Diary Kiat (Tips)

Hidup adalah Nrimo ing Pandum

Pada suatu masa di negeri seberang….

Tersebutlah seorang Bapak tua yang baru saja pensiun dari kerajaan dan memutuskan pulang kampung. Gajinya yang selama ini dihemat dan terkumpul kemudian digunakan untuk membeli seekor kuda.

Setibanya di kampung, dia memungut seorang anak menjadi putranya. Kemudian, Bapak tua itu, anaknya, dan kudanya hidup bertiga.

Suatu hari, anaknya sakit dan tidak bisa menemani Bapaknya ke hutan untuk mencari kayu bakar dan menjualnya ke pasar.

Tetangga pun datang ke rumah Bapak itu dan mereka mengatakan, “Malang sekali nasibmu, Pak, memungut anak malah sakit dan tak bisa menemanimu ke hutan.”

Bapak itu pun dengan tenang menjawab, “Nasib baik, nasib buruk, siapa yang tahu?”

Setelah selesai mengumpulkan kayu bakar, Bapak itu pun mencari kudanya. Sayangnya, kuda itu pun hilang tak tentu rimbanya.

Dia berjalan gontai membawa kayu pulang ke rumah. Di tengah jalan, tetangga yang melihatnya pun berkata, “Malang sekali nasibmu, Pak, sudah anak sakit, sekarang kuda pun hilang.”

Bapak itu dengan tenang menjawab, “Nasib baik, nasib buruk, siapa yang tahu?”

Biar pun anak sakit dan kuda hilang, Bapak itu berangkat tidur dengan tersenyum. Baginya, besok ya dipikir besok, karena setiap hari ada persoalannya sendiri.

Belum lama dia terlelap, di luar rumah ramai para tetangga berdatangan. Saat dia melangkah keluar, kini di kandang tak hanya seekor kuda yang hadir.

Saat itu, bersama kuda miliknya kini sudah ada empat kuda lain yang turut datang.

Keramaian di luar itu pun ternyata terjadi karena tetangga heboh dengan kehadiran kuda-kuda itu. Mereka bilang, “Beruntung sekali nasibmu, Pak, sekarang malah datang empat kuda baru.”

Bapak itu kemudian dengan tenang menjawab, “Nasib baik, nasib buruk, siapa yang tahu?”

Setelah Sang anak sembuh, dia senang sekali dengan kuda-kuda yang ada di kandang. Akhirnya, salah satu kuda itu dinaiki cukup kencang.

Hingga suatu ketika…..

Kuda itu terperosok di lubang dan terjerembab membawa serta anak yang ada di punggunya jatuh. Alhasil, kaki Sang Anak pun patah.

Setelah mengetahui informasi itu, para tetangga pun datang lagi. Mereka bilang, “Sungguh malang sekali nasibmu, Pak. Baru saja anak sembuh, eh, sekarang malah kakinya patah.”

Bapak itu pun seperti biasa menjawab dengan tenang, “Nasib baik, nasib buruk, siapa yang tahu?”

Hari berganti lagi…..

Kali ini datanglah pengumuman dari kerajaan tentang adanya perang. Semua pemuda dan suami muda harus turut serta. Mereka yang boleh tinggal adalah lelaki yang cacat dan sudah tua.

Karena persyaratan itu, maka Sang Anak pun tak ikut pergi berperang.

Tetangga pun lagi-lagi datang dan mereka bilang, “Beruntung sekali, Pak, suami dan anak kami harus berperang, sementara anakmu boleh tetap tinggal di rumah.”

Bapak itu pun kemudian menjawab dengan tenang, …..

===

Prolog

Demikian cerita ‘Bapak, Anak, Tetangga, dan Nasib’ (judul asal dari saya), seperti yang dituturkan oleh Life Coach Ely Susanti dengan sedikit perubahan.

Pada Jumat, (23/10), Komunitas YSA dalam sesi mingguannya kedatangan tamu istimewa, yaitu Life Coach Ely Susanti. Dia menjadi pembicara pada sharing session malam itu yang berjudul, ‘Life is Not for Happiness’

Source: Komunitas YSA

Sebagai sebuah catatan, tulisan ini tidak mengikuti urutan acara. Namun, akan terbagi ke dalam beberapa bagian agar Anda lebih mudah memahaminya.

Bagian pertama adalah cerita yang sudah Anda baca. Bagian kedua adalah materi yang disampaikan Ibu Ely pada malam itu. Kemudian bagian terakhir adalah sedikit profil dari Ely Susanti.

===

Materi Coach Ely

Sebagian besar orang umumnya berpikir untuk mendapatkan atau mengejar kebahagiaan. Anehnya, dalam proses pengejaran itu justru tidak bahagia, karena mereka merasa belum sampai pada kebahagiaan yang diinginkan.

Ely pun meminta kepada anggota Komunitas YSA untuk bertanya pada diri sendiri:

“Bahagia adalah ….”

Apa pun yang Anda isi dalam titik-titik tersebut menunjukkan, bahwa bahagia selalu memiliki tujuan yang ingin dicapai, makna yang dicari, dan segudang arti yang hanya berlaku untuk diri Anda sendiri.

Setiap manusia memiliki program sebagai sesuatu yang dipercaya oleh individu yang bersangkutan. Sayangnya, manusia tak bisa memilih program itu.

Kita, sebagai manusia, tak bisa memilih akan dilahirkan dari siapa, memiliki pekerjaan seperti apa, menempuh jalur pendidikan yang bagaimana.

Kembali ke pertanyaan ‘Bahagia adalah ….’, maka Kita belum bahagia, karena belum mampu memberi jawaban pada titik-titik itu.

Banyak orang tidak bahagia, karena terlalu fokus mengejar tujuan. Ini laksana, meminum kopi pahit tidak bisa menikmati pahitnya, karena kita mencari manis dalam kopi tersebut.

Kita juga menginginkan sesuatu yang enak dan berarti menolak yang tidak enak. Jika kita ingin sehat, maka kita menolak sakit. Jika ingin kaya, maka menolak miskin, dan contoh lainnya.

Nah, sekarang, tahukah Anda, bahwa program yang menjadi landasan operasi hidup kita bisa diubah secara sadar.

Namun, semua itu bergantung pada keyakinan atau pemikiran. Misalnya, Anda meyakini bahwa jika seseorang kaya, maka pastilah dia banyak berbuat dosa dan akan masuk neraka. Dengan keyakinan seperti itu, maka Anda akan merasa bersalah ketika menjadi kaya.

Oleh karena ada pola pikir begitu, maka program hidup kita perlu diubah. Tujuannya adalah agar kita mampu membuat pilihan. 

Kemudian dengan pilihan-pilihan itu, akhirnya kita memiliki kuasa untuk mengaktifkan berbagai hal dan program untuk mencapai apa yang membuat kita bahagia. Di sisi lain, kita mampu menon-aktifkan berbagai hal yang tidak kita inginkan.

Tantangannya adalah, seringkali kita tidak sadar akan hal yang aktif dan non-aktif tersebut.

Ely pun menyarankan agar kita membuat pertanyaan, sebab bertanya adalah suatu cara untuk membuat sesuatu yang tadinya berada di alam bawah sadar dan tidak dikenal menjadi suatu kesadaran dan lebih akrab.

Contoh pertanyaan tersebut adalah: “Bahagia adalah ….”

===

Beberapa Tanggapan/Jawaban atas Pertanyaan Peserta

  1. Ketika kita memprogram, bahwa kebahagiaan ada dalam hal-hal yang mampu kita kendalikan, hal kecil, dan bisa dicapai dengan mudah, maka saat itulah kebahagiaan mudah dicapai. Pertanyaan dari Ely dalam menanggapi pernyataan ini adalah, “Apakah hal itu dapat dicapai atau tidak? Apakah efektif? Jika ternyata tidak efektif, maka perlu terus belajar lagi dan bertumbuh.
  2. Ilmu bahagia ternyata bisa berasal dari mana saja. Namun, selama suatu ilmu bahagia sesuai dengan yang Anda harapkan, maka disarankan agar tetap digunakan. Kondisi ini artinya tidak cepat-cepat berganti guru, karena belum tentu cocok.
  3. Tidak semua kutipan (quote) di internet bisa diterapkan begitu saja dalam hidup. Apalagi jika tidak bisa membuat Anda lebih bahagia. Bukan salah kutipan itu, tetapi mungkin saatnya masih belum tepat.
  4. Kita tidak bisa menuntut semua orang agar paham suatu persoalan, mematuhi aturan, dan lurus-lurus saja.
  5. Tidak apa-apa ternyata, kalau kita tidak bahagia, selama kita masih hidup, dan selamat.
  6. Membahagiakan orang lain perlu dilakukan jika membuat kita bahagia, karena pada faktanya kita tidak bisa membahagiakan semua orang.
  7. Mencari jawaban dari pertanyaan, “Bahagia adalah ….” bagi tiap individu akan berbeda, ada yang telah menemukannya dalam hitungan detik. Namun, ada juga yang membutuhkan berbulan, bahkan tahun untuk meyakinkan diri dan kemudian sepenuh hati meyakini jawaban itu.
  8. Membandingkan adalah salah satu contoh, bahwa bahagia bagi seseorang belum final dan belum yakin dengan arti kebahagiaannya sendiri.
  9. Kadang-kadang kita memiliki terlalu banyak pilihan mengenai makna kebahagiaan, sehingga pada akhirnya kita justru kebingungan harus memilih yang mana. Namun, sebenarnya hal itu terjadi karena kita belum siap menerima berbagai konsekuensi dari pilihan-pilihan itu.

===

Cara Menemukan Kebahagiaan:

  1. Melihat persoalan yang menjadi akar ketidakbahagiaan, menyelesaikannya, dan bukan malah sibuk mengejar kebahagiaan yang pastinya tidak akan tercapai tanpa menyelesaikan akar permasalahannya.
  2. Berlatihlah menuliskan arti bahagia atau jawaban dari pertanyaan “Bahagia adalah ….” 
  3. Jika memiliki banyak pilihan mengenai kebahagiaan, maka letakkan semua pilihan itu dan kemudian jatuhkan pilihan akhir pada yang terbaik dan sekaligus paling siap dengan konsekuensinya.
  4. Berhentilah, lakukan instropeksi, dan capai kesadaran melalui berbagai pertanyaan kenapa suatu perasaan terjadi. Misalnya ketika seseorang menjadi marah saat sedih atau kecewa. Apa penyebab kemarahan itu? Apakah kemarahan itu muncul karena tidak ingin terlihat lemah?

===

Epilog

Jika direnungkan, tidak ada hidup yang hanya berada di satu sisi, selalu ada dua sisi; seperti senang dan sedih, siang dan malam, dan lainnya.

Dengan demikian, hidup hendaknya menjadi suatu perjalanan (journey) untuk meraih kebahagiaan.

Kebagiaan dalam hidup adalah berhadapan dengan apa pun yang muncul dan kemudian bisa menerimanya dengan legawa. Ini adalah sebuah sikap untuk menerima  berbagai hal yang terjadi dalam hidup.

Anda bisa bahagia kapan saja saat sudah berhenti mempertanyakan, memaknai, memberi arti, dan mengharuskan terjadinya kebahagiaan itu sendiri.

Anda bisa bahagia ketika nerima ing pandum, menerima apa pun yang terjadi dalam kehidupan, apa pun yang diberikan oleh kehidupan.

Sehingga saat berbagai hal terjadi dalam hidup kita, baik itu senang dan sedih, siang dan malam, gelap dan terang, atau lainnya, maka kemudian dengan tenang kita bisa menjawab:

“Nasib baik, nasib buruk, siapa yang tahu?”

===

Sekilas Profil Ely Susanti

Source: Instagram Ibu Ely

Ely Susanti adalah seorang Life Coach mengenai kehidupan dan berbagai hal mengenai manusia, termasuk persoalan kebahagiaan seseorang.

Ely telah menerbitkan buku berjudul ‘Move On’. Ely memiliki website di sini.

Dari pengalamannya yang panjang melakukan Coaching, Ely pun menemukan beberapa hal paling penting, yaitu berhenti menghakimi orang lain. Dia percaya, bahwa berbagai pilihan setiap orang dalam hidup adalah benar, selama orang tersebut siap dengan konsekuensinya.

Ely dalam profesinya bukan memberikan solusi. Menurut Ely, manusia sudah sempurna dengan segala masalah dan sekaligus jawabannya.

Itulah yang membuat Ely mencintai profesinya, dia menyebut dirinya sendiri bukan sebagai Life Coach, tapi pembelajar.

Coaching sendiri menurut Gregorius Chandra berfungsi seperti sebuah cermin yang bertugas untuk mempercantik, menjernihkan, dan memperjelas berbagai pikiran orang lain. Tujuannya adalah mencari dan kemudian menawarkan solusi terbaik dari pikiran orang itu sendiri.

Anda mau Coaching menulis? Hahaha….

Cheers! Terima kasih sudah membaca hingga baris ini.

Tabik.

Leave a Reply