Penanggulangan Bencana

Prevention Web, Tidak ada Bencana Alam

Foto oleh GEORGE DESIPRIS dari Pexels

Dalam undang-undang nomor 24 tahun 2007 kita mengenal jenis bencana alam, non alam, dan sosial. 

Namun dalamĀ  situs preventionweb.net disampaikan bahwa tidak ada bencana alam.

Tulisan ini akan membahas kenapa suatu bencana bukanlah hal yang alami dan juga menampilkan keuntungan melakukan investasi untuk membangun ketangguhan dalam rangka mengurangi risiko bencana.

Bencana perlu dilihat sebagai suatu fenomena yang dihasilkan oleh pilihan pembangunan.  Akibatnya, sangat penting untuk menyusun kebijakan publik dengan menggunakan lensa informasi risiko.

Unsur-unsur bencana

Pertama-tama kita perlu memahami bahwa bencana adalah wujud dari peluang terjadinya suatu ancaman menjadi bencana atau yang lebih kita kenal sebagai risiko bencana. 

Peluang tersebut menentukan kemungkinan terjadinya suatu bencana.

Dengan memahami hal itu, maka kita dapat mendefinisikan suatu bencana dengan 3 unsur.

Pertama adalah ancaman atau hazard  misalnya gempa bumi, pandemi, kebakaran lahan dan hutan, dan kegagalan teknologi.

Kedua adalah keterpaparan yaitu situasi ketika masyarakat, infrastruktur, perumahan, kapasitas produksi, dan berbagai hal lain yang merupakan aset manusia berada di lokasi yang rawan bencana. 

Menurut UNISDR jika tidak ada keterpaparan, maka tidak ada bencana. Anda dapat membayangkan suatu kejadian tanah longsor di atas gunung yang tidak ada manusia.

Ketiga adalah kerentanan yang menunjukkan kondisi fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan, atau proses-proses yang meningkatkan risiko individu, komunitas, aset, atau suatu sistem terhadap dampak bencana. 

Dari ketiga hal tersebut, maka kita dapat ilustrasikan bahwa suatu bencana mengikuti rumus sebagai berikut:

Ancaman x Keterpaparan x Kerentanan = Risiko Bencana.

Satu-satunya unsur alamiah yang menyebabkan bencana adalah ancaman.  Sementara dua hal lain sangat dipengaruhi oleh peran manusia.

Para pengambil keputusan dapat menentukan keterpaparan melalui rencana tata ruang.  Kemudian kita juga dapat membagi informasi untuk meningkatkan kesadaran seperti menggunakan GIS. 

Bencana adalah produk dari keputusan kita, sehingga kita perlu memasukkan pengurangan risiko bencana dalam pekerjaan sehari-hari dan melakukan investasi untuk ketangguhan.

Sementara itu, untuk kerentanan kita dapat membaginya ke dalam dua kategori, yaitu fisik dan sosial ekonomi.

Gempa bumi tidak membunuh manusia tetapi bangunan yang membunuh manusia.

Dengan kata lain, manusia dapat mengalami kerentanan fisik ketika terjadi kerusakan pada infrastruktur.

Hal itu bisa terjadi karena beberapa alasan, seperti tidak adanya kode bangunan dan juga penguatan (enforcement), korupsi, hingga kondisi kemiskinan yang menyebabkan rumah-rumah tidak layak. 

Dari hal itu, maka kita dapat melihat pentingnya ketangguhan pada infrastruktur yang kita bangun.

Kita juga dapat mendesain kode bangunan yang lebih baik dan mempertimbangkan pengurangan risiko bencana dalam upaya sosial untuk investasi, terutama pada infrastruktur penting.

Kemudian kita juga perlu memerhatikan faktor pendorong yang tidak terlihat secara kasat mata pada risiko bencana, seperti karena tatanan sosial yang seringkali sulit dilihat hingga bencana terjadi. 

Beberapa contoh dari kerentanan sosial ekonomi adalah kesenjangan gender, kemiskinan, disabilitas, dan marjinalisasi

Para petugas yang terkait dengan pengurangan risiko bencana diharapkan dapat bekerja setiap hari untuk mengurangi kerentanan tersebut.

Kemudian, kita perlu meningkatkan kesadaran karena bencana adalah hasil dari keputusan yang kita ambil, sehingga upaya pengurangan risiko bencana perlu dipertimbangkan dalam pekerjaan sehari-hari dan dalam membangun ketangguhan.

Keuntungan melakukan investasi untuk ketangguhan dapat beragam. Namun, yang perlu disadari adalah kita melakukan investasi dan bukan menghabiskan anggaran untuk melakukan upaya pengurangan risiko bencana dan membangun ketangguhan.

Manfaat dari pembangunan ketangguhan adalah:

Pertama, mampu menyelamatkan kehidupan dan menghindari kerugian manakala bencana terjadi. Upaya ini bukan hanya terhadap mereka yang dilindungi tetapi juga mengurangi jumlah orang yang terdampak, melindungi mata pencaharian, dan juga sektor ekonomi. 

Kedua, kegiatan tersebut mampu memicu terjadinya aktivitas ekonomi dengan menggalakkan usahawan. Hal ini mungkin dilakukan dengan berupa berbagai inovasi untuk menemukan solusi dalam memitigasi risiko yang pada akhirnya dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru dan produktivitas. Hal ini juga dilakukan untuk menghindari terjadinya kerugian dalam bidang ekonomi.

Ketiga, keuntungan dari upaya membangun ketangguhan adalah ketika terjadi peningkatan ikatan sosial di antara masyarakat dan meningkatnya transparansi. 

Sebagai contoh, kesiapsiagaan terhadap bencana berbasis komunitas mampu meningkatkan peran perempuan di tingkat masyarakat dan juga meningkatkan tingkat kepercayaan.

Dari uraian tersebut, maka ada dua hal yang dapat kita pelajari.

Pertama adalah bahwa kejadian bencana bukanlah sesuatu yang alami, tetapi hasil dari pilihan-pilihan yang kita buat

Kedua, berinvestasi dalam ketangguhan mampu mendatangkan keuntungan yang terukur.

Akhirnya kita perlu melakukan suatu tindakan yang sistematis dalam upaya penanggulangan bencana di tengah situasi yang sangat kompleks. 

Kemudian meningkatkan kesadaran akan pentingnya upaya pengurangan risiko bencana untuk menghasilkan pemerintahan dan komunitas yang lebih tangguh serta mendukung terjadinya pembangunan yang berkelanjutan.

Leave a Reply