Menulis

Mitos dan Problematika Menulis

Photo by Aaron Burden on Unsplash

Mitos pertama yang sering dijumpai seorang penulis adalah inspirasi.  

Bagi seorang penulis, ada yang membutuhkan inspirasi dalam membuat suatu tulisan, tetapi ada juga yang tidak. Sebab inspirasi bisa hadir, bisa juga tidak.  

Oleh karena itu, inspirasi menjadi suatu tantangan tersendiri bagi para penulis.  

Seorang penulis pemula biasanya akan beranggapan, bahwa sebelum menulis ia harus memperoleh inspirasi terlebih dahulu.  

Namun, ternyata bagi para penulis yang sudah profesional, mereka tidak selalu bergantung pada inspirasi. Terkadang, mereka menulis saja dan pada saat proses mengembangkan tulisan tersebut, mereka justru memperoleh inspirasi-inspirasi yang lain dan membuat tulisannya semakin kaya dan lebih baik lagi.  

Mitos yang kedua berkaitan dengan kaidah.  

Penulis yang baru belajar banyak yang ragu-ragu dan khawatir tulisannya tidak sesuai dengan kaidah-kaidah penulisan. Kaidah artinya adalah aturan. Mereka khawatir tulisannya tidak sesuai dengan aturan-aturan penulisan.  

Padahal bagi seorang yang masih belajar, kaidah-kaidah ini dapat diabaikan. Kemudian seiring dengan waktu, dia akan belajar untuk memenuhi atau mematuhi kaidah dan aturan-aturan dalam menulis.  

Bagi mereka yang sedang belajar, tugas pertama adalah menuliskan saja ide, kerangka tulisan, ataupun hal-hal lain yang ingin dituliskannya.  

Seiring berjalannya waktu, kemudian dia bisa bertanya kepada para penulis yang sudah lebih ahli atau yang lebih senior mengenai kaidah untuk mendapatkan masukan dan bila perlu melakukan proses editing untuk tulisan yang sudah dihasilkan agar sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku pada tulisan.  

Itulah mitos yang seringkali menjadi penghambat bagi seorang penulis yang baru belajar. Pertama adalah menunggu inspirasi hadir dan yang kedua adalah memenuhi kaidah-kaidah dalam penulisan.  

Selain mitos, para penulis yang baru belajar juga menghadapi berbagai persoalan-persoalan.  

Persoalan pertama adalah biasanya mereka takut untuk memulai.

Menjadi seorang penulis berarti membuka diri kita kepada orang lain. Itulah yang biasanya menyebabkan seseorang ragu-ragu untuk memulai, karena dia tidak ingin dirinya terekspose, sehingga rentan pada berbagai kritik, masukan, malu, tidak percaya diri, dan lainnya.  

Berbagai perasaan itu membuat seorang penulis yang baru belajar enggan memulai dan membagikan tulisannya kepada orang lain. 

Problematika atau permasalahan yang kedua adalah tidak tahu kapan harus memulai menulis.  

Problematika yang pertama, yaitu takut memulai akan berujung pada problematika yang kedua, yaitu tidak tahu kapan harus memulai.  

Mungkin saja dia sudah mempunyai ide. Kemudian mungkin saja dia sudah mengembangkan ide tersebut menjadi sebuah kerangka tulisan. Namun, dia tidak berhasil mengeksekusi ide tersebut menjadi suatu tulisan yang utuh, karena tidak segera memulai proses menulis.  

Akhirnya persoalan hidup baru akan muncul atau kesibukan lain membuatnya lupa, sehingga dia gagal membuat suatu tulisan  

Oleh karena itu, apabila Anda mendapatkan keinginan, ide, atau kerangka tulisan, maka segeralah memulai dan tidak perlu menunggu berbagai hal tersebut lengkap. Seiring waktu, Anda akan mendapatkan berbagai hal baru dan tambahan yang kurang. Bahkan, tak jarang beberapa hal tersebut justru diperoleh dari proses menulis. 

Kemudian Anda dapat melengkapi berbagai kekurangan tersebut untuk menjadi sebuah tulisan yang utuh.  

Permasalahan ke tiga bagi seseorang yang baru saja belajar menulis adalah bagaimana mengorganisasi sebuah tulisan.

Bisa jadi tulisan Anda sebenarnya bagus, tetapi sulit ditangkap pesannya, karena organisasi tulisannya yang buruk  

Oleh sebab itu, maka Anda ragu-ragu kemudian tidak menulis. Padahal dengan menulis, maka kita akan dapat mengetahui bagaimana pengorganisasian sebuah tulisan  

Oleh karena itu, untuk melakukan atau menghasilkan sebuah tulisan yang baik, maka pertama mengubah ide dan mengorganisasikannya dalam sebuah kerangka pemikiran.  

Dalam melakukannya, Anda dapat menggunakan poin-poin, peta pikiran, mind map, dan lainnya. Dari kegiatan tersebut diharapkan Anda dapat menghasilkan bayangan dari tulisan yang utuh nantinya.  

Pada tahap inilah, pembuatan kerangka, peta pikiran, coretan-coretan di kertas adalah upaya Anda untuk secara tidak langsung membuat suatu organisasi tulisan. Namun, yang paling penting adalah bahwa Anda mulai menulis. Saat itu mungkin tulisan belum jadi 100%. Kemudian seiring berjalannya waktu, maka Anda akan mampu membuat suatu organisasi tulisan yang baik.  

Permasalahan yang terakhir atau yang ke empat adalah berkaitan dengan bahasa.

Anda khawatir, bahwa bahasa yang disampaikan tidak tepat, misalnya terlalu serius, terlalu bermain-main, atau terlalu bercanda.  

Hasil dari mitos dan permasalahan adalah tidak adanya satu pun tulisan yang bisa dihasilkan.  

Dengan mengetahui mitos dan problematika atau permasalahan pada saat Anda menulis, maka diharapkan ada langkah antisipasi dan belajar untuk mengatasi berbagai mitos dan juga permasalahan tersebut.

Leave a Reply