Satu Mimpi

Novel Winter Warriors karya David Gemmel sejatinya bercerita tentang kepahlawanan. Namun, di sela jalan cerita, ada satu hal yang paling saya ingat adalah pembicaraan tentang mimpi.

Adalah Kebra, sang pemanah jagoan tapi sudah sepuh dan Conalin seorang bocah yatim piatu yang kepincut berat kepada Kebra.

Keduanya memiliki kondisi yang Continue reading “Satu Mimpi”

10+ Langkah Menjadi Penulis Buku

Menjadi Penulis Buku

Menjadi penulis buku seperti Pramoedya, Arswendo, atau Dewi Lestari  sangat membanggakan, bukan? Apakah Anda juga ingin menjadi penulis buku?

Saat ini siapa saja bisa menjadi penulis karena kehadiran internet membuka kesempatan itu kepada semua orang.

Hasilnya pun sungguh menggembirakan saat laman-laman baru di internet bermunculan bagaikan cendawan di musim penghujan.

Berbagai website tersebut bisa dimiliki oleh perseorangan, misalnya blog; sekelompok orang dengan ide yang sama dan mengusung tema tertentu, misalnya situs semacam mojok; atau berbagai situs berita online yang dikelola secara lebih serius dan melibatkan lebih banyak orang.

Barangkali Anda tertarik untuk berkecimpung dalam riuhnya dunia internet tersebut, atau bisa jadi Anda malah sudah bosan dengan segala dinamika di intenet dan ingin mencoba tantangan baru dalam menulis.

Hmmm…. Bagaimana dengan menulis buku? Apakah Anda tertarik melakukannya?

Continue reading “10+ Langkah Menjadi Penulis Buku”

Review Buku: WORK LOVE PLAY WHEN NO ONE HAS THE TIME

work_love_play

Pada tahun 1930, John Maynard Keynes memprediksi bahwa dalam abad ini, kita akan bekerja selama 15 jam saja per hari. Dua dekade kemudian, Wakil Presiden Richard Nixon mengemukakan, bahwa pada tahun 1990, warga Amerika akan pensiun pada usia 38 tahun. Namun, tak peduli dengan banyaknya gadget baru yang semestinya dapat memudahkan kita, seperti mesin pencuci piring, popok sekali pakai, skype, dsb, banyak orang di negara maju justru merasa saat ini mereka bekerja lebih keras dari generasi sebelumnya.

Brigid Schulte memberi istilah pada kondisi ini sebagai ‘the overwhelm’. Sementara itu, dalam buku yang ditulis oleh reporter The Washington Post mencoba menjelaskan kenapa di antara kita selalu merasa bahwa waktu yang kita miliki dalam sehari kurang. Dia bersimpati pada kita yang merasa bersalah karena bingung harus memilih antara karier atau keluarga, dia juga merasa lelah karena merasa sudah bekerja terlampu banyak, namun merasa harus bekerja lebih banyak lagi.

Hal tersebut adalah perasaan yang umum, terutama pada ibu yang bekerja. Baru-baru ini saya duduk dalam satu ruangan bersama dengan bos-bos wanita dari suatu media, kami berdiskusi bagaimana mereka bisa mencapai level tinggi tersebut. Jawabannya selalu bekerja paruh waktu pada saat anak-anak mereka masih muda, namun dalam satu kasus karena punya suami yang berada di rumah sebagai bapak rumah tangga. Mereka telah membuktikan, bahwa kita tak dapat memiliki semua, jika itu berarti bekerja 60 jam seminggu dan pada saat yang sama harus menjaga keluarga kecil Anda.

Berdasarkan diagnosis dari Schulte, sejauh ini kelompok yang tak punya waktu untuk bersenang-senang adalah ibu, terutama bila ia adalah orang tua tunggal. Kesimpulan tersebut didapatkan dari penelitian selama bertahun-tahun, karena mulanya mereka (terutama pria) mengira bahwa mengurus anak dan pekerjaan rumah sebagai waktu bersantai. Ini bukanlah buku yang akan menyadarkan Anda dengan pesan feminis yang kuat, namun tak bisa dipungkiri bahwa ada aspek gender dalam pandangan kita mengenai ‘bekerja’.

Biarpun makin banyak jumlah wanita yang bekerja secara penuh, namun pendapat kolot kita pada aspek gender sangatlah sulit diubah. Ibu tetap mengerjakan lebih banyak pekerjaan rumah dan mengurus anak daripada seorang bapak, meskipun bila keduanya bekerja. Sementara waktu bapak untuk anaknya biasanya hanya tambahan saja, sebagai orang tua pembantu atau orang tua yang menyenangkan. Ibu di sisi lain adalah orang tua utama dan karenanya tak bisa benar-benar bersantai. Pada pasangan gay, peran tersebut justru kurang lebih seimbang. Seorang ibu hanya punya sedikit waktu luang sementara pada saat yang sama masih mengkhawatirkan tentang email penting yang belum dibaca atau ada bau aneh di bawah tangga yang bisa jadi bangkai kucing.

Melawan ‘the overwhelm’ berarti mengidentifikasi masalah, dalam buku ini dijelaskan adanya tiga persoalan: pekerjaan, harapan, dan diri kita. Anda boleh senang bila hidup di Eropa, karena di Amerika, terlihat sekali kebencian pada warganya dan ingin mereka tak bahagia. “Amerika adalah satu-satunya negara maju yang tidak memberikan waktu istirahat pada pekerja.” Tulis Schulte. “Hampir seperempat pekerja di Amerika tak mendapat kesempatan berlibur, kebanyakan adalah pekerja rendah atau paruh waktu.” Di sana juga tak ada pertimbangan ‘maternity’ karena tak ada aturan mengenai hal itu. Semua hal tersebut adalah hasil dari dominasi agama di tahun 1970-an, penghasut seperti Pat Buchanan menduga bahwa pengasuhan anak adalah media untuk mendoktrin anak dan membuat mereka menjadi kelompok-kelompok kecil. Schulte cemburu pada negara-negara di Skandinavia yang memiliki kebijakan bersahabat untuk keluarga, namun di Amerika situasinya sangat berbeda.

Penyebab berikutnya dari ‘the overwhelm’ adalah konstruksi yang disebut oleh Schulte sebagai ‘ideal worker’. Seorang pekerja ideal adalah bagian paling sempurna dari mesin kapitalis, tak pernah izin atau bahkan mogok kerja, selalu siap untuk bekerja lembur atau dinas ke luar kota, termasuk tak pernah izin untuk mengurus anak atau orang tua yang sakit. Banyak bisnis yang terpengaruh oleh ‘paham kehadiran’, mereka percaya ada korelasi yang kuat antara waktu yang dihabiskan di kursi kantor dan produktivitas. Sesuatu yang tak benar, karena penelitian menunjukkan, bahwa seseorang hanya bisa bekerja delapan jam sehari. Setelah itu, mereka hanya duduk di meja, bermain game di komputernya, atau sudah melamunkan menu makan malam. Budaya bekerja dalam waktu yang lama berpengaruh baik pada pria maupun wanita, manakala seorang pria meminta waktu bekerja yang fleksibel, dia diasumsikan sebagai pekerja pemalas atau banci.

Kendati begitu, kita tak dapat menyalahkan pekerja tanpa hati tersebut. Kemakmuran relatif telah memaksa pekerja untuk menyembah altar kerja lembur, sebuah sikap yang oleh Schulte disebut sebagai ‘lebih sibuk daripada kau’. Memiliki kulit yang kehitaman–bagi orang asing–adalah lambang bahwa Anda bisa berlibur ke kawasan tropis, jadi bekerja lembur adalah penghormatan bagi pekerja di kalangan menengah. Tak memiliki waktu luang menandakan Anda punya pekerjaan, karier dan Anda akan bepergian ke suatu tempat.

Resep dari Schulte sangat sederhana, yaitu memutuskan untuk mencintai bualan tentang kesibukan dan badai pekerjaan. Namun, jika Anda tak mencintainya, barangkali Anda bisa memilih untuk pergi bermain alat musik atau berolah raga. Berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga, seorang peneliti memiliki pesan sederhana bagi para ibu, yaitu agar tak takut untuk terlihat jelek. Para Ibu tak akan melakukan bedah jantung di lantai dapur, bukan? Lagi pula, bila Anda dituntut untuk cantik, para pria juga mesti mengurangi berat badannya.

Kelebihan buku ini adalah gabungan antara penelitian dan anekdot sehari-hari yang dialami dan disajikan melalui mata seorang reporter yang mencatat dengan detil. Adapun kritik yang disampaikan adalah, pesan Schulte lebih banyak ditujukan pada pekerja di bidang kreatif dan ide untuk meminta empat hari kerja atau pulang pada pukul empat tak berlaku untuk pekerja rendah atau pekerja kontrak. Penulis buku ini juga mengetahui, bahwa rata-rata jam kerja antara bos yang sangat sibuk dengan pekerja rendah sangatlah jauh bedanya, dengan demikian ia telah melakukan generalisasi. Namun, tentu saja buku semacam ini tak dapat mengatasi semua persoalan yang demikian rumit, dan kalau pun buku ini dapat melakukannya, tak seorang pun dapat membaca hasilnya. Kita benar-benar kekurangan waktu dalam sehari.

Tulisan ini bersumber dari sini

Review: Inferno

Inferno1. Data Buku

Judul Buku: Inferno
Penulis: Dan Brown
Nama Penerbit: PT Bentang Pustaka
Cetakan dan Tahun Terbit: Cetakan  II, Oktober 2013
Jumlah Halaman: 642 Halaman

2. Judul Resensi
Kelindan Neraka

3. Ikhtisar Isi Buku
Inferno karya Dan Brown seperti biasa, menawarkan plot cerita yang begitu cepat. Dalam buku ini, cerita diawali pada tengah malam dan berakhir di dini hari berikutnya. Dalam sehari itu, cerita bergulir dari Florence ke Venesia di Italia kemudian terbang ke Istambul di Turki. Awas, barangkali Anda akan terengah-engah membacanya. Continue reading “Review: Inferno”

Review: Canting

canting_batik_1. Data buku

Judul Buku: Canting
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Nama Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan dan Tahun Terbit: Cetakan Ketiga, Oktober 2007
Jumlah Halaman: 406 Halaman

2. Judul Resensi
Kepasrahan Canting

3. Ikhtisar Isi Buku
Canting berkisah jatuh bangunnya sebuah usaha batik yang dikelola oleh istri dari Pak Bei Sestrokusuman. Usaha keluarga ini dulunya sangat maju. Dengan buruh yang banyak, pengelolaannya memang dilakukan secara tradisional, namun memberikan keuntungan yang bagus. Seiring perkembangan zaman, perusahaan keluarga ‘Batik Canting’ yang mengkhususkan diri pada batik tulis pun perlahan-lahan ambruk. Penyebabnya, tak lain semenjak ditemukannya metode batik cap yang bisa berproduksi dengan cepat dan harganya murah. Continue reading “Review: Canting”

Review: Ibunda dan Canting

laborSaya kurang tahu, apakah ada manfaatnya atau tidak untuk membandingkan perjuangan buruh di Rusia dan Indonesia. Sumber saya pun bukan buruh langsung. Saya hanya membaca dua buah buku yang kebetulan bercerita soal buruh. Jadi, anggap saja ini sekadar untuk tambahan pengetahuan Saudara saja, hehe.

Buku pertama adalah terjemahan novel ‘Ibunda’ karya Maxim Gorki yang dialihbahasakan oleh Pramoedya Ananta Toer. Di blog ini, saya pernah membuat catatan singkatnya di tautan ini.

Ibunda bercerita tentang Pelagia Nilovna, seorang ibu dari buruh bernama Pavel Vlassov. Sosok ibu tersebut harus merelakan putra kesayangannya, Pavel, untuk memperjuangkan hak-hak buruh. Bahkan, Ibu itu harus pula bergerak mendukung perjuangan anaknya.

Pavel bersama kawan-kawannya aktivis buruh sudah muak dengan kesewenang-wenangan penguasa, dalam hal ini pemerintahan Tsar dan pemilik pabrik tempatnya bekerja. Diam-diam mereka melakukan pertemuan. Diam-diam mereka menyebarkan selebaran yang berisi provokasi dan ajakan untuk melawan.

Selebaran itu dibagikan kepada sesama buruh, tentu saja secara sembunyi-sembunyi. Niat Pavel memang harus membuat para buruh itu mengerti, kata dia, “Kita harus bergerak, namun, terlebih dahulu kita harus membuat pintar mereka, para buruh itu.”

Pada satu perayaan May Day, Pavel dan buruh-buruh lain melakukan pawai, menyuarakan aspirasinya. Dalam kesempatan itu, Pavel ditangkap oleh polisi yang menjadi kepanjangan tangan para penguasa. Setelah itu, dia kemudian dijebloskan ke penjara.

Ibunda kemudian terpanggil untuk mendukung kerja putranya. Dia pun turut menyebarkan selebaran kepada buruh-buruh.

Pavel sebagai seorang buruh dicitrakan sangat berani. Ketekunannya belajar, membuat dirinya didengar oleh para aktivis dan buruh lain. Dia bahkan bisa mengalahkan adu argumen dengan para penegak hukum dalam sebuah pengadilan yang telah diatur sebelumnya. Kendati pada akhirnya dia harus menerima hukuman buang ke Siberia, namun kesadaran perlawanan di kalangan buruh itu telah menyebar seperti wabah yang terus meluas. Gerakan itu siap menerkam kesewenang-wenangan penguasa.

==

Satu buku lagi berjudul ‘Canting’ karya Arswendo Atmowiloto yang bercerita tentang jatuh bangunnya sebuah usaha batik tulis Canting. Dalam buku tersebut diceritakan bagaimana perjuangan buruh-buruh batik di Solo.

Lain di Rusia, lain pula Solo. Di pabrik batik Canting yang memiliki buruh lebih dari seratus itu, perjuangan dilakukan lebih banyak dengan diam dan dalam bentuk sikap pasrah.

Adalah Wagiman, seorang buruh batik yang tak menuntut apa-apa. Ia tahu apa yang menjadi haknya, lewat jalan apa pun akhirnya akan jatuh ke tangannya pula. Sebaliknya apa yang belum menjadi miliknya, diberikan di depan mulut pun akan jatuh ke tanah. Gusti Allah sudah mengatur semuanya. (140)

Begitulah sikap seorang buruh batik. Dia pasrah pada rezeki yang sudah digariskan oleh Tuhan. Lebih jauh, menjadi buruh bagi Wagiman adalah sebentuk pengabdian kepada ndoronya, tuannya.

Wagiman merasa, bahwa pengabdian dirinya adalah bagian yang pokok dari mengutarakan rasa bersyukur. Kepasrahan–penyerahan secara ikhlas—adalah sesuatu yang wajar. Bukan kalah, bukan mengalah. (161)

Apakah tindakan Wagiman yang nerimo dan pasrah itu berhasil melawan kekuasaan penguasa?

Ni, bos Wagiman bukanlah jenis bos yang semena-mena. Ia sangat memerhatikan kesejahteraan karyawannya. Bahkan, terkadang ia bingung sendiri dengan tingkah mereka yang serba nerima, serba monggo atas keputusan-keputusan dari Ni.

Saat usaha batik tulis Canting mengalami kemunduran karena ada batik cap yang lebih cepat berproduksi dan harganya murah, Ni meminta pendapat dari buruh-buruhnya. Dia bingung bagaimana harus menggaji mereka, rasionalisasi harus dilakukan, artinya pengurangan gaji. Apa yang dilakukan oleh buruh itu adalah menerima keputusan tersebut tanpa mempertanyakan.

Sikap mereka ini justru yang membingunkan Ni.

==

Demikian perbandingan buruh berdasarkan dua buku yang telah saya baca. Tentu saja bukan perbandingan apel ke apel. Majikan yang berbeda, iklim usaha yang lain, penguasa pemerintahan yang tak sama, sikap hidup dan lain-lain menjadi dasar perbedaan di antara buruh-buruh itu.

Picture

Review: Ibunda, Maxim Gorky

Ibunda_pictureIa seorang yang sudah sepuh. Bila berjalan, ia sedikit membungkuk. Di dahinya terdapat sebuah bekas luka. Keriput sudah mulai menghiasi tubuhnya, menghasilkan kerut merut yang membuat ngeri orang yang memandangnya.

Pelagia Nilovna namanya. Istri dari seorang montir, Vlassov, yang memiliki anjing dan sekaligus darah tinggi. Hobi suaminya adalah menenggak vodka sampai dia jatuh tertidur dan marah-marah. Pelagia menjadi sasaran kemarahannya, semua barang dilemparkan, pun kata-kata tak pantas berhamburan dari mulutnya.

Kedua orang tua ini memiliki seorang putra, Pavel. Dia masih muda, bersemangat dan sekaligus membenci ayahnya.

Satu hari, penyakit datang menyapa Tuan Vlassov, hingga dia menemui ajalnya. Kini, tinggallah Pelagia hidup berdua bersama anaknya Pavel.

Pavel melanjutkan pekerjaan ayahnya, dia bekerja di pabrik sebagai buruh. Sehari-hari dia bekerja, namun terkadang pergi entah ke mana bertemu dengan teman-temannya. Mula-mula ini membuat khawatir Pelagia, namun bakti Pavel padanya sungguh membuat ibu tua ini bahagia.

Pavel sering pulang larut malam entah dari mana, seringkali dia membawa buku. Ibunda hanya memperhatikan, tak hendak bertanya karena ia tak paham. Ia sudah lupa bagaimana cara membaca, ingatannya yang dulu sudah banyak yang hilang dihantam oleh kepalan tangan suaminya.

Selain buku, Pavel terkadang pulang dengan membawa teman-temannya. Kemudian mereka berdiskusi di ruang tamu, sementara Ibunda mendengarkan di dapur tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Bukan hanya sekali Ibunda merasa khawatir dengan jalannya diskusi yang terkadang panas itu, ingin dia mendamaikan, namun tak berani mengganggu anak-anak muda itu.

Seringnya diskusi dilakukan membuat Ibunda sedikit demi sedikit paham, anak-anak muda ini sedang merencanakan sebuah gerakan. Mereka bersemangat untuk sebuah kehidupan yang lebih baik, untuk kebebasan dari penindasan pabrik dan hal-hal semacam itu.

Khawatir kembali menyeruak di hati Ibunda, seiring dia mendengar banyaknya penangkapan pada para aktivis. Barangkali Pavel salah seorang aktivis itu, pikir Ibunda tidak terlalu yakin. Namun, ia juga mendengar, bahwa rumahnya sudah mulai diawasi oleh polisi karena seringnya digunakan untuk rapat-rapat rahasia. Ah….

Polisi pun datang pada suatu malam untuk menggeledah rumah Ibunda. Syukurlah semua bukti sudah disingkirkan di hutan belakang rumah. Mereka pulang tanpa membawa hasil, namun ancaman dari gerak-geriknya sudah cukup membuat Ibunda gemetar. Biarpun begitu, hal ini sama sekali tak menyurutkan nyali Pavel dan kawan-kawannya. Mereka tetap berjuang.

Kegetiran hidup Ibunda berganti-ganti dengan rasa bangga pada anaknya. Semangat berubah-ubah dengan rasa takut. Sosok tua yang semula hanya menjadi sasaran pelampiasan kemarahan suaminya itu perlahan menjelma menjadi seorang yang tegar dan berani. Itu semua terjadi karena teladan dari anaknya.

Pun Pavel, ia tak pernah gentar, bahkan ketika ancaman pedang dan penjara. Dia pimpin kawan-kawannya untuk memberontak, melawan pada kekuatan modal, petinggi pabrik, pejabat, polisi, siapa saja yang menjadi kepanjangan tangan kesewenang-wenangan dan menindas kaum mereka. Pavel menjadi pemimpin para buruh untuk bergerak.

“Kita harus bergerak, namun, terlebih dahulu kita harus membuat pintar mereka, para buruh itu.” Begitu kata Pavel pada suatu malam di hadapan teman-temannya. Karena itu, dia mulai membagi-bagikan selebaran berisi ajakan untuk perjuangan. Satu hal yang nantinya akan diteruskan oleh Ibunda, membawa selebaran itu ke tempat yang jauh, ke pelosok negeri, kepada kaum-kaum yang tertindas agar mereka bergerak bersama. Selebaran itu menjadi corong perjuangan mereka, karena apa yang menjadi pesan dari selebaran itu sebuah lokomotif perubahan bergerak dari stasiunnya. Dia menerobos kekolotan, kekejaman, perbudakan, dan semua hal menjijikkan lainnya.

Bacalah Novel Ibunda, kawan, bila kau sempat.

Pinjam Gambar dari sini

Silakan barangkali ada yang pengen langsung beli bukunya bisa di sini

Review: Madre (Layang-layang)

“Kamu benar. Ternyata kita sama, Che. Aku dan kamu sama-sama manusia kesepian. Bedanya, aku mencari. Kamu menunggu.”

Kata itu diucapkan dengan lirih oleh Starla kepada Christian, dua tokoh dalam cerita pendek ‘Menunggu Layang-layang’ yang ada dalam ‘Madre’ karya Dee.

Christian atau Che adalah sahabat karib Starla. Dia seperti robot, bangun tepat saat jam wekernya berbunyi pada pukul 05.45. Dia mandi dengan campuran air dingin dan panas yang suhunya sama bertahun-tahun. Agak menggelikan Continue reading “Review: Madre (Layang-layang)”

Review Buku: Bekisar Merah

Sedari mula Lasi sudah tercerabut dari akarnya di Karangsoga. Di desa tempat para penyadap kelapa hidup dan tinggal itu, Lasi menjadi orang asing. Ia yang memiliki kulit lebih putih dari yang lain, mata kaput sangat indah dan kecantikan lainnya telah membatasi dirinya sendiri dengan lingkungannya di Karangsoga.

Pak Ahmad Tohari memulai ‘Bekisar Merah’ dengan sosok Darsa yang sedang memandangi kebunnya. Cara bercerita beliau yang bisa menggambarkan keindahan sebuah tempat begitu detil telah membuat lupa. Terlena padahal ada sebuah masalah yang dialami Darsa dan penduduk Karangsoga lainnya. Masalah itu adalah harga gula kelapa yang sekilonya kadang tak cukup untuk membeli setengah kilo beras.

Karangsoga hidup dalam kemiskinan para penyadapnya. Meski kicauan burung, harum embun pagi dan lumut basah senantiasa tercium dari tebing-tebing di tepi kali. Continue reading “Review Buku: Bekisar Merah”