Penanggulangan Bencana Perubahan Iklim

Pendekatan untuk Pengurangan Risiko Bencana dan Perubahan Iklim

Photo by David Clode on Unsplash

Organisasi pembangunan, institusi penanggulangan bencana, dan para praktisi atau pekerja kemanusiaan semakin menyadari perlunya integrasi antara upaya pengurangan risiko bencana dan perubahan iklim.

Perhatian yang Sama

Ada banyak persoalan yang mirip antara pengurangan risiko bencana dan perubahan iklim yang perlu diselesaikan.

Di antaranya adalah bahwa masyarakat terpapar kejadian bencana yang disebabkan oleh faktor iklim atau hidrometeorologi. Kemudian dampaknya juga diprediksi akan semakin besar mengingat intensitas dan frekuensi bencana karena faktor iklim pun semakin meningkat.

Dampak dari perubahan iklim terjadi secara berkala, seperti peningkatan muka air laut, peningkatan suhu udara, dan pencairan lapisan es.

Sementara itu, bencana yang tidak berkaitan dengan faktor iklim antara lain adalah gempa, letusan gunungapi, dan bocornya bahan-bahan kimia.

Adapun jenis bencana yang berada di tengah, artinya menjadi perhatian perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana adalah semakin meningkatnya intensitas dan frekuensi kejadian bencana terkait iklim, seperti banjir, badai, kekeringan, dan tanah longsor.

Lebih lanjut, masyarakat yang terpapar bencana semakin tertekan karena perubahan dalam waktu yang lama di kondisi iklim, seperti perubahan musim tanam, curah hujan yang sulit diprediksi, dan meningkatnya muka air laut.

Semua kondisi itu kemudian berdampak pada mata pencaharian dan kesehatan masyarakat. Akhirnya membuat masyarakat tersebut semakin rentan terhadap berbagai gangguan, kejadian bencana, dan perubahan lainnya.

Pengertian Risiko yang Sama

Baik pengurangan risiko bencana dan perubahan iklim memiliki kesamaan dalam memahami berbagai komponen yang menyebabkan risiko dan proses-proses dalam membangun ketangguhan.

Dua pendekatan memandang risiko sebagai hasil dari keterpaparan dan kerentanan, baik pada ancaman bencana dan dampak dari perubahan iklim.

Semakin besar kerentanan, keterpaparan, dan kemungkinan terjadinya bencana, maka akan semakin besar pula risikonya.

Keterpaparan dan kerentanan sejatinya disebabkan oleh faktor lain, yaitu kondisi sosial dan lingkungan. Contohnya adalah urbanisasi dan degradasi lingkungan, serta pasar dunia yang semakin global.

Oleh sebab itu, untuk mengurangi risiko bencana dan iklim, keterpaparan dan kerentanan perlu dikurangi. Sementara itu di sisi lain kapasitas harus ditingkatkan dengan cara mengupayakan solusi untuk pengurangan risiko bencana dan juga perubahan iklim. Kemudian hendaknya upaya tersebut tidak saling bertentangan satu dengan yang lainnya.

Akhirnya, proses itu menjadi suatu yang dinamis dan melibatkan banyak faktor seperti ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, institusi, dan politik agar bisa tercapai perpindahan dari kerentanan menjadi ketangguhan.

Dampak yang Sama

Dampak dari suatu kejadian bencana dan perubahan iklim memiliki konsekuensi yang hampir mirip pada masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak, bahkan semakin meluas hingga persoalan hak asasi manusia.

Kejadian bencana yang disebabkan oleh faktor iklim dapat menyebabkan kerugian dan korban yang sangat besar.

Selanjutnya, kondisi tersebut akan meningkatkan kerentanan yang akhirnya akan mengurangi pemenuhan dan pengakuan terhadap hak asasi manusia.

Upaya pengurangan risiko bencana dan perubahan iklim memiliki tujuan yang sama, yaitu memperkuat masyarakat dan intervensi pembangunan yang nantinya akan mengarah pada kesadaran penuh kenikmatan dari pemenuhan hak asasinya.

Leave a Reply