Kiat (Tips)

Dale Carnagie: Ketertarikan pada Orang Lain

Seorang sastrawan di zaman Romawi bernama Publilius Syrus menyatakan bahwa, “Kita tertarik pada orang lain ketika mereka tertarik pada kita.”

Menunjukkan ketertarikan, seperti juga prinsip menjalin hubungan dengan orang lain haruslah tulus dan jujur. Keduanya harus seimbang, baik pada orang yang menunjukkan ketertarikan, dan mereka yang menerima perhatian. Pendek kata, menunjukkan ketertarikan berlaku dua arah dan kedua belah pihak saling menerima keuntungan atau manfaat.

Sebuah ketertarikan dan perhatian pada orang lain dapat saja mengubah hidup seseorang. Seperti pada kisah berikut ini.

Saat itu saya berusia sekitar sepuluh tahun. Saya berada di sebuah rumah sakit dan besok akan menjalani operasi ortopedi. Benak saya pun sudah dipenuhi dengan kekhawatiran dalam bulan-bulan ke depan harus berdiam diri, tidak nyaman, dan mungkin kesakitan. Ayah saya telah meninggal dunia, kemudian ibu dan saya tinggal berdua di sebuah apartemen yang sederhana. Hari itu, ibu tidak bisa menjenguk saya.

Seiring berjalannya waktu, saya merasa kesepian, putus asa, sekaligus takut. Saya pun tahu, pasti ibu di rumah juga sangat khawatir dengan kondisi saya, sendirian, dan tak ada seorang pun yang menemani. Lebih parah, mungkin ibu tak memiliki teman makan malam, bahkan mungkin tak ada uang untuk membeli makan malam itu.

Air mata sudah menggenang di mata saya. Kemudian saya pun menyembunyikan kepala di bawah bantal. Saya menangis dalam diam, sedih sekali, dan pada saat yang sama tubuh saya terasa sakit semua.

Kemudian seorang calon perawat mendengar isakan tangis saya. Dia pun beranjak mendekati saya.

Dia membuka bantal yang menutupi kepala saya dan mulai menghapus air mata itu. Dia kemudian bercerita betapa kesepian dirinya, karena harus bekerja di hari itu dan tidak bisa bersama-sama dengan keluarganya. Dia pun kemudian bertanya, apakah saya bersedia makin malam bersamanya?

Kemudian dia membawa dua buah nampan berisi irisan daging angsa, kentang tumbuk, saus cranberry, dan es krim sebagai penutup mulutnya.

Sambil makan, dia mengajak saya berbincang dan meredakan ketakutan saya. Meskipun dia dijadwalkan harus pulang pukul 16.00, ternyata dia tetap bertahan menemani saya hingga pukul 23.00. Dia mengajak saya bermain gim, berbincang, dan tetap bertahan di situ hingga akhirnya saya tertidur.

Bertahun-tahun sudah lewat sejak saat itu. Namun, saya akan selalu mengingat malam itu, ketika saya frustasi, takut, kesepian, serta kehangatan dan kelembutan orang asing yang entah bagaimana membuat semua perasaan tidak nyaman itu berhasil dilewati.

Pelajaran dari kisah ini adalah, jika Anda ingin orang lain menyukai Anda, jika ingin membangun persahabatan yang tulus, jika ingin menolong orang lain dan pada saat yang sama menolong diri Anda, maka ingatlah prinsip: benar-benar dan tulus tertarik pada orang lain.

Leave a Reply