Perubahan Iklim: Dampak Iklim yang Luar Biasa

Laporan oleh PBB menyatakan, “Dampak dari perubahan iklim adalah ‘parah, meluas, dan tak dapat dihindari’.”

Ilmuwan dan pejabat yang melakukan pertemuan di Jepang menyimpulkan bahwa dokumen tersebut saat ini adalah yang paling lengkap untuk mengkaji dampak perubahan iklim di dunia. Beberapa dampak perubahan iklim adalah peningkatan risiko bencana banjir, perubahan hasil pertanian, dan ketersediaan air.

Manusia mungkin bisa beradaptasi dengan beberapa perubahan tersebut, namun hanya untuk jangka pendek. Salah satu contoh adaptasi adalah dengan membangun infrastruktur seperti tembok atau tanggul laut untuk melindungi dari banjir. Contoh lain yaitu dengan irigasi yang lebih efisien untuk petani di daerah yang mengalami kelangkaan air.

Sistem alami saat ini harus menanggung beban dari perubahan iklim yang terjadi, namun dampak pada manusialah yang paling mengkhawatirkan. Anggota panel PBB untuk iklim mengatakan, laporan ini menyediakan banyak bukti untuk dampak yang terjadi.

Kesehatan, rumah, makanan, keamanan kita terancam oleh meningkatnya suhu, demikian dilaporkan.

Laporan tersebut merupakan kesepakatan yang dicapai setelah melalui diskusi yang panjang di antara para ahli di Yokohama. Di dalamnya termasuk perhatian dari berbagai penulis yang menyumbangkan pemikirannya di dalam dokumen. Ini adalah seri kedua dari laporan IPCC yang diterbitkan tahun ini dan khusus menyoroti penyebab, dampak, dan solusi dari pemanasan global.

Laporan untuk para pemangku kepentingan ini menyoroti berbagai fakta yang terdiri dari bukti-bukti dari para peneliti mengenai dampak dari pemanasan yang meningkat dua kali lipat sejak laporan terakhir pada tahun 2007. Selain mencairnya es dan pemanasan permafrost (lapisan tanah beku) di daerah kutub, laporan tersebut juga menggarisbawahi fakta bahwa di semua benua dan samudera terjadi perubahan iklim yang berdampak pada sistem alami dan manusia pada beberapa dekade terakhir.

Menggunakan kata dalam laporan tersebut, “Pemanasan yang meningkat telah memicu dampak yang parah, meluas, dan tak dapat dihindari.”

“Siapapun di planet ini akan terkena dampak dari perubahan iklim.” Kata Rajendra Panchauri dalam konferensi pers-nya dihadapan wartawan di Yokohama.

Dr. Saleemul Huq, seorang penulis untuk salah satu bab berkomentar, “Sebelumnya kita tahu hal ini telah terjadi, namun sekarang kita punya banyak bukti bahwa hal tersebut sedang terjadi dan nyata.”

Michel Jarraud, sekretaris jenderal Organisasi Meteorologi Dunia, mengatakan bahwa sebelumnya manusia bisa mengabaikan iklim bumi, namun saat ini pengabaian bukanlah alasan yang bagus. Jarraud mengatakan, laporan ini disusun dengan mengkaji lebih dari 12.000 penelitian ilmiah. Dia bilang, “Ini adalah dokumen terlengkap yang bisa Anda dapatkan dari berbagai disiplin ilmu.”

Sekretaris Negara Amerika Serikat, John Kerry berkomentar, “Bukti dari berbagai penelitian menunjukkan iklim dan hidup kita dalam bahaya, kecuali kita bertindak secara dramatis dan cepat. Penolakan terhadap bukti-bukti tersebut adalah kekeliruan.” Beliau menambahkan, “Tidak ada satu negara yang menyebabkan pemanasan global dan tak ada satu pun negara yang mampu menghentikannya. Namun, kita harus menyesuaikan tindakan yang diambil dengan perhitungan-perhitungan ilmiah.

Ed Davey, Sekretaris Energi dan Iklim di Inggris mengatakan, “Bukti ilmiah telah dengan jelas menunjukkan, perubahan iklim akan berdampak pada berbagai aspek kehidupan kita. Masalah kesehatan, ketahanan pangan, dan pertumbuhan ekonomi. Banjir di Inggris baru-baru ini adalah penanda bahwa kerusakan yang disebabkan oleh perubahan iklim dapat terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.”

Laporan tersebut berisi detail dampak jangka pendek pada sistem alami dalam 20 sampai 30 tahun ke depan. Di sana dijelaskan lima alasan yang harus diperhatikan seiring dengan pemanasan yang telah terjadi di dunia. Hal ini termasuk ancaman pada sistem yang khusus seperti di lautan es Arktik dan terumbu karang, di mana risiko peningkatan suhu sangat tinggi , yaitu sekitar 2 derajat celcius. Ringkasan laporan menyoroti dampak di lautan dan pada sistem air tawar. Lautan akan lebih asam dan mengancam terumbu karang serta berbagai spesies yang hidup di sana. Di darat, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan species yang lain akan mulai berpindah ke daerah yang lebih tinggi atau ke kutub seiring dengan meningkatnya suhu.

Demikian juga manusia, akan merasakan peningkatan dampak seiring berjalannya waktu. Ketahanan pangan menjadi satu hal yang sangat diperhatikan. Hasil pertanian untuk jagung, padi, dan gandum adalah sumber pangan utama sampai tahun 2050, namun sekitar sepersepuluh dari perkiraan menunjukkan kerugian hingga 25%. Setelah tahun 2050, terjadi peningkatan risiko pada hasil panen yang kian mengkhawatirkan seiring dengan dampak ledakan dan kegagalan di banyak wilayah. Sementara itu, permintaan akan pangan terus meningkat karena populasi dunia mencapai angka 9 milyar.

Banyak jenis ikan, sumber pangan yang penting bagi banyak orang juga akan berpindah karena air semakin hangat. Di beberapa bagian wilayah tropis dan Antartika, tangkapan yang potensial menurun hingga lebih dari 50%.

“Ini adalah penilaian yang wajar.” Kata Prof Neil Adger dari Universitas Exeter, salah seorang penulis yang lain. “Di masa depan, risiko akan meningkat pada manusia, dampak pada tanaman, dan ketersediaan air dan terutama pada kejadian ekstrem yang berdampak pada manusia dan mata pencahariannya.”

Manusia akan terdampak oleh banjir dan gelombang panas yang menyebabkan kematian. Laporan tersebut memperingatkan akan adanya risiko baru, termasuk ancaman bagi mereka yang bekerja di luar seperti petani atau pekerja konstruksi. Perhatian terhadap hubungan antara proses migrasi dengan perubahan iklim juga meningkat, termasuk pada konflik dan keamanan nasional.

Maggie Opondo, salah seorang penulis dari Universitas Nairobi mengatakan bahwa, di tempat seperti Afrika perubahan iklim dan kejadian ekstrem berarti masyarakat yang makin rentan dan makin tenggelam dalam kemiskinan.

Ketika negara miskin lebih terdampak dalam jangka pendek, di sisi lain negara maju pun tak bisa melepaskan diri. “Negara kaya sudah semestinya memikirkan perubahan iklim. Kita sudah melihat hal itu terjadi di Inggris dengan banjir yang terjadi beberapa bulan lalu serta badai yang melanda Amerika dan kekeringan yang terjadi di California.” Dikatakan oleh Dr. Hug. “Ini adalah kejadian dengan kerugian jutaan trilyun dollar yang harus dibayar oleh negara maju, sementara di satu sisi mereka punya keterbatasan anggaran untuk membiayai itu semua.”

Namun, hal tersebut belum seberapa, seperti yang dikatakan oleh seorang penulis laporan. “Saya kira hal baru yang ada dalam laporan ini adalah ide untuk mengatasi perubahan iklim sebagai suatu persoalan dalam mengelola risiko.” Dikatakan oleh Dr. Chris Field. “Perubahan iklim sangat penting dan kita memiliki berbagai peralatan untuk secara efektif mengatasinya, namun kita harus lebih pintar.”

Dalam ringkasan laporan terbaru ini, ditekankan bagaimana cara beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim. Permasalahannya adalah, siapa yang akan mengucurkan dana?

“Guna menentukan hal tersebut, tidak bergantung pada IPCC.” dikatakan Dr. Jose Marenggo, seorang pejabat pemerintah Brasil yang hadir dalam pertemuan. “Laporan tersebut mengemukakan berapa anggaran yang diperlukan dan kemudian seseorang/institusi harus membayarnya dengan berdasarkan perhitungan keilmuan. Saat ini lebih mudah untuk melakukan negosiasi di UNFCC (lembaga PBB untuk perubahan iklim) dan memulai kesepakatan siapa yang akan mengucurkan dana guna keperluan adaptasi terhadap perubahan iklim.”

Sumber tulisan dari sini

Perubahan Iklim: Peran Manusia dalam Pemanasan Global

Para peneliti meyakini, bahwa manusia adalah ‘penyebab dominan’ pemanasan global yang terjadi sejak tahun 1950an. Laporan oleh panel iklim PBB menjelaskan dengan detail bukti-bukti fisik di balik perubahan iklim.

“Di tanah, di udara, di lautan, pemanasan global jelas terlihat.” Demikian dituliskan dalam laporan.

Laporan tersebut juga menyimpulkan, bahwa terjadinya jeda panas dalam 15 tahun merupakan waktu yang sangat singkat untuk menggambarkan tren jangka panjang. Panel para ahli juga menyampaikan peringatan jika emisi gas rumah kaca terus terjadi, maka akan menyebabkan pemanasan yang mengubah seluruh aspek dalam sistem iklim. Guna mengurangi perubahan tersebut, maka diperlukan langkah yang menyentuh ke inti persoalan dan upaya terus menerus untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Proyeksi yang dilakukan berdasarkan asumsi berapa banyak gas rumah kaca yang boleh dilepaskan. Setelah melampaui negosiasi selama seminggu yang sangat intens di Ibukota Swedia, ringkasan untuk pengambil keputusan pada aspek fisik dari perubahan iklim akhirnya diterbitkan.

Bagian pertama dari trilogi IPCC setebal 36 halaman ini adalah yang paling lengkap untuk memberikan pemahaman pada penyebab pemanasan planet bumi. Disampaikan dengan jelas, bahwa sejak 1950-an, banyak kajian perubahan pada sistem iklim belum pernah selengkap ini selama beberapa dekade bahkan ribuan tahun. Tiap-tiap dekade dalam tiga puluh tahun terakhir sukses meningkatkan suhu permukaan bumi dan menjadi yang paling hangat sejak 1850. Suhu tersebut barangkali juga lebih hangat dari suhu di manapun selama 1.400 tahun terakhir.

“Kajian ilmiah kami menemukan bahwa atmosfer dan lautan telah menghangat. Jumlah salju dan es berkurang dan rata-rata permukaan laut global serta konsentrasi gas rumah kaca meningkat.” Kata Qin Dahe, wakil ketua IPCC working group 1 yang menulis laporan tersebut.

Berbicara dalam konferensi yang berlangsung di Ibukota Swedia wakil ketua yang lain, Prof. Thomas Stocker, berkata bahwa perubahan iklim akan mengancam dua sumber daya yang paling penting bagi manusia dan ekosistem, yaitu tanah dan air. Dalam waktu singkat, akan mengancam planet kita, satu-satunya rumah kita.

Sejak 1950, manusia harus bertanggung jawab pada lebih dari setengah kenaikan temperatur yang terjadi. Namun, penundaan kenaikan suhu pada periode 1998 tidak dianggap penting dalam laporan. Para ilmuwan mengemukakan bahwa periode ini merupakan tahun yang sangat panas karena awal dari El Nino.

“Tren berdasarkan data dalam waktu singkat sangat terpengaruh pada tanggal awal dan akhir serta secara umum tidak mencerminkan tren iklim jangka panjang.” Demikian dilaporkan. Prof Stocker menambahkan, “Saya khawatir tidak banyak literatur yang tersedia dan memungkinkan bagi kita untuk mempelajari lebih jauh serta lengkap guna menjawab pertanyaan ilmiah yang muncul sekarang ini. Sebagai contoh, tidak cukup penelitian untuk menyelidiki penyerapan panas terutama dalam lautan yang dalam. Padahal, penelitian tersebut mungkin dapat menjelaskan mekanisme yang terjadi saat hilangnya pemanasan. Kita juga tidak memiliki data yang lengkap untuk melakukan penilaian faktor apa yang menyebabkan kenaikan suhu pada 10-15 tahun terakhir.”

Namun, laporan tersebut tidak jauh berbeda dengan kajian yang telah dilakukan pada tahun 2007. Saat itu, kisaran suhu untuk menggandakan kandungan CO2 di atmosfer, atau dikenal sebagai keseimbangan sensitivitas iklim berkisar antara 2-4,5C. Dalam dokumen terakhir, kisaran suhu telah berubah menjadi 1,5-4,5 C. Ilmuwan mengatakan, bahwa hal ini mencerminkan peningkatan pemahaman, perbaikan pendataan suhu dan perkiraan adanya faktor baru yang menyebabkan suhu meningkat.

Dalam ringkasan bagi pengambil keputusan, para peneliti mengatakan bahwa laju kenaikan air laut terjadi lebih cepat dalam 40 tahun terakhir. Rata-rata permukaan laut global akan naik pada tahun 2081-2100 yang diprediksi antara 26 cm (pada level terendah) dan 82 cm (pada level tertinggi) bergantung pada tingkat emisi gas rumah kaca yang terjadi pada abad ini. Para peneliti mengemukakan bahwa pemanasan lautan mendominasi peningkatan energi yang terjadi pada sistem iklim. Tercatat sudah mencapai 90% energi yang merupakan akumulasi energi antara tahun 1971 sampai 2010.

Di masa depan, laporan menyatakan bahwa pemanasan diperkirakan akan terus berlangsung dengan berbagai skenario. Simulasi pemodelan mengindikasikan bahwa suhu permukaan global berubah di akhir abad ke 21 mencapai 1,5 derajat celcius, dibandingkan tahun 1850.

Prof. Sir Brian Hoskin, dari Imperial College London berkomentar di BBC, “Kita melakukan suatu percobaan yang sangat berbahaya dengan planet kita dan saya tak ingin anak cucu kita menderita akibat dari percobaan yang kita lakukan.”

Sumber tulisan dari sini

Perubahan Iklim: Dampak pada Negara Miskin

Daerah yang kering akan makin kering, sementara daerah tropis basah akan kian basah, demikian dilaporkan IPCC.

Pada tahun-tahun mendatang, negara berpendapatan rendah akan tetap berada di garis depan yang terdampak oleh perubahan iklim karena ulah manusia. Mereka akan mengalami naiknya permukaan air laut, badai yang makin kuat, hari-hari yang makin hangat, hujan yang tidak bisa diprediksi, serta gelombang panas yang makin besar dan lama. Demikian hasil penelitian secara menyeluruh tentang persoalan perubahan iklim.

Penilaian UN pada tahun 2007 memprediksi peningkatan temperatur hingga lebih dari 6 derajat celcius pada akhir abad ini. Kondisi tersebut diragukan oleh para peneliti, namun rata-rata suhu di daratan dan lautan terus meningkat sepanjang waktu. Dimungkinkan peningkatan tersebut akan mencapai empat derajat celcius di atas tingkat suhu yang ada sekarang dan cukup untuk merusak tanaman pangan serta membuat panas di banyak kota tak tertahankan lagi.

Seiring dengan meningkatnya temperatur dan lautan yang kian hangat, daerah tropis dan subtropis akan menghadapi perubahan drastis pada curah hujan tahunan, demikian dilaporkan oleh IPCC yang telah diterbitkan pada 30 September.

Afrika timur akan mengalami peningkatan hujan yang durasinya pendek, sementara Afrika barat akan mengalami muson yang lebih berat. Myanmar, Bangladesh, dan India akan mengalami siklon yang lebih kuat, di wilayah Asia selatan yang lain, musim panas disertai hujan harus diantisipasi. Indonesia akan mengalami hujan yang lebih sedikit antara Juli sampai Oktober, namun daerah pantai di sekitar Laut Tiongkok dan gurun di Thailand akan mengalami peningkatan hujan ekstrem ketika siklon menghantam daratan.

“Diyakini bahwa dalam jangka panjang, curah hujan global akan berubah. Negara di lintang tinggi, seperti Eropa dan Amerika Utara akan mengalami curah hujan yang lebih banyak, namun daerah subtropis dan semi kering akan berkurang curah hujannya. Di daerah tropis yang lebih hangat, curah hujan ekstrem akan meningkat intensitas dan frekuensinya.” Demikian dikatakan oleh penulis laporan.

Dalam laporan tersebut juga disampaikan, “Muson akan terjadi lebih awal atau tidak berubah, sementara rata-rata muson akan tertunda, sehingga akan memperpanjang musim.”

Ilmuwan di negara berkembang serta para pengamat setuju dengan laporan tersebut karena menjadi pendukung penelitian yang sudah mereka lakukan sendiri.

“Laporan IPCC menguak fakta bahwa perubahan iklim sungguh terjadi dan lebih kuat daripada sebelumnya. Kita telah melihat dampak dari perubahan iklim di Bangladesh dan Asia selatan. Ini bukan hal yang baru untuk kita. Kebanyakan negara berkembang saat ini menghadapi ancaman perubahan iklim. Mereka tak memerlukan laporan IPCC bahwa cuaca sedang berubah.” Dikatakan oleh Saleemul Huq, Direktur International Centre for Climate Change and Development yang berkantor di Dhaka.

Peneliti juga telah menurunkan perkiraan kenaikan muka air laut. Bergantung pada emisi gas rumah kaca di masa depan, muka air laut akan meningkat antara 40-62 cm pada tahun 2100. Namun, variasi geografis akan memberikan pengaruh yang sangat signifikan. Jutaan orang yang tinggal di kota-kota besar di negara berkembang akan terancam, termasuk mereka yang tinggal di Lagos dan Kalkuta.

Dilaporkan jenis bencana yang terkait dengan cuaca akan lebih sering terjadi seiring dengan meningkatnya suhu dunia. Kendati frekuensi terjadinya siklon tropis kemungkinan menurun atau tetap pada level sekarang, namun intensitasnya akan meningkat dengan angin yang lebih kuat dan curah hujan yang lebih lebat.

Hidup di kota-kota besar negara berkembang tak dapat dihindari, kendati suhu perkotaan sudah lebih tinggi daripada lokasi di sekitarnya. Temperatur yang lebih tinggi dapat mengurangi durasi pertumbuhan di beberapa bagian Afrika sampai 20%, demikian disampaikan dalam laporan.

Dr. Camilla Toulmin, Direktur International Institute for Environment and Development, mengatakan, “Pemodelan iklim belum cukup untuk memprediksi dampak di tingkat lokal dan regional, namun sudah sangat terasa kerentanan yang harus dihadapi oleh tiap orang.”

Oxfam memprediksi bahwa kelaparan dunia akan lebih buruk seiring dengan perubahan iklim yang berdampak pada produksi pertanian dan mengganggu pendapatan warga. Mereka memperkirakan jumlah penduduk yang beriko mengalami kelaparan meningkat 10-20% pada tahun 2050, dengan asupan kalori per kapita makin jatuh di seluruh dunia.

“Perubahan iklim telah mengancam usaha-usaha untuk mengatasi kelaparan dan hal tersebut semakin memburuk.” Dikatakan Oxfam. “Dunia yang kian panas adalah dunia yang makin lapar. Jika waktu yang tersisa dari abad 21 dibiarkan terbuang sia-sia seperti dekade awal, kita akan segera menghadapi iklim ekstrem yang belum pernah dihadapi umat manusia.”

Sumber tulisan dari sini

 

Perubahan Iklim: Penyebab Cuaca Ekstrem

Muka air laut yang semakin tinggi menyebabkan daerah pesisir semakin rentan, meningkatnya kejadian cuaca yang ekstrem akan menghantam perekonomian dan kehidupan. Demikian laporan IPCC, sebuah badan yang terdiri dari berbagai peneliti tentang perubahan iklim yang dibentuk oleh PBB.

Para peneliti sudah memberikan peringatan ini bertahun lalu, namun laporan IPCC tersebut, adalah laporan khusus mengenai cuaca ekstrem yang disusun selama lebih dari dua tahun oleh 220 ahli. Ini adalah pertama kalinya, sebuah laporan disusun secara komprehensif untuk menilai dari segi keilmuan pada materi perubahan iklim, sebagai usaha untuk mencapai keputusan yang pasti. Dalam laporan tersebut berisi peringatan yang jelas terutama kepada negara berkembang, yang karena letak geografisnya akan mengalami dampak terburuk dari perubahan iklim. Infrastruktur dan kondisi perekonomian di negara-negara tersebut juga kurang dipersiapkan untuk menghadapi iklim ekstrem dibandingkan negara maju. Kendati demikian, negara maju tetap menghadapi ancaman dari hujan badai, gelombang panas, dan kekeringan yang menimbulkan korban.

Chris Field, wakil ketua IPCC yang menulis laporan mengatakan, bahwa pesan yang ingin disampaikan sangatlah jelas, yaitu cuaca ekstrem terjadi lebih sering. “Kejadian ekstrem yang penting telah berubah dan akan terus berubah pada masa yang akan datang. Terdapat bukti yang jelas dan tak terbantahkan, kami juga mengetahui penyebab terjadinya kerugian akibat bencana.”

Beliau mendorong pemerintah untuk melakukan tindakan, banyak dampak ekonomi dan korban manusia dapat dihindari bila langkah antisipasi dilakukan. “Kita telah kehilangan banyak nyawa dan aset perekonomian karena bencana.”

Kepala lembaga iklim Eropa, Connie Hadegaard, mengatakan bahwa laporan tersebut hendaknya memicu pemerintah untuk melakukan tindakan, terutama karena adanya peringatan dari Badan Energi Internasional yang mengatakan bahwa dunia hanya memiliki waktu lima tahun untuk mengambil langkah-langkah dalam pemotongan emisi guna menghindari bencana akibat pemanasan global. “Dengan berbagai pengetahuan dan argumentasi yang logis mengenai perlunya tindakan untuk mengatasi perubahan iklim,  sangat menyedihkan bahwa ada beberapa pemerintahan yang seolah tak peduli. Fakta yang dikumpulkan mengenai perubahan iklim terus bertambah, kepada pemerintahan yang belum juga mengambil tindakan, pertanyaannya kemudian adalah, sampai seberapa lama mereka akan terus berdiam diri?” Kata Connie.

Bob Ward, Direktur Kebijakan dan Komunikasi di Grantham Research Institute, London School of Economics, mengatakan bahwa laporan IPCC tersebut sebagai penanda semakin jelasnya dampak perubahan iklim. Kata Ward, “Tinjuan dari para ahli berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang ada menunjukkan bahwa perubahan iklim telah memberikan dampak di berbagai belahan dunia baik dari sisi frekuensi, intensitas, dan lokasi dalam bentuk kondisi cuaca ekstrem, gelombang panas, kekeringan, dan banjir bandang. Ini perlu menjadi catatan karena kejadian ekstrem sangatlah jarang dan secara statistik sulit mendeteksi tren terjadinya karena data yang ada masih sangat sedikit. Lebih jauh, tren tersebut telah diidentifikasii selama beberapa dekade terakhir ketika peningkatan suhu rata-rata hanya beberapa derajat. Laporan tersebut menunjukkan, jika kita tidak menghentikan level peningkatan gas rumah kaca di atmosfer, maka kita akan melihat lebih banyak lagi pemanasan dan perubahan dramatis pada cuaca ekstrem yang tampaknya akan mengganggu usaha manusia untuk beradaptasi.”

Namun, laporan tersebut juga perlu diberi catatan karena sulitnya menentukan secara spesifik kejadian cuaca ekstrem pada pemanasan global yang disebabkan oleh manusia. Menghubungkan kerugian ekonomi, seperti kerusakan karena badai dan banjir juga sangatlah sulit karena banyak faktor yang terlibat. Peningkatan laju urbanisasi dan kesejahteraan berarti kerugiaan saat ini lebih besar daripada di masa lalu.

Kondisi ini akan menimbulkan perdebatan pada masa datang saat pemerintah negara maju harus menyediakan pendanaan kepada negara berkembang untuk menolong masyarakat beradaptasi pada dampak perubahan iklim.

Para peneliti masih ragu apakah perubahan iklim menyebabkan peningkatan frekuensi topan. Namun, terdapat peringatan keras untuk belahan bumi utara dan wilayah Eropa serta Amerika Utara yang saat ini sering mengalami topan merusak. Ada ‘Poleward Shift’ atau perubahan kutub pada pola badai yang berarti topan merusak akan lebih sering terjadi di wilayah seperti New York atau wilayah Eropa yang berada di pesisir Atlantis.

Pemodelan ilmiah juga menunjukkan kecenderungan pada durasi, frekuensi, dan intensitas gelombang panas meningkat di daratan. Hal ini berarti, rekaman hari-hari sangat panas, yang semula hanya sekali dalam 20 tahun, sekarang ini hampir terjadi setiap tahun. Dampak kondisi ini sangat terasa pada lansia dan balita yang lebih rentan pada perubahan temperatur.

Dalam laporan tersebut dikatakan, “Kecenderungan frekuensi hujan lebat atau proporsi total hujan lebat akan meningkat pada abad ke 21 di berbagai area di dunia. Hal ini terjadi utamanya pada daerah lintang tinggi atau wilayah tropis, serta pada daerah dingin di sebelah utara lintang tengah. Hujan sangat lebat yang berasosiasi dengan topan tropis akan menyebabkan meningkatnya pemanasan.” Hal tersebut mengindikasina bahwa, hujan sangat lebat yang semula terjadi sekali dalam dua puluh tahun saat ini akan terjadi sekali setiap lima tahun. Para ilmuwan masih kesulitan untuk menghubungkan fenomena ini dengan frekuensi terjadinya banjir, sebab banjir tergantung pada kondisi lokal seperti topografi. Di samping itu, banjir dan tanah longsor terjadi karena hujan lebat yang diselingi dengan musim kering.

Para ilmuwan juga mempercayai, bahwa kekeringan akan makin intensif di abad ke 21 pada beberapa musim dan lokasi karena berkurangnya banjir atau meningkatnya penguapan di daratan. Mereka mengatakan daerah yang paling rentan adalah Eropa bagian selatan, Mediterania, Eropa Tengah, bagian tengah Amerika Utara, Amerika Tengah, Meksiko, Timur Laut Brasil, dan Afrika bagian selatan.

Simon Brown, manajer penelitian iklim ekstrem di Hadley Centre, pusat penelitian iklim di Kantor Meteorologi Inggris berkata, “Fokus laporan IPCC pada cuaca ekstrem sangatlah tepat karena hal ini kurang mendapat perhatian padahal menjadi hal pertama yang mendera masyarakat yang terpapar perubahan iklim. Kerentanan masyarakat terutama terjadi karena adanya cuaca ekstrem, sehingga sangatlah tepat apabila IPCC berfokus pada hal ini, apakah akan berubah menjadi lebih buruk, meluas atau dengan konsekuensi yang sangat signifikan. Laporan ini akan sangat berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan karena terdiri dari berbagai disiplin ilmu, bukan hanya aspek fisik cuaca ekstrem namun juga bagaimana kita beradaptasi dan bertindak pada perubahan yang terjadi di masa depan.

Tim Gore, pengarah pada perubahan iklim Oxfam berkata, “Ini adalah peringatan bagi para pemimpin dunia untuk bertindak saat ini juga menghadapi perubahan iklim guna menyelamatkan kehidupan dan perekonomian. Hubungan antara perubahan iklim dan peningkatan frekuensi serta intensitas cuaca ekstrem makin terasa dan warga negara miskin yang akan terdampak paling parah dari kejadian tersebut. Banjir dan kekeringan yang baru-baru ini terjadi di Asia Timur dan juga wilayah Tanduk Afrika dapat menghancurkan pertanian, membuat harga makanan makin mahal dan menyebabkan kelaparan pada masyarakat yang miskin.”

Beliau menambahkan, “Diperkirakan satu dolar yang diinvestasikan untuk perubahan iklim akan mampu mengurangi 60 dolar kerusakan yang mungkin terjadi. Pemerintah harus mencari sumber pendanan baru dan menghindari pengeluaran yang lebih besar untuk menangani bencana nantinya.”

Sumber tulisan dari sini

Perubahan Iklim: IPCC tentang Hujan dan Keawanan

Berikut ini ringkasan laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang berkaitan dengan hujan dan keawanan

Curah hujan ekstrem meningkat dari sisi frekuensinya, intensitas, dan juga durasinya. Hal itu terjadi pada akhir abad dua puluh satu terutama di daratan di daerah lintang tengah dan juga di wilayah tropis basah (7) seiring dengan peningkatan temperatur global (23).

Rerata hujan diprediksi akan meningkat di lintang tengah sampai dengan tinggi. Pada level regional, perubahan skala hujan disebabkan karena kombinasi berbagai variabel alami dalam hujan sendiri, pengaruh letusan gunungapi, dan dampak dari polusi udara. (88)

Intensitas dan frekuensi hujan lebat yang terjadi di daratan akan meningkat. Hal ini disebabkan karena peningkatan kandungan uap air di atmosfer dan perubahan sirkulasi atmosfer. (88)

Aktivitas manusia mengubah emisi gas dan aerosol yang berpengaruh pada reaksi kimia di atmosfer, menghasilkan O3 dan perubahan jumlah aerosol. Keduanya akan mengubah keseimbangan energi karena menyerap, menyebarkan, dan memantulkan sinar matahari. Aerosol ada yang berperan sebagai kondensor awan, mengubah tetes-tetes awan dan berpengaruh pada curah hujan. (126)

Pada paruh pertama abad 21, awan yang menutupi AS, Soviet, Eropa Barat, Canada, Australia meningkat. Sedikit wilayah mengalami penurunan seperti China dan Eropa Tengah. Trend tersebut terus bertahan sampai dengan awal 1970an dengan sedikit perubahan di wilayah regional di Asia Barat dan Eropa yang menurun, namun meningkat di US.

Siklus iklim global akan berubah, akan meningkatkan perbedaan wilayah basah dan kering, demikian juga yang mengalami iklim basah dan kering, dengan beberapa pengecualian saja.

Perubahan Iklim: Risiko Musim Dingin Parah di Eurasia

Musim dingin yang parah akan lebih sering terjadi pada beberapa dekade ke depan sebagai akibat dari mencairnya es di Lautan Arktik dan mengirimkan udara yang beku ke selatan, demikian kesimpulan dari satu penelitian yang baru saja dilakukan.

Musim dingin parah yang terjadi berhubungan dengan mencairnya es di Laut Arktik yang semakin besar terjadi. Penelitian baru tersebut menggunakan metode yang komprehensif, yaitu pemodelan komputer pada waktu-waktu yang diindikasikan terjadinya musim dingin yang beku. Hal tersebut disebabkan oleh perubahan iklim, bukan semata-mata oleh variasi iklim.

“Penyebab musim dingin parah yang terjadi di Eurasia adalah pemanasan global.” Kata Prof. Masato Mori, dari Universitas Tokyo, seorang ilmuwan yang memimpin penelitian tersebut. Perubahan iklim memicu pemanasan di Arktik terjadi lebih cepat daripada di lintang yang lebih rendah. Penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa musim dingin parah yang terjadi adalah ancaman nyata dari perubahan iklim yang sudah terjadi dan bukan sekadar ancaman di masa depan. Mencairnya es di Arktik juga berdampak pada musim panas yang basah di Inggris.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal ‘Nature Geoscience’ menunjukkan peningkatan risiko musim dingin yang ber-es akan terjadi pada dekade mendatang. Namun, lebih daripada itu, pemanasan global yang berkelanjutan akan menyebabkan musim dingin yang lebih dingin lagi. Lautan Arktik diperkirakan akan bebas es pada akhir musim panas di tahun 2030 dan mencegah perubahan pola angin, sementara di sisi lain perubahan iklim akan terus meningkatkan suhu rata-rata.

Arctic_sea_ice_extent

“Kesesuaian antara kenyataan di lapangan dan hasil pemodelan komputer sangatlah penting untuk menunjukkan fakta, bahwa peningkatan risiko terjadinya musim dingin yang parah sungguh nyata.” Demikian dikatakan oleh Prof Adam Scaife, seorang ahli perubahan iklim dari UK Met Office dan bukan anggota dari tim peneliti. “Bukti-bukti yang seimbang semakin memperkuat hal itu.”

Dr Colin Summerhayes, dari Scott Polar Research Institute, Cambridge, Inggris, mengatakan, “Bukti yang menunjukkan berkurangnya lautan es membuat sebagian orang percaya bahwa pemanasan global telah berhenti. Sebenarnya itu tak pernah berhenti. Kendati terjadi perlambatan pemanasan permukaan sejak tahun 2000, namun es di Lautan Arktik telah hilang dengan cepat karena pemanasan pada kurun waktu tersebut.”

Mencairnya es memengarungi musim dingin di Eurasia karena lautan lepas lebih gelap daripada es dan menyerap lebih banyak panas. Hal tersebut kemudian akan menghangatkan udara di atasnya dan melemahkan angin di lapisan atas yang disebut ‘pusaran kutub’. Lebih lanjut, akan terjadi perubahan pada arus yang cepat dan berhenti di tempatnya. Tahanan ini akan menyebabkan udara beku mengarah ke selatan dari Arktik, dan karena ini terhenti, maka musim dingin yang parah bisa berlangsung lama.

Ahli iklim sejak lama telah memperingatkan bahwa pemanasan global bukan hanya memicu terjadinya perubahan temperatur secara bertahap dan lambat. Namun, pemanasan global memengarungi sistem iklim yang berujung pada peningkatan terjadinya peristiwa ekstrim.

Akibat pemanasan global, gelombang panas yang mematikan di Eropa dan Australia lebih sering terjadi dan dirasakan. Sementara frekuensi kejadian banjir berlipat ganda daripada frekuensinya sebelum tahun 2000.

“Rata-rata suhu global tahunan meningkat, namun distribusi temperatur lebih ekstrim dan menimbulkan dampak pada produksi pangan dunia.” Dikatakan oleh Prof Peter Wadhams dari Universitas Cambridge. “Seiring dengan mencairnya es, maka kita akan menghadapi iklim yang ekstrim ini terus berlangsung, bahkan akan lebih buruk lagi.”

Sumber tulisan dari sini

Perubahan Iklim: Delapan Dampak

PBB melaporkan, bahwa bencana, termasuk topan, banjir, dan gelombang panas meningkat lima kali lipat sejak tahun 1970-an.

Lupakan masa depan. Saat ini, bumi kita lima kali lebih berbahaya dan lebih rawan bencana daripada kondisinya pada tahun 1970-an. Hal ini terjadi akibat adanya peningkatan risiko akibat perubahan iklim, demikian hasil laporan terbaru dari Organisasi Meteorologi Dunia. Dekade pertama abad 21 menunjukkan sejumlah 3.496 bencana alam terjadi karena banjir, angin topan, kekeringan, dan gelombang panas. Jumlah itu mendekati lima kali lipat kejadian bencana yang dilaporkan pada tahun 1970, yaitu 743 kejadian dan semua itu berhubungan dengan kondisi cuaca yang terpengaruh oleh perubahan iklim. Perlu digarisbawahi, bencana alam yang terjadi kurang lebih lima kali lebih sering daripada yang terjadi pada 1970-an. Namun demikian, beberapa bencana seperti banjir dan angin topan memberikan ancaman lebih besar apabila dibandingkan jenis bencana yang lain. Banjir dan angin topan juga menimbulkan dampak yang lebih besar dalam bidang ekonomi, namun gelombang panas lebih banyak menimbulkan kematian.

1) Kita memerlukan kapal yang lebih besar atau perlindungan terhadap banjir

Disaster_Report_By_Decade
Jumlah bencana yang dilaporkan dalam satu dekade berdasarkan tipe bencana (1971-2010) Keterangan: Biru gelap: banjir; biru terang: gerakan massa; hijau: badai/topan; kuning: kekeringan; merah: temperatur ekstrem; orange: kebakaran lahan dan hutan.

Banjir dan topan besar memimpin jauh sebagai penyebab kejadian bencana selama periode 2000-2010. Sekitar 80% dari 3.496 bencana yang terjadi selama dekade terakhir disebabkan oleh dua jenis bencana tersebut. Permukaan laut naik karena perubahan iklim, begitu juga topan yang disertai hujan. Ada bukti tambahan, bahwa peningkatan temperatur berakibat pada meningkatnya badai.

2) Gelombang panas adalah pembunuh baru

Jumlah kematian yang dilaporkan dalam satu dekade berdasarkan tipe bencana (1971-2010) Keterangan: Biru gelap: banjir; biru terang: gerakan massa; hijau: badai/topan; kuning: kekeringan; merah: temperatur ekstrem; orange: kebakaran lahan dan hutan.
Jumlah kematian yang dilaporkan dalam satu dekade berdasarkan tipe bencana (1971-2010)
Keterangan: Biru gelap: banjir; biru terang: gerakan massa; hijau: badai/topan; kuning: kekeringan; merah: temperatur ekstrem; orange: kebakaran lahan dan hutan.

Mulanya, pada tahun 1970-an, gelombang panas tidak dikategorikan sebagai bencana. Namun, semenjak tahun 2010 jenis bencana ini menjadi penyebab utama kematian karena bencana alam bersama dengan angin topan. Di Rusia saja, lebih dari 55.000 orang meninggal dunia karena gelombang panas yang terjadi pada tahun 2010.

3) Penanganan banjir makin mahal

Jumlah kerugian ekonomi yang dilaporkan dalam satu dekade berdasarkan tipe bencana (1971-2010) dalam milliar dollar. Keterangan: Biru gelap: banjir; biru terang: gerakan massa; hijau: badai/topan; kuning: kekeringan; merah: temperatur ekstrem; orange: kebakaran lahan dan hutan.
Jumlah kerugian ekonomi yang dilaporkan dalam satu dekade berdasarkan tipe bencana (1971-2010) dalam milliar dollar.
Keterangan: Biru gelap: banjir; biru terang: gerakan massa; hijau: badai/topan; kuning: kekeringan; merah: temperatur ekstrem; orange: kebakaran lahan dan hutan.

Penanggulangan bencana lima kali lebih mahal pada tahun 2010 dibandingkan pada tahun 1970 dan sebagian besar disebabkan karena meningkatnya kerugian akibat bencana banjir. Biaya penanganan meningkat dari 505 milliar dollar menjadi 864 milliar dollar selama dekade terakhir.

4) Hampir semua bencana dari 8.835, sekitar 89%-nya dikarenakan banjir dan topan

Reported_number_disaster

5) Topan menjadi ancaman terbesar bagi kehidupan, dengan korban 1,45 juta dari 1,94 juta korban meninggal karena bencana secara global. Kekeringan menjadi penyebab kematian selanjutnya karena banyaknya korban yang meninggal selama kekeringan di Afrika pada medio 1980-an.

Death_by_disaster

6) Sekitar setengah dari 2390,7 milliar dollar biaya penanggulangan bencana selama 40 tahun terakhir digunakan untuk penanggulangan bencana topan Katrina dan badai super Sandy yang keduanya terjadi di Amerika Serikat.

Economic_lost_by_hazard_type

7) Kekeringan yang terjadi di Afrika Timur pada tahun 1970 dan 1980-an adalah pembunuh terbesar pada era modern, membunuh 600.000 orang di Ethiopia, Mozambique, Somalia, dan Sudan. Namun, di Bangladehs, pembunuh utamanya adalah Topan.

disaster_ranked_by_reported_death

8) Topan dan beberapa badai lainnya meningkatkan dampak pada perekonomian Amerika Serikat. Lima penanganan bencana paling mahal dari seluruh dunia berada di Amerika Serikat. Kelimanya disebabkan karena badai atau topan yang mengakibatkan kerugian 294 milliar dollar.

disaster_ranked_by_economic_losses

Sumber tulisan dari sini