Refleksi

Yuval Harari dan Jay Shetty tentang Teknologi

Photo by Lenin Estrada on Unsplash

Pada tulisan terdahulu saya sudah membicarakan podcast antara Yuval Harari dan Jay Shetty, ketika mereka membicarakan mengenai arti bosan dan apa manfaatnya untuk kita.

Di tulisan tersebut saya membicarakan mengenai persoalan dalam dunia pendidikan yang disampaikan oleh Harari.

Sementara itu, dalam tulisan kali ini saya kembali ingin membuat catatan pembicaraan dari kedua tokoh tersebut, tetapi dari sisi teknologi.

Rekan-rekan sekalian, saat ini kita sedang menghadapi permasalahan yang lumayan berat terutama dalam bidang teknologi.

Hal ini terjadi, karena setiap hari kita bersinggungan dengan teknologi, bahkan kita sudah seperti cyborg yang tidak dapat lepas dari teknologi. Misalnya saja ke mana pun kita pergi selalu membawa telepon genggam. Seakan-akan perangkat tersebut sudah menjadi bagian dari tubuh kita sendiri.

Kemudian, seringkali Anda akan merasa ada sesuatu yang kurang jika dalam beberapa saat tidak melihat layar kecil dalam telepon genggam. Sensasi itu tak tergantikan saat Anda mengalami dorongan untuk mengetahui adanya notifikasi ataupun informasi lainnya.

Harari menyampaikan bahwa kita sudah sampai pada tahap kecanduan dalam menggunakan teknologi. Dalam hal ini adalah telepon genggam. Dampaknya adalah beberapa hal yang mungkin merugikan kita sebagai umat manusia, kebudayaan, peradaban, dan mungkin suatu bangsa.

Kecanduan dalam menggenggam, menerima notifikasi, dan sekadar melihat telepon genggam akan memberikan kebahagiaan kepada kita.

Namun, Harari menyampaikan atau meneruskan pendapat dari Tim Cook pemimpin perusahaan Apple yang menyatakan, bahwa ketika Anda menganggap layar telepon genggam lebih penting dari orang-orang nyata yang berada di sekitar Anda, maka saat itu Anda sedang berada dalam suatu persoalan.

Persoalan dengan teknologi lainnya terjadi karena hal itu menurunkan kemampuan kita.

Saat ini, kita selalu patuh untuk meng-upgrade atau memperbarui perangkat lunak yang ada dalam telepon genggam kita ketika menerima notifikasi mengenai hal itu.

Namun, kita justru lupa tidak meng-upgrade, memperbarui, dan memperbaiki hubungan kita dengan para tetangga. Bahkan mungkin Anda tidak mengenal siapa saja tetangga yang ada di kanan, kiri, depan, dan belakang rumah Anda.

Dengan demikian, teknologi menurut Harari dan Jay Shetty, telah menurunkan kemampuan kita terutama dalam hal bercakap-cakap dan ketika terjadi sesuatu permasalahan dengan orang lain.

Pertama dalam hal bercakap-cakap atau conversation. Saat ini kita kesulitan untuk bertukar pendapat dengan orang yang memiliki pemahaman, prinsip, dan pandangan hidup yang berbeda dengan kita.

Ini adalah dampak dari suatu fenomena yang dinamakan ‘echo chamber‘ atau dalam bahasa Indonesia disebut ruang gema. Dalam fenomena ini, seseorang lebih suka terhubung dengan orang lain yang mempunyai pandangan, sikap, dan prinsip yang serupa dengan mereka.

Bagaimana fenomena ‘echo chamber‘ ini terjadi?

Secara tidak sadar sebenarnya Anda sudah mengalaminya setiap hari. Dalam berbagai media sosial Anda akan terhubung dengan orang-orang yang memiliki pandangan serupa, sikap hidup serupa, keyakinan serupa, selera serupa, dan berbagai kesamaan lainnya. Hal ini terjadi sebenarnya karena algoritma yang ada dalam media sosial yang menyebabkan fenomena tersebut.

Akibatnya adalah Anda akan merasa lebih nyaman saat terhubung dengan orang-orang yang memiliki kesamaan-kesamaan tersebut. Namun, di sisi lain Anda akan merasa asing, bermasalah, dan tidak bisa, atau sulit sekali bergaul dengan orang yang memiliki pemahaman, sikap, dan prinsip yang berbeda dengan Anda sendiri.

Itulah sebenarnya hal yang dimaksudkan oleh Harari ketika dia menyampaikan bahwa teknologi menurunkan kemampuan kita dalam bersosialisasi, dalam bercakap-cakap, terutama saat terjadi perbedaan pendapat dan ketidaksamaan dalam berbagai hal.

Akibat dari fenomena tersebut, maka seringkali kita menghadapi persoalan dengan orang lain ketika menggunakan media sosial. Misalnya saja perbedaan yang terjadi antara Anda dengan orang lain sudah begitu tajam, sehingga tidak tahan lagi, tidak sabar, dan putus asa dengan kondisi tersebut.

Jika itu terjadi, maka apa yang biasanya Anda lakukan?

Dalam media sosial seperti Facebook, Twitter, dan lainnya, seringkali Anda menempuh jalan unfriend atau unfollow. Kemudian juga ada fitur block. Inilah beberapa metode yang biasanya digunakan oleh seseorang ketika mereka mengalami persoalan dengan orang lain.

Mereka akan mudah sekali menggunakan fitur-fitur tersebut dan mengganggu jalinan pertemanan. Kemudian yang lebih parah adalah memperhebat kesulitan kita dalam berbicara dengan orang lain, serta memperhebat efek ‘echo chamber‘.

Persoalan lainnya, teknologi membuat kemampuan kita untuk berinteraksi dengan orang lain semakin menurun. Hal ini terjadi karena teknologi tidak mengajarkan kepada kita bagaimana caranya menyikapi tetangga di sekitar yang mempunyai pendapat berbeda dengan kita.

Sebab, kita tidak mungkin melakukan unfriend atau unfollow tetangga kita. Pada suatu ketika, kita tentu akan bertemu muka dengan mereka.

Apakah mungkin kita akan menghindari mereka seterusnya seperti saat kita meng-unfriend atau unfollow seseorang?

Jika kedua persoalan itu terjadi, maka apa sebenarnya yang dapat kita lakukan?

Baik Jay Shetty ataupun Harari menyampaikan, bahwa ada setidaknya dua hal yang bisa kita tempuh untuk mengatasi persoalan ketika teknologi menurunkan kemampuan kita sebagai seorang manusia.

Pertama adalah keterbukaan atau openness. Artinya kita secara terbuka menerima perbedaan pendapat yang terjadi, secara seimbang menjaga dua sudut pandang terhadap berbagai hal yang terjadi di sekitar kita, dan berusaha sebisa mungkin tidak memihak.

Kita perlu memahami, bahwa tidak melulu pendapat kita yang benar dan orang lain salah. Sebab, selalu ada dua sisi dari sebuah cerita.

Dengan secara terbuka menyadari dan memahami hal itu, maka diharapkan hubungan antar personal dan kemampuan kita dalam bercakap-cakap serta bertukar pendapat tidak akan menghilang.

Keterbukaan juga perlu dilengkapi dengan kerendahhatian atau humility. Dengan bersikap rendah hati maka kita mampu untuk menerima pendapat orang lain, menghargainya, dan justru barangkali dapat membujuk mereka untuk menyetujui ide-ide atau pendapat yang kita tawarkan.

Namun, kembali lagi tantangannya adalah apakah kita cukup sabar untuk bersikap rendah hati menerima perbedaan menghargai pendapat orang lain dan tidak buru-buru unfriend ataupun unfollow?

Leave a Reply