Disaster Management Penanggulangan Bencana

Respon Kebijakan OECD terhadap COVID-19

Sumber Gambar: https://www.iexpats.com/wp-content/uploads/2020/06/OECD-iexpats.jpg

Respon kebijakan tersebut terutama ditujukan kepada kota-kota di dunia yang saat ini sedang berjibaku menghadapi COVID-19. 

Beberapa pesan penting dari respon kebijakan tersebut adalah: 

Kota menjadi garis depan respon terhadap krisis yang diakibatkan oleh pandemi COVID-19. Mereka berperan penting untuk menerapkan langkah-langkah yang  diputuskan di tingkat nasional, tapi juga sebagai laboratorium untuk pendekatan dan inovasi dari bawah ke atas atau bottom up dalam upaya pemulihan setelah krisis.  

COVID-19 telah mempercepat perubahan paradigma kota-kota baru yang lebih inklusif, hijau, dan pintar (smart cities).  

Kebijakan tersebut menyampaikan 10 pelajaran penting dari krisis yang terjadi untuk membangun suatu kota lebih baik.

  1. COVID-19 telah menyebabkan dampak yang tidak sama di berbagai wilayah, tetapi respon untuk mengatasi krisis tersebut tidak memperhatikan keragaman wilayah dan dilakukan secara seragam. Hal ini menggarisbawahi perlunya pendekatan yang berbasis wilayah dan masyarakat menjadi pusat dari respon yang dilakukan. 
  2. Krisis kesehatan telah mengakibatkan dampak yang sangat besar pada bidang ekonomi dan sosial,  perbaikan serta keterpaparan kota bergantung pada komposisi industri, pasar tenaga kerja,  dan keterbukaan perdagangan. 
  3. Terbukanya peluang untuk mengubah dari target untuk meningkatkan mobilitas menjadi peningkatan aksesibilitas dengan menilik ulang area terbuka,  tata kota, dan perencanaan. 
  4. Krisis membuka kesenjangan (inequality) di antara orang dan wilayah, terutama di kota besar di mana masyarakat yang rentan seperti pendatang, mereka yang miskin, dan lansia terdampak paling parah. 
  5. Persoalan kesehatan tidak berhubungan dengan kepadatan kota, tetapi lebih kepada struktur kesenjangan dan kualitas urbanisasi.  
  6. Digitalisasi menjadi sangat penting saat krisis terjadi dan akan tetap menjadi komponen yang berpengaruh pada adaptasi kebiasaan baru. Meskipun kemampuan untuk bekerja secara jarak jauh bervariasi di masing-masing daerah dalam suatu negara. 
  7. Beberapa dampak gerakan seperti Zoom dan Greta meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan, memungkinkan terjadinya perubahan yang mendukung mobilitas bersih dan perputaran ekonomi lebih diterima secara politis dan sosial. 
  8. COVID-19 menyebabkan perubahan atau berdampak pada pemerintahan ketika warga menaruh kepercayaan yang besar pada pemerintahan di negara-negara tertentu dan sebaliknya warga negara menurun kepercayaannya kepada pemerintahan di negara yang lain. 
  9. COVID-19 menyebabkan perlunya fokus pada peningkatan ketangguhan dan kesiapsiagaan terhadap gangguan pada masa mendatang. Hal ini terutama terjadi untuk mengelola siapa melakukan apa, pada skala apa, dan bagaimana mencapai suatu kota yang lebih tangguh. 
  10. Berbagai agenda global seperti pembangunan berkelanjutan (SDGs) agenda kota yang baru (New Urban Agenda) dan juga kerangka kerja pengurangan risiko bencana Sendai (SFDRR) masih sangat tepat dan relevan untuk mengubah perencanaan, kebijakan, strategi, dan anggaran. 

Meskipun beberapa pelajaran tersebut sudah berhasil diperoleh, tetapi kota-kota di dunia tidak dapat mengatasi dampak dan tantangan karena krisis seorang diri.  

Pemulihan setelah krisis adalah tanggung jawab bersama di berbagai tingkat pemerintahan yang diharapkan dapat meningkatkan sumber pendanaan dan juga pemerintahan yang baik. 

Hal itu diperlukan untuk membuka kesempatan bagi semua orang, terutama pada masa transisi pembangunan yang rendah karbon dan ekonomi yang tangguh terhadap pengaruh krisis, serta untuk meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat dan juga memupuk pertumbuhan yang inklusif di masa yang akan datang. 

Sumber: OECD

Leave a Reply