Satu Mimpi

Novel Winter Warriors karya David Gemmel sejatinya bercerita tentang kepahlawanan. Namun, di sela jalan cerita, ada satu hal yang paling saya ingat adalah pembicaraan tentang mimpi.

Adalah Kebra, sang pemanah jagoan tapi sudah sepuh dan Conalin seorang bocah yatim piatu yang kepincut berat kepada Kebra.

Keduanya memiliki kondisi yang Continue reading “Satu Mimpi”

Apa penyebab kematian Kurt Cobain?

ss-140404-Kurt-Cobain-tease.blocks_desktop_medium

Sarah Cooper di Medium mengatakan penyebab kematian Kurt disebabkan karena cinta.

Kita sering mendengar, membaca, atau melihat cerita tentang wanita yang dibutakan oleh cinta sehingga mereka melakukan hal-hal gila untuk mendapatkannya. Mereka bahkan melakukan hal yang lebih gila lagi bila cinta tak didapatkan. Rupanya semua hal itu terjadi juga pada pria, dan barangkali itulah yang menimpa Kurt.

Dia hanya punya seorang pacar sebelum menikahi Courtney. Sosok yang dicinta sekaligus suportif, namun mungkin kurang menarik untuk Kurt dan untuk kehidupan yang akan menantinya.

Setelah itu, barulah dia bertemu dengan Courtney, sosok yang disebut oleh Kurt, ‘penuh dengan ambisi’. Kemudian, memang terbukti begitu adanya. Dia menemui Kurt, kemudian Kurt pun jatuh cinta, namun…. sebenarnya itu bukan cinta.

Satu waktu, ketika Kurt meninggalkan pusat rehabilitasi, dia tidak ke tempat Courtney yang hanya berjarak 10 menit. Dia justru pergi ke Seattle sendirian dan empat hari kemudian bunuh diri.

Menurut Sarah Cooper, “Saya kira, Kurt patah hati.”

Kurt menyadari sepenuhnya, dia memiliki segalanya, namun tak ada satu pun yang diinginkannya. Dia tak ingin menjadi bintang yang selama ini dikejar-kejar, dia tak ingin bercerai, dia tak ingin jadi ayah yang buruk, mungkin dia tak ingin kecanduan heroin.

Dan… dia terlalu muda untuk tahu, bahwa kadang-kadang semua itu bisa terjadi. Musik dan sebagai artis akan berjalan baik, anak gadisnya akan baik-baik saja, dan dia akan kembali menemukan cinta. Sayang, dia tak punya satu orang pun yang bisa diajak bicara, karena semua orang di sekitarnya tak peduli.

Namun, memang sangat sulit untuk menyalahkan seseorang atas kematiannya. Kombinasi dari usia muda, obat-obatan dan terkenal membuat dirinya buta dan juga orang-orang di sekitarnya.

“Hidup mengajarkan kepada kita bagaimana menjalaninya, hanya jika usia kita cukup panjang untuk mengetahuinya.” Tony Bennet.

Mengenal Tokoh: Vandana Shiva

Dr. Vandana Shiva

Semua berawal dari sebuah kelas yang saya ikuti beberapa bulan lalu. Salah satu kegiatan dalam kelas tersebut adalah menonton video di youtube. Sungguh menyenangkan, bukan?

Kebetulan, guru saya adalah seorang anarchyst sekaligus pecinta lingkungan. Beliau memiliki tokoh idola, yaitu Dr. Vandana Shiva. Siapa beliau ini, Anda dapat membaca profilnya di sini.

Dalam salah satu pidatonya, beliau menjelaskan tentang pentingnya benih. Betapa benih sudah dikuasai oleh perusahaan raksasa yang kemudian memonopoli jual belinya. Petani di sisi lain menjadi obyek penderita karena tidak diperbolehkan menyimpan benih. Mereka harus membeli benih dari perusahaan tersebut.

Dunia yang menghadapi persoalan maha besar, yairu lonjakan populasi tentu pada akhirnya membutuhkan banyak bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan makan warga dunia.

Sejatinya, tak ada yang keliru dengan modifikasi genetika untuk menciptakan benih unggul. Sebagai contoh pada varietas padi. Namun, penggunaannya bukan absen dari persoalan.

Penggunaan bibit unggul tanpa didukung produk lain seperti pupuk buatan tak pernah memberikan hasil yang maksimal. Semenfara itu, pupuk biatan seperti pestisida sangat berbahaya dan merusak lingkungan. Limbahnya mencemari sungai, merusak kesuburan tanah, dan memberikan pengaruh buruk lainnya.

Dr. Shiva berjuang untuk melawan dominasi dan monopoli dari para raksasa tersebut. Dengan gerakan yang diberi nama Navdanya (9 biji) ia mulai mengumpulkan benih dari para petani lokal. Disimpannya benih tersebut di dalam bank benih di ashram-nya untuk kemudian ditanam oleh para petani.

Awal Gerakan
Sekitar medio 1980-an terjadi bunuh diri besar-besaran di India. Para petani yang tak mampu membayar hutang memilih untuk mengakhiri hidupnya.

Sebelum itu terjadi, kekeringan besar melanda India. Benih yang biasa ditanam oleh para petani tak mampu tumbuh di lahan yang kurang air. Mereka pun kemudian tertarik untuk menanam benih dari perusahaan yang tahan hidup hanya dengan sedikit air. Tentu saja benih itu harus dilengkapi dengan berbagai pupuk dan bahan lain yang juga disediakan oleh perusahaan itu. Petani memperoleh semua itu dengan jalan hutang, di akhir periode tersebut banyak petani yang terlilit hutang dan kebanyakan tak sanggup membayar.

Dampak lanjutan dari penggunaan benih dan pupuk dari perusahaan besar adalah kerusakan lahan pertanian yang kemudian menjadi bergantung pada berbagai obat-obatan kimia. Sistem monokultur memang memberikan hasil produk yang tinggi, namun hilangnya kesuburan tanah juga menjadi ancaman yang sangat mengerikan.

Ide Gerakan
Bersama dengan para petani dikumpulkan bibit-bibit tanaman yang ada. Disimpannya benih tersebut sembari ditanam secara organik.

Dr. Shiva percaya, sebidang lahan yang ditanam berbagai macam tanaman akan memberikan keuntungan yang jauh lebih banyak daripada hanya satu jenis tanaman.

Sebagai ilustrasi hal tersebut, sekian kwintal padi dari satu hektar tanaman berbanding dengan beberapa kilo padi dan aneka rupa hasil tanaman dari lahan dengan luas yang sama. Tentu saja kondisi ini sangat menguntungkan baik itu bagi petani maupun bagi tanah. Aneka rupa tanaman yang ditanam pada sebidang lahan akan menjaga kesuburan tanah itu sendiri.

Pertumbuhan Ekonomi
Selain isu mengenai benih, Dr. Shiva juga menyoroti pertumbuhan semu ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang biasanya diukur dari hasil produksi tanpa memerhatikan kerusakan yang ditimbulkannya. Sebagai contoh adalah dari komoditi pertanian yang hanya memperhitungkan hasil dan melupakan kerusakan tanah, sumber mata air, atau dampaknya pada ekosistem. Semua hal itu tak pernah dihitung saat mendefinisikan pertumbuhan ekonomi.

Selain dari produk pertanian, pertumbuhan ekonomi juga menghitung hasil tambang, utamanya bahan bakar fosil. Pertumbuhan ekonomi dari sumber daya alam tak dapat diperbarui akan menunjukkan pola parabola terbalik. Satu ketika akan mencapai puncak dan apabila sumber daya alam tersebut habis, maka akan menunjukkan kurva yang menurun, bahkan satu saat nanti akan habis.

Dunia pada masa yang akan datang tidak memerlukan minyak dan gas dan batu bara murah. Dunia lebih membutuhkan kincir angin, panel-panel surya, turbin pembangkit listrik dengan tenaga air atau gelombang yang kendati mahal untuk pengadaannya, namun berlimpah ketersediaannya.

Tanah yang Suci
Dr. Shiva menganggap semua hal berhubungan. Seperti halnya film Avatar, dari warga pribumi, pohon, burung, binatang lain saling berhubungan. Tak bisa satu makhluk hidup sendiri tanpa berhubungan dengan makhluk lain.

Di atas semua itu, tanah menjadi penghubungnya. Sebuah entitas yang suci karena dari sanalah awal rantai makanan tersusun.

Manakala pohon tumbuh, binatang memakannya, kemudian manusia menikmati keduanya, semua berawal dari tanah.

“Tanah adalah sumber kehidupan.” Kata Dr. Shiva.

Oleh sebab itu, maka memperlakukan tanah dengan baik menjadi satu keharusan. Mengubah tanah menjadi lahan permukiman atau pertanian yang dilakukan secara sembrono adalah mengundang hadirnya bencana.

Beberapa akibat dari pengelolaan tanah yang sembrono di antaranya adalah kelangkaan pangan karena tanah rusak. Selain itu juga intensitas banjir dan tanah longsor yang terjadi karena tanah berubah fungsi dari daerah resapan menjadi tempat tinggal atau hunian.

Para Musuh
Dalam melakukan gerakannya, Dr. Shiva tak lepas dari onak dan duri yang menghadang. Sebut saja, dan tentunya mereka itu adalah para industrialis penganjur GMO, perusahaan tambang, pemilik modal, juga ilmuwan yang menolak isu-isu yang diangkat oleh Dr. Shiva.

Semakin banyak yang menantang gerakan yang diusung oleh beliau, semakin banyak pula yang ambil bagian mendukungnya.

Mengingat gerakan Dr. Shiva menyangkut hajat hidup orang banyak dan terutama keberlangsungan kehidupan dari tumbuhan, hewan, hingga manusia, maka sudah sepantasnya apabila blog semenjana ini pun turut serta menyebarluaskan pemikiran beliau.

Tokoh: Ajaran Buddha

sidhharta_gautamaKebenaran Mulia

  • Kebenaran Mulia Pertama: Kehidupan mengandung penderitaan
  • Kebenaran Mulia Kedua: Penderitaan memiliki sebab, dan sebabnya dapat diketahui
  • Kebenaran Mulia Ketiga: Penderitaan dapat diakhiri
  • Kebenaran Mulia Keempat: Jalan untuk mengakhiri penderitaan memiliki delapan ruas

-oOo-

Delapan Ruas Jalan Utama

  • Pandangan Benar
  • Pikiran Benar
  • Perkataan Benar
  • Perbuatan Benar
  • Mata Pencaharian Benar
  • Daya Upaya Benar
  • Kesadaran Benar
  • Meditasi Benar

-oOo-

Tiga Fakta Mendasar Tentang Keberadaan

  1. DUKHA, kehidupan tidak memberikan kepuasan. Kenikmatan dalam duania materi bersifat sementara. Kesengsaraan akan muncul tanpa bisa ditolak. Karena itu, tak satu pun pengalaman kita dapat memberikan kepuasan mendalam. Perubahan takkan pernah berhenti.
  2. ANICCA, segalanya tidak kekal. Semua pengalaman terus berganti dan berubah. Sebab dan akibat bergerak tanpa henti dan membingungkan. Karena itu seseorang takkan pernah mendapatkan kepastian dan kekekalan.
  3. ANATTA, diri yang tanpa aku yang kekal tak dapat diandalkan dan sepenuhnya tidak nyata. Apa yang kita sebut jiwa dan kepribadian hanyalah khayalan dan bayangan. Kita tak pernah berhenti berusaha untuk membuat diri kita nyata, tapi kita juga tak pernah berhasil. Karena itu kita berpegang pada kepercayaan terhadap ilusi.

-oOo-

Ditera ulang dari ‘Buddha’ karya Deepak Chopra

Tokoh: Kartini dan Egoisme

Dari surat-surat Kartini yang banyak itu, tampaklah pelaksanaan egoisme yang dikenalnya itu, baik secara terang-terangan maupun dengan bahasa bermakna-ganda: feodalisme, penjajahan, ketidakmajuan. Egoisme ini mewujudkan diri atau diwujudkan dalam bentuk keserakahan, dan keserakahan pada gilirannya memanggil kezaliman, ketidakadilan, kepalsuan. Ia sendiri banyak menderitakan perbuatan-perbuatan egois itu dengan tubuh dan jiwanya. Ia rasakan penderitaan itu. Ia rasakan. Dan dengan bantuan kecerdasannya, ia mengerti bahwa orang-orang lain pun menderita persis dengan yang dideritanya. Ia menjadi iba hati terhadap semua orang itu yang tidak bisa membela diri, yang dalam keputusaasaannya menamai nasibnya sebagai ketentuan Takdir. Kesadaran akan persatuan di dalam penderitaan ini menyebabkan ia mencitai semua mereka itu: Rakyatnya. Kaum feodal menderita akan penjajah. Rakyat jelata menderita karena kaum feodal. Anak-anak menderita karena orangtua yang tidak berpendidikan. Wanita menderita karena ajaran palsu tentang kebenaran. Dan demikian seterusnya.

Sumber dari segala macam penderitaan ini adalah egoisme.

Ia tahu, tidak ada perubahan bakal terjadi kalau tiada seorang pun yang tampil ke depan dan mempelopori. Dunia pun tampil ke depan. Ia bangkit melawan. Dan semakin banyak penderitaan diterimanya, karena penderitaan yang sudah ada itu ditambah dengan yang baru, yang berasal dari kecurigaan cemburu dan dengki mereka yang justru diperjuangkannya. Di samping itu, kelas feodal sendiri menentangnya, karena usaha dan perjuangannya akan secara langsung berupa tantangan terhadap kelasnya, paling sedikit mengganggu kedamaian posisinya.

Dalam masa waktu zaman membutuhkan perubahan, sejarah justru memilih sorang wanita, seorang gadis muda. Sedang semestinya seorang tingkat sarjana berpengalaman yang harus menggarap pekerjaan raksasa ini. Dan seorang wanita itu tidak lain daripada Kartini—gadis yang hampir tidak pernah meninggalkan rumah—berumur dua puluhan, tidak berpengalaman dalam pekerjaan kemasyarakatan, berpendidikan hanya sekolah rendah saja. Dari dunianya yang kecil—kabupaten—ia melancarkan perjuangannya, dengan panji-panji cinta. Dan dengan perjuangannya ini ia memanggil seluruh dunia jadi musuhnya—suatu hal yang menyebabkan dunianya menjadi semakin kecil, sebaliknya semakin membuat besar jiwanya, dan: intensif.

Ia menerima cinta hanya dari orangtuanya, Ayahnya. Dan dengan ini ia cintai Rakyatnya, tanahairnya, sesamanya. Cinta sedemikian dari Ayahnya, tentulah Cinta yang agung menjiwai. Dan dengan Cinta yang diterimanya itu, Kartini sebenarnya lebih daripada hanya seorang yatim-piatu zaman modern, ia dapat dibandingkan dengan Robinson Crusoe, yang bukan saja harus tolong dan selamatkan dirinya sendiri, tapi juga generasi-generasi mendatang dan hari depannya, sedang sahabat satu-satunya yang tersetia sampau mati hanya seorang cita-citanya. Hidupnya yang terkucil, terpencil, hampir-hampir tanpa persinggungan dengan dunia luar kabupaten, semestinya membuat ia tidak mengenal realita. Maka surat-surat  yang datang dari negeri-negeri dan kota-kota jauh ke kamar kerjanya, dalam situasi hidupnya yang tidak mengenal realita, nilainya lebih daripada hanya realita, merupakan peserta yang selalu mengisi jiwanya dengan bahan bakar, tak peduli sahabat-sahabat itu berhati tulus atau khianat. Baginya yang ada adalah persoalannya: kegemilangan Rakyat di hari depan. Hari depan Rakyatnya adalah hidupnya, adalah tubuhnya sendiri. Cacat hari depan Rakyat adalah juga cacat hidup dan tubuhnya, dirinya sendiri. Tak pernah dalam sejarah Indonesia selama itu ada seorang yang hidup dengan kekhawatiran tak habis-habisnya akan buruknya hari depan Rakyatnya. Hanya hati yang mencintai secara tulus dan kudus bisa terjadi semacam ini. Untuk boleh melaksanakan cita-citanya, setiap detik ia bersedia memberikan segala-galanya tanpa ragu. Dan ia memang telah berikan segala-galanya, tanpa sesuatu pun untuk diri sendiri.

Bagi Kartini, Cinta tidak pernah buta. Cinta baginya adalah memberi—memberikan segala-galanya—dan berhenti memberi apabila nafas berhenti menghembus.

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 286-287

Ini adalah bagian terakhir dari rangkaian tulisan tentang Kartini yang mengutip dari buku Panggil Aku Kartini Saja. Semoga berguna.

Tokoh: Kartini dan Jiwa Besar

Situasi hidup Kartini mengajarkan padanya cara berpikir yang mengenal batas-batasnya. Demikian pula dengan cara berpikir ini ia mengerti, bahwa dalam menempuh jarak pemikiran perjuangan ia pun—kalau terpaksa—membuat halte-halte kecil tempat berhenti mengasoh. Hanya rintangan-rintangan sangat besar mampu mengendalikan jiwa muda yang sedang menggelegak dalam “sturm und drang” ini, yakni kesulitan besar yang bertali-temali dengan segala. Dan kesulitan-kesulitan besar sajalah yang mengajarkan kepadanya untuk menyelamatkan diri sedapat mungkin menyelamatkan semua orang. Dari semua ini orang dapat mengerti, mengapa dalam usia sangat muda itu Kartini tidak pernah membuktikan pernah melakukan sesuatu yang dapat dikatakan gegabah. Masa “sturm und drang” ini dilwatinya dengan mantap.

Jiwa besar selamanya ditumbuhkan oleh rintangan dan kesulitan besar. Kalah dan terasing serta tersingkirkannya ringtangan dan kesulitan itu tidak lain daripada bukti apa yang hidup di dalam jiwa besar itu. Demikianlah dapat dikatakan, bahwa kebesaran jiwa Kartini ditumbuhkan oleh kesulitan dan rintangan besar pula.

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 279.

Tokoh: Kartini dan Tuhan

Paham Kartini tentang Tuhan lebih banyak bersifat realistik daripada metafisik. Karena Tuhan adalah Kebajikan, sudah pastilah bahwa makna yang diberikan Kartini padaNya mengandung faal yang positif, tanpa sesuatu kesamaran, jelas. Malah pada kesempatan lain ia perjelas lagi dengan keterangan yang lebih realistik:

Tuhan kami adalah nurani, neraka dan sorga kami adalah nurani kami. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami; dengan melakukan kebajikan, nurani kami pulalah yang memberi kurnia. (Surat, 15 Agustus 1902, kepada E.C. Abendanon)

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 269

Tokoh: Kartini dan Takdir

Pada masa Kartini merasa berada di dalam jurang penderitaan yang paling dalam, dari keyakinannya akan keterbatasan manusia, timbul anak-kepercayaan, bahwa pasti ada sesuatu penjelasan atau jalan keluar, entah dari mana datangnya—yang pasti datang—dan karena tiada diketahuinya sebelumnya dari mana datangnya, maka dinamainya ‘tenaga gaib’. Dan tenaga ini mengangkatnya ke atas dari dasar jurang, melalui salah satu peristiwa, keadaan, yang mungktin tak pernah disangka-sangka sebelumnya, tetapi yang mana ia menolaknya dinamai sebagai kebetulan. Dengan demikian sampailah kemudian Kartini pada teorinya tentang takdir.

Kebetulan!—tidak, bukan kebetulan, itulah takdir Tuhan. Allah, Bapa kami, yang mengirimkan kemari mereka ke sini, untuk mengisi jiwa-jiwa muda kami yang muda dan berjuang dengan tenaga dan ketabahan segar. Pertemuan itu merupakan titik balik di dalam hidup kami. Mulanya kami masih ragu-ragu, tapi setelah itu mantaplah tekad kami untuk mencapai cita-cita kami, apapun korban yang dipintanya.

Dahulu nampaknya begitu gaib; sekarang telah menjadi jelas, bening, sederhana.

Tuhan sajalah yang mengerti rahasia dunia; tanganNya mengendalikan alam semesta; Dialah, yang mempertemukan jalan-jalan yang berjauhan menjadi satu jalan baru.

Demikianlah ia telah arahkan jalan kawan-kawan itu kepada kami, agar kami menjadi lebih kuat oleh pertemuan-pertemuan itu, disatukan dengan jiwa-jiwa besar dan kuat, menjadi jalan baru yang dapat dilalui oleh mereka yang berada di belakang kami. Kami tidak mengenal sama sekali satu daripada yang lain, dan kami sama sekali tidak mengetahui tentang mereka. Maka tiba-tiba kami pun berhadap-hadapan, dan roh-roh yang tadinya asing itu, kemudian memancarkan simpati satu kepada yang lain. Beberapa jam hanya pertemuan kami itu; waktu kami berpisahan, tahulah kami, bahwa kami akan bersahabat.

Keajaiban itu telah dimulai, dan ia mengembangkan dirinya! Sebulan setelah pertemuan itu terjadisesuatu yang tiada pernah kami duga-duga sebelumnya, mengimpikannya pun tidak. Nyonya tahu bukan, bahwa keluar rumah bagi gadis-gadis Jawa bukanlah adat, bahwa mereka semestinya harus dikurung di balik tembok atau pagar bambu, sedemikian lamanya sampai datang seorang yang sama sekali tak dikenalnya, ‘seorang suami yang ditakdirkan Tuhan” itu dan datang menuntutnya dan menyeretnya ke rumahnya.

Begitu pendek kami baru mengenal kebebasan, atau bagaimana sajalah Nyonya menamainya.

Kejadian yang tak pernah terduga-duga itu ialah: kami berada di Batavia di tempat sahabat-sahabat baru.

“Rasanya aku harus jelajahi seluruh Jawa untuk dapat bertemu dengan kalian, aku harus temukan kalian. Dan kalau sudah aku temukan kalian, puaslah hatiku.”

Kami ditakdirkan untuk bertemu, pertemuan untuk mengemudiankan pengaruh besar atas hidup kita.

Sebelum kedatangan mereka kami telah melayang-layang dalam keraguan, maklumlah, waktu itu masih gelap-gulita di sekeliling kami. Tanpa sadar kami, mau atau tidak, mereka telah obori arah yang pasti ketika kami dalam keadaan melayang-layang. Ke sanalah kami harus pergi, menempuh jalan menuju Cita! (Surat, 21 Juli 1902, kepada Nyonya van Kol).

Panggil Aku Kartini Saja, Halaman 265-267

Tokoh: Kartini dan Gelarnya

Pada suatu kali, Kartini ikut menghadiri “sembahyang istisqo” yang dilakukan oleh rakyat jelata, dan kemudian hujan pun turun. Menanggapi hal ini, Kartini pun menulis:

Rakyat-bocah kami yang naif itu menarik kesimpulan, kamilah yang telah memperkuat doa permohonan mereka itu dengan kekuatan kami, yang menyebabkan doa itu segera makbul. (Surat, 1 Februari 1903, kepada Mr. J.H. Abendanon).

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 258

Hal yang demikian itu dinamakan sentralisme magis. Suatu persoalan yang ditolak oleh Kartini sebagai bentuk feodalisme pribumi. Lebih jauh, penolakan ini dimanifestasikan Kartini dalam sebuah suratnya, di sana ia menulis:

Panggil aku Kartini saja—itulah namaku. (Surat, 25 Mei 1899, kepada Estelle Zeehandelaar).

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 258

Kartini yang menginginkan panggilan tanpa gelar, tanpa panggilan kebesaran adalah keluarbiasaan di kalangan feodal pada waktu itu. Hal ini bukan saja karena gelar-gelar itu justru merupakan ciri-ciri kedudukan seorang feodal dalam hierarki feodalisme, tata hidup, suasana dan organisasi sosial pada waktu itu, tetapi juga ciri-ciri kemartabatan dalam sistem sentralisme magis yang dianggap punya hubungan langsung dengan alam atas.

Tokoh: Kartini dan Batas Kemampuannya

Dalam suratnya kepada Nyonya Ovink-Soer pada bulan Oktober tahun 1900, ia mengatakan, bahwa “Pemenuhan dari hasrat-hasrat hati, banyak kali dibarengi dengan penerimaan luka-luka pada hati itu pula.” Ia pun melanjutkan:

Dan begitu banyak kejadian pada hari-hari belakangan ini menunjukkan: manusia menimbang—Tuhan jua yang menentukan. Itulah peringatan bagi kami orang-orang berpemandangan céték ini, peringatan agar terutama sekali tidak congkak: merasakan sungguh-sungguh, bahwa kita sendiri mempunyai kemauan sendiri.

Dan kemudian:

Ada suatu Kekuasaan, yang lebih besar daripada seluruhnya yang ada di atas muka bumi ini; ada suatu Kemauan, lebih kuat, lebih berkuasa daripada seluruh kemauan umat manusia. Celakalah manusia, yang menyombongkan kemauan besi dan dahsyatnya sendiri!

Hanya pada satu Kemauan, yang boleh dan harus kita punyai; kemauan untuk mengabdi kepadanya: Kebajikan! (Surat, Oktober 1900, kepada Nyonya M.C.E. Ovink-Soer)

 

Panggil Aku Kartini Saja, halaman 265