Diary Refleksi

Ketika Ibu Pergi

Ada suami, tiga orang putra, tiga menantu, dan empat orang cucu yang menjadi keluarga inti. Kemudian sanak saudara, baik jauh maupun dekat yang sulit dihitung jumlahnya. Semua berduka tentu saja dengan kepergian Ibu.  

Namun, daripada meratap berkepanjangan, barangkali ada beberapa hal yang bisa dibagikan dari Ibu sebagai pelajaran kita bersama.  

Ibu memberikan Pelayanan 

Itu pula yang saya rasakan, ketika dalam semua tindakannya didasarkan pada semangat untuk melayani kami semua, keluarganya, dan orang lain.  

Ibu akan bangun paling pertama untuk menyiapkan sarapan bagi kami semua. Sementara menjadi yang paling akhir makan, setelah semua makan.  

Dalam pikirannya adalah orang lain dan orang lain. Apakah anak-anakku telah makan? Siapa yang menemani cucu-cucuku? Bagaimana nanti kalau Bapak pulang? 

Adalah contoh-contoh pertanyaan yang sepertinya terus berkelindan dalam benaknya.  

Kemudian beliau pun tak lupa untuk mengingatkan kami agar menyisihkan sebagian rezeki dan berbagai dengan orang lain. Memberikannya kepada mereka yang lebih membutuhkan untuk sekadar meringankan beban mereka.  

Ibu adalah Kesederhanaan 

Barangkali karena tak pernah neko-neko, maka tindakan dan nasihatnya pun juga tak mewah betul. Namun, justru karena itu, terasa sangat kaya dengan makna.  

Seperti nasihanya berikut ini yang tak kenal henti disampaikan. “Sing ati-ati.” Atau jika diterjemahkan adalah agar kami semua, anak-anaknya selalu berhati-hati dalam menjalani berbagai aktivitas.  

Sungguh sederhana, tetapi kaya makna.  

Kami dapat menerapkannya ke dalam berbagai bidang kehidupan. Dari yang sederhana, seperti berkendara, berjalan, dan bepergian.  

Kemudian ke dalam berbagai hal yang lebih rumit, seperti bagaimana berhubungan dengan orang lain, menjaga perasaan liyan, tidak menyinggung orang, serta berbagai hal yang berhubungan dengan orang lain.  

Setelah direnung-renungkan, ternyata memang itulah yang diperlukan dalam kehidupan ini, yaitu berhati-hati, sebab kita tak pernah tahu ada apa di balik tiap tikungan kehidupan ini, bukan?  

Hati-hati adalah satu kunci bagi keselamatan dalam berbagai hal di kehidupan.  

Ibu adalah Kesetiaan 

Barangkali tak mudah untuk melakukan hal yang sama berulang-ulang dalam jangka waktu lama. Seperti yang dilakukan Ibu setiap hari: melayani suami dan anak-anaknya.  

Barangkali Anda yang sudah berputra-putri mengetahui dengan pasti apa yang saya maksudkan, yaitu memberikan kesetiaan pada pelayanan itu dalam kurun waktu kurang lebih 40 tahun.  

Ibu tak kenal media sosial, tak paham cara menggunakan telepon genggam. Beliau tahunya bagaimana membahagiakan suami, putra-putri, dan cucu-cucunya.  

Saya selalu teringat adegan yang sama berulang-ulang, yaitu ketika Bapak dahar atau makan, Ibulah yang akan mengambilkan dan duduk di samping memerhatikan, mungkin sambil bercerita, mungkin bersiaga jika ada yang dibutuhkan.  

Ibu tak kenal ‘me time‘, tak juga ‘selfie’, apalagi ‘eksis’, juga ’emansipasi’. Berbagai hal itu yang kini dituntut oleh ibu-ibu zaman now. Beliau tak pernah menuntut apa-apa, sepertinya bahkan tak punya makanan kegemaran, sehingga memusingkan kami untuk membawakan buah tangan.    

Yang diketahuinya adalah bagaimana bersabar dan teliti, sabar mengelola keuangan yang tak seberapa untuk berbagai keperluan. Teliti menata aliran masuk dan keluar, serta berhemat agar yang sedikit itu pun cukup.  

Kini putra-putranya semua sudah bekerja. Cucu-cucunya pun gemuk-gemuk lucu. Semua itu tentu berkat kesabaran dan ketelitiannya, serta doa-doa yang tak kenal henti selalu dipanjatkannya.  

Setelah beliau Pergi 

Buat saya pribadi, ada satu hal yang disesali, yaitu tak menghabiskankan waktu lebih lama bersama Ibu. Sudah hampir 20 tahun saya meninggalkan rumah. Mula-mula untuk kuliah dan terus berlanjut untuk bekerja.  

Karena itu, barangkali saya tak terlalu obyektif untuk menilai apa yang terjadi setelah beliau pergi.  

Namun, saya mendengarkan cerita Bapak, bahwa hal-hal sederhana yang sepertinya akan sangat dirindukan.  

Bagaimana permintaan ibu kepada Bapak agar menanam tomat, timun, dan cabai. Kini tanaman-tanaman itu sudah berbunga dan sebentar lagi akan berbuah. Bapak bertanya-tanya, untuk siapa nantinya hasil dari tanaman itu, karena yang meminta sudah pergi.  

Jika Bapak di kebun untuk sekadar bersih-bersih atau menanam, maka Ibu akan duduk-duduk di beranda sambil mengiris sayur mayur yang akan dimasak. Jika waktu istirahat tiba, Ibu akan berteriak, “Pak, leren….”  

Artinya, “Pak, istirahat…..”  

Sepertinya Bapak juga bertanya-tanya, bagaimana esok hari akan berjalan tanpa Ibu di sampingnya atau menungguinya di teras sambil mengiris sayur mayur itu dan kemudian makan siang.  

Yang paling sulit, kata Bapak, adalah niatan beliau berdua untuk berangkat haji bersama-sama. Seharusnya beliau berangkat tahun ini, tetapi karena pandemi, maka perjalanan itu pun harus ditunda. Namun, kenangan manasik ke mana-mana yang dilakukan bersama, tentu tak mudah untuk dilupakan.  

Saya pun setelah mendengar cerita Bapak itu membagikan apa yang saya dengar dari sebuah Podcast antara Simon Sinek dengan saudarinya Sara.  

Sekitar 20 tahun lalu, Sara kehilangan tunangannya, padahal saat itu mereka sudah hendak menikah. Sara pun menjalani hari-harinya dengan berbeda. Dia awalnya ketakutan menjalani hari esok tanpa tunangannya itu dan berbagai rencana mereka yang batal.  

Penyebab ketakutan itu adalah menyadari, bahwa akan selalu ada yang pertama tanpa tunangannya.  

  • Pagi hari yang pertama tanpa tunangannya….  
  • Menunggu bus yang pertama tanpa tunangannya…. 
  • Ulang tahun yang pertama tanpa tunangannya…..  
  • Natal yang pertama tanpa tunangannya….  
  • Tahun baru pertama tanpa tunangannya….  
  • Dan seterusnya…. 

Semua yang pertama itu oleh Sara dibuat semacam daftar. Kemudian ada isian (check list) di sebelah kanan.  

Setiap ‘yang pertama’ berhasil dilewati, Sara men-check-nya. Akhirnya semua daftar bisa dilewati dan dicentang.  

Sara pun berhasil melanjutkan kehidupannya lagi.  

Seperti di pasar malam, manusia berbondong-bondong datang, tetapi kemudian satu demi satu akan pergi (Pramoedya Ananta Toer).  

Mereka yang hidup pun suatu waktu akan pergi, tetapi yang lain harus melanjutkan kehidupannya. Barangkali dengan memaknai kelahiran, kehidupan, kematian, dan entah apa setelah itu sebagai perjalanan, maka kita akan lebih mudah menerimanya.  

Sebab, siapa tahu di perhentian atau di persimpangan tertentu di waktu yang berbeda kita akan bisa berjumpa lagi.  

Sugeng tindak, Buk. 

Leave a Reply