Awas Sinabung: Fakta dan Upaya Penanggulangan Bencana Gunung Sinabung

Foto: Twitter/@supereruption

Gunung Sinabung masih terus menyemburkan berbagai material berbahaya ke daerah sekitarnya. Kenapa aktivitas Sinabung masih tinggi, kapan aktivitas gunung api ini akan berakhir, dan apa upaya serta rekomendasi dari BNPB?

Dalam tulisan ini Anda akan menemukan jawaban dari beberapa pertanyaan tersebut di atas. Continue reading “Awas Sinabung: Fakta dan Upaya Penanggulangan Bencana Gunung Sinabung”

Penanggulangan Bencana: Upaya Mitigasi Merapi

Kewajiban melakukan mitigasi disebut dalam UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana Nasional. Undang-undang tersebut berfungsi sebagai pedoman dasar yang mengatur wewenang, hak, kewajiban dan sanksi bagi segenap penyelenggaran dan pemangku kepentingan di bidang penanggulangan bencana. Menurut UU tersebut, penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam situasi berpotensi terjadi bencana meliputi kesiapsiagaan, peringatan dini, dan mitigasi bencana.

Kesiapsiagaan dilakukan untuk memastikan upaya yang cepat dan tepat dalam menghadapi bencana. Sedangkan peringatan dini dilakukan untuk pengambilan tindakan cepat dan tepat dalam rangka mengurangi risiko terkena bencana serta mempersiapkan tindakan tanggap darurat. Mitigasi dilakukan untuk mengurangi risiko bencana bagi masyarakat yang berada di kawasan rawan bencana. Mitigasi bencana Gunung Merapi bisa diartikan sebagai segala usaha dan tindakan untuk mengurangi dampak bencana yang disebabkan oleh erupsi Gunung Merapi. Mengingat begitu padatnya penduduk yang bermukim di sekitarnya, bencana erupsi Merapi dapat terjadi sewaktu-waktu.

Berdasarkan tugas dan fungsinya, PVMBG termasuk BPPTK sebagai salah satu unitnya, turut berperan dalam manajemen krisis bencana erupsi. Pada fase pra kejadian, peranannya meliputi langkah-langkah penilaian risiko bencana, pemetaan daerah rawan bencana, pembuatan peta risiko, dan pembuatan simulasi skenario bencana. Tindakan lain yang perlu dilakukan adalah pemantauan gunung api dan menyusun rencana keadaan darurat. Adapun pada fase kritis, badan ini sudah harus melakukan tindakan operasional berupa pemberian peringatan dini, meningkatkan komunikasi dan prosedur pemberian informasi, menyusun rencana tanggap darurat yang berupa penerapan dari tindakan rencana keadaan darurat, dan sesegera mungkin mendefinisikan perkiraan akhir dari fase kritis.

Sedangkan sistem peringatan dini Gunung Merapi berfungsi untuk menyampaikan informasi terkini status aktivitas Merapi dan tindakan-tindakan yang harus diambil oleh berbagai pihak terutama oleh masyarakat yang terancam bahaya. Ada berbagai bentuk peringatan yang dapat disampaikan, Peta Kawasan Rawan Bencana sebagai contoh adalah bentuk peringatan dini yang bersifat lunak. Peta ini memuat zonasi level kerawanan sehingga masyarakat diingatkan akan bahaya dalam lingkup ruang dan waktu yang dapat menimpa mereka di dalam kawasan Merapi.

Bentuk peringatan dini terutama adalah tingkat ancaman bahaya atau status kegiatan vulkanik Merapi serta langkah-langkah yan harus diambil. Bentuk peringatan dini bergantung pada sifat ancaman serta kecepatan ancaman Merapi. Apabila gejala ancaman terdeteksi dengan baik, peringatan dini dapat disampaikan secara bertahap, sesuai tingkat aktivitasnya. Namun, apabila ancaman bahaya berkembang secara cepat, peringatan dini langsung menggunakan perangkat keras berupa sirine sebagai perintah pengungsian.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.