Satu Mimpi

Novel Winter Warriors karya David Gemmel sejatinya bercerita tentang kepahlawanan. Namun, di sela jalan cerita, ada satu hal yang paling saya ingat adalah pembicaraan tentang mimpi.

Adalah Kebra, sang pemanah jagoan tapi sudah sepuh dan Conalin seorang bocah yatim piatu yang kepincut berat kepada Kebra.

Keduanya memiliki kondisi yang Continue reading “Satu Mimpi”

Review Buku: Taj

Novel Taj

“Bibirmu, terasa begitu manis.” Kata Shah Jahan

“Ini hanya manis untukmu, kekasihku, untuk orang lain: rasa pahit yang akan ditemui.” Arjumand Banu menjawab dengan mata yang berbinar.

Pasti semua pun tahu bahwa keduanya baru saja berciuman. Ciuman terlarang seperti juga cinta mereka yang tak direstui oleh Padishah, Sang Sultan. Jahangir, Sultan Mughal India ayah dari Shah Jahan berpikir jauh ke depan. Putranya adalah putra mahkota. Hidupnya bukan hanya untuk dirinya sendiri, namun untuk seluruh bangsa, semua negeri di bawah panji-panji Mughal.

Perkawinan politik kemudian terjadi. Continue reading “Review Buku: Taj”

Apa pelajaran dari Ragnar Lothbrok?

Kita bisa belajar kepemimpinan, petualangan, dan mengelola konflik dari film seri Vikings. Sang tokoh utama, Ragnar Lothbrok menyajikan semua itu dalam satu paket yang komplit. Pemirsa hanya perlu mengupasnya sedikit demi sedikit.

Pemimpin adalah orang yang hadir manakala dibutuhkan. Ragnar sejatinya tidak berambisi untuk memimpin, namun kesempatan datang untuknya dan tanpa sungkan-sungkan diambillah kesempatan itu.

dc83384203935300fd45c551f01cc5fd

Perubahan Kepemimpinan

Sebagai seorang petani, Ragnar, muncul ke permukaan dengan mula-mula menjadi Earl. Earl Haraldson adalah yang pertama ditumbangkannya. Dia memiliki armada untuk melakukan perjalanan di laut, namun hanya ke arah timur Kategat, kampung Ragnar. “Kenapa kita tidak mencoba ke barat?” Tanya Ragnar suatu ketika. Earl Haraldson pun tidak setuju dengan ide dan petualangan baru itu. Namun, Ragnar tidak patah semangat, dibuatnya kapal sendiri dan dengan pengetahuan navigasi laut, dia pun memberanikan diri menuju ke barat. Singkat cerita, dirinya sampai ke biara di Lindisfarne, menguasai biara itu dan membawa barang rampasan serta tawanan. Sadar diri, sepulangnya dari petualangan pertama itu diserahkan semua harta rampasan kepada Earl Haraldson. Kendati sudah menunjukkan itikad baik, tetap saja Earl Haraldson tidak menyukai sepak terjang Ragnar dan menganggapnya sebagai ancaman. Diserbulah kampung Ragnar dan banyak korban yang jatuh, keluarga Ragnar pun harus mengungsi dan Ragnar sendiri mengalami luka terkena anak panah. Tidak terima dengan perlakuan itu, Ragnar menantang Earl Haraldson untuk duel dan dengan gemilang kemenangan pun digenggam. Ragnar menjadi seorang Earl.

Setelah menjadi Earl, kesempatan pun datang bagi Ragnar untuk menjadi Raja. Lagi-lagi ia tak mengharapkan kedudukan itu, namun berbagai kondisi menyebabkan dirinya harus memegang kekuasaan tersebut. Adalah King Horik dari Denmark yang ditumbangkannya. Mula-mula dia adalah seorang raja yang mendukung petualangan Ragnar ke barat. Namun, lambat laun hubungan mereka pun merenggang seiring dengan capaian-capaian dan nama besar yang diperoleh oleh Ragnar. Raja Horik merasa Ragnar menjadi saingannya, dan tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Diam-diam dia merencanakan sebuah aksi untuk menghukum dan membunuh Ragnar. Beruntung Floki, sahabat kepercayaan Ragnar bisa membuka rencana jahat itu dan justru membunuh Raja Horik. Dengan kematian Sang Raja, maka Ragnar pun naik jabatan dari Earl menjadi seorang Raja.

Petualangan Ragnar

tumblr_nk3edoXWaW1u3wveao1_1280

Ragnar memimpin kaumnya untuk melakukan petualangan ke barat, wilayah yang gelap bagi sebagian besar kaum Viking. Dia didukung oleh istrinya, Lagertha, saudaranya, Rollo, dan sahabat serta sang pembuat perahu, Floki, mewujudkan mimpinya untuk perjalanan ke barat. Selain sarana transportasi, yaitu kapal, Ragnar juga memiliki pengetahuan navigasi untuk mengarungi samudera luas. Pengetahuan inilah yang membuatnya berbeda dengan masyarakat Viking lain. Bisa dikatakan, pengetahuan navigasi itu adalah senjata rahasia Ragnar untuk melakukan petualangan ke barat.

Mula-mula Ragnar hanya membawa satu perahu penuh dengan pejuang Viking yang kebanyakan adalah teman-temannya untuk menjarah biara Lindisfarne di wilayah negara Northumbria. DI sini, dia berhasil mengumpulkan harta rampasan dan juga menawan beberapa pendeta. Dari seorang pendeta, Athlestan, berhasil dikorek keterangan mengenai kekayaan ibukota Northumbria yang jauh lebih banyak daripada harta yang dimiliki biara. Ragnar pun bersemangat untuk merebut ibukota Northumbria tersebut. Selang beberapa waktu, benar-benar dilakukan niatan Ragnar ke Northumbria, di sana King Aelle berhasil ditundukkan dan bersedia untuk memberikan harta kepada Ragnar asalkan rakyat dan ibukotanya tidak dirusak.

Berita keberhasilan petualangan Ragnar pun mulai menyebar ke seantero Bangsa Viking. Beberapa Earl dan King Horik pun terpincut hatinya untuk ikut berpetualang. Kini, Ragnar memimpin armada yang jauh lebih besar ke barat. Sasaran pun berpindah bukan lagi ke Kerajaan Northumbria, tetapi ke Wessex. King Ecbert, raja Wessex, rupanya jauh lebih pintar dari King Aelle raja Northumbria. Diajaklah Ragnar untuk berunding dan mencapai kesepakatan untuk mendukung Wessex merebut kerajaan tetangga Mercia. Sebagai gantinya, Ragnar mendapatkan lahan dan juga harta. Perjanjian kerja sama itu rupanya sudah diatur oleh King Ecbert sedemikian rupa agar keuntungan sebesar-besarnya untuk Wessex. Di sini, Ragnar menerima beberapa kerugian.

Ragnar bukan orang yang mudah terpuaskan rasa penasarannya, lagi-lagi dari Athlestan dia mendengar kabar mengenai Paris di Kerajaan West Francia. Dia tahu, bahwa Paris sangat sulit untuk ditaklukkan karena memiliki tembok pelindung di sekeliling kota. Kendati demikian, bukan Ragnar kalau tidak mencoba menaklukkannya. Armada kapal dan pejuang yang sangat besar pun dibawa serta untuk menyerbu Paris. Sangat sulit untuk menaklukkan kota itu dan ada hambatan lain, yaitu penyakit Ragnar yang melemahkannya. Apakah Ragnar berhasil dalam usahanya itu?

Dilema Ragnar

Sebagai seorang pemimpin, Ragnar mengalami berbagai konflik dengan para raja, kaumnya, dan yang paling menyedihkan adalah dengan beberapa orang terdekatnya. Pertama-tama adalah adiknya sendiri, Rollo, yang merasa hidup di bawah bayang-bayang Ragnar dan ingin mengubah peruntungan nasib. Guna mencapai misinya, Rollo pun berkhianat pada Ragnar dengan bergabung ke Jarl Brog, musuh dari Ragnar. Saat keduanya sudah saling berhadapan di satu pertempuran, Ragnar memberikan kesempatan kepada Rollo untuk menusukkan pedangnya. Namun, yang terjadi adalah Rollo justru bertekuk lutut di bawah kaki Ragnar. Dia tidak bisa membunuh kakak dan sekaligus patronnya itu. Rollo mengaku kepada Ragnar, “Aku seperti kehilangan matahari saat jauh darimu.” Dengan pengakuan tersebut, kendati pada awalnya sulit, namun Rollo kembali bergabung dan mendukung semua tindakan Ragnar. Dia adalah adik, sahabat pendukung, dan pelindung Ragnar.

life-of-a-fangirl-ships-364374

Ragnar juga berselisih paham dengan istrinya Lagertha. Semua itu terjadi karena Putri Aslaug yang pesonanya memikat hati Ragnar di satu petualangan. Keduanya terlibat hubungan asmara yang berujung dengan kehamilan Putri Aslaug. Mula-mula Ragnar tidak tahu perihal kehamilan itu, namun kemudian Sang Putri datang ke Kategat dengan perutnya yang sudah besar. Ragnar meminta istrinya Lagertha untuk menerima Putri Aslaug dan keduanya menjadi pendampingnya. Lagertha pun menolak mentah-mentah ide itu dan memilih untuk pergi. Kelak, keduanya akan kembali bertemu dengan kondisi yang jauh berbeda.

Masalah ketuhanan menjadi sumber perselisihan antara Ragnar dengan sahabatnya Floki. Ragnar bukan hanya bertualang ke tempat-tempat baru, namun rasa penasarannya pun menuntun dirinya ke Tuhan baru, Tuhan orang Kristen yang dibawa oleh tawanannya Athlestan. Perubahan ini dianggap sebagai penghinaan kepada Tuhan bangsa Viking, yaitu Loki, sosok yang begitu dipuja oleh Floki. Berbagai kegagalan, kekalahan, dan korban yang terjadi menurut Floki adalah buah dari perubahan kepercayaan yang terjadi pada diri Ragnar. Floki pun menudingkan jarinya kepada Athlestan sebagai sosok yang menyebabkan Ragnar berubah. Namun, Ragnar, bergeming dan tetap tertarik kepada Yesus, Tuhan dari Athlestan. Terlepas dari peran masing-masing, baik itu Floki maupun Athlestan, Ragnar menganggap keduanya sebagai sahabat dan saat salah seorang dari mereka meninggal, Ragnar pun terpuruk.

Wanita dalam Spartacus: Lucretia

lucretia

Istri dari Quintus Lentulus Batiatus ini sungguh pantas menjadi istri teladan. Dia total mendukung Batiatus dalam menggapai cita-cita. Eh, barangkali lebih tepat cita-citanya sendiri.

Dia berkawan dengan Ilithya, istri dari Legatus Glabber. Seseorang yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari Lucretia.

Kemudian, memang Lucretia selalu berteman dengan para bangsawan yang posisinya lebih tinggi. Teman ngerumpinya adalah istri-istri para bangsawan. Meskipun tak jarang, dia pun mendapat penghinaan dari kawan-kawannya ini.

Bosan dengan hal itu, maka Lucretia pun mendorong-dorong suaminya untuk merangkak ke strata sosial yang lebih tinggi. Segala cara akhirnya ditempuh untuk menggapai mimpi Lucretia ini.

Cara-cara itu termasuk dengan merendahkan Ludusnya yang sakral. Dia membuka rumahnya untuk kesenangan para bangsawan. Disodorkannya para Gladiator dan budak-budak wanita. Digelar pesta-pesta yang melibatkan persetubuhan di dalamnya.

Sebuah tindakan yang tidak disetujui oleh mertuanya, Titus Batiatus.

Lucretia_and_Titus

Memang, sedari awal Lucreria sudah tidak disukai oleh Titus. Ditambah lagi fakta bahwa dia tak kunjung punya momongan. Tak ada yang akan melanjutkan Ludus of Batiatus. Sebuah kekecewaan yang mendalam bagi Titus.

Diam-diam, Lucretia pun memanfaatkan salah seorang gladiatornya yang perkasa, Crixus. Dia meminta Crixus memasuki tubuhnya, membuahi, dan berharap akan mendapatkan keturunan. Usaha yang nantinya terbukti tak membuahkan hasil.

Nanti, ketika Ludus Batiatus sudah hancur dan Batiatus sendiri tewas karena pemberontakan Spartacus. Ajaibnya Lucretia masih hidup. Dia ditolong oleh seorang gladiator oportunis nan pragmatis, Ashur.

Keajaiban ini yang kemudian dilirik oleh Legatus Glabber untuk menarik hati orang-orang Capua. Hidup Lucretia pun diisi dengan menarik dukungan sebesar-besarnya dari rakyat Capua pada perjuangan Glabber untuk menindak Spartacus.

Ashur_and_lucretia

Sayangnya, keajaiban kehidupan yang kedua Lucretia ini tak dianggap oleh Ashur. Baginya, Lucretia berhutang hidup. Maka, Ashur pun bebas bertindak sesuka hati. Dia menganggap Lucretia seperti istrinya. Bisa direndahkan.

Ini tentu menjadi tekanan berat bagi seorang Domina atau majikan wanita seperti Lucretia. Direndahkan oleh Ashur yang semula adalah gladiator di ludusnya, adalah budaknya.

Lucretia hidup dengan kepahitan-kepahitan yang dengan itu justru dia bertambah kuat, penuh tekad, dan menghalalkan segala cara.

Sumber:

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3

Review: 10 Years

capture_10years

Seperti biasa, saat mengganti-ganti saluran televisi di rumah, saya temukan film yang menarik. Tentu saja sudah tak baru, tapi kendati bukan film baru, karena saya baru menonton film itu pertama kali, jadi tetap terasa baru buat saya.

Entah berapa malam yang lalu, saya temukan ’10 years’ di FX Channel. Saya baca sinopsisnya sekilas dan kemudian memutuskan untuk menonton film tersebut.

Sinopsis

Film ini ringan dan alurnya mudah ditebak. Namun, hal itu tak mengurangi ketertarikan saya menontonnya. Cerita yang disajikan mengenai sebuah kelas yang mengadakan reuni 10 tahun setelah mereka lulus.

Masing-masing pemeran punya kisah berkaitan dengan saat-saat mereka sekolah. Masing-masing juga punya misi dalam reuni 10 tahun itu. Namun, rupanya masing-masing pemeran juga punya persoalan dengan masa lalu yang hendak diselesaikan.

Misi-misi Lelaki

capture_10years2

  1. Jake sudah berpacaran dengan Jess, namun dia masih ingin bertemu dengan mantan pacarnya dulu, Mary.
  2. Sully telah menikah dengan anggota pemandu soraknya dulu, Sam. Dalam reuni itu, dia ingin meminta maaf pada teman-teman yang dahulu sering sekali diganggunya.
  3. Marty dan A.J bersaing sedari dulu dan dalam reuni itu, mereka berdua memperebutkan perhatian Susan, gadis paling seksi di kelas mereka.
  4. Reeves dahulu malu-malu mengakui kalau dia memerhatikan dan menyukai salah seorang temannya, Elise. Di reuni, dia kembali bertemu dengan Elise, setelah sepuluh tahun, apakah dia menemukan keberaniannya?

Yang Menarik

  • Realitas sesungguhnya.

Saya bayangkan, jika kelas di SMA dulu mengadakan reuni 10 tahun kemudian, tentu suasana yang tercipta tak akan jauh berbeda. Canggung yang muncul saat dua orang mantan saling bertemu. Situasi aneh saat korban dan pembuat onar saling berjabat tangan. Itu semua rasanya begitu nyata, bahkan penonton seperti dibiarkan menebak-nebak. Tak urung, saya pun tersenyum-senyum kegirangan karena tebakan saya benar atau saat dengan jahil otak saya mengingat teman masa SMA dulu yang mungkin saja mengalami situasi persis di film ini.

  • Seseorang tak pernah dewasa saat bertemu kawannya.

Hal ini terbukti dalam film ini. Kendati sudah beranak dua, Sully tetap saja badung dan alih-alih meminta maaf pada korbannya, dia justru kembali mengulang mengganggu mereka. Peristiwa ini sungguh membuat malu Sam, istri Sammy.

  • Kenakalan masa lalu akan diulang kembali.

Adalah A.J dan Marty yang dari dulu mengharapkan Susan menoleh ke arah mereka. Dalam reuni itu, harapan itu masih menyala-nyala kendati A.J sudah beristri. Niat awal sebenarnya dia ingin menjadi mak comblang antara Marty dengan Susan, namun justru dia pun terpikat. Mereka berdua kemudian membuntuti Susan pulang ke rumah. Di rumah itu dahulu mereka kerap berbuat jahil. Anehnya, setelah sepuluh tahun, ide mereka untuk menjahili Susan tetap sama.

  • Cinta pertama tak pernah padam.

capture_10years3

Adalah Reeves yang kini telah menjadi seorang penyanyi terkenal. Semua mata gadis di reuni pun memandang ke arahnya. Namun, dia tetap saja jengah saat Elise memasuki ruangan. Elise adalah cinta pertama Reeves yang tak bisa dimiliki. Apakah Elise masih sendiri dan mau bersama Reeves, bagaimana usaha Reeves untuk memikat Elise?

Jadi, kapan kita reuni? 😀

Sumber Gambar:

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3

Review: Inferno

Inferno1. Data Buku

Judul Buku: Inferno
Penulis: Dan Brown
Nama Penerbit: PT Bentang Pustaka
Cetakan dan Tahun Terbit: Cetakan  II, Oktober 2013
Jumlah Halaman: 642 Halaman

2. Judul Resensi
Kelindan Neraka

3. Ikhtisar Isi Buku
Inferno karya Dan Brown seperti biasa, menawarkan plot cerita yang begitu cepat. Dalam buku ini, cerita diawali pada tengah malam dan berakhir di dini hari berikutnya. Dalam sehari itu, cerita bergulir dari Florence ke Venesia di Italia kemudian terbang ke Istambul di Turki. Awas, barangkali Anda akan terengah-engah membacanya. Continue reading “Review: Inferno”

Review: Canting

canting_batik_1. Data buku

Judul Buku: Canting
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Nama Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan dan Tahun Terbit: Cetakan Ketiga, Oktober 2007
Jumlah Halaman: 406 Halaman

2. Judul Resensi
Kepasrahan Canting

3. Ikhtisar Isi Buku
Canting berkisah jatuh bangunnya sebuah usaha batik yang dikelola oleh istri dari Pak Bei Sestrokusuman. Usaha keluarga ini dulunya sangat maju. Dengan buruh yang banyak, pengelolaannya memang dilakukan secara tradisional, namun memberikan keuntungan yang bagus. Seiring perkembangan zaman, perusahaan keluarga ‘Batik Canting’ yang mengkhususkan diri pada batik tulis pun perlahan-lahan ambruk. Penyebabnya, tak lain semenjak ditemukannya metode batik cap yang bisa berproduksi dengan cepat dan harganya murah. Continue reading “Review: Canting”

Review: Ibunda dan Canting

laborSaya kurang tahu, apakah ada manfaatnya atau tidak untuk membandingkan perjuangan buruh di Rusia dan Indonesia. Sumber saya pun bukan buruh langsung. Saya hanya membaca dua buah buku yang kebetulan bercerita soal buruh. Jadi, anggap saja ini sekadar untuk tambahan pengetahuan Saudara saja, hehe.

Buku pertama adalah terjemahan novel ‘Ibunda’ karya Maxim Gorki yang dialihbahasakan oleh Pramoedya Ananta Toer. Di blog ini, saya pernah membuat catatan singkatnya di tautan ini.

Ibunda bercerita tentang Pelagia Nilovna, seorang ibu dari buruh bernama Pavel Vlassov. Sosok ibu tersebut harus merelakan putra kesayangannya, Pavel, untuk memperjuangkan hak-hak buruh. Bahkan, Ibu itu harus pula bergerak mendukung perjuangan anaknya.

Pavel bersama kawan-kawannya aktivis buruh sudah muak dengan kesewenang-wenangan penguasa, dalam hal ini pemerintahan Tsar dan pemilik pabrik tempatnya bekerja. Diam-diam mereka melakukan pertemuan. Diam-diam mereka menyebarkan selebaran yang berisi provokasi dan ajakan untuk melawan.

Selebaran itu dibagikan kepada sesama buruh, tentu saja secara sembunyi-sembunyi. Niat Pavel memang harus membuat para buruh itu mengerti, kata dia, “Kita harus bergerak, namun, terlebih dahulu kita harus membuat pintar mereka, para buruh itu.”

Pada satu perayaan May Day, Pavel dan buruh-buruh lain melakukan pawai, menyuarakan aspirasinya. Dalam kesempatan itu, Pavel ditangkap oleh polisi yang menjadi kepanjangan tangan para penguasa. Setelah itu, dia kemudian dijebloskan ke penjara.

Ibunda kemudian terpanggil untuk mendukung kerja putranya. Dia pun turut menyebarkan selebaran kepada buruh-buruh.

Pavel sebagai seorang buruh dicitrakan sangat berani. Ketekunannya belajar, membuat dirinya didengar oleh para aktivis dan buruh lain. Dia bahkan bisa mengalahkan adu argumen dengan para penegak hukum dalam sebuah pengadilan yang telah diatur sebelumnya. Kendati pada akhirnya dia harus menerima hukuman buang ke Siberia, namun kesadaran perlawanan di kalangan buruh itu telah menyebar seperti wabah yang terus meluas. Gerakan itu siap menerkam kesewenang-wenangan penguasa.

==

Satu buku lagi berjudul ‘Canting’ karya Arswendo Atmowiloto yang bercerita tentang jatuh bangunnya sebuah usaha batik tulis Canting. Dalam buku tersebut diceritakan bagaimana perjuangan buruh-buruh batik di Solo.

Lain di Rusia, lain pula Solo. Di pabrik batik Canting yang memiliki buruh lebih dari seratus itu, perjuangan dilakukan lebih banyak dengan diam dan dalam bentuk sikap pasrah.

Adalah Wagiman, seorang buruh batik yang tak menuntut apa-apa. Ia tahu apa yang menjadi haknya, lewat jalan apa pun akhirnya akan jatuh ke tangannya pula. Sebaliknya apa yang belum menjadi miliknya, diberikan di depan mulut pun akan jatuh ke tanah. Gusti Allah sudah mengatur semuanya. (140)

Begitulah sikap seorang buruh batik. Dia pasrah pada rezeki yang sudah digariskan oleh Tuhan. Lebih jauh, menjadi buruh bagi Wagiman adalah sebentuk pengabdian kepada ndoronya, tuannya.

Wagiman merasa, bahwa pengabdian dirinya adalah bagian yang pokok dari mengutarakan rasa bersyukur. Kepasrahan–penyerahan secara ikhlas—adalah sesuatu yang wajar. Bukan kalah, bukan mengalah. (161)

Apakah tindakan Wagiman yang nerimo dan pasrah itu berhasil melawan kekuasaan penguasa?

Ni, bos Wagiman bukanlah jenis bos yang semena-mena. Ia sangat memerhatikan kesejahteraan karyawannya. Bahkan, terkadang ia bingung sendiri dengan tingkah mereka yang serba nerima, serba monggo atas keputusan-keputusan dari Ni.

Saat usaha batik tulis Canting mengalami kemunduran karena ada batik cap yang lebih cepat berproduksi dan harganya murah, Ni meminta pendapat dari buruh-buruhnya. Dia bingung bagaimana harus menggaji mereka, rasionalisasi harus dilakukan, artinya pengurangan gaji. Apa yang dilakukan oleh buruh itu adalah menerima keputusan tersebut tanpa mempertanyakan.

Sikap mereka ini justru yang membingunkan Ni.

==

Demikian perbandingan buruh berdasarkan dua buku yang telah saya baca. Tentu saja bukan perbandingan apel ke apel. Majikan yang berbeda, iklim usaha yang lain, penguasa pemerintahan yang tak sama, sikap hidup dan lain-lain menjadi dasar perbedaan di antara buruh-buruh itu.

Picture

Review: Peace, Love, and Misunderstanding

Diane adalah pengacara yang, seperti biasa, keras kepala dan jagoan berdebat, haha. Ia tak pernah mau mengalah, dalam hal apa pun. Semua perdebatan seakan-akan harus dimenangkannya. Kalau pun tak bisa dimenangkan, maka ia memilih pergi.

Di awal cerita, Mark, suami Diane meminta cerai. Diane pun serta merta memilih untuk pergi, lebih tepat pulang kepada ibunya, Grace. Dia mengajak dua anak remajanya, Zoe dan Jake.

Grace adalah seorang hippie, tinggal di Woodstock, ia sudah 20 tahun tak bertemu dengan putrinya, Diane. Awal mula penyebabnya, karena Grace menjual ganja kepada tamu-tamu saat resepsi pernikahan Diane, hahaha.

Di Woodstock cerita kemudian dimulai.

Zoe dan Jake diajak oleh Grace untuk mengikuti demonstrasi menentang perang. Di lokasi demonstrasi, Jake yang sibuk dengan handycam-nya menemukan sesosok wajah rupawan, Tara.

Ajakan Grace kepada cucunya itu tentu saja ditentang oleh Diane. Diseret putra dan putrinya itu keluar dari arena demonstrasi… ke toko daging. Eh, di sana malah ada si ganteng Cole yang memikat hati Zoe.

“Kamu pasti ingin bercinta dengannya, bukan?” Begitu bisik Jake pada Zoe.

Hari berganti, kini di rumah Grace diadakan pesta. Pesertanya, siapa lagi kalau bukan para demonstran yang kemarin. Ini berarti, Jake bertemu lagi dengan Tara, dan Zoe bertemu dengan Cole. Kesalahpahaman pertama terjadi, saat Jake bersiap mendekati Tara, dia diajak keluar oleh seorang cowok lain. Jake pun urung melangkah, hal ini diketahui oleh neneknya, Grace, yang kemudian memberikan pelukan hangat pada Jake.

Cole sebenarnya datang agak terlambat, pesta sudah dimulai, dan dia baru datang. Pas, di teras dia bertemu dengan Zoe. Cole saat itu merokok, Zoe pun bertanya, “Adakah hal lain yang kau lakukan dan merendahkan kehidupan?” Cole dengan santai menjawab, “Apakah ini saat yang tepat bagiku untuk bilang ke kamu, kalau aku berburu?”

Di dalam rumah, hanya Diane yang tampaknya tak bersemangat. Ia seperti menghindari pesta para hippie itu. Hal ini direspon oleh Grace dengan memperkenalkan seorang pria, Jude, kepada Diane. Tak diragukan lagi, Jude jelas seorang yang menawan. Mereka berdua, Diane dan Jude lantas berjalan-jalan keluar dan sampai di tepi telaga. Dua orang yang sudah berumur itu pun kembali menjadi kanak-kanak, melucuti pakaiannya dan terjun ke telaga. Saking girangnya, mungkin, Diane lupa tak melepas gaunnya, hahaha.

Cerita mengalir dengan kesalahpahaman yang kerap muncul, seperti kekeliruan Jake terhadap Tara. Dia mengira Tara sudah mempunyai cowok, hal yang kemudian dibantah. “Ah, dia cuma teman,” demikian Tara bilang. Zoe salah menerka atas pilihan profesi Cole, baginya yang vegetarian, apa yang dilakukan Cole bekerja di tempat pemotongan hewan adalah tindakan yang sungguh kejam. Padahal, Cole punya alasan tersendiri akan profesinya itu. Zoe pun berseteru dengan ibunya sendiri, karena dia melihat Diane berciuman dengan Jude di panggung pada saat pertunjukan musik. Dia berpendapat itu tindakan yang sangat tak pantas, sementara Diane belum bercerai dari Mark. Diane gundah karena kemarahan anaknya, ia pun menemui Grace.

Diane: They hate me.

Grace: It’s difficult for kids to accept that their parents are human.

Saat purnama tiba, ini adalah masa ketika kaum wanita di Woodstock memuliakan dirinya. Mereka mempunyai ritual untuk menyambut purnama, lambang kehormatan wanita, begitulah menurut mereka. Saat itu Cole datang, Grace pun berkata, “Tak boleh ada energi maskulin di sini.” Kemudian, Zoe dan Cole pergi dari ritual itu. Mereka menghabiskan waktu berdua, kemudian bercinta. Nah, pulangnya, seekor rusa tertabrak mobil Cole. Rusa itu meregang nyawa, Zoe bilang mereka harus membawanya ke dokter, namun Cole, dengan telengas menembak rusa itu sampai mati. Keduanya kemudian tak saling bicara.

Sementara itu di tempat upacara menyambut purnama, Diane yang semula enggan terlibat dan menertawakan, akhirnya turut pula minum dan sibuk dalam permainan. Mereka saat itu memainkan sebuah permainan benar atau salah. Apabila seseorang salah menebak tentang suatu fakta, maka dia harus meminum segelas tequila. Ah, entah giliran siapa, namun terungkap kemudian bahwa Jude dulunya adalah kekasih Grace, padahal saat itu Diane baru saja tidur dengan Jude, haha….

Sudah barangtentu Diane marah besar. Keesokan harinya, ia bertengkar dengan Grace, ia merasa dibohongi. Ujungnya ia pun pergi lagi ke kota dengan membawa serta Zoe dan Jake. Di kota, ia menyelesaikan urusan pernikahannya dengan Mark. Di kota pula ia mendengar kabar bahwa Grace dipenjara lagi karena tertangkap menjual mariyuana. Diane marah besar akan ketidakdewasaan Grace, namun saat itu ia bertemu dengan Jude. Dan inilah perbincangan mereka berdua:

Diane: You want me to just let go of 40 years of irresponsibility, embarrassment, and her total refusal to grow up?

Jude: Yes, exactly.

Diane: [incredulous] Like a balloon that’ll just float away.

Jude: It’s not a balloon, Diane. It’s a sandbag you’ve got to drop for the balloon to get off the ground.

Apakah Diane bisa melepaskan karung pasir, sehingga dia menjadi balon yang bisa terbang tinggi? Bagaimana dengan Grace, bisakah ia lebih dewasa atau akankah ia tetap eksentrik? Kesalahpahaman itu tetap ada, sampai akhir cerita.

Ini kisah yang manis tentang perjalanan keluarga yang singkat, namun sebuah cerita kehidupan yang panjang. Tontonlah, Kawan, bila kau sempat.

Terima kasih.

Review: Ibunda, Maxim Gorky

Ibunda_pictureIa seorang yang sudah sepuh. Bila berjalan, ia sedikit membungkuk. Di dahinya terdapat sebuah bekas luka. Keriput sudah mulai menghiasi tubuhnya, menghasilkan kerut merut yang membuat ngeri orang yang memandangnya.

Pelagia Nilovna namanya. Istri dari seorang montir, Vlassov, yang memiliki anjing dan sekaligus darah tinggi. Hobi suaminya adalah menenggak vodka sampai dia jatuh tertidur dan marah-marah. Pelagia menjadi sasaran kemarahannya, semua barang dilemparkan, pun kata-kata tak pantas berhamburan dari mulutnya.

Kedua orang tua ini memiliki seorang putra, Pavel. Dia masih muda, bersemangat dan sekaligus membenci ayahnya.

Satu hari, penyakit datang menyapa Tuan Vlassov, hingga dia menemui ajalnya. Kini, tinggallah Pelagia hidup berdua bersama anaknya Pavel.

Pavel melanjutkan pekerjaan ayahnya, dia bekerja di pabrik sebagai buruh. Sehari-hari dia bekerja, namun terkadang pergi entah ke mana bertemu dengan teman-temannya. Mula-mula ini membuat khawatir Pelagia, namun bakti Pavel padanya sungguh membuat ibu tua ini bahagia.

Pavel sering pulang larut malam entah dari mana, seringkali dia membawa buku. Ibunda hanya memperhatikan, tak hendak bertanya karena ia tak paham. Ia sudah lupa bagaimana cara membaca, ingatannya yang dulu sudah banyak yang hilang dihantam oleh kepalan tangan suaminya.

Selain buku, Pavel terkadang pulang dengan membawa teman-temannya. Kemudian mereka berdiskusi di ruang tamu, sementara Ibunda mendengarkan di dapur tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Bukan hanya sekali Ibunda merasa khawatir dengan jalannya diskusi yang terkadang panas itu, ingin dia mendamaikan, namun tak berani mengganggu anak-anak muda itu.

Seringnya diskusi dilakukan membuat Ibunda sedikit demi sedikit paham, anak-anak muda ini sedang merencanakan sebuah gerakan. Mereka bersemangat untuk sebuah kehidupan yang lebih baik, untuk kebebasan dari penindasan pabrik dan hal-hal semacam itu.

Khawatir kembali menyeruak di hati Ibunda, seiring dia mendengar banyaknya penangkapan pada para aktivis. Barangkali Pavel salah seorang aktivis itu, pikir Ibunda tidak terlalu yakin. Namun, ia juga mendengar, bahwa rumahnya sudah mulai diawasi oleh polisi karena seringnya digunakan untuk rapat-rapat rahasia. Ah….

Polisi pun datang pada suatu malam untuk menggeledah rumah Ibunda. Syukurlah semua bukti sudah disingkirkan di hutan belakang rumah. Mereka pulang tanpa membawa hasil, namun ancaman dari gerak-geriknya sudah cukup membuat Ibunda gemetar. Biarpun begitu, hal ini sama sekali tak menyurutkan nyali Pavel dan kawan-kawannya. Mereka tetap berjuang.

Kegetiran hidup Ibunda berganti-ganti dengan rasa bangga pada anaknya. Semangat berubah-ubah dengan rasa takut. Sosok tua yang semula hanya menjadi sasaran pelampiasan kemarahan suaminya itu perlahan menjelma menjadi seorang yang tegar dan berani. Itu semua terjadi karena teladan dari anaknya.

Pun Pavel, ia tak pernah gentar, bahkan ketika ancaman pedang dan penjara. Dia pimpin kawan-kawannya untuk memberontak, melawan pada kekuatan modal, petinggi pabrik, pejabat, polisi, siapa saja yang menjadi kepanjangan tangan kesewenang-wenangan dan menindas kaum mereka. Pavel menjadi pemimpin para buruh untuk bergerak.

“Kita harus bergerak, namun, terlebih dahulu kita harus membuat pintar mereka, para buruh itu.” Begitu kata Pavel pada suatu malam di hadapan teman-temannya. Karena itu, dia mulai membagi-bagikan selebaran berisi ajakan untuk perjuangan. Satu hal yang nantinya akan diteruskan oleh Ibunda, membawa selebaran itu ke tempat yang jauh, ke pelosok negeri, kepada kaum-kaum yang tertindas agar mereka bergerak bersama. Selebaran itu menjadi corong perjuangan mereka, karena apa yang menjadi pesan dari selebaran itu sebuah lokomotif perubahan bergerak dari stasiunnya. Dia menerobos kekolotan, kekejaman, perbudakan, dan semua hal menjijikkan lainnya.

Bacalah Novel Ibunda, kawan, bila kau sempat.

Pinjam Gambar dari sini

Silakan barangkali ada yang pengen langsung beli bukunya bisa di sini