Cara Mengelola Risiko di Dunia Digital

Mengelola risiko di dunia digital seringkali dilakukan secara reaktif. Para pengelola risiko di sisi laln harus segera beradaptasi dengan bermacam ancaman digital yang belum pernah dihadapi, seperti ketika bekerja masih dilakukan di kantor. 

Menurut sebuah artikel di helpnetsecurity.com seorang pengelola risiko perlu berpikir secara proaktif mengenai dampak dari bekerja jarak jauh pada kerentanan organisasi dan bagaimana memitigasi peluang terjadinya kebocoran atau penyusupan atau gangguan pada keamanan siber. 

Hal itu bisa dilakukan dengan melakukan komunikasi secara teratur. Hasil akhirnya kemudian adalah terciptanya sebuah perusahaan yang sadar risiko dan mampu memberikan setiap orang kemampuan untuk menilai dan melakukan tindakan saat menghadapi situasi yang berisiko. 

Memprioritaskan dan Mengomunikasikan Risiko 

Data dari Forbes menunjukkan bahwa tahun lalu terjadi peningkatan situs yang berisi penipuan terjadi hingga 350 persen. Angka sebesar itu hanya terjadi dalam kurun waktu Januari ke Maret saja. 

Baca juga: Mengelola Risiko pada Dunia Bisnis

Sekarang ini terbuka lebar peluang terjadinya gangguan siber dibandingkan masa lalu. Hal ini terjadi karena pekerja terkoneksi dari rumah ke kantor melalui jaringan terbuka dan bukan jaringan yang tertutup dan aman di kantornya. 

Ketika para pengelola risiko telah mengetahui hal ini, maka mengamankan data perusahaan sangat penting dilakukan untuk menjaga kepercayaan dan kesetiaan para pelanggan. 

Sementara itu untuk memprioritaskan risiko pada masa bekerja jarak jauh, maka pengelola risiko perlu melibatkan pemimpin perusahaan dan terus memberikan update, kemudian memberikan pengetahuan mengenai potensi persoalan dan kemungkinan solusinya. 

Hal yang perlu diingat adalah, bahwa memprioritaskan risiko saat ini akan memberikan keuntungan luar biasa di masa datang. 

Para pemimpin atau eksekutif dengan demikian perlu terlibat dalam upaya mengelola dan mengatasi risiko. Hanya dengan memberikan dan mempercayakan tugas kepada pengelola risiko tidaklah cukup. 

Dengan melakukan investasi waktu dan uang untuk membentuk budaya yang sadar risiko akan memberikan pengetahuan yang baik kepada seluruh karyawan untuk menghindapi berbagai ancaman dan bersiap pada masalah berskala besar di masa datang. 

Tanpa melakukan investasi dan memprioritaskan risiko, perusahaan mungkin tidak akan mampu melalui gangguan besar di masa datang dan juga menghadapi risiko gangguan keamanan. 

Meskipun demikian, budaya paham atau sadar risiko tidak bisa dibangun dalam satu malam. 

Pengelola risiko dan pemimpin perusahaan pertama-tama harus mengidentifikasi risiko dan melihat di mana posisi perusahaan, kemudian menyesuaikan budaya risiko dengan budaya perusahaan yang sudah berjalan. 

Setelah melakukan itu, maka mereka bisa melaksanakan strategi pengelolaan risiko yang baru. Sebuah strategi yang mungkin memerlukan perubahan drastis, seperti perlunya perangkat lunak baru, perubahan kebijakan, dan pelatihan mengenai risiko. 

Tak kalah penting adalah dari sisi tim informasi dan teknologi atau IT. Mereka harus betul-betul paham mengenai risiko virtual, mengedukasi karyawan lainnya, dan sekaligus menyiapkan karyawan lain untuk mengajukan pertanyaan yang tepat. 

Dengan tingkat penipuan yang semakin meningkat dan data penting menjadi begitu rentan, maka karyawan harus mampu menilai risiko secara mandiri. 

Bekerja dengan Teknologi dan Otomatisasi 

Pengelola risiko dapat bekerja dibantu teknologi baru yang dikembangkan oleh Tim IT dan industri otomatisasi. Pemanfaatan keduanya sudah barangtentu membutuhkan biaya, tetapi kerja-kerja otomatis untuk mengelola risiko akan menghemat waktu dan biaya dalam jangka panjang. 

Silakan dibaca juga: Rencana Kelanjutan Bisnis, 7 Langkah untuk Menilai Risiko dan Merencanakan yang Tak Terduga

Perusahaan juga perlu menyiapkan diri untuk berbagai metode baru dengan menciptakan infrastruktur risiko yang lebih stabil sebelum mengoperasikannya. Sebagai contoh otomatisasi adalah kekuatan yang dapat berlipat ganda. Ini dapat membantu meningkatkan kesadaran pada risiko dan peran.

Namun, strategi pengelolaan risiko perlu dikomunikasikan sebelum diterapkan. Sebab kalau tidak, maka pengelola risiko dapat mengalami kegagalan dan justru menyebabkan semakin rentan pada risiko dibanding sebelumnya. 

Contoh teknologi yang dapat digunakan adalah Robotic Process Automation (RPA) atau Proses Otomatisasi Robot. Ini mampu membantu perusahaan untuk menilai risiko tanpa mengalami kebosanan, sesuatu yang sering terjadi. 

Pekerjaan yang diotomatisasi memungkinkan anggota tim untuk fokus pada pekerjaan lain yang membutuhkan lebih banyak input manusia. 

Jika mengikuti prosedur yang tepat, RPA akan mengurangi risiko dan juga banyak pekerjaan lain yang terkait. Namun, teknologi ini perlu dimonitor, terutama pada masa awal untuk mengecek apakah dapat diterapkan untuk keseluruhan proses di perusahaan. 

Memahami ketika Risiko Berarti Peluang

Perlu dipahami, bahwa risiko tidak selalu buruk. Risiko yang besar memiliki kemungkinan untuk diatasi, bahkan pada pekerjaan yang dilakukan dari jarak jauh. 

Investasi pada risiko membuka peluang bagi pekerjaan yang tadinya tertutup karena ketiadaan faktor keamanan yang jelas. Peluang baru di sektor baru artinya lebih banyak klien dan juga peluang. 

Keuntungan jangka panjang dari pengelolaan risiko yang tepat akan melebihi investasi yang harus dilakukan saat ini. 

Di sisi lain, kegagalan untuk bertindak mengatasi risiko akan mengarah pada kerugian yang lebih besar. 

Pelanggan dan klien yang terkena risiko dari sebuah perusahaan akan menjauh, merusak reputasi, dan menderita kerugian keuangan yang besar. 

Di sisi sebaliknya, mengakui dan secara proaktif bekerja untuk mengatasi risiko baru akan mendatangkan kepercayaan, kemudian mengarah pada keamanan yang lebih baik dan kepuasan. 

Dari situ, perusahaan dapat tumbuh, meskipun secara jarak jauh, karena mengetahui bahwa data mereka dan juga pelanggan akan aman. 

Akhirnya, risiko adalah risiko, baik virtual atau bukan. 

Perusahaan yang secara aktif merespon ancaman dan memiliki rencana untuk menghadapi tantangan di masa depan akan mendapatkan keuntungan. 

Sementara itu, untuk bekerja dari jarak jauh seperti yang saat ini marak terjadi, perusahaan yang siap menghadapi risiko akan memiliki peluang untuk menemukan titik lemah dalam infrastruktur kemudian membangun cara baru untuk menghadapi ancaman sebelum anggota kembali bekerja di kantor. 

Kata kunci untuk menghadapi risiko bagi perusahaan adalah melakukan perencanaan, investasi, dan pelatihan.

Tiga hal ini akan membantu menyiapkan perusahaan dan meyakinkan klien, bahwa data mereka aman, meskipun ketika menghadapi gangguan global di masa datang. 

Leave a Reply