Komunikasi

Meningkatkan Keterampilan Komunikasi

Photo by freestocks.org from Pexels

Para komunikator atau pembicara memberikan beberapa masukan agar kemampuan komunikasi kita dapat meningkat. 

Berikut ini 5 catatan yang perlu kita ketahui. 

Pertama: Antusiasme

Seorang komunikator perlu menunjukkan antusiasme mengenai suatu topik yang sedang dibicarakannya. 

Semangat yang ditunjukkan olehnya kemudian akan menular kepada para pendengar atau pemirsanya. 

Kedua: Ahli Mendengar

Tugas komunikator sama dengan tugas para pemimpin, yaitu untuk mengembangkan orang-orang yang mendengarkan pesan-pesannya dan menciptakan lebih banyak pemimpin. 

Dalam rangka melakukan tugas itu, maka dengan lebih banyak mendengar seorang komunikator akan memahami permasalahan yang dihadapi oleh pendengarnya, apa kekhawatiran mereka, dan juga ketertarikan mereka. 

Menjadi pendengar yang baik dan memahami berbagai hal yang sedang dihadapi para pendengar sangat penting bagi komunikator, sehingga dia dapat menyesuaikan paparan atau presentasi dengan permasalahan, kekhawatiran, dan ketertarikan mereka. 

Dengan demikian, maka koneksi atau hubungan antara komunikator dengan pengengarnya pun akan dapat terjadi. 

Ketiga: Fokus pada Pemirsa

Ketika kita lebih fokus pada diri sendiri, seringkali bukan kebanggaan yang didapatkan. 

Mereka yang terlalu berfokus pada ‘saya’, ‘saya’, dan ‘saya’, justru akan menghadapi persoalan pada saat menyampaikan paparan. 

Itu seperti membuka informasi pribadi terhadap berbagai pertanyaan dari pemirsa. Selanjutnya, tindakan tersebut juga menimbulkan berbagai pertanyaan dari pemirsa. 

Tujuan mereka sederhana, yaitu untuk melihat, menguji, dan mematahkan pembicara yang terlalu berfokus pada ‘saya’. 

Dalam menghadapi hal itu, maka fokus kita perlu dialihkan. Sekarang bukan lagi berfokus kepada diri sendiri, tetapi kepada kekhawatiran, ketertarikan, tanda tanya, dan persoalan yang dihadapi oleh para pendengar. 

Oiya, saat kita terlalu berfokus pada diri sendiri, maka cenderung menimbulkan beberapa persoalan, seperti gemetar, grogi, hingga kesulitan menyampaikan pesan. 

Keempat: Berlatih Lebih Banyak

Seperti banyak hal lain di dunia ini, maka agar keterampilan semakin dikuasai perlu melakukan banyak latihan. 

Bagi seorang komunikator, ternyata bukan hanya sekedar berlatih berkomunikasi. Namun, ada hal lain yang perlu dilatih, yaitu membaca dan menulis. 

Membaca meningkatkan pengetahuan. Sebab, meskipun seorang komunikator menyampaikan suatu topik, tetapi pengetahuan yang dimilikinya perlu lebih dari sekadar topik yang akan disampaikan. Perbandingannya kurang lebih adalah saat menyampaikan 1 topik, maka perlu menguasai 10 topik lainnya. 

Selanjutnya, keterampilan menulis membantu komunikator untuk menyampaikan atau mengartikulasikan pesan yang ingin disampaikan dengan lebih tepat. Hal ini terjadi, karena seringkali saat seseorang berbicara, dia tidak memerhatikan struktur dan bahasa yang digunakan. 

Saat seorang komunikator berbicara tanpa mengindahkan struktur dan bahasa yang digunakan, maka berisiko terjadinya kesalahpahaman, terutama pada saat pendengar atau pemirsa tidak mampu memahami dengan jelas maksud dari pembicara. 

Dari uraian tersebut, maka latihan bagi seorang komunikator tak hanya berlatih berkomunikasi saja, tetapi juga membaca jauh lebih banyak pada berbagai topik dan juga menulis. 

Kelima: Ceritakan Kisah yang Menggugah

Manusia satu dengan yang lain saling terhubung melalui cerita. Oleh karena itu, story telling atau bercerita menjadi satu kekuatan. Metode bercerita ini perlu digunakan oleh para komunikator atau pun marketer (penjual) untuk menyampaikan informasi, ide, gagasan, produk, dan lainnya. 

Dengan cerita atau story, orang akan lebih tertarik untuk mendengarkan, ketimbang sekadar menyampaikan berbagai teori yang terkesan jauh dan terlalu akademis. 

Lalu, pertanyaannya adalah bagaimana membubuhkan cerita dalam paparan seorang komunikator? 

Ternyata tidak terlalu sulit. 

Urutan yang biasa diikuti oleh para komunikator adalah menyampaikan permasalahan, diikuti solusi, kemudian teori, dan berbagai tantangan lain, baru dikaitkan pada suatu kisah yang pernah dialami Sang Komunikator sendiri atau orang lain. 

Yang perlu diingat di sini adalah bahwa cerita yang disampaikan hendaknya memiliki kaitan, baik langsung maupun tidak langsung dengan topik yang sedang dipaparkan. Jangan sampai suatu kisah yang disampaikan tidak ada kaitannya sama sekali dengan topik yang dibicarakan. 

Itulah lima metode atau teknik untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi. Entah Anda seorang komunikator atau bukan, tetapi setiap hari pasti melakukan komunikasi. 

Oleh sebab itu, semoga tulisan ini bermanfaat bagi Anda agar lebih terampil berkomunikasi, terutama menjadi presenter/komunikator/pemapar yang mampu secara efektif menyampaikan suatu topik, pesan, ide, dan lainnya kepada para pendengar dan pemirsa.

Leave a Reply