Inilah 3 Alasan Jay Shetty Menjadi Rahib Selama 3 Tahun

Dari Podcast-nya Jay Shetty yang berjudul On Purpose, dia membagikan tiga alasan kenapa dirinya menjadi rahib selama tiga tahun.

Dia berharap dengan membagikan kisahnya, maka akan membantu kita untuk lebih jelas dalam mengambil suatu keputusan penting dalam hidup, mengungkap nilai-nilai yang perlu kita percaya, dan mampu memilih yang terbaik dari berbagai pilihan dalam hidup kita.  

Semua upaya tersebut dilakukan untuk mencari arti dalam kehidupan dan pemenuhan tugas-tugas kita di dunia ini.  

Baca juga: Kenapa Jay Ingin Menginspirasi Orang Lain?

Hal-hal Berarti dalam Hidup

Marthin Luther King Junior suatu ketika pernah berkata, “Jika kita tidak memiliki hal-hal yang perlu dibela mati-matian, maka kita tidak mempunyai sesuatu yang berarti untuk kehidupan ini.”  

Sayangnya, saat ini kita seringkali sibuk mencari hal-hal yang tidak sesuai dengan kepribadian kita sendiri. Kita melakukan hal itu karena berbagai sebab, seperti agar diterima oleh teman-teman sepermainan, hingga agar tidak ketinggalan sesuatu.  

Jay Shetty kemudian juga menyebutkan mengenai dua tokoh yang menurutnya sangat menarik, yaitu David Beckham dan The Rock. Keduanya mengajarkan nilai kerja keras, persisten, dan disiplin untuk mencapai satu tujuan.  

Harga dari Keberhasilan

Jay berkisah, bahwa seorang David Beckham akan menghabiskan malamnya dengan berlatih tendangan bebas menuju ke pojok gawang, ketika teman-temannya berpesta atau melakukan kegiatan lain. Itulah tujuan dari David, yaitu untuk menjadi seorang pemain terbaik dengan tendangan bebas yang memukau.  

Kondisi yang serupa juga dialami oleh The Rock, ketika dia belum seterkenal sekarang. Dirinya pun harus bekerja keras membentuk tubuhnya secara teratur dan penuh kedisiplinan, mengikuti kompetisi gulat, dan akhirnya kita kenal The Rock yang sekarang, sebagai pemain film dengan bayaran tertinggi.  

Pertemuan yang Menjadi Cinta Pertama

Persoalannya bagi Jay, dia tidak memiliki tujuan spesifik, seperti David Beckham dan juga The Rock. Masa mudanya banyak dihabiskan untuk mencoba-coba hal baru, termasuk tenggelam dalam obat-obatan dan juga minuman keras.  

Hingga suatu hari, seorang teman mengajaknya untuk mengikuti sebuah konferensi, di mana seorang rahib menjadi pembicaranya. Suatu hal yang tak pernah terpikirkan olehnya.  

Di konferensi tersebut, Jay seperti menemukan cinta pertama. Dia terpukau pada Sang Rahib, pada isi pembicaraannya dan pembawaannya.  

Rahib tersebut, menurut Jay, terlihat sangat bahagia. Kemudian Jay merasa itulah panggilan dari dalam dirinya, yaitu untuk menjadi seorang Rahib.  

Hal lain yang menurut Jay sangat menarik dari rahib tersebut adalah kesediaannya untuk melepaskan berbagai pekerjaan menarik di perusahaan industri informasi dan komunikasi untuk kemudian menjadi seorang rahib.  

Jika Jay ingin dari bukan siapa-siapa menjadi seseorang yang berarti, Sang Rahib justru dari orang yang sangat berprestasi berubah menjadi bukan siapa-siapa.  

Belajar dari Pengalaman

Kemudian Jay tahu, bahwa dirinya harus belajar dari pengalaman. Karena itu, kehidupannya pun berubah, dia akan magang kerja di London dan belajar hidup sebagai seorang rahib di India.  

Hingga kemudian pada usia 22 tahun, Jay memutuskan untuk menjadi seorang rahib dan tinggal di sebuah pasraman di India. Di sana, dia ingin mengubah pandangannya selama ini, dari berfokus pada kemewahan dan pemenuhan berbagai kebutuhan duniawi menjadi berfokus pada kedamaian di dalam diri.  

Jay seringkali mengutip perkataan dari Charles Cooley,

“I am not what I think I am; I am not what you think I am; I am what I think you think I am.” 

Charles Cooley

Arti dari kutipan tersebut adalah bahwa kita hidup dalam persepsi dari persepsi diri kita sendiri. Artinya, jika kita berpikir bahwa seseorang menganggap kita pintar, maka kita pun akan menjadi pintar. Kemudian jika orang lain menganggap kita ganteng, maka kita pun akan menjadi ganteng.  

Perubahan yang Diperlukan

Kondisi tersebut tentu saja melelahkan, karena bergantung pada pandangan orang lain saat melihat diri kita sendiri. Perubahan diperlukan dan bagi Jay Shetty, inilah 3 alasannya menjadi seorang biarawan/rahib, yaitu: 

1. Menjadi Tuan bagi Diri Sendiri

Mereka yang mampu menguasai pikiran akan menjadi tuan bagi dirinya, yaitu dengan menjadi tuan dari pikiran dan akhirnya menjadi tuan bagi diri sendiri.

Para rahib mampu menjadi tuan bagi pikiran dan dirinya sendiri melalui meditasi. Dengan meditasi, mereka mampu meraih kesadaran, perhatian, pembelajaran, dan juga ingatan. Dari situ, kemudian mereka akan mencapai kebahagiaan. Suatu hal yang menjadi lawan dari negativitas, yang sayangnya justru sangat marak akhir-akhir ini.  

Jay memberikan saran kepada Anda yang ingin belajar, yaitu dengan menemukan seorang mentor atau pelatih dan orang yang bisa menjadi contoh. Kemudian belajar dari mereka dengan melakukan pengamatan dan observasi, hingga mengikuti jadwal keseharian mereka.  

Namun, praktik tersebut tak selamanya bisa dilakukan, karena misalnya mentor yang ingin diikuti telah pindah kota atau pindah alam. Oleh sebab itu, maka pembelajaran tetap dapat dilakukan dengan memanfaatkan berbagai media.  

Selanjutnya, alasan tinggal di pasraman bagi Jay adalah agar dikelilingi oleh mereka yang memiliki nilai-nilai yang sama dengan yang dipercayainya dan bukan mereka yang memiliki hal-hal yang diinginkannya.  

Jay pun memberikan rambu-rambu saat akan mengikuti seorang pemimpin/mentor/yang menjadi teladan. Mereka layak diikuti bukan karena kepemilikan, seperti kendaraan dan rumah. Mereka diikuti karena memiliki pola pemikiran (mindset), karakter, dan investasi yang dilakukan pada hubungan (relationship).  

Menghidupkan Sosok yang Diidamkan

Tumbuhlah sebagai seorang pribadi yang diinginkan.

Cara yang ditempuh adalah dengan menghidupkan sosok yang diidamkan, yaitu seorang rahib melalui berbagai aplikasi atau pelaksanaan nilai-nilai yang dianut setiap hari.  

Selanjutnya, Jay pun membagikan kepribadian, pengetahuan, dan nilai seorang rahib kepada banyak orang di zaman modern ini.  

Namun, langkah awalnya pun tidaklah mudah. Dia pernah berbicara seorang diri di dalam suatu ruangan dan hanya tembok yang menjadi pendengarnya. Saat ini, pendengarnya bisa mencapai puluhan ribu orang. 

Bagaimana Jay melakukan hal itu?  

Jawabannya adalah dengan berfokus pada hal atau nilai yang benar-benar dipercaya dan bukan mengenai gaji maupun ego.  

Selanjutnya, dia memberikan beberapa saran untuk kehidupan dan jiwa, seperti:  

  • Hendaknya dalam hidup tidak ditentukan oleh berbagai hal eksternal.
  • Kehidupan tidak ditentukan oleh hal-hal yang besar, tetapi hal kecil yang terjadi setiap hari.
  • Buatlah keputusan untuk hal-hal yang menghidupkan jiwamu.

Selanjutnya dibagikan pula hal-hal yang membuat Jay sukses, yaitu keselarasan antara energi, strategi, dan uang. Ketiga hal penting ini perlu diselaraskan dengan cara melakukan analisis:

  • Apakah energi yang ditimbulkan dari melakukan suatu pekerjaan itu menyenangkan?
  • Apakah strategi yang digunakan sudah tepat?
  • Apakah energi dan strategi tersebut menjawab persoalan orang lain dan mampu menghasilkan uang?

Jika ketiga hal itu dapat selaras, maka yang dihasilkan adalah kebahagiaan, penuh arti, dan menyenangkan, serta terciptanya suatu fokus.

Inilah yang membedakan antara benih (seed) dan gulma (weed). Satu hal memberikan kehidupan dan sangat berarti, hal lain justru mengganggu kehidupan dan tidak memiliki makna.

Pelayanan Kepada Orang Lain

Mohamad Ali menyampaikan, “Memberikan pelayanan kepada orang lain adalah sewa yang kita bayarkan untuk satu ruang bagi kita di bumi ini.”

Seorang rahib (monk) memberikan pelayanan kepada orang lain sebagai mata uang untuk meraih kebahagiaan dan kesenangan. Dua hal yang tidak bisa didapatkan dari ketenaran dan juga kesejahteraan.

Pola pikir atau nilai yang dikembangkan dan dianut oleh para rahib adalah: mereka menanam benih bagi sebuah pohon yang hasilnya sepenuhnya untuk orang lain.

Mereka menanam pohon yang kemudian tumbuh, tetapi buah dan bayangan yang tercipta nantinya akan dimanfaatkan oleh orang lain.

Para rahib memanfaatkan anugerah berupa talenta dan keahlian agar bermanfaat untuk orang lain. Inilah tujuan kehidupan mereka.

Mereka dengan demikian menganut ‘servant leadership’ atau kepemimpinan yang melayani. Memberikan pelayanan dan manfaat kepada orang lain dan bukan diri kita sendiri.

Untuk melakukan hal itu, ada dua jalur yang bisa ditempuh, yaitu menemukan talenta kita sendiri dan kemudian menolong orang lain atau menolong orang lain dan kemudian menemukan talenta kita.

Gairah atau passion Jay Shetty dari uraian tersebut kemudian adalah untuk membagikan pengetahuan dan kebijaksanaan seorang rahib kepada orang lain dengan cara yang praktis dan mudah diakses serta relevan. Dengan begitu, dia sebenarnya tak pernah berencana untuk menjadi seorang selebritis media sosial. Niatnya sedari awal adalah untuk mengilhami dan memberi manfaat kepada orang lain.

Menolong Orang, Mengubah Kita

Menurut Jay, “Menolong orang lain dengan cara yang sederhana akan mengubah hidup kita dengan cara yang luar biasa.”

Mungkin Anda ingin seperti Jay, tetapi masih kurang yakin. Dia menyarankan: ujilah hal-hal yang ingin Anda lakukan untuk sehari, kemudian seminggu, dan selanjutnya sebulan.

Apakah Anda merasa terinspirasi setelah membaca tiga alasan Jay Shetty menjadi seorang Rahib? Atau Anda memiliki pendapat lain, silakan tuliskan di kolom komentar.

Terima kasih.

2 comments

    1. Halo Kak Steven Toh,

      Terima kasih banyak ya atas apresiasinya.
      Sukses selalu.

      Salam,
      Sridewanto Pinuji

Leave a Reply