Kiat: Saat Anda Tak Suka dengan Pekerjaan

Banyak orang yang tak menyukai pekerjaannya sekarang. Barangkali Anda termasuk satu di antaranya.

Banyak alasan kenapa seseorang tak betah dengan profesinya. Salah satu contohnya adalah karena lingkungan pekerjaan yang tidak nyaman. Bos Anda adalah seseorang yang menyebalkan, teman Anda pun tak menyenangkan, Anda benci dengan toilet di kantor, dll.

Permasalahannya, Anda tak bisa dengan gampang untuk berpindah pekerjaan. Hal ini disebabkan karena keahlian Anda sudah pas dengan posisi Anda sekarang. Selain itu, tak banyak lowongan pekerjaan yang sesuai untuk Anda.

Anda pun kemudian harus menyesuaikan diri dan menerima keadaan. Betapa tidak menyenangkannya pekerjaan Anda, namun karena berbagai sebab Anda tetap harus menjalaninya. Konsekuensi dari hal tersebut adalah sebisa mungkin Anda melakukan adaptasi. Pada saat yang sama, Anda juga berlatih menerima berbagai kondisi yang tak sesuai dengan keinginan Anda. Adaptasi dan menerima, kita rasanya sudah terbiasa dan ahli untuk melakukannya, bukan?

Tak jarang Anda merasa iri melihat profesi orang lain dan betapa mereka menikmatinya. Menjadi pramugari sepertinya menarik, menjadi penulis rasanya sungguh membanggakan, tukang rokok kok tampaknya damai dan bisa bersantai. Diam-diam Anda memimpikan pekerjaan tersebut, sudah timbul keinginan dalam diri Anda untuk beralih profesi.

Saya memiliki pengalaman menarik manakala menyaksikan seorang pramugari beraksi.

Seperti juga Anda, saya pun membayangkan sungguh menyenangkan menjadi seorang pramugari yang bisa terbang ke mana pun, melihat tempat-tempat baru, bertemu banyak orang, selalu rapi, bersih dan wangi. Saya dengar gajinya pun menggiurkan nilainya. Siapa yang tak tertarik dengan segala hal tersebut?

Saya baru tahu betapa beratnya pekerjaan pramugari dalam penerbangan antara Padang-Jakarta beberapa waktu lalu.

Saat itu pesawat sudah mengangkasa dan tiba masanya bagi para pramugari untuk menyajikan makanan kepada para penumpang. Kebetulan saat itu memasuki daerah yang cuacanya buruk. Terang saja pesawat pun bergejolak menyesuaikan dengan kondisi sekitar.

Di dalam pesawat, saya yang duduk dan sudah memasang sabuk pengaman kencang-kencang pun merasa khawatir dan takut. Bila tak malu, ingin rasanya saya berteriak atau membaca doa keras-keras.

Nah, pada kondisi tersebut, pramugari yang mendorong trolley makanan itu tetap melakukan aksinya. Mereka berdiri dengan tak tenang, sesekali harus memegang kursi. Terlihat begitu repot saat ingin menuangkan minuman atau mengambil makanan. Di tengah semua itu, mereka harus tetap tersenyum saat melayani para penumpang yang ketakutan.

Saya kira sungguh tak mudah dan susah dilakukan saat Anda takut, ingin berteriak, dan barangkali gemetar, namun harus tetap tersenyum dengan manis.

Saat pekerjaan kita terasa berat, barangkali tiba saatnya untuk melihat pekerjaan orang lain. Bukan hanya menyaksikan berbagai hal yang menyenangkan, namun intip juga berbagai tantangan yang harus mereka hadapi.

Saya kira, tak ada pekerjaan yang mudah.

Kiat: Manfaat Bersepeda

Bersepeda secara masal dapat menghemat layanan biaya kesehatan 17 milyar poundsterling, mengurangi 500 kematian di jalan dan mengurangi polusi. Demikian hasil sebuah penelitian baru untuk ‘British Cycling’.

“Banyak orang tak ingin bersepeda serta ada juga yang tak bisa bersepeda, lalu apa gunanya ada jalur khusus sepeda?” Demikian sering ditanyakan oleh sebagian orang.

Jawaban pertanyaan tersebut tentu saja banyak dan berlimpah. Namun, sungguh mudah untuk menyanggah jawaban-jawaban itu. Syukurlah, seseorang bisa menjawab dengan mudah dan gampang diikuti. Dr. Rachel Aldred, seorang sosiologis dan ahli transportasi, terutama bersepeda dari Universitas Westminster adalah orang tersebut.

Dia diminta oleh ‘British Cycling’ lembaga sepeda di Inggris sana untuk mempelajari dengan teliti berbagai penelitian dari seluruh dunia dan merangkum apa saja keuntungan yang mungkin diperoleh bila Inggris menjadi negara dengan jumlah pesepeda yang banyak seperti halnya Belanda atau Denmark.

Dokumen setebal 24 halaman dengan dilengkapi oleh sebuah infografik diterbitkan bersamaan dengan debat di Parlemen Inggris tentang perkembangan implementasi dan rekomendasi laporan Britain Cycling tahun lalu.

Mari kita berandai-andai berdasarkan dokumen tersebut ketika di masa depan 20% perjalanan dilakukan dengan sepeda. Hidup akan jauh lebih mudah bagi pesepeda. Jika bersepeda di Inggris sama amannya dengan di Belanda, tulis Dr. Alfred, maka akan menyelamatkan hidup sekitar 80 pesepeda dalam setahun. Jumlah yang bunyak, namun sebenarnya itu baru awalnya saja.

Perubahan dari perjalanan menggunakan mobil ke sepeda meningkatkan keamanan untuk semua, bukan hanya pesepeda. Sebuah penelitian bahkan mengungkapkan, bahwa perubahan ke mode transportasi menggunakan sepeda dapat menyelamatkan 500 nyawa setahunnya.

Kemudian, dampak bersepeda pada sektor kesehatan masyarakat. Inggris seperti kebanyakan negara maju yang berpusat pada mobil, menghadapi epidemi penyakit yang berhubungan dengan kegemukan dan kemalasan bergerak serta dua tipe diabetes yang bisa menyebabkan negara bangkrut.

Berikut ini kesimpulan penelitian Dr. Alfred:

Jika jumlah warga Inggris dan Wales yang bersepeda dan berjalan sebanyak warga Copenhagen, Denmark, maka layanan biaya kesehatan bisa dihemat 17 milyar poundsterling dalam dua puluh tahun.

Masih ada keuntungan bagi kesehatan, yaitu dengan berkurangnya polusi. Alfred menyimpulkan:

Mengubah 10% perjalanan jarak pendek dari mobil ke sepeda, di Inggris dan Wales di luar London, dapat menyelamatkan lebih dari 100 kelahiran prematur per tahun.

Sedikit mobil berarti sedikitnya polusi suara. Sebuah penelitian di Canada yang dikutip dalam laporan tersebut mengatakan, orang yang hidup di area yang terdampak bunyi kendaraan menderita 22% risiko kematian akibat serangan jantung daripada mereka yang tinggal di daerah yang sepi.

Dr. Aldred tak lupa juga menyebutkan bahwa bersepeda secara masal dapat meningkatkan kesejahteraan. Ini adalah sektor di mana banyak pekerjaan harus dilakukan, namun sebuah penelitian mengemukakan, bahwa orang yang bekerja menggunakan sepeda memiliki tingkat stres yang lebih rendah daripada mereka yang menggunakan mobil. Lebih jauh lagi, penelitian lain mengatakan bahwa daerah perkotaan yang memiliki lebih sedikit kendaraan biasanya akan hubungan antar warga akan lebih dekat dan ramah.

Bersepeda juga memicu kemandirian pada anak-anak dan remaja. Sekitar setengah murid sekolah dasar di Belanda mengendarai sepeda dibandingkan hanya satu 1% di Inggris.

Sepeda juga membantu lansia dari isolasi dan menjaga kesehatan fisik dan mental beliau-beliau ini. Saat penulis bertemu dengan Dr. Adler baru-baru ini, dia menunjukkan bukti yang tidak dimasukkan ke dalam laporan, bahwa di Belanda, sekitar 20% orang yang berusia 80-84 tahun masih bersepeda secara rutin.

Bagaimana dampak dalam bidang ekonomi? Ada asumsi, bahwa tanpa mobil maka perekonomian akan wafat. Asumsi tersebut keliru, karena di New York, ketika diterapkan sistem jalur sepeda yang terpisah, dikhawatirkan perekonomian di sepanjang jalur sepeda tersebut akan terdampak. Namun, alih-alih berkurang, perekonomian justru meningkat 14%.

Berdasarkan penelitian tersebut, banyak sekali manfaat mengubah gaya hidup bermobil ke bersepeda. Di antara keuntungan tersebut adalah: sebuah negara atau kota yang penduduknya bersepeda lebih sehat, lebih bahagia dan bersosialisasi, tak ada isolasi, kurangnya polusi, lebih aman, dan lebih manusiawi pada mereka yang berusia lanjut atau anak-anak. Sekitar 1.500 pejalan kaki di bawah 16 tahun dan sekitar 300 pesepeda meninggal dunia atau terluka tiap tahun di Inggris. Sudah saatnya kita membangun berkilo-kilometer jalur sepeda yang terpisah dan aman.

Sumber tulisan diterjemahkan dan dirangkum dari sini

Kiat: Kesehatan Mental dengan Bermain

play_in_the_workplace

Hidup kita telah menjadi urusan yang sangat serius. Namun, penelitian terbaru menunjukkan, bahwa jalan keluar dari hidup yang terlampau serius adalah dengan lebih banyak bermain. Jadi, keluar dan bermainlah.

Barangkali di masa kecil Anda adalah orang yang senang bermain. Kemudian Anda bersekolah dan menemukan, bahwa pekerjaan rumah, tugas, serta ujian mulai menyita perhatian. Saat itu Anda masih mencoba untuk tetap bermain dengan misalnya mendengarkan atau bermain musik yang disukai, namun rupanya ini pun menjadi berubah menjadi satu hal yang serius. Waktu berjalan dan datanglah masa media sosial, kemudian Anda pun mulai asyik bermain dengan fasilitas baru ini, tapi lambat laun Anda pun menjadi terlampau serius dengannya.

Kendati begitu, Anda tak letih untuk terus mencoba mainan baru. Sebab, kita semua adalah petualang yang senang dan tertantang dengan hal baru. Anda terus mencoba dengan cara tersendiri, biarpun misalnya Twitter membuat Anda seperti seorang petualang yang mesti bersembunyi dari ganasnya piranha di suatu sungai. Namun, bukankah begitu menyenangkan saat menemukan syaraf-syaraf Anda menegang karena debar di dada saat Anda bermain-main itu?

Bermain dan membiasakan diri untuk terus melakukannya bukan hanya menyenangkan, namun kegiatan tersebut juga bahan dasar untuk menjaga agar mental tetap sehat.

Dalam Bahasa Inggris, ‘play’ atau bermain antonimnya adalah ‘work’ atau bekerja. Namun, kegiatan bermain itu sendiri sangatlah kompleks. Seorang Psikiatris, Dr. Stuart Brown menjelaskan, bahwa antonim bermain bukanlah bekerja, namun depresi! Dr. Brown sudah bertahun-tahun meneliti tentang sejarah bermain dari pasiennya, mereka adalah para pemuda pembunuh yang tidak memiliki sejarah bermain. Dr. Brown percaya, bahwa bermain apapun jenis permainan tersebut dari yang rumit sampai dengan sederhana sangatlah penting untuk perkembangan otak. “Tak ada yang bisa mencerahkan otak seperti bermain.” Kata Dr. Brown.

Kita tahu permainan secara alami berdasarkan insting sebagai seorang anak yang sedang tumbuh. Namun, studi menunjukkan bahwa orang dewasa pun perlu bermain dan menjadi pribadi yang suka bermain. Memprioritaskan bermain bagi orang dewasa terdengar sembrono, karena kita hidup di zaman yang penuh dengan masalah dan ketidakadilan. Akan tetapi, masalah memerlukan solusi yang kreatif. Apakah bermain dapat membantu kita menemukan solusi tersebut? Bagaimana bila bermain adalah salah satu jalan keluar dari berbagai masalah itu? Dr. Brown adalah salah satu peneliti yang menyarankan hal itu. Ahli lain seperti Einstein pun berkata, “Bermain adalah bentuk tertinggi dari penelitian.” Kemudian bila merunut ke belakang, Archimedes pun berseru “Eureka!” di kamar mandi, bukannya di laboratorium.

Kita meyakini, bahwa kita terlalu sibuk untuk melakukan suatu permainan. Budaya kita memberikan nilai lebih pada ‘kesibukan’, ini cara kita untuk mengukur kesuksesan. Pernah pada suatu masa ukuran kesuksesan adalah alasan religius, yang ‘berjasa’ dan ‘tidak berjasa’; kini politisi membagi produktivitas menjadi: ‘pencari kerja’, ‘pekerja miskin’, ‘pekerja untuk keluarga’. Kesibukan telah menggantikan alasan religius, namun hal baru tersebut tak juga menolong kita seperti hal lama.

Bermain bukan menunjukkan kemalasan, sebaliknya hal ini sangat berguna. Ini adalah bentuk rekreasi dengan penekanan dua suku kata terakhir: kreasi. Bermain sangat diperlukan oleh manusia dan baik untuk individu. Sebuah budaya yang mendorong kegiatan ini akan mendapatkan banyak manfaat. Denmark, sebagai negara paling bahagia di dunia adalah contohnya. Kemudahan dalam bekerja dan penitipan anak yang terjangkau berarti lebih banyak waktu luang. Ini juga menandakan adanya kesetaraan gender dan budaya ‘kerja untuk hidup’. Dengan dilakukannya hal ini, maka dapat memberikan harapan bahwa seseorang berhak memenuhi kepentingannya sendiri, termasuk bagi seorang ibu.

Di tempat kerja, sebuah percobaan dilakukan, pemberian tugas yang sesuai dengan struktur hari kerja dapat meningkatkan produktivitas dan keuntungan. Ekonom, peneliti, dan karyawan yang berpikiran maju mengetahui hal tersebut. Google dan Pixar sudah mempraktikan sistem kerja yang menyenangkan ini dan banyak orang ingin bergabung. Bos Virgin, Richard Branson juga mengumumkan waktu libur tak terbatas bagi pegawainya. Kerja pintar bukan kerja keras adalah cara baru dalam dunia kerja.

Kita semua membutuhkan bermain, terutama bagi mereka yang berpendapat kita terlampau sibuk. Lima menit sehari telah memberikan perbedaan. Bagaimana kalau kita mulai sekarang?

Sumber tulisan dari sini
Sumber gambar dari sini 

Kiat: Menulis Ala Sapardi

Writing_pen

Sapardi Djoko Damono selalu memikat banyak orang dengan karya-karyanya. Ia melahirkan puisi-puisi dengan bahasa sederhana tetapi magis. Satu tahun lalu, dalam Pesta Literasi Jakarta 2013, sastrawan ini membagikan langkah-langkahnya dalam menulis.

Dalam menulis, Sapardi menyarankan untuk jangan terlalu banyak berpikir. Jeda waktu terlalu panjang untuk berpikir sama saja dengan menunda menulis. Hal lain yang perlu dihindari adalah perasaan takut atau minder. Perasaan takut akan membawa kita pada hilangnya keinginan untuk menulis.

Sapardi tidak pernah menentukan akhir cerita ketika mulai menulis. Hal tersebut ditemukan ketika proses menulis berlangsung. Cerita akan mengalir dengan sendirinya. Sapardi menekankan, ketika menulis yang berkuasa adalah tulisan itu sendiri. Bukan si penulis.

Sastrawan ini juga tak selalu langsung menyelesaikan tulisannya dalam satu periode waktu tertentu. Ia memiliki banyak tulisan yang belum dilanjutkan, tetapi yakin suatu saat pasti menyelesaikannya. Jika bosan mendera, ia akan beralih ke tulisan yang lain kemudian masuk lagi ke tulisan sebelumnya sewaktu-waktu. Kemahiran menulis bukan semata-mata bakat, melainkan hasil latihan tekun dan terus menerus.

Galeria, Klasika, Kompas, 26 Mei 2014

Sumber gambar

Kiat: Upaya Mencapai Kesuksesan

Hari-hari ini, kita disuguhi aneka berita yang kurang sedap dipandang mata pun tak enak didengar telinga. Mendadak ada orang yang begitu ingin menjadi presiden, ada bupati yang ditangkap, seorang ustad menjadi tersangka, banyak anak yang dilecehkan oleh orang yang lebih tua.

Kenapa semua hal itu terjadi?

Mungkin banyak sekali alasannya, namun barangkali karena pamrih. Pamrih pada kekayaan, kekuasaan, , jabatan, hasrat seksual. Pamrih itu telah memerangkap manusia ke dalam pusaran keinginan yang barangkali bermuara pada penjara yang sebenarnya.

Di ujung sana, di belahan dunia yang lain, pada masa-masa yang lebih awal, nenek moyang telah mengajarkan sebuah kebijaksanaan yang tak lekang oleh waktu. Ujaran itu berbunyi ‘sepi ing pamrih, rame ing gawe’.

Arti mudah dari ungkapan itu adalah: bekerja sebaik-baiknyanya tanpa mengharapkan pamrih/imbalan.

Berikut ini penjabaran dari ‘Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe’

Sepi ing Pamrih

Pamrih adalah usaha yang dilakukan untuk memenuhi kepentingan-kepentingan pribadi. Akibatnya muncullah sifat egois, sombong, rakus, dan lainnya. Ujung dari sifat ini dalam konteks kehidupan bernegara, bahkan bisa mengancam persatuan bangsa. Strategi dari pemenuhan pamrih sebanyak-banyaknya adalah menghalalkan segala macam cara.

Pamrih ini meliputi harta, jabatan, kekuasaan, wanita, dan lainnya.

Sepi ing Pamrih berarti menghindari upaya-upaya yang mengutamakan kepentingan pribadi. Menghindari imbalan kecuali dari pahala dan berkat Tuhan.

Rame ing Gawe

Arti dari rame ing gawe adalah melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya. Bekerja dengan hati untuk mencapai hasil maksimal dan tidak sibuk mengurusi kekurangan atau kelemahan hasil kerja orang lain.

Memayu Hayuning Bawono

Dalam bahasa agama islam, maka ungkapan ini lebih dikenal dengan rahmatan lil alamin, memberi rahmat kepada seluruh alam. Pelaksanaan dari pesan ini adalah berbuat baik terhadap sesama, lingkungan, dan makhluk lain.

Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe dalam berbagai agama *)

Dalam Bhagavad Gita disampaikan: “Tindakan-tindakan persembahan, pengabdian dan pelayanan tanpa pamrih, tidak dilepaskan oleh para bijak, karena tindakan-tindakan demikian membantu pembersihan jiwa. Namun, tindakan-tindakan semacam itu pun harus dilakukan tanpa pamrih dan keterikatan pada hasilnya.” (Bhagavad Gita 18:5/6)

“Bagaikan daun bunga teratai yang berada di atas air dan tidak dapat dibasahi oleh air, begitu pula ia yang berkarya tanpa keterikatan dan menganggapnya sebagai persembahan, hidup tanpa noda dan tidak tercemar oleh dunia ini. Ia yang bijak melepaskan segala macam keterikatan dan bekerja dengan raga, pikiran, intelek serta panca inderanya, hanya untuk membersihkan dirinya.” (Bhagavad Gita 5:10/11)

Dalam Al Qur’an Surat Al-Araaf ayat 113, disampaikan……… “Tukang-tukang sihir itu datanglah menghadap Firaun, seraya sembahnya: Adakah kami akan menerima upah jika kami menang?”

Disebutkan dalam Alkitab Matius 10:8: “Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah (bersihkanlah) orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma”…………

Dalam Kitab Tao Teh Ching digambarkan sifat ketidakpamrihan atau ketidakterikatan seperti air…….. “Yang keras, yang kukuh, sangat terbatas gerakannya. Kekukuhannya, kekerasannya sendiri menjadi penghalang utama bagi gerak-geriknya. Namun yang cair, yang seperti air, dapat mengalir ke mana-mana”………..

======

Siapa itu para bijak, bunga teratai, tukang sihir, yang seperti air?

*) Sumber Tulisan Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe dalam berbagai agama: Blog Mas Triwidodo

Sumber gambar dari sini

Kiat: Tiga Langkah Beriklan yang Efektif

Capture_advertisement

Cobalah mengingat saat terakhir kali Anda membutuhkan sesuatu yang benar-bener diinginkan dan diperlukan. Sesuatu yang benar-benar membuat hidup Anda lebih mudah dan menyenangkan.

Apakah saat itu Anda didorong, dipaksa, atau diganggu? Saya menduga pasti tidak. Manfaat atau keuntungan yang didapat adalah sesuatu yang membuat pengalaman membeli menjadi begitu menyenangkan.

Bahkan, barangkali Anda tak sadar, bahwa saat itu ada proses beriklan. Seperti halnya ketika Anda bersekolah dan seorang murid teladan sibuk dengan urusannya sendiri. Anda tak akan sadar apa yang dilakukannya.

Kenapa Anda tak menyadari hal itu?

Jawabannya adalah, karena tak ada hal yang mencurigakan terjadi.

Hal tersebut persis sama dengan proses beriklan. Anda hanya akan sadar proses itu bila dilakukan dengan buruk dan menyangkut sebuah produk yang tidak Anda perlukan atau inginkan.

Coba perhatikan beberapa contoh kejadian berikut:

  • Satu ketika Anda sakit dan dokter keluarga memiliki kemampuan untuk memberikan satu pil yang segera menyembuhkan penyakit.
  • Satu ketika mobil Anda pecah ban dan tidak membawa ban cadangan pada tengah malam di bagian kota yang mengerikan. Mendadak sebuah ada sebuah mobil yang berhenti dan menolong.
  • Televisi Anda mendadak rusak padahal final Liga Champion akan ditayangkan sebentar lagi dan Anda menelepon teknisi untuk memperbaikinya di saat-saat terakhir.

Pada skenario-skenario tersebut di atas, apakah Anda akan marah bila orang-orang yang menolong tersebut minta imbalan yang pantas? Jawabannya tentu tidak, bukan?

Anda tak akan keberatan karena mereka membantu menyelesaikan persoalan. Mereka meluangkan waktu untuk memberikan layanan kepada Anda. Sebagai pembeli, manakala seseorang menyelesaikan masalah kita, biasanya dengan senang hati kita akan membayar atas jasa yang diberikan, bukan?

Sebagai manusia, dalam hidup Anda tentu pernah meminta atau mengajak seseorang untuk melakukan suatu hal. Jika Anda pernah meminta putra/putri Anda untuk duduk diam di kursi agar dokter bisa menusukkan jarumnya, membujuk mereka biarpun mereka histeris di hari pertama sekolah, atau meyakinkan mereka untuk tidur meskipun menangis karena masih ingin bermain. Anda melakukan hal itu terus menerus tanpa merasa bosan, sesungguhnya menunjukkan, bahwa Anda memiliki kemampuan mengajak/beriklan yang luar biasa.

Apakah Anda melakukan semua hal di atas kepada putra/putri sebagai suatu jebakan atau lelucon belaka? Tentu tidak, Anda melakukannya semata-mata karena peduli dan agar mereka belajar untuk membuat keputusan dengan bijak.

Klien atau pelanggan Anda pun begitu, terkadang mereka membutuhkan penyelesaian atas persoalan yang dihadapi, membutuhkan informasi mengenai keterampilan yang tak mereka miliki, perlu pertimbangan dalam pengambilan keputusan penting mereka. Semua orang itu memerlukan pertolongan. Namun, biarpun Anda adalah orang yang tepat untuk menolong mereka, tak akan berguna bila mereka tak percaya pada Anda.

Oleh karena itu, Anda perlu membujuk mereka. Namun, bagaimana kode etik untuk mengajak atau beriklan pada orang lain?

Pertama sekali, Anda harus mengajukan tiga pertanyaan dasar sebelum beriklan pada pembaca/pengikut dan menghindari sebuah iklan yang buruk.

Apakah Anda benar-benar mengetahui apa yang mereka inginkan, perlukan, dan harapkan?

Ajakan atau iklan Anda akan terasa buruk jika yang ditawarkan tidak relevan dengan situasi seseorang. Namun, di lain sisi sebuah ajakan yang sesuai dengan kebutuhan seseorang akan diterima dengan pikiran dan tangan terbuka.

Jadi, apakah Anda menawarkan sesuatu yang benar pada orang lain karena Anda tahu apa kebutuhan mereka seperti Anda mengetahui kebutuhan Anda sendiri?

Ataukah Anda menawarkan bantuan yang sesuai dengan kepentingan Anda sendiri tanpa mengetahui secara mendalam apa yang sebenarnya diperlukan dan diinginkan oleh pembaca Anda?

Apakah iklan atau bantuan Anda sudah berfokus pada manfaat daripada hanya tampilan semata?

Jika Anda memenuhi iklan dengan tampilan semata, maka orang akan merasa mereka sedang dijual juga. Sebuah tampilan menjawab pertanyaan “Apa ini/itu?”

Sebaliknya, manfaat menjawab pertanyaan “Apa yang akan terjadi denganku?”

Manfaat adalah suatu hal seperti, ini membantu Anda menulis lebih cepat, memberikan waktu lebih banyak untuk keluarga, atau membatu Anda lebih sehat.

Jika tawaran Anda dibingkai dalam manfaat yang diberikan, dan percaya bahwa Anda bisa menyampaikan manfaat tersebut, maka Anda telah beriklan dengan baik.

Apakah hal itu bagus untuk ibu Anda?

Barangkali terasa lucu, namun ini adalah pertanyaan paling penting dari semua hal. Jangan pernah berkata, melakukan, atau menjanjikan sesuatu yang tak ingin Anda katakan, lakukan, atau janjikan pada ibu Anda.

Jika Anda tak merasa malu, gugup, atau buruk saat menawarkan sesuatu pada ibu sendiri, maka Anda sungguh hebat. Silakan tidur nyenyak dan buatlah iklan dengan penuh percaya diri.

Sumber tulisan dari sini

Sumber gambar dari sini

Kiat: Menikmati Menunggu

sendiri menungguBerikut ini adalah kutipan dari buku ‘Canting’ karya Arswendo Atmowiloto. Kutipan tersebut khusus tentang arti menunggu bagi Bu Bei. Simaklah kutipan tersebut dengan baik.

Menunggu dalam sikap Bu Bei, bukanlah sesuatu yang berat dan mengimpit. Bukan sesuatu yang harus diisi dengan menggerutu seperti pada generasi Wahyu, putranya. Menunggu adalah bagian yang penting dalam sikapnya. Menunggu sama pentingnya dengan perubahan itu nantinya. Perut dalam kandungan menunggu untuk lahir. Manusia hidup menunggu untuk mati. Kehidupan justru terasakan dalam menunggu. Makin bisa menikmati cara menunggu, makin tenang dalam hati. (80)

Menunggu adalah pasrah. Menunggu adalah Continue reading “Kiat: Menikmati Menunggu”

Kiat: Mengenali Penyakit Asam Urat

tumit

Mula-mula tak begitu terasa. Saya kira penyebabnya karena terlalu lama berdiri menunggu atau berada di dalam Transjakarta. Nyeri di tumit itu tak begitu dihiraukan.

Tiap kali bangun tidur, sakit itu menghebat. Kesulitan melangkah dan hanya bisa berjingkat-jingkat menuju kamar mandi.

Saya cari informasi di internet, katanya itu plantar fasciitis dan heel spurs sebentuk rasa sakit yang sering timbul karena terlalu lama berdiri, berolah raga, aktivitas lain, atau terkait dengan obesitas dan diabetes. Beragam cara untuk meredakan sakitnya, mulai dari melakukan pemanasan sebelum turun dari ranjang untuk mengendurkan otot-otot di sekitar tumit yang menegang selama tidur. Kemudian memanfaatkan es batu dengan menyentuhkannya pada tumit untuk mengurangi radang. Saya sudah melakukan itu semua, namun rasa nyeri di tumit itu masih juga terasa.

Seiring waktu, saya kemudian bercerita pada istri tentang rasa sakit itu. Dia bilang, Continue reading “Kiat: Mengenali Penyakit Asam Urat”

Kiat: Tiga Hal yang Perlu Dilakukan Agar Terhindar dari Penyakit

Manakala saya pulang ke rumah dan bertemu keluarga tentu banyak hal yang diperbincangkan. Terkadang, pembicaraan melantur ke mana-mana, diselingi tawa, cibiran, dan sendau gurau. Menemani obrolan itu, teh hangat khas yang khusus dan hanya bisa ditemukan di rumah menemani. Tak ketinggalan cemilan seadanya turut menggoyang lidah. Seru sekali biasanya obrolan berlangsung.

Seperti kemarin saat saya pulang karena istri mau memotong kambing qurban di kampung. Seperti biasa, perbincangan pun tergelar. Dimulai dari update informasi, yaitu mengabsen tetangga di kampung yang meninggal akhir-akhir ini. Barangkali aneh, tapi buat saya itu penting. Dengan pengetahuan itu, nanti saat lebaran, saya tak akan salah bicara saat sowan ke tetangga. Misalnya, saya masuk ke rumah orang, terus ketemu sama nyonya rumah, bisa-bisa saya menanyakan di mana tuan rumah berada. Apabila si tuan sudah meninggal dunia, tentu suasana yang tercipta akan terasa aneh, bukan?

Berdasarkan informasi kemarin, saya jadi tahu, bahwa Pak A meninggal dunia di Arab saat baru 10 hari menginjakkan kaki di sana untuk menunaikan ibadah haji. Pembicaraan pun berkembang membahas cerita-cerita yang dialami oleh jamaah haji di tanah suci sana.

Topik ganti lagi, sekarang mengenai stres yang berujung pada sakit. Oh, iya, jadi rupanya sakit itu ada dua macam. Satu, sakit memang karena penyakit, misalnya ya batuk pilek karena mimik es pas siang-siang atau kehujanan. Kedua, sakit karena stres. Ini aneh, biasanya ditandai dengan mumet alias pening yang tak kunjung sembuh biarpun sudah minum aneka macam obat.

pusinggggggg!

Jenis penyakit yang kedua itu, kalau menurut analisis Bapak yang terkadang sok tahu, tapi mungkin juga ada benarnya, disebabkan karena pikiran si sakit itu sendiri. Nah, guna mengatasi penyakit semacam itu, beliau memberikan nasihat, bahwa dalam menjalani kehidupan ini, seseorang hendaknya bisa melakukan tiga hal berikut ini:

Wening ing cipta

Bahasa inggris untuk wening ing cipta adalah positive thinking alias berprasangka baik. Kata beliau, dengan berprasangka baik, maka pikiran akan jauh lebih tenang. Tak risau pada apa yang akan terjadi, tak curiga, tak berandai-andai. Selalu berharaplah yang terbaik akan terjadi dan biasanya memang itu yang terjadi.

Sumeleh ing rasa

Arti bebas dari sumeleh ing rasa itu kurang lebih ya bersyukur. Bersyukur dengan apa yang dimiliki saat ini. Bagaimana caranya? Kata Bapak cara termudah untuk bersyukur adalah beribadah dengan sebaik-baiknya, berbagi dengan orang lain yang membutuhkan, yah, semacam itulah.

Pener ing pakarti

Hal terakhir, yakni pener ing pakarti artinya bekerja yang baik. Pada poin ini, Bapak mencontohkan kasus Pak Akil. Bermain-main, tak sungguh-sungguh, menyerempet bahaya, melanggar peraturan, mestinya jangan sekali-kali dilakukan atau kau akan tahu akibatnya.

Demikianlah, barangkali ada di antara kawan-kawan yang sering pusing tak kunjung sembuh, cobalah melakukan tiga hal di atas. Semoga sakit kepalamu itu akan hilang dan bahagia hidupmu. Amin….

Baca juga Nasihat Bapak sebelumnya di sini

Gambar meminjam dari sini

Kiat: Berhidroponik dengan Botol Bekas

Perkenalan pertama saya dengan sistem bercocok tanam secara hidroponik adalah dengan nutrisi A dan B. Waktu itu, saya diminta oleh pabrik untuk menjaga stand pameran. Di pameran tersebut, di sebuah sudut, saya lihat ada sekumpulan tanaman yang cantik-cantik. Seketika itu juga, rasa penasaran saya muncul. Saya banyak bertanya dengan penjaga, berkonsultasi kenapa tanaman saya tak bagus dan seterusnya. Singkat cerita, saya pulang bukan dengan tangan kosong. Satu paket nutrisi A dan B sudah ada di dalam tas, siap untuk disiramkan di tanaman. Oh iya, selain nutrisi, saya juga membeli bibit bayam, pakchoy, dan kangkung, plus sebungkus kompos.

Dalam sesi konsultasi singkat itu, saya pun mendapat penjelasan, bahwasanya sistem hidroponik selain yang rumit ada pula yang dapat dilakukan secara sederhana. Sistem Wick namanya. Idenya sederhana, yaitu mengalirkan nutrisi ke akar tanaman. Bisa juga dengan merendam akar terus-menerus di dalam nutrisi. Bagaimana mengalirkan nutrisi ke akar? Caranya bisa dengan menggunakan sumbu kompor, jadi daya kapilaritas sumbu membantu akar untuk menyerap nutrisi.

Nah, sepulang dari pameran itu, saya tak bingung untuk membuat sistem wick. Saat itu, saya belum mengenal starter kit hidroponik. Dalam pikiran saya, barang-barang bekas yang ada di rumah harus bisa dimanfaatkan untuk menanam. Saya memutuskan untuk memanfaatkan botol bekas air minum sebagai tampungan nutrisi dan tempat tumbuh tanaman. Cadangan pel, yaitu pel yang tanpa gagang dan hanya berisi sumbu-sumbu itu pun menjadi salah satu bahan, haha. Selain itu, perlu disiapkan juga pisau, paku, tang, lilin, dan minum jaga-jaga kalau-kalau haus. 😀

Oke, kita mulai satu demi satu, ya….

Pertama, kita buat lubang di wadah plastik bekas air minum gelas. Lubang itu berfungsi untuk jalan sumbu yang akan mengalirkan nutrisi ke tanaman. Dalam wadah air minum gelas itu, nantinya akan ditaruh kompos, dan sekaligus sebagai tempat persemaian biji.

Cara melubangi gelas plastik itu sederhana sekali, panaskan paku menggunakan api lilin. Kira-kira sudah panas, segera tusuk pantat gelas dengan paku. Cukup satu buah lubang asal sumbu bisa masuk.

Memanaskan Paku
Pegang Paku dengan Tang, ini Panas!
Pantat Gelas
Pantat Gelas sudah Berlubang

Kedua, membuat lubang di tubuh botol air minum. Pada langkah ini, sebaiknya menggunakan pisau yang juga dipanasi agar mudah sewaktu membuat lubang. Apa kegunaan lubang ini? Di lubang inilah nantinya gelas plastik akan ditempatkan, sehingga ukuran lubang kira-kira bisa memuat gelas plastik.

Botol Minuman Sudah Berlubang
Lubang di Botol Minuman

Ketiga, gelas plastik sudah diisi kompos, di dalamnya ada sumbu yang menghubungkan wadah nutrisi ke tanaman dalam gelas. Selanjutnya tinggal menempatkannya di dinding. Kebetulan di teras rumah saya ada dindingnya berlubang, sehingga bisa pas sebagai tempat menanam.

Tampilan Akhir
Gelas berisi kompos, sumbu, sudah ‘duduk’ manis di botol. Tinggal masukkan nutrisi ke dalam botol.
Tanaman mulai tumbuh
Bayam sudah mulai tumbuh di dalam gelas 😀

Catatan:

  • Penggunaan tanah/kompos tidak dianjurkan untuk sistem pertanian hidroponik. Setelah sering disiram, tanah akan memadat dan tidak porus lagi. Akar sepertinya menjadi kesulitan bernapas.
  • Sebaiknya lubang di gelas minuman tak hanya satu, kegunaannya agar akar bisa leluasa bergerak dan bernapas, bahkan bisa mencapai langsung ke nutrisi tanpa bantuan sumbu. Kelemahan lain dari media tanam berupa tanah, tentu saja akan segera lari tanahnya kalau lubang gelas minuman terlampau banyak.