Kiat: Hilangkan Penat Saat Bekerja

Saya termasuk orang yang susah pindah apabila sudah berada di depan komputer. Entah itu untuk bekerja, browsing, atau kegiatan lain. Nah, terkadang saya lupa bergerak, tahu-tahu bahu, lengan, leher, dan mata jenuh. Kepenatan tersebut ternyata bisa dihilangkan dengan melakukan beberapa hal berikut ini.

Melakukan relaksasi untuk mengendurkan otot-otot yang tegang. Relaksasi tersebut dapat dilakukan dengan cara melakukan gerakan sederhana, seperti menggerak-gerakkan tangan atau memutar badan ke kanan dan kiri. Kalau ada teman yang bersedia, maka boleh juga ia diminta tolong untuk memijat leher dan punggung.

Kalau kita terlampau asyik bekerja, Continue reading “Kiat: Hilangkan Penat Saat Bekerja”

Kiat: Sukses Bekerja

Setiap orang tentu menginginkan kesuksesan dalam bekerja, bukan? Beberapa hal berikut barangkali bisa dilakukan agar Anda sukses dalam bekerja.

Pertama adalah dengan menjalin hubungan baik terutama dengan rekan sekerja. Hal ini mutlak diperlukan agar kita lebih mudah dalam bekerja sama dengan orang lain. Hasil akhirnya tentu pekerjaan kita akan selesai dengan baik.

Dalam hubungan antar personil tentu konflik kerap terjadi. Konflik yang terjadi bisa terbuka atau tertutup. Akibat dari konflik yang paling berbahaya adalah bisa berpengaruh pada performa kerja. Oleh karena itu, hubungan dengan rekan sekerja harus senantiasa dijaga terutama apabila pekerjaan kita menuntut kerja sama tim.

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana Continue reading “Kiat: Sukses Bekerja”

Kiat: Perlunya Membaca Orang Lain

Satu kesempatan yang jarang terjadi saat saya dan Bapak bisa bercakap-cakap berdua. Lebaran kemarin, sudah lama memang, haha, barulah kesempatan itu tiba.

Maka, bila saya dan Bapak berbincang, ada saja peluang bagi beliau untuk menyusupkan petuah bijak bagi putranya ini. 😀

Cara beliau menyampaikan nasihat, terkadang suka membuat saya tak sadar kalau ia sedang menasihati. Pesan itu, kadang seperti membuka dirinya sendiri tanpa diminta.

Kurang lebihnya begini pembicaraan kami berdua berlangsung.

“Mas, ingat ngga apa firman Tuhan yang pertama diterima oleh Nabi?”

“Soal membaca, kan, Pak?”

“Ya, benar sekali. Setiap saat, bukankah kita selalu membaca? Pada apa saja, di mana saja.”

“Nggih, Pak,” sambil saya manggut-manggut.

“Setiap saat kita pun membaca orang-orang, teman kerja, sesama penumpang bus, pengendara sepeda motor atau mobil di jalan, dan lain-lain, bukan?”

Saya diam saja, Cuma menganggukkan kepala, membenarkan.

“Setelah membaca, lantas kita mencatat. Menjadikan bahan bacaan itu menjadi modal kita dalam bergaul.”

Saya masih diam, lagi-lagi hanya mengangguk saja. Tapi dalam hati, saya membatin, “Masa iya, sih, begitu?”

“Masalah baru muncul, Mas, kalau kita mengungkapkan catatan kita itu pada pribadi yang kita baca. Bila yang kita ungkapkan catatan yang baik, maka tentu akan senang orang itu. Di sisi lain, bila yang diungkapkan itu adalah keburukan, bisa jadi orang itu akan marah. Tak semua orang suka diungkapkan keburukannya oleh orang lain.”

Saya bingung, yang saya ingat hanyalah terbukanya mulut saya perlahan-lahan seperti hendak berbicara, namun kemudian, tak lama, mulut saya itu pun tertutup kembali.

Kiat: Menjadi Ikhlas

Sesekali boleh, dong, seperti orang benar, haha. Maksud saya, coba kali ini izinkan saya menyarikan apa kata Pak Ustadz dari kultum selepas dzuhur kemarin.

Menurut beliau, laku ibadah seseorang akan diterima bila ada satu syarat yang harus terpenuhi, yaitu ikhlas dalam menjalankan ibadah tersebut.

Ikhlas berarti alasan sesuatu dilakukan adalah  untuk Tuhan semata. Di dalamnya tak terkandung niat-niat yang lain. Sebab munculnya keikhlasan adalah Tuhan semata, bukanlah orang lain atau sebab-sebab lain.

Ikhlas bisa hilang manakala ada suatu pujian yang membuat kita lupa diri. Karenanya, Nabi mengingatkan agar kita melempar seseorang yang memuji kita dengan pasir. Tentu bukan dalam artian harfiah. Ini sekadar pengingat, bahwa sebuah pujian, bisa menjadi sebab hilangnya keikhlasan. Gawatnya, keikhlasan bisa hilang setiap saat, misalnya karena kita riya’ atau sombong.

Satu cara yang dapat ditempuh agar keikhlasan terus terjaga adalah dengan memurnikan niat kita. Cobalah ditengok ulang, apakah niat kita saat, misalnya, menikah, bekerja dll. Apa sebab dari itu semua kita lakukan? Apakah Tuhan semata alasan di balik setiap yang kita lakukan atau adakah alasan lain?

Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan amalan ibadah secara diam-diam, tak perlu orang lain tahu. Cukup kita dan Tuhan saja yang tahu. Dengan demikian, insyaallah keikhlasan akan terjaga.

Kiat: Kewajiban Suami

Keinginan yang tak terkontrol itu membuahkan bencana….

Awal mulanya adalah sebungkus mi instan. Ia tergeletak di dekat kompor dan pasrah menanti disikat. Tak jauh dari situ, sepanci sayur lodeh dari Chinta pun menatap menggoda.

Lalu kenapa pula saya harus memilih mi instan alih-alih sayur lodeh Chinta?

Nah, di sinilah bencana itu bermula. Seperti biasa, saat Chinta pulang mburuh ia akan bertanya, “Tadi makan apa, Daddy?”

Dengan lugu dan tanpa dosa saya pun menjawab ringan, “Mi instan.”

Wuah, sebuah jawaban yang seratus persen salah! Karena dengan jawaban saya itu, maka ia pun ngambek.

Selanjutnya, semenjak Bapak bisa sms-an, maka si penerima tak hanya saya. Terkadang, beliau pun mengirimkan sms kepada Chinta, ya istri saya itu. Singkat cerita, akibat keinginan saya menyikat mi instan itu, maka Chinta pun mengadu kepada Bapak, hahaha. Matek aku.

Wah, sudah berdebar hati ini kena marah Bapak, haha. Kendati beliau tak pernah marah, malah itu yang membuat saya khawatir. Bukankah orang yang tak pernah marah, kalau marah itu mengerikan?

Lalu kenapa Bapak mesti marah? Entah, ya, saya pun kurang tahu. Tapi menurut perasaan saya, beliau itu sayang banget sama si Chinta. Lah, saya sudah mengecewakan putri kesayangannya itu, wajar bukan bila beliau marah?

Lantas, apakah kemudian Bapak marah?

Syukurlah ternyata tidak.

Beliau dengan gayanya yang khas saat mengirim sms mengingatkan kewajiban seorang suami kepada istri. Hmmm… apakah kewajiban-kewajiban itu? Silakan disimak:

  1. Ngayani, artinya bisa mencukupi kebutuhan istri
  2. Ngayomi, artinya melindungi keselamatan dan harga diri istri
  3. Ngayemi, artinya selalu dapat membuat senang

Wehhh… ternyata begitu. Jadi biarpun saya sudah menikah selama hampir setahun, terkadang masih harus diingatkan lagi. Di akhir sms-nya beliau pun menulis “Apabila hal itu bisa dilakukan, insyaalloh keluarga akan damai. Sementara itu, kewajiban istri adalah mugen, tegen dan rigen. Artinya biar Chinta sendiri nanti yang tanya.”

Maaf, untuk kewajiban istri, saya tanyakan dulu ke Chinta, ya. Harap bersabar menunggu. 😀

Gambar dipinjam dari sini

Kiat: Memahami Remaja

Keriuhan Masa Muda

Sangat menarik apa yang disajikan oleh National Geographic Indonesia bulan Oktober kemarin. Di sana, dalam sebuah artikel dijabarkan bagaimana perkembangan otak memengaruhi (secara besar-besaran) perilaku seorang remaja.

Dari kajian pencitraan yang dilakukan terhadap otak, diperoleh sebuah grafik perkembangan yang lambat dan tidak merata. Hal ini menawarkan penjelasan yang menarik tentang mengapa remaja melakukan hal bodoh: mereka berbuat seperti itu karena otak mereka belum selesai tumbuh.

Apabila dibandingkan dengan orang dewasa, remaja cenderung tidak terlalu menggunakan area otak yang memantau kinerja, mengenali kesalahan, menyusun rencana dan menjaga fokus.

Semakin kita memahami hal-hal yang membuat masa ini unik, masa remaja semakin terlihat sebagai masa yang sangat fungsional, bahkan adaptif. Memang inilah yang diperlukan agar manusia mampu menghadapi transisi hidup pada masa remaja.

Beberapa hal yang lazim terjadi pada masa remaja adalah:

–          Pencarian ketegangan yang bisa memicu adrenalin

–          Mengambil risiko sebagai akibat penilaian lebih tinggi terhadap imbalan

–          Lebih suka bergaul dengan teman sebaya,

Penjelasannya, semua remaja menyukai hal baru, terlebih yang bisa memicu adrenalin. Risiko suka diambil sebagai bentuk meraih sebuah imbalan. Sebagai contoh mudah, remaja akan berhati-hati saat mengendarai motor sendiri, namun ia akan mulai serampangan apabila berkendara bersama dengan teman-temannya. Nah, pencarian atau pergaulan dengan teman sebaya di sini digunakan oleh remaja sebagai bentuk menerima tawaran kebaruan yang diperoleh dari sesama remaja dibanding keluarga sendiri yang sudah dikenal baik. Hal lain, sisi positif dari semua kegemaran remaja tersebut adalah sebagai bentuk investasi di masa yang akan datang.

Keunikan masa remaja ini berasal dari gen dan proses perkembangan yang lolos seleksi alam. Proses ini telah terjadi selama lebih dari ribuan generasi. Di sini dimainkan peran penting selama masa peralihan yang krusial ini: menghasilkan makhluk yang siap secara optimal untuk meninggalkan rumah yang aman dan memasuki wilayah tak dikenal.

Penelitian menunjukkan bahwa saat orang tua berkomunikasi dan membimbing anak remajanya secara tegas tetapi tidak terlalu ikut campur, tetap akrab tetapi membiarkan mereka mandiri, anak-anak mereka pada umumnya lebih sukses dalam hidup.

Masa ini adalah masa panjang saat area otak depan yang berkembang belakangan ini masih luwes, saat mereka menjadi matang perlahan-lahan.

Dirangkum dari National Geographic Indonesia, Oktober 2011, ‘Otak Nan Rancak’ Hal 24-47

Artikel daring dapat dibaca di tautan berikut

[adsenseyu1]

Kiat: Hidup Sehat dengan Menyiram Tanaman

Membaca tulisan Pak Prie di sini menyoal ‘menyiram tanaman’ saya jadi bersyukur sudah biasa melakukannya. Di situ ditulis, melihat hijau dedaunan adalah salah satu cara untuk menjadikan hidup lebih sehat.

Yahh… biarpun tidak rutin benar tiap pagi menyiram tanaman, karena kesiangan :D, namun syukurlah kegiatan itu masih dilakukan sesekali. Memangnya banyak tanaman saya? Tidak juga, karena hanya ada enam pot, itu pun dua di antaranya tidak ada tanamannya. Hahaha

Jadi, di teras rumah petak yang saya kontrak itu, ada beberapa tanaman yang saya rawat alakadarnya. Maksudnya, ya sekadar menyiram, tak ada itu memberi pupuk, menyemprot anti hama dan lain-lain.

Lalu apa saja tanaman itu? Ada kaca piring, melati, jeruk nipis, dan cabai. Satu waktu saya pernah mencoba menanam melon, namun tak berhasil. K

Dari empat tanaman tersebut, kaca piring, melati, dan jeruk nipis saya beli di pasar. Untuk tanaman cabai saya bibitkan sendiri.

Mudah, kok, untuk membibitkan tanaman cabai dan melon. Pertama, saat Anda memakan buah melon dan memanfaatkan cabai, pisahkan bijinya. Tentu bijinya tak dimankan, bukan?

Nah, setelah bijinya disisihkan, silakan dilanjutkan dengan mengeringkan biji itu. Apabila sudah kering betul, tanamlah beberapa biji yang baik dan kering sempurna di media tanam. Untuk permulaan, boleh ditanam banyak biji sebagai kecambahnya. Hal ini untuk memperbesar peluang tumbuhnya bibit.

Tak lama, barangkali tak sampai tiga minggu, kecambah dari biji akan tumbuh. Di tahap ini, silakan dipilih kembali beberapa kecambah yang bagus dan tampak sehat. Beberapa yang terpilih ini kemudian pindahkan ke pot dan siramilah secara teratur.

Oya, sebagai media tanam di awal penanaman biji, bisa menggunakan kompos yang bisa dibeli di pasar atau supermarket. Kalau tak ada pot, manfaatkanlah tempat bekas pop mi atau wadah lain yang tak terlalu besar. Jangan lupa, lubangilah bagian bawahnya terlebih dahulu agar air tidak menggenang. Sebab hal ini bisa menyebabkan akar membusuk.

Saat ini, saya sedang menunggu bunga bermekaran dari melati dan kaca piring. Selain itu, saya pun sedang menunggu cabai yang merah besar-besar (semoga begitu) bergelantungan. Doakan ya…. 😀

Terima kasih