Wisata: Mengenal Daylight Saving

Apa itu daylight saving?

Daylight saving adalah perubahan waktu di negara empat musim. Artinya waktu normal kita bisa maju atau mundur disesuaikan dengan musimnya. Sebagai contoh, pada musim semi ini di Australia pada tanggal 02 Oktober 2016 kemarin waktu-nya dimajukan yang seharusnya pukul 03.00 dini hari dimajukan menjadi pukul 02.00. Besok, pada saat musim gugur waktu akan kembali disesuikan, kali ini menjadi lebih lambat.

Bagaimana sejarah daylight saving? Continue reading “Wisata: Mengenal Daylight Saving”

Wisata: Hotel Ciputra World, Nuansa Elegan di Lokasi Strategis Surabaya

Surabaya terkenal sebagai kota metropolitan terbesar kedua setelah ibu kota Jakarta. Kota ini menjadi pusat bisnis dan perbelanjaan yang tidak kalah mewahnya dengan Jakarta. Para pendatang pun menjadikan Surabaya sebagai sasaran untuk menghabiskan waktu liburan. Meski memiliki suhu udara yang lumayan panas, namun Surabaya memiliki objek wisata menarik yang membuat turis lokal maupun asing datang ke kota ini.

Jika Anda ingin menghabiskan waktu liburan di Surabaya, sudah barang tentu tidak ada salahnya untuk mencari tempat penginapan yang Continue reading “Wisata: Hotel Ciputra World, Nuansa Elegan di Lokasi Strategis Surabaya”

Wisata: Anyer dan Lombok

IMG_1473
Bocah bermain di Anyer

Di manakah pantai favoritmu, kawan?

Ketika kecil, paling-paling saya diajak ke Parantritis di mBantul sana. SMP ikut rombongan sekolah menyaksikan debur ombak di Pantai Kuta Bali. SMA mengorganisir setengah ilegal melakukan wisata ke Pangandaran. Nah, pas kuliah, bisa dolan sendiri ke deretan pantai di Gunung Kidul.

Sekarang, syukurlah bersama istri saya bisa bermain-main ke Anyer dan kemarin karena disuruh kantor ke Lombok, saya berkesempatan mampir ke Senggigi dan Kuta Lombok. Semua indah tentu saja pantai-pantai di negeri ini. Biru laut tak seperti warna laut yang aneh di Jakarta, haha. Gemuruh ombak, buih yang menyentuh telapak kaki, pasir pantai yang membuat geli, nyiur yang melambai. Hmm… apa lagi, ya?

Semua yang ditawarkan oleh pantai tentu saya nikmati dengan suka hati.

Sayangnya, di beberapa lokasi pantai itu sudah dimiliki hotel-hotel. Didirikan berderet sepanjang pantai, dipersembahkan khusus kepada pengunjung hotel. Pantai itu pun tak lagi bebas dimasuki. Padahal, biasanya adalah bagian yang paling menarik dari sebuah garis panjang pantai.

Di Anyer, bila kau tak dapat hotel yang memiliki pantai bagus, maka bersiaplah berbagi pantai dengan ribuan pengunjung lain yang memadati semacam pantai umum. Hiruk pikuk di situ dan barangkali ketenteraman mendengarkan bunyi ombak tak bisa kau temukan. Namun, itu pun cukup untuk sekadar memadamkan kerinduan kita pada pantai, bukan?

Bila kau bermobil, masuk ke pantai umum itu membayar sekitar 40ribu. Nanti di sana, kau bisa sewa sebuah griya tawang dengan harga 60ribu plus tikar. Bisa kau gunakan berlama-lama, bahkan kalau tak punya kamar, bisa pula kau menginap di situ.

Pantai, dari Griya Tawang
Pantai, dari Griya Tawang

Barangkali badanmu pegal setelah menempuh perjalanan nan melelahkan dari Jakarta, bisa kau minta ibu-ibu yang menawarkan jasa pijat untuk melancarkan aliran darah di nadimu. Saat kau lapar pun tak perlu khawatir, karena pedagang kaki lima lalu lalang di sekitarmu menjajakan aneka rupa dari mulai tato temporal sampai makan siang.

Lain Anyer lain pula Senggigi dan Kuta di Pulau Lombok. Di sana, kau cukup membayar lima ribu agar mobilmu bisa parkir di pinggir pantai. Tentu pantai umum, bukan milik hotel. Entah berapa kau harus bayar kalau di sana, sepertinya mahal.

Pantai Senggigi
Pantai Senggigi

Kalau ke Senggigi, bila tak bisa kau jangkau pantai yang indah karena sudah dikuasai hotel-hotel itu, cukuplah kau duduk di sekitar Pura Batu Bolong. Di tanjakan pada jalan berkelok nan tinggi itu, rasakan hembusan angin yang kuat dari bawah, cicipi jagung bakar dan sate bulayak yang akan menggoyang lidahmu. Kemudian jangan lupa masukkan ke saku satu sepotong senja dengan sunset yang bisa kau nikmati di sana.

Sepotong Senja dipigura di dekat Pura Batu Bolong, Senggigi
Sepotong Senja dipigura di dekat Pura Batu Bolong, Senggigi

Selamat berwisata….

Wisata: Ancol

Ancol_2 Ada band yang tampil di depan Gelanggang Samudera. Ada turis Filipina berfoto di depan patung badak, buaya, kera, anoa, dan singa laut. Ada sekeluarga turis, dua anaknya yang besar nakal dan si kecil dipanggul bapaknya. Mereka datang berombongan mengisi hari libur.

Sudahkah kau ke Ancol, kawan?

Kunjungan saya kemarin adalah kunjungan ke sekian kali. Dahulu sekali pernah ke sini ikut rombongan SMP-nya Bapak yang berdarma wisata. Kira-kira, kelas tiga SD. Tahun lalu juga ke sini mengantar adiknya istri yang kepengen main ke Seaworld.

Nah, kunjungan kemarin dalam rangka mengantar kakak dan anaknya yang juga ingin melihat Seaworld. Saya bosan di dalamnya, ya sudah, tinggallah saya melamun di depan Gelanggang Samudera mengawasi turis-turis.

Ancol_1 Setelah mereka keluar dari Seaworld, perjalanan dilanjutkan ke Dufan. Alamak, mahal nian tiketnya, Rp 250.000 per orang. Kami berempat dan satu batita, jadi harus membayar sejuta. Itu tiket akhir pekan dan hari libur. Harga tiket pada hari kerja adalah Rp 125.000.

Di dalamnya, banyak permainan, mulai dari kuda yang muter-muter ngga capek itu, histeria, tornado, roller coaster, perahu kora-kora, bianglala, dan lain-lain. Permainan mana yang pernah kawan-kawan coba?

Saya sendiri mencoba perahu kora-kora. Pertamanya memang biasa saja, lama-lama mengerikan sekali, hampir saya tak dapat menahan pipis, haha. Setelah itu, saya tak berani mencoba permainan lain yang mengerikan, khawatir pipis betulan. Sementara kalau mau mencoba permainan yang biasa malas.

Malas itu datang selain karena permainannya kurang menantang, namun kalau memilih yang menantang takut, juga disebabkan antrian di tiap permainan atau wahana yang bukan main panjangnya. Kebetulan saya datang pada saat libur nasional, pengunjung Ancol pun membeludak. Akibatnya ya itu tadi, antrian mengular di tiap wahana.

Saya malas ke sana lagi. Tapi kalau kawan-kawan penasaran, ya datang saja ke sana, kalau bisa jangan pas akhir pekan atau libur nasional dan siapkan duit agak lumayan jangan lupa, ya….

Wisata: Kupang

Di akhir bulan Agustus kemarin, saya disuruh oleh juragan mengunjungi Kupang untuk ini dan itu. Sembari melaksanakan pesan juragan, saya sempatkan diri untuk melihat-lihat dan mencatat ini dan itu.

Lapar adalah hal pertama yang saya rasakan saat baru saja menjejakkan kaki di Kupang. Haha. Penerbangan kurang lebih 5 jam dengan transit di Denpasar dan makanan di dalam pesawat yang tak cukup untuk memenuhi porsi makan cacing di dalam perut telah membuat cacing itu demo di dalam sana. Selain itu, cuaca Kupang yang panas dan berdebu membuat mata lebih cepat mengantuk. Namun, tak elok bukan bila tidur tapi perut masih kosong?

Nah, Continue reading “Wisata: Kupang”

Wisata: Cianjur

jembatan gantung di Cianjur

Itu kawan saya yang tampak sedang mengendarai motor

Awalnya saya membonceng, namun saat pertama kali melintas di jembatan gantung pakai bambu begini saya pun takut jatuh.

Singkat cerita, saya kemudian memilih untuk turun dari sepeda motor dan berjalan kaki.

Memang tak semengerikan adik-adik pelajar di Banten yang harus seperti Indiana Jones karena jembatan yang saya lalui masih tergantung sempurna dan bisa dilalui dengan mudah. Tapi, namanya takut pada ketinggian, tetap saja saya merasa waswas. 😐

Pernahkah Anda melintas di jembatan semacam ini? Kalau belum, bawalah motor trail Anda dan nikmati pemandangan serta sensasi melintasi jembatan gantung semacam ini di Kec. Cibeber, Kab. Cianjur, Prov. Jawa Barat.

Selamat berjalan-jalan

 

Wisata: Bondowoso

senja di sebuah sudut kota Bondowoso

Kota ini bisa dicapai dalam tempo sekitar empat sampai lima jam dari Surabaya. Setelah melewati Kota Sidoarjo, Pasuruan dan Probolinggo, serta kota-kota kecil seperti Bangil dan Besuki, lalu menanjak di perbukitan, maka pada saat jalan kembali menurun, di sanalah Bondowoso terletak begitu damai.

Di Bondowoso ada satu jalur utama yang membelah kota. Jalur ini merupakan jalur penghubung Situbondo dan Jember. Selain jalur utama itu, jalan-jalan yang ada adalah jalan kabupaten yang bercabang dan bermuara di jalur utama.

Tak banyak yang bisa diceritakan dari kota ini. Dalam hubungannya dengan sejarah, ada sebuah monumen di Bondowoso, yaitu Monumen Gerbong Maut. Kisahnya, dahulu penjajah Belanda mengangkut tahanan, yaitu para pejuang menggunakan gerbong tanpa ventilasi dan diisi begitu banyak orang. Dalam sebuah buku, saya pernah membaca, saking hausnya para tahanan yang ada di dalam gerbong itu, ada yang sampai meminum air kencing temannya sendiri.

Bondowoso seperti kota-kota di Jawa pada umumnya. Alun-alun menjadi pusat aktivitas warga. Denyut ramai warga dan denyar lampu masih terasa sampai larut malam sementara bagian kota yang lain, di luar alun-alun boleh dikatakan begitu sepi.

Belum ada mall yang dipadati pengunjung. Pertokoan yang ada pun hanya ada di jalur tertentu. Toko-toko itu berada di kanan-kiri jalan saling berhadapan dan sudah banyak yang tutup menjelang magrib. Di hari minggu, kebanyakan toko-toko tersebut tutup.

Makanan khas di Bondowoso adalah tape singkong. Di samping itu, sajian lainnya cukup standar, kecuali barangkali adanya lodeh ceker. Menyangkut makanan yang satu ini, saya pun tak mencobanya sendiri karena saya tak terlalu suka ceker. Saya hanya mengamati ekspresi teman-teman yang memakannya. Mereka terlihat begitu menikmati lodeh ceker sampai terus-terusan kembali ke warung yang sama.

Hari-hari ini Bondowoso sedang waspada karena adanya ancaman dari aktivitas vulkanik Gunung Ijen. Di kawahnya, terdapat tiga puluh juta meter kubik air dengan pH sangat rendah yang sewaktu-waktu bisa tumpah bila ada peningkatan aktivitas vulkanik gunung tersebut.

Bayangkanlah tubuh terguyur air aki, kira-kira begitu gambaran bahaya bila air di kawah Ijen sampai tumpah. Saya berharap semoga air yang ada tak keluar bersamaan lalu membentuk tsunami kecil. Harapannya, semoga air kawah yang ada bisa keluar sedikit demi sedikit seperti lazimnya mata air, sehingga tak menjadi bencana di masyarakat.

Wisata: Pulau Flores, NTT

Fajar di Maumere

“Kalau lambat pun sampai, kenapa pula harus cepat-cepat?”

Kalimat itu saya dengar dari tukang ojek yang mengantar saya menuju tujuan di sebuah sudut kota Maumere. Memang sebenarnya pada saat itu di sana tak ada ketergesaan seperti di Jakarta. Sepeda motor melaju dengan kecepatan 40 km/jam. Jalanan lengang, rambu lalu lintas dipatuhi dan lampu merah tak pernah diterabas. Soal helm pembonceng yang tak ada, disayangkan juga sebenarnya, tapi bolehlah diri ini sedikit lega karena dengan laju motor yang lambat itu, maka diharapkan kecelakaan bisa dihindari.

Soal lambat-lambat itu, sebenarnya cukup berbeda dengan keseharian warga Maumere sendiri yang serba cepat dan trengginas. Gerak-gerik mereka bukan menunjukkan pribadi-pribadi yang malas. Alam yang keras menuntut mereka untuk selalu siap menghadapi segala kemungkinan.

Maumere punya pelabuhan terbesar di Pulau Flores. Kota ini memang tampaknya yang paling maju dibandingkan kota-kota lain di pulau itu. Empat universitas terdapat di sana, bandara perintis pun ada, yaitu Bandara Frans Seda.

Sebuah Pagi di Tepi Laut Flores

Di Maumere bisa dilihat bagaimana geliat mentari menyapa permukaan laut dan memulas langit dengan warna jingga yang lembut. Beranjak siang, terik mentari akan mengguyur siapa saja. Lengas pun meraja dan angin berhembus kencang menerbangkan debu.

Kering dan gersang barangkali adalah kesan pertama saat tiba di kota ini. Biar begitu, tak usah khawatir karena air tetap tersedia dan tak sampai kekeringan. Apabila haus, air kelapa yang menyegarkan pun bisa diteguk dan menyegarkan tenggorokan.

Bila senja menyapa, duduklah di tepi pelabuhan sembari menikmati  aneka ragam ikan dan kepiting, udang sampai lobster yang digoreng. Layangkanlah pandanganmu ke lautan, maka bisa kau lihat kerlip lampu di kapal yang sedang bersandar. Nikmatilah semuanya, perut kenyang dan mata benderang.

Maumere menawarkan jeda bagi warga Jakarta, di sana nafas bisa dihela dengan bebas.

Danau Kalimutu

Sebuah obyek wisata di Pulau Flores, terletak di Kabupaten Ende, sekitar dua setengah jam perjalanan darat dari Maumere. Sebenarnya ini adalah tiga buah kawah gunung berapi. Di sini disebut juga dengan Danau Tiga Warna karena warna airnya yang berbeda di masing-masing danau. Sayang saya lupa mencatat apa nama danau ini dalam bahasa Flores. Namun, syukurlah masih saya ingat nama lainnya, yaitu Danau Orang Jahat, Danau Muda Mudi, dan Danau Orang Tua.

Apa pasalnya, maka danau-danau itu bernama begitu unik?

Bagi masyarakat di sekitar Kalimutu, dataran tinggi tempat danau berada adalah tempat kembalinya arwah-arwah. Di sana, arwah-arwah itu kemudian akan masuk ke suatu danau tertentu berdasarkan usia dan perbuatan di masa hidupnya.

Untuk mencapai danau kawah itu, pengunjung harus mengikuti jalan setapak yang telah disediakan. Jalan berbatu dengan pepohonan di kanan kiri dan bunyi nyanyian burung dari kejauhan di tengah hutan. Datanglah ke sana pagi-pagi agar bisa menyaksikan bagaimana matahari muncul di balik perbukitan. Usahakan tetap di jalur yang telah disediakan, begitu bunyi peringatan yang terdapat di puncak gunung.

Prasasti di Puncak Kalimutu

Ah ya, puncak gunung itu adalah tujuan akhir. Sebelumnya, setelah menyusuri jalan setapak pengunjung pertama kali akan bertemu dengan Danau Orang Jahat. Kemudian menuruni sedikit lembah dan dilanjutkan dengan menaiki tangga berundak yang lumayan berhasil membuat nafas ngos-ngosan. Nah, di puncak nanti bisa dilihat bagaimana tiga buah danau saling bersanding dalam diamnya masing-masing. Di sini, bisa dilihat lagi Danau Orang Jahat, Danau Muda Mudi dan Danau Orang Tua.

Di kejauhan Danau Orang Jahat, tampak dekat Danau Muda Mudi

Dari cerita penduduk sana, baru saja di Danau Muda Mudi seorang remaja putri bunuh diri. Dari catatan mereka, sejauh ini sudah delapan orang yang menceburkan diri di danau. Sebuah tindakan konyol untuk mengakhiri hidup karena dua danau—Danau Orang Jahat dan Muda Mudi—adalah kawah aktif yang masih panas. Kondisi yang berbeda ditemui di Danau Orang Tua, karena di sini airnya bisa digunakan untuk cuci muka dan lain-lain.

Ditilik dari ilmu geologi, maka danau ini menunjukkan aktivitas vulkanik di bawah kulit bumi Pulau Flores. Danau-danau itu akan berubah bentuknya manakala gempa terjadi di sekitar pulau karena terjadi longsor di dinding tebingnya. Perubahan juga terjadi pada warna air di danau. Selain akan berubah seiring perjalanan hari, manakala gempa terjadi konon warna air di danau pun akan berganti.

Di Kalimutu semoga arwah yang bersemayam di sana memperoleh ketenangan, setenang air permukaan danau.

Gunung Kimang Boleng

Maumere di sebuah siang yang terik, saat angin dari Gunung Kimang Buleng menyentuh debu dan menerbangkannya dalam bentuk pusaran seperti topan kecil. Tarian Hegong yang diiringi musik Gong Waning begitu rancak dibawakan oleh warga. Saya berdiri di Pantai Grass Track dengan membelakangi Laut Flores dan menghadap ke gunung, merasa begitu kerdil sekaligus kagum pada keindahan dan keperkasaan alam yang tersaji di sana.

Ada yang mau ke sana? Boleh lah saya pun diajak 😀

Wisata: Sydney dan Canberra

Pagi itu saya tiba di Sidney masih mengantuk. Perjalanan 7 jam dari Jakarta membuat tidur saya yang sambil duduk sungguh tak nyenyak. Dan apa yang ditawarkan Sidney? Jawabannya adalah suasana seperti di Dieng yang sejuk. Bedanya adalah, bila angin dingin berhembus, maka jaket saya yang tipis pun segera tembus. Sayang, tak lama saya di sini karena harus segera naik pesawat lagi ke Canberra.

Pesawat Turboprop Dash 8 buatan Canada yang muat 50 orang itu membawa saya ke Canberra. Baling-balingnya berputar, menderu di atas wilayah tenggara Australia. Kurang lebih 50 menit kemudian, saya pun mendarat di Canberra.

Bila Sidney seperti Dieng, saya tak tahu di mana di Indonesia yang hampir sama dengan Canberra. Maksud saya, tentu Canberra di bulan Juni, manakala musim dingin baru di ambang pintu.

Dingin itu menyeruak begitu saja saat tubuh keluar dari pesawat. Belum lagi manakala hembusan angin datang menerpa, maka beku yang ganti melanda.

Suhu di sana berkisar dari minus 6 sampai paling tinggi 11 derajat celcius. Guna mengatasi hal ini, saya memakai bersama/rangkap dua jaket tipis yang saya bawa. Ah, itu pun tak kuasa menahan dingin yang meraja.

Syukurlah kemudian di dalam taksi cukup hangat. Apalagi dilengkapi dengan kehangatan sambutan dari sopirnya. Mereka ini yang bule totok, yang dari Vietnam, ada pula dari Somalia. Saya cuma kurang suka dengan sopir yang berasal dari India.

Australia rupanya negara dengan beragam asal warga. Rata-rata mereka menjadi warga Australia sudah cukup lama. Di medio 1980-an mereka datang ke sana sebagai imigran. Kemudian, setelah mereka tinggal antara 5 s/d 10 tahun, mereka pun bisa menjadi warga negara Australia.

Seperti yang sudah disebutkan: Vietnam, Somalia, India, ah, rupanya tak cukup hanya itu saja. Banyak keturunan Italia, Belanda, yang juga menjadi warga Australia. Nama-nama mereka yang menjadi penunjuk bagi saya dari mana asal moyang mereka. Terbukti pula dengan adanya nama-nama Prancis, Yunani, Pakistan, dll.

Saya kurang tahu bagaimana rupa penduduk asli Australia. Kendati begitu, saya cukup paham banyak wilayah di sana yang mempertahankan nama asli dalam bahasa Aborigin, sebut saja seperti wilayah Jerabombera atau Wolongong.

Barangkali kita bisa belajar, bagaimana warga yang beragam itu disatukan oleh pemerintah federal Australia. Mereka masing-masing masih mempertahankan adat dan budaya asal. Selain yang sudah disebutkan, yaitu dari nama mereka, penanda yang lain adalah beragamnya rumah makan yang menyajikan masakan dari seluruh penjuru dunia. Selain itu juga dari Bahasa Inggris mereka yang masih terpengaruh logat asal.

Pelajaran mengalah pun saya dapatkan kembali di sana. Dari hal yang sederhana, mereka sudah menerapkan hal itu. Misalnya, di jalan raya, ia yang hendak berbelok pasti mendahulukan mereka yang akan berjalan lurus. Barangkali, karena setiap orang bersedia saling mengalah inilah, maka mereka bisa disatukan di bawah bendera Australia.

Biar begitu, tak selamanya warga mau patuh pada pemerintah. Misalnya saat di sana, saya pun menemukan ada permasalahan antara pemerintah dengan imigran. Imigran tersebut adalah mereka yang bersikeras mengenakan cadar. Di lain sisi, menarik justru menyimak pendapat warga Australia keturunan Somalia yang menjadi sopir taksi berkaitan dengan permasalahan ini. Kendati ia seorang muslim, alih-alih mendukung mereka yang bersikap fanatis dan membandel, ia justru menyokong tindakan polisi.

Canberra sebagai ibukota Australia kurang menarik apa lagi ketika musim dingin. Beku yang menyapa, angin dingin yang menusuk-nusuk. Ah….

Manakala jam menunjuk angka 9 malam, maka sepi pun menelusup di jalan raya. Hanya satu dua kendaraan yang melaju. Jarang sekali berpapasan dengan pejalan kaki, juga polisi. Dan memang tak perlu, karena keamanan terjaga, warga pun taat pada aturan yang ada.

Semula, sebagai salah satu negara maju, saya kira semua fasilitas tersedia. Namun nyatanya, untuk mencari internet saja saya kesulitan. Sejauh yang bisa saya temukan hanyalah dijumpai pada sebuah toko cepat saji yang menyediakan internet gratis. Selain itu, tak ada lagi, atau barangkali juga saya yang kurang rajin mencari.

Malam beranjak semakin larut, dingin semakin njekut. Di warung-warung makan warga berkumpul mencari kehatangan. Pun dengan saya, yang memasuki King Mosley di Citywalk Canberra guna merasakan steak khas Australia. Kemudian, daging yang tebal, penuh dan terlihat begitu lezat pun terhidang. Di luar, dari jendela saya melihat muda-mudi mengobrol sambil merokok dan terus merapatkan jaketnya.

Serombongan gambar lain di Australia bisa dilirik di sini