt.

Dia hanya punya seorang pacar sebelum menikahi Courtney. Sosok yang dicinta sekaligus suportif, namun mungkin kurang menarik untuk Kurt dan untuk kehidupan yang akan menantinya.

Setelah itu, barulah dia bertemu dengan Courtney, sosok yang disebut oleh Kurt, ‘penuh dengan ambisi’. Kemudian, memang terbukti begitu adanya. Dia menemui Kurt, kemudian Kurt pun jatuh cinta, namun…. sebenarnya itu bukan cinta.

Satu waktu, ketika Kurt meninggalkan pusat rehabilitasi, dia tidak ke tempat Courtney yang hanya berjarak 10 menit. Dia justru pergi ke Seattle sendirian dan empat hari kemudian bunuh diri.

Menurut Sarah Cooper, “Saya kira, Kurt patah hati.”

Kurt menyadari sepenuhnya, dia memiliki segalanya, namun tak ada satu pun yang diinginkannya. Dia tak ingin menjadi bintang yang selama ini dikejar-kejar, dia tak ingin bercerai, dia tak ingin jadi ayah yang buruk, mungkin dia tak ingin kecanduan heroin.

Dan… dia terlalu muda untuk tahu, bahwa kadang-kadang semua itu bisa terjadi. Musik dan sebagai artis akan berjalan baik, anak gadisnya akan baik-baik saja, dan dia akan kembali menemukan cinta. Sayang, dia tak punya satu orang pun yang bisa diajak bicara, karena semua orang di sekitarnya tak peduli.

Namun, memang sangat sulit untuk menyalahkan seseorang atas kematiannya. Kombinasi dari usia muda, obat-obatan dan terkenal membuat dirinya buta dan juga orang-orang di sekitarnya.

“Hidup mengajarkan kepada kita bagaimana menjalaninya, hanya jika usia kita cukup panjang untuk mengetahuinya.” Tony Bennet.

Tokoh: Vandana Shiva

Dr. Vandana Shiva

Semua berawal dari sebuah kelas yang saya ikuti beberapa bulan lalu. Salah satu kegiatan dalam kelas tersebut adalah menonton video di youtube. Sungguh menyenangkan, bukan?

Kebetulan, guru saya adalah seorang anarchyst sekaligus pecinta lingkungan. Beliau memiliki tokoh idola, yaitu Dr. Vandana Shiva. Siapa beliau ini, Anda dapat membaca profilnya di sini.

Dalam salah satu pidatonya, beliau menjelaskan tentang pentingnya benih. Betapa benih sudah dikuasai oleh perusahaan raksasa yang kemudian memonopoli jual belinya. Petani di sisi lain menjadi obyek penderita karena tidak diperbolehkan menyimpan benih. Mereka harus membeli benih dari perusahaan tersebut.

Dunia yang menghadapi persoalan maha besar, yairu lonjakan populasi tentu pada akhirnya membutuhkan banyak bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan makan warga dunia.

Sejatinya, tak ada yang keliru dengan modifikasi genetika untuk menciptakan benih unggul. Sebagai contoh pada varietas padi. Namun, penggunaannya bukan absen dari persoalan.

Penggunaan bibit unggul tanpa didukung produk lain seperti pupuk buatan tak pernah memberikan hasil yang maksimal. Semenfara itu, pupuk biatan seperti pestisida sangat berbahaya dan merusak lingkungan. Limbahnya mencemari sungai, merusak kesuburan tanah, dan memberikan pengaruh buruk lainnya.

Dr. Shiva berjuang untuk melawan dominasi dan monopoli dari para raksasa tersebut. Dengan gerakan yang diberi nama Navdanya (9 biji) ia mulai mengumpulkan benih dari para petani lokal. Disimpannya benih tersebut di dalam bank benih di ashram-nya untuk kemudian ditanam oleh para petani.

Awal Gerakan
Sekitar medio 1980-an terjadi bunuh diri besar-besaran di India. Para petani yang tak mampu membayar hutang memilih untuk mengakhiri hidupnya.

Sebelum itu terjadi, kekeringan besar melanda India. Benih yang biasa ditanam oleh para petani tak mampu tumbuh di lahan yang kurang air. Mereka pun kemudian tertarik untuk menanam benih dari perusahaan yang tahan hidup hanya dengan sedikit air. Tentu saja benih itu harus dilengkapi dengan berbagai pupuk dan bahan lain yang juga disediakan oleh perusahaan itu. Petani memperoleh semua itu dengan jalan hutang, di akhir periode tersebut banyak petani yang terlilit hutang dan kebanyakan tak sanggup membayar.

Dampak lanjutan dari penggunaan benih dan pupuk dari perusahaan besar adalah kerusakan lahan pertanian yang kemudian menjadi bergantung pada berbagai obat-obatan kimia. Sistem monokultur memang memberikan hasil produk yang tinggi, namun hilangnya kesuburan tanah juga menjadi ancaman yang sangat mengerikan.

Ide Gerakan
Bersama dengan para petani dikumpulkan bibit-bibit tanaman yang ada. Disimpannya benih tersebut sembari ditanam secara organik.

Dr. Shiva percaya, sebidang lahan yang ditanam berbagai macam tanaman akan memberikan keuntungan yang jauh lebih banyak daripada hanya satu jenis tanaman.

Sebagai ilustrasi hal tersebut, sekian kwintal padi dari satu hektar tanaman berbanding dengan beberapa kilo padi dan aneka rupa hasil tanaman dari lahan dengan luas yang sama. Tentu saja kondisi ini sangat menguntungkan baik itu bagi petani maupun bagi tanah. Aneka rupa tanaman yang ditanam pada sebidang lahan akan menjaga kesuburan tanah itu sendiri.

Pertumbuhan Ekonomi
Selain isu mengenai benih, Dr. Shiva juga menyoroti pertumbuhan semu ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang biasanya diukur dari hasil produksi tanpa memerhatikan kerusakan yang ditimbulkannya. Sebagai contoh adalah dari komoditi pertanian yang hanya memperhitungkan hasil dan melupakan kerusakan tanah, sumber mata air, atau dampaknya pada ekosistem. Semua hal itu tak pernah dihitung saat mendefinisikan pertumbuhan ekonomi.

Selain dari produk pertanian, pertumbuhan ekonomi juga menghitung hasil tambang, utamanya bahan bakar fosil. Pertumbuhan ekonomi dari sumber daya alam tak dapat diperbarui akan menunjukkan pola parabola terbalik. Satu ketika akan mencapai puncak dan apabila sumber daya alam tersebut habis, maka akan menunjukkan kurva yang menurun, bahkan satu saat nanti akan habis.

Dunia pada masa yang akan datang tidak memerlukan minyak dan gas dan batu bara murah. Dunia lebih membutuhkan kincir angin, panel-panel surya, turbin pembangkit listrik dengan tenaga air atau gelombang yang kendati mahal untuk pengadaannya, namun berlimpah ketersediaannya.

Tanah yang Suci
Dr. Shiva menganggap semua hal berhubungan. Seperti halnya film Avatar, dari warga pribumi, pohon, burung, binatang lain saling berhubungan. Tak bisa satu makhluk hidup sendiri tanpa berhubungan dengan makhluk lain.

Di atas semua itu, tanah menjadi penghubungnya. Sebuah entitas yang suci karena dari sanalah awal rantai makanan tersusun.

Manakala pohon tumbuh, binatang memakannya, kemudian manusia menikmati keduanya, semua berawal dari tanah.

“Tanah adalah sumber kehidupan.” Kata Dr. Shiva.

Oleh sebab itu, maka memperlakukan tanah dengan baik menjadi satu keharusan. Mengubah tanah menjadi lahan permukiman atau pertanian yang dilakukan secara sembrono adalah mengundang hadirnya bencana.

Beberapa akibat dari pengelolaan tanah yang sembrono di antaranya adalah kelangkaan pangan karena tanah rusak. Selain itu juga intensitas banjir dan tanah longsor yang terjadi karena tanah berubah fungsi dari daerah resapan menjadi tempat tinggal atau hunian.

Para Musuh
Dalam melakukan gerakannya, Dr. Shiva tak lepas dari onak dan duri yang menghadang. Sebut saja, dan tentunya mereka itu adalah para industrialis penganjur GMO, perusahaan tambang, pemilik modal, juga ilmuwan yang menolak isu-isu yang diangkat oleh Dr. Shiva.

Semakin banyak yang menantang gerakan yang diusung oleh beliau, semakin banyak pula yang ambil bagian mendukungnya.

Mengingat gerakan Dr. Shiva menyangkut hajat hidup orang banyak dan terutama keberlangsungan kehidupan dari tumbuhan, hewan, hingga manusia, maka sudah sepantasnya apabila blog semenjana ini pun turut serta menyebarluaskan pemikiran beliau.

Tokoh: Dr. Vandana Shiva

Someday….
Who will plant paddy?
When you have grown….
Will it green in this soil?

Those sentences loosely translate from the second song performed by ‘Akar Bambu’ in the lecture by Dr. Vandana Shiva at Universitas Indonesia on Monday (18/08). The Akar Bambu trio on this occasion sang three songs; about sharing, the last farmer, and the last seed. The lead vocalist of the group asked the audience during the break between the songs, ‘What if there was only one last seed left in the world?’

This lecture was titled ‘Our seeds, our future: strengthening Indonesia food sovereignty’. To open her talk, Dr. Shiva mentioned the link between seed freedom and our freedom. Then she followed with a brief history of seeds, and discussed how seeds as a resource have caused conflict and even violence in agriculture.

Violence in agriculture means that its tools and technology came from the war industry. In this case, fertiliser, pesticides, and other chemical materials for plants are the same chemicals have been used in bomb production.

Moreover, Dr. Shiva revealed the hidden agenda behind the seed industry. The industry has designed dependency for farmers through its monopoly on seed distribution. It promotes ‘super seeds’ and endorse a monoculture system that reduces biodiversity. At the same time, this industry also generates alarm for farmers by seed scarcity.

In addition, Dr. Shiva also blamed governments and world organisations that play a significant role through theirs laws concerning seed issues. She listed the various actions of such organisations which, for example, arrest farmers who gather and save their own seeds.

In the last part of her presentation, Dr. Shiva spoke mostly about biodiversity. She said that biodiversity was the answer of food sufficiency and to adapt towards climate change.

She also suggested that human beings should keep seeds on the hand in order to fulfill the food demands of the population. Keeping seeds in your hand, is the most significant key for peace on earth.

Related links:

Dr. Vandana Shiva profile

Navdanya Movement

===
Versi Bahasa Indonesia

Suatu hari nanti….
Siapa yang akan menanam padi?
Manakala kamu telah dewasa….
Akankah tanah ini tetap hijau?

Bait tersebut dipinjam dari lagu kedua yang dinyanyikan oleh ‘Akar Bambu’ dalam kuliah umum oleh Dr. Vandana Shiva di Universitas Indonesia pada Senin (18/08). Trio Akar Bambu pada kesempatan tersebut menyanyikan tiga buah lagu yang bercerita tentang saling berbagi, petani terakhir dan benih terakhir. Vokalis Trio Bambu pada jeda antar lagu menanyakan kepada peserta seminar, “Bagaimana jika hanya tersisa satu benih terakhir di dunia ini?”

Kuliah umum ini berjudul ‘Benih kita, Masa Depan Kita: memperkuat kedaulatan pangan Indonesia.’ Dalam pembukaannya, Dr. Shiva menyampaikan, bahwa ada hubungan antara kemerdekaan benih dan kemerdekaan kita. Kemudian beliau melanjutkan dengan sejarah singkat benih, bagaimana benih sebagai satu sumber daya memicu konlik dan bahkan tindakan kekerasan dalam bidang pertanian.

Kekerasan dalam bidang pertanian berarti, pertanian yang peralatan dan teknologi yang digunakan berasal dari industri untuk peperangan. Dalam hal ini, pupuk, pestisida dan berbagai produk kimia lain untuk tanaman berasal dari material yang sama dengan material yang digunakan pada saat perang, seperti halnya produksi bom.

Lebih lanjut, Dr. Shiva mengungkapkan agenda tersembunyi di belakang industri benih. Sebuah bidang industri yang didesain untuk menciptakan ketergantungan para petani melalui strategi monopoli keanekaragaman benih. Industri ini mempromosikan benih super dan sistem monokultur yang menghapus keanekaragaman. Pada saat yang sama, industri benih juga menciptakan kekhawatiran para petani dengan melontarkan isu mengenai kelangkaan benih.

Sebagai informasi tambahan, Dr. Shiva juga menyalahkan pemerintah dan organisasi dunia yang memainkan peran melalui hukum dan aktivitas mereka terkait dengan isu benih. Beliau membuat satu daftar pelanggaran terhadap aturan yang dibuat oleh pemerintah atau organisasi lain yang menahan seorang petani karena tengah mengumpulkan dan menjaga benih mereka sendiri.

Pada bagian akhir paparannya, Dr. Shiva lebih berfokus pada keanekaragaman. Beliau percaya bahwa keanekaragaman adalah satu-satunya cara untuk mencukupi kebutuhan pangan dunia dan beradaptasi dengan perubahan iklim.

Dr. Shiva juga menyarankan, bahwa seseorang harus menyimpan benih dalam rangka untuk untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk dunia. Benih yang tersimpan ini adalah kunci dalam usaha menciptakan perdamaian dunia.

Tokoh: Ajaran Buddha

sidhharta_gautamaKebenaran Mulia

  • Kebenaran Mulia Pertama: Kehidupan mengandung penderitaan
  • Kebenaran Mulia Kedua: Penderitaan memiliki sebab, dan sebabnya dapat diketahui
  • Kebenaran Mulia Ketiga: Penderitaan dapat diakhiri
  • Kebenaran Mulia Keempat: Jalan untuk mengakhiri penderitaan memiliki delapan ruas

-oOo-

Delapan Ruas Jalan Utama

  • Pandangan Benar
  • Pikiran Benar
  • Perkataan Benar
  • Perbuatan Benar
  • Mata Pencaharian Benar
  • Daya Upaya Benar
  • Kesadaran Benar
  • Meditasi Benar

-oOo-

Tiga Fakta Mendasar Tentang Keberadaan

  1. DUKHA, kehidupan tidak memberikan kepuasan. Kenikmatan dalam duania materi bersifat sementara. Kesengsaraan akan muncul tanpa bisa ditolak. Karena itu, tak satu pun pengalaman kita dapat memberikan kepuasan mendalam. Perubahan takkan pernah berhenti.
  2. ANICCA, segalanya tidak kekal. Semua pengalaman terus berganti dan berubah. Sebab dan akibat bergerak tanpa henti dan membingungkan. Karena itu seseorang takkan pernah mendapatkan kepastian dan kekekalan.
  3. ANATTA, diri yang tanpa aku yang kekal tak dapat diandalkan dan sepenuhnya tidak nyata. Apa yang kita sebut jiwa dan kepribadian hanyalah khayalan dan bayangan. Kita tak pernah berhenti berusaha untuk membuat diri kita nyata, tapi kita juga tak pernah berhasil. Karena itu kita berpegang pada kepercayaan terhadap ilusi.

-oOo-

Ditera ulang dari ‘Buddha’ karya Deepak Chopra

Tokoh: Kartini dan Egoisme

Dari surat-surat Kartini yang banyak itu, tampaklah pelaksanaan egoisme yang dikenalnya itu, baik secara terang-terangan maupun dengan bahasa bermakna-ganda: feodalisme, penjajahan, ketidakmajuan. Egoisme ini mewujudkan diri atau diwujudkan dalam bentuk keserakahan, dan keserakahan pada gilirannya memanggil kezaliman, ketidakadilan, kepalsuan. Ia sendiri banyak menderitakan perbuatan-perbuatan egois itu dengan tubuh dan jiwanya. Ia rasakan penderitaan itu. Ia rasakan. Dan dengan bantuan kecerdasannya, ia mengerti bahwa orang-orang lain pun menderita persis dengan yang dideritanya. Ia menjadi iba hati terhadap semua orang itu yang tidak bisa membela diri, yang dalam keputusaasaannya menamai nasibnya sebagai ketentuan Takdir. Kesadaran akan persatuan di dalam penderitaan ini menyebabkan ia mencitai semua mereka itu: Rakyatnya. Kaum feodal menderita akan penjajah. Rakyat jelata menderita karena kaum feodal. Anak-anak menderita karena orangtua yang tidak berpendidikan. Wanita menderita karena ajaran palsu tentang kebenaran. Dan demikian seterusnya.

Sumber dari segala macam penderitaan ini adalah egoisme.

Ia tahu, tidak ada perubahan bakal terjadi kalau tiada seorang pun yang tampil ke depan dan mempelopori. Dunia pun tampil ke depan. Ia bangkit melawan. Dan semakin banyak penderitaan diterimanya, karena penderitaan yang sudah ada itu ditambah dengan yang baru, yang berasal dari kecurigaan cemburu dan dengki mereka yang justru diperjuangkannya. Di samping itu, kelas feodal sendiri menentangnya, karena usaha dan perjuangannya akan secara langsung berupa tantangan terhadap kelasnya, paling sedikit mengganggu kedamaian posisinya.

Dalam masa waktu zaman membutuhkan perubahan, sejarah justru memilih sorang wanita, seorang gadis muda. Sedang semestinya seorang tingkat sarjana berpengalaman yang harus menggarap pekerjaan raksasa ini. Dan seorang wanita itu tidak lain daripada Kartini—gadis yang hampir tidak pernah meninggalkan rumah—berumur dua puluhan, tidak berpengalaman dalam pekerjaan kemasyarakatan, berpendidikan hanya sekolah rendah saja. Dari dunianya yang kecil—kabupaten—ia melancarkan perjuangannya, dengan panji-panji cinta. Dan dengan perjuangannya ini ia memanggil seluruh dunia jadi musuhnya—suatu hal yang menyebabkan dunianya menjadi semakin kecil, sebaliknya semakin membuat besar jiwanya, dan: intensif.

Ia menerima cinta hanya dari orangtuanya, Ayahnya. Dan dengan ini ia cintai Rakyatnya, tanahairnya, sesamanya. Cinta sedemikian dari Ayahnya, tentulah Cinta yang agung menjiwai. Dan dengan Cinta yang diterimanya itu, Kartini sebenarnya lebih daripada hanya seorang yatim-piatu zaman modern, ia dapat dibandingkan dengan Robinson Crusoe, yang bukan saja harus tolong dan selamatkan dirinya sendiri, tapi juga generasi-generasi mendatang dan hari depannya, sedang sahabat satu-satunya yang tersetia sampau mati hanya seorang cita-citanya. Hidupnya yang terkucil, terpencil, hampir-hampir tanpa persinggungan dengan dunia luar kabupaten, semestinya membuat ia tidak mengenal realita. Maka surat-surat  yang datang dari negeri-negeri dan kota-kota jauh ke kamar kerjanya, dalam situasi hidupnya yang tidak mengenal realita, nilainya lebih daripada hanya realita, merupakan peserta yang selalu mengisi jiwanya dengan bahan bakar, tak peduli sahabat-sahabat itu berhati tulus atau khianat. Baginya yang ada adalah persoalannya: kegemilangan Rakyat di hari depan. Hari depan Rakyatnya adalah hidupnya, adalah tubuhnya sendiri. Cacat hari depan Rakyat adalah juga cacat hidup dan tubuhnya, dirinya sendiri. Tak pernah dalam sejarah Indonesia selama itu ada seorang yang hidup dengan kekhawatiran tak habis-habisnya akan buruknya hari depan Rakyatnya. Hanya hati yang mencintai secara tulus dan kudus bisa terjadi semacam ini. Untuk boleh melaksanakan cita-citanya, setiap detik ia bersedia memberikan segala-galanya tanpa ragu. Dan ia memang telah berikan segala-galanya, tanpa sesuatu pun untuk diri sendiri.

Bagi Kartini, Cinta tidak pernah buta. Cinta baginya adalah memberi—memberikan segala-galanya—dan berhenti memberi apabila nafas berhenti menghembus.

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 286-287

Ini adalah bagian terakhir dari rangkaian tulisan tentang Kartini yang mengutip dari buku Panggil Aku Kartini Saja. Semoga berguna.

Tokoh: Kartini dan Jiwa Besar

Situasi hidup Kartini mengajarkan padanya cara berpikir yang mengenal batas-batasnya. Demikian pula dengan cara berpikir ini ia mengerti, bahwa dalam menempuh jarak pemikiran perjuangan ia pun—kalau terpaksa—membuat halte-halte kecil tempat berhenti mengasoh. Hanya rintangan-rintangan sangat besar mampu mengendalikan jiwa muda yang sedang menggelegak dalam “sturm und drang” ini, yakni kesulitan besar yang bertali-temali dengan segala. Dan kesulitan-kesulitan besar sajalah yang mengajarkan kepadanya untuk menyelamatkan diri sedapat mungkin menyelamatkan semua orang. Dari semua ini orang dapat mengerti, mengapa dalam usia sangat muda itu Kartini tidak pernah membuktikan pernah melakukan sesuatu yang dapat dikatakan gegabah. Masa “sturm und drang” ini dilwatinya dengan mantap.

Jiwa besar selamanya ditumbuhkan oleh rintangan dan kesulitan besar. Kalah dan terasing serta tersingkirkannya ringtangan dan kesulitan itu tidak lain daripada bukti apa yang hidup di dalam jiwa besar itu. Demikianlah dapat dikatakan, bahwa kebesaran jiwa Kartini ditumbuhkan oleh kesulitan dan rintangan besar pula.

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 279.

Tokoh: Kartini dan Tuhan

Paham Kartini tentang Tuhan lebih banyak bersifat realistik daripada metafisik. Karena Tuhan adalah Kebajikan, sudah pastilah bahwa makna yang diberikan Kartini padaNya mengandung faal yang positif, tanpa sesuatu kesamaran, jelas. Malah pada kesempatan lain ia perjelas lagi dengan keterangan yang lebih realistik:

Tuhan kami adalah nurani, neraka dan sorga kami adalah nurani kami. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami; dengan melakukan kebajikan, nurani kami pulalah yang memberi kurnia. (Surat, 15 Agustus 1902, kepada E.C. Abendanon)

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 269

Tokoh: Kartini dan Takdir

Pada masa Kartini merasa berada di dalam jurang penderitaan yang paling dalam, dari keyakinannya akan keterbatasan manusia, timbul anak-kepercayaan, bahwa pasti ada sesuatu penjelasan atau jalan keluar, entah dari mana datangnya—yang pasti datang—dan karena tiada diketahuinya sebelumnya dari mana datangnya, maka dinamainya ‘tenaga gaib’. Dan tenaga ini mengangkatnya ke atas dari dasar jurang, melalui salah satu peristiwa, keadaan, yang mungktin tak pernah disangka-sangka sebelumnya, tetapi yang mana ia menolaknya dinamai sebagai kebetulan. Dengan demikian sampailah kemudian Kartini pada teorinya tentang takdir.

Kebetulan!—tidak, bukan kebetulan, itulah takdir Tuhan. Allah, Bapa kami, yang mengirimkan kemari mereka ke sini, untuk mengisi jiwa-jiwa muda kami yang muda dan berjuang dengan tenaga dan ketabahan segar. Pertemuan itu merupakan titik balik di dalam hidup kami. Mulanya kami masih ragu-ragu, tapi setelah itu mantaplah tekad kami untuk mencapai cita-cita kami, apapun korban yang dipintanya.

Dahulu nampaknya begitu gaib; sekarang telah menjadi jelas, bening, sederhana.

Tuhan sajalah yang mengerti rahasia dunia; tanganNya mengendalikan alam semesta; Dialah, yang mempertemukan jalan-jalan yang berjauhan menjadi satu jalan baru.

Demikianlah ia telah arahkan jalan kawan-kawan itu kepada kami, agar kami menjadi lebih kuat oleh pertemuan-pertemuan itu, disatukan dengan jiwa-jiwa besar dan kuat, menjadi jalan baru yang dapat dilalui oleh mereka yang berada di belakang kami. Kami tidak mengenal sama sekali satu daripada yang lain, dan kami sama sekali tidak mengetahui tentang mereka. Maka tiba-tiba kami pun berhadap-hadapan, dan roh-roh yang tadinya asing itu, kemudian memancarkan simpati satu kepada yang lain. Beberapa jam hanya pertemuan kami itu; waktu kami berpisahan, tahulah kami, bahwa kami akan bersahabat.

Keajaiban itu telah dimulai, dan ia mengembangkan dirinya! Sebulan setelah pertemuan itu terjadisesuatu yang tiada pernah kami duga-duga sebelumnya, mengimpikannya pun tidak. Nyonya tahu bukan, bahwa keluar rumah bagi gadis-gadis Jawa bukanlah adat, bahwa mereka semestinya harus dikurung di balik tembok atau pagar bambu, sedemikian lamanya sampai datang seorang yang sama sekali tak dikenalnya, ‘seorang suami yang ditakdirkan Tuhan” itu dan datang menuntutnya dan menyeretnya ke rumahnya.

Begitu pendek kami baru mengenal kebebasan, atau bagaimana sajalah Nyonya menamainya.

Kejadian yang tak pernah terduga-duga itu ialah: kami berada di Batavia di tempat sahabat-sahabat baru.

“Rasanya aku harus jelajahi seluruh Jawa untuk dapat bertemu dengan kalian, aku harus temukan kalian. Dan kalau sudah aku temukan kalian, puaslah hatiku.”

Kami ditakdirkan untuk bertemu, pertemuan untuk mengemudiankan pengaruh besar atas hidup kita.

Sebelum kedatangan mereka kami telah melayang-layang dalam keraguan, maklumlah, waktu itu masih gelap-gulita di sekeliling kami. Tanpa sadar kami, mau atau tidak, mereka telah obori arah yang pasti ketika kami dalam keadaan melayang-layang. Ke sanalah kami harus pergi, menempuh jalan menuju Cita! (Surat, 21 Juli 1902, kepada Nyonya van Kol).

Panggil Aku Kartini Saja, Halaman 265-267

Tokoh: Kartini dan Gelarnya

Pada suatu kali, Kartini ikut menghadiri “sembahyang istisqo” yang dilakukan oleh rakyat jelata, dan kemudian hujan pun turun. Menanggapi hal ini, Kartini pun menulis:

Rakyat-bocah kami yang naif itu menarik kesimpulan, kamilah yang telah memperkuat doa permohonan mereka itu dengan kekuatan kami, yang menyebabkan doa itu segera makbul. (Surat, 1 Februari 1903, kepada Mr. J.H. Abendanon).

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 258

Hal yang demikian itu dinamakan sentralisme magis. Suatu persoalan yang ditolak oleh Kartini sebagai bentuk feodalisme pribumi. Lebih jauh, penolakan ini dimanifestasikan Kartini dalam sebuah suratnya, di sana ia menulis:

Panggil aku Kartini saja—itulah namaku. (Surat, 25 Mei 1899, kepada Estelle Zeehandelaar).

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 258

Kartini yang menginginkan panggilan tanpa gelar, tanpa panggilan kebesaran adalah keluarbiasaan di kalangan feodal pada waktu itu. Hal ini bukan saja karena gelar-gelar itu justru merupakan ciri-ciri kedudukan seorang feodal dalam hierarki feodalisme, tata hidup, suasana dan organisasi sosial pada waktu itu, tetapi juga ciri-ciri kemartabatan dalam sistem sentralisme magis yang dianggap punya hubungan langsung dengan alam atas.