Penanggulangan Bencana: Apa yang Perlu Dilakukan Saat Banjir?

Berikut beberapa hal yang harus dilakukan manakala terjadi banjir:

  1. Matikan aliran listrik di dlm rumah atau hubungi PLN utk mematikan aliran listrik di wilayah yg terkena bencana.
  2. Mengungsi ke daerah aman sedini mungkin saat genangan air masih memungkinkan utk diseberangi.
  3. Hindari berjalan di dekat saluran air utk menghindari terseret arus banjir.
  4. Segera amankan barang2 berharga dan penting dari genangan.
  5. Jika air terus meninggi, hubungi instansi yg terkait dgn penanggulangan bencana.

Selanjutnya, apabila air telah surut, hendaknya korban banjir yang rumahnya tergenang melakukan beberapa hal berikut:

  1. Secepatnya membersihkan rumah dari lumpur, gunakanlah antiseptik untuk membunuh kuman penyakit.
  2. Siapkan air bersih untuk menghindari diare yang kerap melanda pasca banjir.

Ke depan, perlu dilakukan upaya untuk mencegah banjir, misalnya dengan menjaga kebersihan lingkungan, menanam pohon di sepanjang aliran sungai, membersihkan saluran air secara berkala.

Semua pihak harus terlibat dalam upaya mengurangi dampak banjir. Pengambil kebijakan, masyarakat, dunia usaha, memiliki perannya masing-masing. Dampak banjir dapat dikurangi dengan beberapa langkah berikut:

  1. Penataan daerah aliran sungai secara terpadu dan sesuai fungsi lahan.
  2. Pembangunan sistem pemantauan dan peringatan dini pada bagian sungai yang sering menimbulkan banjir.
  3. Tidak membangun rumah dan permukiman di bantaran sungai serta daerah rawan banjir.
  4. Tidak membuang sampah ke dalam sungai. Mengadakan program pengerukan sungai.
  5. Pemasangan pompa untuk daerah yang lebih rendah dari permukaan laut.
  6. Program penghijauan daerah hulu sungai harus selalu dilaksanakan serta mengurangi aktivitas di bagian sungai rawan banjir.

Demikian beberapa langkah yang bisa dilakukan saat terjadi banjir, setelah banjir melanda, dan upaya pencegahannya.

Artikel ini oleh BNPB telah diringkas menjadi sebuah leaflet yang dapat diakses pada tautan berikut: http://bnpb.go.id/uploads/pubs/482.jpg dan http://bnpb.go.id/uploads/pubs/484.jpg .

Beberapa upaya juga telah di-twit-kan secara berseri menggunakan hastag/tagar #banjir. Silakan follow @BNPB_Indonesia untuk mengetahui informasi kebencanaan di Indonesia.

Terima kasih.

Penanggulangan Bencana: Analisis Gempa Maluku

Berkaitan dengan gempa berkekuatan 7,4 SR di barat laut Maluku Tenggara Barat pada Senin malam pukul 23.53, ahli gempa ITB, Irwan Meilano, mengatakan, mekanisme gempa kali ini adalah sesar naik miring. Gempa terjadi di timur Laut Banda, di mana konvergensi dari lempeng Australia terdistribusi pada busur belakang dan Laut Banda.

Menurut ahli dari BPPT, Widjo Kongko, kekuatan gempa itu sekitar 50 kali bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang. Berdasarkan perkiraannya, jenis patahan yang ada bukan sesar naik atau turun, melainkan sesar geser dan agak miring. Bidang patahan yang tebentuk panjang, mencapai 65×15 km dan dislokasi sekitar 2 meter.

Terjadi dinamika geologi yang kompleks di kawasan timur Indonesia. Lempeng Australia menumbuk dari selatan berkecepatan 7,5 cm per tahun. Dari sisi timur, Papua, pergerakan lempeng ke arah barat 9 cm per tahun.

Dalam 100 tahun terakhir, setidaknya ada 11 gempa bermagnitudo di atas 8 terjadi di sana. Di antaranya tahun 1904 (magnitudo 8,4), tahun 1916 (8,1), tahun 1932 (8,3), tahun 1938 (8,6), tahun 1950 (8,1), tahun 1963 (8,2), tahun 1971 (8,1), dan tahun 1979 (8,1).

Selain pergerakan lempeng, kontur di darat dan laut yang sangat curam juga memungkinkan terjadinya longsor. Apabila longsor terjadi di laut, maka bisa menimbulkan tsunami. Pada 1899 pernah terjadi longsor di Laut Seram yang dipicu gempa berkekuatan 7,8 SR. Kala itu, tsunami yang terbentuk setinggi 12 meter dan berakibat hilangnya Negeri (Desa) Elpaputih, dan menewaskan 3.000 orang.

Tulisan ini adalah rangkuman dari artikel di Koran Kompas, 12 Desember 2012, yang berjudul ‘Gempa Maluku, Peringatan untuk Indonesia Timur’.

Penanggulangan Bencana: Peran Bakau dan Api-api

Keberadaan Karimunting, sebuah desa di pesisir Kalimantan Barat, sempat terancam oleh abrasi yang lajunya amat tinggi. Berbagai pihak bahu-membahu membuat benteng hidup melalui penanaman mangrove di sepanjang pesisir pantai desa itu.

Keresahan penduduk Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, terhadap baya abrasi terasa sejak tahun 2005. Sejumlah warga memperkirakan, laju abrasi berkisar 30-50 meter dalam lima tahun pada waktu itu. Dampak abrasi makin terasa karena sebagian wilayah pesisir Kalbar biasanya mengalami pasang dan surut yang ekstrem.

Untuk menghentikan laju abrasi, warga menanam mangrove berjenis bakau dan api-api di sepanjang pesisir Desa Karimunting tahun 2006. Sepanjang 2006-2008, masyarakat Karimunting berusaha mencari cara mempertahankan wilayah mereka dari ancaman abrasi. Namun, upaya itu selalu terhadang ombak besar saat pasang.

Ancaman abrasi tak hanya pada wilayah budidaya dan permukiman penduduk, tetapi juga jalan raya yang menjadi akses utama dari Kota Pontianak ke Kota Singkawang. Tahun 2008, proyek pemasangan beton pemecah ombak di sepanjang pesisir Kalbar bagian utara akhirnya sampai di Kecamatan Sungai Raya Kepulauan. Beberapa bulan setelah beton pemecah ombak terpasang, warga Karimunting mendapat dukungan dari sejumlah lembaga untuk memulai lagi penanaman mangrove.

Kini kemungkinan bakau dan api-api bisa hidup dan tumbuh sangat besar karena pada masa awal pertumbuhan, tanaman tak terganggu ombak. Selain ikut menanam, masyarakat juga diminta untuk memelihara dan menjaga tanaman itu.

Beberapa lembaga yang terlibat dalam penanaman bakau dan api-api di Karimunting, antara lain: WWF Indonesia Program Kalbar, LSM Pemuda Peduli Lingkungan, Sakawana, dan Direktorat Polisi Perairan Polda Kalbar.

Penanaman mangrove bukanlah hal yang mudah. Setelah mangrove ditanam, tahap yang sering dilupakan adalah pemeriksaan tanaman dan penyulaman jika ada tanaman yang mati.

Keterlibatan banyak lembaga dan peran aktif masyarakat memelihara mangrove berdampak baik di Karimunting. Mangrove bisa hidup dan tumbuh subur. Setelah tanaman bakau mulai hidup, tanaman api-api yang juga memiliki fungsi sama untuk menahan abrasi dan angin laut bisa tumbuh sendiri. Setelah tiga tahun, warga Desa Karimunting merasakan manfaat penanaman mangrove itu.

Tanaman bakau dan api-api di sepanjang pesisir Karimunting saat ini sudah setinggi 2-4 meter. Tanamannya juga sangat rapat sehingga permukiman penduduk terhindar dari embusan angin laut yang panas. Ada sekitar 5.000 penduduk tinggal di Karimunting. Ada tiga kampung yang permukimannya langsung berbatasan dengan pesisir, yakni Tengah Karimunting, Sinjun, dan Batu Payung.

Keberhasilan penanaman mangrove di Karimunting tidak saja mampu menyelamatkan kawasan permukiman penduduk dan jalan serta menahan angin laut dan abrasi. Masyarakat setempat bahkan mendapat manfaat ganda karena kawasan mangrove dan api-api jadi habitat biota laut berupa tungkuyung api-api.

Tulisan ini adalah rangkuman dari berita di Koran Kompas, 07 September 2012, berjudul ‘Benteng Hidup untuk Karimunting’