Lingkungan

Pelajaran Sejarah tentang Kepunahan Peradaban

Photo by Mike van Schoonderwalt from Pexels

Suku bangsa Maya Adalah sebuah peradaban yang bersemangat dan memiliki kebudayaan tinggi. Bangsa Maya tinggal di wilayah Amerika Tengah.

Salah satu wilayahnya, di permukiman yang bernama Copan telah diteliti secara detail untuk mengetahui alasan dari runtuhnya peradaban di sana.

Penelitian dari Webster menunjukkan bahwa pada tahun 400 Masehi pertumbuhan penduduk mulai menghadapi hambatan lingkungan, terutama di sektor pertanian dan kapasitas daya dukung lahan.

Di sana, para penduduknya sangat bergantung pada 1 jenis bahan makanan, yaitu maizena.

Pada abad keenam, daya dukung lahan di lahan-lahan yang subur sudah terlampaui dan para petani mulai bergantung pada ekosistem yang rentan.

Hasil pertanian tidak lagi menguntungkan bagi para pekerja dan terjadi kegagalan produksi pertanian. Akhirnya tidak mampu memenuhi kebutuhan penduduk.

Kemudian pada pertengahan abad kedelapan ketika populasi penduduk mencapai puncaknya, terjadi deforestasi yang meluas dan erosi. Hal itu memicu penurunan produktivitas dan permasalahan, karena masyarakat berpindah ke lahan-lahan yang tidak subur.

Pada abad kedelapan dan kesembilan bukti-bukti menunjukkan tingginya tingkat kematian pada anak-anak dan orang dewasa. Selain itu, kekurangan gizi juga meluas. Kemudian para bangsawan yang memimpin wilayah itu tumbang pada tahun 820 hingga 822 Masehi.

Studi kasus yang kedua adalah di Pulau Paskah. Di lokasi ini menunjukkan ciri-ciri yang sama dengan apa yang terjadi pada suku bangsa Maya yang menunjukkan visi dari Thomas Malthus mengenai kegagalan lingkungan untuk menopang kebutuhan penduduk.

Pulau Paskah berada sekitar 2000 mil dari lepas pantai Cile. Para pengunjung yang datang ke sana menyampaikan bahwa ada 2 karakteristik dari pulau itu.

Pertama adalah adanya patung-patung yang diukir dari batu-batuan vulkanik.

Kedua adalah vegetasi yang ada di sana sangat jarang, meskipun pulau tersebut memiliki iklim dan kondisi kesuburan tanahnya mendukung.

Keberadaan patung-patung dari batuan dan didirikan di tempat yang jauh dari lokasi penggalian menunjukkan adanya suatu peradaban yang maju.

Namun, saat ini ini tidak ada bukti-bukti yang menunjukkan hal itu.

Pertanyaannya adalah, apa yang terjadi pada masyarakat di sana?

Jawaban singkatnya adalah meningkatnya populasi dan ketergantungan yang sangat tinggi pada kayu untuk rumah, membuat perahu, dan memindahkan patung-patung.

Tuntutan masyarakat tersebut pada akhirnya telah menghilangkan hutan di sana.

Kemudian hilangnya hutan menyebabkan erosi tanah, berkurangnya produktivitas tanah, dan terutama menghilangkan produktivitas makanan.

Kemudian bagaimana komunitas di Pulau itu bereaksi terhadap kelangkaan makanan?

Ternyata respon sosial yang muncul adalah perang dan yang cukup mengejutkan adalah kanibalisme.


Saat menghadapi suatu kelangkaan, masyarakat akan bereaksi dengan mengubah perilaku untuk beradaptasi pada hilangnya pasokan sumber daya. Respon ini juga menunjukkan suatu upaya untuk menyelesaikan masalah.

Kondisi itu menjadi bukti suatu ujaran, bahwa kebutuhan adalah ibu kandung dari inovasi.

Meskipun demikian, kebutuhan yang memicu inovasi tidak terjadi pada peristiwa ambruknya peradaban suku Maya dan kehidupan di Pulau Paskah.

Kebutuhan di dua lokasi itu tidak secara otomatis memicu respon yang dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan.

Hal ini menunjukkan, bahwa terkadang reaksi sosial dari masyarakat tidak mampu menyelesaikan persoalan, bahkan membuatnya lebih buruk.

Leave a Reply