Review: Taj

Novel Taj

“Bibirmu, terasa begitu manis.” Kata Shah Jahan

“Ini hanya manis untukmu, kekasihku, untuk orang lain: rasa pahit yang akan ditemui.” Arjumand Banu menjawab dengan mata yang berbinar.

Pasti semua pun tahu bahwa keduanya baru saja berciuman. Ciuman terlarang seperti juga cinta mereka yang tak direstui oleh Padishah, Sang Sultan. Jahangir, Sultan Mughal India ayah dari Shah Jahan berpikir jauh ke depan. Putranya adalah putra mahkota. Hidupnya bukan hanya untuk dirinya sendiri, namun untuk seluruh bangsa, semua negeri di bawah panji-panji Mughal.

Perkawinan politik kemudian terjadi. Continue reading “Review: Taj”

Review: Kung Fu Panda

kung_fu_panda

Guru tua yang bijak itu berharap, salah satu di antara muridnya ada yang menjadi Ksatria Naga. Namun, harapannya itu seakan-akan telah menguap ketika yang didapatkan hanyalah sesosok panda gemuk yang lucu. Awalnya, dia tidak bisa menerima kenyataan tersebut, namun kemudian dia menyadari bahwa situasi itu tak bisa lagi dihindari. Dari Kung Fu Panda kita bisa belajar banyak hal.

1. Kerja Keras

Seperti mendaki gunung, maka tidak ada jalan pintas. Setiap langkah di jalan setapak yang menanjak itu harus diambil terus-menerus dan satu demi satu sehingga pada akhirnya kita sampai ke puncak. Hanya mereka yang bersedia untuk bekerja keras akan mencapai apa yang diharap-harapkan.

2. Kedamaian Pribadi

Kepercayaan diri adalah yang paling penting dimiliki oleh manusia, entah dia itu seorang pemimpin atau anggota biasa. Di antara keduanya tak ada yang berbeda, pemimpin tidak akan menjadi pemimpin tanpa anggotanya dan berlaku pula sebaliknya. Maka, kepercayaan diri sungguh menjadi hal yang penting karena apabila dimiliki, maka akan mendukung tercapainya cita-cita. Ini sejatinya adalah proses dari dalam diri yang memberikan dampak di luar.

3. Rendah Hati

Berbagai capaian manusia terkadang membuat seseorang lupa diri. Padahal, seperti ujaran orang-orang tua dahulu: siapa saja tak bisa mengisi cangkir yang telah penuh. Tak ada batasan apa hal-hal yang bisa dipelajai, karenanya rendah hati menolong kita untuk terus belajar dan merasa belum tahu apa-apa. Rendah hati adalah syarat bila seseorang ingin menjadi pemimpin.

4. Keseimbangan

Ini adalah syarat lain jika ingin menjadi seorang pemimpin yang baik. Keseimbangan berbagai hal, terutama dalam berbagai pertimbangan memungkinkan seorang pemimpin memiliki kekuatan dan kedamaian pikir. Sebabnya, sebagai pemimpin, maka berbagai tekanan akan dihadapi dan setiap anggota akan menoleh kepada pemimpin itu. Dirinya harus mampu mempertimbangkan keputusan berdasarkan berbagai faktor dan risiko yang mungkin akan timbul. Karena itu, keseimbangan menjadi syarat mutlak seorang pemimpin apabila dia ingin membuat keputusan yang benar.

5. Latihan

Tidak ada senjata rahasia seorang yang berhasil selain berlatih dan berlatih terus. Tidak seorang pun dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Namun, bila itu tujuan Anda, maka haruslah dapat membuktikan kepada orang lain bahwa Anda layak menjadi pemimpin. Hal ini berarti perlunya upaya terus-menerus untuk meningkatkan keterampilan agar makin meningkat pula tingkatan-tingkatan yang didapat. Pilihannya adalah: berlatih terus atau pulang saat itu juga.

6. Bertanggung Jawab

Di antara menyalahkan orang lain atau bertanggung jawab, maka yang pertama jauh lebih mudah. Semudah menudingkan jari telunjuk kepada hidung orang lain. Namun, seorang pemimpin haruslah berani bertanggung jawab. Jika ada kegagalan atau kekeliruan, maka mesti dicari jalan lain yang terbaik untuk mencapai tujuan. Hal inilah yang membedakan seorang pemimpin yang sejati.

Review: Troy

The-City-book-616x399

Novel Troy karya David Gemmel sangat menyenangkan dibaca. Keingintahuan yang muncul di tiap lembar halamannya membuat pembaca enggan berhenti. Lama sekali saya tidak membaca novel dengan penuh semangat seperti saat menikmati Harry Potter atau saat pertama kali membaca novelnya Dan Brown.

Kendati demikian, Troy menawarkan kelindan persoalan yang berbeda melalui garis besar cerita yang barangkali sudah akrab dengan para pembaca. Cerita mengenai kepahlawanan dari para tokohnya untuk mempertahankan sebuah kota ‘Troy’ dari serbuan musuh. Tokoh-tokoh yang terlibat diperkenalkan satu demi satu dan konflik di antara mereka pun dibangun perlahan-lahan. Namun, semua itu berkaitan dengan ancaman penyerbuan dan upaya mempertahankan Troy.

David Gemmel sungguh piawai dalam membangun cerita, namun yang menarik adalah bagaimana dia membingkai tiap tokoh yang terlibat. Tokoh-tokoh itu selain lengkap dengan berbagai prestasi, keberanian, pengorbanan, kepemimpinan dan kebesaran-kebesaran yang lain, masing-masing juga memiliki latar belakang, cerita sedih, ambisi, dan emosi yang dipendam-pendam. Tiap tokoh dalam Troy memiliki kisahnya sendiri yang membuat mereka bukan super hero yang tidak bisa diindera, mereka hanya manusia biasa lengkap dengan segala kejayaan dan penderitaannya.

troy_trilogy

Beberapa sosok di Troy hidup dengan membawa beban masa lalu. Ada yang disepelekan oleh ayahnya dan ada pula yang mengalami kekerasan seksual dari orang terdekat. Sosok lain seakan-akan hidup dari kenangan buruk saat melihat saudarinya diperkosa. Tokoh lain lagi ingin mengubah citra, dari raja perampas kota nan kejam menjadi sosok yang netral dan tak punya musuh.

Di sisi lain, banyak pula sosok yang khawatir dengan masa depan. Seorang raja yang menghadapi senja kala, namun berlagak seolah-olah masih mampu menggenggam dunia. Kekasih yang mengejar cintanya agar kenangan masa lalu bisa terulang kembali. Permaisuri yang sakit-sakitan dan terus-menerus mengenang masa kejayaannya.

Di tengah itu semua, ada satu tokoh yang istimewa. Dia mampu meramalkan apa yang akan terjadi dan biasanya akan memberikan peringatan sehingga orang lain akan bersiap-siap. Namun, kemampuannya tersebut justru diragukan oleh orang-orang terdekatnya dan itu sungguh menyakiti hatinya.

Semua tokoh di Troy memiliki perannya masing-masing. Tidak peduli dia raja, prajurit, atau pelayan. Banyak raja yang justru diingatkan oleh tingkah laku para prajurit dan pelayannya. Di tengah manusia sederhana itu, seperti biasa kejujuran, keberanian, dan kerelaan untuk berkorban justru dirawat.

Apakah Anda sudah mulai tertarik dengan para tokoh tersebut? Sengaja memang saya tidak menyebutkan nama dari para tokoh untuk membuat Anda penasaran. Namun, bila Anda sudah pernah membacanya, dapatkah Anda menebak siapa sosok-sosok yang saya maksud di atas?

Dan… selamat membaca.

Review: Work Love Play

work_love_play

Pada tahun 1930, John Maynard Keynes memprediksi bahwa dalam abad ini, kita akan bekerja selama 15 jam saja per hari. Dua dekade kemudian, Wakil Presiden Richard Nixon mengemukakan, bahwa pada tahun 1990, warga Amerika akan pensiun pada usia 38 tahun. Namun, tak peduli dengan banyaknya gadget baru yang semestinya dapat memudahkan kita, seperti mesin pencuci piring, popok sekali pakai, skype, dsb, banyak orang di negara maju justru merasa saat ini mereka bekerja lebih keras dari generasi sebelumnya.

Brigid Schulte memberi istilah pada kondisi ini sebagai ‘the overwhelm’. Sementara itu, dalam buku yang ditulis oleh reporter The Washington Post mencoba menjelaskan kenapa di antara kita selalu merasa bahwa waktu yang kita miliki dalam sehari kurang. Dia bersimpati pada kita yang merasa bersalah karena bingung harus memilih antara karier atau keluarga, dia juga merasa lelah karena merasa sudah bekerja terlampu banyak, namun merasa harus bekerja lebih banyak lagi.

Hal tersebut adalah perasaan yang umum, terutama pada ibu yang bekerja. Baru-baru ini saya duduk dalam satu ruangan bersama dengan bos-bos wanita dari suatu media, kami berdiskusi bagaimana mereka bisa mencapai level tinggi tersebut. Jawabannya selalu bekerja paruh waktu pada saat anak-anak mereka masih muda, namun dalam satu kasus karena punya suami yang berada di rumah sebagai bapak rumah tangga. Mereka telah membuktikan, bahwa kita tak dapat memiliki semua, jika itu berarti bekerja 60 jam seminggu dan pada saat yang sama harus menjaga keluarga kecil Anda.

Berdasarkan diagnosis dari Schulte, sejauh ini kelompok yang tak punya waktu untuk bersenang-senang adalah ibu, terutama bila ia adalah orang tua tunggal. Kesimpulan tersebut didapatkan dari penelitian selama bertahun-tahun, karena mulanya mereka (terutama pria) mengira bahwa mengurus anak dan pekerjaan rumah sebagai waktu bersantai. Ini bukanlah buku yang akan menyadarkan Anda dengan pesan feminis yang kuat, namun tak bisa dipungkiri bahwa ada aspek gender dalam pandangan kita mengenai ‘bekerja’.

Biarpun makin banyak jumlah wanita yang bekerja secara penuh, namun pendapat kolot kita pada aspek gender sangatlah sulit diubah. Ibu tetap mengerjakan lebih banyak pekerjaan rumah dan mengurus anak daripada seorang bapak, meskipun bila keduanya bekerja. Sementara waktu bapak untuk anaknya biasanya hanya tambahan saja, sebagai orang tua pembantu atau orang tua yang menyenangkan. Ibu di sisi lain adalah orang tua utama dan karenanya tak bisa benar-benar bersantai. Pada pasangan gay, peran tersebut justru kurang lebih seimbang. Seorang ibu hanya punya sedikit waktu luang sementara pada saat yang sama masih mengkhawatirkan tentang email penting yang belum dibaca atau ada bau aneh di bawah tangga yang bisa jadi bangkai kucing.

Melawan ‘the overwhelm’ berarti mengidentifikasi masalah, dalam buku ini dijelaskan adanya tiga persoalan: pekerjaan, harapan, dan diri kita. Anda boleh senang bila hidup di Eropa, karena di Amerika, terlihat sekali kebencian pada warganya dan ingin mereka tak bahagia. “Amerika adalah satu-satunya negara maju yang tidak memberikan waktu istirahat pada pekerja.” Tulis Schulte. “Hampir seperempat pekerja di Amerika tak mendapat kesempatan berlibur, kebanyakan adalah pekerja rendah atau paruh waktu.” Di sana juga tak ada pertimbangan ‘maternity’ karena tak ada aturan mengenai hal itu. Semua hal tersebut adalah hasil dari dominasi agama di tahun 1970-an, penghasut seperti Pat Buchanan menduga bahwa pengasuhan anak adalah media untuk mendoktrin anak dan membuat mereka menjadi kelompok-kelompok kecil. Schulte cemburu pada negara-negara di Skandinavia yang memiliki kebijakan bersahabat untuk keluarga, namun di Amerika situasinya sangat berbeda.

Penyebab berikutnya dari ‘the overwhelm’ adalah konstruksi yang disebut oleh Schulte sebagai ‘ideal worker’. Seorang pekerja ideal adalah bagian paling sempurna dari mesin kapitalis, tak pernah izin atau bahkan mogok kerja, selalu siap untuk bekerja lembur atau dinas ke luar kota, termasuk tak pernah izin untuk mengurus anak atau orang tua yang sakit. Banyak bisnis yang terpengaruh oleh ‘paham kehadiran’, mereka percaya ada korelasi yang kuat antara waktu yang dihabiskan di kursi kantor dan produktivitas. Sesuatu yang tak benar, karena penelitian menunjukkan, bahwa seseorang hanya bisa bekerja delapan jam sehari. Setelah itu, mereka hanya duduk di meja, bermain game di komputernya, atau sudah melamunkan menu makan malam. Budaya bekerja dalam waktu yang lama berpengaruh baik pada pria maupun wanita, manakala seorang pria meminta waktu bekerja yang fleksibel, dia diasumsikan sebagai pekerja pemalas atau banci.

Kendati begitu, kita tak dapat menyalahkan pekerja tanpa hati tersebut. Kemakmuran relatif telah memaksa pekerja untuk menyembah altar kerja lembur, sebuah sikap yang oleh Schulte disebut sebagai ‘lebih sibuk daripada kau’. Memiliki kulit yang kehitaman–bagi orang asing–adalah lambang bahwa Anda bisa berlibur ke kawasan tropis, jadi bekerja lembur adalah penghormatan bagi pekerja di kalangan menengah. Tak memiliki waktu luang menandakan Anda punya pekerjaan, karier dan Anda akan bepergian ke suatu tempat.

Resep dari Schulte sangat sederhana, yaitu memutuskan untuk mencintai bualan tentang kesibukan dan badai pekerjaan. Namun, jika Anda tak mencintainya, barangkali Anda bisa memilih untuk pergi bermain alat musik atau berolah raga. Berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga, seorang peneliti memiliki pesan sederhana bagi para ibu, yaitu agar tak takut untuk terlihat jelek. Para Ibu tak akan melakukan bedah jantung di lantai dapur, bukan? Lagi pula, bila Anda dituntut untuk cantik, para pria juga mesti mengurangi berat badannya.

Kelebihan buku ini adalah gabungan antara penelitian dan anekdot sehari-hari yang dialami dan disajikan melalui mata seorang reporter yang mencatat dengan detil. Adapun kritik yang disampaikan adalah, pesan Schulte lebih banyak ditujukan pada pekerja di bidang kreatif dan ide untuk meminta empat hari kerja atau pulang pada pukul empat tak berlaku untuk pekerja rendah atau pekerja kontrak. Penulis buku ini juga mengetahui, bahwa rata-rata jam kerja antara bos yang sangat sibuk dengan pekerja rendah sangatlah jauh bedanya, dengan demikian ia telah melakukan generalisasi. Namun, tentu saja buku semacam ini tak dapat mengatasi semua persoalan yang demikian rumit, dan kalau pun buku ini dapat melakukannya, tak seorang pun dapat membaca hasilnya. Kita benar-benar kekurangan waktu dalam sehari.

Tulisan ini bersumber dari sini

Review: But You Didn’t

Capture_Twit

Seorang wanita tak dikenal menemukan belahan jiwanya bertahun yang lalu. Ia kemudian menulis puisi yang menceritakan kebahagiaan kehidupan mereka berdua. Waktu berselang dan kemudian anak gadis wanita tadi menemukan puisi itu:

Ingatkah hari itu, ketika aku pinjam mobil barumu dan langsung membuatnya penyok?

Kukira kamu akan membunuhku.

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ingatkah hari itu, saat aku memuntahkan pie strowberry di karpet barumu?

Kukira kamu akan membenciku.

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ingatkah hari itu, ketika aku memaksamu ke pantai dan kemudian hujan turun sesuai prediksimu?

Kukira kamu akan berkata, “Nah, kan… apa kubilang?”

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ingatkah hari itu, ketika aku menggoda banyak cowok untuk membuatmu cemburu?

Aha, kemudian kamu memang cemburu hebat.

Kukira kamu akan meninggalkanku.

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ingatkah hari itu, saat kamu pakai jeans dan kaos karena aku lupa kasih tahu untuk pakai pakaian resmi di pesta dansa?

Kukira kamu akan acuhkan aku

Tapi, kamu tak melakukannya.

Ya, banyak sekali yang tak kamu lakukan.

Tapi, kamu ada untukku, mencintaiku, melindungiku.

Kemudian, ada banyak hal yang ingin kulakukan untukmu saat kamu kembali dari Vietnam.

Tapi, kamu tak melakukannya.

===

Penulis dari puisi tersebut adalah wanita Amerika yang suaminya bergabung dengan tentara dan pergi ke medan perang di Vietnam ketika anak mereka berusia empat tahun.

Semenjak saat itu, wanita tadi hanya memiliki putrinya.

Di medan perang, suaminya meninggal. Wanita itu pun menjanda dan kemudian meninggal di usia lanjut.

Ketika putrinya merapikan barang-barang peninggalan wanita itu, ia menemukan puisi dari ibu untuk ayahnya itu yang berjudul ‘But You Didn’t’

Diterjemahkan dari sini:

http:/listarama.com/one-knew-love-poem-till-died-turned-something-will-never-forget/

Review: Spartacus-Kore

Kore
Kore

Ini adalah seri terakhir dalam tulisan ‘Wanita dalam Spartacus’

Kali ini saya akan bercerita tentang Kore. Dia sejatinya tak ada hubungannya dengan Spartacus, namun berhubungan erat dengan musuh Spartacus: Imperator Crassus.

Crassus adalah konglomerat di Roma. Menggunakan kekayaannya, dia mampu membangun pasukan sendiri. Saat semua jenderal Roma bertekuk lutut di kaki Spartacus dan menderita kekalahan, maka tinggal Crassus-lah yang bisa diharapkan.

Crassus pun segera menyusun strategi. Diajak pula putranya, Tiberius, dan sahabatnya seorang bangsawan, Julius Caesar untuk meningkatkan kekuatan.

Saat itu, Spartacus semakin terkenal karena berhasil mengalahkan sebuah kota dan menjadikannya markas pasukan pemberontak.

Crassus di sisi lain tak langsung memimpin sendiri pasukannya. Dia mempercayakan kepada putranya, Tiberius. Pasukan Tiberius ini membangun kemah agak jauh dari kota yang dikuasai Spartacus.

Spartacus dalam satu kesempatan menjalin kerja sama dengan seorang bajak laut. Guna melakukan jual beli, maka dia harus ke pantai di mana bajak laut menunggu. Tak dinyana, pasukan Tiberius yang sudah mengintai tiba-tiba menyerbu.

Syukurlah, kendati Spartacus hanya membawa sedikit orang, namun kerja sama dengan bajak laut berhasil memukul mundur pasukan Tiberius.

Tiberius pulang ke perkemahannya dengan kekalahan total. Hanya tersisa dirinya dan beberapa gelintir pasukan yang juga lari terbirit-birit menghindari gempuran Spartacus dan bajak laut.

Mendengar kekalahan ini, Crassus pun marah besar. Dia heran, kenapa anaknya itu tak mendengar komando yang sudah jelas diberikan. “Jangan sekali-kali kamu menyerang sebelum aku sampai di sini.” Demikian perintah Crassus.

Hukuman pun tak terelakkan harus ditanggung oleh Tiberius. Dia dan pasukannya diundi, siapa yang memperoleh butiran batu warna hitam berarti mati. Tiberius sendiri memperoleh batu berwarna putih. Dia harus menghukum pasukan dan kawan-kawannya yang memperoleh batu hitam.

Tak hanya itu, Tiberius juga harus melucuti semua kehormatan yang dimilikinya. Dia bersama pasukannya yang memperoleh batu putih harus hidup bersama para budak dan tak ikut berperang. Pendek kata, kini dia menjadi budak juga.

Di sinilah Kore mulai berperan.

Kore adalah budak pribadi Crassus. Artinya: dia memenuhi semua kebutuhan Crassus mulai dari yang sepele sampai dengan kebutuhan ranjang.

Dalam masa perang itu pun, Kore dibawa serta ke perkemahan dari Roma. Tujuannya tentu saja untuk memenuhi semua kebutuhan Crassus. Hubungan di antara mereka berdua pun tak ubahnya pasangan suami istri yang saling sayang dan merindukan.

Berada di perkemahan, Kore pun melihat apa yang terjadi pada Tiberius. Ia merasa dekat dengan putra majikannya itu. Bagaimanapun ia turut merawat Tiberius hingga menjadi besar. Secara moral, kemudian Kore terpanggil untuk mendamaikan antara ayah dan anak ini.

Didekatinya Tiberius dan disampaikan bahwa hukuman yang diberikan oleh Crassus adalah bentuk sayang seorang bapak kepada putranya. Sayangnya, Tiberius menanggapi lain.

Manakala Crassus sedang memimpin pasukannya memburu Spartacus. Tiberius masuk ke kemah Kore. Dia melampiaskan amarah yang sejatinya ditujukan untuk ayahnya kepada Kore, sang budak tersayang.

Tiberius dan Kore
Tiberius dan Kore

Tiberius memaksa Kore untuk melayaninya. Kore dipaksa, dihinakan sedemikian rupa oleh Tiberius. Penghinaan yang tak akan pernah dilupakan.

Kore menutup erat peristiwa itu dari Crassus. Namun, jauh di lubuk hatinya rasa terhina itu berkembang menjadi kemarahan.

Di sisi lain, Crassus berhasil mengalahkan Spartacus. Julius Caesar disusupkan di antara para pemberontak Spartacus merongrong dari dalam. Sementara itu di sisi lain, bajak laut yang semula bekerja sama dengan Spartacus itu berhasil dibeli. Mereka menghianati kepercayaan yang diberikan oleh Spartacus dengan membelot dan mendukung Crassus.

Kota yang semula dikuasai oleh Spartacus pun berpindah tangan. Kini berhasil direbut kembali oleh Crassus. Pada saat yang sama, Crassus mengembalikan kehormatan dan wibawa Tiberius. Bahkan, dia dijanjikan akan menjadi bangsawan tertinggi di kota itu.

Sebagai tambahan, selain Tiberius dijanjikan menjadi pengelola kota, dia juga akan ditemani oleh Kore sebagai pembimbingnya. Keputusan Crassus ini serta merta ditanggapi dengan penuh penderitaan oleh Kore.

Tak terbayangkan bagaimana perasaan Kore saat ia harus hidup dengan Tiberius. Sosok yang dibenci dan sangat dihindari.

Kore kemudian bercerita tentang penghinaan yang diterimanya dari Tiberius kepada Caesar. Di sisi lain, Caesar yang membenci Tiberius menjanjikan untuk membantu Kore.

Caesar dan Kore pun menyusul Crassus yang saat itu sedang mengejar Spartacus. Di lapangan luas penuh salju telah dibangun tenda megah untuk pasukan dan Crassus sendiri.

Malam itu, Kore sudah bertemu dengan Crassus. Mereka seperti biasa bermesraan melepaskan rindu. Di saat yang dirasa tepat, Kore akan mulai bercerita dan mengadukan perbuatan Tiberius.

Sayangnya, Crassus sedang begitu bangga dengan putranya, Tiberius. Melihat kenyataan itu, Kore urung menceritakan apa yang terjadi pada Crassus.

Kore kemudian merasa tak punya peluang untuk membalaskan dendam pada Tiberius. Secara aneh, Kore malah pergi dari perkemahan dan bergabung dengan gerombolan Spartacus. Ia berharap, dengan bergabung ke Spartacus maka bisa membalaskan dendamnya.

Esoknya, Crassus bangun dan mendapati Kore tak berada di sisinya. Dia merasa sangat sedih dan mencoba mencari Kore ke mana saja.

Kore kemudian menjadi bagian dari para pemberontak yang lari dari kejaran Crassus. Ia ikut ke mana saja Spartacus pergi. Bahkan, sekali waktu juga membantu seorang budak wanita di rombongan itu yang akan melahirkan.

Mula-mula, Spartacus pun mencurigai Kore. Kecantikannya, gerak-geriknya tak pernah dilihat sebelumnya. Kore pun diinterogasi dan setelah terbuka kenyataan bahwa dia bergabung karena sakit hati yang dalam pada Tiberius, maka Kore pun diterima dengan tangan terbuka.

Waktu berjalan dan rombongan Spartacus dikagetkan dengan kedatangan Naevia yang membawa kepala Crixus. Mau tak mau, Spartacus kini dituntut untuk tak lagi lari. Suka tidak suka, kini dia harus berhenti dan melawan Crassus.

Spartacus kemudian mengatur strategi. Beberapa orang budak di rombongannya diminta untuk menyamar sebagai prajurit Roma dari kesatuan yang berbeda dengan Crassus. Tugas penyamar ini adalah untuk–seolah-olah–mengajak Crassus bertemu dalam perundingan menumpas Spartacus.

Tanpa menaruh curiga, Crassus kemudian menyuruh anaknya Tiberius untuk melakukan perundingan. Tentu saja, saat sampai di lokasi Tiberius kaget bukan kepalang karena yang ditemui adalah Spartacus.

Pendek kata dia pun ditawan oleh Spartacus.

Penentuan nasib Tiberius kemudian dilakukan dengan mengadakan pertandingan gladiator. Pelakunya, gladiator-gladiator betulan yang ada di rombongan Spartacus dan prajurit Roma termasuk Tiberius yang berhasil ditawan.

Secara khusus, Tiberius ditandingkan dengan Naevia. Ini adalah upaya atau jalan agar Naevia bisa membalas dendam. Pasalnya, Tiberiuslah sosok yang telah memisahkan kepala dan badan Crixus.

Saat Nevia sudah menggenggam kesempatan itu, utusan Crassus datang untuk membebaskan Tiberius. Penawaran yang diajukan adalah: Tiberius ditukar dengan 500 orang budak yang berhasil ditawan oleh Crassus saat dia mengalahkan Crixus.

Naevia rupanya begitu dewasa, sehingga ia pun bersedia untuk mengampuni Tiberius dan membebaskan saudara-saudaranya sesama budak. Sayang, barangkali memang Tiberius sudah sampai pada titi wancinya. Dia memang harus meninggal dunia saat itu juga.

Saat Tiberius memaki-maki setelah dibebaskan, dia mengancam akan memberikan balasan yang dahsyat kepada pasukan Spartacus. Saat itulah, mendadak dari belakang muncul Kore yang segera menusuk Tiberius dan menemui ajalnya.

Setelah kematian Tiberius ini, jasadnya dibawa ke perkemahan ayahnya, Crassus. Kore pun ketika itu turut serta. Dua kekasih majikan dan budak ini pun bertemu kembali. Kore bisa tetap melenggang karena kematian Tiberius diakui sebagai ulah para pemberontak.

Tentu saja kemarahan Crassus tak terbendung. Digalangnya kekuatan dan disusun rencana untuk menghantam Spartacus. Pertempuran besar dan penghabisan pun terjadi. Di sini Spartacus terluka setelah gagah berani sendirian mendekati Crassus, bahkan hampir membunuhnya. Dia kalah karena begitu banyak tentara yang melindungi Crassus.

Pertempuran itu memang dimenangkan oleh Crassus. Sebagian budak yang tua dan wanita telah diminta oleh Spartacus untuk pergi lebih dahulu. Namun, banyak juga yang tertangkap. Nasib mereka ini sungguh kasihan karena kini harus disalib di sepanjang jalan menuju ke Kota Roma sebagai pengingat para budak lainnya.

Akhir Hidup Kore

Di antara yang disalib itu, ada Kore. Ia menerima hukuman dari Crassus bukan sebagai pembunuh Tiberius, tapi karena dianggap berkhianat. Bergabungnya Kore dengan Spartacus adalah tanda dari pengkhinatan yang dilakukan.

Hidup Kore diabdikan untuk majikannya yang sekaligus cintanya. Namun, dendam putra majikan telah membawanya terseret dalam pusaran dendam yang lain. Kore bimbang, apakah harus tetap berada di sisi majikannya atau bergabung dengan musuh yang berarti terbebas dari putra sang majikan.

Sumber:

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3

Review: Spartacus-Melitta

Melitta
Melitta

Melitta adalah budak di House of Batiatus. Dia adalah orang kepercayaan Lucretia, sebelum Naevia. Kedudukan Melitta ini unik karena dia sangat terpercaya, sehingga ia dihormati oleh sesama budak, juga berpengaruh bagi tuannya: Lucretia dan Batiatus.

Selain seorang budak, Melitta juga istri dari Oenamaus. Doctore di Ludus Batiatus. Doctore beperan sebagai koordinator para gladiator. Dia juga melatih, mengontrol, memberikan penjelasan, saran, dan hal-hal lain yang diperlukan oleh para gladiator di Ludus.

Dengan demikian, baik Melitta, maupun Doctore adalah dua orang yang sangat dihormati oleh para budak dan gladiator. Dua orang ini punya sahabat, seorang gladiator bernama Gannicus. Nanti, akan terjadi kisah cinta di antara tiga orang ini.

Oenamaus dan Melitta

Semua berawal dari ambisi Batiatus untuk mendapatkan tempat di Primus–waktu khusus dalam rangkaian pertandingan gladiator di arena. Guna meraih cita-citanya ini, maka dia mengundang Senator Varrus ke villa-nya.

Di villa, Varrus ingin melihat sosok juara dari House of Batiatus, yaitu Gannicus. Diundanglah kemudian Gannicus ke villa. Tak dinyana, ternyata Varrus bukan ingin melihat sosok Gannicus, namun dia memiliki hobi yang aneh, terangsang hebat saat menyaksikan orang bercinta. Tak heran, dia kemudian menginginkan untuk melihat Gannicus bercinta.

Batiatus pun tak punya pilihan lain, demikian juga Lucretia selain menuruti keinginan Varrus. Nah, kebetulan di situ ada Melitta juga Gannicus. Tanpa pikir panjang, Varrus pun memasangkan kedua sahabat ini. Batiatus dan juga Lucretia pun terkesima pada awalnya, namun kemudian mereka berdua memerintahkan Melitta dan Gannicus untuk bersetubuh.

Mau tidak mau, suka tidak suka, perintah harus dijalankan oleh dua budak yang tak mungkin menolak ini. Gannicus pun menindih Melitta dan Varrus kegirangan melihat adegan itu semua.

Peristiwa itu adalah sebuah rahasia di House of Batiatus. Selain Batiatus, Lucretia, Gannicus, dan Melitta tak ada orang lain yang boleh tahu. Rahasia yang terlarang itu paling disimpan dari pengetahuan Oenamaus. Doctore di Ludus, tangan kanan Batiatus, mantan juara, dan paling penting sahabat Gannicus serta suami dari Melitta.

Anehnya, sentuhan dan hubungan badan di antara Gannicus serta Melitta justru menimbulkan geletar asmara di dada Gannicus berhari-hari sesudahnya. Kendati dia sadar itu adalah sebuah kekeliruan besar, bagaimanapun Melitta adalah istri dari Doctore. Namun, Gannicus tak bisa mengesampingkan perasaan itu.

Di sisi Melitta, bagaimanapun keras ia berusaha menolak kenangan bersama Gannicus yang hanya sekejap. Namun, seperti terpatri tak hendak pergi. Sentuhan Gannicus selalu dikenangnya. Sentuhan yang diam-diam dirahasiakan dari Oenamaus.

Oenamaus, Sang Doctore adalah pihak yang paling kasihan. Dia tak tahu apa-apa. Baik Gannicus maupun Melitta sama-sama pintar menjaga rahasia.

Perlahan-lahan, ketiganya tetap menjalani hari-hari seperti biasa. Kendati gelora di dada Gannicus berkecamuk hampir-hampir tak bisa ditahan. Melitta ternyata lebih dewasa, dia lebih bisa menahan meskipun menderita.

Biarpun begitu, namun keadaan itu menyiksa bagi mereka bertiga. Baik Oenamaus, Gannicus, maupun Melitta.

Satu waktu, ketika semua hampir tak tertanggungkan lagi. Gannicus menjadi juara di Arena entah kali ke berapa. Satu persaingan antara Batiatus dan musuhnya, Solonius telah memberi anugerah tak terkira bagi Gannicus. Dia memperoleh kemerdekaannya. Satu hal yang begitu dinanti-nantikan oleh setiap budak.

Namun, bagi Gannicus pribadi, ini adalah jalan keluar bagi masalahnya yang pelik dengan Oenamaus dan Melitta. Dia tak mungkin bisa hidup bersama dengan Oenamaus dan Melitta di bawah satu atap. Dia tak ingin terus menderita.

Melitta kemudian dalam posisi yang aneh. Antara sedih namun bahagia. Tapi, ini jenis kesedihan yang lain. Sedih yang dewasa. Ia sedih karena harus kehilangan seorang sahabatnya, Gannicus.

Sebagai perpisahan, Melitta pun datang ke pondok Gannicus. Waktu itu, Oenamaus sedang pergi menunaikan tugas dari Batiatus. Ia ke pondokan dengan membawa seguci arak yang akan dibagi dengan Gannicus, pertanda persahabatan, sebagai tanda perpisahan.

Tak dinyana, rupanya ada racun dalam arak itu. Racun yang secara jahat sebenarnya disiapkan oleh Lucretia untuk membunuh mertuanya, Titus. Entah bagaimana, namun Melitta justru yang membawa arak itu setelah Titus meminumnya. Arak beracun itu dibawa ke pondokan Gannicus.

Efek racun dalam arak secara paralel kemudian terjadi. Di Villa Titus mulai muntah darah dan terbatuk-batuk. Dia meregang nyawa sambil melotot ke Lucretia yang telah meracuninya. Di pondokan, Melitta pun terbatuk-batuk dan keluar darah dari mulutnya. Dia meregang nyawa dalam dekapan Gannicus yang kebingungan tak tahu ujung pangkal persoalan.

Gannicus kemudian membopong Melitta ke dalam Villa. Dia bertemu dengan Lucretia yang tak menyangka akan terjadi dua kematian dalam satu malam.

Rencana segera disusun agar rahasia tetap terjaga. Arak yang menjadi penyebab kematian pun diakui sebagai pemberian Solonius, musuh dari Batiatus. Kematian Titus dan Melitta adalah akibat dari arak beracun itu. Serta-merta, Batiatus dan Oenamaus pun mendendam pada Solonius yang tak tahu persoalan. Lucretia dan Gannicus di lain sisi tetap aman dalam rahasianya.

Kelak, ketika pemberontakan Spartacus melawan Roma terjadi rahasia itu akan terbongkar. Oenamaus marah luar biasa. Sahabat yang sudah dianggap seperti saudaranya ternyata menikam dari belakang. Hubungan antara Oenamaus dan Gannicus pun merenggang pada taraf yang mengkhawatirkan.

Hubungan itu baru membaik ketika keduanya bahu membahu dalam perjuangan Spartacus melawan Roma. Hubungan itu normal kembali setelah Gannicus berkata, “Melitta tak pernah menjadi milikku. Hatinya tetap untukmu, Oenamaus.”

Melitta hidup dalam kehormatan di antara budak dan majikan. Dia istri yang baik, sampai sebuah rahasia menjadikannya berubah. Ia hidup di balik bayang-bayang rahasia sampai ajal menjemputnya.

Sumber:

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3

Review: Spartacus-Ilithya

Ilithya
Ilithya

Putri dari Senator Albinius sekaligus istri dari Glaber. Ilithya adalah sosok bangsawan yang jahat. Dia memiliki kebiasaan bertindak sewenang-wenang terhadap para budak.

Hubungan Ilithya dengan Lucretia sungguh aneh. Keduanya saling mendukung dalam berbagai konspirasi jahat. Seperti teman, tapi saling mengincar untuk menikam punggung satu dengan yang lain.

Ilithya memerlukan Lucretia, begitu juga sebaliknya. Ilithya tak punya teman di Capua, suaminya, Legatus Glaber sibuk dengan urusan membasmi pemberontakan Spartacus dan ambisi menjadi anggota senat. Di sisi lain, Lucretia menginginkan peningkatan posisi di masyarakat yang lebih baik. Ilithya adalah tiket untuk meraih posisi itu.

Ilithya kerap datang ke Ludus Batiatus. Bahkan, dia seringkali menginap di sana.

Ilithya-lah yang menemukan pesona Crixus yang perkasa. Namun, dia terlalu pengecut untuk mencicipi kejantanan Crixus. Lain lagi Lucretia, dia sekehendak hati menikmati Crixus, manakala suaminya, Batiatus tak berada di rumah.

Anehnya, sudah tahu Crixus itu kegemaran Lucretia, Ilithya justru akhirnya menginginkannya.

Bersama dengan istri para bangsawan seperti Licinia dan kawan-kawannya yang lain, Ilithya meminta Lucretia untuk mengatur sebuah pesta. Ibu-ibu bangsawan ini menginginkan para gladiator.

Seperti sudah disebutkan, Ilithya memilih Crixus. Hal yang dia paham benar akan membuat Lucretia cemburu berat. Kawannya, Licinia pun memilih Champion of Capua, Spartacus untuk dinikmati.

Lucretia kemudian mengatur sebuah pertemuan. Semua orang memakai topeng, baik para nyonya bangsawan juga para gladiator.

Ilithya sudah tergolek menantang ketika seorang gladiator datang. Keduanya pun terlibat dalam pergumulan yang seru. Saling kejar, mendaki, hingga tiba-tiba….

Lucretia datang bersama dengan Licinia. Tentu saja Ilithya kaget setengah mati. Dibukanya topeng pun dengan gladiator yang menindihnya. Terpampanglah di sana wajah Spartacus.

Memang, Lucretia telah bertindak jahat sekali. Dia tak mau Crixus ‘dicicipi’ oleh Ilithya, maka disodorkanlah Spartacus. Sosok yang begitu dibenci oleh Ilithya karena telah membuat suaminya Glaber seperti orang bodoh. Glaber tak bisa menghukum mati Spartacus justru menjadi juara.

Dari sisi Spartacus sendiri jelas sebuah kekeliruan. Dalam kondisi normal, tentu saja dia tak mau melayani istri dari musuh besarnya: Glaber. Istri dari seseorang yang telah merenggut, Sura, belahan jiwa Spartacus sendiri.

Spartacus pun punya alasan lain yang juga kuat untuk membeci Ilithya. Perempuan inilah yang telah memerintahkan Spartacus untuk membunuh saudara gladiatornya sendiri sekaligus teman terdekat yang bernama Varro.

Saking marahnya, kemudian Ilithya tak kuasa menahan diri. Di sisi lain, Licinia pun menggodanya dan mengancam akan menyebarkan peristiwa itu.

Tak kuasa menahan marah, Ilithya pun kalap. Didorongnya Licinia sampai terbentur di tembok dan menemui ajalnya.

Satu peristiwa yang kemudian sangat disesali oleh Ilithya. Bagaimanapun juga, Licinia adalah bangsawan tinggi. Dia keponakan Crassus, bahkan kedudukannya lebih tinggi dari Ilithya sendiri. Peristiwa ini tentu haruslah segera ditutup-tutupi.

Lucretia melihat peluang di sini. Dia suka rela menyembunyikan rahasia Ilithya asalkan suami Ilithya bersedia menjadi pelindung House of Batiatus. Sungguh suatu permainan strategi yang sangat cerdik dari Lucretia, tapi kebodohan yang dalam bagi Ilithya.

Peristiwa itu pun telah dilupakan atau lebih tepat ditutupi agar tak pernah terbuka. House of Batiatus dengan ancaman akan membuka rahasia kecil itu pun kemudian mendapat perlindungan dari Glaber dan pasukannya.

Waktu terus berjalan dan Ilithya pun hamil. Di tengah kehamilannya ini pun dia masih saja bertindak serong.

Dia melihat suaminya sudah tak punya potensi lagi. Selalu gagal dalam pengejarannya terhadap Spartacus. Di sisi lain, ada sosok bangsawan yang menggodanya, Varinius.

Varinius sendiri adalah seorang bangsawan yang punya kedudukan di senat Roma. Tentu posisinya lebih hebat daripada Glaber. Dengan begitu, Ilithya pun terpesona seketika.

Ditetapkan, ia akan segera memutus hubungan pernikahannya dengan Glaber. Ayahnya, Senator Albinius yang tak suka kepada Glaber pun mendukung keputusan Ilithya ini. Rencana sudah disusun matang. Sayang, menjelang hari-hari pelaksanaannya, ketika hubungan Ilithya dan Glaber kian renggang sesuatu yang mencengangkan pun terjadi.

Di Arena, serombongan pemberontak yang dipimpin oleh Spartacus mengadakan perlawanan untuk membebaskan Crixus yang akan dihukum. Seluruh Arena dibumihanguskan oleh kelompok Spartacus.

Saat itu, Glabber, Albinius, Varinius, juga Lucretia dan Ilithya berada di podium kehormatan. Biar pun begitu, tetap saja tak lepas dari amukan kelompok Spartacus.

Kepanikan terjadi dan kemudian entah bagaimana Albinius terhimpit satu beton besar. Pada saat itu sebenarnya Glabber datang dan menemukan kondisi memprihatinkan ayah mertuanya itu. Namun, dia teringat agenda ayah mertua dan istrinya yang jahat, maka dibiarkan saja mertuanya itu dijemput Sang Maut.

Kematian Albinius kemudian menjadi pukulan telak bagi rencana Ilithya. Dia tak bisa lagi mematahkan ikatan pernikahannya dengan Glabber. Dia pun bingung kini harus merapat ke mana.

Mau tak mau, suka tidak suka, Ilithya pun harus rela kembali ke pelukan Glaber. Pelukan yang dulu hangat, namun sekarang telah dingin.

Glaber sendiri kini sudah menemukan ‘mainan’ baru, yaitu Seppia, yang muda nan menggoda.

Agar tak timbul konflik di Vila, tempat di mana Glaber, Ilithya, Seppia tinggal bersama, maka ibu hamil Ilithya pun akan dikirim ke Roma.

Sayangnya, di tengah perjalanan rombongan Ilithya ini dikalahkan oleh Gannicus. Ilithya pun ditawan dan dibawa kepada Spartacus.

Spartacus membawa Ilithya ke sebuah ruangan. Pada sebuah tiang, ibu hamil ini kemudian diikat, diinterogasi. Saat akhirnya Spartacus akan membunuh Ilithya, muncullah pengakuan yang mengejutkan dari mulutnya.

Janin yang ada di rahim Ilithya rupanya adalah anak dari benih Spartacus. Kenyataan ini telah membuat Spartacus mengurungkan niatnya untuk membunuh Ilithya.

Kekasih Spartacus, Mira-lah yang justru getol ingin menghabisi Ilithya. Mira tak sabar melihat Spartacus lemah hati menghadapi wanita hamil itu. Selain alasan kehamilan dan janin Ilithya, sejatinya Spartacus punya alasan tersendiri: Spartacus tak ingin kejahatan yang dulu dilakukan oleh tentara Roma kini dilakukannya sendiri. Dia tak ingin melakukan kejahatan yang dulu dikutuk-bencinya.

Kemudian, alih-alih dibunuh, Ilithya justru dibebaskan. Ia pun segera pulang ke Villa Glaber. Tapi, apa yang dilihatnya di sana sungguh membuatnya jengah. Seperti tak terjadi apa-apa, Glaber justru sedang berasyik-masyuk dengan Seppia.

Di satu kesempatan yang terencana, akhirnya Seppia terbunuh di tangan Ilithya. Saat itu, Seppia sedang menghunus pedang untuk membokong Glaber. Seppia ingin membalas kematian abangnya, yang telah dibunuh oleh Glaber.

Tindakan Ilithya ini kemudian bisa diterima dengan baik oleh Glaber. Keduanya pun kembali bersatu. Mereka kini memiliki musuh bersama. Musuh dalam selimut, yaitu Lucretia.

Glaber memerintahkan Ilithya untuk menghabisi nyawa Lucretia. Namun, sebelum tindakannya itu berhasil dilakukan, air ketuban Ilithya pecah. Secepat mungkin dia perlu pertolongan karena akan segera melahirkan.

Ilithya dan Lucretia

Tebak siapa yang kemudian menolong? Ya… Lucretia-lah yang kemudian menolong. Namun, pertolongan itu ternyata mengandung maksud lain. Ia ingin merampas bayi Ilithya, bayi yang telah begitu lama dinantikan oleh Lucretia dan Batiatus.

Sosok tak berdosa itu kemudian dibawa oleh Lucretia ke tebing. Dikejar dengan terseok-seok dan merangkak-rangkak oleh Ilithya yang baru melahirkan. Lucretia seperti orang gila, dia terjun ke tebing dengan bayi Ilithya, menyusul Batiatus ke afterlife.

Hidup Ilithya adalah rangkaian kekecewaan demi kekecewaan. Dia membuat sengsara hidupnya  karena berteman dengan orang yang keliru. Tapi, kekecewaan yang sebenarnya lebih disebabkan karena hasrat dan keinginannya sendiri. Ilithya mati, saat mengejar bayi.

Sumber:

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3

Review: Spartacus-Mira

Spartacus_Mira

House of Batiatus akan kedatangan tamu agung, teman dari Lucretia yang bernama Licinia. Ia adalah keponakan dari Crassus, seorang jenderal perang di Roma. Kehadiran Licinia ini tentu saja disambut hangat. Ini berarti Ludus Batiatus akan semakin meningkat lagi posisinya dengan dukungan bangsawan-bangsawan terpandang Roma.

Licinia hadir, karena ia tertarik pada cerita yang santer beredar, bahwa House of Batiatus menawarkan berbagai kesenangan. Salah satu kesenangan tersebut adalah bisa bercinta dengan para jawara, para gladiator. Hmm….

Licinia pun segera memilih juara di antara para juara, dialah Spartacus.

Namun, keraguan diam-diam membuat khawatir Batiatus. Pasalnya, sudah lama Spartacus tak pernah bersama wanita. Batiatus pun kemudian memerintahkan istrinya, Lucretia untuk memberikan pemanasan pada Spartacus.

Mira, salah seorang budak di House of Batiatus yang jelita pun kemudian terpilih. Dikirim oleh Lucretia ke pondokan Spartacus dengan satu tugas: memuaskan sang gladiator.

Malam itu, Spartacus baru saja memenangkan sebuah pertarungan lagi di arena. Dia lelah dan masuk ke pondokannya. Serta-merta dia terkejut karena satu sosok tubuh telanjang telah tergolek di ranjangnya.

Spartacus_and_Mira

“Aku hadiah untukmu dari Domina.” Kata Mira, setelah Spartacus menanyakan siapa dirinya.

Alih-alih Spartacus tertarik pada Mira, dia justru tak menyentuh sedikit pun hadiahnya itu. Dilempar gaun Mira dan diberikan selimut untuk tidur di lantai, hahaha.

Mira kemudian selalu dikirimkan secara rutin oleh Domina ke pondokan Spartacus sebagai hadiah. Kendati keduanya tahu, Spartacus tak akan berpaling dari istrinya tercinta, Sura. Hati Spartacus seolah tertutup, bahkan oleh pesona yang ditawarkan oleh Mira.

Satu ketika, Spartacus terluka. Namun, di sampingnya tergolek musuh yang harus dibunuh. Musuh ini secara kebetulan adalah orang kepercayaan Batiatus. Di sana ada pula Mira yang merawat Spartacus dengan penuh kesabaran.

Diminta Mira untuk menjaga pintu dan memberi isyarat kalau ada seseorang yang datang. Bersamaan dengan itu, Spartacus membekap musuhnya sampai mati.

Bantuan dan rahasia yang disimpan oleh Mira ini kemudian sedikit demi sedikit memecah batu es, hati Spartacus. Dia mulai terbuka dan bersedia bercerita.

Mira kemudian terbukti sebagai pendukung Spartacus yang setia. Dia mengikuti ke mana pun Spartacus pergi dalam pemberontakan melawan Batiatus dan Roma. Lebih lagi, Mira kemudian berlatih memanah, sehingga kini ia pun menjadi prajurit yang gagah berani.

Spartacus_Mira_Arrow

Hubungan keduanya pun semakin dekat, tapi tak pernah lebih dari sekadar syahwat. Bagi Spartacus, Mira memberikan kenyamanan yang tak pernah lagi didapat. Bagi Mira, Spartacus adalah jantung hatinya, meski tak bisa juga didapat.

Satu ketika, Gannicus, sahabat Spartacus berhasil menawan Ilithya. Ia adalah istri dari Legatus Glaber, musuh bebuyutan Spartacus. Ilithya kemudian ditawan di pondok yang dikuasai oleh Spartacus.

Mira kemudian melihat ada keengganan di diri Spartacus untuk menghabisi nyawa Ilithya. Ini benar-benar membuatnya gusar. Atas inisiatifnya sendiri, kemudian ia pun berniat untuk membunuh Ilithya. Tindakan yang akhirnya dapat dicegah oleh Spartacus, namun menjadi awal renggangnya hubungan mereka berdua.

Mira kemudian hanya menjadi kawan seperjuangan bagi Spartacus. Tak pernah lagi keduanya berbagi ‘kenyamanan’. Lebih lagi, waktu itu Spartacus sedang sibuk menyiapkan kawan-kawannya para budak dan gladiator untuk melawan Glaber.

Satu strategi yang keliru telah memaksa rombongan pemberontak yang dipimpin oleh Spartacus hampir kalah. Beruntung, mereka memiliki jalur rahasia untuk melarikan diri. Di sisi lain, Gunung Vesuvius di kejauhan memberikan janji perlindungan.

Rombongan pemberontak ini pun kemudian naik ke gunung. Hanya tandus dan minim air yang kemudian mereka hadapi.

Putus asa kemudian mulai merongrong diam-diam dalam dada para pendukung Spartacus ini. Perpecahan tak dapat dihindari, antara kubu yang ngotot ingin melawan tentara Roma, yang berarti bunuh diri. Serta kubu lain, kubu Spartacus yang sedang mengatur dan merancang strategi perlawanan.

Satu kelompok yang tak sabar itu kemudian gagah berani sekaligus ceroboh turun gunung. Di bawah sana, pasukan Roma sudah siap menanti dengan segala kekuatannya. Tentu saja, sekelompok kecil ini sangat mudah dikalahkan.

Saat kondisi kelompok kecil yang membelot Spartacus itu hampir dikalahkan. Datanglah Spartacus, Gannicus, Crixus, dan kawan-kawannya membantu. Di dalam kelompok Spartacus ini, ada pula Mira.

Dia sebenarnya berdiri di belakang dengan bersenjatakan panah menyerang tentara Roma dari jarak yang jauh. Sayangnya, satu kapak yang diarahkan ke Spartacus berhasil dihindari dengan lincah, tapi justru kena dada Mira.

Dengan panik, seluruh pemberontak pun kembali naik ke atas gunung dengan Mira yang terluka digendong Spartacus.

Ah, rupanya luka yang diderita begitu parah. Nyawa Mira tak bisa diselamatkan. Dia meninggal dalam pelukan lengan kokoh Spartacus. Lengan yang memberinya kehangatan. Kepala Mira terkulai di dada Spartacus dekat dengan hati pria itu. Hati yang selamanya tak akan pernah dimiliki oleh Mira.

Mira hidup sebagai kawan Spartacus. Memberi sang juara kenyamanan. Mengharapkan hati sang gladiator. Namun, hanya kehampaan yang didapati.

Sumber

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3