Review: Wolverine the Origin

most people who seek blood they get it, but you always have a choice (wolverine the origin)

Dendam, mimpi dan cinta, ketiganya memiliki kekuatan yang sama untuk mendorong seseorang mencapai tujuan. Entah dari mana kekuatan tersebut berasal, namun meski tak selalu tujuan tercapai banyak yang rela melakukan berbagai hal atas nama ketiga kekuatan itu.

Seperti halnya Wolverine, mula-mula cinta membuatnya tidak terlampau liar. Hidup sederhana bersama belahan jiwanya di pucuk gunung yang tinggi dikelilingi pepohonan Pinus. Mimpinya adalah hidup bersama dengan kekasihnya itu, jauh dari hingar-bingar dunia yang kejam, mengingatkannya pada kawanannya dahulu yang tak segan menghilangkan satu dua nyawa. Cinta dan mimpi itu memang pada mulanya begitu indah, mereka hidup bersama, berdua.

Apa lacur, gerombolannya dahulu tak membiarkan Wolverine hidup dalam kedamaian. Dibuatlah huru-hara dengan cara membunuh kekasihnya. Dendam yang membara di dalam dada tak kunjung hilang bila belum berhasil menghabisi si pembunuh. Maka, ditempuhlah beragam cara untuk lebih kuat, lebih perkasa dari musuhnya.

Menjadi kelinci percobaan sebuah senjata baru pun bukan menjadi masalah yang terlampau rumit. Apa salahnya bila dengan itu dendam bisa dituntaskan, musuh dibunuh?

Di film itu pula kita lihat: peragaan cinta, buaian mimpi dan kekuatan dendam. Persis seperti apa yang dibilang oleh seorang tua pada sebuah adegan, “Mereka yang mencari darah akan mendapatkannya, namun selalu ada pilihan.” Pada akhirnya Wolverine memang menemukan musuh bebuyutannya dan berhasilkah ia membalas dendam? Ah, saya sudah lupa.

Saya teringat manakala seorang teman menulis, Memaafkan karenanya selalu jadi medan penuh ketegangan antara “kebutuhan melupakan”, “naluri mengenangkan” dan “hasrat membayangkan masa depan”. Di sini bila saya boleh menerjemahkannya secara ngawur, memaafkan bukanlah tindak yang diam. Jembatan-jembatan terhubung dengan masa lalu, masa depan pun detik ini ketika memaafkan hendak dilakukan. Bukanlah hal yang rumit sebenarnya, meski tak juga terlampau mudah. Memaafkan kemudian adalah pilihan persis seperti yang dibilang orang tua itu.

Pernah pula seorang teman lain berkata, “Aku memaafkanmu namun tak akan kulupakan.” Apakah boleh seperti itu? Ya, tentu saja boleh. Apa hak saya melarang-larang? Mungkin ketika maaf sudah diberikan namun ingatan tak juga lekang adalah saat sebuah kesalahan begitu besar dilakukan. Dan goresan luka, tertoreh begitu dalam. Tak hendak hilang tak mau pergi.

Urusan maaf-memaafkan ini memang tidak mudah. Kembali ke dendam, banyak cerita silat yang saya baca, film yang saya tonton bermula dari urusan dendam. Satu hal yang bisa saya garis bawahi, dendam tak pernah berhenti. Satu generasi akan diturunkan kepada generasi berikutnya, demikian seterusnya. Capai? Ya barangkali hanya keletihan yang menjadi muaranya. Namun tanyalah kepada mereka yang mendendam, apakah lelah, apakah letih akan menjadi penghalang?

Teringat kemudian sebuah email berantai yang pernah saya terima entah kapan. Berisi cerita seorang anak yang diminta oleh ayahnya memaku pagar di depan rumahnya. Paku-paku itu menancap begitu kuat di pagar. Setelah habis seluruh paku dalam genggaman, ayahnya meminta agar satu per satu paku itu dicabut kembali. Paku itu memang telah hilang dari pagar, namun bekas-bekas tusukannya masih ada di sana, terpampang jelas di tubuh pagar. Sang ayah kemudian menjelaskan, bahwa ketika sebuah luka tercipta di hati seseorang, tak mungkin bisa dihilangkan. Meski sejuta maaf, beribu sesal sudah diucapkan….

[adsenseyu1]