Bagaimana agar kita bahagia?

Happiness-is-not-the-absensce-of-problems

Apakah bahagia itu ketika Anda memakan menu kegemaran seperti es krim atau coklat?

Bagaimana kalau kita lipat gandakan jumlah es krim atau coklat itu? Katakan saja Anda mesti menghabiskan satu kotak es krim atau sepuluh batang coklat di waktu yang sama. Di sini, barangkali Anda tak lagi bahagia.

Saya banyak membaca, mendengar, dan melihat presentasi tentang kebahagiaan. Secara umum, para penulis dan pembicara itu memberikan kiat-kiat atau tips bagaimana agar kita bisa bahagia.

Saya mencoba mempraktikkan beberapa di antaranya. Hasilnya memang saya bahagia. Berarti betul apa yang disarankan oleh para penulis dan pembicara itu.

Bagaimana kalau saya tidak melakukan kiat yang ada di sana, apakah kemudian menjadi sedih? Rupanya tidak demikian, sebab kadang kita bahagia karena satu hal dan di lain waktu hal yang sama tersebut tidak terasa membahagiakan. Di sini berarti kebahagiaan itu naik turun dan bergantung pada banyak hal.

Satu pelajaran yang saya ambil dari mempraktikkan semua kiat tentang kebahagiaan itu adalah, kita merasa bahagia bila berhasil melakukannya.

Bila Anda barangkali tertarik agar bisa bahagia, maka syaratnya adalah dengan melakukan apa yang disarankan. Anda tidak bisa sekadar mengetahui bagaimana menjadi bahagia tetapi tidak melakukan apa yang disarankan. Antara mengetahui dan melakukan adalah dua hal yang sangat berbeda.

Singkatnya, praktik hidup bahagia memegang peranan penting agar Anda ‘benar-benar’ bahagia.

Adakah di antara banyak tips mengenai kebahagiaan yang sudah Anda praktikkan?

Image credit: http://www.lifehack.org/

Bagaimana kita kehilangan kemampuan mendengar?

Kita telah kehilangan kemampuan untuk mendengar, dari 60 persen pembicaraan, rupanya kita hanya bisa mendengarkan 25 persennya saja.

Mendengar adalah mengartikan satu hal dari suara-suara. Kita mengembangkan kemampuan mental ini dengan memecah berbagai suara yang didengar menjadi satu bunyi yang bermakna.

Kita dapat melakukan hal itu salah satunya dengan mengenali pola. Bayangkan Anda sedang berada dalam satu lingkungan yang bising; bisa di pinggir jalan, di dalam mall, atau di sebuah restauran. Tiba-tiba, nama Anda dipanggil dan Anda pun akan bisa mendengar panggilan itu kendati di tengah keriuhan.

Kita juga dapat mendengar hal-hal tertentu karena kemampuan kita untuk membedakan. Di pinggir pantai dengan debur ombak yang nyaring, kita tetap dapat mendengar bebunyian lain. Sebab, kita memiliki kemampuan untuk mengabaikan bunyi-bunyi yang mirip dan didengar berulang-ulang.

Selain kedua hal tersebut, saat kita mendengar, banyak sekali saringan yang terlibat di dalamnya. Beberapa hal sebagai penyaring adalah: budaya, bahasa, nilai-nilai, kepercayaan, sikap, harapan, dan minat. Kebanyakan manusia tidak menyadari saringan ini karena terjadi begitu saja dan saat itu juga.

Suara juga membuat kita sadar mengenai waktu dan tempat. Sekali waktu saat berada di sebuah ruangan, cobalah Anda pejamkan mata. Melalui suara-suara, kita bisa menyadari berapa luas ruangan itu, berapa banyak orang yang bersama kita dan lain-lain. Semua itu terjadi karena pantulan, dengung, atau bebunyian lain yang kita dengarkan dengan lebih seksama.

Selain tempat, suara membuat kita sadar mengenai waktu. Kita tidak dapat menghitung waktu tanpa bantuan gerakan jarum jam di dinding atau di arloji, maka suara seringkali menjadi pengingat berjalannya waktu.

Bagaimana kita kehilangan kemampuan mendengar? 

Pertama karena penemuan alat perekam. Entah itu perekam suara atau perekam gambar yang dilengkapi suara telah membuat hilangnya kemampuan kita untuk mendengar dengan penuh perhatian.

Kedua, dunia saat ini begitu berisik. Bukan hanya menyangkut suara, namun juga berbagai hal yang mengganggu pandangan kita. Pada kondisi yang demikian itu, mendengar menjadi begitu sulit dan melelahkan. Banyak orang kemudian melarikan diri pada earphone atau headphone, tapi kemudian dia tak mendengarkan apa-apa….

Kehilangan kemampuan mendengar juga membuat kita menjadi tidak sabar. Seni berbicara atau bercerita satu sama lain dengan bertukar kata dan mendengar telah digantikan oleh siaran pribadi. Kita mudah menemuinya di facebook, twitter, atau blog yang seakan-akan berteriak-teriak di ruang hampa….

Lebih dari itu, bila kita menengok ke berbagai pemberitaan di media yang berisi: sensasi, kejutan, pengungkapan, skandal, kemarahan, atau pemaparan aib seseorang, yang semua itu bertujuan untuk menarik perhatian kita, maka kita menjadi makin sukar untuk mendengarkan bunyi yang tersembunyi, bisikan, atau suara-suara di bawah permukaan.

Kehilangan kemampuan mendengar sangatlah berbahaya karena ‘mendengar’ adalah satu jalan bagi kita agar paham. Saat Anda mendengarkan dengan penuh kesadaran, maka di situlah pemahaman akan didapat. 

Di sisi lain, ketika kita mendengarkan tanpa kesadaran, maka yang terjadi adalah kesalahpahaman. Dunia yang kehilangan kemampuan mendengar adalah wilayah yang menakutkan karena di situlah lahan subur bagi konflik, protes, dan tindakan butral lainnya.

Menghadapi berbagai situasi di atas, apa yang dapat kita lakukan? Berikut ini lima langkah untuk kembali berlatih mendengar. 

Pertama, adalah diam…. Lakukan setidaknya tiga menit setiap hari karena ini sangat penting sebagai satu cara untuk me-reset telinga Anda sehingga bisa mendengar bunyi-bunyi yang begitu samar sekalipun.

Kedua adalah ‘mixer’. Saat Anda berada di tempat yang ramai, maka cobalah untuk memilah suara-suara yang ada. Mana suara sepeda motor, anak menangis, penjual bakso, gesekan langkah orang berjalan dan lainnya. Latihan ini sangat bagus untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas mendengar.

Ketiga adalah ‘savoring’, yaitu mendengarkan keindahan dari berbagai bunyi yang biasanya justru kita anggap mengganggu. Bisa bunyi mesin penggiling kopi, kulkas, atau mesin cuci.

Keempat, adalah posisi mendengar. Ini berhubungan dengan saringan dalam mendengar yang sudah dijelaskan di bagian awal. Bagaimana Anda mendengarkan dan kemudian bersikap pada bunyi-bunyi tertentu yang sesuai atau tidak sesuai dengan diri Anda.

Kelima adalah acronym RASA—Receive, Appreciate, Summarise, Ask. Receive adalah menerima informasi. Appreciate adalah memberikan penghargaan kepada lawan bicara, yakni bisa dengan bunyi, “oke”, “hmmm”, atau sekadar mengangguk-anggukkan kepala. Summarise adalah ketika kita mengulang berbagai poin penting dari lawan bicara, biasanya diawali dengan “Jadi…. “. Ask adalah mengajukan pertanyaan sekiranya ada hal-hal yang masih kurang jelas.

Seseorang perlu mendengar dengan penuh kesadaran agar terhubung dengan ruang dan waktu, dengan sekitar kita, dan kemudian agar saling memahami.

Ingat, Dalai Lama pernah berkata, “Saat berbicara, kita hanya mengulang-ulang apa yang sudah kita ketahui. Namun, saat mendengar, banyak hal baru yang bisa kita pelajari.”

Anda bisa mendengarkan perihal ‘mendengar’ ini dari ahlinya di video berikut ini:

Bagaimana Perbandingan Memengaruhi Kita?

red-sale-sign

Entah siapa yang menemukan peribahasa ‘rumpu tetangga selalu lebih hijau’, namun ujaran ini benar adanya.

Perbandingan selalu memberikan pengaruh untuk kita dari mulai hal yang kecil hingga yang besar. Perbandingan juga sangat memengaruhi bagaimana kita membuat keputusan yang buruk.

Contoh dari perbandingan itu banyak. Di pusat penjualan barang-barang elektronik misalnya, kita akan bingung memilih di antara dua speaker. Kebingungan ini disebabkan misalnya karena dua speaker tadi memiliki harga yang berbeda dan kualitas suara yang berbeda pula.

Perbandingan harga bagi Anda yang memiliki uang melimpah barangkali tidak menjadi persoalan besar, karena berapa pun harga speaker yang ada bisa didapatkan. Tetapi untuk yang anggarannya sedikit bisa jadi selisih sekian ribu bisa memengaruhi keputusan kita.

Kualitas suara juga menjadi pertimbangan manakala Anda memilih speaker. Padahal, kualitas suara itu baru kentara kalau dibandingkan di toko. Saat di rumah, speaker yang Anda pilih itulah yang akan didengar dan tidak ada pembandingnya lagi.

Dua hal di atas bila tidak hati-hati bisa jadi akan berujung pada kesalahan keputusan dan penyesalan di kemudian hari. Misalnya saja Anda mendapatkan speaker dengan harga murah dan kualitas suara tidak begitu buruk. Anda pun mulai sering menggunakannya di rumah dan cukup puas, tetapi lama kelamaan seperti semua barang bikinan manusia lainnya, Anda akan merasa bosan dan mulai melirik-lirik speaker yang lain di toko.

Kita memiliki kecenderungan untuk melakukan atau bertindak dengan kecepatan. Terkadang tanpa memikirkan beberapa akibat di belakangnya. Apa yang pertama hinggap di pikiran kita itulah yang kita lakukan.

Saya pribadi memiliki pengalaman itu manakala berbelanja di toko bahan-bahan keperluan sehari-hari. Jadi, toko itu memiliki sistem penataan barang dan pelabelan harga sedemikian rupa yang membuat kita terjebak.

Seperti lazimnya toko, barang-barang yang sejenis akan ditaruh berdekatan. Susu dengan rombongan susu, mi instan dengan sekelompok mi instan dan seterusnya.

Di tiap barang akan ditaruh label harga yang berbeda-beda. Nah, pada barang tertentu labelnya akan menggunakan warna yang berbeda, kita ambil contoh saja warna hijau. Ini sebagai penanda bahwa barang tersebut memiliki harga yang lebih murah daripada barang yang sama dari merk yang berbeda dengan warna label umum yaitu kuning.

Diam-diam di pikiran saya akan terbentuk suatu pola pemikiran: jika menemukan barang dengan label hijau, maka harganya pasti lebih murah. Menggunakan pemahaman tersebut, kita pun mulai melanjutkan berbelanja dan di setiap barang yang berbeda, akan kita pilih yang memiliki label hijau itu.

Setelah lama dan berkali-kali belanja di sana, satu ketika dalam waktu yang lebih longgar, kondisi santai dan sedikit lebih cermat rupa-rupanya pemahaman saya itu keliru. Pada beberapa barang memang label hijau itu lebih murah, namun tidak selalu begitu. Sebab, setelah melihat lebih cermat di barang yang sama dengan merk yang berbeda ada juga harga yang lebih murah tetapi dengan label seperti barang-barang lainnya, yaitu kuning.

Di sini jelas, bila kita ingin mendapatkan harga yang murah, maka seharusnya yang saya lihat adalah angka atau harga di label dan bukan warna label.

Contoh lainnya adalah saat kita membeli sepatu. Sepatu kita ambil contoh saja merk A harganya 150, sementara sepatu merk B harganya 200. Bila kita mencari barang yang murah, maka pilihan kita akan serta merta jatuh ke barang A.

Namun, saudara-saudara, toko memiliki strategi sendiri, yaitu menaruh sepatu C di samping sepatu B yang memiliki harga 500. Di sini kita pun mulai dibuat bingung, mana yang harus dipilih?

Saat sepatu C tidak ada, maka kita akan dengan mudah menentukan pilihan. Namun, ketika C hadir, rasa-rasanya barang B menjadi tidak begitu mahal, bukan?

Demikianlah kira-kira bagaimana perbandingan memengaruhi bagaimana keputusan kita. Seringkali, seperti contoh-contoh di atas, dia membuat kita bingung dengan berbagai pilihan yang ujung-ujungnya–dalam kasus di atas–mengubah tujuan kita, yaitu mendapatkan harga yang murah.

Selain perbandingan, metode lain untuk mengubah keputusan adalah dengan memberikan informasi waktu. Contoh paling gampang adalah diskon 50% hanya untuk hari ini; harga akan naik pada 1 Agustus. Benarkah diskon hanya hari ini saja? Betulkah setelah 1 Agustus harga akan naik? Adakah yang melalukan survei dan mengecek kedua contoh tersebut? Seringkah Anda melihat dan merasakan hal semacam itu di sekitar kita?

Selamat malam, Sobat, selamat berbelanja.

Sumber gambar dari sini

Bagaimana caranya agar orang lain paham?

96265234-680A-4D2E-8666-2326958E83F4

Dalam berkomunikasi, seringkali kita kesulitan memberikan pemahaman kepada orang lain. Misalnya saja saat kita membicarakan sebuah pohon A, orang lain menerima informasi tersebut   sebagai pohon B.

Terkadang, situasi tersebut benar-benar menyebalkan, bukan?

Guna memberikan pemahaman kepada orang lain, ada baiknya kita mengetahui bagaimana diri kita mengubah satu informasi mulai dari menerima informsi tersebut hingga menyampaikannya.

Pada awalnya adalah dunia di luar kita dan berbagai kejadian yang terjadi di sana. Menggunakan indera, terutama penglihatan dan digabung dengan berbagai indera lain kita menerima informasi awal dari luar tersebut.

Diam-diam, dari informasi itu kemudian otak atau diri kita melakukan penyaringan (filter). Akan disaring informasi tersebut menjadi diterima, dikelompok-kelompokkan atau dibuang. Semua ini dilakukan dengan berdasarkan pada nilai-nilai, pengalaman, kepercayaan, ingatan, dan berbagai hal lain yang sudah kita miliki sebelumnya.

Satu informasi yang lolos dari penyaringan ini akan diolah lagi menjadi pemahaman internal dan menjadi satu pernyataan. Perlahan-lahan, informasi tersebut akan terus mengendap dan menjadi satu sikap atau perilaku.

Dengan melihat proses tersebut di atas, maka sangat penting untuk menyampaikan satu hal sesuai dengan pemahaman lawan bicara kita. Agar apa yang kita sampaikan itu cocok dan sesuai dengan pemahaman yang sudah terlebih dahulu ada pada diri lawan bicara.

Memahami semua proses ini sangat penting apabila Anda adalah seorang pembicara, pengajar, penulis atau apa pun yang sering harus berada dalam situasi untuk berbagi ide dengan orang lain.

Bukan hanya itu, dengan memahami proses ini diharapkan Anda akan bersabar manakala menemui orang yang sangat sulit diberi pemahaman. Barangkali bukan informasi yang Anda sampaikan keliru, namun karena nilai-nilai yang ada dalam diri orang itu tidak sesuai dengan informasi baru tersebut dan kemudian ia akan mencoba untuk menyaring, bahkan menolaknya.

Pada akhirnya komunikasi rasa-rasanya adalah proses yang tidak mudah dan perlu kesabaran.

Selamat berkomunikasi dan jangan lupa untuk bersabar ya. Hehe

Sumber gambar dari sini

Bagaimana Pikiran (Seharusnya) Bekerja?

Parachute movement

Jawaban dari pertanyaan di atas adalah: mestinya pikiran bekerja seperti parasut.

Parasut itu dalam bekerja mesti terbuka. Jika dia gagal terbuka, maka penggunanya akan jatuh bebas ke bumi.

Pun demikian halnya dengan pikiran, harus bisa menangkap berbagai anasir baik yang cocok atau pun yang tidak sesuai.

Jalan terbaik yang bisa dilakukan agar pikiran terbuka adalah dengan tidak pilih-pilih. Artinya tidak memilih segala sesuatu hanya yang sesuai dengan pikiran kita. Misalnya berita-berita yang sesuai dengan kita, paham-paham yang sesuai dengan kita, gaya yang sesuai dengan kita, suku yang sesuai dengan kita, bahasa yang sama dengan kita dan lain-lain.

Cara termudah untuk membuka pikiran adalah dengan membaca, mendengar, melihat dan merasakan berbagai hal yang selama ini tidak pernah kita rasakan. Contoh paling gampang adalah dengan mulai membaca media yang selama ini tidak pernah kita baca. Semakin kontroversial dan semakin bertentangan dengan kita semakin bagus.

Dengan begitu, diharapkan Anda akan memiliki pemahaman yang utuh baik itu yang sesuai dengan pemahaman kita atau pun yang berseberangan. Dengan begitu, diharapkan Anda akan sedikit bersabar agar tidak reaktif, agar mencerna segala informasi, agar tidak buru-buru emosi,  agar pada ujungnya menjadi pribadi yang lebih arif.

Bila Anda khawatir dengan membaca, mendengar, melihat dan merasakan berbagai hal yang berbeda, maka sebaiknya Anda tidak terjun karena Anda barangkali belum tahu bagaimana menggunakan parasut sehingga sebaiknya jangan sekali-kali mengambil risiko.

Selamar beraktivitas semoga parasut Anda terbuka lebar dan terjun Anda menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan.

Salam

Sumber gambar dari sini

William Zinsser: Bagaimana Menulis yang Baik

williamzinsser

William Zinsser adalah seorang jurnalis dan penulis non fiksi. Dia memulai kariernya di New York Herald Tribune pada 1946. Selain penulis, dirinya juga dikenal sebagai seorang guru. Karyanya yang terkenal adalah On Writing Well, rujukan yang handal bagi tiga generasi penulis, wartawan, editor, guru dan juga para murid.

Berikut ini adalah beberapa kutipan dari On Writing Well yang barangkali dapat bermanfaat bagi Anda. Selamat membaca.

Rahasia menulis yang bagus adalah dengan mencopot setiap kalimat hingga tinggal komponen utamanya saja. Hal ini berarti menghilangkan setiap kata yang tak berarti, setiap frasa yang panjang menjadi pendek, kata keterangan yang tak perlu semuanya adalah beberapa hal yang justru melemahkan kalimat.

Menulis adalah kerja keras karena kalimat yang bagus tidak timbul dari satu kebetulan. Sangat sedikit kalimat yang pertama kali keluar langsung benar, bahkan bisa jadi hingga tiga kali pun masih dirasa kurang tepat. Jika Anda merasa bahwa menulis itu satu pekerjaan yang berat, memang begitulah kenyataannya.

Penulis akan menjadi sangat natural bila menggunakan sudut pandang orang pertama. Sebab menulis adalah proses yang sangat intim antara dua orang, dibantu media kertas–atau apa pun itu–dan akan sangat bagus bila tetap mempertahankan sisi kemanusiaan penulisnya.

Menulis merupakan proyek percontohan. Jika seseorang bertanya bagaimana saya belajar menulis, maka saya akan menjawab dengan cara membaca karya pria atau wanita yang telah menulis dengan gaya seperti yang ingin saya lakukan dan mencoba mencari tahu bagaimana mereka melakukan itu.

Harap juga diingat, manakala Anda memilih kata dan menggabungkannya, perhatikan bunyi yang timbul bila kalimat itu dibaca. Memang terdengar aneh, karena para pembaca menggunakan mata. Namun, pada saat yang sama mereka juga mendengar apa yang mereka baca.

Anda belajar menulis melalui menulis. Satu-satunya jalan saat belajar menulis adalah memaksa diri Anda untuk memproduksi serangkaian kata secara teratur dan konsisten.

Satu karya non fiksi yang sukses ditandai oleh pembaca yang terprovokasi pada satu pengetahuan atau pemikiran baru yang belum pernah dimiliki mereka sebelumnya. Ingat, bukan dua, tiga, hingga lima pemikiran, namun hanya satu. Jadi, tentukan satu saja pesan yang ingin Anda sampaikan ke benak pembaca.

Kalimat yang paling penting dalam satu artikel adalah kalimat pertama. Jika kalimat tersebut tidak membuat pembaca melanjutkan ke kalimat berikutnya, maka matilah Anda. Pun jika kalimat kedua tidak membuat pembaca melanjutkan ke kalimat ketiga, hal yang sama pun akan terjadi pada Anda.

Manakala Anda siap untuk berhenti, maka berhentilah menulis. Saat Anda sudah menyampaikan seluruh fakta dan juga selesai dengan poin-poin yang ingin disampaikan, segeralah cari jalan keluar untuk mengakhiri tulisan tersebut.

Banyak penulis yang lelah dengan pemikiran adanya kompetisi dengan orang lain yang juga mencoba menulis bahkan mungkin lebih baik. Lupakan kompetisi tersebut dan teruslah melangkah, Anda hanya berlomba dengan diri sendiri.

Menulis ulang adalah esensi dari menulis yang baik. Inilah titik penting di mana satu pertandingan dapat dimenangkan atau dikalahkan. Ide tersebut memang susah diterima sebab kita selalu merasa sayang dengan draft pertama, kita sulit menerima karya tersebut tak sempurna. Padahal sejatinya memang karya tersebut tak 100% sempurna.

Tak ada satu topik tulisan yang tak boleh Anda tuliskan. Para murid acap kali menghindari topik yang berkaitan dengan hati karena mereka berprasangka bahwa para guru akan menganggap itu sebagai topik yang bodoh. Sesungguhnya tak ada wilayah dalam hidup yang bodoh bila seseorang menganggapnya serius. Jika Anda mengikuti perasaan Anda, maka akan menjadi tulisan yang bagus dan menarik minat para pembaca.

Undanglah orang untuk bicara, belajarlah membuat pertanyaan yang akan mengungkap sisi apa yang paling menarik atau paling jelas dalam hidup mereka. Tak ada yang begitu nyata dibandingkan saat seseorang menceritakan apa yang mereka pikirkan atau lakukan dengan bahasa mereka sendiri. Kata atau kalimat mereka akan selalu lebih bagus daripada kalimat Anda.

Komoditas yang saya miliki sebagai seorang penulis adalah diri saya sendiri. Pun demikian dengan Anda, komoditas itu adalah diri Anda sendiri. Jangan ubah nada Anda agar sesuai dengan subjek tulisan. Kembangkanlah satu suara yang akan membuat pembaca mengenali diri Anda saat mereka ‘mendengar’ di tiap halaman.

Ingatlah bahwa penghayatan terjadi pada arus yang dalam. Hal itu menggerakkan kita dengan berbagai hal yang tak terungkapkan, menyentuh sisi-sisi terdalam yang sudah kita ketahui melalui bacaan, agama, adat-istiadat kita.

Menulis adalah pekerjaan yang sepi sehingga saya harus tetap ceria. Jika saya menemukan hal yang lucu saat menulis, saya tuliskan untuk menyenangkan diri sendiri. Jika satu hal saya anggap lucu, maka dugaan saya orang lain pun akan menganggapnya lucu dan itulah hari yang baik untuk bekerja.

Seluruh kalimat Anda yang telah jelas dan menyenangkan akan berantakan manakala Anda lupa bahwa menulis adalah proses yang linear dan berurutan. Logika tersebut ibarat lem yang mengikat seluruh bagian. Oleh karena itu, maka ikatan tersebut harus senantiasa terjaga antar kalimat, antar paragraf, bahkan antar bab. Narasi yang tersaji kemudian niscaya akan menarik para pembaca ke dalam pusaran cerita tanpa ada kejutan yang berarti.

Berpikirlah sederhana. Jangan mengacak-acak masa lalu Anda atau keluarga untuk mencari episode yang Anda pikir penting untuk ditampilkan dalam tulisan. Lihatlah pada satu kejadian kecil yang masih terekam jelas dalam ingatan. Jika Anda masih teringat, maka itu terjadi karena peristiwa tersebut mengandung kebenaran universal yang akan dikenali oleh pembaca dari pengalaman mereka sendiri.

Carilah cara untuk meringankan tulisan Anda sehingga dapat menghibur. Biasanya ini berarti memberikan pembaca satu kejutan yang menyenangkan. Banyak cara untuk melakukan hal itu, bahkan bisa jadi nanti menjadi gaya Anda. Manakala seseorang menyukai gaya seorang penulis, sejatinya dia sedang menyukai pribadi penulis yang tersaji di kertas.

Jika Anda ingin menulis lebih baik daripada orang lain, pertama kali Anda harus INGIN menulis lebih baik daripada orang lain. Anda harus bangga pada tiap detil yang ada pada hasil karya Anda. Selanjutnya, Anda pun harus bersedia untuk mempertahankan hal itu dan tidak berkompromi dengan para editor, agen, dan penerbit yang sudut pandanganya barangkali berbeda dengan Anda, yang standardnya tak setinggi Anda.

Sumber tulisan dari sini:

Kiat: 10 Hal Perlu Dipertimbangkan Saat Membuat Power Point

Cool-Underwater-Powerpoint-Templates

Saat melihat-lihat video di internet, saya menemukan sebuah paparan yang sangat menarik mengenai berbagai pertimbangan yang harus diperhatikan saat Anda menyusun power point.

Video tersebut, kendati disampaikan secara guyon (komedi), namun sangat mengena dan mudah diingat. Saya menyarankan Anda melihat “Life After Death by Powerpoint 2010 by Don McMillan”. Adapun tulisan berikut ini adalah semacam ringkasan dari apa yang beliau sampaikan. Semoga dapat membantu Anda dalam menyusun sebuah paparan menggunakan Power Point yang bukan saja menarik namun juga informatif.

1. Slide yang bersambung
Tak jarang, satu gagasan tidak cukup dituangkan dalam sebuah slide. Oleh karena itu, terkadang Anda membaginya ke dalam beberapa slide. Hal tersebut tidak dianjurkan untuk dilakukan karena dapat memengaruhi fokus para pendengar (audience) yang menyimak paparan Anda.

Seyogyanya, satu buah slide telah dapat menampung satu ide tertentu dan tugas Anda adalah mengembangkan ide tersebut melalui penjelasan yang Anda sampaikan.

2. Ukuran huruf
Seringkali ukuran huruf menjadi penentu kejelasan informasi yang disampaikan dalam power point. Pada saat memilih ukuran huruf, sebenarnya program power point sudah membuat standar (default) ukuran huruf yang pas baik itu untuk judul maupun tubuh (body) tulisan.

Anda tinggal mengikuti ukuran huruf standard tersebut dan power point yang dihasilkan akan mudah dibaca. Sayangnya, kebutuhan untuk menampilkan berbagai informasi terkadang menuntut kita untuk mengecilkan atau membesarkan ukuran huruf.

Pertimbangan menyangkut ukuran adalah keseimbangan. Huruf Anda hendaknya tak menutupi gambar atau objek lain dan menjadi yang paling menonjol. Begitu pun huruf Anda jangan sampai terlampau kecil sehingga menyulitkan hadirin yang ingin membaca power point Anda.

3. Animasi pada teks
Sungguh menyenangkan saat kita bermain-main dengan berbagai animasi yang ada di power point. Salah satunya adalah saat kita bermain dengan animasi untuk teks. Kita bisa mengatur agar tulisan yang muncul memiliki animasi seperti berputar, kedip, membesar kemudian mengecil, mengecil kemudian membesar, dan seterusnya.

Sayangnya, animasi pada tulisan cenderung mengaburkan maksud yang ingin disampaikan. Siapa orang yang suka membaca tulisan berkedip-kedip atau berputar-putar?

Pada saat memilih animasi untuk tulisan haruslah sangat berhati-hati atau kalau ingin aman hindari menggunakan animasi pada teks.

4. Pertimbangkan jenis huruf
Rupanya terdapat korelasi antara jenis huruf dengan ‘kekuatan’ pesan yang ingin disampaikan melalui power point. Misalnya saja jenis ‘Comic Sans’ cenderung dianggap untuk anak kecil, bermain-main, dan tak serius.

Sebagai contoh lain, ‘Times New Roman’ atau ‘Calibri’ ini menunjukkan pribadi yang enggan berimprovisasi dan menerima standar (default) yang diberikan oleh progam power point.

Selain itu, masih banyak contoh lain dan hendaknya sangat diperhatikan pada saat Anda menyusun paparan. Sedikit saran, hendaknya perusahaan atau Anda memiliki standar huruf sendiri yang menjadi bagian profil dari perusahaan. Keuntungan dari metode ini adalah, membangun citra diri atau perusahaan, sehingga orang lain akan mudah mengenali perusahaan/diri Anda melalui jenis huruf yang digunakan.

5. Huruf besar, huruf kecil, gabungan keduanya
Ada satu masa ketika penggunaan huruf besar digabung dengan huruf kecil, bahkan dengan angka menjadi satu tren tersendiri. Saat Anda menyusun paparan, hendaknya sangat memperhatikan kaidah penggunaan huruf besar atau kecil. Tujuannya adalah untuk kejelasan pesan yang ingin disampaikan.

Pernahkah Anda melihat paparan atau tulisan yang terdiri dari huruf besar semua? Di kalangan pengguna internet, hal tersebut diartikan sebagai bentuk ‘kemarahan’ atau seolah-oleh sedang ‘berteriak’. Bila Anda keliru menggunakannya, maka hadirin bisa salah mengira, yaitu bahwa Anda sedang marah-marah alih-alih sedang memberikan paparan.

Oh iya, apabila Anda bukan seorang penculik atau agen rahasia, hendaknya jangan menggunakan gabungan huruf besar, huruf kecil, dan juga angka. Sebab, Anda ingin memberikan penjelasan dan pesan yang jelas kepada pendengar serta sedang tidak mengirimkan kode rahasia.

6. Hati-hati saat menggunakan bullet point
Kelebihan terbesar dari power point adalah ‘kekuatan poin’. Anda menguraikan gagasan, teori, pendapat, produk, dalam bentuk poin per poin. Biasanya untuk menggambarkan hal tersebut dalam paparan adalah menggunakan ‘bullet’ atau peluru.

Barangkali filosofi penggunaan ‘bullet’ adalah agar pesan yang disampaikan seperti peluru menghujam di benak para pendengar. Tentu saja konsekuensinya haruslah tepat jumlah dan sasaran dari bullet tersebut.

Oleh sebab itu, maka penggunaan ‘bullet’ hendaknya harus diperhatikan baik itu keperluannya, maupun jumlah peluru yang digunakan.

7. Animasi secara efektif tidak mengaburkan pesan
Menyampaikan ide yang rumit menggunakan perangkat yang ada dalam power point sungguh tidak mudah. Seringkali, kita harus menggabungkan berbagai bentuk seperti lingkaran, persegi, segi tiga, elips, tanda panah, garis-garis, garis putus-putus dan lain-lain dan kawan-kawan.

Tujuan paparan Anda adalah untuk membuat kejelasan pada para pendengar dan bukan menambah keruwetan, bukan? Oleh karena itu penggunaan berbagai bentuk dan lebih lagi animasi untuk mewakili ide Anda harus diperhatikan betul-betul agar tidak malah mengaburkan pesan yang ingin disampaikan. Semakin sederhana diagram, struktur, atau gambar yang disajikan, maka pendengar akan semakin mudah memahami.

8. Penggunaan singkatan
Paparan menggunakan power poin berbeda dengan sebuah buku cerita atau novel. Ruang yang Anda miliki sangat terbatas, belum lagi waktu Anda menyampaikan pun biasanya juga sangat dibatasi.

Jalan keluar yang biasanya ditempuh adalah dengan menggunakan berbagai singkatan. Sayangnya, tak semua pendengar atau pemirsa Anda memiliki pemahaman yang sama. Oleh sebab itu, penggunaan singkatan yang terlalu sering dan digunakan untuk berbagai hal yang tidak lazim justru akan cenderung membuat pusing pendengar.

9. Penggunaan grafik, chart, bar chart, pie chart, tabel, diagram alir/struktur organisasi, dll
Saat Anda menyampaikan data tak jarang digunakanlah berbagai grafik atau diagram. Kunci yang harus diperhatikan saat memanfaatkan grafik atau diagram adalah kejelasan informasi yang ingin disampaikan.

Bisa saja grafik atau struktur atau diagram alir yang Anda sajikan begitu sederhana dan tidak rumit namun justru itu yang mudah diterima oleh pendengar. Di lain saat, karena ingin terlihat canggih dan memesona, maka ditampilkan grafik dengan berbagai warna, dilengkapi dengan huruf, bahkan mungkin animasi tapi ujungnya adalah pemirsa yang kebingungan. Tentu hal semacam itu harus dihindari.

10. Resume/riwayat hidup Anda sendiri
Sebagai pelengkap, tentu saja Anda ingin menampilkan profil diri sendiri di awal atau akhir dari paparan. Pada bagian ini, hendaknya diperhatikan lagi-lagi menyangkut kejelasan informasi dari pada sekadar memukau para pemirsa.

Alangkah lebih bijak untuk menyampaikan hal-hal yang relevan dan berkaitan dengan para pendengar daripada memamerkan berbagai capaian selama karier Anda. “Apakah semua gelar dan sertifikat serta pelatihan yang pernah Anda ikuti harus ditampilkan?” Pertanyaan tersebut semoga bisa menjadi rambu-rambu dalam menyampaikan riwayat hidup Anda di paparan menggunakan power poin.

Penutup
Seseorang yang akan menggunakan power poin hendaknya mempertimbangkan berbagai hal di atas. Selain itu, sebagai bonus, maka berikut ini rangkuman dari uraian yang sudah disampaikan di atas.

Pemirsa atau pendengar Anda berhak mendapatkan kejelasan informasi, ide, gagasan, teori daripada dipamerkan kecanggihan program, aneka rupa animasi, atau berbagai jenis dan ukuran huruf.

Power poin adalah memanfaatkan kekuatan poin. Hendaknya begitulah ide, informasi, gagasan, teori Anda disampaikan, yaitu dalam bentuk poin-poin apa yang paling penting ingin disampaikan. Sementara itu, untuk berbagai penjelasan yang mengikutinya adalah tugas Anda untuk menjelaskannya kepada pemirsa. Tak semua hal harus ditulis di power poin apalagi dibaca kata demi kata. Apabila Anda melakukan hal ini, maka sama saja menghina kemampuan para pemirsa dalam membaca.

Power poin adalah alat bantu bagi Anda untuk menyampaikan gagasan, ide, informasi, atau teori secara runtut. Selain itu juga memperkuatnya dengan berbagai gambar, suara, video, untuk mendukung Anda saat memberikan penjelasan kepada pendengar. Ingatlah bahwa aktor utamanya adalah Anda yang harus memukau penggemar dan bukan power poin buatan Anda yang lebih memesona.

Sumber gambar dari sini

Sumber tulisan dari sini

Kiat: Menjadi Blogger

Mena Trott adalah seorang blogger. Berikut ini paparannya mengenai blog, selamat menyimak.

Blogger bagi Anda barangkali adalah profesi yang berarti banyak hal. Blogger bisa sekelompok orang yang berhasil membobol satu merk kunci dan menyebarluaskan caranya. Mereka juga bisa beberapa orang yang sibuk mencari celah sebuah perangkat lunak, mengulas, dan membaginya dengan banyak orang.

Bisa jadi Anda mengira blog adalah satu tempat yang mengerikan. Sesuatu yang tidak bersahabat. Namun, blog juga telah mengubah cara kita membaca berita dan mengkonsumsi apa yang ditawarkan oleh media. Banyak contoh blog yang sangat menarik dan telah menjaring jutaan pembaca.

Beberapa blog juga menjadi sangat penting. Sebagai contoh adalah saat terjadinya badai, ketika itu MSNBC memposting tentang badai di blog mereka dan mengupdatenya secara rutin. Hal tersebut sangat mungkin dilakukan, karena perangkat (tools) di dalam blog sangatlah mudah. Ada pula teman saya yang memiliki blog, mendapatkan uang dengan memasang iklan dan bisa menghidupi keluarganya di Oregon. Itulah yang dilakukannya sekarang dan dengan blog memungkinkan untuk melakukan itu semua.

Contoh lain adalah Interplast, sebuah blog tentang orang dan dokter yang pergi ke negara berkembang dan menawarkan operasi plastik kepada mereka yang membutuhkan. Mereka kemudian akan mendokumentasikan ceritanya dan itu sangatlah berarti.

Saya tak sehebat itu. Seperti sudah saya bilang, “I am a blogger”. Saya mendefinisikan diri sebagai orang yang ahli pada sesuatu. Saya ahli pada diri sendiri, jadi saya tulis tentang diri sendiri.

Cerita blog saya dimulai di tahun 2001 saat saya berumur 23 tahun. Saat itu saya tak suka dengan pekerjaan, yaitu seorang designer. Sebuah profesi yang tak cocok dengan latar belakang pendidikan saya, yaitu Bahasa Inggris. Namun, saya rindu menulis, maka sebuah blog berhasil dibuat dan satu buah cerita pendek menjadi isinya yang pertama. Cerita tersebut adalah kisah mengenai keikutsertaan saya dalam kemah di YMCA pada usia 11 tahun. Di akhir dari kemah tersebut, saya buat teman-teman sangat membeci saya. Saat itu saya bersembunyi, tak ada yang bisa menemukan, bahkan ketika tim pencari dibentuk. Saya mendengar beberapa orang berharap saya bunuh diri dengan melompat dari Puncak Bible.

Saya memulai dengan kesadaran bahwa menjadi blogger tak menjamin seseorang terkenal ke seluruh dunia, namun saya bisa dikenal oleh orang-orang di internet. Kemudian saya pun membuat satu tujuan, yaitu memenangkan satu penghargaan karena sepanjang hidup, tak sekalipun penghargaan saya terima. Akhirnya saya menerima South by Southwest Weblog Award dan puluhan ribu orang membaca kisah blog saya setiap hari.

Kemudian saya menulis mengenai banjo yang ingin dibeli seharga 300 dolar, sebuah harga yang fantastis. Sementara saya tak memainkan alat musik, bahkan tak tahu sama sekali mengenai musik. Namun, saya suka musik dan juga suka banjo. Saya pun berkata kepada suami, “Ben, dapatkah aku membeli banjo?” Dia pun menjawab dengan singkat, “Tidak.” Lebih lanjut suami saya bilang, “Kamu tidak perlu membeli banjo, jangan seperti ayahmu yang mengoleksi instrumen musik.”

Saya pun menuliskan betapa marah kepada suami karena tak diizinkan membeli banjo. Dia seperti tiran yang melarang membeli banjo. Bagi mereka yang mengetahui saya, ini adalah lelucon. Itulah cara saya membuat candaan kepada seseorang. Mereka tahu, orang yang saya tulis tersebut sangat manis dan baik dan telah mengizinkan fotonya saya tampilkan di blog.

Namun, saya mendapat email dari orang yang berkata, “Oh Tuhan, suamimu benar-benar brengsek! Berapa banyak uang yang dihabiskannya untuk membeli beer selama setahun? Kamu bisa mengambil uang itu dan membeli banjo. Kenapa kamu tak membuat rekening terpisah?” Saya juga mendapat email yang bilang “Tinggalkan dia!”

Saya kemudian bertanya-tanya, siapa orang-orang ini dan kenapa mereka membaca tulisan saya? Kemudian saya pun sadar, saya tak ingin menulis untuk orang-orang ini, saya tak mau mereka menjadi pengunjung blog, sehingga perlahan-lahan saya pun menutup blog. Saya tak ingin menulis lagi.

Tak lama kemudian, saya menulis sesuatu yang lebih pribadi, yaitu tentang Einstein, binatang peliharaan yang meninggal dua tahun lalu. Barangkali Anda membaca blog mengenai politik, gosip, media atau apa pun itu. Namun, hal-hal yang personal, yang pribadi, mulai menarik minat saya. Inilah saya. Saya tertarik dengan blog yang berisi cerita pribadi seseorang.

Saya membaca blog mengenai seorang bayi bernama Odin yang memiliki ayah seorang blogger. Satu hari dia menulis di blognya tentang istrinya yang melahirkan bayi pada usia kandungan 25 minggu. Tentu saja dia tak pernah mengharapkan hal ini terjadi, dari hari-hari yang normal menjadi hari yang menyedihkan.

Odin adalah bayi dengan berat satu pound dan mulai didokumentasikan tiap hari. Fotonya diunggah secara berkala, hari pertama, hari kedua, dan seterusnya. Di hari ke sembilan dia mengalami apnea, pada hari ke 39 dia menderita pneumonia, bayinya begitu kecil, mungkin gambarnya sedikit mengganggu, namun juga menyentuh perasaan.

Anda membaca hal itu tepat ketika peristiwa tersebut terjadi. Kemudian di hari ke 55 semua orang membaca bahwa dia mengalami kegagalan pernafasan dan jantung. Semua melambat dan Anda tak tahu apa yang bisa diharapkan. Namun, kemudian semua membaik dan di hari ke 96 dia pulang ke rumah.

Apa yang diceritakan dalam blog tersebut bukanlah hal yang dapat Anda temukan di koran atau majalah. Ini sesuatu yang dirasakan oleh pemilik blog dan orang-orang menyukainya. Dua puluh delapan komentar bukan berarti dua puluh delapan pembaca, namun dua puluh delapan orang yang peduli. Saat ini, dia adalah seorang balita yang sehat, dan jika Anda membaca blog ayahnya di snowdeal.org, dia masih mengambil gambarnya, karena si kecil itu adalah putranya.

Blog kemudian adalah sebuah evolusi. Blog merekam siapa diri Anda secara pribadi. Saat Anda klik di google nama Anda sendiri, bisa ditemukan kisah hidup Anda, entah itu gembira atau sedih. Selanjutnya Anda juga menemukan blog orang lain, rekaman hidupnya, yang menulis tiap hari, bisa jadi bukan topik yang sama, namun hal-hal yang menarik perhatian mereka.

Saya menemukan bahwa rekaman hidup yang ada pada blog adalah sangat penting. Sangat menakjubkan ketika saya kembali ke satu masa dan kemudian saya tahu apa yang terjadi saat itu dengan tepat.

Kisah selanjutnya adalah tentang seorang wanita, Emma, yang juga seorang blogger. Dia adalah salah seorang yang pertama kali memanfaatkan layanan blog kami. Dia menulis tentang hidupnya yang harus berjuang melawan kanker. Dia terus menulis dan menulis. Saat itu masih sangat sedikit blogger yang menggunakan layanan kami, sehingga kami pun mulai membaca kisah Emma.

Satu hari dia menghilang, kemudian saudarinya datang dan berkata bahwa Emma telah meninggal. Mendengar berita tersebut semua orang di perusahaan yang membaca kisahnya menjadi sangat emosional. Saat itu menjadi hari yang berat bagi perusahaan kami. Saat itu saya baru menyadari, betapa hebat dampak blog bagi hubungan kami dan mendekatkan jarak antar manusia di dunia ini.

Satu hal yang begitu memengaruhi saya adalah saat saudarinya menulis di blog, bahwa menulis blog bagi Emma di beberapa bulan terakhir hidupnya adalah hal terbaik yang pernah terjadi padanya. Dapat bercerita pada orang lain, dapat berbagi apa yang terjadi pada dirinya, dapat menulis dan menerima komentar. Sangat menakjubkan bagaimana kami dapat membantu terlaksananya hal itu dan bahwa blogging menjadi satu aktivitas yang menyenangkan baginya. Sungguh menyenangkan ide bahwa blog tidaklah menakutkan, kita tak harus selalu menyerang blog, kita bisa menjadi pribadi yang terbuka, ingin menolong dan bicara pada orang lain.

Harapan saya bagi Anda adalah, pikirkan tentang blog, tentang blogger, siapa sih mereka itu, tentang pendapat Anda untuk mereka dan kemudian lakukanlah, jadilah blogger, karena ini benar-benar akan mengubah hidup kita.

Tulisan ini bersumber dari paparan Mena Trott berikut ini:

Kiat: Meraih Kemerdekaan Pribadi

Freedom

Apa arti kemerdekaan bagi Anda?

Adam Baker memiliki cerita dan tahap demi tahap untuk menggapai kemerdekaannya sendiri.

Malam itu, dia baru saja pulang dari rumah sakit paska kelahiran putri pertamanya. Sebagai seseorang yang masih muda dan serba kekurangan, maka kehadiran sebuah mulut lagi menjadi beban tersendiri.

Kesulitan tersebut Adam diskusikan dengan istrinya. Dari diskusi tersebut, barulah mereka menyadari arti penting untuk tahu terlebih dahulu apa yang benar-benar diinginkan. Selama ini, mereka tak pernah memikirkan hal tersebut. Mereka terutama tak paham mengenai bagaimana sejatinya kehidupan keuangan mereka.

Menurut Baker, hal itu terjadi karena sistem yang sudah terbentuk selama ini. Sistem itu mengajarkan, ketika sudah punya apartemen, maka saat ada tambahan anggota keluarga baru tentu akan perlu rumah yang lebih besar. Rumah baru tersebut tentu tak akan diisi dengan barang-barang lama dari rumah sebelumnya. Barang-barang baru segera dipesan untuk melengkapi apartemen yang baru.

Kembali kepada pertanyaan, ‘apa arti kemerdekaan bagi Anda’, sebisa mungkin haruslah dijawab sendiri. Bila Anda tak bisa menjawabnya, maka ada pihak lain yang akan membantu menjawab, yaitu toko, pengiklan, pemerintah dan lainnya. Pada ujungnya Anda kembali harus mengeluarkan uang untuk membayar semuanya itu.

Siklus yang terjadi pada seseorang kurang lebih adalah sebagai berikut: Anda bersekolah, kemudian memperoleh ijazah. Bermodalkan ijazah tersebut, kemudian Anda bekerja, berlanjut dengan membeli sebuah apartement. Tak lama, putra atau putri pertama Anda pun lahir, sehingga dirasa perlu untuk membeli aparteman lebih besar. Pada saat itu, Anda juga sudah sibuk berpikir barang apa yang diperlukan untuk mengisi apartemen baru. Begitulah siklus itu terus berputar.

Setelah diskusi selesai, Adam dan istri pun ingin lepas dari semua barang dan belenggu kenyamanan lain yang ada di aprtemennya. Mereka ingin bebas dari jebakan keinginan yang terus memerangkap. Keduanya kemudian memutuskan untuk menjadi backpacker ke Australia lengkap dengan bayinya yang baru lahir.

Sungguh tidak mudah untuk mengambil keputusan itu, ada ketakutan yang hinggap saat harus pergi dengan uang saku terbatas dan hanya dilengkapi dengan dua tas punggung. Akhirnya dengan setengah nekad mereka pun bisa sampai di Sydney.

Mereka memulai petualangannya mengunjungi tempat-tempat yang berbeda di Australia. Sambil terus berjalan, dia menyadari bahwa mereka harus hidup untuk memenuhi keinginan mereka sendiri.

Adam menyarankan agar kita memeriksa gudang dan mulai menjual menjual barang-barang yang tak lagi dipakai. Sebab, kebiasaan kita adalah menumpuk barang dan menjadikannya seperti sarang, terus menumpuk barang-barang yang sejatinya tidak kita perlukan.

Barang-barang itu bisa saja dititipkan di tempat penyimpanan dengan membayar sewa. Namun, setelah disimpan di tempat lain, kita pun akan mulai membeli barang lain untuk kembali mengisi rumah kita.

Adam bilang, semakin banyak barang bukan berarti semakin aman. Kita cenderung mengidentifikasi diri kita dengan barang-barang yang bersifat fisik. Padahal barang tersebut tidak selalu menjamin keamanan finansial kita meskipun barangkali menambah kenyamanan.

Bila Anda sudah bisa terbebas dari barang-barang tersebut, maka Anda mulai bisa terbebas dari kerakusan dan hobi membeli barang dan mengisi rumah.

Tak lupa, Adam mengingatkan, apa sebenarnya yang harus kita kumpulkan? Lebih banyak barang yang kemudian tidak kita pakai atau mengejar pengetahuan?

Dalam paparannya, dia juga menjelaskan mengenai lingkaran setan yang membelenggu kita. Lingkaran tersebut terdiri dari kerja, membeli barang, dan berhutang. Kita bekerja lebih keras untuk membayar hutang, sekaligus membeli barang, dan berhutang lagi.

Pada akhirnya selalu berujung pada bekerja lebih keras. Hal ini bukan menjadi masalah yang besar atau justru mengasyikkan bila kita menyukai bidang pekerjaan yang kita pilih. Sayangnya, tak jarang pekerjaan kita sekarang adalah profesi yang kita benci. Bila kita berada dalam kondisi seperti ini, maka tak jarang kita akan menderita stres.

Saat stres itu datang, maka kita mempunyai dua jalan keluar, yaitu: makan dan belanja. Kita membenarkan tindakan itu karena merasa kita sudah bekerja sangat keras dan layak untuk makan atau belanja. Namun, kadang kita tak punya uang sehingga harus kembali berhutang. Akhirnya menjadi bola salju yang mengulang dan memperhebat lingkaran setan.

Adam mengutip salah satu perkataan dari Nigel Marsh, “There are thousands and thousands of people out there living lives of quiet, screaming desperation who work long, hard hours, at jobst they hate, to enable them to buy things they don’t need to impress people they don’t like.” Sungguh benar pernyataan tersebut, karena memang banyak di antara kita yang bekerja sangat keras dengan jam kerja panjang pada bidang pekerjaan yang dibenci, hanya agar bisa membeli barang-barang yang tidak diperlukan agar memberi kesan pada orang yang tidak kita sukai.

Nah, jika Anda sudah memutuskan untuk mengumpulkan pengalaman dan bukannya barang-barang yang tidak kita perlukan, maka Anda bisa menggapai kemerdekaan yang Anda impikan. Berikut ini beberapa langkah yang Adam sarankan:
Menjual barang-barang yang tak terpakai
Bayar hutang Anda
Lakukan hal yang Anda sukai

Tiga langkah tersebut adalah jalan menuju keamanan finansial dan sekaligus kemerdekaan Anda. Setelah Anda bisa melakukan hal tersebut, mungkin Anda bisa menjawab pertanyaan, “Apa arti kemerdekaan bagi Anda?”

Guna melihat penampilan Adam Baker saat memberikan penjelasannya, Anda bisa mengakses video berikut ini:

Sumber gambar dari sini

Kiat: Mengatasi Kerentanan

Seseorang menjadi rentan karena perasaan malu dan takut yang dimilikinya. Malu atau takut itu kemudian menjelma menjadi satu tindakan. Terkadang, tindakan itu merugikan bagi dirinya sendiri, namun tak jarang juga merugikan orang lain.

Sebagai manusia yang saling terhubung satu dengan yang lainnya, maka perasaan rentan akan memengaruhi hubungan itu. Sebagai contoh, orang yang ingin menyembunyikan kelemahan atau malu untuk tampil akan cenderung untuk menutup diri. Semakin dia menutup diri, barangkali semakin besar aib yang ingin ditutupinya.

Menyendiri adalah tindakan lain yang biasa dilakukan oleh seseorang yang rentan. Menurutnya, mengucilkan diri adalah tindakan yang benar untuk dilakukan. Padahal, alih-alih dia mendapat pertolongan, tingkat kerentanan yang dimilikinya justru bisa jadi semakin besar.

Seseorang dengan kerentanan yang tinggi merasa dia tak aman dan selalu terancam. Hal ini tergambar dalam tingkah lakunya sehari-hari, dalam berbagai aspek hidupnya.

Sebagai contoh adalah dalam bidang keagamaan. Aspek hidup yang paling pribadi ini berhubungan dengan keyakinan, perubahan, kepercayaan, dan tidak ada keniscayaan di dalamnya karena sangatlah dinamis. Namun, bila aspek religi ini berada pada seseorang yang rentan, maka menjadi suatu kemestian. “Aku benar dan kamu salah, tutup mulutmu!” Kata orang tersebut.

Orang yang rentan adalah seseorang yang mati rasa. Secara sengaja mereka mematikan perasaannya, barangkali agar mereka tak harus melihat kelemahan dirinya yang membuatnya malu, tak mesti mengakui kekurangannya, tak hendak menunjukkan ketakutannya. Mereka mencoba menutup itu semua dengan tindakan lain yang seolah-olah membuatnya tampak sempurna.

Mereka membangun sebuah dunia baru yang palsu, tampak sempurna, padahal sekadar topeng semata.

Kerentanan yang dihadapi seseorang tak mudah untuk diatasi. Namun, kita dapat memulainya dengan melihat kelemahan, kekurangan, dan kelemahan diri sendiri. Sedikit demi sedikit kita harus tampil, kita harus terlihat sebagai seorang pribadi yang utuh, pribadi yang tak selalu sempurna.

Selanjutnya, kita juga harus terhubung dengan orang lain. Contohnya adalah dengan mencintai sepenuh hati tanpa jaminan adanya perasaan serupa dari orang lain. Layaknya perasaan yang dimiliki oleh orang tua kepada anaknya, seseorang harus berlatih untuk melakukan hal itu dan dia bisa mengatasi kerentanannya.

Betapa pun rentannya kita, namun dari situlah peluang untuk maju, bertahan, dan berkreasi. Kita bisa mengatasi berbagai kelemahan, ketakukan, dan kekurangan dengan penerimaan diri dan rasa terima kasih. Jangan lupa, selalu bergembira dan berpikir positif.

Selengkapnya tentang kekuatan kerentanan, silakan lihat video berikut ini.