Kiat: Menulis untuk Opini di Kompas

Saya mendapatkan pertanyaan dari seorang kawan, ‘Bagaimana cara mengirimkan artikel untuk Opini Kompas’?

Berikut ini saya kirimkan ulang surat elektronik penolakan dari Kompas untuk artikel yang kita kirimkan. Di bagian bawah, Bapak dan Ibu bisa membaca tulisan seperti apa (kriteria) yang diinginkan oleh Kompas.

Sedikit catatan, kenapa kita perlu mengirim opini ke Kompas?
Continue reading “Kiat: Menulis untuk Opini di Kompas”

Menulis: Bagaimana Mengkomunikasikan Ide?

Hari ini saya membaca salah satu bagian dari buku mengenai penelitian. Bentuk buku itu cukup menarik, yaitu didesain semacam resep. Namun, terus terang saya belum sampai ke bagian resepnya sendiri. Alih-alih, saya baru membaca bagian pengantar dan metodologi-nya saja. Intinya, kedua bagian itu rasanya bukan bagian yang paling menarik dari buku tersebut. Apabila ingin mengetahui bagian intinya, maka sabar dulu ya, hehe.

Kendati bukan bagian paling menarik, namun Continue reading “Menulis: Bagaimana Mengkomunikasikan Ide?”

Menulis: Mengatasi Ketiadaan Ide untuk Menulis

Kehilangan ide untuk menghasilkan satu tulisan baru seringkali dialami oleh penulis, jurnalis, atau blogger.

Apabila Anda mengalami hal ini, maka apa yang biasanya dilakukan?

Tulisan ini mencoba untuk mengidentifikasi kapan kehilangan ide itu muncul, apa penyebab kehilangan ide, dan bagaimana mengatasi kondisi ini. Mengenali beberapa hal ini sangatlah penting agar seorang penulis bisa mengubah ketiadaan ide menjadi satu tulisan baru. Continue reading “Menulis: Mengatasi Ketiadaan Ide untuk Menulis”

Menulis: Hal Sederhana yang Perlu Ditulis

Hal-Hal besar, yang mengubah dunia, yang kita lakukan, yang terjadi, seringkali ingin segera kita tuliskan agar orang terkesima dan bengong. Kita segera menulis seharusnya agar mereka mengerti dan terhubung dengan kita.

“Ingin tahu ceritaku saat jalan-jalan ke Eropa? Owh, gini lho…..”

“Atau saat berenang bersama lumba-lumba di Karibia? Hah, kamu belum pernah? Oke, aku akan ceritakan SEMUA untukmu….”

Kita terhubung dengan orang lain melalui peristiwa sehari-hari yang sederhana, yang terjadi karena kesamaan latar. Ketika kita menjadi teman dan bukan orang asing yang baru pulang dari planet lain. Entah itu bercerita sambil ngopi atau berkirim kabar melalui tulisan, momen sederhana itu yang merawat pengertian di antara kita.

Sebagai penulis, kita berbagi peristiwa-peristiwa kecil yang terjadi dengan penuh kejujuran, sebagai penanda satu hubungan di antara penulis dan pembaca. Bisa jadi sebuah cerita yang bergaung dan menyentuh perasaan-perasaan terdalam. Cerita yang membuat penulis dan pembacanya dekat, sehingga kita tak merasa sendiri. Sehingga pada satu kesempatan, kita merasa ada orang lain di seberang sana yang memahami kita.

Hidup adalah potongan-potongan gambar sederhana. Satu gambar yang tampaknya tidak penting, layaknya pecahan sebuah ubin. Namun, manakala kita sabar dan bisa menyusunnya, maka akan ditemukan sebentuk keindahan dan makna, diam-diam kita menjadikannya sebuah seni. Seni yang memiliki kemampuan untuk menyatukan kita melalui berbagai kisah yang dibagi.

Sumber tulisan:

https://medium.com/the-coffeelicious/why-finding-magic-in-the-mundane-is-the-secret-ingredient-that-will-change-your-writing-fde9cd1597b4

Menulis: Kiat Menulis dari William Zinsser

williamzinsser

William Zinsser adalah seorang jurnalis dan penulis non fiksi. Dia memulai kariernya di New York Herald Tribune pada 1946. Selain penulis, dirinya juga dikenal sebagai seorang guru. Karyanya yang terkenal adalah On Writing Well, rujukan yang handal bagi tiga generasi penulis, wartawan, editor, guru dan juga para murid.

Berikut ini adalah beberapa kutipan dari On Writing Well yang barangkali dapat bermanfaat bagi Anda. Selamat membaca.

Rahasia menulis yang bagus adalah dengan mencopot setiap kalimat hingga tinggal komponen utamanya saja. Hal ini berarti menghilangkan setiap kata yang tak berarti, setiap frasa yang panjang menjadi pendek, kata keterangan yang tak perlu semuanya adalah beberapa hal yang justru melemahkan kalimat.

Menulis adalah kerja keras karena kalimat yang bagus tidak timbul dari satu kebetulan. Sangat sedikit kalimat yang pertama kali keluar langsung benar, bahkan bisa jadi hingga tiga kali pun masih dirasa kurang tepat. Jika Anda merasa bahwa menulis itu satu pekerjaan yang berat, memang begitulah kenyataannya.

Penulis akan menjadi sangat natural bila menggunakan sudut pandang orang pertama. Sebab menulis adalah proses yang sangat intim antara dua orang, dibantu media kertas–atau apa pun itu–dan akan sangat bagus bila tetap mempertahankan sisi kemanusiaan penulisnya.

Menulis merupakan proyek percontohan. Jika seseorang bertanya bagaimana saya belajar menulis, maka saya akan menjawab dengan cara membaca karya pria atau wanita yang telah menulis dengan gaya seperti yang ingin saya lakukan dan mencoba mencari tahu bagaimana mereka melakukan itu.

Harap juga diingat, manakala Anda memilih kata dan menggabungkannya, perhatikan bunyi yang timbul bila kalimat itu dibaca. Memang terdengar aneh, karena para pembaca menggunakan mata. Namun, pada saat yang sama mereka juga mendengar apa yang mereka baca.

Anda belajar menulis melalui menulis. Satu-satunya jalan saat belajar menulis adalah memaksa diri Anda untuk memproduksi serangkaian kata secara teratur dan konsisten.

Satu karya non fiksi yang sukses ditandai oleh pembaca yang terprovokasi pada satu pengetahuan atau pemikiran baru yang belum pernah dimiliki mereka sebelumnya. Ingat, bukan dua, tiga, hingga lima pemikiran, namun hanya satu. Jadi, tentukan satu saja pesan yang ingin Anda sampaikan ke benak pembaca.

Kalimat yang paling penting dalam satu artikel adalah kalimat pertama. Jika kalimat tersebut tidak membuat pembaca melanjutkan ke kalimat berikutnya, maka matilah Anda. Pun jika kalimat kedua tidak membuat pembaca melanjutkan ke kalimat ketiga, hal yang sama pun akan terjadi pada Anda.

Manakala Anda siap untuk berhenti, maka berhentilah menulis. Saat Anda sudah menyampaikan seluruh fakta dan juga selesai dengan poin-poin yang ingin disampaikan, segeralah cari jalan keluar untuk mengakhiri tulisan tersebut.

Banyak penulis yang lelah dengan pemikiran adanya kompetisi dengan orang lain yang juga mencoba menulis bahkan mungkin lebih baik. Lupakan kompetisi tersebut dan teruslah melangkah, Anda hanya berlomba dengan diri sendiri.

Menulis ulang adalah esensi dari menulis yang baik. Inilah titik penting di mana satu pertandingan dapat dimenangkan atau dikalahkan. Ide tersebut memang susah diterima sebab kita selalu merasa sayang dengan draft pertama, kita sulit menerima karya tersebut tak sempurna. Padahal sejatinya memang karya tersebut tak 100% sempurna.

Tak ada satu topik tulisan yang tak boleh Anda tuliskan. Para murid acap kali menghindari topik yang berkaitan dengan hati karena mereka berprasangka bahwa para guru akan menganggap itu sebagai topik yang bodoh. Sesungguhnya tak ada wilayah dalam hidup yang bodoh bila seseorang menganggapnya serius. Jika Anda mengikuti perasaan Anda, maka akan menjadi tulisan yang bagus dan menarik minat para pembaca.

Undanglah orang untuk bicara, belajarlah membuat pertanyaan yang akan mengungkap sisi apa yang paling menarik atau paling jelas dalam hidup mereka. Tak ada yang begitu nyata dibandingkan saat seseorang menceritakan apa yang mereka pikirkan atau lakukan dengan bahasa mereka sendiri. Kata atau kalimat mereka akan selalu lebih bagus daripada kalimat Anda.

Komoditas yang saya miliki sebagai seorang penulis adalah diri saya sendiri. Pun demikian dengan Anda, komoditas itu adalah diri Anda sendiri. Jangan ubah nada Anda agar sesuai dengan subjek tulisan. Kembangkanlah satu suara yang akan membuat pembaca mengenali diri Anda saat mereka ‘mendengar’ di tiap halaman.

Ingatlah bahwa penghayatan terjadi pada arus yang dalam. Hal itu menggerakkan kita dengan berbagai hal yang tak terungkapkan, menyentuh sisi-sisi terdalam yang sudah kita ketahui melalui bacaan, agama, adat-istiadat kita.

Menulis adalah pekerjaan yang sepi sehingga saya harus tetap ceria. Jika saya menemukan hal yang lucu saat menulis, saya tuliskan untuk menyenangkan diri sendiri. Jika satu hal saya anggap lucu, maka dugaan saya orang lain pun akan menganggapnya lucu dan itulah hari yang baik untuk bekerja.

Seluruh kalimat Anda yang telah jelas dan menyenangkan akan berantakan manakala Anda lupa bahwa menulis adalah proses yang linear dan berurutan. Logika tersebut ibarat lem yang mengikat seluruh bagian. Oleh karena itu, maka ikatan tersebut harus senantiasa terjaga antar kalimat, antar paragraf, bahkan antar bab. Narasi yang tersaji kemudian niscaya akan menarik para pembaca ke dalam pusaran cerita tanpa ada kejutan yang berarti.

Berpikirlah sederhana. Jangan mengacak-acak masa lalu Anda atau keluarga untuk mencari episode yang Anda pikir penting untuk ditampilkan dalam tulisan. Lihatlah pada satu kejadian kecil yang masih terekam jelas dalam ingatan. Jika Anda masih teringat, maka itu terjadi karena peristiwa tersebut mengandung kebenaran universal yang akan dikenali oleh pembaca dari pengalaman mereka sendiri.

Carilah cara untuk meringankan tulisan Anda sehingga dapat menghibur. Biasanya ini berarti memberikan pembaca satu kejutan yang menyenangkan. Banyak cara untuk melakukan hal itu, bahkan bisa jadi nanti menjadi gaya Anda. Manakala seseorang menyukai gaya seorang penulis, sejatinya dia sedang menyukai pribadi penulis yang tersaji di kertas.

Jika Anda ingin menulis lebih baik daripada orang lain, pertama kali Anda harus INGIN menulis lebih baik daripada orang lain. Anda harus bangga pada tiap detil yang ada pada hasil karya Anda. Selanjutnya, Anda pun harus bersedia untuk mempertahankan hal itu dan tidak berkompromi dengan para editor, agen, dan penerbit yang sudut pandanganya barangkali berbeda dengan Anda, yang standardnya tak setinggi Anda.

Sumber tulisan dari sini:

Menulis: Kiat Menulis dari Sapardi

Writing_pen

Sapardi Djoko Damono selalu memikat banyak orang dengan karya-karyanya. Ia melahirkan puisi-puisi dengan bahasa sederhana tetapi magis. Satu tahun lalu, dalam Pesta Literasi Jakarta 2013, sastrawan ini membagikan langkah-langkahnya dalam menulis.

Dalam menulis, Sapardi menyarankan untuk jangan terlalu banyak berpikir. Jeda waktu terlalu panjang untuk berpikir sama saja dengan menunda menulis. Hal lain yang perlu dihindari adalah perasaan takut atau minder. Perasaan takut akan membawa kita pada hilangnya keinginan untuk menulis.

Sapardi tidak pernah menentukan akhir cerita ketika mulai menulis. Hal tersebut ditemukan ketika proses menulis berlangsung. Cerita akan mengalir dengan sendirinya. Sapardi menekankan, ketika menulis yang berkuasa adalah tulisan itu sendiri. Bukan si penulis.

Sastrawan ini juga tak selalu langsung menyelesaikan tulisannya dalam satu periode waktu tertentu. Ia memiliki banyak tulisan yang belum dilanjutkan, tetapi yakin suatu saat pasti menyelesaikannya. Jika bosan mendera, ia akan beralih ke tulisan yang lain kemudian masuk lagi ke tulisan sebelumnya sewaktu-waktu. Kemahiran menulis bukan semata-mata bakat, melainkan hasil latihan tekun dan terus menerus.

Galeria, Klasika, Kompas, 26 Mei 2014

Sumber gambar

Menulis: Tiga Cara untuk Mengawali Novel Anda

first_sentences

Oleh: Diane O’Connell

Ketika pertama kali membuka novel baru, ada banyak kejutan dalam kalimat pertama. Saya tahu ini sedikit ekstrem, tapi bukankah sebuah kalimat pembuka yang menarik dan menggairahkan akan membuat Anda segera masuk ke dalam cerita novel daripada hanya satu kalimat yang biasa-biasa saja?

Sebuah kalimat pertama yang kuat dan menarik bukan hanya menuntun pembaca ke novel Anda, namun juga menjadi petunjuk kepada keseluruhan tema cerita, eksplorasi dan proses terus menerus.

Berikut ini adalah 3 cara untuk mengawali novel Anda:

1. Kejutan

“Hari ini nenekku meledak!”

Iain M. Banks, The Crowd Road.

Apakah Anda baru saja bertanya, “Apa, Meledak?” Sebuah pembuka yang mengejutkan membuat pembaca berhenti sejenak, bahkan perhatiannya jadi kacau. Cara yang dramatis membuat cerita dalam novel Anda lebih hidup.

Biasanya, kalimat pembuka yang terbaik adalah yang singkat, mengejutkan, atau mengandung frase yang membingungkan pembaca seperti di atas. Kendati pembaca Anda tak paham apa yang terjadi, namun mereka tertarik. Mereka ingin tahu lebih banyak dan satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan adalah tetap membaca untuk mengetahui jawabannya. Ini adalah kunci Anda sebagai seorang penulis.

2. Memikat

“Bayangkan, sebuah musim panas yang diambil dari film ‘Coming of Age’ yang berlatar di kota kecil pada tahun 1950-an.”

Tana French, In The Woods.

Kalimat di atas sungguh cantik, bahkan puitis, sehingga dapat mengajak pembaca ke dalam latar novel Anda. Kesan nostalgia yang digunakan oleh French menghiasi kalimat pertamanya. Ia mengingatkan pembaca pada gambaran kota kecil dan musim panas yang sangat indah. Pembaca pun terbawa pada kenangannya masing-masing.

Pembukaan novel yang menggetarkan semacam ini juga mengatur gaya keseluruhan novel. In The Woods mengambil latar di pedesaan Irlandia sepanjang musim panas yang akhirnya mengubah karakter tokohnya. Sebuah gambaran masa lalu digunakan, maka French melakukan reka ulang kenangan yang terhubung dengan masa kecil. Kita tak akan ingat bagaimana percakapan atau apa tepatnya rutinitas tiap hari, namun kita mengingat apa yang dirasakan dengan panca indera. Kalimat pertama French membangun gambaran sebuah adegan Proust dalam Remembrance of Things Past, ketika dia memanfaatkan ingatan dari Madeleine yang sederhana dan memikat hati. Gambaran ini mengarahkan pembaca bagaimana novel ini akan bercerita.

3. Menghubungkan

“Jika kau benar-benar ingin mengetahui tentang hal ini, hal pertama yang barangkali ingin kau ketahui adalah di mana aku lahir, sejelek apa masa kecilku, bagaimana kesibukan orang tuaku sebelum aku ada, dan semua omong kosong David Copperfield, namun aku tak ingin bercerita tentang itu jika kau ingin mengetahui yang sebenarnya.”

—J. D. Salinger, The Catcher in the Rye

Jika tokoh protagonis yang mengarahkan jalan cerita dalam novel, atau memiliki sudut pandang yang unik, maka cobalah pembukaan novel dengan masuk ke dalam pemikirannya, dalam bentuk cerita atau dialog. Di sini, kita mendengar pencerita secara jelas mendeskripsikan suasana. Serta merta, kita akan penasaran dia akan berkata apa lagi.

Pembukaan yang sempurna semacam ini memerlukan komitmen penuh untuk menulis dalam pikiran karakter utama. Pertama kali Anda harus paham pola pikirnya, suasana, latar tempat… Ini jika Anda ingin mengenalkan karakter utama Anda sesegera mungkin kepada pembaca.

Apakah Anda ingin menyusun kalimat pembuka yang memikat namun tak yakin bagaimana melakukannya? Cobalah hal ini, carilah pembuka sebuah novel yang Anda suka dan coba tiru, bagaimana susunan serta struktur kalimat yang ada, namun dengan cerita Anda sendiri. Jangan takut mengambil risiko berkaitan dengan penulisan kreatif. Jika Anda punya satu dosin kalimat pembuka, namun tak ada satu pun yang dipilih cobalah terus dan jangan menyerah. Kalimat pembuka umumnya adalah sebuah kalimat yang sering sekali berubah dalam sebuah novel.

Diterjemahkan dari: www.writetosellyourbook.com/fiction-advice/three-ways-killer-opening-line

Sumber Gambar

Menulis: Membuat Tulisan Ilmiah Populer

Berikut ini adalah catatan saya saat mengikuti kegiatan pertemuan penyusunan ‘Buku Data Bencana Tahun 2013’ pada tanggal 21 April 2014 kemarin. Catatan ini berdasarkan paparan dari Ahmad Arif, beliau adalah jurnalis Kompas yang diundang oleh Pusdatinmas, BNPB, untuk memberikan pemahaman mengenai tulisan ilmiah populer. Silakan disimak poin-poin berikut, semoga bermanfaat.

  1. Suatu karya tulis hendaknya disajikan dalam bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti
  2. Tulisan populer ditujukan untuk semua kalangan, kaya data, dan enak dibaca
  3. Harus ada aspek manusia dalam sebuah tulisan populer
  4. Struktur tulisan populer: mulai dari informasi terkuat/terpenting → sembunyikan bagian terlemah → buat ending yang terkuat (akurat berdasarkan fakta-fakta)
  5. Tips dalam menulis populer: gunakan kalimat sederhana, hindari istilah asing, jargon dan pakailah singkatan yang umum digunakan, buat analogi, don’t tell but show.
  6. Tulisan populer harus mengandung nilai-nilai aktual: hubungannya dengan masyarakat, peristiwa terbaru, konteks dengan masalah yang menjadi tren. Tujuannya adalah tulisan Anda layak untuk dibaca sekarang juga dan bukan besok-besok.
  7. Kalimat sederhana ditandai dengan penggunaan Subyek-Predikat-Obyek, hindari menggunakan anak kalimat, sebuah kalimat idealnya maksimal terdiri dari 13 kata, satu paragraf maksimal 3 kalimat atau 5 baris dalam format MS Word.
  8. Penyajian tulisan populer dapat mengikuti saran sebagai berikut: judul yang memikat, lead yang berbicara (kata, kalimat, paragraf pertama jangan bertele-tele), kalimat yang mengalir (jangan biarkan pembaca kehilangan semangat untuk melanjutkan membaca), ending yang berkesan.
  9. Layout sebuah buku sangat menentukan
  10. Saat ini tuntutannya adalah penyajian yang interaktif
  11. Tim ekspedisi cincin api terdiri dari:
  • 1-2 orang penulis
  • 1-2 orang fotografer/videografer
  • 1-2 orang layouter
  • Catatannya: harus ada satu orang yang menangani keseluruhan buku dari awal sampai akhir.

Menulis: Diagram Kreatif Pram

write

Dalam menulis, Pram menemukan apa yang disebutnya diagram menulis kreatif. Di dalamnya terdapat unsur gunung, kuil, dan matahari.

Gunung merupakan lambang ketekunan, dikatakan Pram, sebagai pesangon yang diwakili puncak-puncaknya.

Kuil menyimbolkan ilmu, pengetahuan, kearifan, serta kebijakan.

Sementara matahari mewakili sang pribadi dengan integritasnya.

 Kata Pram, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Dirangkum dari ‘Klasika’ di harian Kompas

Sumber gambar