Wisata: Cianjur

Cianjur berasal dari kata ‘ci’ dan ‘manjur’. Artinya air yang manjur. Benarkah air di sana manjur?

Begitulah adanya bila melihat tanahnya yang subur. Air nan manjur itu telah mengubah tanah menjadi sawah dengan padi-padinya yang berdiri gagah.

Di bagian utara Cianjur, terdapat Gunung Gede. Sebuah gunung berapi yang sedang istirahat walaupun tetap masih aktif. Hal ini dibuktikan dari sebuah daerah di sisi utara itu, Cipanas, artinya air yang panas.

Cipanas menawarkan kesejukan bagi pelancong. Tawaran ini pun disambut antusias oleh wisatawan yang datang bertandang. Bahkan, sebuah istana presiden pun terletak di sana, tempat presiden berpakansai, merenungi keadaan negeri.

Cianjur adalah bukti nyata pernyataan MAW Brouwer yang berkata, “Tuhan sedang tersenyum saat menciptakan tanah Pasundan.” Maka, lihatlah bukit-bukitnya, telusuri jalanan tanah kadang berbatunya, masuki permukiman-permukimannya dan temukanlah hal-hal berikut ini: hutan yang masih perawan, tempat tumbuh hewan dan aneka tanaman. Gadis-gadis yang tersenyum dengan pipi kemerahan. Dan sawah yang berjajar berundak dengan padi tertiup angin yang bergerak-gerak.

Hei, rupanya bukan hanya itu. Ada pula hal lain yang bisa kau temukan di Cianjur Selatan, kawan. Memang jalan menuju ke sana berkelok-berliku mengaduk isi perut yang tak kukuh. Namun hamparan pohon teh, hutan yang berselang-seling dengan permukiman, air terjun yang jatuh di bebatuan, dapat kau temukan sepanjang jalan.

Dan pantai di selatan itu, cobalah kau datang ke sana. Temukanlah hamparan pasir yang menunggu disapa kulit kakimu. Dengarlah pula bunyi syahdu ombak yang menderu.

Semua bisa kau nikmati sendiri karena semua memang masih sepi, belum banyak yang tahu keelokan alam yang ditawarkan di sini.

Adalah Sindangbarang namanya, sebuah kecamatan yang lengang di ujung selatan Cianjur. Di sinilah pantai itu berada. Nikmatilah pesonanya, cobalah bermalam di sana. Lalu… rasakanlah hening pagi, aroma laut yang wangi dan terik sinar mentari. Mohon jangan lupakan pula, malamnya yang sepi akan mengantarmu tidur bertandang ke alam mimpi.

Wisata: Jambi

Bandara Sultan Thaha menyambut kedatangan saya sore menjelang malam itu. Tak ada yang istimewa, karena dibandingkan dengan Bandara Soeta, jelas Sultan Thaha tak ada apa-apanya. Mulai dari toilet kedatangannya yang kecil, kalau tidak salah hanya berisi empat buah urinoir. Lalu, jarak antara pintu masuk dari landasan pacu ke area parkir pun tak lebih dari 15 meter. Kendati begitu, saya harus menempuh jarak yang cukup jauh dari tempat pesawat berhenti sampai ke pintu kedatangan, padahal saat itu hanya pesawat saya satu-satunya yang mendarat. Dalam hati ini bertanya-tanya, kenapa tak parkir di dekat pintu kedatangan saja? 😀

Selepas dari Bandara, bagian Kota Jambi menyambut saya. Sayang, saat itu malam sudah menjelang, sehingga tak banyak yang bisa diceritakan kecuali menu cumi bakar pedas yang menjadi menu makan malam. Pada mulanya saya mengira, cumi akan disajikan dengan potongan-potongan kecil seperti di Jakarta. Ternyata, apa yang saya dapat adalah tiga tusuk sate yang penuh dengan sambal dan bumbu. Gurih sekali.

Selanjutnya adalah menuju hotel, syukurlah di masa yang ramai seperti sekarang dan sebagian besar hotel penuh dengan pengunjung, saya masih bisa menginap di Grand Hotel Jambi. Hotel ini istimewa, karena di lantai 5 ada diskotik yang ramai sepanjang malam dan suaranya bisa tembus ke lantai 4. Memang, pada mulanya saya ditawari kamar di lantai 4, namun karena mendapati kenyataan akan kemungkinan terganggunya waktu istirahat, maka saya memilih kamar di lantai 3, kendati kunci kamar menggunakan kunci manual—bukan kartu seperti lazimnya.

Singkat kata, esoknya saya harus bertugas mencari data-data untuk pabrik. Tak ada kendala berarti, semua bisa diperoleh dengan mudah. Apa yang menarik adalah, perjalanan kami ke Kabupaten Batanghari. Jarak dari Kota Jambi sekitar 100 Km, namun bisa kami tempuh sangat cepat hanya dalam waktu 1 jam lebih sedikit. Bandingkan apabila jarak itu berada di Pulau Jawa, paling tidak akan memakan waktu lebih dari dua jam. Continue reading “Wisata: Jambi”

Wisata: Manado

Sebuah Senja di Manado
Sebuah Senja di Manado

Cuaca panas menyambut begitu kaki menginjakkan kaki di Bandara Sam Ratulangi, Manado. Masih terlintas jelas, bagaimana di Makasar hujan turun dengan deras dan pendaratan pesawat agak mengkhawatirkan. Beribu syukur manakala pesawat sudah mendarat dan kerubungan sopir-sopir menawarkan mobil sewaan membuat kian panas suasana Manado.

Manado menyambut setiap pendatang dengan jalannya yang berkelok-kelok nan mulus. Gereja-gereja berdiri di pinggir jalan dengan gagah. Patung Yesus pun membentangkan tangannya di sebuah bukit, seakan-akan hendak merengkuh setiap pendatang dalam kasih dan damai. Sungguh itu pula yang ditawarkan Manado. Continue reading “Wisata: Manado”

Review: Invictus

Di tengah merosotnya kepercayaan kepada pemimpin. Barangkali perlu kita tengok sebentar pesan-pesan dalam film ‘Invictus.’

Alkisah, Afrika Selatan di masa-masa awal perubahannya. Transisi dari berhentinya politik apartheid ke demokrasi. Kegentingan terjadi di mana-mana, karena euforia kebebasan yang dialami warga kulit hitam. Mereka baru saja terbebas dari kungkungan kekuasaan yang membelenggu selama bertahun-tahun.

Kegembiraan dan kemerdekaan itu bahkan dilengkapi dengan terpilihnya seorang di antara warga kulit hitam, Nelson Mandela, sebagai presiden kulit hitam pertama. Jadilah sebuah suasana yang serba tak enak tercipta. Warga kulit hitam baru saja memeroleh kemerdekaannya. Di sisi lain, warga kulit putih belum siap melepaskan kenangannya saat berkuasa.

Tugas berat harus diemban Madiba Continue reading “Review: Invictus”

Review: 500 Days of Summer

http://www.imdb.com/media/rm3088223232/tt1022603Keyakinan yang berubah, mungkinkah terjadi?

Barangkali kita harus menjadi Tom untuk memahaminya.

Syahdan, Tom percaya betul akan adanya cinta sejati. Dan Summer, adalah alasan di balik kepercayaannya itu.

Bagaimana dengan Summer sendiri? Ia justru tak percaya, ia menolak adanya cinta sejati. Lalu, ia dan Tom pun sepakat untuk tidak sepakat.

Kenyataan rupanya memupuk subur harapan Tom. Ia menginginkan hubungan yang serius dengan Summer. Namun, Continue reading “Review: 500 Days of Summer”

Review Buku: Bekisar Merah

Sedari mula Lasi sudah tercerabut dari akarnya di Karangsoga. Di desa tempat para penyadap kelapa hidup dan tinggal itu, Lasi menjadi orang asing. Ia yang memiliki kulit lebih putih dari yang lain, mata kaput sangat indah dan kecantikan lainnya telah membatasi dirinya sendiri dengan lingkungannya di Karangsoga.

Pak Ahmad Tohari memulai ‘Bekisar Merah’ dengan sosok Darsa yang sedang memandangi kebunnya. Cara bercerita beliau yang bisa menggambarkan keindahan sebuah tempat begitu detil telah membuat lupa. Terlena padahal ada sebuah masalah yang dialami Darsa dan penduduk Karangsoga lainnya. Masalah itu adalah harga gula kelapa yang sekilonya kadang tak cukup untuk membeli setengah kilo beras.

Karangsoga hidup dalam kemiskinan para penyadapnya. Meski kicauan burung, harum embun pagi dan lumut basah senantiasa tercium dari tebing-tebing di tepi kali. Continue reading “Review Buku: Bekisar Merah”

Review: Bangkok Dangerous

Sebagai pembunuh bayaran yang profesional, ia tahu betul bagaimana menjalani profesinya itu. Menerima tugas tanpa bertanya, mengerjakan dan menyelesaikan tanpa meninggalkan jejak.

Dalam pengerjaannya, ia kadang membutuhkan kawan. Ia membutuhkan waktu untuk merancang aksi yang berhasil guna dan tak terlacak.

Ia seperti hantu di tengah ramai. Tak seorang pun akan tahu bahwa ia seorang pembunuh. Tapi di saat yang sama, ia akan tahu banyak hal lebih dibandingkan orang lain. Ia memang memerhatikan bagaimana lingkungan tempatnya berdiri, siapa yang berbahaya, di mana jalan keluar mesti diambil bila hal itu menuntut dan lain persoalan yang semua itu terjadi secara otomatis. Pendeknya itu seperti aliran darahnya terjadi begitu saja.

Dalam beraksi, ia pasti akan merencanakannya dengan matang terlebih dahulu. Dibukanya peta, Continue reading “Review: Bangkok Dangerous”

Review: Negeri Lintasan Petir

Aku tak tahu bagaimana kayu-kayu itu terdampar dekat kebunku. Ada kemungkinan kayu-kayu itu dibuang oleh perusahaan perkayuan, dibuang oleh para peladang atau disambar petir, lalu dipindahkan ke sungai oleh erosi.

Gerson Poyk menyajikan kutipan paragraf di atas pada bagian awal bukunya. Mula-mula ia menceritakan rumah yang ditempati sosok ‘Aku’ dalam hal ini kemudian diketahui bernama ‘Indra’. Rumah yang terdiri dari kebun-kebun, beberapa rumah kecil di sekitar rumah utama, tempat Indra yang pematung, pelukis dan pemusik menghasilkan karya-karyanya. Indra sendiri ialah seorang transmigran yang sukses dengan kebunnya dan hasil kreasinya sebagai seorang seniman.

Kritik Gerson tak cukup sampai di situ. Continue reading “Review: Negeri Lintasan Petir”

Tokoh: Gerson Poyk

Awal mula perjumpaan saya dengan Pak Gerson terjadi dengan tidak sengaja. Waktu itu, saya menghadiri undangan sebuah pertemuan di hotel berbintang lima di bilangan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.

Pak Gerson sudah sepuh. Beliau berjalan perlahan-lahan dan kehadirannya benar-benar memberikan warna lain di ruang pertemuan hotel itu. Gemerlap lampu, kilau keramik dan gelas yang ada di sana memang menyilaukan. Biarpun begitu, Pak Gerson dengan kesederhanaannya pun tak kalah menggetarkan.

Ia yang saya kenal namanya selintas lewat, Continue reading “Tokoh: Gerson Poyk”

Review: Karate Kid

Hidup adalah pilihan, apakah akan bangkit atau terus terpuruk?

“Kungfu ada dalam setiap kehidupan, manakala kau memakai dan melepaskan jaket.” Hal ini dikatakan oleh Mr. Han saat ia menjelaskan apa itu kungfu.

Adalah Dre yang ngebet ingin bisa beladiri pasca penghinaan yang dilakukan teman-teman di sekolahnya. Agak surut ke belakang, kepindahannya dari Detroit di Amerika ke Beijing jelas sekali telah mengganggunya.

Ia berada di tempat yang salah, terlepas dari habitat aslinya. Bertemu dengan teman sebaya yang memusuhinya. Menganggap ia asing dan tak pantas bergaul dengan mereka.

Dre pun kemudian ingin pulang. Ia merasa di situ bukanlah rumahnya. Di sini, saya teringat pada para exile yang harus tercerabut dari akarnya. Mereka mesti hidup di tempat lain yang bukan rumahnya. Dan pulang, Continue reading “Review: Karate Kid”