2015 dan Rekor untuk Perubahan Iklim

Laju perubahan iklim pada tahun 2015 menunjukkan perkembangan yang menggelisahkan dan belum pernah diprediksi sebelumnya, demikian hasil penelitian dari WHO.

Beberapa indikator bahkan telah memecahkan rekor. Indikator tersebut di antaranya adalah: suhu global, curah hujan, kekeringan, aktivitas siklon, dan gelombang panas.

Berikut ini beberapa rekor perubahan iklim yang terjadi pada tahun 2015.

  1. 2015 menjadi tahun terpanas dengan temperatur rata-rata global berada pada posisi 0,76 derajat Celcius lebih tinggi dari pada rata-rata temperatur pada tahun 1961-1990. Hal ini terjadi karena perubahan iklim dan pengaruh El-Nino.
  2. Tingkat kandungan karbon dioksida meningkat 43% dibandingkan masa sebelum revolusi industri.
  3. Tinggi muka laut mencapai rekor tertinggi saat dihitung menggunakan alat pengukur tinggi gelombang dan satelit.
  4. Gelombang panas terjadi di berbagai tempat. Di Selatan India, negara bagian Telangana dan Andhra Pradesh saja gelombang panas menyebabkan 2.000 orang meninggal dunia.
  5. Curah hujan ekstrim terekam di berbagai lokasi. Di pantai barat Libya, terjadi curah hujan dalam sehari yang setara dengan curah hujan selama sebelas bulan dalam waktu normal. Sementara itu, di Maroko menerima curah hujan selama sejam yang setara dengan curah hujan selama 13 bulan.
  6. Afrika bagian selatan mengalami musim paling kering sejak periode 1932-1933. Di Indonesia musim kering ini memperhebat kebakaran hutan dan lahan.

Sumber berita: http://www.theguardian.com/environment/2016/mar/21/global-warming-taking-place-at-an-alarming-rate-un-climate-body-warns?CMP=share_btn_tw

Kerentanan Asia Tenggara Terhadap Perubahan Iklim

Saat ini perubahan iklim sedang terjadi di Asia Tenggara dan dampaknya akan semakin parah apabila tidak ditangani dengan bijak. Perubahan iklim dapat mengancam proses pembangunan serta program pengurangan kemiskinan. Sudah tidak ada waktu lagi untuk bersantai dalam menghadapi perubahan iklim.

Kawasan Asia Tenggara sangat rentan terhadap perubahan iklim karena di sini tinggal lebih dari setengah milyar manusia. Jumlah itu sebagian besar menempati wilayah pesisir. Panjang pantai di wilayah ini adalah 173.251 kilometer yang akan sangat terpengaruh naiknya muka air laut.

Warga yang tinggal di kawasan ini pun mengandalkan pertanian sebagai mata pencaharian. Pada tahun 2004 tercatat 43% tenaga kerja terserap di sector pertanian dan menyumbang 11% GDP pada tahun 2006. Sayangnya, sector ini sangat rentan pada bencana seperti kekeringan, banjir, dan juga siklon tropis yang semua itu terkait dengan perubahan iklim.

Negara-negara di Asia Tenggara juga sangat bergantung kepada sumber daya alam dan hasil hutan. Dua hal yang sangat mudah terpengaruh oleh perubahan iklim karena kejadian cuaca ekstrim dan kebakaran hutan dapat mengganggu pemanfaatannya.

Angka kemiskinan di wilayah ini pun masih tinggi dengan ditandai 93 juta (18,8%) warganya hidup di bawah garis kemiskinan ($1,25 per hari) pada tahun 2005. Sementara itu, warga miskin tersebut menjadi pihak yang paling rentan oleh pengaruh perubahan iklim.

Dampak perubahan iklim di Asia Tenggara di antaranya adalah:

  • Naiknya temperatur 0.1-0.3 C tiap decade antara tahun 1951-2000.
  • Curah hujan turun antara tahun 1960-2000
  • Nainya permukaan air laut antara 1-3 milimeter per tahun
  • Meningkatnya intensitas dan frekuensi gelombang panas, kekeringan, banjir, dan siklon tropis menyebabkan kerusakan pada property, aset, dan korban jiwa.

Laporan dari ADB menunjukkan bahwa wilayah ini akan terus terdampak perubahan iklim, bahkan semakin meningkat intensitasnya. Di kawasan ini dampak perubahan iklim lebih terasa dibandingkan kawasan-kawasan lain di dunia jika tidak ada upaya untuk mengatasi perubahan iklim tersebut.

Sumber:

Asian Development Bank 2009, Economic Climate Change South East Asia, Asian Development Bank, <http://www.adb.org/sites/default/files/publication/29657/economics-climate-change-se-asia.pdf>.

Perubahan Iklim: Krisis Pengungsi di Eropa

MacedoniaMigrants

Ratusan ribu imigran mencari perlindungan ke Eropa, namun ribuan lainnya akan mengikuti seiring ilklim yang kian panas.

Dilansir dari The Huffington Post Australia, Sekretaris Negara Amerika Serikat, John Kerry, menyampaikan peringatannya dalam konferensi perubahan iklim di Arctic. Kekacauan dan peristiwa yang memilukan di Eropa karena pengungsi akan kembali terulang jika dunia tidak Continue reading “Perubahan Iklim: Krisis Pengungsi di Eropa”

Perubahan Iklim: Kekeringan dan Konflik

17 Nov 2010, Ar Raqqah, Syria --- Sheikh Ghazi Rashad Hrimis touches dried earth in the parched region of Raqqa province in eastern Syria, November 11, 2010. Lack of rain and mismanagement of the land and water resources have forced up to half of million people to flee the region in one of Syria's largest internal migrations since France and Britain carved the country out of the former Ottoman Empire in 1920. REUTERS/Khaled al-Hariri (SYRIA - Tags: AGRICULTURE ENVIRONMENT) --- Image by © KHALED AL-HARIRI/Reuters/Corbis
17 Nov 2010, Ar Raqqah, Syria REUTERS/Khaled al-Hariri (SYRIA – Tags: AGRICULTURE ENVIRONMENT) — Image by © KHALED AL-HARIRI/Reuters/Corbis

Pada periode antara tahun 2006 sampai dengan tahun 2011, tercatat bencana kekeringan melanda hampir separuh Negara Suriah. Bencana kekeringan kali ini lebih parah dan berlangsung lebih lama. Peristiwa ini tidak bisa lagi dijelaskan dengan variasi alami dari cuaca. Ini adalah dampak dari perubahan iklim.

Kerugian yang ditimbulkan sungguh menyengsarakan karena hampir 85% ternak mati. Lahan pertanian Halaby yang dikenal karena produksi paprikanya pun Continue reading “Perubahan Iklim: Kekeringan dan Konflik”

Perubahan Iklim: Kolonialisme dan Kapitalisme

Oleh Naomi Klein

chimneys_fumes_cropped

Latar Belakang Masalah

Semua berawal pada masa kolonial dulu. Kala itu tidak ada pengakuan kepada pribumi. Para penjajah yang datang menganut paham ‘ras superiority’, ras merekalah yang paling hebat. Ini adalah dosa asal negara-negara maju dan mereka tak pernah belajar.

Kini beragam persoalan dihadapi oleh bangsa-bangsa di dunia, di antaranya adalah jumlah penduduk dunia yang terus meningkat dan juga rasisme. Selain itu, Continue reading “Perubahan Iklim: Kolonialisme dan Kapitalisme”

Kuliah: Erosi Tanah

mali-130109-003

Manakala Anda menebang pohon dan tidak menggantinya dengan tanaman yang baru, maka bisa mendatangkan bencana. Tanah yang tanpa pepohonan akan mudah longsor atau pun mengalami erosi.

Tanpa tanah kita tidak bisa menanam padi atau tanaman pangan lainnya, tanpa tanah kita tidak bisa memiliki bahan pangan.

Penebangan pohon juga menjadi awal dari proses penggurunan. Manakala itu terjadi, maka tanah akan tererosi, tanaman tidak tumbuh, dan hujan pun enggan turun. Kondisi ini yang kemudian menyebabkan perubahan iklim.

Perubahan iklim dengan demikian bukan terjadi karena pemanasan global saja, namun juga karena penebangan vegetasi.

Sumber gambar dari sini

Perubahan Iklim: Tanahku Negeriku

Oleh Vandana Shiva

Solusi bagi perubahan iklim berada pada tanah, namun tanah itu juga yang kita lupakan dan pendam di bawah paham ‘sementifikasi adalah kemajuan’.

Pada masa-masa rentan bagi evolusi manusia seperti saat ini, Hari Bumi, pada 22 April 2015, memberikan kesempatan kepada kita untuk melakukan refleksi bagaimana kondisi bumi dan juga manusia. Hari itu juga menjadi kesempatan untuk memperbarui janji kita sebagai bagian dari keluarga bumi-Vasudhaiv Kutumbukan.

Vasudhaiv Kutumbukan adalah satu pandangan hidup yang mencakup berbagai aliran paham, kebijakan, visi, dan nilai-nilai.

Ilmu pengetahuan telah membenarkan satu pandangan, bahwa hidup adalah jejaring yang saling terhubung. Dari tanah ke tanaman, dari serangga ke binatang, semua menunjukkan hidup adalah jejaring makanan. Taittiriya Upanishad–salah satu bagian Weda–mengenal hal ini sejak bertahun-tahun lampau dengan ujarannya, “Semua adalah makanan; makanan bagi yang lain.”

Upanishad tersebut juga mengatakan bahwa menumbuhkan dan memberikan makanan yang melimpah adalah dharma yang paling tinggi. Sementara itu, menumbuhkan dan memberikan makanan yang buruk adalah bentuk tertinggi dari adharma. Oleh karena itu, maka menumbuhkan dan memakan tanaman organik tanpa merusak tanah adalah tugas suci kita. Di sisi lain, menanam dan menikmati makanan yang terkontaminasi bahan kimia, pestisida, modifikasi genetis organisme atau makanan cepat saji merusak tata ekologi, kebudayaan, dan hukum kesehatan dan nutrisi.

Para petani kita sedang berada dalam tekanan. Petani yang bunuh diri adalah suatu tanda terjadinya sistem pertanian yang mengeksploitasi dengan memeras kesuburan tanah dan kemakmuran mereka. Globalisasi dan ekonomi neo liberal yang menempatkan hak perusahaan lebih tinggi daripada alam serta hak-hak manusia adalah akar dari berbagai persoalan yang terjadi pada petani.

Sejak tahun 1995, hampir 300.000 petani membunuh dirinya sendiri. Vidarbha adalah lokasi di mana keserakahan Monsanto, sebuah perusahaan bioteknologi pertanian telah menaikkan biaya benih lebih dari 700.000 persen sehingga banyak petani kapas yang bunuh diri. Di Bengal Bagian Barat, ada Pepsi. Petani kentang hanya menerima 0.20 rupee per kilogram kentang sementara para konsumen membayar 200 rupee dalam bentuk makanan ringan Lays. Para konsumen juga mesti membayar dengan kesehatan mereka karena penyakit yang disebabkan oleh makanan cepat saji.

Kekacauan iklim yang terjadi tahun ini juga telah menambah tekanan bagi petani dengan curah hujan yang tinggi serta badai di masa panen yang membabat habis tanaman mereka, mata pencaharian mereka. Bulan lalu, lebih dari 100 petani bunuh diri di Uttar Pradesh karena kerusakan tanaman.

Konsep yang mendalam bagi masyarakaat India adalah ‘rta’-jalan dharma–sebuah jalan yang mengupayakan urutan yang benar berdasarkan mata pencaharian yang benar pula. Dari ‘rta’ menjadi ‘ritu’ sebuah pola yang stabil pada cuaca dan iklim. Manakala kita mengadopsi kebijakan dan gaya hidup yang menentang dengan hukum bumi berdasarkan anrita (ketidakteraturan penciptaan), maka akan membuahkan in ritu asantulan (ketidakteraturan iklim).

Dalam buku saya, Soil not Oil (2007), saya menilai bahwa lebih dari 40 persen gas rumah kaca penyebab perubahan iklim adalah hasil dari kontribusi bidang industri dan pertanian global. Sistem monokultur kimiawi yang dipakai juga lebih rentan gagal apabila harus menghadapi kekeringan yang panjang, banjir, atau hujan yang tak menentu.

Di sisi lain, pertanian organik mengurangi emisi dan juga membuat sistem pertanian yang lebih tahan menghadapi perubahan iklim. Penelitian Navdanya menunjukkan bahwa pertanian organik meningkatkan penyerapan karbon hingga 55 persen. Kajian internasional juga menunjukkan bahwa dengan dua ton per hektar tanah organik, kita dapat mengurangi 10 gigaton karbondioksida dari atmosfer, yang berarti juga mengurangi polusi atmosfer hingga 350 bagian per sejuta.

Kenaikan satu persen pada tanah organik dapat meningkatkan kapasitas menahan air hingga 100.000 liter per hektar, sementara bila lima persen, maka bisa meningkatkan kapasitas tahanan air hingga 800.000 liter. Ini adalah jaminan kita dalam melawan perubahan iklim, baik itu pada saat kekeringan dan sedikit hujan, serta manakala terjadi banjir dan hujan berlebih. Sementara itu, di sisi lain, untuk semen dan beton akan meningkatkan aliran permukaan, memperhebat terjadinya banjir dan juga kekeringan. Kami menyaksikan terjadinya hal ini saat banjir pada tahun 2013 di Uttarakhand dan di Kashmir pada tahun 2014.

Pada tanah yang sehat tersedia solusi bagi perubahan iklim, yaitu melalui mitigasi dan adaptasi. Namun, tanah itu juga yang kita lupakan dan pendam di bawah paham ‘sementifikasi adalah kemajuan’.

Ibu Bumi telah berkorban untuk pertumbuhan jangka pendek demi keserakahan segelintir manusia.

Sekitar 4.000 tahun yang lalu, dalam Weda telah mengajarkan kepada kita, “Dalam segenggam tanah ini kelanjutan hidup kita bergantung. Jagalah, maka dia akan menumbuhkan pangan, bahan bakar, tempat tinggal, dan melingkupi kita dengan keindahan. Rusaklah, maka tanah akan rusak dan mati, membawa serta kehidupan manusia bersamanya.”

Peraturan Pemilikan Tanah telah merendahkan tanah menjadi komoditas, merusak tatanan kebudayaan bahwa tanah adalah suci dan telah menyokong kita selama bertahun-tahun. Adalah kebutaan bila tak mampu melihat peran tanah yang sehat pada fungsi ekologis dan juga pelayanan pada kehidupan. Sayang, dalam skala global, kerusakan yang terjadi setara dengan sekitar 20 dollar triliun per tahun.

Dalam Isha Upanishad dikatakan dengan jelas bahwa semesta ini adalah suci dan untuk keuntungan semua makhluk. Oleh karena itu, setiap mereka yang mengambil lebih dari yang seharusnya adalah pencuri. Mahatma Gandhi, mengambil kebijaksanaan ini dalam ujarannya yang terkenal, “Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua, namun tak pernah dapat mencukupi keserakahan seseorang.”

Mereka yang mendukung peraturan kepemilikan tanah mengharapkan para petani kecil itu hilang dan memberi jalan bagi perusahaan pertanian yang berbasis kimia serta modifikasi genetika.

Studi dari PBB dan hasil pekerjaan dari Navdanya menunjukkan, pertanian kecil memproduksi lebih banyak pangan daripada industri pertanian besar. Nutrisi per hektar berlibat ganda serta pendapatan masyarakat pedesaan meningkat hingga 10 kali lipat melalui pertanian organik.

Solusi bagi kemiskinan, krisis agraria, kesehatan dan kurang gizi adalah sama, merawat tanah dan juga petani yang peduli pada tanah dan kesehatan kita.

Sistem ekonomi yang mengganggu hak-hak Bumi juga mengancam hak-hak manusia karena kita tak terpisahkan dari bumi. Kita semua adalah anggota dari Vasudhaiv Kutumbukan. Kita memerlukan perjanjian baru dengan bumi sebagai bagian keluarga, janji untuk menciptakan perekonomian baru yang tidak merusak dan Demokrasi Bumi di mana kontribusi dan hak dari spesies terakhir juga manusia terakhir pada bumi juga diperhitungkan.

Vandana Shiva adalah seorang filosof, aktivis lingkungan, dan eko-feminis. Shiva saat ini berbasis di Delhi, telah menulis lebih dari 20 buku dan 500 artikel pada jurnal keilmuan dan teknis terkemuka. Latar belakang pendidikan beliau adalah fisika dan menerima gelar doktoralnya dalam bidang fisika dari University of Western Ontario, Canada. Beliau menerima anugerah ‘Right Livelihood Award’ pada tahun 1993. Beliau juga pendiri Navdanya di http://www.navdanya.org.

Tulisan asli bisa dibaca di sini: http://www.countercurrents.org/shiva230415.htm

Perubahan Iklim: Dampak dan Diskriminasi pada Wanita

Di antara dampak perubahan iklim, mulai dari peningkatan muka air laut, tanah longsor, dan banjir; ada satu hal yang dilupakan yaitu terjadinya perbedaan perlakuan, terutama pada wanita.

Hal tersebut terutama terjadi di negara miskin, hidup wanita biasanya bergantung pada lingkungan alami di sekitarnya.

Wanita bertanggung jawab untuk menyediakan air dan kayu bakar untuk memasak dan penghangat ruangan, serta dalam bidang pertanian untuk menghasilkan pangan. Kekeringan, hujan yang tidak menentu dan penggundulan hutan membuat pekerjaan ini memakan banyak waktu dan sulit, sehingga mengganggu pekerjaan wanita dalam melakukan mata pencahariannya, belajar hal baru, mendapatkan pemasukan, serta berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Namun, peran wanita yang membuatnya rentan dalam menghadapi kondisi lingkungan, pada saat yang sama menjadikan mereka sebagai aktor kunci untuk menuju pembangunan yang berkelanjutan. Pengetahuan dan pengalaman mereka dapat membuat manajement sumber daya alam, adaptasi perubahan iklim, dan strategi mitigasi di semua level akan lebih sukses.

Contoh nyata terjadinya hal ini adalah apa yang terjadi di Ecuadorian Amazon, di mana asosiasi wanita Waorini mempromosikan pengolahan cokelat secara organik sebagai upaya perlindungan suakamargasatwa serta sebagai jalan untuk mendukung pembangunan lokal yang berkelanjutan.

Dengan dukungan dari UNDP, asosiasi wanita tersebut dapat mengelola lahannya secara bersama-sama dan bekerja untuk mencapai angka ‘nol’ penggundulan hutan, perlindungan pada species suakamargasatwa yang rentan dan sertifikasi produksi cokelat organik.

Dalam prosesnya, wanita membangun ketangguhan komunitasnya dengan melakukan investasi keuntungan dari bisnis cokelat ke pendidikan lokal, kesehatan, dan infrastruktur, mereka mengarahkan perekonomian lokal dari yang semula pembersihan lahan serta pasar hewan liar ilegal.

Wanita pribumi di Mexico juga mengarahkan pada pembangunan yang berkelanjutan. Di sana, UNDP mendukung Koolel-Kab/Muuchkambal, sebuah sistem pertanian organik dan agroforestry. Sistem ini diprakarsai oleh para wanita suku Mayan yang bekerja untuk konservasi hutan, kampanye hak-hak penduduk pribumi, serta strategi pengurangan risiko bencana di level komunitas.

Asosiasi yang meliputi komunitas seluas 5000 hektar, mendorong kebijakan publik untuk menghentikan penggundulan hutan dan mendorong upaya alternatif sebagai modal bagi pertanian komersil. Selain itu, aktivitas ini juga membagi model pembiakan lebah kepada lebih dari dua puluh komunitas. Upaya ini menyediakan alternatif perekonomian dari pembalakan liar.

Pemberdayaan wanita menjadi langkah yang paling efektif untuk menghadapi perubahan iklim. Suksesnya aksi perubahan iklim bergantung pada peningkatan peran dan suara wanita, memastikan bahwa pengalaman dan pandangannya didengar pada meja-meja pengambil keputusan serta mendorong mereka untuk menjadi pemimpin dalam gerakan adaptasi iklim.

Dengan mempertimbangkan aspek gender dan pemberdayaan perempuan sebagai satu hal yang secara sistematis dimasukkan dalam merespon isu lingkungan dan perubahan iklim, maka para pemimpin dunia yang terlibat dalam Konferensi Perubahan Iklim di Peru diharapkan dapat mengurangi alih-alih memperhebat kesenjangan perlakuan kepada wanita serta memastikan dapat dilakukannya pembangunan yang berkelanjutan.

Sumber tulisan dari sini

Perubahan Iklim: Pembangunan dengan Green Growth

Benua Asia dikenal dengan keanekaragaman hayatinya dan juga berbagai jenis sumber daya alam. Hanya saja, di sisi lain, benua ini juga menghadapi peningkatan populasi, kelangkaan beberapa sumber daya alam, ketahanan energi dan pangan, serta berbagai bencana alam yang makin parah karena pengaruh terjadinya perubahan iklim.

Dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut, Asia perlu menerapkan sistem pertumbuhan ekonomi yang baru. Sebuah sistem yang dapat mempercepat pembangunan, mengurangi kemiskinan, serta menyediakan kualitas kehidupan yang tinggi.

Sistem ekonomi yang dimaksud adalah Green Growth (pertumbuhan hijau). Penerapan sistem ini diharapkan dapat mengurangi pelepasan karbon akibat polusi, pelibatan berbagai lapisan sosial dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya. Green Growth dapat dicapai dengan menerapkan kebijakan yang tepat, berbagi pengetahuan, dan juga pemberian insentif. Selain itu, penerapan sistem ini juga mempertimbangkan strategi pembangunan yang rendah polusi.

Segala hal tersebut hendaknya tertuang dalam Kerangka Kerja Pembangunan Nasional, yang terdiri dari analisis persoalan, perencanaan, dan pelaksanaan. Analisis yang dilakukan bukan hanya melakukan identifikasi masalah, namun juga dengan melihat kekuatan yang tersembunyi pun tantangan lain yang mungkin akan dihadapi. Dalam pelaksanaannya, kerangka kerja pembangunan nasional mencakup peningkatan efisiensi, pengurangan efek rumah kaca, pertumbuhan ekonomi, serta peningkatan ketangguhan dalam menghadapi perubahan iklim.

Aplikasi Pembanguan Hijau

Sektor Kehutanan
Sektor ini harus dapat menjamin terlaksananya pembangunan yang berkelanjutan. Bidang kehutanan juga menjadi salah satu sarana untuk penyimpanan karbon akibat polusi. Pembangunan di bidang ini juga hendaknya menjaga keanekaragaman hayati, menjaga tata guna air, dan mengurangi erosi tanah yang terjadi.

Beberapa tindakan yang harus segera diambil adalah dengan melakukan perlindungan pada hutan, merestorasi hutan yang rusak, menghentikan pembalakan liar dan pembersihan hutan serta dengan mempromosikan manajemen yang berkelanjutan.

Sektor Pertanian
Sektor ini sangat penting mengingat tantangan pertambahan populasi di masa mendatang akan sangat memengaruhi. Dengan demikian, maka pembangunan hijau pada sektor ini harus mempertimbangkan ketahanan pangan untuk jangka panjang guna memenuhi kebutuhan pangan penduduk. Selanjutnya, bidang ini juga diharapkan dapat membantu untuk mengurangi kemiskinan. Salah satu metode yang dapat ditempuh adalah dengan menanam varietas tanaman pertanian yang dapat tumbuh pada kondisi ekstrem seperti pada daerah yang mengalami kekeringan atau di lahan banjir.

Pembangunan sektor pertanian sebisa mungkin dilakukan dengan pertimbangan dapat menghindari potensi kehilangan (losses) hasil produk pertanian. Selain itu, segala upaya di bidang ini dilakukan untuk menambah pendapatan bagi petani. Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan investasi dan promosi pertanian organik. Khusus untuk industri pertanian, maka upaya yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian ‘Green Labels’ atau Label Hijau. Lebih lanjut lagi, pengembangan sektor pertanian dapat juga dilakukan dengan memasukkannya sebagai bagian dari sektor pariwisata dengan program khusus seperti Ecotourism. Semua hal tersebut, nantinya akan menjadi ‘Green Jobs’.

Sektor pertanian dibangun dengan mempertimbangkan perlindungan pada ekosistem yang penting. Di antara ekosistem yang harus diperhatikan adalah pollinator (penyebaran benih oleh hewan) dan kejernihan air yang terjaga.

Sektor Energi
Seperti halnya sektor pertanian, energi memainkan peran yang sangat vital seiring dengan pertambahan polusi yang terjadi. Pembangunan dalam bidang ini hendaknya didukung dengan berbagai kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Pemanfaatan energi juga sebisa mungkin memperhatikan efisiensi. Sektor ini juga perlu dukungan pendanaan melalui investasi dan pengembangan teknologi melalui inovasi-inovasi.

Kendati demikian, sektor energi diharapkan dapat memberikan keuntungan dan ketahanan energi pada masa yang akan datang. Langkah yang dapat ditempuh di bidang energi adalah dengan melakukan penelitian mengenai sumber-sumber energi mikro dan peningkatan energi akses bagi semua lapisan masyarakat.

Sektor Transportasi
Fokus utama pembangunan hijau pada sektor transportasi adalah mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas dan polusi udara. Selain itu, sektor ini juga diharapkan dapat membantu mengurangi tingkat kemiskinan. Metode yang dapat ditempuh adalah dengan promosi penggunaan moda transportasi massal. Selain itu, hendaknya sektor transportasi juga mempertimbangkan efisiensi pemanfaatan bahan bakar minyak dan mendorong pemakaian kendaraan berbahan bakar listrik.

Pengambil kebijakan dapat mendorong terwujudnya standard polusi bagi kendaraan yang lalu-lalang di jalanan. Hal lain yang dapat ditempuh adalah dengan melakukan kampanye transportasi hijau, misalnya dengan penggunaan sepeda atau jalan kaki. Pada akhirnya, pembangunan sektor ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja hijau.

Akhirnya, pembangunan hijau sebisa mungkin adalah pembangunan yang pintar atau ‘smart development’. Jenis pembangunan ini dilakukan dengan melibatkan semua pihak termasuk pemerintah, swasta/bisnis, kelompok masyarakat dan individu-individu. Setiap orang harus mengetahui apa peran masing-masing….

Dalam sistem pembangunan hijau ini, apa peran Anda?

Lebih jauh tentang ‘Green Growth’ dapat dilihat di: www.asialeds.org
Tulisan ini dapat dilihat penjelasannya dalam bentuk video di sini

Perubahan Iklim: Pengaruh Bahan Bakar Kotor

Laporan dari PBB mengenai pembatasan perubahan iklim mengungkapkan bahwa masyarakat dunia harus segera berpindah dari penggunaan bahan bakar yang memicu karbon. Dalam laporan yang diluncurkan di Berlin tersebut, dikatakan bahwa perubahan secara besar-besaran ke energi terbarukan harus dilakukan. Laporan tersebut adalah hasil negosiasi antara ilmuwan dan para pejabat di pemerintahan. Laporan tersebut adalah hasil kerja IPCC, yang mencoba menyediakan bukti-bukti mengenai dampak dari perubahan iklim.

Gas alam dipandang sebagai sumber baru yang dapat menggantikan minyak bumi dan batu bara. Namun, terdapat perdebatan di antara peserta mengenai siapa yang akan mengeluarkan anggaran untuk perubahan sumber energi tersebut.

Ringkasan untuk para pengambil kebijakan memberikan gambaran tentang dunia yang mengalami peningkatan pelepasan karbon secara cepat. “Kereta mitigasi yang berkecepatan tinggi harus segera meninggalkan stasiun dan semua warga dunia harus berada di dalamnya.” Demikian dikatakan ketua IPCC Rajendra Pachauri kepada wartawan di Berlin pada saat peluncuran laporan tersebut.

Dr Youba Sokono sebagai wakil ketua IPCC untuk kelompok kerja ke tiga yang menyusun laporan mengatakan bahwa ilmu pengetahuan telah membuktikan dampak perubahan iklim. Beliau menambahkan, bahwa pengambil kebijakan sebagai ‘the navigator’ mereka harus mengambil keputusan, sementara para ilmuwan adalah pembuat petanya.

Sekretaris Badan Energi dan Perubahan Iklim Inggris, Ed Davey mengatakan, bahwa pemanasan global harus diantisipasi menggunakan semua teknologi. Dia menyampaikan kepada BBC News, “Kita dapat melakukannya, kita harus melakukannya karena ini adalah tantangan dan sangat mengancam kehidupan ekonomi dan sosial, kesehatan kita dan juga ketahanan pangan. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa kita bisa menghadapinya apabila kita punya kemauan.”

Beliau menambahkan, bahwa pemerintah Inggris adalah perintis penggunaan energi terbarukan. “Kita sudah meningkatkan listrik dengan energi terbarukan sebanyak dua kali lipat dalam beberapa tahun terakhir. Sepertinya kita sudah melampaui target dalam peningkatan jumlah listrik yang menggunakan energi terbarukan. Namun, kita harus terus meningkatkannya.”

Dari jumlah karbon yang ada di atmosfer sejak 1750, setengah di antaranya baru dihasilkan dalam empat puluh tahun terakhir. Angka karbon di atmosfer tersebut meningkat cepat sejak tahun 2000 meskipun saat itu terjadi krisis ekonomi global.

Laporan IPCC menyoroti peningkatan penggunaan batu bara dalam satu dekade sejak perubahan millenium sebagai ” kebalikan tren yang sudah lama terjadi mengenai pengurangan karbon sebagai penyedia energi dunia.”

Diawali dari peningkatan populasi dunia dan aktivitas ekonomi, suhu permukaan global meningkat antara 3,7 sampai 4,8 derajat celcius pada tahun 2100 bila tidak ada upaya baru yang dilakukan. Jumlah tersebut adalah dua derajat lebih tinggi dari titik di mana pengaruh perubahan iklim akan terasa. Namun, para peneliti yang terlibat dalam laporan mengatakan bahwa situasi tersebut dapat berubah.

“Perlu perubahan yang mendasar di sektor energi, hal tersebut tak terbantahkan lagi.” Demikian dikatakan oleh Prof. Jim Skea, salah seorang wakil dari kelompok kerja 3. “Satu hal yang sangat penting adalah mengeluarkan karbon sebagai sumber listrik, sehingga energi terbarukan, nuklir, bahan bakar fosil dengan kandungan karbon yang disimpan, semua hal tersebut adalah bagian dari sumber energi yang memungkinkan terjadinya perubahan, sehingga pemanasan yang terjadi masih di bawah dua derajat celcius.”

Hal tersebut bukanlah sebuah usaha yang sederhana. Guna menjaga agar perubahan iklim tetap berada di bawah dua derajat, jumlah karbon di udara harus berkisar antara 450 bagian per sejuta pada tahun 2100. Agar angka tersebut tercapai, maka emisi pada 2050 haruslah antara 40-70% lebih rendah daripada emisi di tahun 2010.

Laporan IPCC mengungkapkan bahwa bahan bakar terbarukan adalah bagian yang paling penting. Semenjak laporan terakhir pada tahun 2007, para ilmuwan mengatakan bahwa energi terbarukan penggunaannya telah meningkat dengan pesat.

Pada tahun 2012, energi terbarukan menyumbang lebih dari setengah dari total listrik yang dihasilkan di seluruh dunia. Para ilmuwan menekankan bahwa energi terbarukan lebih ekonomis dibandingkan energi berbahan bakar fosil, serta menawarkan berbagai keuntungan, termasuk udara yang bersih dan keamanan.

“Hal ini benar-benar akan menjadi akhir dari era sumber energi karbon.” Demikian dikatakan Jennifer Morgan dari World Resources Institute, yang menjadi salah seoran editor dari satu bab di laporan IPCC. “Perlu ada perubahan yang drastis dan secepatnya dari energi berbahan dasar fosil menjadi 100% energi bersih.”

Prof. Ottmar Edenhofer, wakil ketua dari kelompok kerja 3, mengatakan, “Mitigasi bukan berarti dunia harus mengorbankan pertumbuhan ekonomi.” Beliau menjabarkan, bahwa laporan IPCC menginformasikan mengenai ‘harapan sederhana’, namun beliau menambahkan, “Kebijakan iklim bukanlah makan siang gratis.”

Salah satu dukungan yang cukup mencengangkan dalama laporan adalah pada gas alam. “Emisi dari penyediaan energi dapat dikurangi secara signifikan dengan mengganti pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dengan kombinasi gas alam yang lebih modern dan efisien.” Demikian dikatakan dalam laporan.

Laporan tersebut juga menyinggung peran gas alam sebagai ‘jembatan’ teknologi seiring dengan meningkatnya pembangunannya sebelum mencapai puncak dan kemudian jatuh di bawah level saat ini pada tahun 2050. Namun, banyak skenario yang dinilai oleh panel masih mencantumkan ‘kekurangan’ dari rentang target.

Guna mengatasi hal tersebut, dunia perlu kiranya untuk menghapus karbon dari atmosfer. Kombinasi pengikatan dan penyimpanan karbon dengan bioenergi dipandang sebagai salah satu solusi yang potensial, namun hal ini kurang disambut antusias dalam laporan. Di dalamnya, upaya ini dianggap belum meyakinkan dan berasosiasi dengan risiko.

Waktu adalah segalanya, demikian dikatakan oleh para ilmuwan.

“Penundaan upaya mitigasi saat ini sampai dengan tahun 2030 diperkirakan akan meningkatkan secara drastis kesulitan untuk perpindahan ke emisi jangka panjang yang lebih rendah.” Demikian ditulis dalam rangkuman laporan.

“Jika kita menunda, maka kita akan menghadapi pilihan yang lebih sulit.” Dikatakan, Prof, Skea. “Apa kita akan menyerah dengan target dua derajat atau apakah kita akan menggunakan teknik-teknik yang dapat menyerap CO2 dari atmosfer? Jika kita mengantisipasi lebih awal dan tercapai kesepakatan di Paris tahun depan, maka harapan pada ide ini haruslah dikurangi.”

Dikatakan dalam laporan tersebut, perlu ada perubahan yang mendasar dalam investasi jika dampak yang lebih buruk dari peningkatan temperatur ingin dihindari. Investasi dalam energi terbarukan dan sumber energi yang rendah karbon lainnya perlu ditingkatkan tiga kali lipat dalam pertengahan abad, sementara arus uang untuk bahan bakar fosil haruslah dihilangkan.

Namun, perdebatan muncul pada siapa yang harus memangkas emisi dan siapa yang harus membayar guna perubahan kepada sumber energi rendah karbon. Negara maju dan berkembang bertentangan dalam hal ini di Berlin, perbedaan pandangan ini kemudian berlanjut dalam negosiasi di UN.

“Dinamika yang terjadi dalam negosiasi UNFCC juga dapat dengan mudah disaksikan di sini.” Dikatakan Kaisa Kosenan dari Greenpeace. “Hal tersebut mengindikasikan sebuah pertanyaan kunci mengenai keadilan, siapa yang harus melakukan sesuatu dan siapa yang harus membayar kerusakan yang sudah terlanjur terjadi.”

Peserta yang lain mempercayai, bahwa laporan baru ini dapat mendorong proses di UN lebih jauh lagi. “Saya berharap bahwa informasi dari IPCC ini dapat sedikit mengubah pola kerjasama antar negara daripada pola saling tunjuk di antara mereka. Ada terlalu banyak hal yang dipertaruhkan.” Kata Jennifer Morgan.

Sumber tulisan dari sini