Penanggulangan Bencana: Kreativitas Penyintas di Bali

Tenda Keluarga Pengungsi
Tenda Keluarga Hasil Kreativitas yang Dimanfaatkan oleh Pengungsi (BNPB)

KARANGASEM – “Tanggal 24 November 2017 yang lalu mereka mulai datang ke sini.” Siang itu (3/12), I Putu Sutawijaya (40) ditemani I Wayan Winata (39) dari Palang Merah Indonesia (PMI) mengawali kisahnya kepada kami.

Saat itu, sebanyak 30 KK warga Banjar Kesimpar, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, di Karangasem, Bali turun dari tempat tinggalnya ke komplek Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) atau Balai Pertanian di Rendang. Mereka meminta bantuan PMI agar dibuatkan tempat penampungan darurat dengan sistem 1 KK mendapatkan 1 tempat.

Hari berganti dan Gunung Agung menggeliat lagi, sehingga Continue reading “Penanggulangan Bencana: Kreativitas Penyintas di Bali”

Kiat: Menuju Kesuksesan

Capailah Kesuksesan
Jalur Menuju Sukses (pixabay)

Laman success.com memperkenalkan 25 orang sukses yang akan membantu Anda mengubah kebiasaan dan mencapai kesuksesan.

Mereka adalah penulis, pembicara, atau pun guru pengembangan pribadi yang sangat berpengaruh saat ini. Mereka menolong orang untuk mencapai kesuksesan dan tujuan hidup melalui inspirasi, motivasi, saran, dan petunjuk praktis.

Berikut ini saya coba terjemahkan beberapa saran dari orang-orang sukses tersebut. Harapannya dapat memberikan inspirasi dan manfaat untuk Anda. Continue reading “Kiat: Menuju Kesuksesan”

Penanggulangan Bencana: Sapaan Gunung adalah Wujud Cinta Sang Hyang Widhi Wasa

Kreativitas Pengungsi di Karangasem
Daniel dari WVI bersama Wayan di Pos Pengungsi Sidemen, Karangasem (BNPB).

KARANGASEM~Inilah kisah sinergi antara masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah yang mewujud nyata di Kaki Gunung Agung. Bagaimana masyarakat tak hanya diam dan terus berupaya sekuat tenaga, bagaimana lembaga usaha dan swadaya masyarakat bahu-membahu mengurangi nestapa, dan apa makna sapaan gunung bagi mereka. Selamat membaca…. Continue reading “Penanggulangan Bencana: Sapaan Gunung adalah Wujud Cinta Sang Hyang Widhi Wasa”

Penanggulangan Bencana: Pelajaran Ketangguhan dari Pos Pengungsi di Bali

Ketangguhan Pengungsi di Bali
Seorang Pengungsi di GOR Swecapura, Klungkung, sedang membuat kerajinan (BNPB).

Pengungsi Gunung Agung yang berada di berbagai lokasi pengungsian tidak hanya berdiam diri menunggu uluran bantuan. Mereka adalah para penyintas (survivor) yang tetap berusaha aktif untuk mengisi hari-harinya.

Kita bisa menengok aktivitas penyintas tersebut di Pos Pengungsi Pasar Sinduwati di Desa Sinduwati, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem, Bali. Di sana, para penyintas tersebut disibukkan oleh kegiatan membuat kerajinan tangan dari bambu.

“Kami sudah membuat kerajinan ini sejak dulu, bahkan sebelum Gunung Agung meletus pada 1963.” Kata Dewa Putu Dharma (39) yang ditemui di lokasi pada Jumat (1/12).

Membuat kerajinan dari bambu adalah Continue reading “Penanggulangan Bencana: Pelajaran Ketangguhan dari Pos Pengungsi di Bali”

Penanggulangan Bencana: Menjabarkan Wisata Bencana

Pre-wedding berlatar belakang erupsi Gunung
Beberapa Pasangan Pengantin Memanfaatkan Fenomena Letusan Gunung untuk Foto Pre-Wedding (Sumber: @Sutopo_BNPB)

KARANGASEM–Mengubah fenomena alam yang menimbulkan bencana seperti letusan gunung atau banjir menjadi obyek bencana bukanlah perkara yang mudah dilakukan. Hal ini terjadi karena isu ini sangat sensitif. Salah sedikit dalam menyampaikan atau melaksanakannya dapat menimbulkan persoalan.

Contoh kasus yang sekarang terjadi adalah pada saat BNPB melakukan upaya untuk mempromosikan aktivitas Gunung Agung sebagai obyek wisata kepada wisatawan dalam dan luar negeri. Sebagian pihak memandang upaya ini perlu dilakukan. Namun, pihak lain tidak setuju. Mereka berpandangan upaya ini tidak sensitif pada penderitaan sebagian masyarakat yang sedang terdampak.

Di tengah sengkarut perdebatan antara perlu dan tidak perlu mempromosikan wisata bencana kepada khalayak, Continue reading “Penanggulangan Bencana: Menjabarkan Wisata Bencana”

Penanggulangan Bencana: Perlukah Promosi Wisata Gunung Agung?

KARANGASEM–Tanah belum lagi terang ketika kami mulai keluar dari penginapan. “Kita harus berangkat pagi kalau mau dapat foto Gunung Agung yang bagus.” Kata Andri Cipto Utomo (36), seorang fotografer di kantor kami.

Berburu foto Gunung Agung memang bukan perkara yang mudah. Jika tidak malam, dini hari, atau pagi sekali, maka cuaca di Karangasem, Bali, memang sedang sendu. Siang sedikit hujan turun, tirainya menutupi pemandangan ke gunung. Terkadang, awan akan berkolaborasi dengan abu yang keluar dari kepundan gunung dan menutup pandangan mata ke puncak gunung.

Di Rabu (29/11) pagi itu, kami menuju Amed. Sebuah daerah di arah Timur Laut dari Gunung Agung. Dari sini, Continue reading “Penanggulangan Bencana: Perlukah Promosi Wisata Gunung Agung?”

Opini: Masyarakat dan Penanggulangan Asap

Masyarakat dan Tentara Bekerja Sama Memadamkan Kebakaran Hutan dan Lahan (kompas.com)

Opini ini pertama kali ditayangkan di Kompas Cetak, 15 September 2015. Tautan asli dapat di klik di sini.

JAKARTA, KOMPAS – Setiap tahun, warga di kawasan Sumatera dan Kalimantan menderita karena kebakaran hutan dan lahan. Penyebab bencana asap telah diketahui dan berbagai upaya telah dilakukan untuk memadamkan. Namun, bencana tersebut selalu berulang dan menjadi hajat tahunan republik ini.

Manusia adalah penyebab utama kebakaran hutan dan lahan. Kondisi makin parah karena faktor kemarau dan fenomena El Nino yang mempermudah dan memperluas penyebaran api.

Oknum-oknum pembakar hutan dan lahan jelas memiliki motif ekonomi. Continue reading “Opini: Masyarakat dan Penanggulangan Asap”

Opini: Smart City untuk Simeulue sebagai Kawasan Terluar Indonesia

Keindahan Pantai di Simeulue (Sumber: Kompasiana)

Simeulue Selayang Pandang

Pada medio September 2017 yang lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh. Kabupaten Simeulue adalah salah satu daerah terluar di belahan Barat Indonesia. Kabupaten ini memiliki segudang potensi yang belum digali, namun juga tantangan yang mesti dihadapi.

Posisi Kabupaten Simeulue menjadi tantangan utama daerah ini. Selain berada di wilayah terluar Indonesia, Simeulue juga berada dekat dengan zona tumbukan lempeng yang rawan bencana gempa bumi dan tsunami. Tercatat beberapa kali kabupaten ini disapa gempa dan tsunami. Pada 1907, misalnya, tsunami menghantam pantai-pantai di Simeulue dan menyebabkan banyak korban jiwa.

Setelah itu, bersamaan dengan tsunami besar pada 26 Desember 2004, Simeulue pun turut dilanda tsunami. Namun, pada peristiwa ini tidak seperti daerah lain di Provinsi Aceh yang mengalami banyak korban. Simeulue memiliki kearifan lokal yang dinamakan smong yang memungkinkan warga di sana terhindar dari malapetaka tsunami. Continue reading “Opini: Smart City untuk Simeulue sebagai Kawasan Terluar Indonesia”

Opini: Aplikasi Pintar untuk Hadapi Macet

Macet yang setiap hari terjadi di kota-kota besar (source: cnn.com)

Gerakan Menuju 100 Smart City

Diperkirakan pada tahun 2040 nanti, 80% penduduk Indonesia akan tinggal di perkotaan. Lonjakan jumlah penduduk tersebut jika tidak ditanggapi dengan baik akan menimbulkan banyak persoalan seperti kemacetan, pengangguran, lingkungan kumuh, kemiskinan, dan persoalan sosial lainnya.

Sinergi di antara lembaga pemerintah dan swasta diperlukan untuk mengatasi berbagai persoalan di perkotaan. Salah satu program yang dilakukan adalah Gerakan Menuju 100 Smart City. Inti dari gerakan ini adalah adanya dukungan pemerintah pusat kepada pemerintah kabupaten/kota untuk meletakkan fondasi yang diperlukan guna pengembangan Smart City.

Gerakan Menuju 100 Smart City dimulai di Makassar dan dipilih 25 Kabupaten/Kota sebagai tahap pertama. Selanjutnya, pada dua tahun ke depan akan dipilih lagi 75 Kabupaten/Kota, sehingga pada tahun 2019 tercipta 100 kota yang pintar.

Kota Bekasi dan Tangerang sebagai Smart City Continue reading “Opini: Aplikasi Pintar untuk Hadapi Macet”