Penanggulangan Bencana: Pengumpulan Data Bencana

Setelah gempa berkekuatan 7,8 SR menghantam Nepal pada Sabtu, 25 April 2015 pukul 11.56, sepasukan relawan bergerak dan bekerja sebagai bagian dari upaya bantuan. Relawan tersebut tidak berada di Nepal, tak juga mereka dalam perjalanan ke negeri di mana 8.583 orang terbunuh. Mereka adalah para relawan dari seluruh dunia yang menganalisis citra satelit dan berbagai data lain. Mereka membuat peta baru untuk membantu berbagai lembaga bantuan dengan informasi yang disusun bersama-sama.

Sampai beberapa tahun yang lalu, kerja bersama (crowdsourced) untuk merespon satu bencana dilakukan secara informal, tidak terkoordinir dan serampangan. Sekarang, crowdsourced sudah digunakan oleh lembaga kemanusiaan dan menjadi bagian dalam operasi bantuan. Hal tersebut dilakukan sebagai respon terhadap membeludaknya informasi yang diperoleh dari masyarakat terdampak pasca terjadinya suatu krisis atau bencana.

Jika gempa pada 25 April terjadi 10 atau bahkan lima tahun yang lalu, upaya tanggap darurat akan sangat berbeda. Saat itu, salah satu hambatan terbesar yang dihadapi oleh lembaga kemanusiaan adalah kurangnya informasi. Manakala bencana terjadi, tidak ada gambaran jumlah orang yang terdampak, seberapa parah, dan di mana lokasi mereka sampai dengan beberapa hari bahkan minggu kemudian.

Kini, ribuan orang di Nepal memiliki telepon genggam seiring dengan perkembangan jaringan telekomunikasi dan layanan internet di negeri tersebut. Berdasarkan data dari otoritas telekomunikasi di Nepal, pada tahun 2014 86 persen dari 28 juta penduduk Nepal memiliki telepon dan 30 persen di antara mereka memiliki akses internet.

Gangguan
Setelah gempa, terjadi gangguan pada layanan internet, data dari penyedia layanan menunjukkan lalu lintas data mengalami penurunan tajam dan bagi perusahaan layanan kecil jaringannya mati total. Di sisi lain, jaringan telepon tetap berfungsi, hampir 90 persen jaringan telepon mobile meskipun terjadi kepadatan namun masih tetap berfungsi.

Bersamaan dengan itu, hanya beberapa saat setelah goncangan berhenti, terjadi banjir pesan dan foto yang diunggah di Twitter dan Facebook melalui telepon pintar dan layanan 3G.

Berbagai postingan di media sosial tersebut memberikan gambaran hampir langsung bagaimana kondisi di lapangan. Informasi ini bagi petugas penolong pertama dan organisasi bantuan cukup membingungkan karena sudah berlebihan sementara waktu dan tenaga yang dimiliki sangat terbatas untuk memproses jutaan informasi tersebut.

Pada kondisi demikian, tantangannya adalah bagaimana memilah informasi yang banyak sekali jumlahnya di media sosial untuk kemudian mengkategorikannya dengan metode tertentu yang akhirnya dapat berguna bagi pertolongan kemanusiaan. Di sinilah kemudian masuk pekerja kemanusiaan digital yang bertujuan untuk mengubah tiap tulisan di sosial media menjadi satu daya yang sangat kaya.

Generasi baru dalam kerja kemanusiaan tersebut adalah ribuan relawan yang melek teknologi dari berbagai penjuru dunia yang secara fisik maupun maya. Mereka dipertemukan dalam krisis dan bekerja di tengah gunungan data untuk membantu berbagai lembaga kemanusiaan menyalurkan bantuannya.

Patric Meier, direktur Social Innovation pada Qatar Computing Research Institute, adalah salah seorang dari generasi baru yang dia sebut sebagai Humanitarian Jedis–merujuk salah satu tokoh pada film Stars Wars–telah bekerja dengan data yang sangat besar dan diperoleh dalam satu waktu tertentu. Salah satu teknologi yang ditemukannya adalah aplikasi untuk bekerja bersama yang dinamakan Micromappers.

Aplikasi tersebut membantu relawan untuk mengidentifikasi dan memetakan data dari media sosial yang bermanfaat dengan cara memecah tugas-tugas analisis yang besar menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, sebuah pekerjaan mini namun lengkap. Aplikasi lain diberi nama Clickers didesain untuk membantu relawan memberi tanda pada situasi/kata tertentu, pada gambar sampai dengan kategorisasi jumlah dan tipe kerusakan yang tampak seperti ringan, sedang, hingga tak relevan. Selain itu juga menandai kicauan yang berlokasi (geo-tag) dan gambar yang belum ber geo-tag. Pekerjaan ini dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja sehingga saat satu informasi berhasil diunggah, maka lebar pita internet bukan lagi menjadi kendala.

Pekerjaan micro (microtasking) bukanlah ide baru, inisiatif ilmu pengetahuan warga (citizen science initiatives) barangkali adalah yang paling sukses mengembangkan microtasking untuk tujuan yang bermanfaat. Galaxy Zoo sebagai contoh telah mampu menggerakkan ratusan ribu astronom amatur untuk memetakan daerah gelap di sudut angkasa sejak tahun 2007. Ratusan ribu gambar dari Teleskop Ruang Angkasa Hubble milik NASA digunakan oleh para ilmuwan yang diminta untuk membuat katalog galaksi atau menandai gambar bulan dan lantai bawah laut. Zooniverse, nama proyek dari Galaxy Zoo melibatkan 83.000 relawan dan telah mengkatalog 300.000 galaksi di bawah dua tahun.

Manakala Topan Pablo menghantam Filipina pada bulan Desember 2012, UN-OCHA meminta dukungan dari Micromappers dan jaringan kerja kemanusiaan digital yang lain untuk menganalisis aktivitas Twitter dan informasi pemetaan lain yang berkaitan.

Big Data

Relawan menganalisis 20.000 kicauan dalam 10 jam. Data mereka menjadi dasar dari peta krisis UN dan ditampilkan pula di halaman krisis peta Google Filipina. Setelah gempa Nepal, UN-OCHA kembali meminta dukungan dari Micromapper. Peta krisis kemudian berhasil dibuat berdasarkan gambar dan kicauan yang dianalisis, yaitu lebih dari 55.000 tulisan dan 234.727 gambar.

Data yang diperoleh itu kemudian dibagi ke Kathmandu Living Labs, sebuah lembaga nirlaba yang beroperasi dari gedung utuh yang tersisa di kota. Mereka menggunakan berbagai informasi dari internet untuk membuat peta dari wilayah terdampak dan kemudian menghubungkan dengan para pekerja bantuan seperti Palang Merah Nepal dan juga tentara Nepal, demikian disampaikan Direktur Eksekutif Nama Budhathoki.

Hasil kerjasama antara Kathmandu Living Labs dan Humanitarian OpenStreetMap berupa peta offline bagi para pekerja bantuan untuk menentukan posisi.

Bersamaan dengan itu, platform web eksperimental Verily digunakan untuk memverifikasi informasi yang diperoleh dari khalayak, seperti gambar dan pengiriman bantuan. Kegiatan itu dilakukan dengan menggunakan ‘detektif digital’ yang dikembangkan oleh para peneliti Masdar Institute of Technology dan Qatar Computer Research Institute. Verily membuat daftar orang untuk mengumpulkan dan menganalisis bukti-bukti untuk mengkonfirmasi atau menolak suatu laporan. Sebagai bentuk insentif, akan dihadiahkan poin atau peringatan kepada para distributor.

Pemetaan bersama sebagai bagian dari upaya tanggap darurat marak digunakan sejak gempa Haiti pada tahun 2010. Upaya pemetaan berkembang pesat sejak saat itu. Menurut Dale Kunce, kepala GIS dari Palang Merah Amerika, dua bulan setelah gempa Haiti, 600 kontributor pemetaan membuat 1,5 juta editan. Sementara itu pada 48 jam pertama setelah gempa Nepal terdapat 2.000 kontributor yang membuat 3 juta editan.

Kegiatan pemetaan lain pasca bencana dilakukan dari udara di atas zona terdampak. Banyak gambar yang dianalisis oleh para relawan untuk membuat peta krisis berasal dari Drones. Helicopter yang diawaki oleh manusia digunakan untuk upaya penyelamatan.Sementara itu, di tempat yang sulit dijangkau melalui jalur darat menggunakan drones. Hasilnya berupa gambar-gambar yang berisi informasi bentang alam yang terpencar, jalan yang retak, gedung rubuh, dan para pengungsi yang memenuhi lapangan-lapangan. Selain itu, sebuah UAV yang dikerahkan membawa kamera thermal berguna untuk menemukan korban yang masih terjebak dengan memindai suhu tubuh korban.

Drones juga digunakan oleh para wartawan untuk melaporkan dari lapangan. Berita termasuk yang ada di website memanfaatkan video untuk menceritakan kerusakan. Namun, dilaporkan juga pemerintah Nepal merasa terganggu dengan wartawan yang merekam jejak bencana menggunakan drones. Hal ini memicu kesadaran mengenai tersebarnya informasi yang sensitif seperti pada tempat-tempat bersejarah. Pemerintah melaran UAV yang terbang kecuali untuk keperluan kemanusiaan.

Pada saat bencana, koordinasi tak pernah lebih mudah dan selalu menjadi tantangan. Meier menulis di blognya Irevolution, “Pemanfaatan teknologi baru dalam tanggap darurat bencana juga menjadi satu tantangan.”

Hal itu akan terus menjadi tantangan manakala di dunia yang makin terhubung ini pertolongan berdatangan dari berbagai penjuru, meskipun apabila bencana terjadi di negeri yang jauh. Lembaga bantuan dalam gempa Nepal memandang pengoperasian kembali jaringan komunikasi sangatlah penting dalam pertolongan kemanusiaan. Upaya yang memungkinkan warga lokal dan pekerja kemanusiaan untuk melakukan panggilan telepon, mengirimkan SMS dan juga mengakses internet menjadi krusial.

Di Nepal, sejumlah peralatan diturunkan untuk memperbaiki jaringan komunikasi yang rusak.

WFP bekerja sama dengan Pemerintah Luxembourg, perusahaan telepon Ericsson, dan Nethope, sebuah jaringan NGO, telah membangun antena untuk data mobile yang cukup kecil untuk dibawa ke pesawat komersial. “Benda itu terlihat seperti bola pantai” Kata Mariko Hall dari WFP. Lebih lanjut beliau mendeskripsikan mereka sebagai, ‘dapat ditiup, ringan, dan cepat digunakan’. Peralatan tersebut bekerja seperti jaringan wifi, menyediakan koneksi internet untuk tim yang bekerja di daerah terpencil manakala jaringan yang ada rusak.

Yayasan Vodafone mendukung di Lembah Kathmandu dengan ‘Jaringan Instan Mini’ yang ada di dalam tas ransel. Berat tas hanya 11 kg sehingga peralatan tersebut dapat dibawa dengan berjalan kaki ke lokasi yang sulit dijangkau dengan kendaraan. Guna menyiapkan peralatan hingga dapat digunakan hanya memerlukan waktu 10 menit dan berdaya bateri. Alat ini dapat menghubungkan hingga lima pengguna dalam waktu bersamaan ke jaringan global dan memungkinkan dikirimkannya ribuan pesan.

Sebuah organisasi nirlaba lain Galway-based Disaster Tech Lab yang memiliki spesialisasi layanan berbasis IP dan akses wifi di daerah krisis ikut meluncurkan misi di Nepal. Sebelumnya mereka telah bekerja di berbagai daerah bencana seperti Filipina di mana para relawannya memasang titik akses wifi di pos komando yang kemudian menjadi penghubung jaringan dan komunikasi regional. Manakala makin banyak relawan yang datang, mereka menyediakan berbagai dukungan seperti peralatan untuk layanan ambulance dan menyiapkan klinik kesehatan.

Raksasa teknologi seperti Google dan Facebook juga tak ketinggalan ikut berperan saat terjadi bencana di Nepal. Bagi mereka yang ingin mengetahui nasib kerabat atau sahabat dibantu oleh Google dengan program ‘Person Finder’. Peralatan pencarian ini dikembangkan setelah gempa Haiti pada tahun 2010. Setiap orang akan memasukkan informasi pribadi seperti nama, jenis kelamin, usia, alamat, foto, dan profil media sosial dan mereka akan menerima pemberitahuan manakala orang lain melakukan update.

Facebook sendiri telah meluncurkan fasilitas ‘Safety Check’ yang mengirimkan pesan ke warga dan para pekerja kemanusiaan di Nepal, mendorong mereka untuk mengeklik tombol di FB sehingga teman-teman mereka mengetahui keselamatan pengguna.

Sumber tulisan: http://www.irishtimes.com/business/technology/how-data-gathering-has-helped-in-nepal-1.2219588

Penanggulangan Bencana: Komponen Ketangguhan

Menurut Christophe Bene dan kawan-kawan, ada tiga komponen ketangguhan: kemampuan meredam (absorb) ancaman, kemampuan beradaptasi, dan kemampuan mengusahakan transformasi.

Masing-masing komponen merupakan bentuk kemampuan sebuah sistem untuk menghadapi gangguan, baik guncangan sesaat maupun krisis jangka panjang. Sebuah sistem yang tangguh akan ideal apabila memiliki ketiga komponen tersebut.

Kemampuan meredam ancaman terjadi ketika kelompok masyarakat atau rumah tangga dapat menghadapi dampak guncangan tanpa terjadi perubahan fungsi, status atau kondisi pada masyarakat atau rumah tangga tersebut, sesemantara apa pun. Hal ini, misalnya, dapat dilihat pada keberadaan bangunan peredam gempa atau pemakaian sumber listrik cadangan. Kapasitas meredam ini bisa membantu mencegah atau menahan serangan bencana. Bila kapasitas meredam tak mampu mengatasi intensitas ancaman, orang harus memanfaatkan kapasitas adaptasi.

Bentuk lain dari daya redam adalah sarana dan prasarana yang khusus diadakan untuk mengurangi risiko bencana. Kapasitas seperti ini bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari tabungan untuk masa krisis pasca bencana, jaringan komunikasi seperti radio komunitas, dan jalur evakuasi.

Namun, sekadar mampu menghindar sebelum tertimpa ancaman tidaklah cukup. Adaptasi membutuhkan kemampuan menyusun siasat menghadapi masa lebih panjang di antara dua letusan. Bila daya redam berfungsi sebagai pelindung otomatis setiap kali datang ancaman, daya adaptasi berperan merawat ketangguhan di luar kurun itu.

Transformasi melibatkan perubahan besar-besaran terhadap struktur sosial masyarakat. Transformasi berbeda dengan adaptasi, yang merupakan penyesuaian kecil-kecilan yang terus berlangsung berdasarkan “kondisi yang sudah ada”. Upaya transformasi adalah berusaha mmengubah ‘kondisi’ tersebut. Transformasi bukan perkara teknis atau teknologi semata, melainkan juga melibatkan tindakan menuju reformasi institusi dan perubahan perilaku. Dengan kata lain, upaya transformasi merupakan tindakan menantang status quo, dalam arti mengubah sistem yang mapan.

Daftar Pustaka

Saragih, Bonar, dkk, 2014, Asmaradana Merapi, Narasi Ketangguhan Orang-orang Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan UNDP Indonesia, Jakarta.

Penanggulangan Bencana: Mengelola Informasi Pada Saat Bencana

Oleh: Mark Frohardt

FrohardtMark2006Di tengah kekacauan dan nestapa pasca gempa di Nepal, satu hal mendasar tetap diperlukan, yaitu informasi yang padat dan dapat dipercaya.

Seiring dengan kemajuan teknologi, banjir informasi pun terjadi, terkadang penuh dengan isu dan informasi yang keliru.

Wakil Presiden Internews, Mark Frohardt menjelaskan bagaimana informasi sangat diperlukan pada kondisi darurat.

Pada saat terjadi krisis kemanusian seperti kejadian bencana, maka informasi adalah segalanya. Mereka yang selamat ingin mengetahui kabar keluarganya, rumahnya, para tetangganya. Dari situ, kemudian berlanjut berbagai pertanyaan yang mungkin timbul. Di mana tempat yang aman? Bagaimana, kapan, dan di mana makanan, air, dan kesehatan bisa didapatkan? Orang-orang bertanya kepada para tetanga, mengecek telepon genggam masing-masing dan juga media sosial. Mereka pun menyetel radio, mencoba mengikuti berbagai perkembangan terkini dan mencari tahu di mana jalan keluar yang harus ditempuh dari kesulitan tersebut.

Pada saat kebutuhan akan informasi yang cepat dan terpercaya sangat tinggi, jaringan yang ada justru ikut rusak terdampak bencana. Kepercayaan itu pun perlahan akan sirna dan berbagai hal akan memburuk dengan cepat. Seperti yang baru-baru ini dilaporkan oleh New York Times, ada isu di masyarakat Nepal yang berkembang luas bahwa bantuan luar negeri melimpah jumlahnya dan ditimbun oleh pegawai pemerintah. Pada saat orang-orang tinggal di tenda darurat kemudian hujan turun dan orang lain pergi dari ibukota, maka isu seperti itu bisa dengan cepat menjadi potensi bahaya.

Dalam waktu yang sekejap, informasi yang dibutuhkan pada warga terdampak meningkat sementara akses mereka terhadap informasi tersebut justru mengalami penurunan yang signifikan.

Beberapa saat setelah gempa akan terjadi kelangkaan informasi. Jaringan listrik, telepon, dan konektivitas lain seperti internet kemungkinan besar akan berhenti bekerja. Masyarakat terkejut dan informasi mengenai keamanan dan sumberdaya menjadi langka. Kemudian situasi terus berkembang dari langka informasi menjadi banjir informasi manakala orang-orang berbagi informasi yang keliru, rumor, dan rasa frustasi karena kebutuhannya tidak terpenuhi.

Media sosial dan teknologi komunikasi yang lain dapat memberikan bantuan seperti menyatukan keluarga, pada saat yang sama teknologi tersebut juga dapat menyebabkan kekacauan dan kebingungan.

Masih dalam waktu yang sama datanglah bantuan internasional yang memiliki tantangannya tersendiri, yaitu bagaimana mengkoordinasikan berbagai layanan bantuan dalam kondisi yang kacau? Belasan organisasi mulai mengirim pesan melalui berbagai saluran seperti sms, radio, tv, dan juga cetak. Jika semua informasi tersebut tidak terkoordinasi, maka dapat meningkatkan kebingungan masyarakat yang sejauh ini telah mengalami kelebihan dan kekacauan informasi. Namun, jika pesan itu berkaitan dengan usaha penyelamatan, maka terjalinnya komunikasi dua arah dan terbukanya ruang untuk tanya jawab atau dialog bukan lagi menjadi prioritas.

  • Dengar Dahulu

Sangat masuk akal pada saat terjadi kekacauan informasi diawali dengan mendengarkan masyarakat terdampak. Sangat penting mengetahui apa yang diperlukan oleh masyarakat dan apa yang tidak mereka peroleh. Perlu dilakukannya sebuah penyelidikan secara paralel untuk menilai konteks lokal, ini yang kita sebut sebagai ekosistem informasi. Ekosistem lokal ini akan memiliki nuansa, kekuatan, dan kelemahannya tersendiri serta bisa jadi di sinilah area kepercayaan dan pengaruh dibangun.

Sebagai contoh adalah kasus di Haiti saat beberapa stasiun radio lokal selamat dari bencana gempa. Saat itu, untuk meredam gangguan di titik pendistribusian barang, sebuah stasiun radio menghadirkan musisi lokal ketimbang pejabat pemerintah. Hal itu dilakukan karena sosok tersebut lebih diterima oleh masyarakat setempat. Dalam situasi yang lain, ada juga stasiun radio yang tidak dipercaya oleh masyarakat, namun mereka percaya pada pastur setempat. Kendati Bapak Pastur itu menerima informasi dari stasiun radio yang sama, dia memverifikasi dan mengecek kebenaran info tersebut sebelum menyampaikan kepada umatnya. Bapak tersebut adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam situasi seperti itu.

Akhirnya kita perlu mengetahu apa yang masyarakat lakukan dengan informasi. Kita perlu memahami apa dampaknya. Karena itu, sangat penting mengetahui saran dan masukan dari masyarakat.

Pada kondisi yang demikian itu, maka radio komunitas memegang peranan yang sangat penting. Dengan mengirimkan pesan berantai kepada masyarakat, dapat dilihat tren pertanyaan dan respon masyarakat terhadap satu jenis informasi. Hasilnya stasiun radio tersebut dapat merespon dengan cepat dan dapat mengatasi berbagai isu atau kekacuan informasi.

Selanjutnya apabila terjadi peningkatan kejelasan informasi yang berkembang di masyarakat, maka itu adalah pertanda membaiknya kondisi mereka. Manakala masyarakat berhenti bertanya mengenai makanan, isu kesehatan, air, dan mulai menanyakan mengenai pendidikan anaknya, maka itu adalah tanda kondisi mulai kembali ke normal.

Di tiap daerah, sangat penting untuk bekerja bersama warga yang mengetahui kondisi setempat. Warga yang paham bagaimana mekanisme yang terjadi dan telah sensitif terhadap kepentingan masyarakat jauh sebelum terjadinya krisis. Kami menemukan bahwa media lokal adalah rekan kerja yang sangat baik. Radio lokal dapat menjangkau orang banyak, maka wartawan radio lokal adalah elemen yang sangat penting untuk komunikasi pada masa darurat dan pemulihan.

Kendati banyak kelebihan yang dimiliki oleh media lokal tersebut, namun seringkali jurnalis setempat tidak memiliki kemampuan untuk melaporkan pada saat krisis terjadi, mereka juga kurang familiar untuk mengakses dan berhubungan dengan komunitas internasional. Dalam situasi tersebut, kami bekerja bersama dengan mereka untuk mendapatkan dan membagi informasi kepada masyarakat guna membangun kesepahaman bersama mengenai situasi yang berkembang di lapangan. Kami juga menghubungkan mereka dengan komunitas kemanusiaan, sehingga mereka dapat mulai melaksanakan dialog bagaimana seharusnya upaya pendampingan dan perbaikan dilaksanakan. Para jurnalis lokal tersebut kemudian menjadi jembatan di antara dua sisi.

Seringkali para jurnalis lokal tersebut juga terdampak oleh bencana yang terjadi, kami kemudian akan mendukung mereka untuk melakukan pekerjaannya tanpa perlu khawatir kondisi keluarga. Hal ini bisa berupa memberikan dukungan baterai, telepon tambahan, fasilitas pengisian ulang listrik, atau pendapatan tambahan agar kawan jurnalis tersebut dapat antri di pos bantuan sementara yang bersangkutan tetap bekerja sebagai seorang wartawan.

Nepal dikenal sebagai perintis pergerakan radio FM lokal, ditandai dengan pendirian radio pertama pada tahun 1996. Sejak saat itu, stasiun-stasiun radio kecil mulai berdiri di desa-desa yang terpencil, melakukan kegiatan berupa model pelibatan dan keberlanjutan masyarakat. Salah satu contohnya adalah membangun jaringan untuk memahami dan menangani berbagai kebutuhan masyarakat bahkan di daerah yang paling terpencil sekalipun.

  • Dari Bantuan ke Lembaga

Pada masa tanggap darurat seringkali tak mudah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk bicara pada berbagai aspek yang menentukan, misalnya terkait bantuan. Namun, kemampuan bicara tersebut ternyata akan meningkatkan kemampuan masyarakat dan sekaligus memperkuat serta lebih tangguh pasca terjadinya krisis.

Filosofi kami adalah memberikan kemampuan kepada masyarakat untuk menggapai masa depan mereka secepatnya. Saat terjadi gempa di Pakistan pada tahun 2005, di lembah yang penuh dengan pengungsi namun tak bisa dijangkau oleh stasiun radio yang ada, kami membantu membuat asosiasi yang terdiri dari lima stasiun radio darurat untuk mendorong berbagai peralatan siaran ke lembah. Lama setelah gempa tersebut, stasiun-stasiun radio tersebut tetap beroperasi dan menyediakan berbagai dukungan penting kepada masyarakat termasuk saat terjadi krisis pada tahun 2007-2008 dan banjir 2010.

Jika komunikasi pada masa krisis ditangani dengan baik, biasanya akan terbangun dialog yang konstruktif antara komunitas kemanusiaan dan masyarakat terdampak. Kemudian hal tersebut akan dapat menggerakkan masyarakat dari sekadar penerima bantuan yang pasif menjadi peserta aktif dalam upaya pemulihan mereka sendiri.

Dengan menjaga kepercayaan, menyampaikan informasi lokal yang berguna, akhirnya kita dapat memberikan satu badan tertentu untuk masayarakat. Saat kami melakukan peningkatan kapasitas stasiun radio lokal, seringkali kami menemukan terjadinya perubahan peran dari yang semula melaporkan mengenai bantuan menjadi menyajikan laporan mengenai upaya rekonstruksi. Selain itu juga disampaikan kepada pendengar setia mengenai akuntabilitas pemerintahan serta isu-isu politik dan sosial lain yang lebih besar.

Sulit dibayangkan memang semua hal itu terjadi ketika satu negara berada di tengah krisis, namun pengalaman kami menunjukkan, jika kita bisa mengelola saat ini dengan baik, maka masyarakat yang lebih tangguh akan bisa tercapai di masa datang.

Mark Frohardt memiliki banyak pengalaman dalam bidang komunikasi kemanusiaan. Selama dua puluh tahun sebelum bergabung dengan Internews, dia bekerja di Medecins Sans Frontieres, UNHCR, UNOCHA, dan berbagai lembaga lain. Saat ini, beliau memimpin Internews Center for Innovation and Learning.

Sumber tulisan dari sini:

https://medium.com/local-voices-global-change/humanitarian-information-in-nepal-from-crisis-to-agency-bd234a8287a7

Penanggulangan Bencana: Menentukan Lokasi Hunian Tetap?

Belajar dari penanganan pasca bencana Erupsi Merapi pada tahun 2010, maka penentuan hunian tetap di Provinsi D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah harus mempertimbangkan beberapa kriteria. Kriteria tersebut dibagi menjadi kriteria umum dan khusus. Selengkapnya adalah sebagai berikut:

1. Kriteria umum
– Aman dari kerawanan bencana gunungapi
– Lahan mempunyai kemiringan maksimum 30%
– Berada di kawasan budidaya di luar permukiman dan tanah garapan aktif yang ditetapkan dalam RTRW kabupaten terdampak.
– Berada di kecamatan yang sama.

2. Kriteria penunjang
– Tersedia air baku
– Tersedianya jaringan infrastruktur
– Kemudahan pembebasan lahan
– Tersedianya luasan lahan minimal untuk perumahan

Pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi juga melibatkan masyarakat terdampak sebagai stimulus ekonomi demi keberlanjutan kehidupan mereka. Stimulus ini perlu diadakan agar perekonomian masyarakat kembali pulih dan dapat mencukupi kehidupan mereka sendiri-sendiri. Arahan Wakil Presiden RI dalam ruang lingkup rehabilitasi dan rekonstruksi adalah:

  1. Pemulihan perumahan dan permukiman dengan memperhatikan kebijakan relokasi yang aman dan desain yang berbasis mitigasi dan pengurangan risiko bencana.
  2. Pemulihan infrastruktur publik yang mendukung mobilitas masyarakat dan perekonomian serta infrastruktur vital dalam penanggulangan bencana.
  3. Pemulihan kebutuhan sosial masyarakat.
  4. Pemulihan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.
  5. Pemulihan lintas sektor melalui sub sektor keamnan dan ketertiban, pemerintahan, lingkungan hidup dan pengurangan risiko bencana.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Penanggulangan Bencana: Pelajaran dari Bencana Nepal

Ribuan lagi warga Nepal dapat menjadi korban di masa depan dan negara tersebut dapat kembali mengalami kemiskinan jika pemerintah dan komunitas internasional tidak belajar dari kejadian bencana yang lalu.

Katie Peters, seorang peneliti pada Overseas Development Institute (ODI) dalam The Guardian mengatakan bahwa kendati sebuah proses perbaikan sekolah dan rumah sakit juga pelatihan kepada masyarakat bagaimana menghadapi gempa telah dilakukan, namun masih perlu upaya mitigasi bencana alam yang mungkin terjadi di masa depan.

Peters yang bekerja bersama Pemerintah Nepal dalam pengurangan risiko mengatakan bahwa kegagalan berinvestasi untuk pembangunan yang lebih baik –building back better– dalam bentuk peningkatan infrastruktur dan memastikan setiap orang telah bersiaga menghadapi gempa justru akan sangat mahal harganya. “Akan selalu terjadi peningkatan baik itu dalam jumlah korban maupun kerugian akibat bencana. Hal itu adalah kenyataan dan akan makin mahal pula bagi komunitas internasional.”

Peters mengatakan bahwa keinginan untuk segera melakukan rekonstruksi hendaknya tak mengabaikan sisi perencanaan yang baik. “Selalu ada pertentangan antara keinginan untuk segera membangun dan memastikan bahwa perlu dilakukannya berbagai pertimbangan mengenai segala bencana yang harus dihadapi Nepal serta meyakinkan bahwa tidak ada risiko di belakang tiap upaya rekonstruksi.”

“Jika membangun sekolah dan rumah sakit, maka harus dipastikan bahwa bangunan tersebut dapat menghadapi gempa pada skala yang sama.” Demikian imbuh Peters dalam keterangannya.

Fokus pada pengurangan risiko menjadi kepentingan setiap orang bukan saja hal ini dapat menyelamatkan masa depan ribuan warga Nepal, namun yang lebih penting lagi, hal tersebut dapat menghemat jutaan poundsterling biaya yang harus dikeluarkan oleh komunitas internasional. “Statistik menunjukkan biaya yang digunakan untuk upaya tanggap darurat adalah lima kali pembiayaan untuk kesiapsiagaan dan upaya pengurangan dampak bencana,” kata Peters.

“Setiap dollar yang dihabiskan untuk upaya kesiapsiagaan akan menghemat delapan dollar yang digunakan untuk tanggap darurat, bukti hal ini sudah begitu nyata. Ada begitu banyak perhatian yang diberikan pada upaya tanggap darurat bencana, namun pada saat yang sama sebagai lembaga donor kita harus memastikan bahwa dukungan terhadap masyarakat dan pemerintah tetap berlangsung sebelum bencana lain datang, sehingga bukan hanya manakala bencana terjadi saja, namun juga pada saat sebelum terjadi bencana.” Panjang lebar Peters memberikan penjelasan.

Kendati gempabumi sudah lama diprediksi, namun sebuah kejadian bencana hendaknya menjadi satu alarm yang membangkitkan kesadaran kita bersama akan pentingnya investasi pada saat bencana belum terjadi. Selain itu, komunitas lokal juga harus diberdayakan karena mereka ini adalah pusat dari berbagai upaya penanggulangan bencana. Mereka ini yang harus menggali saudara-saudaranya dari reruntuhan pada 24 jam pertama sebelum berbagai bantuan datang.

Komunitas internasional juga mestinya belajar dari penanganan gempabumi di Haiti pada tahun 2010. Saat itu banyak donor yang dikritisi karena menyalurkan bantuannya pada lembaga-lembaga atau NGO yang besar alih-alih pada organisasi lokal Haiti. Pasca kejadian tersebut, di Nepal kini masyarakat internasional lebih mendorong peran masyarakat atau organisasi dan pemerintah lokal dalam upaya tanggap darurat. Hal inilah yang justru akan terus berkelanjutan. “Jika Anda mengembangkan kapasitas masyarakat, organisasi, dan pemerintah lokal, maka impian besarnya adalah pada masa yang akan datang mereka dapat mandiri dan tak memerlukan bantuan internasional.” Demikian pungkas Peters dalam keterangannya.

Sumber tulisan: http://www.theguardian.com/global-development/2015/apr/29/nepal-earthquake-disaster-response-risk-management

Penanggulangan Bencana: Peran Drone

Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau Pesawat Nir Awak atau Drone terbukti sebagai peralatan berteknologi tinggi yang membantu para pekerja kemanusiaan pasca gempa di Nepal.

Para ahli dari Etobicoke, GlobalMedic berbasis di Ontario, Canada yang mengelola Drone untuk misi kemanusiaan telah berada di Nepal. “Tim UAV kami bertugas untuk membuat peta udara pada daerah yang terdampak, kemudian mengumpulkan, dan menggabungkan berbagai gambar ke dalam satu peta yang dapat menampilkan gambaran kebutuhan di lapangan.” Demikian tulis juru bicara GlobalMedic kepada FoxNews.com. “Identifikasi daerah terkena banjir, jalan yang rusak, pergerakan manusia, infrastruktur roboh, dan berbagai pemanfaatan lain dari drone pada situasi darurat yang sangat beragam.”

Organisasi bantuan menggunakan tiga UAV tercanggih, yaitu SkyRanger dan Scout, yang dikembangkan oleh Aeryon Labs. Ketiganya dikontrol menggunakan layar sentuh, dilengkapi dengan kamera thermal sehingga dapat mengenali korban yang terjebak atau terluka.

Drone yang digunakan dapat merekam dan mengirimkan informasi dalam waktu yang bersamaan (real time) dan sangat menolong untuk penentuan prioritas pengiriman bantuan dan mengenali isu aksesibilitas. “Peta ini sangat bermanfaat untuk penilaian kebutuhan korban terdampak. Semua informasi dan hasil pemotretan akan dibagi dengan lembaga PBB, pemerintah Nepal, dan semua organisasi yang bekerja membantu Nepal. Tujuannya adalah untuk menyebarluaskan informasi tak ternilai ini sehingga jaringan pekerja kemanusiaan dapat berkoordinasi secara efektif, mengurangi kesenjangan dan tumpang tindih bantuan, sehingga pada akhirnya dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa.” Demikian disampaikan juru bicara dari GlobalMedic.

Pada penanggulangan bencana Topan Hagupit di Filipina tahun lalu Organisasi dari Canada tersebut juga telah menggunakan drone. Direktur GlobalMedic, Rahul Singh mengatakan bahwa informasi sangatlah penting dalam setiap upaya tanggap darurat. Gambar yang diperoleh dari UAV ini menjadi satu informasi yang dapat mendukung terkirimnya bantuan kepada korban secara lebih efektif.

Sumber tulisan: http://www.foxnews.com/tech/2015/04/30/how-drones-are-helping-nepal-earthquake-relief-effort/

Penanggulangan Bencana: 5 Kaidah Pemberian Bantuan

Ketika Anda melihat gambaran yang begitu menyayat hati pasca bencana yang terjadi di Nepal, tentu Anda ingin segera melakukan sesuatu.

Namun, pada bencana besar dan kondisi darurat, perlu kehati-hatian saat akan memberikan bantuan agar pertolongan yang Anda salurkan tidak menambah kesulitan atau berakhir pada lembaga yang tidak kredibel. Anda juga perlu memastikan agar sokongan tersebut tidak bertentangan dengan kebutuhan dari para korban dan juga bisa tepat sampai ke sasaran.

Berikut ini adalah pengalaman Doug Saunders–wartawan The Globe and Mail, sebuah koran di Canada–saat melihat bantuan dan kinerja lembaga donor pasca bencana terbesar di abad ini. Pengalaman perdana melihat bagaimana komunitas online dan media sosial menjadi alat pengumpul bantuan.

Jika Anda ingin memberikan bantuan bagi para korban bencana di Nepal, beliau menyarankan agar pertolongan tersebut diberikan kepada UNICEF atau Palang Merah Internasional. Selain itu, bisa juga diberikan kepada Koalisi Kemanusiaan yang mencakup NGO veteran seperti Care, Oxfam, Plan, dan Save the Children. Dengan begitu, bantuan Anda akan dikirimkan secara langsung, cepat, dan profesional.

Bagaimana Bantuan dapat Menolong atau Melukai

Pada bulan Desember, 2004, Saunders tiba di satu tempat yang tadinya kota pinggir pantai di Timur Laut Srilanka. Orang pertama yang dia temui di sana berdiri dengan tatapan kosong tak bergerak di luar sebuah tenda yang dibangun seadanya. Wanita itu kurang dari sehari sebelumnya baru saja kehilangan dua gadis kecilnya yang direnggut dari lengannya oleh tsunami.

Saunders tak tahu harus berkata apa pada wanita tersebut. Sepanjang dua jam kemudian, dia bertemu dengan sekurangnya selusin orang tua yang mengalami kejadian serupa serta ratusan lebih orang yang terpisah dari keluarganya. Pantai pun penuh dengan korban yang sebagian besar adalah anak-anak. Sementara orang tua berdiri memandang dengan putus asa ke laut lepas berharap menemukan orang-orang tercinta.

Bencana yang terjadi waktu itu bukan hanya menimbulkan korban dan kerugian yang sangat besar, membunuh sekurangnya 230.000 orang dalam hitungan jam dan meninggalkan jutaan lainnya tanpa tempat tinggal di belasan negara. Peristiwa tersebut juga memicu gerakan pertolongan terbesar di dunia, menarik pekerja kemanusiaan dan lembaga bantuan untuk beraksi. Saat itu juga menjadi sejarah digunakannya internet untuk penghimpunan dana dari masyarakat yang mencapai 5.4 trilyun dollar dan 8.4 trilyun dollar dari pemerintah.

Peristiwa bencana pada tahun 2004 tersebut juga menjadi pelajaran apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan manakala memberikan bantuan.

1. Menolong justru dapat melukai

Saat itu tiga hari sebelum ada bantuan tiba di daerah tersebut. Kemudian, truk pertama yang datang di perkampungan nelayan muslim tersebut berasal dari Gereja Scientology. Bantuan mereka datang bersama dengan cetak ulang Dianetics dan upaya pengubahan yang kemudian disambut dengan tatapan kosong dari warga. Baik lembaga kristiani dan muslim selalu mengindahkan etika dan tidak ada upaya untuk mengajak berpindah agama, namun tetap saja kadang menyampaikan pesan yang keliru. Agama yang Anda anut barangkali mengajarkan tentang memberi, namun mencampuradukkan antara bantuan dengan iman dapat menyebabkan orang kehilangan harapan.

2. Niat baik kadang bisa menjadi buruk

Dalam hitungan minggu, ada sekitar 200 organisasi yang bekerja di suatu desa. Sebagian besar adalah organisasi kecil. Beberapa organisasi bekerja di area yang sama: sumur, pelatihan olah raga atau konseling pernikahan. Beberapa adalah proyek bantuan dari pesohor. Bahkan yang lebih buruk adalah proyek bantuan dari pengusaha yang berpikir bahwa produk mereka adalah bantuan yang paling tepat. Pada akhirnya, hanya lembaga besar milik UN, yaitu UNICEF dan Komisi Tinggi untuk Pengungsi serta Palang Merah Internasional yang mampu membantu masyarakat untuk bangkit dan sekaligus menjaga mereka dari berbagai organisasi kecil. Bantuan atau organisasi kecil tampak menarik, namun alangkah lebih baik bila dapat membantu dalam skala yang lebih besar.

3. Jangan pergi ke sana

Salah satu pemandangan yang tak biasa di Colombo dan Jaffna adalah penuhnya hotel oleh dokter yang datang dari Amerika Utara dan Jepang. Mereka ini berharap bisa memberikan bantuan, padahal mereka tak dibutuhkan. Saat itu, bahkan sebuah desa yang kecil pun telah memiliki tiga atau empat tim medis dari luar negeri, merawat warga yang kebanyakan sehat. Mayat korban bencana yang membusuk tidak menyebabkan wabah penyakit. Sampai dengan saat itu, belum pernah masyarakat yang sangat miskin tersebut mendapatkan perawatan yang sangat baik untuk penyakit kelamin dan hernia. Apa yang diperlukan oleh korban adalah peralatan pertukangan, mesin diesel, dan teknisi elektrik; berbagai organisasi mencari komoditas ini di tingkat lokal. Para dokter itu berpandangan mereka dibutuhkan yang tentu saja sangat melegakan hati, namun alangkah baiknya bila mereka bertanya terlebih dahulu.

4. Jangan mengirimkan barang

Kebanyakan warga yang sangat miskin hidup dengan menanam dan menjual makanan atau ikan. Di antara mereka juga ada yang menjual barang-barang murah. Banjir makanan gratis, yang datang dengan cepat memang pada mulanya dibutuhkan, namun kemudian ini akan mengganggu proses pemulihan. Sungguh sulit bagi petani padi untuk berkompetisi dengan penyedia makan malam gratis.

Mengirimkan mainan, sepatu, atau pakaian sepertinya ide yang baik bagi masyarakat yang kerap melihat anak-anak di televisi bermain di tengah debu pada negara yang miskin. Membawa hal tersebut ke negeri yang jauh dan mengawasi distribusinya menelan biaya yang sangat mahal. Tindakan ini menghalangi pengiriman bantuan yang lebih diperlukan atau menjadi halangan bagi para pebisnis lokal yang bisa menyediakan barang yang sama.

Dalam lingkaran bantuan, memberikan barang, apakah itu pakaian bekas, bangunan, atau makanan dikenal dalam Bahasa Inggris sebagai Swedow, Stuff We Don’t Want atau barang yang tidak kami perlukan karena nilai manfaatnya lebih sedikit daripada biaya yang dikeluarkan.

5. Berikan sesuatu tapi jangan terlalu spesifik

Peristiwa bencana terkadang menyebabkan jumlah bantuan melebihi kebutuhan. Hal ini bagus manakala lembaga bantuan mengalami surplus mereka dapat membangun gudang permanen di berbagai negara sehingga mereka dapat merespon secara lebih cepat. Namun, terlalu banyak bantuan diberikan kepada peristiwa bencana daripada ke lembaga seperti Unicef, Oxfam, atau Palang Merah Internasional. Memberi adalah ide yang sangat baik, namun jangan spesifik. Pertolongan dapat bekerja dengan baik jika dikombinasikan dengan kepercayaan.

Sumber tulisan: http://www.theglobeandmail.com/globe-debate/want-to-help-nepal-follow-these-five-rules-of-disaster-charity/article24150908/

Penanggulangan Bencana: Koordinasi

Koordinasi adalah ajakan kepada semua pemangku kepentingan agar bersedia duduk bersama untuk memahami situasi (bencana) yang terjadi untuk kemudian merencanakan kegiatan tanggap darurat, terutama dalam berbagi peran untuk meringankan beban penderitaan, memperkecil korban dan kerugian, serta memulihkan situasi agar dapat pulih kembali.

Dalam situasi normal, koordinasi sering sulit dilakukan dengan beragam alasan, antara lain karena situasi setempat dan ragam kepentingan para pihak yang tidak selalu seiring dan sulit dicapai kesepakatan, para personil yang hadir adalah staf instansi/lembaga yang tidak mempunyai kewenangan dan kompetensi memadai sehingga tidak dapat diajak mengambil keputusan.

Selain itu, biasanya juga terdapat ketidakjelasan siapa yang seharusnya take a lead untuk melakukan koordinasi, mengambil keputusan dan tindakan lain yang diperlukan dalam situasi darurat yang membutuhkan kecepatan, ketepatan, dan ketegasan tindakan demi penyelamatan nyawa orang banyak.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Penanggulangan Bencana: Dilema Kebijakan Hunian Tetap

Kenapa warga terdampak erupsi Merapi yang tinggal di hunian tetap masih juga pulang ke rumahnya?

Adalah mustahil memutus ikatan psikologis dengan rumah tinggal, di mana orang lahir dan dibesarkan. Tindakan warga terdampak erupsi Merapi yang senantiasa pulang kembali ke rumah asalnya sudah dilandasi perhitungan dan kebijaksanaan.

Perhitungan dan kebijakan itu seringkali tak sejalan dengan buah pemikiran para pakar atau akademisi. Namun, warga di lereng Merapi itu sudah paham risiko yang harus dihadapi, bahkan telah akrab dengannya.

Sikap terhadap hunian tetap sendiri berbeda-beda antara masyarakat di Aceh, Wasior, dan Yogyakarta.

Bagi masyarakat korban bencana di Aceh dan Wasior, huntap lebih sebagai tempat berteduh. Oleh sebab itu, mereka tak terlalu menghiraukan penghuni lain yang berada di ruangan yang sama.

Di Jawa Tengah dan Yogyakarta kondisinya berbeda. Penghuni akan merasa nyaman bila memiliki ruang sendiri. Manakala seorang penghuni memiliki ruang sendiri biarpun kecil, maka ia tak akan terlalu menghiraukan dengan ketersediaan fasilitas lainnya.

Selain menyangkut hunian tetap, terdapat juga perbedaan perlakuan terhadap orang tua dan dampaknya.

Di kalangan masyarakat Sumatera dan Papua yang juga sesuai dengan standar dari UNDP, orang tua perlu ditempatkan khusus dan terpisah serta mendapat perlakuan yang khusus pula.

Di Jawa, apabila seorang tua dipisahkan dari anak-anak dan keluarganya, maka bisa sangat berbahaya. Penyebab terjadinya hal ini adalah fungsi perawatan dan kepedulian dari anak/cucu ke orang tua yang sangat diperlukan di wilayah ini.

Saat ini, banyak warga yang setelah direlokasi masih kembali ke atas untuk menjalani kegiatan sehari-hari seperti biasa. Tindakan tersebut menganut prinsip ‘tinggal di bawah, kerja di atas.’

Strategi menjauhkan masyarakat dari bencana memang tak selalu harus melalui relokasi dari kawasan rawan bencana, tapi dengan mendukung kemampuan masyarakat agar dapat hidup harmonis dengan bencana dan juga mengembangkan kearifan lokal.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Penanggulangan Bencana: Penentuan Radius Bencana Gunung Api

Berapa kilometer jarak aman dari pusat letusan Merapi?

Tidak mudah menentukan radius aman karena di dalamnya beradu antara penghidupan warga dan perhitungan ilmiah. Namun, kepentingan utama dari institusi penanggulangan bencana adalah keselamatan bersama.

Sebagai contoh, pada saat radius aman Merapi ditetapkan 20 km tidak banyak warga yang tahu sejauh apa persisnya radius tersebut. Perkiraan mengenai tempat-tempat mana yang menjadi batas radius tersebut lantas menyebar di jejaring sosial.

Sesuai dengan sifat letusan Merapi yang tak dapat diperkirakan, maka tak ada hitungan pasti jarak amannya. Hal ini disebabkan karena kendati sudah diketahui siklus lima tahunan, namun tidak ada yang mengetahui skala letusannya. Skala letusan tersebut berkaitan dengan radius aman.

Oleh sebab itu, manakala satu gunung masih menunjukkan aktivitas yang tinggi, maka tidak ada jarak aman yang permanen. Hal yang bisa dilakukan adalah dengan menjauhkan masyarakat dari zona berbahaya.

Arti penting yang lain dari penentuan radius bencana adalah untuk menciptakan rasa aman para pengungsi yang tinggal di hunian-hunian sementara. Penentuan batas aman tersebut juga menjadi rujukan bersama bagi pihak mana pun yang bermaksud membangun huntara.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.