Diary: Tentang Kebablasan

Beberapa waktu yang lalu Presiden Joko Widodo mengeluhkan tentang demokrasi kita yang sudah kebablasan. Kompas pun menuliskan isu ini cukup panjang dan berseri dalam beberapa hari. Tak ketinggalan ulasan dari beberapa orang pakar pun mewarnai diskusi tentang demokrasi yang kebablasan tersebut. Tulisan ini pun tak ketinggalan ingin membahas mengenai kebablasan, tapi tenang, tidak seserius demokrasi yang kebablasan.

Saya hanya ingin berbagi mengenai Continue reading “Diary: Tentang Kebablasan”

Diary: Selamat Menempuh Hidup Baru

Ucapan ‘Selamat Menempuh Hidup Baru’ biasanya kita tuliskan kepada sepasang pengantin yang akan melangsungkan pernikahan. Namun, dari pengalaman menunjukkan bahwa ucapan tersebut tidak terbatas kepada peristiwa pernikahan semata, melainkan bisa juga disampaikan manakala setiap manusia mengalami peristiwa penting dalam hidupnya. Sebagai contoh, pada saat kelahiran, kematian, dan bahkan saat hari baru tiba pun ucapan tersebut layak untuk disampaikan.

Bulan Desember 2016 saya menjadi saksi dua peristiwa penting, yaitu Continue reading “Diary: Selamat Menempuh Hidup Baru”

Diary: Ketika Anda Jauh dari Keluarga

Bisa jadi satu ketika Anda harus berada jauh dari keluarga. Misalnya saja manakala pekerjaan Anda menuntut untuk bepergian dalam jangka waktu yang lama. Contoh lainnya adalah ketika Anda menempuh pendidikan atau kursus atau pelatihan dan keluarga harus ditinggalkan. Berbagai sebab ini bisa jadi berpengaruh dalam kehidupan keluarga Anda. Tulisan ini mencoba untuk mengidentifikasi apa saja dampak dari kepergian Anda bagi keluarga dan apa langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.

Apabila salah satu anggota keluarga pergi dan perpisahan harus terjadi dalam rentang waktu tertentu, maka beberapa hal berikut ini bisa terjadi. Continue reading “Diary: Ketika Anda Jauh dari Keluarga”

Diary: Masalah Pencernaan di Rantau

Gluten Intolerance

Sebagai seorang pelajar di rantau saya sering mengalami kesulitan mengenai makanan. Sebagai contoh menentukan menu makanan, belanja, memasak, kemudian makan. Argh, merepotkan sekali.

Jalan keluar yang biasa diambil adalah dengan memakan makanan yang itu-itu saja. Kriteria makanan itu adalah murah, cepat dan mudah penyajiannya.

Atas dasar kriteria itu, maka Continue reading “Diary: Masalah Pencernaan di Rantau”

Diary: Break

Due to the winter semester break when I have to flight back to my country, there are no posts in this blog. During this time, my duty was changing from full-time student to full-time nanny. I spent most of the time to take care of my twins. Even though I cannot replace my wife’s role in caring my daughters completely, I have tried my best to assist her and gave her time to enjoy herself.

The break occurred at the same time with Ramadhan and Eid Mubarak when most people in my country celebrated. Before the Eid holiday, I have to finish my Ramadhan fasting. It was such a pleasure to be fasting amidst the family even though the fasting in Indonesia was longer than in Australia. But, it was not a big deal to be fasting even for a longer time as long as amongst the family.

Several days before the Eid holiday, my daughters and I migrated from our house in Jakarta to my origin place in Magelang where my big family live. Indonesian calls this process as ‘mudik’, when million of people move from Jakarta to their origin. Fortunately, as I have a long break, I did not have to follow the holiday for the civil servant as my wife. I outstripped other people and therefore I did not have to face a severe traffic jam like the others.

For me, to be at home always causes an emotional and unforgettable moment. It becomes a reconciliation time for my daughters and me after we should live separately for more than four months. Indeed, I have missed a big part of their growing process, for example, I missed their first step and word. However, when I was at home, I tried to catch up by accompanying them almost every day. The aim of this time is to entwine my relationship with my daughters, my wife and other family members.

Despite benefits for me when I was at home, there are also a number drawbacks. Firstly, I lacked existence as I never go online. I rarely touch my phone or other gadgets and prefer to hold and hug my daughters. As the result, there were no updates on my blog and other social media account. Secondly, being at home reduced my ability in school relating stuff such as reading, writing, and critical-thinking, as I never utilise them. It all became a problem when I was back to the university and often I would gain a bad mark.

That is part of my long story during the semester break. I thank you kindly for your time to read this post.


c

Menurut Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Komarudin Hidayat, sifat manusia termasuk ke dalam homo festivus,  suka berfestival. Dalam festival tersebut terdapat tiga misi. Pertama, mengenang budaya dan tradisi lama. Kedua, mengenalkan tradisi (lama) kepada generasi baru. Ketiga, memperhadapkan tradisi lama pada situasi hari esok berupa penguatan budaya.

Mudik termasuk ke dalam acara festival, yang dalam mudik ada upaya mengenalkan tradisi lama kepada anak-anak oleh orangtua, keinginan mengenang masa lalu, dan mengembangkan nilai tradisi. Tidak hanya itu Continue reading “c”