Mari Kita Mengenali Kekerasan

Kita sudah sering mendengar mengenai kekerasan. Namun, apakah kita sudah benar-benar mengenali apa itu kekerasan?

Kekerasan adalah cara yang ditempuh oleh mereka yang belum berpengalaman.  

Sewaktu Anda masih muda, darah mudah naik, pikiran belum terlalu panjang, dan dilengkapi dengan berbagai karakteristik anak muda lainnya, maka kekerasan menjadi jalan keluar.

Anda tak ingin menghabiskan waktu untuk berlama-lama berdiskusi dan mencari solusi.

Jalan pintas berupa kekerasan itulah yang kemudian dipilih untuk menyelesaikan berbagai persoalan.

Sayangnya, benarkah berbagai persoalan yang muncul akan selesai dengan kekerasan?

Ataukah justru menimbulkan persoalan-persoalan baru?

Kedamaian sebaliknya, menjadi jalan yang ditempuh oleh mereka yang sudah tua.  

Kondisi sebaliknya terjadi pada mereka yang sudah lebih tua, baik itu dari sisi usia, maupun kedewasaan. Sebab, kadang-kadang ada pula mereka yang sudah dewasa, meskipun dari sisi usia masih muda.

Mereka mengedepankan harmoni dan kedamaian dibandingkan hiruk-pikuk kekerasan.

Mereka tahu, alih-alih menyelesaikan masalah, kekerasan justru akan menimbulkan ketidaknyamanan dan persoalan lanjutan.

Hal lain yang sepertinya pasti akan terjadi dari sebuah kekerasan adalah timbulnya ketakutan.

Pemimpin dan Kekerasan

Jika Anda seorang pemimpin dan gemar menggunakan kekerasan, maka apa yang akan terpikir oleh anak buah atau anggota Anda?

Mereka bersedia melakukan apa yang Anda perintahkan bukan karena ingin melakukannya, tetapi karena takut untuk tidak melakukannya.

Karena kondisi itu, maka ketika timbul keberanian untuk melakukan perlawanan, musnahlah sudah kekuasaan yang Anda pegang.

Dalam berbagai pelajaran sejarah kita sering membaca, bahwa mereka yang meraih kekuasaan dengan menebarkan rasa takut, biasanya tak bertahan lama. Biasanya ada persoalan di belakangnya. Biasanya tidak merasakan kedamaian, dan lain-lain.

Atas dasar itulah sepertinya mereka yang sudah lebih tua dan dewasa tidak lagi menggunakan kekerasan untuk berbagai hal yang mereka kerjakan. Namun, mereka mendayagunakan perasaan damai, harmoni, dan keinginan untuk berbuat lebih.

Kemudian perasaan tersebut menular ke orang-orang lain di sekitarnya untuk berbuat serupa.

Kekerasan hendaknya hanya untuk mempertahankan diri saja dan jarang sekali digunakan.  

Beberapa waktu lalu saya menonton satu film seri di Netflix yang berjudul Daredevil dan The Punisher.

Kedua film seri tersebut tentu saja penuh dengan adegan kekerasan. Baku pukul, saling tendang, berbalas menembak adalah adegan yang sering terjadi dalam film tersebut.

Baik Matt Murdock (Charlie Cox) dalam Daredevil dan Frank Castle (John Bernthal) di The Punisher menggunakan kekerasan untuk mengalahkan lawan-lawannya.

Namun, mereka memiliki beberapa prinsip yang dianut. Misalnya Matt tidak akan membunuh lawannya seberapa pun jahat mereka. Sementara itu, Frank hanya membunuh mereka yang jahat dan terbukti berperan menyebabkan kematian keluarganya.

Prinsip-prinsip itu, meskipun tak bisa lepas 100 persen dari kekerasan, tetapi berawal dari keinginan untuk tidak menggunakan kekerasan kecuali terpaksa.

Mereka berdua, para jagoan di dua film itu menggunakan kekerasan untuk mempertahankan diri atau orang lain yang memerlukan perlindungan dan pertolongan.

Tak Nyaman dengan Kekerasan

Mereka berdua juga tidak merasa nyaman saat melakukan aksinya: menghakimi para penjahat.

Matt, misalnya, sering mempertanyakan keputusan-keputusannya untuk main hakim sendiri. Dia senantiasa bertanya-tanya, apakah keputusannya itu benar dan apakah dia bertindak atas nama kebenaran atau menjadi bentuk kejahatan lainnya?

Demikian halnya dengan Frank. Dia menjadi sosok yang demikian telengas dan kejam saat menghadapi penjahat. Namun, di suatu pengadilan sempat juga dirinya terbungkam ketika ada salah seorang anak penjahat yang dibunuhnya dan kemudian menuntut dirinya untuk bertanggung jawab.

Selain itu, Frank pun merasa dihantui terus menerus oleh bayangan keluarganya dan juga mereka yang meregang nyawa karena peluru dari senjatanya.

Rupanya, kekerasan bagi para jagoan itu pun menyimpan masalah. Namun, mereka dengan sangat terpaksa menggunakannya untuk membela diri dan membela mereka yang lemah, serta karena sistem yang diharapkan dapat bekerja untuk menegakkan kebenaran dan keadilan justru tidak mampu melakukannya.

Pesan untuk Kedamaian dan Kekerasan

Akhirnya, setelah kita menyimak uraian di atas, kita perlu melihat beberapa pesan mengenai kedamaian dan kekerasan, serta hendaknya kita menjadi para pecinta.

Pilihlah kedamaian dibandingkan kekerasan. Namun, perlu juga dan jangan lupa untuk mempersiapkan diri.  

Jadilah para pecinta, tetapi juga petarung jika suatu-waktu diperlukan.  

Baca juga: Belajar Cinta dari Matahari

Sumber: https://livingwithconfidence.net/

Leave a Reply