Berapa Nilaimu?

Bagi pelajar seperti saya, urusan nilai sungguh menjadi beban.

Harapannya tentu mendapatkan nilai yang bagus untuk setiap tugas yang kita buat. Ini adalah harapan yang wajar mengingat berbagai jerih payah yang sudah dilakukan untuk menyelesaikan tugas dimaksud. Selain itu, dengan nilai bagus kita akan terpacu untuk mengerjakan tugas-tugas lain dengan lebih baik lagi.

Sayangnya, Continue reading “Berapa Nilaimu?”

Tentang Kebablasan

Beberapa waktu yang lalu Presiden Joko Widodo mengeluhkan tentang demokrasi kita yang sudah kebablasan. Kompas pun menuliskan isu ini cukup panjang dan berseri dalam beberapa hari. Tak ketinggalan ulasan dari beberapa orang pakar pun mewarnai diskusi tentang demokrasi yang kebablasan tersebut. Tulisan ini pun tak ketinggalan ingin membahas mengenai kebablasan, tapi tenang, tidak seserius demokrasi yang kebablasan.

Saya hanya ingin berbagi mengenai Continue reading “Tentang Kebablasan”

Mengenal Daylight Saving

Apa itu daylight saving?

Daylight saving adalah perubahan waktu di negara empat musim. Artinya waktu normal kita bisa maju atau mundur disesuaikan dengan musimnya. Sebagai contoh, pada musim semi ini di Australia pada tanggal 02 Oktober 2016 kemarin waktu-nya dimajukan yang seharusnya pukul 03.00 dini hari dimajukan menjadi pukul 02.00. Besok, pada saat musim gugur waktu akan kembali disesuikan, kali ini menjadi lebih lambat.

Bagaimana sejarah daylight saving? Continue reading “Mengenal Daylight Saving”

Ied-al Adha: Sacrifice, Gratitude, and Share

I was just wondering what is the meaning of the Ied-al Adha?

Previously, I thought it was just a sacrifice of the goat, cow, and camel for the God to follow the example of Prophet Ibrahim when he got an order from the God to sacrifice his son Ismail.

It turns out then that Ied-al Adha is more than mere sacrifice. It also a means to gratitude for all of the fortunes that humans obtain from their God. After enjoying many fortunes, Moslem should be gratitude by sharing and sacrificing their incomes with those who live in unfavourable circumstance.

Moslems believe that some part of their sustenances is supposed to belong to others. By sacrificing animals, one deducted the income to buy these animals. At the same time, this action helps cattleman to make a profit. Meanwhile, the meats from the animals are shared not only among Moslem but also with other religious believers. Thus, the action makes all parties better off and obtain benefits.

In short, the benefits of Ied-al Adha are two folds. First, it is the instrument to show the obedience and gratitude of Moslem towards their God. Secondly, it also a tool to share with others.

Break

Due to the winter semester break when I have to flight back to my country, there are no posts in this blog. During this time, my duty was changing from full-time student to full-time nanny. I spent most of the time to take care of my twins. Even though I cannot replace my wife’s role in caring my daughters completely, I have tried my best to assist her and gave her time to enjoy herself.

The break occurred at the same time with Ramadhan and Eid Mubarak when most people in my country celebrated. Before the Eid holiday, I have to finish my Ramadhan fasting. It was such a pleasure to be fasting amidst the family even though the fasting in Indonesia was longer than in Australia. But, it was not a big deal to be fasting even for a longer time as long as amongst the family.

Several days before the Eid holiday, my daughters and I migrated from our house in Jakarta to my origin place in Magelang where my big family live. Indonesian calls this process as ‘mudik’, when million of people move from Jakarta to their origin. Fortunately, as I have a long break, I did not have to follow the holiday for the civil servant as my wife. I outstripped other people and therefore I did not have to face a severe traffic jam like the others.

For me, to be at home always causes an emotional and unforgettable moment. It becomes a reconciliation time for my daughters and me after we should live separately for more than four months. Indeed, I have missed a big part of their growing process, for example, I missed their first step and word. However, when I was at home, I tried to catch up by accompanying them almost every day. The aim of this time is to entwine my relationship with my daughters, my wife and other family members.

Despite benefits for me when I was at home, there are also a number drawbacks. Firstly, I lacked existence as I never go online. I rarely touch my phone or other gadgets and prefer to hold and hug my daughters. As the result, there were no updates on my blog and other social media account. Secondly, being at home reduced my ability in school relating stuff such as reading, writing, and critical-thinking, as I never utilise them. It all became a problem when I was back to the university and often I would gain a bad mark.

That is part of my long story during the semester break. I thank you kindly for your time to read this post.


Hidup adalah kelucuan

Lovely?
Father and his daughter

Selalu ada kisah sedih ketika orang tua meninggalkan anaknya di rumah. Alasan kepergian itu pun beraneka, mulai dari tuntutan pekerjaan, menuntut ilmu dan alasan lainnya. Kepergian itu akan menyebabkan hubungan antara anak dan orang tua pun terputus. Memang saat ini banyak metode komunikasi dengan adanya internet dan berbagai aplikasi. Namun, komunikasi dalam jaringan tetap saja berbeda dengan komunikasi langsung yang memungkinkan adanya sentuhan.

Seorang teman sesama pelajar dari Bhutan memberikan pidato perpisahan pada saat makan malam untuk mereka yang sudah lulus. Dalam pidatonya tersebut, dia berbicara tentang metode komunikasi dengan putranya yang tinggal di negeri asalnya sana menggunakan Skype.

Satu malam, di tengah percakapan, anak itu tiba-tiba mencari ayahnya di belakang layar komputer. Dia berharap bapaknya berada di sana dan bukan hanya di dalam layar.

Akhirnya, Sang Bapak ini pun selesai masa belajarnya dan kembali ke negerinya. Manakala dia bertemu dengan anaknya itu, Si Kecil pun sangat senang dan seakan-akan tidak percaya dengan pandangan matanya. Di hari-hari berikutnya, dia terus-terusan memeluk bapaknya seolah-olah tidak ingin melepaskan lagi.

====

Di masyarakat barat, bukanlah satu kebiasaan untuk membicarakan keluarga, pasangan, putra atau putri. Budaya ini adalah hasil dari stigma yang muncul bertahun lalu kepada wanita pekerja. Sekarang, masalah keluarga memang dianggap tidak relevan bagi mereka yang bekerja, belajar, atau profesi lainnya.

Namun, fakta sebenarnya adalah bahwa keluarga adalah satu hal yang paling penting bagi setiap orang. Keluarga adalah alasan seseorang untuk menempuh ribuan kilometer baik untuk belajar atau pun bekerja. Orang itu meninggalkan keluarga tercinta di kampung halaman demi masa depan yang diharapkan akan lebih baik. Namun, pada saat yang sama, orang itu pun harus meninggalkan kewajiban dan tanggung jawabnya kepada keluarga.

Orang itu menghadapi dilema yang seakan-akan tidak tertanggungkan, namun pada akhirnya hanya bisa menjalani karena seringkali hidup begitu lucu, bukan?

Salam

Picture source

 

Hidup Memberi Apa?

celebrating_life

Hidup itu seringkali memberikan apa yang sangat kita inginkan justru ketika kita berhenti mengharapkannya.
Hidup memberi apa yang kita perlukan tanpa disangka-sangka justru ketika kita tak berharap dan mengikhlaskan.
Hidup mengajarkan kepada kita agar bersabar.
Hidup juga memberi ketika kita sudah siap dan pantas menerima, dia memberikannya dengan murah hati.

Sumber gambar dari sini

Lini Masa Rezeki

Dalam hidup, tentu banyak sekali rezeki yang saya terima. Setiap detik, setiap helaan napas, kedipan mata, bunyi yang terdengar, aroma yang tercium, rasa yang terkecap adalah di antaranya yang terus diterima hingga terkadang lupa disyukuri.

Namun, beberapa rezeki terasa istimewa karena jarangnya dia datang oleh sebab maknanya, keterlibatan orang-orang tercinta, hingga pengaruhnya yang tak kecil untuk keberlanjutan episode hidup saya.

Beberapa rezeki yang boleh dicatat itu adalah:

2010
Bersamaan dengan perayaan Hari Raya Natal, saya melangsungkan resepsi pernikahan. Malam sebelumnya benar-benar menjadi malam kudus bagi saya karena saya mengucapkan ijab dan qabul dihadapan penghulu dan para saksi.

Saat itu seseorang hadir menjadi pendamping setiap langkah, tempat berbagi suka dan duka, tumpuan ragu dan cita-cita, penimbang keputusan nan terpercaya.

2013
Sudah dua tahun biduk rumah tangga berlayar mengarungi samudera kehidupan. Selama itu pula kami menanti-nanti hadirnya sang buah hati.

Ada titik terang di akhir 2012 manakala tamu bulanan istri datang terlambat. Sayang seribu sayang, hanya bertahan delapan minggu calon jabang bayi itu pun tak bertahan. Dia harus digugurkan dari kandungan karena tak berkembang pada akhir Januari 2013.

2014
Satu demi satu pengumuman yang dinanti datang membawa kabar gembira.

Saya lolos dan menerima beasiswa untuk melanjutkan sekolah di negeri tetangga. Istri pun diterima bekerja di tempat yang sudah diharap cukup lama.

2015
Hadirnya anggota keluarga baru, dua putri, si kembar yang kami beri nama Bening dan Embun. Semoga mereka bisa menjadi pelengkap kebahagiaan keluarga. Aamiin.

Begitulah, seperti kata seorang pujangga, ada misteri dalam setiap tikungan kehidupan. Entah suka atau duka. Kita manusia hanya tinggal menjalaninya saja. Diam-diam kita belajar atau diajari agar tak terlampau suka manakala kegembiraan datang dan tak terlalu berduka ketika kesedihan menghampiri.

Pada akhirnya saya kira, kita mestinya menjadi biasa-biasa saja dan bersyukur untuk semua.