Diary Kiat (Tips)

Tips: 10 Tahun Menjadi Seorang Suami

Photo by Oziel Gómez on Unsplash

Apa saja tips yang bisa dipetik dari perjalanan 10 tahun menjadi seorang suami?

Dalam tulisan kali ini, saya ingin berbagi makna hari Natal bagi keluarga kami dan beberapa pelajaran berharga yang bisa dipetik dari perjalanan 10 tahun berumah tangga atau khusus untuk saya adalah 10 tahun menjadi seorang suami.

Makna Natal

Sebelumnya, meskipun saat ini suasana Natal dan tahun baru sedikit berbeda karena adanya pandemi, tetapi semoga tidak mengurangi makna Natal itu sendiri. Oleh karena itu, izinkan saya mengucapkan selamat mengikuti rangkaian dan perayaan Natal bagi teman-teman yang merayakannya, semoga kedamaian tercurah di hati, di bumi, untuk kita semua.

Bertepatan dengan hari Natal 10 tahun yang lalu atau pada tanggal 25 Desember tahun 2010, saya bersama istri melangsungkan pernikahan. Artinya pada tanggal 25 Desember 2020 atau Natal tahun ini, pernikahan kami telah berulang tahun yang ke 10. Hal ini juga berarti, bahwa saya sudah menjadi seorang suami selama 10 tahun, sehingga mohon izin nanti ada beberapa hal yang ingin saya bagikan sebagai pelajaran dari perjalanan ini.

Makna Natal yang kedua bagi keluarga kami adalah pada tanggal 25 Desember 2016, ayah mertua saya, atau bapak dari istri saya meninggal dunia. Semoga beliau damai di sana, diterima amal ibadahnya, dan dilapangkan kuburnya, aamiin.

Karena dua peristiwa itu, pernikahan dan meninggalnya orang tua kami, maka setiap Natal menjadi istimewa bagi keluarga kami.

Kewajiban Suami

Seperti yang sudah disebutkan di bagian awal, saya ingin berbagi pengalaman dan pelajaran dari perjalanan 10 tahun menjadi seorang suami.

Namun, sebelum itu, ada baiknya kita mengingat kembali apa saja kewajiban seorang sumai kepada istrinya. Sesuai pesan yang saya terima dari Bapak saya, maka ada tiga kewajiban seorang suami.

Kewajiban suami pertama adalah ngayani

Artinya memenuhi kebutuhan seorang istri. Kewajiban ini pun tertulis di buku nikah, yaitu bahwa kewajiban seorang suami adalah memberikan nafkah baik lahir maupun batin kepada istri. Oleh sebab itu, maka beragam cara ditempuh oleh seorang suami agar mampu memenuhi kewajibannya ini.

Kewajiban suami yang kedua adalah ngayomi

Artinya melindungi keselamatan dan harga diri seorang istri. Saat ini, di tengah situasi yang aman, maka perlindungan tak selalu bermakna pasang badan. Namun, menurut saya perlindungan itu bisa juga dalam bentuk pesan-pesan sederhana, seperti untuk berhati-hati, ketika istri akan pergi bekerja, saat bepergian, dan lain-lain. Perlindungan juga mungkin bisa diwujudkan dalam tindakan sederhana, misalnya dengan mengingatkan apakah sudah makan atau belum dan hal-hal kecil semacam itu.

Kewajiban suami yang ketiga adalah ngayemi

Artinya selalu berusaha membuat istrinya bahagia. Bisa jadi ini adalah hasil dari dua kewajiban sebelumnya. Ketika kita mampu memenuhi kebutuhan dan memberikan perlindungan, maka hasil akhirnya adalah kebahagiaan seorang istri.

Meskipun bagi sebagian orang ada juga yang percaya, bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh orang lain, tetapi oleh yang bersangkutan. Namun begitu, tetap saja jika dalam satu keluarga dipenuhi kebutuhannya dan diperoleh rasa aman, maka kenyamanan dan kebahagiaan semoga akan mengikuti kemudian.

Pelajaran dari 10 tahun Menjadi Seorang Suami

Setelah kita menengok dan mengingat kembali kewajiban seorang suami, maka kini kita beranjak pada pembahasan berikutnya, yaitu pelajaran dari perjalanan 10 tahun menjadi seorang suami.

Sebelumnya perlu saya infokan terlebih dahulu, bahwa ini semata-mata berdasarkan pengalaman pribadi semata. Oleh karena itu, barangkali ada yang sesuai dengan teori, mungkin banyak yang tidak mengikuti teori, atau bahkan ada yang tidak sesuai dengan pengalaman dan harapan teman-teman.

Oke, kita langsung mulai saja untuk delapan pelajaran dari 10 tahun menjadi seorang kepala keluarga.

Pelajaran Pertama adalah Mengalah

Sore itu, sepuluh tahun yang lalu hati saya dag dig dug tidak karuan, karena sebentar lagi akan melaksanakan ijab kabul di acara akad nikah. Kemudian pada saat itu telepon genggam saya berdering. Rupanya mantan bos saya, Pak Priyadi Kardono menelpon.

Pertama beliau menyampaikan permohonan maafnya karena tidak bisa hadir di resepsi pernikahan yang akan digelar esok hari. Kedua beliau memberikan pesan, bahwa dalam setiap pernikahan harus ada seseorang yang bersedia mengalah.

Nah, karena itulah, maka mengalah saya tempatkan di pelajaran yang pertama. Kemudian pada saat saya menjalani kehidupan berumah tangga, terbukti resep dari Pak Pri tersebut sangat mujarab.

Seperti kita ketahui, dalam setiap rumah tangga pasti ada dinamika yang terjadi, bukan? Barangkali dinamika tersebut bisa berubah menjadi pertengkaran antara suami istri. Nah, jika itu yang terjadi, maka kemampuan untuk mengalah menjadi sangat penting. Sebab, jika kedua-duanya berteriak, maka siapa yang akan mendengar?

Pelajaran ke Dua adalah Bersabar

Dalam suatu keluarga, tentu banyak harapan, mimpi, dan keinginan yang ingin dicapai. Namun, kita harus menghadapi kenyataan bahwa tidak semua hal bisa dicapai.

Dalam kondisi seperti itu, maka bersabar menjadi satu-satunya jalan yang bisa ditempuh.

Pelajaran ke Tiga adalah Memperbaiki Diri

Teman-teman, kendati kita sudah melangsungkan pernikahan selama bertahun-tahun, tetap saja setiap hari baru terjadi kejutan-kejutan.

Sebab, setiap pribadi manusia berubah setiap hari. Seiring dengan bertambahnya usia, asupan informasi dan gizi, peningkatan pengetahuan, bacaan, tontonan, dan lain-lain, maka seseorang pun tak lagi sama dengan hari kemarin.

Oleh sebab itu, maka setiap hari baru menjadi peluang baru bagi kita untuk memperbaiki diri dan mengenal kembali pasangan kita. Tujuan dari upaya ini tentu agar mampu membahagiakan pasangan.

Pelajaran ke Empat adalah Komunikasi

Yang saya maksudkan komunikasi di sini bukan terbatas pada apa yang disampaikan melalui perangkat berbicara, yaitu mulut kita atau melalui lisan kita.

Komunikasi juga berkaitan dengan berbagai bahasa yang tak sempat diucapkan oleh lisan. Artinya bagaimana membaca bahasa tubuh, melalui lirikan mata, bentuk bibir, naik-turunnya alis, kerutan di jidat, dan semacam itu.

Sangat penting bagi pasangan suami istri untuk memiliki kemampuan komunikasi baik lisan maupun non lisan tersebut.

Pelajaran ke Lima adalah Memahami

Setelah memiliki kemampuan komunikasi lisan dan bukan lisan, maka diharapkan kita dapat memahami apa yang menjadi keinginan, harapan, persoalan, dan juga kekhawatiran pasangan.

Namun begitu, memahami ini pun tidak mudah, karena setiap orang tak pernah ajeg atau tetap atau konstan. Namun, setiap orang adalah pribadi yang selalu berubah setiap hari.

Oleh sebab itu, maka tak jarang kesalahpahaman pun terjadi. Dengan demikian, maka memahami pasangan kita adalah proses yang tak kenal henti, tetapi terus terjadi dari hari ke hari. Apabila pemahaman kita baik, maka harapannya dapat memberikan respon yang tepat pada berbagai pesan yang disampaikan oleh pasangan dan akhirnya mampu memenuhi pesan-pesan tersebut.

Pelajaran ke Enam adalah Menerima Kekurangan

Arti dari menerima kekurangan adalah kita mampu untuk bukan hanya menerima kelebihan pasangan, tetapi juga menerima lengkap dengan berbagai kelemahannya.

Satu fakta yang mungkin jarang diketahui adalah bahwa masa bulan madu itu paling lama sebulan. Ini memang masa yang penuh keindahan dan kemesraan, ciyeeee….

Namun, setelah itu, kita kembali pada kehidupan nyata, ketika kita mendapatkan pasangan seperti banyak orang lain. Artinya mereka pun memiliki kelebihan dan kekurangan sebagaimana layaknya manusia.

Kemampuan menerima kekurangan ini sangat penting, lho, karena kita akan hidup, bergaul, dan bertemu setiap hari dengan pasangan. Jika tidak mampu menerima kekurangan, maka akan seperti apa rumah tangga kita nantinya?

Pelajaran ke Tujuh adalah Bahwa Cinta itu Terberi

Pelajaran ini saya dapatkan dari mentor saya Mas Aulia Muhammad di salah satu sesi IG Live beliau. Saat itu Mas Ia menyampaikan, bahwa cinta itu terberi, artinya dia datang begitu saja dan kita tinggal menerima.

Proses ini pun akan terjadi dari hari ke hari dengan kadar yang berubah-ubah. Artinya pada hari tertentu kita akan merasakan sangat mencintai pasangan. Namun, di hari lain, mungkin kadarnya jauh menurun.

Melihat kenyataan itu, maka tidak banyak yang bisa kita lakukan kecuali menerima naik dan turunnya perasaan cinta itu sebagai suatu proses yang sudah selayaknya dinikmati, bukan?

Pelajaran ke Delapan adalah Menyikapi Pertengkaran

Meskipun saya sudah menjadi seorang suami selama 10 tahun, tetapi kadang masih gagap dan terbata-bata jika menghadapi suatu pertengkaran.

Kemudian dari sesi Aulia Muhammad lagi, saya mendapati satu pelajaran menarik mengenai pertengkaran. Begini pelajaran itu:

Ketika aku dan kamu bertengkar, bahkan setiap hari. Maka biarkan saja, hingga suatu ketika pertengkaran itu pergi sendiri dan tinggallah aku dan kamu.

Uhuy, banget, bukan? Hahaha.

Nah, dari situ kita melihat, bahwa pertengkaran hendaknya tidak dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan. Namun, anggaplah dia sebagai bagian dari bumbu-bumbu penyedap rasa dalam kehidupan berumah tangga. Tak jarang, setelah pertengkaran yang seru, justru terjadi percumbuan yang gemuruh, hahaha.

Penutup

Demikian kira-kira delapan pelajaran yang saya dapatkan dari perjalanan 10 tahun membina rumah tangga dan menjadi seorang suami dan sekaligus bapak.

Mohon maaf jika sekiranya apa yang saya bagikan masih sangat dangkal, sebab tentu banyak di antara teman-teman yang jauh lebih senior, bahkan mungkin telah memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak dalam membina rumah tangga.

Motivasi saya membuat catatan ini lebih sebagai pengingat diri sendiri mengenai perjalanan yang telah dilalui dan sebagai modal untuk meniti jalan panjang di masa depan yang masih membentang.

Semoga juga dengan membagikan delapan pelajaran dari pengalaman 10 tahun menjadi suami ini ada manfaat yang bisa dipetik. Terutama bagi Bapak Muda atau Calon Bapak Muda atau Pengantin Baru.

Kendati demikian, saya pun tidak akan meng-klaim, bahwa pengalaman saya ini yang paling baik dibandingkan dengan suami-suami lainnya.

Termasuk saya juga tidak akan bilang, bahwa jalan hidup saya sebagai seorang suami selama 10 tahun adalah yang terbaik.

Setiap kita memiliki pilihan masing-masing, seperti saya yang memutuskan menikah dan menjadi seorang suami 10 tahun lalu.

Namun, mungkin saja ada di antara teman-teman yang karena berbagai pertimbangan memilih untuk tidak menikah. Kemudian bisa jadi karena berbagai alasan ada yang memilih untuk menjadi orang tua tunggal.

Seperti kata Coach Ely Susanti dalam bukunya ‘Move On’, maka tidak ada yang benar dan salah dalam setiap piliah manusia. Yang ada adalah siap atau tidak siap dalam menjalani konsekuensi dari setiap pilihan yang kita ambil.

Artinya, jika saya telah memilih menjadi seorang suami 10 tahun lalu, maka saya pun harus siap dengan berbagai konsekuensi yang dihadapi pada saat menjadi suami tersebut. Demikian juga teman-teman lain yang memiliki pilihan-pilihan sendiri-sendiri, setiap kita pun perlu menyiapkan diri terhadap konsekuensi-konsekuensi dari tiap pilihan tersebut.

Akhirnya, terima kasih banyak kepada istri yang telah sabar menerima berbagai tingkah laku saya sepuluh tahun ini. Kemudian kepada anak-anak yang juga telah dengan penuh kesabaran menerima polah tingkah Bapaknya hampir enam tahun ini.

Saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada keluarga besar di Magelang, di Solo, di Temanggung, di Jakarta, di Bekasi, dan di manapun berada. Tak lupa, terima kasih juga saya sampaikan ke teman-teman semua yang telah sudi membaca hingga ke kalimat ini.

Semoga kita semua selalu sehat dan bahagia.

Salam Sukses!

PS: jika Anda malas membaca tulisan ini, maka bisa didengarkan Podcast-nya di Spotify dengan kata kunci ‘Kata Sridewanto Pinuji’. Kemudian yang lebih suka mainan YouTube, maka ada video sederhana di Channel saya, Sridewanto Pinuji dengan isi yang sama dengan di Spotify.

Leave a Reply