Categories
Diary Refleksi

Jogja dan Paradoks Waktu

Saat berada di Jogja, apakah Anda merasakan waktu yang berjalan terasa aneh, karena menarik ke masa lalu, saat ini, dan ke masa depan?

…. Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu …. 

Selalu ada kerinduan dan kehangatan saat kembali menyambangi Jogja. Sebentuk nostalgia yang hangat, seperti cinta pertama. 

Apakah Anda merasakan itu juga? 

…. Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat …. 

Ya, Jogja seperti kawan lama yang setiap sudutnya menimbulkan kenangan. 

Ah, entah apa itu, sulit sekali diungkapkan, tetapi Jogja menimbulkan sejuta rasa. Sungguh kota yang berbahaya untuk dikunjungi, karena mungkin kita akan tersesat di dalam pusaran waktu. 

Di Jogja, masa kini bercumbu rayu secara asyik dengan masa lalu yang tak terpermanai, alias sulit sekali dijelaskan dengan kata-kata. 

…. Musisi jalanan mulai beraksi, seiring laraku kehilanganmu …. 

Saya senang sekali menyaksikan geliat kota Jogja di tengah pandemi, kendati sedikit kekhawatiran itu pun ada. 

Di beberapa sudut, berdekatan dengan tempat-tempat makan atau perempatan jalan, para musisi menampilkan kepiawaiannya memainkan beragam alat musik. 

Ke arah Wonosari, badut-badut mengharapkan receh di bangjo atau traffic light…. 

Mungkinkah Anda pernah menemukan dan kemudian kehilangan seseorang di kota ini? 

…. Merintih sendiri, ditelan deru kotamu….

Dalam beberapa perjalanan di Jogja kali ini, saya menghabiskan waktu sendiri. 

Di pagi ketika mencari soto atau malam menikmati sego kucing atau nasi sedikit yang dibungkus kertas minyak di angkringan.

Sekali lagi, waktu seperti memainkan lamunan dan anganan. Menarik kembali ke masa lalu, tetapi sebentar kemudian menyeret kembali ke saat ini. 

Salah satu yang paling menyulitkan adalah sebentuk kesadaran: 

Dahulu, saya punya banyak waktu, tetapi sangat sedikit dukungan untuk menikmati Jogja. 

Tempat-tempat makan yang keren dulu tak terbeli. Tempat wisata, hotel, dan berbagai fasilitas lainnya dulu tak terjangkau uang saku yang mepet untuk hidup sehari-hari. 

Kini, saya punya dukungan untuk menikmati berbagai hal yang ditawarkan Jogja, tetapi sangat sedikit waktu yang tersedia. 

Meskipun mungkin tak bisa membeli semua hal di Jogja, tetapi setidaknya sekarang punya sarana dan modal untuk menikmati berbagai hal yang dulu terlalu mahal. Namun, saat ini justru waktu yang dimiliki sangat terbatas. 

…. Izinkanlah aku untuk s’lalu, untuk s’lalu pulang lagi…. 

Barangkali saya tak boleh berhenti berharap. Meskipun mungkin waktu sulit dicari, tetapi barangkali ada kesempatan lain untuk kembali ke kota ini lagi dan lagi. 

Terima kasih Jogja, untuk semua pelajaran yang kau berikan. 

2 replies on “Jogja dan Paradoks Waktu”

iyo e om akutu biasane tiap beberapa bulan sekali ke jogja tapi kok ini dah 2 tahun ga ke sana blas. tahun pertama karena ada bayi. tahun kedua karena… ya begini ini. semoga segera berlalu biar bisa jalan-jalan lagi.

Nah…. sama, kemarin itu juga sudah lama sekali nggak ke Jogja.
Makin lama nggak ke sana, mungkin makin bikin nggak karu-karuan hahaha

Leave a Reply