Refleksi: Tentang Waktu

“Berapa lama lagi waktu yang kumiliki?”

“Hidup yang tak diperiksa, tak layak untuk dijalani”. Kata Socrates.

Memeriksa kehidupan ketika datang hari lahir adalah satu hal yang pantas untuk dilakukan.

Dari mana kita berasal, sudah sampai di mana kita melangkah, apa saja jejak yang kita tinggalkan, dan ke mana kita akan menuju? Continue reading “Refleksi: Tentang Waktu”

Refleksi: Kesedihan dan Kebencian

Kesedihan sering berubah menjadi kebencian

“Jangan pernah mengharapkan kesedihan terjadi pada mereka. Itu bukanlah dirimu. Jika mereka menyebabkan kesedihanmu, itu karena mereka memiliki kesedihannya sendiri. Doakanlah agar mereka bahagia. Itulah yang lebih dibutuhkan.” ~Najwa Zebian.

Demikian juga kiranya dengan kebencian….

Orang yang begitu membenci, mungkin sebenarnya punya persoalan yang tak terselesaikan.

Picture is taken from pixabay.

Refleksi: Kisah Lelaki yang Terpesona pada Boikot

menyublim
Menguar bersama angin di kala senja itu (Pixabay)

Sebelum menghirup napasnya yang penghabisan, lelaki itu menerawang…

Dikenangnya beberapa waktu yang lalu, ketika dirinya mulai senang memboikot.

Pertama kali dia melakukan boikot adalah pada ubi cilembu. Menurutnya, makanan jenis ini berasal dari daerah yang ditinggali oleh suku yang berbeda dengannya.

Setelah melakukannya, dengan penuh semangat dia membagikan pengalaman itu di Pesbook, sebuah aplikasi jejaring pertemanan yang sedang marak digunakan olehnya dan partai yang didukungnya.

Boikot kedua adalah pada Pesbook, tempat biasa dia dapatkan info dan berbagi pengalaman. Continue reading “Refleksi: Kisah Lelaki yang Terpesona pada Boikot”

Refleksi: Kecoak, Dehumanisasi, dan Melembutkan Kebencian

Mari Bekerja Sama
Manusia, Kecoak, dan Kerja Sama

Di media sosial makin marak kita baca berbagai sebutan kepada lawan politik menggunakan nama-nama hewan seperti cebong, onta, sapi, dan lainnya. Ini sejatinya adalah sebuah tindakan ‘dehumanisasi’ atau penghilangan harkat manusia.

Seharusnya kita bisa belajar dari peristiwa penghilangan etnis (genosida) di Rwanda yang berawal dari upaya dehumanisasi manusia. Di sana, kata yang digunakan adalah ‘inyenzi’ yang berarti kecoak.

Sebutan kecoak disematkan kepada Suku Tutsi dalam hate speech atau ujaran kebencian terstruktur oleh Suku Hutu. Sebutan ini disampaikan melalui media oleh anggota masyarakat, pemerintah, dan paramiliter.

Akibatnya, kebencian pun merebak di Rwanda, bahkan terjadi genosida terhadap suku Tutsi oleh suku Hutu.

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana caranya untuk mengelola dan kalau bisa mengurangi kebencian? Continue reading “Refleksi: Kecoak, Dehumanisasi, dan Melembutkan Kebencian”

Refleksi: Jagung dalam Bakwan Sayur

Selalu ada kejutan dalam setiap tikungan kehidupan (Pixabay)

Saya kurang menyukai bakwan jagung dan lebih memilih bakwan sayur.

Tempo hari, di warung nasi uduk langganan, saya memilih lauk bakwan sayur. Namun, ternyata ada jagung yang diselipkan di bakwan sayur tersebut.

Hal itu tentu saja membuyarkan harapan saya akan rasa bakwan sayur yang original. Rasa yang didominasi asin, namun karena ada jagung di sana, maka mendadak ada pula manis yang ikut dikecap.

Dalam hidup, itu pula yang kerap terjadi. Harapan tidak selalu sesuai dengan kenyataan, seperti jagung yang terselip ke dalam bakwan sayur. Ada manis yang mendadak terasa dalam hal yang seharusnya asin.

Hal ini, sesuai dengan petuah bijak dari Ndoro Kakung, selalu ada kejutan dalam setiap tikungan kehidupan.

Kekuasaan yang dinikmati, bisa mendadak berubah menjadi jeruji besi. Keharmonisan rumah tangga yang dirawat, bisa tiba-tiba berubah menjadi hubungan yang gawat. Kawan seiring sejalan, bisa secara mengejutkan menjadi lawan yang menikam karena berbeda kepentingan.

Seperti berkendara, pelan-pelan dan hati-hati ketika menikung, sebab kita tak selalu tahu apa yang akan ditemui dan menghadang di depan. Apa yang terjadi pada orang lain, tak menutup kemungkinan bisa pula menimpa diri kita.

Waspadalah!

#reflection #lessonslearned #lifelessons

Refleksi: Kisah Lelaki yang Membenci Hutang

Lelaki itu membenci pemerintahnya yang berhutang.

Kemudian dia melihat rumahnya, mobilnya, motornya, jam tangannya, laptopnya, baju dan celananya, juga celana dalamnya. Semua itu dibeli ternyata dengan cara berhutang.

Selanjutnya, dia pun membenci dirinya sendiri….

Kebencian yang bertumpuk itu kemudian memengaruhi kesehatannya. Komplikasi penyakit mulai menggerogoti tubuhnya, mulai dari hati, ginjal, dan lambungnya sakit.

Dia menolak dirawat di rumah sakit karena tak punya uang dan harus berhutang, hal yang sangat dibencinya.

Akhirnya, dia memilih bunuh diri.

Tamat.

Refleksi: Ied-al Adha Means Sacrifice, Gratitude, and Share

I was just wondering what is the meaning of Ied-al Adha?

Previously, I thought it was just a sacrifice of the goat, cow, and camel for the God to follow the example of Prophet Ibrahim when he got an order from the God to sacrifice his son Ismail.

It turns out then that Ied-al Adha is more than mere sacrifice. It also a means to gratitude for all of the fortunes that humans obtain from their God. After enjoying many fortunes, Moslem should be gratitude by sharing and sacrificing their incomes with those who live in unfavourable circumstance.

Moslems believe that some part of their sustenances is supposed to belong to others. By sacrificing animals, one deducted the income to buy these animals. At the same time, this action helps cattleman to make a profit. Meanwhile, the meats from the animals are shared not only among Moslem but also with other religious believers. Thus, the action makes all parties better off and obtain benefits.

In short, the benefits of Ied-al Adha are two folds. First, it is the instrument to show the obedience and gratitude of Moslem towards their God. Secondly, it also a tool to share with others.

Refleksi: Tidak Ada Manusia yang Hidupnya Sempurna

3594887377_53e0e79f47

Anda melihat status teman di FB atau Twitter, kemudian merasa hidup Anda tak berharga…..

Teman-teman Anda seolah-oleh memiliki kehidupan yang menarik dan tanpa cela. Makan berbagai menu yang menggiurkan, pergi ke berbagai tempat wisata yang hanya bisa Anda impikan.

Sebenarnya, teman-teman….

Mereka seperti kurator yang memilih cerita terbaik dari hidupnya untuk dibagikan di Twitter, FB, atau Instagram….

Tidak ada yang hidupnya benar-benar sempurna. Saya tidak, Anda pun tidak. Setiap orang memiliki waktunya masing-masing untuk jaya dan terpuruk. Mereka mengalami kegagalan, kesalahan, kesedihan, tapi juga kebahagiaan dan keindahan. Hal-hal yang buruk, menyebalkan, yang tak perlu diceritakan, tapi juga berbagai hal yang baik, berharga, dan membanggakan yang dengan senang hati akan dibagikan.

Bersyukurlah dengan hidup Anda tanpa perlu membandingkannya dengan hidup orang lain. Memang berat, tapi perlu….
Sebab perbandingannya bukan apel dengan apel karena Anda tidak pernah melihat keseluruhan cerita.

Credit picture from here: https://farm4.staticflickr.com/3001/3594887377_53e0e79f47.jpg