Kesadaran Diri Pemimpin

Source: Komunitas YSA

“Memimpin adalah suatu seni.” Demikian kurang lebih kesimpulan paling singkat dari sharing session-nya Komunitas YSA pada Rabu (04/11).

Malam itu, Selvi Xu, seorang Executive dan Sales Practitioner hadir di tengah-tengah anggota Komunitas YSA. Selvi berkenan membagikan pengetahuan mengenai ‘Leadership Mindfullness’.

Agar tidak makin bingung, bagaimana kalau kita mulai saja catatan dari ‘Kesadaran Pemimpin’ itu?

Kepemimpinan sejatinya berfokus pada orang. Mengenai pengelolaan orang dan tidak melulu berkaitan dengan keuntungan atau profit suatu organisasi.

Oleh karena itu, seorang pemimpin perlu mengetahui tim-nya dan banyak mendengar, kemudian memberikan respon. Hal ini akan menjadi seni dari kemampuan leadership itu sendiri.

Pemimpin yang sadar, mampu melakukan berbagai kewajibannya dalam memimpin secara otomatis tanpa perlu diperintah lagi.

Untuk menjadi seorang pemimpin atau leader yang sadar atau mindfullness, maka diperlukan beberapa langkah. Di antara langkah tersebut adalah:

Situational Leadership

Ini berarti seorang pemimpin perlu mengetahui dengan baik bagaimana kondisi anggota/staf/anak buahnya.

Situasi atau kondisi anak buah tersebut ditentukan oleh beberapa parameter, seperti motivasi, semangat, kepintaran, dan kecakapannya bekerja.

Terdapat empat kuadran yang dapat menjadi bantuan untuk menentukan situasi anggota dan langkah yang perlu dilakukan.

Kuadran pertama adalah ketika anggota kurang memiliki motivasi dan juga kepandaian. Pada anggota jenis ini, maka yang diperlukan adalah memberikan perintah (telling) apa yang perlu dilakukan.

Misalnya dengan memberikan instruksi kerja yang jelas apa saja langkah-langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

Kuadran kedua adalah bagi para pekerja yang motivasinya rendah, tetapi memiliki kepandaian. Pada jenis ini, maka yang perlu dilakukan adalah memberikan pelatihan. Lebih penting lagi adalah melakukan penggalian informasi, kenapa anggota tersebut kurang performanya dalam pekerjaan.

Setelah mendapatkan informasi, maka kemudian barulah bisa ditentukan langkah-langkah apa yang perlu ditempuh agar anggota tersebut bisa memberikan performa maksimal dan memberikan keuntungan bagi organisasi.

Kuadran ketiga adalah jenis pekerja dengan keinginan tinggi, tetapi kurang pintar. Jika Anda seorang pemimpin pada jenis pekerja tersebut, maka langkah yang bisa diterapkan adalah dengan partisipasi dan dukungan.

Pekerja tersebut perlu diberikan contoh atau diajari bagaimana caranya menyelesaikan suatu pekerjaan. Jika dia sudah memahami, maka Anda sebagai pemimpin bisa menyerahkan pekerjaan tersebut kepada yang bersangkutan.

Kuadran keempat adalah jenis pekerja yang komplit. Artinya dia memiliki motivasi yang tinggi dan juga kepandaian. Pada jenis pekerja ini, seorang pemimpin dapat mendelegasikan tugas-tugas atau memberikan tanggung jawab.

Namun, kendati seorang pekerja saat ini berada pada suatu kuadran tertentu, di saat yang lain pada saat menghadapi tantangan yang berbeda dia bisa berubah kuadrannya. Misalnya mereka yang tadinya penuh motivasi dan pintar, pada saat yang lain dapat berubah menjadi tidak memiliki semangat dan hilang kepandaiannya.

Oleh karena itu, diperlukan suatu alur pengembangan para staf. Caranya adalah secara berjenjang, yaitu mulai dari memberi perintah, selanjutnya memberikan motivasi, kemudian memberikan contoh, dan akhirnya memberikan tanggung jawab.

Dari pengantar singkat itu, maka dapat diambil kesimpulan sementara, bahwa pemimpin adalah pengembangan. Artinya para pemimpin hendaknya mampu menciptakan pemimpin-pemimpin baru.

Manager and Leader

Dalam paparannya, Selvi juga menjabarkan perbedaan antara seorang manager (manajer) dan leader (pemimpin).

Disarikan dari buku ‘On Becoming a Leader’ karya Warren Bennis, antara manajer dan pemimpin memiliki ciri sebagai berikut:

  1. The manager mengelola hal-hal yang sifatnya administrasi. Leader akan melakukan inovasi.
  2. Manager men-copy, leader original (genuine/tulus). Ciri orang yang tidak genuine adalah dia tidak melakukan kebaikan setiap saat. Original atau tidak akan dibuktikan oleh waktu.
  3. Manager mengelola sesuatu (komunikasi, hubungan, dll); Leader membangun (menambah nilai positif, memberikan inspirasi dan semangat, dll).
  4. Manager fokus system dan structure, leader fokus pada orang.
  5. Manager bergantung pada kontrol, sementara leader menginspirasi kepercayaan. Hari-hari ini karena pandemi telah menjadi ujian bagi para pemimpin, terutama menyangkut persoalan kepercayaan.
  6. Manager fokus pada how and when; leader menanyakan what and why.
  7. Manager melihat batas dasar (bottom line atau profit); leader melihat horison.
  8. Manager mengerjakan sesuai SOP (things right); leader melakukan hal yang benar (right things) yang kadangkala tidak sesuai SOP.

Setelah mengetahui perbedaan antara manajer dan leader, hal yang penting selanjutnya adalah memahami pembeda antara Management vs Leadership

  1. Management beradaptasi dengan kompleksitas;  Leadership mempromosikan perubahan. Seorang leader harus keluar dari comfort zone. Misalnya, karena perubahan teknologi, maka dia perlu terus belajar agar tidak banyak gap.
  2. Management berbicara mengenai perencanaan dan pembiayaan; Leadership menentukan arah, contohnya tujuan besar bisnis. Oleh sebab itu, Leadership memerlukan pengalaman dan kebijaksanaan.
  3. Management: mengorganisasi dan staffing; Leadership: mengatur/menyambungkan (aligning) orang. 
  4. Management: controlling and problem solving; leadership motivating and inspiring people. Dengan menanyakan pilihan-pilihan dan menggali lebih jauh alasan di balik setiap pilihan.
  5. Management: effective action (mencapai tujuan); Leadership: meaningful action bisa dinilai dari orang lain dan meninggalkan budaya sebagai warisan. Sayangnya, hasil dari kerja Leadership seringkali tidak bisa dirasakan secara langsung.

Setelah membaca paparan mengenai management dan leadership tersebut, siapakah leader bagi Anda?

Jika belum menemukan, jangan-jangan Anda adalah leader tersebut. Sebab, leader tidak dilahirkan, tetapi diciptakan.

Salah satu caranya adalah melalui ARM. Ini adalah akronim dari Coach Humphrey Rusli. A-nya untuk Analysis, R-nya untuk Reporting, dan M-nya untuk Monitoring.

Seorang pemimpin perlu memiliki tiga keterampilan tersebut. Jika sudah dimiliki, maka yang bersangkutan dapat terus berkembang menjadi pemimpin/leader yang sebenarnya. Sementara jika tidak memiliki kemampuan itu, maka ke depan mungkin bisa menjadi seorang manager.

Sekali lagi, jika Anda belum menemukan sosok pemimpin yang sadar, mungkin justru Andalah Leader yang Mindfullness tersebut!

Sudah siap?

Leave a Reply