Kepemimpinan: Memulai Sebuah Gerakan

Seorang pemimpin hendaknya bisa mengawali sebuah gerakan
Sanggupkah Anda mengawali sebuah gerakan? (Pixabay)

Tahun depan adalah tahun politik. Banyak Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) akan dilakukan pada saat itu. Namun, sebagian orang juga melihat tahun 2018 sebagai masa persiapan untuk hajatan yang lebih besar di tahun 2019, yaitu pemilihan presiden dan anggota legislatif.

Saat ini, individu, organisasi, dan partai politik pun sudah mulai pasang strategi. Ada yang membentuk partai politik baru dan ikut mendaftar di KPU agar pada tahun 2019 bisa turut dalam kontestasi. Sebagian orang yang ingin terlibat pun sudah ambil ancang-ancang dengan cara bergabung ke partai politik. Sementara itu, sebagian yang sudah terpilih mendekatkan diri kembali dengan para pemilihnya dahulu di tahun 2014.

Di tengah hiruk pikuk politik tersebut, jika Anda adalah politikus atau pemimpin pemula, maka kemungkinan besar akan sulit bersaing dengan para senior yang telah lebih dahulu malang melintang di dunia perpolitikan.

Anda ingin terlibat, namun belum mengetahui apa saja yang harus dipersiapkan dan dilakukan. Tulisan ini akan mencoba untuk memberikan saran bagaimana mengawali sebuah gerakan.

Continue reading “Kepemimpinan: Memulai Sebuah Gerakan”

Kepemimpinan: Manajer dan Pemimpin

Pilih mana, pemimpin atau manajer?
Apakah Anda melakukan aksi seorang pemimpin atau manajer? (Pixabay)

Pada tulisan terdahulu, saya telah menuliskan metode untuk menjadi pemimpin yang besar. Pemimpin besar adalah mereka yang dipercaya oleh para pengikutnya. Lebih lanjut, para pengikut ini pun sangat setia untuk mengikuti berbagai perintah dan arahan dari seorang pemimpin besar. Anda dapat membaca tulisan tersebut di sini.

Setelah menerbitkan tulisan tersebut, saya kemudian berbagi di beberapa akun media sosial. Di Facebook, seorang kawan kemudian bertanya, jika seorang pemimpin tidak melakukan visi, misi, dan aksi, apakah dia lantas menjadi seorang politisi?

Guna menjawab pertanyaan tersebut, maka berikut ini uraiannya….

Continue reading “Kepemimpinan: Manajer dan Pemimpin”

Kiat: Menjadi Pemimpin Besar

Siapakah dia pemimpin yang besar?
Pemimpin yang besar memilih berdiri di depan (Pixabay)

Simon Sinek dalam bukunya ‘Start With Why’ menegaskan bahwa peran pemimpin sangat besar untuk memberikan inspirasi kepada para pengikutnya.

Seorang pemimpin memiliki alasan atau why dia memimpin. Why ini adalah alasan dan tujuan atau visi dari pemimpin tersebut.

Pemimpin yang besar adalah mereka yang mampu mengartikulasikan alasan dan tujuan itu dengan jelas kepada khalayak. Hasilnya, masyarakat umum sukarela untuk mengikuti pemimpin tersebut.

Sebagai contoh, kita bisa melihat karakter pemimpin besar tersebut pada Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Beliau melihat dan merasakan bagaimana tidak enaknya hidup dalam masa penjajahan dan ingin mengubah hal itu. Di sisi lain, rakyat Indonesia pun merasakan hal yang sama dan ingin pula mengubah keadaan yang menyengsarakan tersebut.

Namun, kenapa Soekarno yang menjadi pemimpin?

Continue reading “Kiat: Menjadi Pemimpin Besar”

Kepemimpinan: Tiga Hal Terpenting Bagi Pemimpin

Apakah tiga hal yang paling penting bagi seorang pemimpin?

Dalam tulisan berikut ini, Guy Kawasaki menjawab pertanyaan tersebut.

Menurut Kawasaki, tiga hal paling penting yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin adalah:

  • Empathy
  • Honesty
  • Humility

Empathy
Diartikan sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi atau memahami situasi yang harus dihadapi oleh orang lain, termasuk juga perasaan mereka. Empati adalah kemampuan khas yang dimiliki oleh seorang manusia.

Seorang pemimpin perlu mengetahui kebutuhan mereka yang dipimpin agar tercipta efektivitas.

Beliau juga harus dapat membedakan antara empati dan simpati. Empati dalam hal ini berarti bahwa seorang pemimpin dapat mengapresiasi, menghormati, dan memahami berbagai hal yang dialami oleh orang lain.

Sifat empati sangat penting dimiliki oleh seorang pemimpin karena saat Anda benar-benar paham kebutuhan orang lain, maka Anda dapat menyediakan dukungan yang mereka perlukan dalam mencapai kesuksesan. Pada akhirnya, hal ini akan meningkatkan produktivitas dan kerja sama.

Honesty
Pengertian dari honesty sangatlah sederhana, ini adalah kemampuan untuk berlaku jujur pada diri sendiri dan orang lain.

Saat ini, sangat sulit menyembunyikan sesuatu dari orang lain. Berbagai informasi dapat dengan mudah diakses dan tersaji dalam jaringan (online). Tak ada lagi rahasia, saat ini kita hidup dalam dunia yang transparan.

Berlaku jujur dan terbuka, terutama pada kondisi yang sulit adalah langkah yang penting untuk membangun kepercayaan, kredibilitas dan reputasi yang positif sebagai seorang pemimpin. Sebagai pemimpin, Anda membutuhkan kepercayaan mereka yang di belakang Anda. Bila kepercayaan itu tak didapat, maka semua hal yang Anda lakukan menjadi tak berarti.

Humility
Seorang pemimpin hendaknya memiliki atau menunjukkan kesadaran pada kelemahan atau kekuarangan orang lain, tidak sombong, tidak egois, dan terutama adalah sosok yang sederhana.

Humility atau sifat rendah hati sangat penting bagi seorang pemimpin karena orang-orang akan mengikuti pribadi yang mereka sukai. Seorang pemimpin yang narsistis akan dapat memperoleh pengikut, namun pemimpin yang tetap bersahaja dan membumi adalah mereka yang dicintai dan dielu-elukan.

Seorang pemimpin hendaknya berfokus pada umpan balik dan pemenuhan kebutuhan orang lain. Anda harus dapat menerima masukan dan kritik, Anda pun harus bisa mengakui bahwa Anda tak sempurna dan sangat mungkin membuat kekeliruan.

Tulisan ini adalah hasil terjemahan dari paparan di slideshare yang dapat Anda lihat pada tautan berikut ini:

Kepemimpinan: Kekuatan Kepercayaan

Thousands-expected-at-King-memorial-unveiling-BTA3U25-x-large

Pada musim panas tahun 1963, 200 ribu orang berkumpul di depan sebuah mall di Washington untuk mendengar pidato Dr. King. Saat itu tak ada undangan dan juga tak ada website untuk mengetahui kapan tanggal berkumpul. Jadi bagaimana mereka bisa melakukannya?

Dr. King tidak berkeliling Amerika untuk menyampaikan apa yang perlu dilakukan. Dia senantiasa bicara apa yang membuatnya percaya. “Saya percaya…. saya percaya….” dia terus berkata begitu kepada orang-orang. Kemudian para pioneer yang percaya kepada Dr. King menularkan kepercayaan tersebut kepada orang lain, yaitu mayoritas awal. Begitu seterusnya hingga akhirnya, dua ratus ribu orang berkumpul di hari dan waktu yang tepat.

Berapa orang di antara mereka yang alasan kehadirannya adalah untuk Dr. King?

Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah: tak ada!

Mereka hadir untuk diri sendiri. Mereka percaya apa yang tepat untuk Amerika, sehingga bukanlah menjadi persoalan jarak yang jauh atau menempuh bis selama delapan jam. Saat itu bukan lagi soal kulit hitam dan putih karena di antara mereka yang hadir seperempatnya adalah orang kulit putih.

Orang-orang datang bukan untuk Dr. King, namun mereka mempercayai hal yang sama dengan beliau. Mereka hadir terutama untuk dirinya sendiri. Bahkan, ketika saat itu Dr. King bicara mengenai mimpi-mimpinya dan belum mewujud menjadi rencana-rencananya.

Tipe Pemimpin

Ada dua tipe pemimpin di dunia ini, yakni seorang pemimpin dan mereka yang memimpin. Pemimpin memegang kekuasaan atau otoritas. Namun, mereka yang memimpin dapat menginspirasi kita. Entah itu seseorang atau organisasi, kita mengikuti mereka yang memimpin bukan karena kita harus, namun karena kita ingin melakukannya. Kita mengikuti mereka yang memimpin bukan untuk mereka, namun untuk diri kita sendiri.

Mereka yang memimpin adalah yang memulai dengan bertanya ‘kenapa?’ Mereka memiliki kemampuan untuk menginspirasi orang di sekitarnya atau mencari inspirasi dari sekitar.

Sumber gambar dari sini

Sumber tulisan dari sini:

Kepemimpinan: Law of Diffusion of Inovation

Hukum Diffusion of Inovation membagi populasi dunia ke dalam beberapa kategori seperti yang terlihat pada grafik berikut ini:

Diffusion_Inovation_Diagrams

Masing-masing dari kita berada di kelompok yang berbeda-beda tiap saat. Namun, Law of Diffusion of Inovation mengajarkan kepada kita jika Anda ingin pasar yang sukses atau menerima ide Anda, maka hal itu baru bisa tercapai bila Anda sudah bisa melewati titik antara pengadopsi awal dan mayoritas awal. Titik tersebut ada di antara 15 dan 18 persen (tipping point) untuk penetrasi pasar di awal waktu.

Mayoritas awal tak akan mencoba sesuatu sampai ada seseorang yang berani mencobanya. Orang tersebut adalah para penemu dan pengadopsi awal, mereka berani mengambil keputusan untuk mencoba. Mereka digerakkan oleh kepercayaan yang tinggi pada dunia dan bukan semata-mata pada produk yang tersedia. Mereka ini adalah yang bersedia antri selama enam jam hanya untuk menunggu iPhone saat pertama kali diluncurkan. Sementara orang lain, orang kebanyakan akan menunggu satu minggu lagi hingga barang yang sama tersedia di toko dan mereka tinggal mengambilnya dari rak.

Para pioneer melakukan hal itu untuk dirinya sendiri karena mereka percaya pada dunia dan ingin semua orang melihat mereka menjadi yang pertama.

Sumber tulisan dari sini:

Kepemimpinan: Kegagalan Samuel Pierpont Langley

Tahukah Anda, siapa itu Samuel Pierpont Langley?

Langley

Di awal abad ke 20, saat itu semua orang mencoba untuk terbang. Pak Langley, kala itu memiliki apa yang tampak seperti resep kesuksesan.

Saat itu, Langley menerima dana 50.000 dolar dari Departemen Pertahanan untuk menciptakan ‘mesin terbang’. Dia memiliki tempat kerja di Harvard dan juga bekerja di Smithsonian. Selain itu, dia juga terhubung dengan orang-orang terpintar di zaman itu. Dia merekrut orang terpintar yang dapat dibayarnya. Pada saat itu, kondisi pasar juga sangat bagus. Media seperti New York Times mengikuti kemana pun Langley pergi. Sementara itu, hampir semua orang ingin berhubungan dan terlibat dengan Langley.

Namun, kenapa kita tak pernah sekali pun mendengar mengenai Samuel Pierpont Langley?

Beberapa mil di Dayton, Ohio, dua bersaudara Wright, yakni Orvill dan Wilbur Wright memiliki apa yang tak pernah kita pikirkan tentang resep sebuah kesuksesan. Mereka tak memiliki uang, maka dengan uang hasil dari toko sepedanya, mereka membayar mimpi. Dalam tim yang dibentuk oleh Wright bersaudara, tak ada satupun yang mengenyam pendidikan di universitas, termasuk juga mereka berdua. Keduanya juga tak pernah diikuti oleh media, termasuk New York Times.

Perbedaan di antara Samuel dan Wright bersaudara adalah adanya alasan yang kuat, serta adanya tujuan dan kepercayaan pada Wright. Mereka percaya, kalau dapat menemukan ‘mesin terbang’ ini, maka akan menjadi awal bagi perubahan dunia.

Di sisi lain, Langley memiliki motif yang berbeda. Dia ingin kaya dan terkenal. Dia mengejar hasil berupa kekayaan dan kepopuleran.

Sementara itu, orang yang percaya dengan duo Wrights bekerja bersama dengan menyumbang darah, keringat, dan air mata. Akhirnya, pada 17 Des 1903, dua kakak beradik Wright terbang dan bahkan tak ada orang yang mengetahuinya. Kita baru mendengar capaian Wright tersebut setelah lewat beberapa hari.

Bukti lain bahwa motivasi Langley keliru adalah dia berhenti tepat pada hari Wright bersaudara terbang. Padahal sebenarnya dia bisa berkata, “Itu penemuan yang sangat hebat, kawan, dan aku akan meningkatkan teknologinya.” Sayangnya, dia tak melakukan itu. Dia tak menjadi yang pertama, tak juga berubah jadi kaya apalagi terkenal, maka dia berhenti.

“People don’t buy what you do; they buy why you do it.”

Jika apa yang dibicarakan adalah hal yang Anda percaya, maka mereka yang memiliki kepercayaan yang sama akan terpanggil.

Sumber gambar dari sini

Sumber tulisan dari sini:

Kepemimpinan: Simon Sinek, Kekuatan ‘Kenapa’

Kenapa Apple sangat maju dalam berinovasi?

Kenapa Martin Luther King begitu berkarisma saat memimpin warga kulit hitam?

Kenapa dua bersaudara Wrights menemukan cara untuk terbang?

Ada satu pola yang diterapkan para pemimpin besar dunia, mereka berkomunikasi dengan media yang sama, namun sekaligus juga sangat berbeda. Simon Sinek membuat kodifikasi bagaimana para pemimpin dunia tersebut berkomunikasi. Model atau kodifikasi itu disebut sebagai Lingkaran Emas (golden circle).

Golden_Circle

Di dunia ini, banyak orang tahu ‘apa’ yang mesti dilakukan (what), sebagian di antara mereka tahu ‘bagaimana’ (how) mereka melakukan hal tersebut. Namun, sangat sedikit orang atau organisasi yang mengetahui ‘kenapa’ (why) mereka melakukan hal itu.

Dengan mengetahui ‘kenapa’, tak selalu berujung pada keuntungan. Namun, lebih dari itu, kita bisa memahami hasil/produk dari yang kita lakukan. Selain itu, kita juga dapat mengerti tujuan, penyebab, dan kepercayaan.

Satu contoh kecil yang berkaitan dengan ‘kenapa’ adalah: tahukah kenapa organisasi Anda berdiri?

Bila Anda melihat di golden circle, secara umum, orang kebanyakan akan berpikir dari luar ke dalam, dari ‘apa’ kemudian ‘kenapa’, dari yang jawabannya paling jelas ke yang paling rumit. Di lain pihak, seorang pemimpin besar berpikir dari dalam keluar, dari ‘kenapa’ ke ‘apa’, dari yang paling rumit ke paling mudah.

Kata Sinek, “Orang tidak membeli produk (apa) yang Anda hasilkan, mereka membeli karena ingin tahu, kenapa Anda menghasilkan produk tersebut.” Tujuan akhirnya adalah tidak untuk berbisnis dengan orang yang mengetahui apa yang Anda miliki. Tujuannya adalah untuk membangun bisnis dengan orang yang percaya dengan apa yang Anda percayai.

‘People don’t buy what you do, they buy why you do it?’ The goal is not doing business with anybody who knew what you have, the goal is to do business with people who believe what you believe.

Golden circle tersebut selaras dengan suatu teori dan praktik dalam pelajaran biologi. Obyek kajiannya adalah otak manusia. Jika Anda membelah otak dan melihatnya dari atas ke bawah, otak kita terdiri dari tiga komponen. Pertama adalah bagian terluar, yaitu Neocortex. Ini adalah bagian otak yang berhubungan dengan level ‘apa’. Neocortex bertanggung jawab mengenai semua hal yang bersifat rasional, analytical, dan bahasa.

Dua komponen lain di bagian tengah disebut sebagai bagian Limbic. Ini adalah bagian otak yang berhubungan dengan ‘bagaimana’. Bagian ini bertanggung jawab mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan perasaan, seperti kepercayaan dan kesetiaan. Selain itu, bagian ini juga berhubungan dengan perilaku manusia dan proses pengambilan keputusan. Namun sayangnya, bagian otak ini tidak mengetahui mengenai bahasa.

Kekurangan bagian Limbic menyangkut bahasa menjadi suatu hambatan saat kita ingin berbicara dari luar ke dalam. Kita memang mengetahui apa topik pembicaraan, namun tak pernah menjadi kebiasaan (habit). Sebaliknya, bila kita bicara dari dalam keluar, maka kita langsung bersinggungan dengan bagian otak yang berperan dalam perilaku dan kemudian merasionalisasinya di bagian terluar. Akhirnya, dari sinilah keberanian untuk mengambil keputusan akan muncul.

Barangkali Anda sering berada dalam kondisi saat kita sudah menyodorkan berbagai fakta dan angka, namun kita merasa ada sesuatu yang salah. Perhatikan pada kalimat ‘Ada sesuatu yang salah’. Kenapa kalimat itu harus muncul? Jawabannya adalah, karena bagian otak yang mengambil keputusan tidak bisa mengontrol bahasa atau tidak bisa menerjemahkannya ke dalam kata-kata. Akhirnya kita biasanya akan berkata, “Saya kurang tahu apa yang menyebabkannya, namun rasanya masih ada yang salah.”

Anda harus tahu kenapa sesuatu dilakukan, satu produk diciptakan, alasan di balik segala tindakan dan keputusan diambil. Jika Anda sampai tak tahu alasan di balik suatu tindakan, maka orang lain pun akan meresponnya dengan kebingungan. Pada kondisi tersebut, kecil kemungkinan bagi Anda untuk bisa mengajak orang lain untuk percaya, membeli, atau setia dengan Anda. Selanjutnya, sangat sulit mengajak orang lain menjadi bagian untuk turut serta dalam apa saja kegiatan yang sedang Anda lakukan.

Simon Sinek mengingatkan sekali lagi, bahwa tujuan Anda bukanlah untuk menjual kepada orang lain apa yang Anda miliki. Tujuannya adalah menjual kepada orang-orang yang tepat yang percaya kepada apa yang Anda percayai.

Tujuan itu lebih lanjut bukanlah hanya sekadar merekrut seseorang yang membutuhkan pekerjaan. Namun, mengajak mereka yang percaya dengan apa yang Anda percayai. Menurut Simon, jika Anda merekrut seseorang hanya karena dia bisa melakukan tugasnya, mereka akan bekerja hanya untuk uang Anda. Di sisi lain, bila Anda merekrut seseorang yang mempercayai apa yang Anda percaya, mereka akan bekerja untuk Anda sekuat tenaga, menyerahkan darah, keringat dan air matanya.

Secara lengkap, paparan Simon Sinek dapat disaksikan pada tautan berikut ini:

Kepemimpinan: Delapan Ajaran Asta Bratha

Setelah Rahwana Sang Raja Alengka meninggal dunia, maka tampuk kekuasaan berpindah kepada Wibisana.

Dalam wisudanya, dia menerima delapan ajaran kepemimpinan dari Sri Rama yang disebut Asta Bratha.

Bagi para pemimpin atau calon pemimpin, maka ajaran kepemimpinan Asta Bratha sangat bermanfaat.

Bisa jadi, Anda adalah orang yang tepat untuk menjadi seorang pemimpin.

Berikut ini Asta Bratha yang diajarkan Rama kepada Wibisana:

Bumi

Seorang pemimpin hendaknya meniru perilaku Bumi.

Dia bisa mewadahi apa saja, baik itu mereka yang melakukan kebaikan atau yang berbuat jahat.

Lebih hebatnya lagi, Bumi kemudian mengolah berbagai hal yang berada di dalam kekuasaannya menjadi sesuatu yang baru.

Sebuah kehidupan.

Air

Air sangat bermanfaat untuk kehidupan manusia. Pun demikian halnya dengan seorang pemimpin.

Selain itu, Air juga melambangkan kejujuran, kebersihan, dan kewibawaan.

Kegunaan lain dari air adalah sebagai obat pelepas dahaga. Dia juga perlambang ilmu pengetahuan dan juga pencapaian kesejahteraan.

Api

Selayaknya api, seorang pemimpin harus dapat memberikan semangat kepada orang-orang yang dipimpinnya.

Pada saat yang sama, dia juga melambangkan kekuatan dan ketegasan kepada mereka yang tidak mematuhinya.

Namun, di kala lain, dia membagikan kehangatan kepada mereka yang kedinginan.

Angin

Manfaat angin adalah memberikan kesejukan kepada mereka yang kepanasan.

Angin pun mampu menyusup di sela-sela yang kecil, dan mengisi celah-celah itu dengan buaiannya.

Begitu pun pemimpin, tidak pernah lupa memerhatikan siapa saja yang membutuhkan.

Namun, satu ketika angin dapat berubah menjadi prahara yang meluluh-lantakkan semua kehidupan manusia

Surya

Matahari memberikan energinya kepada bumi. Dengan energy itu, maka kehidupan pun terjadi.

Selain itu, peran matahari adalah menjadi penerang bagi semua makhluk di bumi. Cahayanya mengusir kegelapan dan memberikan manfaat kepada semua.

Sebagai tambahan, peran matahari yang lain adalah menyangkut kedisiplinan. Dia akan terbit di ufuk timur dan tenggelam di barat pada waktu-waktu tertentu dan tidak pernah ingkar dari ketentuan itu.

Bulan

Pemimpin hendaknya juga meniru bulan. Dia memberikan kedamaian dan kebahagiaan.

Bulan pun dicitrakan sebagai sosok yang penuh kasih sayang, tetapi ada kalanya menjadi seram dan mencekam.

Bintang

Pemimpin adalah serupa bintang. Dia memberikan harapan setinggi bintang kepada rakyatnya.

Namun, dia juga rendah hati dan tidak menonjolkan diri.

Mendung

Mendung seperti sebentuk payung yang berperan untuk melindungi segala golongan rakyatnya.

Mendung pun tidak membeda-bedakan, manakala hujan datang, semua kena tidak peduli kaya dan miskin.

Kesimpulan

Pemimpin adalah gabungan dari berbagai unsur yang ada di bumi dan bahkan di angkasa. Dia bisa berlaku lemah lembut dan penuh kasih sayang di satu waktu. Namun, bila memang diperlukan, dia pun mampu untuk bertindak tegas.

Disarikan dari artikel di halaman pertama koran Kompas, 28 Oktober 2012, ‘Ramayana Bukan Sekadar Monyet’.-

Sumber gambar



Kepemimpinan: Tenun Kebangsaan

Pada 11 September 2012 lalu, Pak Anies Baswedan membuat tulisan yang sangat menarik dalam Opini Kompas. Judulnya adalah ‘Ini soal Tenun Kebangsaan. Titik!’ sebuah tulisan sebagai pengingat kita bersama betapa Republik ini dibangun di atas kebhinekaan  dan tak perlu ada mayoritas atau pun minoritas. Negeri ini didirikan oleh para pemberani, dan semestinya tetap dirawat oleh para pemberani pula.

Saya khawatir jika hanya membacanya saja, maka saya akan mudah lupa. Oleh karena itu, saya akan coba merangkumnya untuk menolak lupa.

===== Continue reading “Kepemimpinan: Tenun Kebangsaan”