Menulis

Mengetahui Jenis Bahasa untuk Menulis

Photo by Nick Fewings on Unsplash

Pertama kita mengenal adanya bahasa lisan. 

Ini adalah berbagai hal yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain melalui perangkat yang dinamakan mulut. 

Dalam bahasa lisan, kata-kata yang diucapkan tidak hanya sekedar suara tetapi juga dibantu oleh bahasa tubuh seperti gerakan tangan, gerakan tubuh, dan ekspresi wajah kita. 

Kemudian kita juga mengembangkan berbagai metode, misalnya dengan mengubah nada suara menjadi lebih tinggi atau rendah, mengubah kecepatan bicara menjadi lebih cepat atau lambat, dan juga mengubah volume menjadi lebih keras atau pelan. 

Dengan berbagai variasi tersebut, maka bahasa lisan mampu memberikan penekanan pada beberapa bagian. Misalnya, penekanan diberikan pada pesan-pesan yang sangat penting, volume yang lebih keras digunakan untuk membangunkan pendengar, dan berbagai maksud lainnya. 

Oleh karena itu, jika bahasa lisan digunakan dengan baik, maka dapat memperjelas pesan yang ingin kita sampaikan kepada orang lain. Namun, sebaliknya, jika salah menggunakannya, maka bisa mengaburkan pesan yang ingin kita sampaikan kepada orang lain. 

Misalnya saja ada seseorang yang bicaranya terlalu monoton. Sepanjang dia bicara, hanya ada satu nada yang digunakan, sedikit bantuan dari bahasa tubuh atau ekspresi, tanpa menggunakan permainan intonasi, kecepatan, dan volume. Hasilnya adalah para pendengar mungkin tidak sabar, mengantuk, dan segera beralih ke kesibukan yang lain. 

Seringkali kita melihatnya saat orang teralihkan perhatiannya dari pembicara ke berbagai hal lain dan paling sering saat ini adalah kepada gawai atau telepon genggam. Daripada sibuk mendengarkan, mereka justru membaca pesan atau melihat video lucu. 

Jenis bahasa kedua adalah bahasa tulis. 

Dalam bahasa tulis tidak ada bantuan berupa bahasa tubuh. Oleh karena itu, perlu kehati-hatian dalam menggunakannya. 

Hal yang perlu dihindari adalah tidak sampainya makna atau pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca. 

Suatu pesan bisa saja tidak sampai, karena kita tidak cermat dalam menggunakan bahasa tulis. Berbeda dengan bahasa lisan, dalam bahasa tulis kita tidak bisa mengubah-ubah kecepatan, tidak ada bahasa tubuh dan ekspresi.

Dalam bahasa tulis, para pembaca bergantung sepenuhnya pada kalimat, kata, paragraf, dan satu tulisan utuh yang disajikan oleh para penulisnya. 

Oleh karena itu, kita mengenal adanya kaidah-kaidah penulisan, struktur tulisan, dan lainnya. Kita juga mengenal adanya bagian-bagian tulisan yang harus disajikan lebih dahulu, kemudian yang disajikan berikutnya, dan seterusnya. 

Pada intinya, dalam bahasa tulis seseorang hendaknya tidak membuat asumsi. Misalnya dia menulis suatu tulisan yang banyak mengandung istilah ilmiah, maka penulis tersebut sebaiknya menghindari asumsi bahwa orang lain memahami istilah tersebut. Oleh karenanya, dia harus memberikan penjelasan kepada tiap-tiap istilah ilmiah yang disampaikan. 

Kemudian yang kedua seorang penulis juga sebaiknya menghindari singkatan-singkatan yang yang tidak familiar atau bahkan yang familiar. Berikan penjelasan, sehingga pembaca dapat mengetahui dengan jelas apa yang dimaksudkan oleh penulis tersebut dengan berbagai singkatan yang dituliskan.

Setelah membaca dua jenis bahasa tersebut, barangkali Anda akan mulai memahami kesulitan yang harus dilalui oleh seorang penulis. Dia tidak hanya dituntut untuk bisa menyampaikan ide, informasi, dan pesan. Namun, dia diminta untuk melakukan itu melalui suatu cara yang bisa dengan mudah dipahami oleh pembaca. 

Menulis dengan demikian, seperti berjalan sambil membimbing orang lain selangkah demi selangkah untuk memahami suatu tulisan, menangkap pesan, dan menikmati setiap langkah itu.

Leave a Reply