Manfaat Mengetahui Bagaimana Orang Lain Berpikir

Mengetahui bagaimana orang lain berpikir akan memberikan manfaat. Kemudian mengetahui manfaat tersebut akan menjadikan Anda orang yang lebih baik lagi saat berhubungan dengan orang lain.

Kesulitan Membujuk Orang Lain

Bias asumsi atau pemahaman tertentu pada orang lain akan menyebabkan kesulitan untuk membujuk mereka agar mengubah pendirian atau pemikirannya.

Namun, ada beberapa kondisi yang sedikit berbeda.

Misalnya, ketika orang lain itu menghormati Anda, mungkin peluang untuk mengubah pikiran mereka akan menjadi lebih besar.

Mereka melihat sesuatu yang berbeda dari diri Anda, entah itu pengaruh, jabatan, rasa hormat, dan lainnya.

Baca juga: Membuka Pikiran

Bukan Kisah Satu Malam

Namun, meskipun begitu, mengubah pemikiran orang lain sepertinya tetap membutuhkan waktu. Itu tidak akan terjadi dalam satu malam.

Penyebabnya adalah karena setiap kita memilihi pemahaman yang berbeda-beda. Cara kita dibesarkan, dididik, dan berbagai pengaruh lain menyebabkan perbedaan antara satu orang dengan yang lain.

Kesulitan Bertatap Mata

Saling bertatap mata untuk memahami orang lain memang telah menjadi budaya di negara-negara tertentu. Kendati, mungkin tidak semua negara menganut budaya itu.

Ada juga budaya suatu negara yang menganggap menatap mata orang lain sebagai suatu tindakan yang kurang ajar.

Namun, biarpun begitu, mata dipercaya sebagai jendela jiwa. Dari mata kita melihat kejujuran dan sekaligus kebohongan yang disimpan di relung hati paling dalam.

Sayangnya, banyak hal yang menjadi penghalang, sehingga orang-orang menghindari untuk saling bertatap mata.

Seringkali yang menghalangi dua orang untuk saling bertatap mata adalah ketidakmampuan untuk melihat hal-hal yang tidak terlihat di salah satu atau kedua pihak.

Selain itu, mungkin ada kebohongan yang tidak ingin dibeberkan menjadi suatu kejujuran. Mungkin ada pula rahasia yang ingin ditutup rapat-rapat.

Melihat Benar dan Salah

Berhubungan dengan orang lain seringkali mengenai kemampuan kita untuk melihat benar dan salah.

Namun ….

Sangat jarang terjadi suatu masa ketika satu pihak benar-benar ‘benar’ dan pihak lain benar-benar ‘salah’.

Artinya sangat jarang ketika saya, Anda, kita yang 100 persen benar, sementara orang lain 100 persen salah. Atau kondisi sebaliknya, ketika orang lain yang 100 persen benar, dan kita 100 persen salah.

Budaya Berdebat dengan Orang Lain

Behubungan dengan orang lain tidak selalu mesra. Bahkan, saat ini berdebat seperti menjadi olah raga sehari-hari, bukan?

Entah kenapa orang-orang gemar sekali melakukan perdebatan. Entah kenapa, bentuk hubungan dengan orang lain dalam perdebatan justru ‘terlihat’ menyenangkan.

Media sosial, media elektronik, dan media cetak telah menjadi lahan yang subur untuk aktivitas debat itu. Melalui kolom komentar di Facebook, saling balas di Twitter, syukurlah di Instagram masih belum begitu banyak, hehe.

Kemudian di televisi acara-acara debat mendapatkan rating yang tinggi. Begitu juga di media online dan media cetak, singkatnya di mana saja perdebatan itu bisa terjadi.

Dengan kata lain, perdebatan telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Bahkan, terkadang kita senang menyaksikan perdebatan. Kemudian hasil akhirnya justru menyuburkan kebiasaan debat ini di berbagai media yang sudah disebutkan tadi.

Titik Lemah Pendapat

Saat melakukan perdebatan, maka dua pihak yang berlawanan akan saling melemparkan pendapat.

Sayangnya, dua pihak kadang tidak menyadari, bahwa titik lemah dari setiap pendapat seringkali berada pada berbagai hal yang tidak dikatakan.

Semangat orang berdebat dan mengeluarkan pendapat sepertinya perlu dipertanyakan.

Apakah mereka berdebat untuk saling memahami, sehingga akhirnya akan menyelesaikan suatu persoalan?

Atau ….

Apakah mereka berdebat untuk saling mengalahkan, sehingga justru tidak akan menyelesaikan persoalan?

Kehilangan pendengaran

Budaya berdebat yang marak, ribuan pendapat yang disampaikan, sayangnya tak juga menyelesaikan persoalan kita bersama.

Dikhawatirkan apa yang pernah disampaikan oleh Stephen Covey, seorang penulis dan pakar pengembangan diri dari Amerika sedang terjadi, yaitu ketika:

Kutipan dari Stephen Covey, "Most People do not listen with the intent to understand, they listen with the intent to reply."
Source: quotefancy.com

“Saat ini orang-orang mendengar BUKAN dengan niatan untuk memahami, tetapi mereka mendengarkan dengan niat untuk menjawab.”

Mungkin saja ribuan fakta sudah disodorkan, tetapi apa hal-hal tertentu yang belum disebutkan?

Mungkin saja ribuan pendapat sudah disampaikan, tetapi apa hal-hal yang tidak sempat dikatakan?

Dengan mengetahui hal-hal yang belum disebutkan dan belum sempat dikatakan, mungkin kita akan mampu lebih memahami orang lain.

Leave a Reply