Diary Kepemimpinan Narasi Penanggulangan Bencana Tokoh

Pak Wisnu

B. Wisnu Widjaja (1961-2020)

Yogyakarta, 2010

Hari-hari itu siang di Jogja terasa aneh.

Matahari tak mampu menembus partikel yang melayang-layang di udara itu. Warna siang pun menjadi tak cemerlang, tetapi berwarna orange. Gerah terasa, karena partikel itu pun memerangkap panas matahari. Sementara untuk bernapas sulit, karena masker yang harus dipakai dan udara yang terpolusi oleh partikel berwarna putih agak abu-abu. Partikel itu adalah abu dari kepundan Merapi yang di tahun itu sedang punya gawe.

Di sebuah kantor yang sepertinya masih baru, beberapa orang sibuk di depan komputer. Saat itu saya bersama Adi Kurniawan, Anshori, dan beberapa kawan lain sibuk memelototi layar komputer. Mengubah data tabel menjadi peta-peta yang nantinya akan digunakan oleh para petugas di lapangan untuk menanggulangi erupsi Merapi.

Di ruang yang lain, para pemimpin institusi penanggulangan bencana di Indonesia tak kalah sibuk. Wajah-wajah itu tegang mengikuti perkembangan keadaan dari waktu ke waktu. Saat itu ada Syamsul Maarif, Sugeng Triutomo, dan juga Wisnu Widjaja.

Gempa-gempa vulkanik di perut Merapi semakin sering terjadi, kepulan asap di puncak tak tampak, karena tebalnya abu. Wajah Jogja pun berubah, selimut abu putih kelabu itu menutupi apa saja, mulai dari tanaman, jalan, kendaraan, semua hal. Di sisi utara gunung, di daerah Muntilan lebih parah. Di jalanan pasir setebal 15 cm menutup jalan menjadikannya licin ketika berpadu dengan air hujan. Rumah-rumah pun doyong tak mampu menahan beban pasir yang hinggap di genteng.

Perkembangan data kian mencemaskan. Gawe Merapi saat itu benar-benar serius. Mbah Rono yang senantiasa memberikan update hajatan Merapi tak hilang gelisah melihat berbagai parameter yang menunjukkan Merapi akan segera sampai di puncak aktivitasnya.

Pada saat yang sama, hampir setengah juta orang yang semula tinggal di pinggang Merapi harus menyingkir. Memberikan kesempatan gunung berapi paling aktif di dunia itu menuntaskan hajatnya. Orang-orang itu berada di tempat evakuasi, ada yang di stadion baru, ada pula yang menyingkir jauh hingga ke Wonosari di Gunung Kidul atau ke Temanggung di Jawa Tengah.

Di saat itu pula, saya harus menyiapkan keperluan pribadi berupa pernikahan yang akan diselenggarakan di penghujung tahun 2010. Perut saya mules membayangkan harus meminta izin barang sehari untuk melakukan sesi pemotretan prapernikahan.

Kepada Pak Wisnu sebagai koordinator Pos AJU Penanganan Erupsi Merapi, artinya Komandan kami semua di tempat itu, saya pun memberanikan diri meminta izin.

“Pak, saya mohon izin barang sehari, karena ada keperluan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan.” Kata saya hati-hati. “Nanti selama saya izin, ada teman yang akan menggantikan tugas saya.” Saat itu saya kembali melanjutkan penjelasan dan memperkenalkan Aji Putra Perdana kepada Pak Wisnu. Dialah yang akan menggantikan saya selama saya berhalangan bertugas di Posko.

Tanpa banyak tanya, Pak Wisnu pun memberikan izin itu. Sungguh lega saya menerima izin yang diberikan.

Hari berganti, Merapi tak juga berhenti menyemburkan apa saja dari dalam perutnya. Hingga pada suatu malam, akhirnya letusan yang ditunggu-tunggu sejak siang itu pun terjadi. Kepanikan melanda, para pengungsi yang masih terlalu dekat dengan zona bahaya pun perlu diungsikan ke tempat yang lebih aman.

Dampak letusan itu pun membubarkan Pos Penanganan Erupsi Merapi milik Kabupaten Sleman yang berkedudukan di Pakem. Entah ke mana para petugas di sana. Intinya, kami tak lagi menerima data dari lapangan mengenai kondisi pengungsi, korban, dan kebutuhan mereka. Padahal data itu yang ditunggu oleh Kepala BNPB, Syamsul Maarif.

Pak Wisnu mondar mandir dari ruangan pimpinan ke ruangan yang kami gunakan untuk mengolah data. Namun, informasi yang diharapkan tak juga kunjung tiba, karena pos di lapangan tidak ada lagi. Hingga akhirnya, Pak Syamsul pun tak berkenan, dan Pak Wisnu kena teguran.

Anehnya, Pak Wisnu tak marah kepada kami. Namun, kami tahu betul beliau memendam kecewa itu. Akhirnya, saya menyaksikan Pak Wisnu menghentak-hentakkan kakinya di lantai sambil berkata, “Bocah-bocah iki kok yo suwi to yo!” Kira-kira artinya, “Anak-anak ini kenapa lama sekali.” Maksudnya tentu merujuk kepada data yang tak kunjung bisa kami sampaikan hingga beliau kena tegur.

Akhirnya, kami para pengelola data hanya bisa menunduk dan saling lirik.

Bali, 2017

Akhir tahun 2017 adalah kegelisahan di sisi sebelah utara Pulau Bali. Di arah Timur Laut dari Kota Denpasar, Gunung Agung menggeliat, memberikan ancaman jika meletus kepada para penduduk di Kabupaten Karangasem. Sebuah Pos Pendampingan Nasional pun didirikan di sebuah bangunan pelabuhan bernama Tanah Ampo yang tak terpakai untuk mendukung upaya penanggulangan erupsi Gunung Agung.

Saya datang ke sana bersama Suprapto. Seperti biasa, karena kami berkaitan dengan pendataan, maka segera membuka laptop dan siap mengelola data apa saja yang masuk. Saya ingat sekali, ruangan di bangunan kantor pelabuhan itu demikian panas. Sebab, kendati dekat dengan laut, tetapi kaca-kaca besar yang menghadap laut itu tak mungkin dibuka. Sulit sekali berkonsentrasi pada kondisi semacam itu.

Namun, lambat laun data pun terkumpul dan siap disajikan. Beruntung sekali, saat itu banyak teman yang datang, mereka adalah anggota Pastigana, anak-anak muda pintar yang dikumpulkan oleh Pak Wisnu untuk membantunya.

Akhirnya, data dan pengolahan hingga penyajiannya pun diserahkan kepada Pastigana. Kemudian dalam perkembangannya, teman-teman Pastigana dengan Dewa Putu AM malah semakin mengembangkannya hingga membuat semacam aplikasi bernama ‘Cek Posisi’. Dengan Cek Posisi, seseorang akan tahu di mana keberadaannya terhadap zona bahaya erupsi Gunung Agung.

Di suatu sore yang lengas, mendadak seseorang memberikan informasi kepada saya, “Mas, dipanggil Pak Wisnu.” Kata orang itu singkat.

Tanpa membuang waktu, segera saya kemasi segala peralatan ke dalam tas, dan bergegas menuju ke ruangan di ujung, tempat Pak Wisnu mengendalikan semua operasi penanggulangan erupsi Gunung Agung. Semua anggota dari Pusdatinhumas yang ditugaskan Pak Sutopo ke Tanah Ampo saya ajak turut serta menghadap Pak Wisnu.

Ruangan itu sederhana saja, hanya ada beberapa kursi dan diisi oleh teman-teman dari kedeputian satu yang dipimpin Pak Wisnu. Pemimpin itu sendiri memiliki meja kerja sederhana di ujung. Sudah hampir sebulan beliau berada di lokasi itu. Namun, seperti tak kenal lelah, senyum yang terbentuk di bawah kumis lebat itu masih mengembang dengan lebar melihat kami datang.

Setelah berputar-putar membicarakan berbagai hal, akhirnya tiba saatnya Pak Wisnu memberikan tugas kepada kami.

“Mas, saya dibantu untuk membuat suatu tulisan terkait dengan kondisi yang kita hadapi. Besok, kalian berputar-putar di sekeliling Gunung Agung, rekam berbagai kejadian dan buat beritanya.” Kata beliau singkat. “Intinya adalah bagaimana caranya mengajak mereka yang belum bersedia mengungsi untuk mengungsi. Kedua, bagaimana caranya agar wisata di Pulau Bali ini tetap bisa berjalan.”

Kami saling pandang. Saat itu ada Andri Cipto Utomo, Theopilus Yanuarto, Suprapto, Muhammad Zaki Zamani, dan banyak lagi. Semua masih belum paham apa yang harus dilakukan. Namun, kami tak boleh banyak tanya, karena masih banyak tamu lain yang akan menghadap Pak Wisnu. Setelah dirasa cukup, kami pun segera mohon diri.

Esoknya, mulailah tugas aneh, dengan sedikit petunjuk, sekaligus belum dipahami benar itu kami coba kerjakan. Kami pun memutar ke lambung sebelah utara dari Gunung Agung di sebuah daerah bernama Pantai Amed. Di sana Andri Cipto Utomo mengambil beberapa gambar menggunakan drone. Kemudian perjalanan dilanjutkan kembali, makin mendekati kaki Gunung Agung, tetapi masih di zona yang aman. Di sana bertemu dua turis dari Australia. Setelah itu, kami terus berputar-putar hingga tempat pengungsian di GOR Klungkung. Untuk kisah ini, Anda bisa membaca di Blog saya, pinuji.net dengan judul ‘Perlukah Promosi Wisata Gunung Agung?’.

Pendek kata, sepanjang hari itu kami berputar-putar di pinggang Gunung Agung mencatat apa saja, mengumpulkan berbagai bahan untuk berita, menanyai siapa saja yang ditemukan, dan kegiatan reportase lainnya. Sesampainya di penginapan, hasil perjalanan itu pun kemudian dituliskan. Setelah jadi, dikirimkan ke Pak Wisnu. Syukurlah, beliau berkenan. Kemudian terakhir dikirimkan ke Pak Sutopo yang berada di Jakarta, syukur juga, beliau berkenan. Akhirnya itulah tulisan pertama yang menjadi awal dari sebuah konsep baru bernama ‘Wisata Bencana’.

Wisata bencana di awal kemunculannya bukanlah perkara yang mudah. Masih banyak yang belum bisa menerima konsep ini. Namun, Pak Wisnu dan Pak Sutopo bergeming, beliau berdua tetap jalan terus untuk memperkenalkan konsep ini. Tujuannya hanya satu, yaitu agar Bali tetap bisa bertahan kendati Gunung Agung sedang punya gawe.

Waktu pun berlalu sebagaimana kodratnya. Gunung Agung sudah kembali tenang dan semua kembali ke rumah masing-masing. Boleh jadi sudah satu tahun sejak peristiwa di sekitar Amlapura, Karangasem, Bali itu.

Di suatu siang, mendadak saya menerima pesan melalui WhatsApp. Di situ, Pak Wisnu mengirimkan tangkapan layar (screenshoot) diskusi di FB yang riuh mengenai wisata bencana. Pak Wisnu bilang, “Mas, apa yang kita lakukan dulu membuahkan hasil.” Butuh waktu lama bagi otak saya yang kurang encer untuk menghubungkan maksud Pak Wisnu. Namun, lambat laun saya pun menyadari apa yang beliau maksudkan. Saya jawab, “Siap, Pak.”

Jakarta, 2018-2019

Akhirnya setelah sekian lama, saya pun dipindahtugaskan dari arahan Pak Sutopo menjadi di bawah Pak Wisnu. Ada beberapa hal yang bisa saya ingat pada periode ini. Sekitar dua kali saya dipanggil khusus menghadap melalui sekretarisnya. Biasanya hal itu dilakukan pagi-pagi sekali saat belum banyak tamu beliau yang hadir.

Kesempatan pertama adalah ketika beliau menyampaikan, “Saya sudah menuliskan beberapa buah pemikiran sepanjang turut serta menanggulangi bencana. Saya ingin menjadi sebuah buku.” Kata beliau pagi itu.

Gayung bersambut, saya pun siap jika ditugaskan menuliskan atau mengembangkan buah pemikiran beliau itu. Tercatat ada sekitar 30 poin butir pemikiran. Masing-masing hanya terdiri dari satu hingga dua kalimat saja. Setelah saya baca, butir-butir pemikiran itu masih sangat acak dan sulit dirangkai.

Akhirnya, saya bisa menyusun pemikiran-pemikiran itu dan mengelompokkan mengikuti siklus penanggulangan bencana, mulai dari pra, saat, hingga pascabencana. Kemudian ada pengembannya, yaitu antara alam dan bencana serta upaya penanggulangan bencana secara umum. Sampai saat ini, saya baru berhasil menuliskan Bab mengenai Alam dan Bencana. Selain itu gelap, karena hanya Pak Wisnu yang mengetahui bagaimana cara mengembangkan butir-butir pemikirannya tersebut.

Kemudian kesempatan kedua datang, kali ini pun diskusi panjang terjadi dengan tema Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Kesejahteraan. Beliau yang lebih banyak berbicara dan saya mencatat sambil sesekali mengajukan pertanyaan.

Setelah itu ada beberapa kesempatan lain saya dipanggil Pak Wisnu, semuanya terkait dengan tulis menulis. Misalnya ketika menyiapkan pidato Kepala BNPB yang ditunjuk menjadi Ketua Satuan Tugas Penanganan COVID-19. Menyiapkan paparan beliau, menemani tugas ke Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, menemani menjadi narasumber, dan tugas-tugas lain semacam itu.

Dewo Wisnu

Kendati seorang pemimpin yang sangat tinggi jabatannya, tetapi Pak Wisnu bukan pemimpin yang sangar. Beliau akan memimpin rapat dengan santai dan tak jarang berkelakar. Sebab nama panggilan saya di kantor Dewo, beliau suka menggabungkan dengan namanya sendiri, menjadi Dewo Wisnu. Hahaha. Hal itu terjadi dalam beberapa kesempatan rapat kalau kami berdua hadir. “Oke, inilah rapat para dewo,” katanya memecahkan ketegangan. Barangkali ini kenangan pribadi yang tak mudah saya lupakan di waktu-waktu yang akan datang.

Selanjutnya, mohon maaf jika uraian berikut kurang lengkap atau tidak tepat. Ini hanya berdasarkan pengetahuan saya yang terbatas dan logika sederhana saja.

Menurut saya, Pak Wisnu benar-benar mencoba mewujudkan arti dari namanya. Beliau ingin seperti Dewa Wisnu yang memelihara alam semesta. Bahkan, sebelum, pada saat, dan setelah krisis terjadi. Dalam salah satu butir pemikiran yang dibagikan kepada saya, inilah yang beliau tulis:

Memelihara alam akan menuai berkah, merusak alam akan menuai musibah.

B. Wisnu Widjaja

Anda pun dapat membaca, bukan, bahwa beliau menggunakan kata memelihara. Persis seperti peran Dewa Wisnu dalam kepercayaan Hindu. Sayang, saya tak sempat bertanya kepada beliau, apakah benar, bahwa ‘why-nya’ beliau itu adalah untuk memelihara keseimbangan alam. Namun, dugaan saya begitu. Dan hal itu tercermin dari berbagai langkah dan strategi yang beliau ambil.

Beberapa pesan yang sering disampaikan oleh Pak Wisnu adalah:

  1. Setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolahnya, ini mengutip dari ajaran Ki Hajar Dewantoro.
  2. Empat prioritas aksi Sendai: mengenali risiko, mengelola risiko, investasi untuk ketangguhan, dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
  3. Pengurangan risiko bencana.
  4. Ketangguhan dalam menghadapi bencana.
  5. Ibu/Srikandi siaga bencana.
  6. Sekolah lagi, Mas, baru karier.

Dan…. Masih banyak lagi….

Beberapa teladan yang diingat, bukan dari perkataannya, tetapi dari tindak tanduknya:

  1. Data paling pagi pulang paling akhir.
  2. Belajar terus.
  3. Mendengarkan masukan dari siapa saja.
  4. Sabar dan tak pernah kehilangan kendali.

Dan…. Masih banyak lagi….

Akhirnya, seperti juga saat kepergian Pak Sutopo, sulit sekali untuk menerjemahkan apa yang terjadi. Seperti ada yang hilang di kedalaman sana dan tak mungkin diisi dari kepergian seorang Bapak, Pemimpin, dan Guru.

Sugeng tindak, Pak; Selamat jalan, Pak.

Selamat bertemu kembali dan pastinya asyik berdiskusi dengan Pak Sutopo di sana.

Semoga damai di surga. Amin.

Leave a Reply