Kepemimpinan

Kesempurnaan Akan Menghambat Anda saat Krisis

Source: http://bit.ly/KeithNegley

Saat krisis, realitas dan situasi dapat berubah dengan sangat cepat, bahkan dalam hitungan jam.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan masa-masa normal, ketika banyak faktor telah diketahui dan dapat diprediksi. Dalam kondisi ini, maka pengejaran terhadap kesempurnaan sangat mungkin dilakukan.

Lain halnya ketika krisis terjadi dan ketidakpastian menjadi satu kepastian yang akan terjadi. Selain itu, sulit memprediksi arah dari suatu krisis, sehingga tindakan pun tak mungkin sesuai dengan teori yang selama ini berlaku.

Saat krisis, maka tak ada waktu untuk kesempurnaan.

Dr. Michael Ryan adalah Direktur Eksekutif WHO untuk Program Kedaruratan Kesehatan. Dia sudah berpengalaman di garis terdepan saat terjadi krisis, seperti pandemi COVID-19 dan Ebola.

Dia bilang, “Jika Anda harus benar dalam setiap tindakan, maka Anda akan terlambat. Kecepatan akan mengalahkan kesempurnaan. Kemudian kesempurnaan tersebut akan mengacaukan berbagai tindakan yang diperlukan saat melakukan upaya kedaruratan.”

Di tengah berbagai ketidakpastian, maka para pemimpin di berbagai sektor seringkali harus mengubah: strategi dalam rantai pasok, peraturan dalam melakukan operasi, dan membuat berbagai inovasi baru seiring berjalannya krisis dan waktu.

Semua upaya tersebut membutuhkan kelincahan. Namun, ada satu persoalan, terutama bagi para pemimpin karena pikiran kita tidak didesain untuk meraih kelincahan.

Tiga Tantangan

Terdapat tiga tantangan hasil evolusi yang terjadi pada pikiran manusia, yaitu distraksi (pengalih perhatian), empati, dan ego.

Selama bertahun-tahun, pikiran kita mudah teralihkan perhatiannya. Sudah sejak lama, perhatian terus-menerus pada berbagai bahaya di tempat tinggal kita telah menolong kehidupan umat manusia.

Pikiran kita juga terhubung dengan baik pada empati, karena ini menolong kita untuk berkumpul bersama banyak orang dan menciptakan komunitas atau masyarakat yang sekarang ini dikenal.

Selain itu, pikiran juga terhubung dengan ego, sebuah mekanisme dasar untuk menjaga kelestarian hidup umat manusia.

Seorang pemimpin yang lincah, mampu mengelola tiga tantangan tersebut dengan baik.

Melawan Distraksi

Saat menghadapi distraksi, maka seorang pemimpin perlu melakukan zoom out untuk melihat gambaran besar dari krisis yang terjadil. Selanjutnya melakukan zoom in untuk melihat aksi yang perlu segera dilakukan dalam waktu singkat.

Namun, hal tersebut bisa jadi sulit dilakukan karena: lebih banyak pesan di grup WhatsApp, lebih banyak rapat, dan lebih banyak berita.

Banjir informasi seperti tersebut di atas meningkatkan risiko distraksi, menyulitkan pemimpin untuk tetap sadar dan fokus.

Saat pikiran seorang pemimpin berpindah dan meloncat-loncat dari satu hal ke hal lainnya, itu bukan lincah. Namun, mengikuti setiap hal yang memerlukan perhatian, tanpa strategi agar tetap fokus dan disiplin pada prioritas yang diperlukan.

Melawan kemudahan teralihkan perhatian memerlukan kelincahan mental untuk berpindah dari fokus ke kesadaran.

Fokus adalah kemampuan untuk tetap pada satu titik perhatian pada tugas yang diemban dan secara efektif mengeksekusi prioritas yang diperlukan.

Kesadaran adalah kemampuan kita untuk melihat gambaran besar, masa depan, dan perubahan yang akan terjadi di masa mendatang. Kesadaran semacam itu memungkinkan seorang pemimpin untuk mendeteksi dan menilai perubahan di lingkungan, dengan tetap berfokus pada nilai-nilai organisasi.

Yang paling penting dari upaya untuk berfokus dan kesadaran adalah kemampuan untuk membedakan antara sinyal-sinyal yang kita perlukan dan noise atau gangguan yang tidak diperlukan.

Setelah menilai gambaran besar, maka perlu fokus untuk merespon secara baik, mengirimkan berbagai sumber daya yang diperlukan, dan melakukan eksekusi tindakan dengan penuh disiplin.

Guna meningkatkan kemampuan untuk fokus dan sadar, maka seorang pemimpin seringkali mempraktikkan midnfullness (memusatkan perhatian) melalui meditasi, latihan pernapasan, dan praktik lainnya.

Tantangan Ego

Ego dalam diri seorang pemimpin seringkali berhubungan dengan kesuksesan di masa lalu dan bagaimana dia menggunakan pendekatan-pendekatan yang biasa dilakukan.

Sayangnya, seringkali kesuksesan masa lalu tersebut tidak lagi relevan dan beragam pendekatan yang tadinya berhasil kini tidak lagi. Kondisi ini, tak jarang melukai ego seorang pemimpin. Akhirnya, mereka cenderung memeluk lebih erat dunia yang selama ini diketahui.

Ego membunuh kemampuan kita untuk lebih lincah menyikapi keadaan.

Satu resep untuk mengatasi ego adalah dengan tidak mementingkan diri sendiri. Kita lebih berfokus pada misi yang harus dijalankan saat ini dan tidak khawatir pada popularitas, keuntungan, dan pengaruh.

Bagi seorang pemimpin, ini berarti dengan jujur mengakui bahwa dirinya tidak selalu mengetahui jawaban dari berbagai pertanyaan. Ini juga bermakna membuka diri untuk menerima berbagai saran, pandangan, dan dukungan. Serta mengakui dengan sepenuh hati, bahwa diperlukan lebih dari sepasang mata untuk melihat masa depan.

Tantangan Empati

Empati adalah kemampuan untuk mengenali dan merasakan emosi orang lain. Bagi pemimpin, kemampuan berempati ini memang sangat penting.

Namun, saat di masa krisis, empati dapat menjadi penghalang untuk melakukan tindakan yang benar. Empati dapat menurunkan kelincahan.

Selain empati, kita pun mengenal kasih sayang atau compassion dalam Bahasa Inggris.

Empati merasa sedih saat orang lain berduka dan menjadi bagian dari perasaan kita tanpa melakukan tindakan apa pun.

Di sisi lain, compassion lebih membangun. Ini dimulai dari empati yang kemudian beralih menjadi tindakan keluar dengan niatan untuk membantu.

Agar seorang pemimpin mampu menerapkan compassion, maka ada satu pertanyaan sederhana yang bisa menolongnya, yaitu, “Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu orang lain?”

Bagi para pemimpin yang bekerja saat krisis, dapat menghadapi tiga tantangan dengan lebih fokus dan sadar, mendahulukan orang lain, dan menerapkan compassion. Dengan melakukan hal ini, maka seorang pemimpin akan lebih berhati-hati, tetapi tetap mampu melakukan berbagai tindakan dengan lincah.

Sumber: https://hbr.org/2020/04/perfectionism-will-slow-you-down-in-a-crisis

Leave a Reply