Penanggulangan Bencana

Pengurangan Risiko Bencana

Photo by Benjamin Kerensa on Unsplash

Risiko bencana adalah potensi kerugian jika bencana terjadi pada bidang kehidupan, kesehatan, mata pencaharian, aset, dan layanan yang dapat terjadi pada suatu masyarakat pada periode waktu tertentu.

Pengurangan Risiko Bencana

Upaya pengurangan risiko bencana seringkali didefinisikan sebagai sebuah konsep dan praktek untuk mengurangi risiko bencana melalui upaya yang sistematis untuk menganalisis faktor-faktor penyebab suatu bencana.

Dalam hal ini termasuk mengurangi keterpaparan terhadap ancaman mengurangi kerentanan manusia, dan properti, serta pengelolaan lahan dan lingkungan yang bijak dan menambah kesiapsiagaan terhadap fenomena bencana.

Orang-orang di seluruh dunia secara terus-menerus mencari cara untuk mengurangi risiko bencana.

Beberapa di antara mereka melakukan kombinasi strategi mata pencaharian yang beragam seperti perikanan pertanian menjual tenaga dan lainnya.

Semua itu dilakukan untuk mengurangi kerentanan dan juga potensi kerugian di suatu area.

Beberapa kelompok yang lain menggunakan jejaring sosial untuk mendapatkan informasi. Misalnya mengenai daerah yang subur, kemudian daerah yang memiliki ancaman bencana seperti daerah yang sering dilanda banjir, dan kemudian menentukan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk melakukan pengurangan risiko bencana.

Risiko bencana, kemiskinan dan mereka yang terpinggirkan membatasi berbagai pilihan dan efektivitas upaya pengurangan risiko bencana.

Kemudian tantangan lainnya adalah proses urbanisasi.

Ketika migrasi atau perpindahan penduduk mengekspos warga yang pindah tersebut pada situasi yang kurang familiar, sehingga mereka tidak memiliki pengetahuan dan juga perangkat untuk mengelola atau mengurangi risiko di tempat yang baru.

Beberapa informasi tambahan dari situs prevention web https://www.preventionweb.net/risk/drr-drm.

Pengurangan risiko bencana dan pengelolaan risiko bencana.

Tujuan dari kebijakan dan upaya pengurangan risiko bencana adalah untuk melakukan antisipasi dan mengurangi risiko.

Para pekerja kemanusiaan seringkali menggunakan pengurangan risiko bencana dan pengelolaan risiko bencana secara bersama bahkan terbalik pengertiannya.

Namun sebenarnya pengelolaan risiko bencana adalah wujud atau implementasi dari upaya pengurangan risiko bencana. Karena dalam pengelolaan risiko bencana menyampaikan berbagai tindakan yang diperlukan dan bertujuan untuk memperoleh atau mencapai tujuan yaitu untuk mengurangi risiko.

Risiko bencana adalah suatu indikator yang seringkali menunjukkan tingkat suatu bahaya.

Oleh karena itu, mengurangi risiko bencana memerlukan integrasi antara kebijakan pengurangan risiko bencana dan praktek-praktek pengelolaan risiko bencana ke dalam suatu bagian dari pembangunan yang berkelanjutan.

Selanjutnya kita akan membahas apa itu pengurangan risiko bencana.

Dalam sejarahnya upaya penanggulangan bencana lebih berfokus pada masa tanggap darurat. Namun di akhir abad ke-20 semakin disadari bahwa kejadian bencana bukanlah suatu hal yang alami termasuk juga bencana yang berasosiasi mungkin disebabkan oleh faktor alam.

Kemudian, hanya dengan mengurangi dan mengelola suatu ancaman keterpaparan dan kerentanan, maka kita dapat mencegah kerugian dan mengurangi dampak dari suatu bencana.

Kemudian, karena kita tidak dapat mengurangi tingkat keparahan suatu bencana alam, maka peluang satu-satunya untuk upaya pengurangan risiko bencana adalah dengan mengurangi kerentanan dan keterpaparan.

Mengurangi dua komponen risiko tersebut memerlukan identifikasi pengenalan dan juga pengurangan berbagai faktor yang mendorong risiko, Ya seringkali berhubungan dengan kondisi perekonomian yang miskin dan pilihan-pilihan pembangunan di perkotaan pengurangan kualitas lingkungan kemiskinan kesenjangan dan juga perubahan iklim.

Semua yang sudah disebutkan tersebut mampu memperparah kondisi ancaman keterpaparan dan juga kerentanan.

Oleh sebab itu, mengatasi berbagai persoalan yang tidak secara langsung dapat dilihat akan mengurangi risiko bencana mengurangi dampak perubahan iklim dan juga kejadian bencana dan secara konsisten menjaga keberlangsungan pembangunan.

Kita memerlukan upaya untuk mengelola risiko bukan hanya bencana.

Pengurangan risiko bencana adalah bagian dari pembangunan yang berkelanjutan sehingga diperlukan keterlibatan berbagai pihak seperti masyarakat pemerintah dan lembaga non pemerintah atau organisasi para profesional dan juga lembaga usaha.

Oleh sebab itu, maka diperlukan suatu tindakan atau pendekatan yang berbasis kepada manusia; pendekatan multisektor; membangun ketangguhan dalam menghadapi jenis bencana yang beragam, tumpang tindih, dan saling berkelindan; serta membangun budaya pencegahan dan ketangguhan.

Konsekuensinya kemudian adalah bahwa pengelolaan risiko bencana termasuk strategi yang didesain untuk:

  • Menghindari terjadinya risiko bencana baru
  • Mengatasi risiko yang telah diketahui sebelumnya
  • Membagi dan menyebarluaskan informasi mengenai risiko untuk mencegah kerugian dan korban akibat bencana, terutama pada hasil-hasil pembangunan yang mungkin juga akan menyebabkan kemiskinan.

Sebagai catatan, meskipun pengelolaan risiko bencana termasuk aktivitas dalam kesiapsiagaan dan respon, tetapi sebenarnya upaya tersebut lebih dari sekadar pengelolaan bencana semata.

Upaya pengurangan risiko bencana dapat berhasil karena kombinasi antara: pendekatan dari atas ke bawah (top-down), perubahan dan strategi pada institusi, serta pendekatan dari bawah ke atas (bottom-up), lokal, dan berbasis masyarakat.

Pengelolaan risiko bencana seyogyanya juga bukan program yang tunggal, tetapi perlu diintegrasikan dalam perencanaan pembangunan dan pelaksanaannya. Sebab, bencana seringkali menjadi indikator pembangunan yang tidak berhasil, proses sosial dan ekonomi yang tidak berkelanjutan, dan masyarakat yang kurang mampu beradaptasi.

Bermacam pendekatan diperlukan untuk mengatasi beberapa lapisan risiko bencana, penyebab risiko yang tidak kasat mata, dan juga risiko yang disebabkan karena kondisi lokal.

Menghadapi kondisi tersebut, maka tidak ada pendekatan tunggal yang cocok untuk upaya pengelolaan risiko bencana. Namun, kita mengenal beberapa pendekatan dan kerangka kerja yang telah terbukti efektif diterapkan untuk mengurangi risiko.

Namun, sebelum mengurangi risiko, kita perlu memahami ancaman, keterpaparan, dan kerentanan masyarakat serta aset mereka pada suatu ancaman bencana.

Bagaimana Kita Mengurangi Risiko?

Pengelolaan risiko bencana mencakup berbagai aktivitas, seperti:

Pencegahan

Pencegahan adalah aktivitas dan langkah-langkah untuk menghindari risiko bencana yang ada dan yang mungkin akan terjadi.

Seringkali, upaya pencegahan lebih hemat dibandingkan melakukan upaya tanggap darurat untuk merespon suatu bencana.

Contoh dari upaya ini adalah merelokasi orang-orang yang terancam dan aset mereka jauh dari lokasi yang berisiko atau rawan terjadi bencana.

Mitigasi

Mitigasi adalah upaya untuk mengurangi atau membatasi dampak buruk suatu bencana.

Sebagai contoh upaya mitigasi adalah pembangunan tanggul untuk mencegah banjir, menanam pohon untuk menstabilkan lereng, penerapan rencana penggunaan lahan, dan pelaksanaan kode bangunan (building code).

Transfer

Transfer adalah proses secara formal atau informal untuk mengalihkan konsekuensi pembiayaan risiko tertentu dari satu pihak kepada pihak lain.

Contoh dari mekanisme transfer risiko ini adalah asuransi.

Mekanismenya adalah keluarga, masyarakat, perusahaan, atau otoritas negara akan menerima sumber daya dari pihak lain setelah terjadinya suatu bencana.

Kesiapsiagaan

Meliputi pengetahuan dan kapasitas pemerintah, para profesional, organisasi yang melakukan upaya perbaikan, masyarakat, serta individu untuk secara efektif mengantisipasi, merespon, dan berupaya untuk pulih dari dampak suatu bencana.

Contoh upaya ini adalah sistem peringatan dini, identifikasi rute evakuasi, dan menyiapkan suplai untuk kondisi darurat.

Implementasi atau pelaksanaan aktivitas dan langkah-langkah ini jarang dilakukan secara, sendiri-sendiri tetapi melibatkan beberapa aktivitas terkait seperti:

  • Identifikasi dan pengukuran risiko bencana
  • Membangun pendidikan dan dan pengetahuan
  • Meningkatkan kesadaran dengan cara menginformasikan kepada masyarakat Arab risiko bencana yang ada di sekitarnya
  • Memasukkan pengelolaan risiko bencana ke dalam rencana pembangunan dan investasi
  • Memperkuat pengaturan institusi dan peraturan
  • Menyediakan anggaran untuk perlindungan Terhadap orang dan bisnis yang berisiko seperti pembiayaan dan juga rencana kontijensi
  • Mengintegrasikan pengurangan risiko bencana pada berbagai sektor seperti kesehatan lingkungan dan lainnya.

Aktivitas untuk mengurangi risiko dapat berupa upaya struktural, seperti perencanaan penggunaan lahan dan pelaksanaan kode bangunan (building code).

Jenis upaya yang kedua adalah non-struktural, seperti peningkatan kesadaran, pembuatan kebijakan dan peraturan.

Selanjutnya ada pula istilah pengaturan risiko (risk governance) yang meliputi bagaimana pemerintah, kekuatan sipil, dan para aktor lainnya mengorganisasikan pengelolaan risiko bencana, seperti melalui pengaturan institusi atau organisasi, peraturan, desentralisasi, dan mekanisme untuk berpartisipasi, dan akuntabilitas. Bukti-bukti terbaru menunjukkan, bahwa negara-negara yang berpendapatan rendah dengan pemerintahan yang kurang baik umumnya lebih rentan dan kurang tangguh dalam menghadapi risiko bencana.

Pada dasarnya, upaya pengurangan risiko bencana dapat sukses dalam mengurangi risiko dengan membangun kekuatan dari sumber daya yang tersedia pada masyarakat atau organisasi yang lebih dikenal sebagai kapasitas mereka. Pengelolaan risiko bencana didesain untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat, komunitas, dan sistem untuk menolak, menyerap, mengakomodasi, dan memulihkan diri, serta meningkatkan kesejahteraan dalam menghadapi berbagai bencana. Aktivitas dalam mengurangi dan mengelola risiko dengan demikian dapat menciptakan jalan untuk membangun ketangguhan pada risiko lainnya. Kemudian dalam bidang pembangunan, pengelolaan risiko bencana perlu diintegrasikan dengan berbagai sekot, seperti perubahan iklim dan juga konflik.

Identifikasi dan Memahami Risiko: Pondasi bagi Pengurangan Risiko Bencana

Kesadaran, identifikasi, pemahaman, dan pengukuran risiko bencana adalah hal-hal yang sangat penting untuk dilakukan dalam upaya pengelolaan risiko bencana. Pengurangan risiko bencana sendiri adalah mengenai keputusan dan pilihan, termasuk bermacam ketidaklengkapan, sehingga informasi risiko memiliki peran yang sangat besar dalam lima area proses pengambilan keputusan:

Identifikasi Risiko

Dampak bencana, baik itu korban dan kerugian yang disebabkan oleh bencana masa lalu tidak banyak diketahui. Selanjutnya, potensi kerusakan, korban, dan kerugian karena bencana di masa depan, termasuk bencana yang jarang terjadi dengan dampak yang sangat besar, mungkin juga belum banyak diketahui. Hal itu terjadi karena upaya pengelolaan risiko bencana seringkali tidak menjadi prioritas.

Oleh karena itu, komunikasi mengenai informasi yang akurat dan di waktu yang tepat mampu menaikkan kesadaran dan memicu tindakan.

Pengurangan Risiko

Bencana (hazard) dan informasi risiko bisa digunakan sebagai sumber informasi berbagai aktivitas untuk mengurangi risiko, dari meningkatkan kode bangunan dan mendesain langkah-langkah untuk mengurangi risiko (seperti perlindungan dari banjir dan gelombang tinggi), hingga melakukan penilaian di tingkat makro, seperti risiko yang harus dihadapi oleh jenis gedung yang berbeda untuk memprioritaskan investasi dalam pembangunan kembali dan perkuatan.

Kesiapsiagaan

Berisi pengetahuan wilayah yang terdampak bencana, termasuk intensitas dan frekuensi kejadian bencana yang berbeda-beda. Informasi ini sangat penting untuk merencanakan rute evakuasi, pembangunan tempat pengungsian, serta melakukan simulasi kesiapsiagaan.

Langkah ini memerlukan pengukuran dampak berbagai kejadian bencana, seperti potensi kerusakan bangunan, korban luka-luka, hingga bencana susulan.

Berbagai informasi tersebut memungkinkan perencanaan yang detail dan realistis untuk respon yang lebih baik terhadap bencana yang akan mengurangi tingkat keparahan suatu kejadian bencana.

Perlindungan Pembiayaan

Analisis risiko bencana lahir dalam sektor pembiayaan dan asuransi perlu menghitung dampak yang besar dari suatu kejadian bencana alam. Upaya ini dilakukan seiring dengan peningkatan upaya pemerintah untuk mengelola kedaulatan pembiayaan risiko atau mendukung program yang mengelola risiko pembiayaan individu, seperti asuransi mikro dan asuransi rumah tangga untuk gempa.

Ketangguhan Rekonstruksi

Penilaian risiko memainkan peranan yang sangat penting dalam pemodelan dampak sebelum suatu kejadian bencana terjadi, misalnya pada hari-hari sebelum terjadinya bencana banjir. Selain itu, penilaian risiko dapat memberikan prakiraan dampak secara cepat terhadap manusia, lingkungan fisik, dan juga kerugian ekonomi sesaat setelah bencana terjadi.

Informasi risiko untuk ketangguhan rekonstruksi sebaiknya tersedia sebelum bencana terjadi, karena setelah kejadian bencana seringkali tidak ada waktu lagi untuk mengoleksi informasi yang diperlukan untuk mendesain ketangguhan dan juga perencanaan penggunaan lahan.


Apabila mereka yang terekspos bencana tidak sadar dan tidak mampu melihat berbagai risiko yang harus dihadapinya, maka akan sulit untuk melihat bagaimana dan kenapa rumah tangga, dunia usaha, dan pemerintah perlu berinvestasi untuk mengurangi tingkat risikonya.

Namun, untuk meningkatkan kesadaran mengenai risiko, terutama kepada tokoh-tokoh yang berpengaruh dan penting dalam mengelola risiko yang dihadapinya, maka upaya ini hanya mampu dipahami dalam konteks yang lengkap. Artinya perlu mempertimbangkan sektor sosial, ekonomi, kewilayahan, hambatan lingkungan, dan berbagai kesempatan yang dihadapinya.

Tantangan lain dalam menginformasikan risiko adalah belum ada yang disajikan dalam format yang mudah dipahami dan digunakan, terutama untuk mereka yang membutuhkan. Meskipun berbagai penelitian mengenai risiko bencana sudah cukup lama dilakukan.

Oleh karena itu, para ilmuwan perlu mengubah fokus mereka menjadi pemenuhan informasi risiko yang mudah dipahami dan ditindaklanjuti oleh berbagai pengguna. Perubahan fokus tersebut kemudian memerlukan kolaborasi dan kemitraan di antara para peneliti dan mereka yang terlibat dalam upaya pengurangan risiko bencana, baik itu dari pemerintah hingga masyarakat di tingkat lokal.

Pemerintah perlu berinvestasi dalam pengumpulan, pengelolaan, dan penyebarluasan informasi risiko. Selain itu juga dalam bidang data atau statistik mengenai kerugian dan dampak, pemodelan bencana, basisdata keterpaparan, dan informasi mengenai kerentanan.

Kemudian pada saat yang sama, perlu ditentukan standar dan mekanisme untuk memastikan keterbukaan dan transparansi. Dengan melakukan hal ini, maka para pengguna akan mendapatkan akses ke informasi yang dibutuhkan dan mengetahui asumsi serta berbagai keterbatasan yang ada dalam data tersebut.

Perolehan informasi risiko yang mudah dipahami dan menimbulkan tindakan atau perubahan perilaku memerlukan kepekaan pada perubahan risiko itu sendiri, karena risiko tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti sosial, ekonomi, dan kerentanan lingkungan. Upaya ini dalam dilakukan melalui pengelolaan risiko dan praktik pembangunan yang berkelanjutan.

Apakah kita Mengurangi Risiko Bencana?

Ketika kita sudah melakukan upaya untuk mengurangi kematian karena bencana yang risikonya sangat tinggi, di sisi lain kondisinya berbeda.

Terjadi peningkatan keterpaparan masyarakat dan aset-aset ekonominya. Hal ini berarti tingkat kematian dan kerugian ekonomi karena risiko bencana yang tinggi masih terus meningkat dan kerugian ekonomi global karena bencana terus meningkat pula.

Beberapa negara miskin atau yang ekonominya menengah mungkin tidak memiliki ketangguhan finansial untuk menanggulangi kerugian tahunan rata-rata dari bencana yang akan terjadi di masa datang. Kondisi itu benar-benar mengkhawatirkan, karena akan mengancam eksistensi perekonomian negara-negara miskin, kepulauan, bahkan berkembang.

Kita meningkatkan risiko terhadap bencana lebih cepat dari upaya menguranginya

Lebih banyak hal yang perlu dilakukan untuk mencegah risiko baru yang sudah terlanjur meningkat karena urbanisasi, ancaman perubahan iklim, dan penyebab risiko lainnya.

Di dunia yang semakin terhubung, bencana ternyata juga menyebabkan efek yang berantai. Namun, pembangunan tetap dapat berkelanjutan, jika kita mampu mengubah pendekatan secara tepat waktu untuk mencegah risiko bencana berada pada titik yang membahayakan.

Kita telah membuat proses yang lebih banyak dalam melakukan penanggulangan bencana dibanding dalam pengurangan risiko bencana

Selama 10 tahun terakhir, terjadi peningkatan dalam hal proses untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana, melakukan respon, meningkatkan sistem peringatan dini, dan mengurangi risiko bencana tertentu. Namun, proses untuk mengelola risiko yang tidak tampak (underlying risks) masih sangat terbatas di banyak negara.

Meskipun telah diketahui cara untuk mengurangi risiko bencana, tetapi masih kurang insentif untuk melakukannya.

Baik perseorangan, pemerintah, dan dunia usaha seringkali mendiskon rendahnya kemungkinan kerugian di masa mendatang. Mereka juga enggan melakukan investasi untuk pengelolaan risiko bencana.

Meskipun biaya untuk penanggulangan bencana sangat besar, tetapi pengurangan risiko sering dipandang kurang penting atau prioritas dibanding kestabilan fiskal, pengangguran, dan inflasi.

Bukt-bukti baru menunjukkan, opportunity costs (nilai peluang) suatu bencana sangat tinggi, sehingga banyak negara miskin hingga berpendapatan menengah, termasuk negara kepulauan tidak mampu menanggulangi perkiraan kerugian di masa depan karena bencana dan pada saat yang sama melakukan upaya pembangunan.

Dengan kata lain, mereka masih belum tangguh.

Biaya dan keuntungan dari melakukan upaya pengelolaan risiko bencana perlu dimasukkan ke dalam investasi publik atau pun pribadi di berbagai tingkat, ke dalam sistem pembiayaan, ke dalam desain pembagian risiko, serta mekanisme perlindungan sosial.

Analisis kerugian dan keuntungan (cost and benefit analysis) untuk dapat dimanfaatkan untuk melihat nilai tukar (trade offs) yang timbul dari setiap kebijakan, termasuk keuntungan di hilir dan menghindari biaya untuk mengurangi kemiskinan dan kesenjangan, kelestarian lingkungan, pertumbuhan ekonomi, dan proses-proses sosial lainnya.

Analisis tersebut juga dapat membantu melakukan identifikasi, siapa yang menolak risiko, siapa yang menanggung pembiayaan, dan siapa yang mendapatkan keuntungan. Pendekatan yang sangat luas dari analisis kerugian dan keuntungan mampu meningkatkan wujud (visibilitas) dan ketertarikan investasi dalam pengurangan risiko bencana.

Berita baiknya adalah bahwa kita dapat meraih berbagai hal yang luar biasa jika kita melakukan investasi dalam bidang pengurangan risiko bencana.

Ada banyak kisah yang sukses dalam pengurangan risiko bencana, mulai dari pendekatan partisipatif masyarakat hingga pengurangan di tingkat global untuk angka kematian yang terkait dengan risiko bencana tinggi.

Namun demikian, kita perlu memahami bahwa hasil beberapa langkah pengelolaan risiko bencana tidak akan terlihat secara langsung. Barangkali akan diperlukan waktu bertahun-tahun untuk meningkatkan perencanaan, pembuatan peraturan, dan upaya lain untuk kemudian diterjemahkan dalam bentuk pengurangan kerugian bencana, pembangunan yang sensitif terhadap risiko, dan pembangunan perkotaan yang perlu diraih.

Masa depan upaya pengurangan risiko bencana memerlukan penilaian baik kerugian maupun peluang dari upaya tersebut, mereformasi pemerintahan dan layanannya, serta terakhir minta perubahan dari informasi mengenai risiko menjadi pengetahuan dan memperkuat akuntabilitas.

Sumber: https://www.preventionweb.net/risk/drr-drm

One Reply to “Pengurangan Risiko Bencana

Leave a Reply