Categories
Tokoh

Tokoh: Kartini dan Gelarnya

Pada suatu kali, Kartini ikut menghadiri “sembahyang istisqo” yang dilakukan oleh rakyat jelata, dan kemudian hujan pun turun. Menanggapi hal ini, Kartini pun menulis: Rakyat-bocah kami yang naif itu menarik kesimpulan, kamilah yang telah memperkuat doa permohonan mereka itu dengan kekuatan kami, yang menyebabkan doa itu segera makbul. (Surat, 1 Februari 1903, kepada Mr. J.H. […]

Categories
Tokoh

Tokoh: Kartini dan Batas Kemampuannya

Dalam suratnya kepada Nyonya Ovink-Soer pada bulan Oktober tahun 1900, ia mengatakan, bahwa “Pemenuhan dari hasrat-hasrat hati, banyak kali dibarengi dengan penerimaan luka-luka pada hati itu pula.” Ia pun melanjutkan: Dan begitu banyak kejadian pada hari-hari belakangan ini menunjukkan: manusia menimbang—Tuhan jua yang menentukan. Itulah peringatan bagi kami orang-orang berpemandangan céték ini, peringatan agar terutama […]

Categories
Tokoh

Tokoh: Kartini dan Perpisahan

Dalam kesepiannya karena ditinggalkan Kardinah, adiknya yang kawin terlebih dahulu, Kartini menulis: Kami sangat kehilangan si Kecil. Tetapi yang paling baik ialah tidak tinggal diam begitu saja, karena hal itu bukan merupakan satu-satunya perpisahan yang sangat menyedihkan; masih banyak hal menunggu kami di hari depan. Memang tiada terhindarkan dalam hidup manusia, perpisahan merupakan kata seru […]

Categories
Tokoh

Tokoh: Kartini dan Pengarang

‘Kepengarangan adalah tugas sosial’. Manifes kepengarangan Kartini di atas membutuhkan bahasa Belanda yang bisa menjadi jalan tercepat untuk mencapai tujuan, karena dengan itu tulisannya dapat sampai pada alamat yang tepat, melalui jarak yang singkat. Tujuan di sini adalah pembentukan kekuatan, persatuan dan perikatan. Manifes kepengarangannya ini dilanjutkan dengan kata-kata:

Categories
Tokoh

Tokoh: Kartini dan Gamelan

Tentang Gamelan ia mengatakan sesuatu dalam rangkaian pikiran yang sempurna dan mengharukan, suara dari jiwa Rakyatnya sendiri pada masa itu: Gamelan tidak pernah bersorak-sorai; sekalipun di dalam pesta yang paling gila pun, dia terdengar sayu dalam nyanyiannya, mungkin begitulah seharusnya. Kesayuan itulah hidup, bukan nyanyi bersorak-sorai! Malam waktu itu; jendela dan pintu-pintu terbuka; bunga cempaka […]

Categories
Tokoh

Tokoh: Kartini dan Bahasa

Kartini mempunyai keahlian menggunakan bahasa. Tentang keahliannya yang satu ini, ia tak pernah punya keraguan. Sejak kecil, bahasa ini menjadi mata pelajaran kesukaannya dan sudah sejak kecil pula, “Banyak yang menyatakan, bahwa bahasa Belandanya baik.” Tanpa melupakan pertimbangan, bahasa yang baik belum dapat menjadikan seseorang pengarang yang baik. Itu pun disadari Kartini. Sekali waktu ia […]

Categories
Tokoh

Tokoh: Kartini dan Puisi

Orang dengan perasaan halus, dengan perabaan tajam dan daya cipta besar tidak boleh tidak pastilah seniman/seniwati, tak peduli di bidang apapun. Dan tiada ayal lagi, Kartini adalah seniwati—dan di berbagai bidang pula. Katanya: Pikiran adalah puisi, pelaksanaannya seni! Tapi mana bisa ada seni tanpa puisi? Segala yang baik, yang luhur, yang keramat, pendeknya segala yang […]

Categories
Tokoh

Tokoh: Kartini dan Agama

Dari sejarah Barat, Kartini melihat bagaimana kemajuan berjalan setindak demi setindak seperti orang membuat gedung yang memasang batu demi batu, dari renaissance sampai timbulnya pemikiran-pemikiran baru di lapangan keagamaan Nasrani, yang mengakibatkan terjadinya peperangan-peperangan agama yang terjadi beberapa generasi di Eropa. Kartini pun pernah menyatakan pendapatnya—sebagai suatu hal yang membuktikan ia memperhatikan sajarah Eropa dan […]

Categories
Tokoh

Tokoh: Kartini dan Budaya

Kami hendak berikan kepada rakyat kami apa-apa yang indah dari peradaban Eropa, bukan untuk mendesak keindahannya sendiri dan menggantinya, tetapi untuk mempermulia yang sudah ada itu. Dengan jalan mengawinkan tumbuh-tumbuhan atau hewan dari berbagai jenis orang bisa mendapatkan jenis yang dipermulia. Bukankah begitu juga di lapangan adat-kebiasaan rakyat-rakyat? Kalau yang baik pada rakyat yang satu […]

Categories
Tokoh

Tokoh: Kartini dan Bangsawan

Kepada kaum feodal Kartini menyatakan proklamasinya: “Adeldom Verplicht” atau: Kebangsawanan mewajibkan, artinya makin tinggi kebangsawanan seseorang, makin berat tugas dan kewajibannya terhadap Rakyat. Panggil Aku Kartini Saja, Halaman 93

Categories
Tokoh

Tokoh: Kartini dan Ibunya

Permaduan adalah salah satu mata rantai penderitaan raksasa. Tidak ada seorang bawahan pun, apa lagi wanita, berani menolak perintah bangsawan untuk menjadi istrinya yang ke sekian atau ke sekian. Permaduan ini bukan berasal dari agama Islam, tetapi dari tata hidup feodalisme, jadi jauh sebelum masuknya Islam. Di lingkungannya sendiri, Kartini saban hari melihat permaduan itu […]

Categories
Tokoh

Tokoh: Kartini dan Mitos

Kartini disebut-sebut di berbagai hari peringatan lebih banyak sebagai mitos, bukan manusia biasa, yang sudah tentu mengurangi kebesaran manusia Kartini itu sendiri,  serta menempatkannya ke dalam dunia dewa-dewa. Tambah kurang pengetahuan orang tentangnya, tambah kuat kedudukannya sebagai tokoh mitos. Gambaran orang tentangnya dengan sendirinya lantas menjadi palsu, karena kebesaran tidak dibutuhkan, orang hanya menikmati candu […]