Review: Karate Kid

Hidup adalah pilihan, apakah akan bangkit atau terus terpuruk?

“Kungfu ada dalam setiap kehidupan, manakala kau memakai dan melepaskan jaket.” Hal ini dikatakan oleh Mr. Han saat ia menjelaskan apa itu kungfu.

Adalah Dre yang ngebet ingin bisa beladiri pasca penghinaan yang dilakukan teman-teman di sekolahnya. Agak surut ke belakang, kepindahannya dari Detroit di Amerika ke Beijing jelas sekali telah mengganggunya.

Ia berada di tempat yang salah, terlepas dari habitat aslinya. Bertemu dengan teman sebaya yang memusuhinya. Menganggap ia asing dan tak pantas bergaul dengan mereka.

Dre pun kemudian ingin pulang. Ia merasa di situ bukanlah rumahnya. Di sini, saya teringat pada para exile yang harus tercerabut dari akarnya. Mereka mesti hidup di tempat lain yang bukan rumahnya. Dan pulang, Continue reading “Review: Karate Kid”

Tokoh: Ainun Habibie

Jakarta, menjelang Tahun 1962….

Semburat senja merona kemerahan di langit barat. Angin bertiup lembut menerbangkan dedaunan yang telah jatuh dan terserak di jalan. Berkas sinar matahari yang berhasil menerobos gerumbul awan jatuh di tembok rumah sakit itu. Tembok yang warnanya putih pun kemudian bagaikan tersapu kuas berubah warna menjadi kekuningan.

Tidak semua bagian tembok terkena sinar matahari. Memang, meskipun sudah berhasil menerobos awan, namun ada pula di antaranya yang tertahan pepohonan. Hasilnya ialah bayang-bayang yang tercetak di tembok, yang bergerak, seirama dengan gerakan pohon yang dihembus angin.

Ahai, rupanya bukan hanya bayangan pohon saja yang jatuh di tembok itu. Di sana, di tembok itu, ada pula bayangan kaki jenjang, sesosok tubuh dan kibaran rambut. Empunya tubuh sendiri memang saat itu sedang tenang-tenang berdiri menunggu.

Ainun nama perempuan itu, ia seorang dokter anak. Sosoknya tak begitu tinggi, senyumnya ramah kepada siapa saja, lagaknya anggun dan terkendali. Dan sore itu, ia sedang menunggu kedatangan Rudy kekasihnya datang menjemput. Sudah beberapa lama ia berdiri seperti itu, setia menunggu.

Dari ujung jalan, nampaklah becak yang mendatangi Ainun perlahan-lahan. Ainun hapal betul siapa penumpang di becak itu, ialah Rudy yang duduk tak tenang. Di benak Ainun terbayang bagaimana Rudy akan meminta kepada tukang becak, “Ayo, Pak, kayuhlah lebih cepat. Kasihan bila Ainun mesti menunggu.”

Tak berapa lama kemudian, masih dengan kecepatannya semula, perlahan-lahan becak itu pun mulai mendekat. Sementara penumpang di dalamnya sudah hendak meloncat tak sabar lagi.

Senja pun kemudian menjadi saksi, bagaimana dua pasang kekasih yang saling peduli itu bertemu. Sesosok pria dengan bola mata bundar yang berkerjap-kerjap bahagia dan wanita dengan matanya yang seteduh telaga. Dua pasang mata itu pun baku pandang, waktu terhenti.

Ainun pun dituntun Rudy memasuki becak yang setia menunggu dengan tukangnya yang menyusut peluh karena bingung hendak melakukan apa saat menatap dua sejoli yang dilanda asmara begitu. Plastik penutup becak pun ditutup kendati hari tak hujan, barangkali khawatir angin nakal mengusik ketenangan mereka berdua. Sementara keduanya berasyik masyuk memadu kasih, becak itu pun berjalan perlahan-lahan.


Review: Surrogates

Manakala manusia sudah tak percaya pada dirinya sendiri….

Surrogates adalah sebuah robot pengganti. Ia dibuat semirip mungkin dengan pemiliknya, bahkan tak jarang melampaui. Robot pengganti ini menjadi pencitraan sempurna dari pemiliknya.

Citra sempurna itu berarti manakala si empunya sudah memutih rambutnya, ringkih tubuhnya dan tak lagi sempurna berjalan, si robot pengganti adalah kebalikan dari itu semua. Ia masih memiliki rambut yang hitam sempurna, tebal dan indah untuk perempuan atau gagah dan berjalan tegap untuk lelaki.

Namun, semua itu hanyalah tipuan belaka.

Robot pengganti itu menjadi topeng yang dipasang sempurna. Ia nampak sempurna, padahal pemiliknya sendiri hanya mampu tergolek pada pusat kendali di rumahnya. Kira-kira begini gambaran para pemilik Surrogates itu: berpiyama, muka kusut, kelelahan dan kurang gerak yang berarti juga kurang sehat.

Dengan robot itu pula mereka menjalani aktivitasnya sehari-hari. Yang semula seorang sherrif tetap menjadi sheriff, pun bila awalnya seorang penjahat. Bedanya, sheriff dan penjahat itu tidak bisa mati karena yang ditembak, yang tertabrak mobil, yang patah kaki selepas beraksi dan  berkelahi adalah robot-robot pengganti.

Masalah muncul manakala kerusakan yang terjadi pada robot pengganti berimbas pada pengendali yang duduk aman di rumah. Kerusakan itu muncul karena adanya senjata percobaan yang semestinya sudah tiada ternyata masih tersisa sebuah yang belum dimusnahkan. Akibatnya, ketakutan melanda para pengendali.

Apa yang terjadi pada para pengendali itu? Tontonlah Surrogates, jadilah saksi manakala dendam harus dibayar dengan mahal. Bagaimana eksistensi manusia perlahan-lahan digantikan oleh buah karyanya sendiri.

Review: Hachiko, A Dog’s Story

Tentang menunggu….

Hachi kedinginan di stasiun kereta pada petang hari yang hujan. Hachi adalah anjing kecil yang hilang tak bertuan. Sore itu, ia tersesat di stasiun dan kemudian berjalan tak tentu arah.

Boleh jadi sebuah kebetulan, yaitu ketika langkah kaki Hachi terantuk sepasang kaki yang kokoh. Ia tak tahu siapa pemilik kaki itu, tak pernah ia temui sebelumnya. Namun, pada saat itu tatapan mata keduanya telah beradu, baku pandang.

Lelaki itu, Parker Wilson, serta-merta mengangkat Hachi yang kedinginan, membawa dalam pelukannya. Kemudian, seperti ada jalinan pengertian di antara keduanya ketika detak jantung mereka saling berpadu, seperti saling mendengar dan didengar. Dua jantung yang bergerak seirama, segendang-sepenarian. Dari situ, berawallah keakraban di antara mereka berdua.

Keduanya seperti disatukan oleh rasa kehilangan yang sama. Parker kehilangan anak lelakinya, sementara Hachi kehilangan tuannya. Mereka lantas merasa bisa saling mengisi, memenuhi dan melengkapi satu sama lain. Memang, manakala dua orang yang pernah mengalami kehilangan bertemu, maka pertemuan itu menjadi begitu istimewa.

Parker dan Hachi menjadi tak terpisahkan. Ihwal intensitas komunikasi, lalu kualitas pertemuan bukan lagi hal yang patut dirisaukan. Jalinan hati dengan hati itu begitu kuat, bahkan kendati kata tak diucapkan.

Hachiko: A Dog’s Story, saya kira telah berhasil menyajikan jalinan ikatan antara anjing dan manusia yang begitu dalam itu. Hubungan yang kuat itu tersaji dengan begitu jelas melalui upaya menunggu tak kenal waktu Hachi pada Parker.

Kisah penantian itu bermula saat Hachi senantiasa mengantar dan menunggu Parker berangkat dan pulang bekerja. Di depan stasiun, ia memiliki tempat istimewa yang menjadi langganannya saat ia menunggu.

Di tempat penantiannya itu, ia mengantar Parker di kala pagi. Ia mengiringkan Parker dengan harapan agar selamat dan bisa bertemu lagi sore nanti.

Sementara itu di sore hari pada jam yang sama, Hachi akan kembali berada di tempatnya. Ia mendekam di sana sambil mengawasi satu demi satu penumpang kereta yang keluar dari stasiun untuk pulang ke rumah masing-masing.

Kebiasaan Hachi mengantar dan menjemput ini lambat laun membuatnya hapal lingkungan di depan stasiun. Seperti juga lingkungan stasiun itu pun akan kehilangan manakala Hachi tak datang. Walaupun Hachi tak datang adalah sebuah kondisi yang jarang terjadi, karena Hachi tak pernah tak datang, bahkan ketika Parker sudah tak pernah lagi datang.

Bermula pada sebuah pagi yang cerah, seperti biasa Parker akan berangkat kerja. Pagi itu, tak seperti biasa semacam firasat datang mengilhami Hachi. Akibatnya, Hachi menjadi tak bersemangat untuk mengantar seperti jamaknya hari-hari kemarin. Ia justru terus-terusan berputar seakan-akan ingin bilang, “Marilah kembali pulang.” Sayang, Parker tak mengerti apa makna di balik sikap Hachi yang tak biasa itu. Parker kukuh terus berjalan, naik kereta dan berangkat kerja seperti biasa.

Siang datang, Parker sedang bekerja manakala tiba-tiba datang sebuah serangan jantung. Parker tak terselamatkan dan pulang ke asal semua makhluk. Pada saat yang sama, kepulangan abadinya ini berarti ia tak pulang ke rumah pribadinya. Lebih jauh, itu berarti Parker tak akan datang—tak pernah datang—lagi pada Hachi yang masih saja menunggu seperti biasa di tempatnya.

Sejak saat itu, dimulailah penantian Hachi yang tak kenal waktu. Saksikanlah bagaimana kesetiaannya tak perlu lagi dipertanyakan dan bagaimana ia menunggu bersama bergantinya waktu.

Selamat menonton.

Review: Larasati

Pramoedya Ananta Toer dalam roman revolusi ini tidak hanya merekam kisah-kisah heroik kepahlawanan, namun juga lengkap dengan segala kemunafikan kaum revolusioner, keloyoan, omong banyak tapi kosong dari para pemimpin, pengkhianatan dan dibumbui kisah percintaan.

Pramoedya ingin mengukuhkan suatu komitmen bahwa revolusi atau perjuangan apa saja bisa lahir dan mencapai keagungannya kalau setiap pribadi tampil berani; tidak hanya berani melawan semua bentuk kelaliman, tapi juga bisa melawan keangkuhan dirinya sendiri.

Rasa takut bisa hilang melalui kemenangan yang didapat. Tapi menyoal kemenangan yang sekilas itu, Pram bilang, “Perjuangan selamanya mengalami menang dan kalah silih berganti. Kalau kau menang, bersiaplah untuk kalah dan kalau kau kalah, terimalah kekalahan itu dengan hati besar dan rebutlah kemenangan.

==0==

Larasati, ia adalah seorang penyanyi dan bintang film. Sebagai aktris panggung, ia harus menghibur pembesar-pembesar negeri dan pengusaha-pengusaha sukses. Termasuk juga di dalamnya adalah pembesar-pembesar Belanda dan tak lupa pribumi yang menjadi pembesar Belanda. Akibat penampilannya di panggung dan pergaulannya yang intens tersebut, ia akrab dengan mereka. Ara menjadi begitu dikenal dan kehadirannya dinanti-nanti siapa saja.

Apa yang disebutkan di atas, sayangnya terjadi pada masa damai. Ketika pembesar-pembesar negeri dan Belanda akrab tak saling serang. Padahal seperti juga kau tahu, jalannya revolusi seperti ombak di lautan. Sekali waktu memang tenang, namun di lain saat begitu bergelora. Ombak itu menghempas pantai dan meninggalkan butir-butir pasir dan buih.

Dan Ara adalah pasir, mungkin buih itu. Ia tertinggal di pantai, terhempas kian kemari, ditinggalkan arus besar yang terus bergolak.

Ara tak punya tempat  berlindung lagi, karena bila ia pasir, maka ia tergulir bersama angin. Bila ia buih, tak jarang ia harus meniti buih untuk kemudian sekali tempo terhempas lagi.

Jalan keluar yang tersisa baginya adalah: ia bergaul dengan sesama pasir, sesama buih. Mereka itu, prajurit-prajurit berpangkat rendah. Prajurit yang gelisah, namun bersemangat kendati resah. Bersama dengan kawanan barunya ini, ia pun mulai menapakkan langkah kakinya di medan revolusi. Ke mana perginya para pembesar yang dahulu dikenalnya itu?

Perjalanan Ara dimulai di sebuah kereta dalam perjalanannya dari Yogyakarta ke Jakarta. Alasan kepergiannya ini ialah, karena Yogya telah menjadi tempat yang demikian berbahaya. Sementara itu, ia teringat pula pada ibunya yang telah lama ditinggalkan di Jakarta. Di kereta itu, ia harus berpisah dengan Kapten Oding yang jelas-jelas menaruh hati pada Ara.

Perjalanan Ara kemudian adalah paparan bagaimana manusia republik memandang revolusi. Tentang anak-anak muda yang bersemangat hendak melahirkan sejarah. Sejarah yang banyak meminta tumbal nyawa dan Ara menjadi saksi kematian satu orang di antara pemuda itu. Sosok pemuda yang di mata Ara begitu dihormati dan pada saat yang sama ditangisi kepergiannya.

Ara memupuk optimisme terhadap peristiwa di sekitarnya bersama dengan nenek-nenek tetangganya. Nenek itu kendati sudah lanjut, namun tak kurang-kurang memberikan dukungan pada para remaja pejuang. Dan paling penting, bersama dengan ibu yang dulu ia khianati dan sekaligus begitu dicinta ia merenda semangat dan menyulam rasa takut justru menjadi kekuatan.

Di sisi lain, Ara juga mesti menjadi saksi para pengkhianat negeri. Kaum oportunis yang hanya tau petik untung injak liyan. Nama-nama seperti Kolonel Surjo Sentono, Mardjohan dan masih banyak yang lain telah begitu membuatnya jijik. Seakan-akan penderitaan sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, ia pun mesti bertemu dengan keluarga Alaydrus. Sebuah keluarga keturunan arab yang menjadi majikan ibunya. Pada gilirannya, Ara bahkan harus menjadi kawan hidup Jusman—seorang dari Alaydrus itu—lengkap dengan semua deritanya.

Pada akhirnya, Ara kemudian…. Ah, sebaiknya dibaca sendiri bagaimana menariknya salah sebuah karya Pram ini, selamat membaca.

Tokoh: Bob Sadino

Celana pendek yang biasa ia pakai membuatnya mudah dikenali, beliau adalah Bob Sadino. Pernah ditolak masuk di gedung DPR karena kebiasaannya bercelana pendek tersebut. Namun, pernah pula mendampingi tiga orang presiden; Soeharto, Megawati dan SBY dengan busana yang sama. Memang sebenarnya ia selalu menekankan karunia yang dimiliki setiap orang ialah kemerdekaan, sehingga ia tak risau dengan penolakan, jabatan dll.

Om Bob mengaku bahwa beliau tak pernah memiliki rencana. Ia cukup dengan melihat dan melaksanakan apa yang ingin dilakukannya. Sebagai contoh, sewaktu melihat telur dari Eropa ia lantas terpikir untuk menjual telur tersebut dibantu oleh istrinya di daerah Menteng. Beliau bercerita bukan sekali dua ditolak, namun warga asing di daerah Menteng pada medio 70-an banyak yang tertarik.

Akhirnya setelah mengantarkan dari rumah ke rumah selama beberapa hari, mereka menjadi pelanggan dan justru datang ke rumah Om Bob. Dari telur, para pelanggan ini kemudian memesan merica, garam dan kawan-kawannya. Mula-mula jadilah toko, lalu pabrik dan terus berlanjut sampai kemudian dikenal sebagai pengusaha agrobisnis terkemuka di negeri ini.

Satu hal barangkali yang boleh disebutkan adalah kreatifitas dan inovasi Om Bob dalam berdagang. Beliau tahu betul di Eropa dan Amerika, anggrek menjadi sesuatu yang sangat mahal. Biasanya anggrek ini diberikan kepada kekasih pujaan hati sebagai persembahan. Menggunakan anggrek pula Om Bob menarik pelanggan. Seorang pelanggan, selain mendapatkan telur juga memeroleh anggrek khusus dari Om Bob.

Mengenai peran konsultan, Om Bob pun menyentil melalui ciri khas beliau dengan pernyataannya yang kontroversial. Beliau berkata, “Konsultan adalah seseorang yang tidak bisa melakukan apa yang diucapkannya.” Lebih lanjut, beliau juga menyayangkan banyaknya pelatihan-pelatihan yang hanya mengajarkan perencanaan dan perencanaan. Bila sebuah rencana gagal, maka akan ada rencana cadangan (plan B) kemudian dilanjutkan dengan contingency plan tanpa diikuti dengan praktik.

Gambar Kuadran Om Bob

Dari gambar kuadran di atas, Om Bob, ingin menunjukkan bahwa sekadar tahu yang diperoleh dari sekolah saja tidaklah cukup. Seseorang harus melengkapinya dengan belajar di masyarakat. Harapannya, selain tahu orang tersebut juga menjadi terampil, bertanggung jawab dan tanggap.

Practise make perfect benar-benar menjadi pedoman bagi Om Bob kendati beliau mengajarkannya dengan bercanda. Menurut beliau, selain pendidikan formal dari bangku sekolah, perlu juga diikuti dengan praktik. Hal ini, bisa ditempuh dengan menempuh pendidikan selama setahun dan melakukan praktik setahun pula.

Ilmu jalanan yang dilakukan dengan pintar adalah kunci lain dari majunya usaha Om Bob. Menurut beliau, tanpa melalui perencanaan yang matang, sebuah usaha bisa dikerjakan dan perbaikan di sana-sini bisa dilakukan sambil berjalan.

Kredo lain dari beliau adalah, semakin goblok seseorang, semakin banyak ilmu yang dimiliki. Tak lupa dengan setengah menyayangkan, beliau menyinggung orang pintar yang terlalu banyak berpikir tanpa beraksi. Dan pada akhirnya, walaupun tak begitu setuju dengan sistem pendidikan yang ada sekarang, salah seorang muridnya yaitu Sony Tulung berkata, bahwa perlu sinergi antara pendidikan di sekolah dan ilmu yang didapat dari bermasyarakat.

Ditulis selepas melihat program ‘Satu Jam Lebih Dekat’ di TvOne

Wisata: Monumen Nasional

Hari Minggu dan bangun pagi, gabungan yang tak lazim. Tapi jika ingin berjalan-jalan di Monas bergabung bersama ribuan manusia Jakarta mandi matahari, menyusuri trotoar dan udara yang meruap dari rumput taman-taman di Monas, maka bangun pagi menjadi keniscayaan.

Sudah beberapa kali saya melakukannya, tak rutin, karena terkadang mata susah betul terbuka selepas begadang malam Minggu. Syukurlah di antara teman-teman kos ada yang berbaik hati membangunkan.

Jadilah di minggu pagi yang beruntung itu saya bisa menikmati jalanan yang sedikit sepi, sehingga tak mesti di atas trotoar melangkahkan kaki. Diizinkan pula menyusuri aspal halus jalanan Jakarta yang masih belum banyak kena polusi. Hmmm, dan satu lagi, bila mau sedikit repot lebih jauh berjalan, bisa juga melihat kupu-kupu malam yang terlambat pulang dan masih berdiri sejak malam tadi.

Sepi itu tak lama, Continue reading “Wisata: Monumen Nasional”

Review: Storm of Warriors

Awan dan Angin selalu seiring sejalan. Awan bergerak karena adanya angin. Bila satu ketika awan menabrak gunung, atau karena sebab yang lain, sehingga awan jenuh, turunlah hujan kemudian. Hujan yang deras, dilengkapi petir, ditambah guruh dan angin yang kuat menyebabkan badai.

Godless, seorang penjajah yang datang ke China dan bertindak sewenang-wenang dengan membunuhi mereka yang tidak bersalah, mendapat perlawanan yang keras dari para pendekar. Tetapi Continue reading “Review: Storm of Warriors”