Categories
Kiat (Tips)

Optimalisasi Executive dan Nge-Branding!

Bagaimana melakukan optimalisasi terhadap executive dan nge-branding?

Dalam dua minggu ini, Jumat malam membuat saya bergairah. 

Yups, Anda tidak salah baca. Yang bikin bergairah itu bukan malam Jumat, tapi sekali lagi Jumat malam

Sebab gairah itu memuncak adalah karena di Jumat malam menjadi waktu bagi Komunitas YSA untuk saling berbagi. 

Jumat kali ini (16/10) adalah waktu bagi Coach Humphrey Rusli dan Coach Ronny Henuk untuk berbagi. 

Coach Humphrey berbagi mengenai: Optimasi Kinerja Eksekutif, karena bukan IG saja yang perlu optimasi.

Sementara itu, Coach Ronny membagikan info mengenai: Branding Kreatif yang Memprovokasi Marketing. 

Dari judulnya saja sudah keren, kan? Nah, mari sekarang kita telusuri mutiara-mutiara informasinya. 

Pertama, Prinsip Dagang

Coach Humphrey bilang, “Beli murah, jualnya mahal; bayar lambat, tagihnya cepat!” 

Coach Ronny berkata, “Strategi mendapatkan untung adalah melalui penjualan atau menurunkan biaya!”

Jadi teman-teman, prinsip dari berdagang adalah kalimat-kalimat yang disampaikan dua Coach beken itu. 

Lalu, apa persoalannya? 

Persoalannya adalah prinsip-prinsip itu saja tidak cukup. Diperlukan suatu strategi tertentu, yaitu optimalisasi eksekutif dan branding. 

Kedua hal itu menjadi penting mengingat dalam berdagang selalu ada kompetitor yang akan bersaing dengan kita untuk merebut konsumen. 

Kedua, Mengenal Eksekutif

Perlu diketahui dulu ciri-ciri eksekutif. Mereka bukan sekadar melakukan apa yang diperintahkan oleh atasan. 

Para eksekutif memiliki tugas utama, yaitu untuk memberi anak atau cucu bagi perusahaan induk. Tujuannya adalah menghasilkan arah income atau pemasukan baru yang pada gilirannya akan memperbesar asset suatu perusahaan. 

Jadi, eksekutif bukan SDM, bahkan yang bergaji tinggi sekalipun. Eksekutif memiliki PR besar, seperti yang sudah disebutkan di atas. 

Lantas, bagaimana mengoptimalisasi para eksekutif tersebut? 

Ketiga, Optimalisasi Eksekutif

Guna melakukan optimalisasi terhadap para eksekutif, maka terlebih dahulu perlu mengetahui beberapa kesalahan yang seringkali tanpa sadar dilakukan oleh para pekerja, yaitu: 

  1. Bekerja tanpa rencana

Sebagai eksekutif, maka perlu memiliki kalendar kerja. Di dalamnya memuat apa yang harus dilakukan pada pukul berapa. Misalnya, Senin 08.00 s/d 09.00 membuat perencanaan bisnis. Kemudian begitu seterusnya, setiap saat sudah direncanakan apa yang harus dilakukan

  1. Bad Meeting

Seringkali kita terjebak dari rapat ke rapat, bukan? Waktu yang diperlukan lama, tapi tak jelas arah dan tujuannya. Terkadang agenda yang ditentukan untuk suatu bahasan justru tidak membahas persoalan yang direncanakan. Meeting pun akhirnya bukan menyelesaikan masalah, tetapi justru menimbulkan masalah baru. 

  1. Tidak ada runtutan dalam tindakan

Kenapa aktivitas harus berurutan? Alasannya ternyata adalah agar mudah diketahui prosesnya dan dapat dievaluasi dengan mudah. Kemudian jika terjadi hal yang tidak berhasil, maka bisa dipelajari alasan di balik kegagalan itu, sehingga upaya korektif pun dapat dilakukan. 

  1. Emosional 

Orang yang emosian atau suka marah-marah, biasanya mengganggu alur logika berpikirnya. Coach Humphrey membuat contoh sebuah gunting. Jika tidak marah, maka logika di atas. Jika marah, maka logika di bawah. Bagi para eksekutif, bertindak tanpa logika dan hanya mengandalkan emosi dapat berbahaya untuk bisnisnya.  

  1. Tidak melakukan Analisis

Ini semacam buku dosa yang berisi masalah-masalah dalam bisnis. Kemudian dari setiap masalah perlu dianalisis apa akar persoalannya, bagaimana memecahkannya, siapa yang harus menyelesaikan permasalahan itu, dan siapa yang harus dilibatkan untuk menyelesaikan persoalan. 

Keempat, Gunung Es

Nah, itulah kesalahan-kesalahan para eksekutif yang seringkali dapat dengan mudah dilihat. Lima poin di atas kemudian menjadi suatu puncak dari gunung es yang mudah kelihatan. Sejatinya, hal-hal itu adalah gabungan dari Keputusan, Aksi, dan Kebiasaan. 

Permasalahannya kemudian adalah apa yang berada di bawah puncak gunung es dan tidak kelihatan? 

Inilah beberapa hal yang terjadi, tetapi sulit dilihat. Hal-hal yang justru dapat memengaruhi para eksekutif dan perlu dioptimalisasi. 

  1. Skill atau keterampilan yang tidak diasah, misalnya berbagai soft skill, seperti kepemimpinan, resolusi konflik, komunikasi, kreativitas, berpikir di luar kotak (out of the boxes), dan lainnya. 
  2. Belief atau melakukan hal yang benar. Jangan-jangan selama ini kepercayaan atau belief yang dianut keliru, misalnya mempercayai bahwa semua hal harus dikerjakan sendiri. Paradigma ini perlu diubah, misalnya dengan melakukan pendelegasian dan memberi kepercayaan kepada orang lain dalam organisasi. 
  3. Value atau sesuatu yang berharga. Ini berkaitan dengan pertanyaan: Apa yang bisa didapat dalam waktu dekat? Akhirnya perlu keseimbangan antara hal-hal dan capaian yang ingin diperoleh dalam waktu dekat (short term) dan jangka panjang (long term). 
  4. Identitas ini mengenai kemampuan seseorang, misalnya tidak sekadar menjalankan apa kata pemimpin di suatu organisasi, tetapi berani menantang cara kerja, tentu dengan dilengkapi data, strategi, alasan, dan lainnya. 

Itulah empat hal yang menjadi dasar dari sebuah gunung es dan perlu dioptimalisasi oleh para eksekutif. Jika sudah optimal, maka seorang eksekutif mampu: 

  1. Bertindak general, yaitu ketika anggota tim mengetahui ke mana arah atau tujuan dari organisasi atau bisnis yang dijalankan. 
  2. Manfaat personal, ini adalah kondisi ketika anggota tim merasakan manfaat dari apa yang mereka lakukan untuk mencapai tujuan. 
  3. Konteks, yaitu ketika anggota tim merasa bangga dengan berbagai capaian yang mereka hasilkan. 

Akhirnya, Branding for Marketing

Sekarang kita perlu berpindah pada bahasan dari Coach Ronny, yaitu bagaimana branding mampu mendorong dan mempermudah marketing. 

Masih ingat, kan, apa kata Coach Ronny mengenai bisnis?

Dia bilang, untuk menghasilkan untung adalah dengan melakukan penjualan dan menurunkan biaya. Kemudian agar untung makin besar, maka biaya serendah-rendahnya, penjualan setinggi-tingginya. 

Penjualan itu sendiri sangat bergantung dari banyak faktor eksternal, tetapi menurunkan biaya dapat dilakukan salah satunya dengan branding! Lalu bagaimana memahami marketing dan branding? 

Marketing ini seperti mendorong balok kayu ke dalam gudang, semakin banyak energi marketing yang dikeluarkan, maka semakin banyak pula biaya yang dibutuhkan. 

Branding, sebaliknya, mampu mengubah balok kayu menjadi bola, sehingga tidak terlalu banyak marketing dan biaya yang dikeluarkan untuk melakukannya. 

Inilah yang disebut oleh Coach Ronny dalam postingannya di Instagram, bahwa Sexy Branding Shape your Marketing. Dalam bahasa yang lebih mudah, branding bisa memprovokasi marketing. 

View this post on Instagram

🥰 BRANDING YANG HEBAT MAMPU MEMBUAT KERJA MARKETING JADI LEBIH EFFISIEN 🤩 Banyak orang berkata bahwa BRANDING hanya menghabiskan biaya karena tidak bisa diukur tingkat keberhasilannya. Karena tidak bisa mengukur hasil dari BRANDING dengan jumlah sales. Kata diatas sangat populer dikalangan pebisnis. Kita memang tidak bisa mengukur efektivitas dari sebuah BRANDING, tetapi kita PASTI bisa mengukur kinerja marketing kita yang berjalan TANPA BRANDING. Karena dengan BRANDING yang kuat akan lebih mengeffisienkan kinerja marketing kita. Apakah itu BRAND mu? Ataukah anda lebih suka "🔥 Membakar uang anda untuk biaya MARKETING 🔥" ? "Belajar BRANDING kreatif yang bisa MEMPROVOKASI kinerja MARKETING kita". Jangan lupa, Jumat 16 Oktober 2020 pkl. 19.00 wib. Hanya di @KomunitasYSA @mrbobbychen @gregoriuschandra @humphrey_rusly @ivananwar.id Salam sukses, ✌ Saya Ronny  𝘿𝙍.  𝘽𝙍𝘼𝙉𝘿𝙄𝙉𝙂 𝗖𝗥𝗘𝗔𝗧𝗘 ✌ 𝗦𝗛𝗔𝗥𝗘 𝖧𝖾𝗅𝗉 & 𝖤𝗆𝗉𝗈𝗐𝖾𝗋 𝖬𝗈𝗋𝖾 𝖯𝖾𝗈𝗉𝗅𝖾 𝖳𝗈 𝖦𝖾𝗍𝗍𝗂𝗇𝗀 𝖺 𝖡𝖾𝗍𝗍𝖾𝗋 𝖫𝗂𝗏𝖾 #instagramtips #tipssukses #tipssuksesbisnis #kontenkreator #kontenkreatif #belajarbisnispemula #tipsberwirausaha #tipsbisnis #optimasibisnis #optimasiinstagram #tipswirausaha #tipsdigitalmarketing #tipsusaha #brandingmarketing #brandvoice #bagijurus #creativefeeds #creativeinfeedsmu #bisnisbooming #microblogpemula #microblogsantuy #microbloggersantuy #personalbrandingtips #personalbrandingindonesia #microbloggerindonesia

A post shared by Dokter Branding 👨‍⚕️ (@r_onthetop) on

Kemudian, branding itu sendiri perlu menjawab beberapa pertanyaan: 

  1. Bagaimana meraih kepercayaan (trust)? 
  2. Siapa target pasar yang diharapkan? 
  3. Apa tujuan akhir dari branding, sehingga marketing pun mampu memahaminya? 
  4. Apakah sudah timbul kesadaran mengenai lini masa branding, yaitu lahir, tumbuh, dewasa, tua, dan mati? 

Adapun tahapan branding adalah: 

  1. Brand recognition atau pengenalan terhadap suatu brand, 
  2. Brand recalling atau mengingatkan kembali target pasar mengenai brand, 
  3. Top of Mind atau menjadikan brand sebagai hal yang pertama dilihat oleh target pasar, tanpa perlu bersusah-susah membaca detail, melihat logo, dan lainnya. 

Mungkin agar lebih jelas perlu diberikan contoh, yaitu: Saat Anda masuk ke mini market, apakah perlu waktu lama untuk mengambil suatu produk dari perusahaan tertentu? 

Atau… Anda langsung mengambil produk yang sudah familiar (top of mind), karena kemasan, warna, dan berbagai atribut brand lainnya? 

Situasi itu seperti, orang pintar minum …… atau air kemasan adalah ….. atau roda dua adalah …..? 

Brand-brand yang ternama mampu melakukan branding, hingga target pasar mampu dengan mudah menentukan dan mengubahnya menjadi pembelian. 

Agar tercapai situasi seperti di atas, maka yang dapat dilakukan adalah: 

  1. Menentukan pasar atau target market yang ingin disasar. 
  2. Menyiapkan produk yang dibutuhkan oleh target market tersebut.
  3. Memutuskan strategi yang akan digunakan untuk menawarkan atau menjual produk kepada target market. 

Nah, dari dua paparan Coaches tersebut, apakah Anda sudah siap untuk melakukan optimalisasi dan juga nge-branding?

Leave a Reply